Pencarian diri akan Tuhan


Pencarian akan Tuhan telah menjadi obsesi besar meskipun mustahil untuk mencapai tujuan tersebut. Namun, kita masih berharap untuk mencari kesenangan tanpa disertai rasa sakit. Kita tahu ini mustahil. Namun, kita ingin tahu seperti apa keadaan itu. Artinya, pikiran bertindak sebagai kekuatan penghancur untuk mencoba mencapai apa yang tidak dapat dicapai. Manusia telah percaya bahwa ada yang disebut pembebasan yang digambarkan sebagai moksha, pembebasan jiwa, Tuhan, dan sejenisnya, keadaan kebahagiaan abadi, keadaan yang tidak dapat terjadi di alam berdasarkan hukum alam.

Di alam tidak ada yang seperti keabadian. Materi terus-menerus dihancurkan dan dibuat. Bahkan partikel subatomik seperti proton, neutron, dan elektron hanya memiliki waktu paruh. Jadi, tidak ada yang permanen di alam. Segala sesuatu berubah. Materi tidak dapat berada dalam keadaan permanen. Materi harus berubah. Ketika hal ini terjadi pada sistem fisik, sistem kehidupan yang dibangun di atas hukum alam juga beroperasi atas dasar yang sama. Kehidupan tidak dapat terjadi dengan melanggar hukum alam.

Ketika keabadian tidak dapat terjadi di alam, kebahagiaan abadi secara otomatis dikesampingkan. Secara ilmiah, hal itu tidak dapat dipertahankan. Hukum fisika dan kimia adalah hukum alam semesta kita. Universitasnya tidak dapat diragukan. Namun, manusia telah dirasuki oleh keinginan untuk mengalami keadaan kebahagiaan permanen yang dianggap demikian. Janji-janji manusia Tuhan untuk mengajarkan cara mencapai keadaan kebahagiaan permanen yang tidak dapat diwujudkan hanyalah retorika kosong.

Penderitaan besar manusia disebabkan oleh pencarian pencerahan atau moksha—sebuah tujuan yang dipaksakan oleh budaya selama ribuan tahun. Penyiksaan fisik, fisiologis, dan mental yang dialami orang untuk mencapai keadaan ini adalah hal yang menyimpang. Penyiksaan tubuh dengan menahan makanan menyebabkan perubahan metabolisme sedemikian rupa sehingga dapat menyebabkan halusinasi yang disalahartikan sebagai pengalaman spiritual. Keinginan berasal dari pikiran. Tidak ada yang seperti tidak adanya keinginan untuk makhluk hidup. Keinginan untuk moksha inilah yang harus dibebaskan darinya.

Tidak ada perbedaan antara tujuan material dan tujuan spiritual. Tujuan spiritual sama egoisnya dengan tujuan material. Tujuan spiritual bersifat ilusi dan hanya perluasan dari tujuan material. Jika Anda memikirkan Tuhan, Anda melakukannya hanya untuk keamanan Anda. Iman kepada Tuhan adalah sarana untuk mencapai tujuan material. Itu hanyalah delusi.

Perjalanan Kedalam Diri


Banyak orang yang bilang bahwa Perjalanan Spiritual itu adalah hal yg mistis, gaib, sesuatu yang dianggap klenik dll, bagi saya itu tidak! Kenapa? 

Karena itu perjalanan ke dalam dirimu, Itu berbicara tentang tubuhmu sendiri, tentang Energi Kundalini, Tulang Ekor, Tulang Belakang dan Kepala...

Hanya itu, dan itu ilmiah! 

Masa sih kamu dibilang belajar ilmu ghaib...padahal di AlQuran ada ayat : "Kenali dirimu maka kamu akan mengenal Tuhanmu." 

Kalau di Injil disebutkan : "Kerajaan Tuhan ada di dalam dirimu."

Dan saya yakin, di setiap agama dan di banyak kebudayaan mengajarkan bahwa perjalanan spiritual atau "Jalan Keilahian" itu mengacu ke dalam (diri), bukan pencarian ke luar atau dimana-mana.

Berbicara Energi Kundalini, kalau boleh saya ibaratkan kundalini adalah PUPUK, dia akan menumbuhkan bibit-bibit tanaman di dalam diri kita. Ya kalau kamu menanamnya buah yg tumbuh pasti buah juga, kalo kamu menanam duri ya yang tumbuh duri. Artinya apa? Ya itu kan kembali dengan apa yg sudah ada di dalam diri kamu. Kalau sifat bawaan kamu baik, maka kamu akan menjadi orang baik, begitu sebaliknya.

Saya tidak mengatakan kalau kamu melatih Kundalini itu kamu bisa jadi orang baik, tapi saya mau bilang, Kundalini itu adalah Energi, dan Energi itu Netral. Tidak baik dan tidak buruk. Tidak hitam tidak putih, hitam sekaligus putih (melampaui dualitas). Dan bukankah Jalan Spiritual seperti itu? Bukankah Jalan keillahian seperti itu? Apa kamu mau bilang kalau putih lebih baik dari hitam ? Menurut saya tidak juga. Apa kamu mau bilang kalau laki2 lebih hebat dari perempuan, menurut saya tidak juga. Kehidupan kan ya harus hitam sekaligus putih, harus senang sekaligus sedih. Itu ibarat roda, ya perputarannya seputar itu-itu saja. Dan yang dikatakan bahwa orang sudah mencapai "Pencerahan", ya mereka yang sudah "melampaui dualitas" itu tadi.

Sehat itu baik, sakit juga baik. Bahagia itu baik, sedih juga baik. Dipuji itu baik dihina juga baik. Karena bagi saya, semua baik-baik saja.

Samudera Tak Bertepi


Aku bukan air tabah yang mengukir batu
Aku bukan sufi yang khayal dalam rantai zuhud tiada jemu
Aku bukan Nabi dengan kitab dan suhuf yang turun dari lazuardimu
Aku bukan tukang cerita dengan jemari kaki bekas luka mengembara

Dunia berputar ke kanan dan ke kiri
Aku masih saja di sini
Langit berarah ke barat dan ke timur
Aku tetap di sini
Mau cari apa aku di sini?
Di pemberhentian yang tak pasti
Dengan lara yang tidak mau pergi
Dengan amarah yang tiada bertepi
Pada siapa?..... diri sendiri
Dengan impian yang mungkinkah aku gapai
Impian yang mana?
Mengapa.....
Kapan......
Bagaimana....

Bukan disinikah tempat aku?
Mencari pelabuhan yang aku sendiri tidak tahu di mana akhirnya
Memaknai Sejati Diri yang tiada henti
Tiada mimpi tiada navigasi
Tiada mata angin yang menunjukkan jalan
Dalam akal yang kosong tiada keinginan

Sang khalik
Berikan aku sabab
Biar dudukku di tanahmu menjadi manfaat buat makhlukmu jua
Biar tegakku dipertongkat mafhum dan sabda
Biar pergiku tidak hanya tinggal kidung
Melainkan pahala yang aku wariskan
Buat sekujur aku
Yang kaku
Sendiri
Menanti hisabmu








Para pencari Tuhan

Pengetahuan tentang ketuhanan atau spiritualitas kini telah tersebar di mana-mana. la mudah diakses melalui kitab, ceramah, guru, dan tulisan-tulisan yang telah tersebar sedemikian rupa. Namun, pengetahuan yang demikian, meskipun tampak berlimpah, seringkali hanya berhenti di dalam tataran pikiran. la menjadi sekadar informasi, menjadi koleksi konsep dan teori yang ditampung oleh akal. Ia tidak lebih hanya menjadi aksesori atau penghias pikiran. Tapi toh, banyak orang merasa cukup dengan itu, padahal itu baru kulit luar dari spiritualitas atau ilmu ketuhanan.

Ketuhanan tidak bisa dikenali hanya dengan teori atau hafalan. Ketuhanan hanya bisa dikenali melalui ilmu-Nya sendiri, bukan dari ilmu yang disusun oleh konsepsi pikiran manusia. Ilmu ini bukan hasil belajar dari luar diri, tetapi adalah ilmu yang diberikan langsung oleh Tuhan kepada manusia yang sudah bisa bersetia hati (yang bersetia pada hati sanubarinya), manusia yang sudah bisa sumarah (benar-benar mengosongkan diri, tunduk, dan berserah). Ilmu ini tidak bisa dicari dengan ambisi akal dan kecongkakan intelektual, tapi ia turun sebagai anugerah kepada mereka yang dibersihkan dan dipersiapkan untuk menerima-Nya.

Setelah banyaknya pengetahuan yang dikumpulkan dari buku-buku spiritual tentang Tuhan, cobalah kini untuk menyingkirkan atau menggudangkan terlebih dahulu segala pengetahuan itu. Bukan untuk menolak atau menjadi anti intelektual, tetapi untuk tidak bergantung pada cerita atau pengalaman orang lain di dalam buku. Karena selama kita masih berpijak pada konsepsi pikiran dan pengalaman orang lain, kita mustahil bisa masuk ke dalam pengalaman langsung untuk mengenal-Nya. Pengetahuan hanya menjadi jembatan, bukan tujuan. Untuk itu, carilah guru yang telah dianugerahi dengan ilmu yang datang langsung dari sisi-Nya. Guru semacam ini tidak mencari kemuliaan dunia, tidak tampil mencolok di tengah masyarakat, bahkan cenderung memilih tak dikenali atau menjadi anonim. la kerap hadir di antara manusia seperti orang biasa. la tak memakai gelar-gelar kehormatan feodalistik, tidak duduk di mimbar-mimbar yang elitis, tetapi dalam dirinya terang benderang memancar cahaya ilmu ketuhanan. Hanya mereka yang benar-benar mencari, yang siap dan tulus untuk dibimbing, yang akan dipertemukan dengan guru sejati seperti itu.

Oleh karena itu, siapa yang mencari Tuhan dengan konsep, akan terjebak dalam konsep. Siapa yang mengejar Tuhan dengan kata-kata, akan terjerat dalam kata-kata. Tetapi siapa yang menanggalkan segala pengetahuan buatan, dan membiarkan dirinya dikosongkan, maka ilmu Tuhan akan masuk dan memenuhi dirinya dari dalam. Inilah ilmu yang hidup, ilmu yang membuat batin menjadi tajam dan hati menjadi lembut, ilmu yang bukan sekadar diketahui, tetapi dialami, dirasakan, dan dihidupi. Sampai hari ini, ilmu untuk mengenal Tuhan masih terus dicari oleh para pejalan spiritual. Mereka bukan hanya ingin tahu tentang Tuhan, tetapi ingin mengalami Tuhan dalam setiap detak kehidupan. Mereka tidak puas dengan ucapan dan cerita orang, tetapi ada kerinduan batin yang sedemikian kuat untuk bertemu dan mengenal-Nya secara langsung. Dan hanya dengan bimbingan dari guru yang tepat dan yang telah mengalami-Nya, serta kerendahan hati yang dalam dan tulus, seorang pejalan Spiritual bisa dibukakan jalan menuju pengenalan yang sejati menuju kehadiran-Nya yang tak terpisahkan.

Bertemu dengan Jati Diri

Ciri Seorang yang Sudah bertemu dengan Jati Dirinya 

1. Seseorang yang sudah bertemu/kenal dengan jati dirinya, akan merasakan ketenangan batin dan bisa merasakan seperti ada yang bimbing, mengajar dan mengarahkan perjalanan kehidupannya. 

2. Dia mulai fokus kedalam dirinya,untuk terus bertumbuh dan naik level kesadaran, dan tidak lagi membandingkan kehidupan orang lain dengan dirinya.

3. Dia selalu mengikuti intuisinya sendiri, tak mau ikut-ikutan dengan orang lain, tidak mudah terpengaruh, bisa merasakan dan membaca energi. Tidak tergesa-gesa dalam bertindak, selalu tenang menghadapi berbagai masalah. 

4. Mudah menangkap dan memahami ilmu-ilmu pengetahuan yang datang kepadanya, sehingga pengetahuannya terus berkembang tanpa batas.

5. Dia akan selalu berhati-hati dengan ucapan dan prilaku sendiri, karena sadar dengan hukum-hukum alam semesta serta pelan-pelan mulai melepas semua kemelekatan duniawi. Maka jiwa, tubuh dan roh bisa menyatu menjadi kebaikan.

Rahayu


Anda sedang mencari Tuhan

Dimulai dari Ikut kajian kemana-mana mencari Guru, mengumpulkan ilmu. 

Tapi jujur saja, benarkah Anda mencari? atau hanya ingin terlihat sedang mencari? Allah  berfirman "Dan apabila hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka Aku dekat" (QS. Al-Baqarah:186). Bukan jauh, bukan tersembunyi atau  dekat. Lalu masalahnya mengapa masih merasa jauh? Karena yang jauh itu bukan hatimu tapi egomu. Ego ingin terlihat spiritual. Ego ingin merasa sudah berjalan. Ego ingin diakui sedang mencari Tuhan dan terlihat sibuk. Pada akhirnya Anda  bergerak terus ke luar diri. Padahal pintunya tidak pernah di luar. Allah berfirman "Dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak  memperhatikan?" (QS. Adz-Dzariyat: 21). 

Ayat ini menunjukkan bahwa yang harus Anda lihat bukan dunia tapi dirimu sendiri. Masalahnya melihat ke dalam diri itu tidak nyaman. Karena disana Anda melihat kepalsuanmu sendiri, kesombongan halus dan niat yang belum lurus. Lebih mudah terlihat “mencari” daripada benar-benar jujur. 

Sekarang tidak perlu ke mana-mana. Tarik nafas perlahan dan tanyakan, siapa yang sedang mencari? Jika masih ada “Aku” atau Ego yang ingin dianggap, artinya Diri Anda belum sampai. 

Tuhan tidak pernah jauh karena yang jauh itu Kesadaranmu. Dan yang menghalangi Anda bukanlah Dunia tetapi dirimu sendiri.

Kenalilah Aku

Aku tak bernama tak bersuara. Dan tak tertulis karena aku "Laa Sautin walaa Harpin".

Aku Bukan Dzat. Aku juga bukan Sifat. Aku bukan pula Asma aku bukanlah Afal Karena Aku Bersifat. "Laisa Kamitslihi syi'un". Namun Aku meliputi segala sesuatu. "Allahu Bikulli Syi'un Muhiid.

Jika kalian ingin mengenal ku. Buanglah Hijab kesombongan dan keaakuan pada diri kalian. 

Jika kalian mencari Ku. Aku tidak ada. Tapi jarak ku dengan kalian. Hanya seurat Nadi di tenggorokan kalian.

Rahayu 






Proses Penyembuhan Diri


Ada naluri dalam diri manusia untuk menghindari rasa sakit. Ketika sesuatu melukai, kita ingin segera menjauh, melupakan, atau menutupinya secepat mungkin. Terlihat seperti cara paling aman. Namun sering kali, apa yang kita hindari justru tetap tinggal diam-diam di dalam diri, tumbuh tanpa kita sadari.

Rasa sakit yang tidak dihadapi tidak benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat, bersembunyi dalam ingatan, lalu muncul kembali dalam bentuk lain: kegelisahan, ketakutan, atau luka yang lebih dalam. Semakin kita lari, semakin jauh pula kita dari proses penyembuhan itu sendiri.

Menghadapi luka memang tidak mudah. Ia membutuhkan keberanian untuk merasakan, untuk mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Tetapi justru di situlah awal dari pemulihan. Ketika seseorang berani tinggal sejenak bersama lukanya, ia perlahan mulai memahami, menerima, dan akhirnya melepaskan.

Mungkin karena itu, sembuh bukan berarti tidak pernah terluka. Sembuh adalah proses berani melalui luka itu sampai ia tidak lagi menguasai kita. Bukan dengan lari, tetapi dengan bertahan cukup lama hingga hati belajar pulih dengan sendirinya.

Melangkahlah


Ketika suatu masa kita bertemu yang awalnya sama-sama cocok, saling bercerita, energi pun saling tarik-menarik. Dikemudian hari pada akhir cerita kita menjadi berbeda arah dan saling pergi menjauh. Itu artinya tugas perjalananmu dan aku sudah selesai, sadarilah bahwa kita mempunyai perjalanan masing-masing dan engkau pun sudah tidak menjadi bagian dari hidupku. Sekalipun itu dipaksakan, tidak akan baik untuk pertumbuhan jiwa kita. Oleh karena itu janganlah diam dan melangkahlah karena tak ada perjalanan yang sia-sia

Tiap rintangan perjalanan menyimpan dua kemungkinan : Yang pertama akan bertemu dengan orang-orang baru, yang akan menjadi tugasmu. Yang kedua bertemu dengan jati dirimu sendiri, yang selama ini kau cari. Kadang kita perlu untuk kehilangan supaya bisa kembali dan mengerti apakah arti menemukan yang kau cari.



Pesona Wanita Spiritual

Dalam tradisi Tasawuf, pesona seorang wanita tidak dilihat sekedar sebagai daya tarik visual, melainkan sebagai sebuah realitas spiritual yang mendalam.

Para Sufi melihat dunia sebagai cermin yang memantulkan sifat-sifat Tuhan, dan wanita menempati posisi yang sangat istimewa dalam cermin tersebut.

1. Wanita sebagai Mazhar (Tempat Penampakan) Sifat Jamal - feminim 

Tuhan memiliki dua sifat utama: Jalal (Keagungan/ Maha Perkasa) dan Jamal (Keindahan/Maha Lembut). Pesona wanita spiritual terpancar dari dominasi sifat Jamal dalam dirinya. Kelembutan, kasih sayang, dan keindahan yang dimiliki wanita adalah cara Tuhan memperkenalkan sisi "Keibuan" dan "Cinta Kasih"-Nya kepada dunia. 

Ibnu Arabi, dalam Fushush al-Hikam, bahkan menyatakan bahwa kontemplasi yang paling sempurna terhadap Tuhan adalah melalui wanita.Mengapa? Karena dalam diri wanita, seseorang bisa menyaksikan Tuhan dalam aspek fa'il (subjek yang memberi cinta) dan munfa'il (objek yang menerima cinta) sekaligus.

2. Kecantikan Batin (Al-Husn al-Ma'nawi).

Pesona sejati seorang wanita spiritual menurut tasawuf terletak pada Adab dan Ihsan.

- Ketenangan Jiwa (Mutmainnah) Wajah yang memancarkan kedamaian karena hatinya terus menerus berzikir.

- Ketulusan (Ikhlas) Pesona yang muncul bukan dari keinginan untuk dipuji manusia, melainkan dari pancaran cahaya batin yang jujur.

- Kezuhudan yang Anggun: la tidak terikat pada perhiasan dunia, namun kesederhanaannya justru menciptakan aura kemuliaan yang tidak bisa ditiru oleh kosmetik mana pun.

3. Simbol Cinta Ilahi (Mahabbah).

Dalam puisi-puisi sufi, seperti karya Jalaluddin Rumi, wanita sering menjadi simbol bagi "Sang Kekasih" (Tuhan). Rumi pernah berkata : "Wanita adalah cahaya Tuhan, bukan sekadar objek nafsu. la adalah pencipta, bukan sekadar ciptaan." Pesona ini bersifat transformatif. Pertemuan dengan wanita yang memiliki kedalaman spiritual bukan hanya membangkitkan kekaguman, tetapi membawa seseorang lebih dekat kepada Sang Pencipta. Kehadirannya menjadi pengingat akan keindahan ukhrawi.

4. Peran sebagai "Rahman" di Bumi.

Nama Tuhan Ar-Rahman berakar dari kata Rahm yang berarti rahim. Wanita spiritual membawa pesona "rahim" ini ke dalam karakter sosialnya ia melindungi, memelihara, dan mencintai tanpa syarat. Pesona ini adalah bentuk pengabdian (khidmah) yang luhur. 

Jadi, pesona wanita dalam tasawuf adalah Cahaya di atas Cahaya. la bukan tentang apa yang tampak di permukaan, melainkan tentang seberapa jernih cermin hatinya memantulkan cahaya llahi.Ketika seorang wanita menata jiwanya dengan ketakwaan, kecantikannya menjadi abadi sebuah daya tarik yang tidak akan luntur oleh usia karena ia bersumber dari Yang Maha Kekal.


Salam Ketika Berziarah


Disusun oleh Habib Abdullah bin Husein bin Thahir (Dibaca dalam keadaan berdiri)

Salamullah ya sadah minarrohman yaghsyakum
Ibadallah ji'akum qosodakum tolabnakum
Tu'inuna tughitsuna bihimmatikum wajadwakum
Fahbuna wa'tuna 'atoyakum hadayakum
Fala khoyyabtumu zonni fahasyakum wahasyakum
Sa'idna idz ataynakum wafuzna hina zurnakum
Faqumu wasyfa'u fina ilarrohman mawlakum
'Asa nu'to'asa nuhzo mazaya min mazayakum
'Asanazroh'asa rohmah taghsyana wa taghsyakum
Salamullah hayyakum wa'ainullah tar'akum
Wasollallah mawlana wasallamma atainakum
'Alal mukhtar syafi'na wamun qizuna waiyyakum




Praktek Rahasia Mendapatkan Karomah Para Wali


Walaupun mereka telah pergi ke Rahmatullah. Hakikatnya mereka tidak wafat dalam ajarannya, kebenarannya, dan Rasa sentuhnya. Siapapun yang khusyuk mengetuk pintu dengan kalimatNya, mereka akan datang menaungi tiap-tiap nurani yang shaleh dan menebarkan karomah bagi keagungan hidup. Sepanjang hari, apalagi menjelang Ramadhan, Muharam, makam para kekasih Allah itu tak pernah sepi. Para peziarah larut dalam doa  dan harapan. Banyak orang yang melakukan ritual sesat hanya ingin memiliki khodam/pendamping ghaib di makam tersebut. Berikut amalan rahasia yang mana, karomah sang wali mengalir sejuk/tenang ke dasar hati yang menimbulkan harapan hidup baru,inilah amalannya :

1.Mandi taubat/wudhu/selesai wudhu baca surat Al-fatihah 7x
2.Sholat Taubat 2raka'at
3.Sholat Hajat 2raka'at
4.Sholat Birul Walidaini 2raka'at
5.Sholat Karomatillah 2raka'at

Setiap selesai Sholat dan Salam membaca Amalan :
1. Istigfar 21x
2. Shalawat 21x
3.Zikir Toyibah 21x
4.Allahumma Fi Karomatil Akbar 21x
5. Bismillah Alif Lam Mim nurullah 21x

Kemudian membaca Tawasul/Silsilah, lalu zikir kembali dengan membaca Amalan dari no 1 sd no 5

Istighotsah


Dalam terminologi Jawa, apa yang di tahun belakang menimpa Indonesia dan negara-negara lain di seluruh dunia ini disebut “Pageblug”. “Pageblug” yang berasal dari bahasa Jawa berarti masa di mana banyak wabah penyakit menular. Dahulu kala Pagebluk diatasi dengan “ruwat” atau “ruwatan”.

Ruwatan berasal dari kata “ruwat” (Jawa) atau “ngarawat” (Sunda) yang berarti merawat atau mengumpulkan. Tradisi ruwatan biasanya digelar bertepatan dengan tahun baru Saka (Jawa) atau tanggal 1 Suro, atau tahun baru Islam, 1 Muharam.

Ruwat, menurut kamus, berarti: 1) pulih kembali sebagai keadaan semula (tentang jadi-jadian, orang kena tulah); dan 2) terlepas (bebas) dari nasib buruk yang akan menimpa.

Ruwatan merupakan sarana pembebasan atau penyucian manusia atas dosa dan kesalahannya yang berdampak kesialan di dalam hidupnya. Selain itu, ritual ini juga untuk melestarikan kebudayaan Jawa kuno yang bertujuan mencari kesejahteraan hidup.

Ritual ruwatan sering kali dianggap dekat dengan hal-hal yang berbau mistis, ini terlihat dari sesajen yang terlihat setiap ritual ruwatan digelar. Sesajen ini terdiri dari buah-buahan, sayuran, dan bahkan hewan seperti ayam atau kepala kerbau.

Selain serangkaian upacara, dalam ritual ruwatan para peserta juga menyaksikan bersama pertunjukan wayang kulit yang dimainkan seorang dalang yang memiliki keahlian khusus ruwatan.

Memang sepintas tak ada hubungan langsung antara pageblug dan ruwatan, tapi faktanya masyarakat ketika itu merasa terbebas dari pageblug setelah menggelar ruwatan. Mungkin juga karena sugesti. Hingga kini tradisi ruwatan itu masih terjaga dengan baik, terutama di masyarakat Jawa dan Sunda. Setelah Islam masuk ke Indonesia, tradisi pun kemudian bergeser. Ada semacam ritual penolak bala, tapi bukan dengan ruwatan. Yaitu dalam Islam dikenal “Istighotsah”, yang berarti minta pertolongan. Meminta pertolongan kepada Allah SWT ketika kita dalam keadaan sukar dan sulit, dan hanya Allah yang bisa menolongnya. Dengan kata lain, istighotsah adalah memohon pertolongan kepada Allah untuk terwujudnya sebuah “keajaiban” atau “mukjizat” atau sesuatu yang paling tidak dianggap tidak mudah bisa diwujudkan.

Dalam Istighotsah membaca Shalawat yang  diciptakan oleh Kyai Hasyim Ashari adalah “Li khomsatun uthfi biha harrol waba-il hatimah al musthofa wal murtadlo wabnahuma wa fatimah” sebanyak 1.217 kali

Sang Pecinta



Oh Tuhan, Telah ku temukan Cinta!!!. Betapa menakjubkan, betapa hebat, betapa indahnya…Kuhaturkan puja-puji bagi gairah yang bangkit dan menghiasi alam semesta ini maupun segala yang ada di dalamnya!. (Rumi). 

Rumi lebih dikenal sebagai penyair sufi, sering menjadi sumber inspirasi bagi penyair sufi lainnya. Puisi-puisinya sering diciptakan secara spontan dikala ia menari, memutar-mutar tongkatnya dan kemudian para murid-murid mencatatnya.

Wahai para pencari mukjizat, kalian selalu menginginkan tanda-tanda. Lantas dimanakah tanda-tanda itu?. Engkau tidur menangis dan bangun pun tetap menangis. Engkau mengharap yang tak mungkin tiba. Sampai ia menggelapkan hari-harimu. Engkau berikan segalanya, bahkan pikiranmu. Engkau duduk di muka api, ingin jadi abu. Dan ketika kau jumpai sebilah pedang. Kau lemparkan dirimu ke arahnya. Terjebak ke dalam hal-hal gila tanpa harapan semacam ini…Engkau akan menemukan tanda. (Bagaimana Aku Bisa Tahu?, Rumi). 

Walaupun mereka telah “hanyut” oleh tarian dan nyanyian para Darwis, para penduduk desa dan murid-murid yang terpesona mengelilingi Rumi masih merasa ragu untuk melemparkan dirinya ke dalam keadaan yang sedemikian gila. Biarlah para kekasih gila, hina dan ganas. Mereka yang meributkan hal-hal semacam itu tidak sedang kasmaran. (Memberi Ruang Bagi Cinta, Rumi). 

Tetapi bagi pecinta yang tergila-gila, ia tidak merasa takut. Sekalipun Tuhan Yang Terkasih tidak tampak, jauh dan tidak tersentuh fisik, keadaan mabuk cinta kepada Tuhan membuat ia rela menyerahkan seluruh jiwanya pada bara api yang menyala atau pada sebilah pedang yang terhunus. Lewat malam hadir sebuah lagu lembut mendayu. Pada saat aku tak bisa mendengarnya. Aku akan tiada. (Suara-Suara Malam, Rumi)

Para penari Sema berputar-putar. Rok lebar yang dikenakan para penari berkibar indah, berputar-putar semakin cepat, semakin panjang seirama alunan musik pengiring. Bahwa semua proses kehidupan manusia adalah sebuah perputaran, begitulah makna dari Tarian Sema. Dari ada, lalu tiada. Dari duka, lalu bahagia. Butir-butir debu dalam cahaya. Itu tarian kita juga. Kita tidak menyimak yang ada di dalam untuk mendengar musik. Tak apa …Tarian ini terus berlanjut, dan dalam kebahagiaan sang surya. Tersembunyilah Tuhan Yang mengajarkan kepada kita bagaimana caranya menari. (Tarian, Rumi). 

Di tengah-tengah Tari Sema meluncur dari mulut Rumi bait-bait puisi bagai nyanyian suci memuji Tuhan. Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata, Kusimpan kasih-Mu dalam dada. Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu, Segera saja bagai duri bakarlah aku. Meskipun aku diam tenang bagai ikan,  Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan. Kau yang telah menutup rapat bibirku, Tariklah misaiku ke dekat-Mu. Apakah maksud-Mu? Mana kutahu? Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan ini selalu. Kukunyah lagi mamahan kepedihan mengenangmu, Bagai unta memamah biak makanannya, Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa. Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak bicara, Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata. Aku bagai benih di bawah tanah, Aku menanti tanda musim semi. Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat bernafas wangi, Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat membelai kepala lagi. (Pernyataan Cinta, Rumi)

Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik atau otak semata. Cinta adalah lautan tak bertepi. langit hanyalah serpihan buih belaka. Ketahuilah langit berputar karena gelombang Cinta. Andai tak ada Cinta, Dunia akan membeku. Cinta yang dimaksud adalah cinta Yang Terkasih kepada hambanya. Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab tanpa cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapan-Nya. Burung-burung Kesadaran telah turun dari langit dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari. Mereka merupakan bintang-bintang di langit, agama yang dikirim dari langit ke bumi. Demikian pentingnya "Penyatuan" dengan Allah dan betapa menderitanya  m "Keterpisahan" dengan-Nya. (Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai, Rumi)

Dalam puisinya Rumi juga mengajarkan bahwa hendaklah Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan hidup, tidak ada tujuan lainnya yang menyamai. Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan Lihatlah pepohonan ini!.  Semuanya gembira bagaikan sekumpulan kebahagiaan. Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ? Sang lili berbisik pada kuncup, “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.” Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati. Hingga dia akan sampai pada jawaban “Ya” dalam pertanyaan, "Bukankah Aku ini Rabbmu ?” (Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai, Rumi)

Rumi -- Cinta Sejati


Ungkapan Jalaluddin Rumi ini menggambarkan perbedaan halus antara cinta yang kita beri dan cinta yang kita terima, terutama saat emosi manusia berada pada titik yang berbeda.

Kalimat “Ketika kau senang, kau akan pergi pada orang kau cinta” menunjukkan bahwa kebahagiaan sering mendorong manusia untuk berbagi dengan mereka yang menjadi objek cintanya. Dalam kondisi senang, manusia ingin menunjukkan rasa memiliki, kedekatan, dan kegembiraan. Pergi kepada orang yang kita cintai saat bahagia kerap bersifat ekspresif, kita ingin berbagi cerita, tawa, dan kebanggaan.

Namun Rumi melanjutkan dengan pengamatan yang lebih dalam: “Tapi ketika kau sedih, kau akan pergi pada orang yang mencintaimu.” Saat kesedihan datang, manusia secara naluriah mencari tempat yang aman, bukan sekadar tempat yang menyenangkan. Orang yang mencintai kita tanpa syarat memberi rasa diterima, dipahami, dan tidak dihakimi. Dalam duka, yang dicari bukan pujian, melainkan pelukan batin dan ketulusan.

Ungkapan ini menyingkap bahwa cinta yang memberi dan cinta yang melindungi memiliki fungsi berbeda. Mencintai sering membuat kita ingin hadir saat segalanya baik-baik saja, tetapi dicintai membuat kita berani datang saat kita rapuh dan tidak utuh.

Secara spiritual, Rumi juga mengisyaratkan hubungan manusia dengan Tuhan. Saat bahagia, manusia kerap sibuk dengan apa yang dicintainya di dunia. Namun ketika sedih dan terluka, ia kembali kepada Allah, Zat yang mencintainya tanpa syarat, bahkan ketika manusia sendiri tidak mampu mencintai dirinya.

Secara keseluruhan, ungkapan ini mengajarkan bahwa ukuran cinta sejati tampak jelas dalam kesedihan. Orang yang benar-benar mencintai bukan hanya hadir dalam tawa, tetapi menjadi tempat pulang ketika dunia terasa berat.

Gunung Kawi Malang Jawa Timur

Gunung Kawi merupakan tempat Ziarah Spiritual Wisatawan Lokal hingga Mancanegara.



Gunung yg berada di Malang, Jawa timur ini terdapat dua area Wisata Yaitu

1. Pasarean Gunung Kawi

Lokasi Jl Pesarean Sumbersari Wonosari Kec Wonosari Kabupaten Malang Jawa Timur

~ Makam Eyang Jugo/Kanjeng Kyai Zakaria II (wafat 22 Januari 1871) dan Raden Mas Imam Soedjono (wafat 8 Februari 1876). Mereka adalah tokoh bangsawan yang ikut menentang penjajah dibawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro.

~ Masjid Gunung Kawi

~ Klenteng Gunung Kawi

~ Gedung pertunjukan wayang kulit

2. Keraton Gunung Kawi 

Lokasi Area Gn Pitrang Balesari Kec Ngajum Kabupaten Malang

~ Dibangun pada tahun 861 M berdasarkan tulisan yang tertera pada Prasasti Batu Tulis di puncak Gunung Kawi. Pertapaan ini dibangun oleh Mpu Sendok (penguasa Mataram) pada masa dinasti Syailendra setelah berdirinya Candi Borobudur

~  Tempat para Raja Kediri, Mataram Kuno bertapa dan Moksa 

~ Tempat bertapanya para pendiri Singasari dan Majapahit

~ Sanggar Pamujaan dan tempat Moksa Prabu Kameswara Raja Kediri

~ Makam Ki Tunggul Manik dan Nyi Tunggul Menik

~ Vihara Dewi Kwan Iem

Pesona Alam Gunung Kawi sejuk dan tenang untuk wisata religius dan begitu khusus. Penulis menepis jika Gunung Kawi yang banyak orang tahu bahwa disana tempat mencari Pesugihan, tetapi Gunung Kawi adalah Gunung Sakral yang memiliki energi pantulan besar serta energi Spiritual Tinggi. Banyak Raja Nusantara di masa lalu melakukan Meditasi di Gunung Kawi untuk menggapai Kesejatian.

Pada tahun 2017 penulis di undang para Tokoh Spiritual untuk Acara Ruwatan dan Pagelaran Budaya Wayang Kulit di area parkir wisata Keraton Gunung Kawi yg diselenggarakan Perusahaan Indofood dan Bogasari.





Eyang Bathoro Katong Ponorogo Jawa Timur

Lokasi Plampitan Setono Kec Jenangan Kabupaten Ponorogo Jawa Timur
                                              





Gunung Kemukus

Mitos Pangeran Samudra setidaknya telah mewarnai tanah Jawa selama lebih dari 7 abad. Namun, sejak berakhirnya Perang Jawa, mitos ini telah mendapatkan makna baru yang jauh dari asalnya. Bahkan, hingga kini mitos ini banyak dipercaya oleh para pesugihan sebagai dasar untuk menjalankan ritual pesugihan. Pangeran Samudra merupakan seorang pendakwah yang sangat tekun belajar agama, baik dari Sunan Kalijaga maupun Ki Ageng Gugur. Artinya, sangat kecil kemungkinannya jika di kemudian hari, Pangeran Samudra mengajarkan ritual pesugihan dengan cara berhubungan badan dengan pasangan haramnya sebanyak tujuh kali.

“Mereka harus menjadi orang asing yang belum pernah bertemu sebelumnya. Akan lebih baik jika mereka belum pernah kenal satu sama lain. Mereka melakukan itu pada Jumat Pon dan dilakukan selama 7 kali pertemuan. Jadi ini dilakukan setiap 35 hari, sehingga hubungan yang terjalin selama 1 tahun.”

Ritual pertama yang harus dilakukan di Gunung ini adalah berdoa dan menabur bunga di makam Pangeran Samudra dan Nyai Ontrowulan.

Kemudian para pezirah harus membasuh diri mereka di satu atau dua mata air keramat yang ada di bukit itu.

“Kebanyakan dari mereka yang melakukan ritual ini memiliki bisnis kecil. Mereka berharap ritual ini dapat mendapatkan uang dan menjadikan bisnis lebih baik.”

Mereka pebisnis dan jika kamu menanyakan, mereka akan jawab ritual ini berhasil. Bisnis yang sebelumnya tidak berkembang, sekarang dapat berjalan dengan baik. Ini karena Allah dan tidak ada yang lain selain Allah.

"Saat ini pukul 8 malam dan suasananya berkabut. Saya bertemu dengan seorang pria yang sedang mengaji sementara tangannya memegang tasbih. Pria itu memakai jaket, berkacamata, agak botak dan berkumis."

Setelah selesai mengaji, dia akan mencari seseorang untuk berhubungan seks.

“Anda tahu semua orang Jawa percaya dengan tradisi nenek moyang ini.”

Terletak di tengah pulau Jawa, Gunung Kemukus, atau Gunung Seks, mungkin dianggap kecil dengan ketinggian 824 meter, tetapi jumlah orgasme yang telah mengguncang puncak ini sangat besar. Sejak akhir abad ke-19, para peziarah Muslim Jawa telah berbondong-bondong ke gunung ini untuk berhubungan seks dengan orang asing —hingga 8.000 peziarah pada hari-hari tersibuknya—yang konon membawa berkah. Namun, belakangan, tradisi keagamaan ini menarik perhatian internasional yang kurang baik, sehingga membuat ziarah terhenti. Satu pertanyaan terus muncul: seberapa religiuskah praktik ini?

“Alhamdulillah, setelah sampai di sini, meskipun saya punya beberapa utang, usaha saya lumayan untung,” ujar seorang jamaah haji perempuan dan pemilik usaha kecil dalam film dokumenter SBS News TV Australia tahun 2014 yang berjudul Sex Mountain.

Film dokumenter itu menyebabkan skandal di Indonesia, dan Gunung Kemukus segera ditutup pada tahun 2014. Tetapi Anda tahu apa yang mereka katakan tentang moderasi: terlalu banyak hal baik tidak akan bertahan lama.

Kearifan Seksual Candi Sukuh 

Candi Sukuh di lereng barat Gunung Lawu, Jawa Tengah, merupakan situs eksplorasi grafis tentang seks

Saat memasuki gerbang candi adalah relief pahatan yang menggambarkan penis yang siap menembus vagina.

Para penjaga candi telah mendirikan gerbang kayu untuk mencegah pengunjung tersandung alat kelamin. Larangan melakukan kontak fisik dengan relief dan sesajen bunga segar di sebelahnya menunjukkan bahwa penggambaran seks di sini telah diangkat ke ranah sakral. Meski penuh dengan gambar seks dan alat kelamin, Candi Sukuh bukanlah surga pornografi.

Di Sukuh, seks adalah perpaduan energi laki-laki dan perempuan untuk menciptakan energi kelahiran kembali yang baru. Penggambaran seks di sini tampaknya merupakan penghormatan kepada kekuatan penciptaan dan kesuburan.

Sukuh berdiri sebagai pengingat bahwa tidak semua penggambaran seks adalah bentuk pornografi. Malah, melalui seks, nenek moyang kita menyelaraskan diri dengan kehendak Tuhan.

Kyai Ageng Kasan Besari Ponorogo Jawa Timur

Kyai Ageng Muhammad Hasan Besari

Lokasi Jinontro Tegalsari Kec Jetis 
Kabupaten Ponorogo Jawa Timur












Raden Jafar Shodiq Sunan Kudus Jawa Tengah

~ Sunan Kudus (Raden Jafar Shodiq)
Lokasi Kauman Pejaten Kec Kota Kudus Kab Kudus Jawa Tengah


Ki Ageng Tarub Grobogan Jawa Tengah





Kurang lebih pada tahun 1300 M, ada utusan (mubalig) dari Arab yaitu Syaikh Jumadil Kubro. Beliau mempunyai putri bernama Ny. Thobiroh dan Ny. Thobiroh mempunyai putra Syeh Maulana. Disaat itu Syaikh Maulana mendapat perintah mengembangkan syariat Islam di pulau jawa sangat berat. Hal tersebut dikarenakan orang-orang Jawa banyak yang masih memeluk agama Hindu Budha, dan orang-orang jawa pada saat itu ahli bertapa, hingga orang Jawa banyak yang tebal kulitnya. Maka dari itu Syeh Maulana mulai memasukkan syareat Islam di tengah – tengah masyarakat Jawa, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara bertapa keatas pohon giyanti yang sangat besar, dimana diatas pohon tersebut terdapat tumbuhan simbar. Bertepatan itu di Surabaya terdapat Kerajaan Temas, rajanya bernama Singawarman dan mempunyai putri yang bernama Nona Telangkas. Dikala itu Nona Telangkas sudah dewasa, namun belum ada remaja yang berani meminangnya. Setelah itu Nona Telangkas diperintah oleh ayahnya supaya menjalankan bertapa ngidang yaitu masuk hutan selama 7 tahun, tidak boleh pulang atau mendekat pada manusia dan tidak boleh makan kecuali daun yang ada di hutan tersebut. Sehingga Nona Telangkas mempunyai nama Kidang Telangkas. Pada saat akan selesai bertapa, di tengah hutan tersebut Nona Telangkas melihat ada Telaga yang sangat jernih airnya. Kemudian dia mau mandi di telaga tersebut setelah melepas semua pakaian dia melihat di dalam air terdapat bayangan pria yang sangat tampan. Namun dikala itu Nona Telangkas telah terlanjur melepaskan semua pakaiannya. Akhirnya terpaksa menjeburkan diri di telaga tersebut, sambil mengucapkan dalam ucapan bahasa jawa “mboh gus wong bagus “.    
Setelah selesai mandi maka Nona Telangkas kembali pulang ke Kerajaan Temas (Surabaya) untuk menghadap orang tuanya. Namun Nona Telangkas disaat itu ternyata sudah dalam keadaan hamil maka setelah menghadap ayahnya beliau ditanya “Siapakah suamimu, sehingga engkau pulang dalam keadaan hamil ? “ Ditanya ayahnya berulang-ulang, dia tidak bisa menjawab. Namun di dalam hatinya Nona Telangkas teringat dalam pertapanya dikala akan selesai, dimana dia mandi di dalam telaga yang sangat jernih airnya, dan ternyata di dalam air tersebut terdapat bayangan pria yang sangat tampan. Maka disaat ditanya oleh sang ayah dia tidak bisa menjawab, namun didalam hatinya menjawab seperti diatas.
Maka akhirnya dia kembali masuk hutan untuk mas mencari tersebut. Disaat sampai di tengah hutan Nona Telangkas melahirkan bayi, sampai sekarang tempat tersebut diberi sebutan desa Mbubar. Setelah jabang bayi lahir lalu diajak mencari telaga, yang akhirnya menjumpai telaga yang terdapat bayangan pria yang tampan tersebut. Kemudian si jabang bayi diletakkan ditepi sendang telaga dan ditinggal pulang ke kerajaan Themas. Siapakah sebenarnya orang yang kelihatan bayangannya didalam sendang telaga, ternyata beliau adalah Kanjeng Syeh Maulana Maghribi yang sedang bertapa diatas pohon Giyanti. Dikala si jabang bayi Nona telangkas diletakkan dipinggir sendang telaga, Syeh Maulana berkata “ Nona Telangkas keparingan amanateng Allah kang bakal njunjung drajatmu kok ora kerso “ (dalam Bhs jawa).Yang akhirnya Syeh Maulana turun dari pertapanya dan menimang jabang bayi, kemudian dibuatkan tempat yang sangat indah yaitu Bokor Kencono . Dikala itu Dewi Kasian ditinggal wafat suaminya yang bernama Aryo Penanggungan, belum mempunyai putra, karena sayangnya Dewi Kasian terhadap suaminya, walau sudah wafat setiap saat dia selalu menengok makam suaminya. Maka dikala itu Syeh Maulana Maghribi membawa putranya yang telah dimasukkan bokor kencono dan diletakkan disamping makam Aryo Penanggungan. Di malam itu juga kebetulan Dewi Kasian keluar dari rumah menengok kearah makam suaminya, kelihatan sinar yang menjurat keatas dari arah makam suaminya, apakah sebetulnya sinar yang menjurat dari arah makam suaminya tersebut ? Ternyata setelah didekati adalah sebuah bokor kencono yang sangat indah, dan dibuka bokor tersebut ternyata didalamnya terdapat jabang bayi yang sangat mungil dan lucu sekali. Disaat itu Dewi kasian sangat terperanjat hatinya melihat si jabang bayi tersebut, dengan tidak disadari akhirnya bokor berisi jabang bayi dibawa pulang dengan lari dan mengucapkan : “kangmas Penanggungan wis sedo, kok kerso maringi momongan marang aku “. (dalam Bhs Jawa).Kabar mengenai orang yang telah meninggal tetapi bisa memberikan kepada istri jandanya, telah tersiar sampai ke pelosok negeri. Masyarakat berbondong – bondong ingin menyaksikan kebenaran berita tersebut, Akhirnya Dewi Kasian yang asalnya tidak punya harta benda apa – apa menjadi janda yang kaya raya, dari uluran orang – orang yang datang tersebut. Kemudian jabang bayi diberi nama Joko Tarub karena dikala masih bayi diambil Dewi Kasian dari atas makam Aryo Penanggungan yang makamnya dibuat makam Taruban

Pada usia kanak-kanak Joko tarub atau Sunan Tarub mempunyai kesenangan atau hobi menangkap kupu-kupu di ladang. Setelah masuk di tengah hutan bertemu orang yang sangat tua, dia diberi aji – aji tulup yang namanya tulup Tunjung Lanang. Tulup inilah yang akhirnya menjadi aji-aji sangat luar biasa untuk Kiai Ageng Tarub/ Sunan Tarub. Diwaktu mendapat tulup tersebut dia pulang dengan cepat menyampaikan berita kepada ibunya (Dewi Kasian) dan mengatakan bahwa dia di tengah hutan dijumpai seorang yang sangat tua memberi aji – aji tulup kepadanya. Namun karena sayangnya, Dewi Kasian tidak memperbolehkan putranya masuk hutan, karena khawatir kalau dimakan hewan buas atau dibunuh orang yang tidak senang kepadanya.
Namun karena Joko tarub tidak takut lebih-lebih mempunyai aji – aji tulup tersebut, maka Joko Tarub tetap senang masuk hutan untuk mencari burung. Sampai diatas gunung Joko Tarub mendengar suara burung yang sangat indah bunyinya yaitu burung perkutut. Kemudian didekati dan dilepaskan anak tulup kearah burung tersebut namun gagal. Akhirnya Joko Tarub berfikir dan menganggap bahwa burung ini tidak burung biasa. Kemudian terdengar lagi suara burung dari arah selatan, didekati dan dilepaskan lagi anak tulup kearah burung namun tidak mengenai burung itu dan ternyata anak tulup itu mengenai dahan jati. Tempat yang ditinggalkan burung tadi sekarang dinamai Dukuh Karang Getas. Karena sedihnya Joko tarub maka tempat yang ditinggalkan, sekarang dinamai Dukuh Sedah. Kemudian terdengar lagi suara burung dari arah selatan, didekati dari posisi yang strategis (burung dalam keadaan terpojok), maka anak tulup dilepaskan dan ternyata tidak kena dan burung terbang lagi ke selatan.

Tempat tersebut sekarang menjadi Dukuh Pojok. Burung terbang ke selatan dan hinggap diatas pohon asam oleh Joko Tarub dilepaskan lagi anak tulup kearah burung tetapi terbang lagi ke selatan, tempat yang ditinggalkan tadi menjadi Dukuh Karangasem. Diwaktu mengejar burung keselatan Joko Tarub merenungi burung tersebut, dalam ucapannya mengatakan ini burung atau godaan. Tempat merenungi Joko Tarub sekarang dinamai Desa Godan Joko Tarub mengejar terus burung kearah selatan, tempat melihatnya Joko Tarub sekarang dinamakan Dukuh Jentir. Joko Tarub terus melacak burung kearah tenggara kemudian berjumpa lagi dengan burung yang hinggap di pohon tetapi burung tersebut tidak bersuara. Setelah burung itu terbang lagi ke selatan dan tempat yang ditinggalkan tadi dinamakan Dukuh Pangkringan. Kemudian Joko Tarub melacak kearah selatan, setelah sampai ditempat yang sangat rindang disitulah burung terbunyi lagi.Namun Joko Tarub mendengar suara wanita yang baru berlumban (mandi) di dalam sendang. Disaat itu Joko Tarub lupa burung yang dikejar dia beralih mengintai suara wanita yang mandi di dalam sendang Ternyata para bidadari yang sedang dilihat, akhirnya Joko Tarub mengambil salah satu pakaiannya bidadari yang dengan tutup kemudian dibawa pulang dan disimpan dibawah tumpukan padi (lumbung) ketan hitam. 

Joko Tarub kembali lagi ke Sendang dengan membawa sebagian pakaian ibunya. Setelah sampai didekat sendang ternyata para bidadari sudah terbang kembali ke surga. Tinggal satu yang masih mendekam ditepi sendang dengan merintih dan berkata : “sopo yo sing biso nulung aku, yen wadon dadi sedulur sinoro wedi, yen kakung sanggup dadi bojoku“. Disaat itu Joko Tarub mendekati dibawah pohon sambil mendengarkan ucapan bidadari tersebut dan menolong bidadari dengan melontarkan pakaian ibunya. Setelah bidadari berpakaian diajak pulang kerumah ibunya dan disampaikan kepada ibunya bahwa putri ini adalah putri dari sendang yang baru terlantar dan minta tolong kepada siapun : Jika yang menolong pria akan dijadikan suaminya. Akhirnya Joko tarub menikah dengan bidadari tersebut yang bernama Nawang Wulan. Adapun sendang yang dibuat lomban para bidadari, sekarang dinamakan sendang Coyo.

Kemudian Joko Tarub dengan Nawang Wulan mempunyai tiga putri yaitu : Nawang sasi, Nawang Arum, Nawang Sih. Pada waktu bayinya, Nawang Sih mengalami satu riwayat yang sangat hebat yaitu dikala Nawang Sih masih di ayunan, ibunya mau mencuci pakaian di sungai dan berpesan pada Joko Tarub agar mengayun putrinya dan jangan membuka kekep (penutup masakan). Namun setelah Nawang Wulan pergi ke sungai, Joko Tarub penasaran akan pesan istrinya, maka dibukalah kekep tersebut, setelah melihat didalam kukusan, ternyata yang dimasak istrinya hanya satu untai padi. Joko Tarub mengucapkan (Masya Allah, Alhamdulilah istriku yen masak pari sak uli ngeneki tho, lha iyo parine ora kalong – kalong. Tak lama kemudian istrinya datang lalu membuka masakan tersebut, ternyata masih utuh padi untaian. Kemudian istrinya menegur suaminya bahwa pasti kekep tadi dibuka, sehingga terjadi pertengkaran. Akhirnya Nawang Wulan menyadari sehingga harus dibuatkan peralatan dapur (lesung, alu, tampah) Setelah kejadian itu Nyi Nawang Wulan kalau mau masak harus menumbuk padi dulu, sehingga lambat laun padi yang ada di lumbung makin habis. Setelah sampai padi yang bawah sendiri yaitu padi ketan hitam, ternyata pakaiannya diletakkan disitu dan diambil kemudian menghadap suaminya. Akhirnya terjadi pertengkaran yang hebat, ternyata yang mengambil pakaiannya waktu disendang dulu adalah Joko Tarub sendiri. Kemudian Nyi Nawang Wulang ingin pulang kembali ke surga dan berpesan kepada suaminya : Bila putrinya menangis minta mimik agar diletakkan didepan rumah diatas anjang – anjangTetapi setelah Nawang Wulan sampai di Surga di tolak oleh teman-temannya karena sudah berbau manusia. Kemudian Nyi Nawang Wulan turun lagi ke bumi namun tidak ada maksud kembali kerumah suaminya. Dia ingin bunuh diri naik di gunung Merbabu meloncat ke laut selatan. Setelah sampai di laut selatan Nyi Nawang Wulan perperang dengan Nyi loro Kidul, dan akhirnya Nyi Nawang Wulan mendapat kejayaan, sehingga laut selatan dikuasai oleh Nyi Nawang Wulan. Jadi yang ada dilaut selatan ada tiga putri yaitu : Nyi Nawang Wulan, Nyi Loro Kidul, Nyi Blorong

Setelah Joko Tarub ditinggal Nyi Nawang Wulan dia hidup dengan putrinya Nawang Sih. Disaat itu di Kerajaan Majaphit yang diperintah Prabu Browijoyo kelima ditinggal wafat istrinya, sehingga Prabu Browijoyo sakit dan tidak mau menduduki kursi kerajaan, dan setiap malam kalau tidur ditepi Kerajaan. Suatu malam dia bermimpi bila sakitnya ingin sembuh maka harus mengawini putri Wiring Kuning, kemudian raja terbangun dari tidurnya. Akhirnya para patih diperintah untuk mengumpulkan semua putri – putri. Setelah diteliti dan disesuaikan dengan mimpinya tersebut akhirnya menjumpai putri Wiring Kuning yang ternyata adalah pembantunya sendiri. Akhirnya dikawinilah putri tersebut dan dilarang untuk keluar dari taman kaputren karena malu jika ketahuan orang bahwa raja mengawini pembantunya sendiri. Setelah jabang bayi lahir raja Brawijaya memanggil saudaranya (Juru Mertani) supaya memelihara dan mengasuh bayi tersebut. 

Kemudian bayi tersebut diberi nama Bondan Kejawan (Lembu Peteng).Dimasa kanak-kanak Bondan Kejawan, ayah asuhnya atau Juru Mertani akan membayar pajak kekerajaan disaat itu Bondan Kejawan mendengar bahwa ayahnya akan kekerajaan dan dia ingin ikut tetapi tidak diperbolehkan. Namun dia lari dulu dan sampai di Kerajaan dia langsung masuk dan naik keatas kursi raja. Kemudian membunyikan Bende Kerajaan. Sang raja mendengar bunyi bende kerajaan dan marahlah, anak tersebut ditangkap dan dimasukkan kedalam sel kerajaan. Tidak lama kemudian datanglah Juru Mertani dengan membawa padi untuk membayar pajak. Selesai membayar pajak dia menghadap sang raja dan menanyakan anak kecil yang membunyikan bende kerajaan. Diberitahukan kepada sang raja bahwa anak kecil itu putra sang raja sendiri. Kemudian raja memanggil anak kecil itu dan membawa kaca untuk melihat wajahnya sendiri dengan wajah anak tersebut. Ternyata Beliau yakin dan percaya bahwa anak tersebut putranya sendiri. Kemudian Juru Mertani disuruh sang raja untuk mengantarkan putranya ke Saudaranya yaitu Ki Ageng Tarub dan putranya agar diasuh dan dipeliharanya. Disaat itu Ki Ageng Tarub mengasuh dua anak kecil yaitu Bondan Kejawan dan anaknya sendiri. Setelah masuk remaja Bondan Kejawan diperintah ayah asuhnya agar bertapa ngumboro yaitu disuruh ke sawah selama tujuh tahun dan tidak boleh pulang kalau belum diambil. Setelah sampai waktunya Nawang Sih diperintah ayahnya supaya memasak yang enak, setelah memasak agar mengambil saudaranya Bondan Kejawan yang berada ditengah sawah. Setelah sampai dekat gubug yang ditempati Bondan Kejawan, Disaat itu Bondan Kejawan sedang istirahat diatas gubug.
Nawang Sih memanggil Bondan Kejawan dari bawah gubug. Bondan Kejawan terperanjat atas panggilan Nawang Sih karena tidak tahu akan kedatangannya, sehingga Bondan Kejawan jatuh dari atas gubug dan memegang bahunya Nawang Sih. Sampai dirumah Nawang Sih memberitahukan orang tuanya bahwa tadi bahunya dipegang oleh Bondan Kejawan. Tetapi sang ayah malah memberi tahu Nawang Sih akan dijodohkan dengan Bondan Kejawan, dan akhirnya mereka menikah. Kemudian lahirlah anak yang diberi nama Ki Ageng Getas Pandowo (Ki Abdulloh). Bondan Kejawan meneruskan Bopo Morosepuh dan diberi nama Ki Ageng Tarub II, sedang Ki Ageng Getas Pandowo diberi nama Ki Ageng Tarub III

Tempat pertapaan Bondan Kejawan (Lembu Peteng) sekarang terdapat disebelah tenggara makam Ki Ageng Tarub I, dukuhan sebelahnya dinamakan Desa Barahan. Selanjutnya Ki Ageng Tarub III (Getas Pandowo) mempunyai putri banyak dan yang terkenal adalah Ki Ageng Abdurrohman Susila (Ki Ageng Selo).

Adapun adanya Ki Ageng Tarub adalah merupakan suatu karomah dari Allah yang diberikan kepada Syeh Maulana Maghribi dengan Dewi Telangkas (Nona Telangkas) yang melahirkan Ki Ageng Tarub. Adapun karomah yang diberikan Allah kepada Ki Ageng Tarub I yaitu kawin dengan Bidadari yaitu Nawang Wulan. Adapun cucu Ki Ageng Tarub I adalah Ki Ageng Selo yang mendapat karomah dari Allah yaitu dapat menangkap petir. Dari Beliaulah terlahir raja-raja ditanah jawa. Makam Ki Ageng Tarub terletak di desa Tarub Kecamatan Tawangharjo ± 10 km dari Kabupaten Grobogan.
Ditulis oleh: Taufiq Yusuf - sumber Grobogan.org