Makam Betoro Katong - Ponorogo - Jatim


                                              





Ujianmu sesuai dengan Maqammu

syekh abdul Qodir Jaelani R.A. berkata : Allah Azza wa Jalla akan senantiasa menguji hamba-Nya yang mukmin sesuai dengan kadar keimananya. Barang siapa yag besar imannya, dan terus bertambah, maka ujiannya besar pula.
Seorang Rasul, ujiannya lebih besar daripada nabi, karena keimanannya lebih besar, sedangkan ujian seorang nabi lebih besar daripada ujian seorang badal, dan ujian seorang badal lebih besar daripada ujian seorang wali, begitulah masing-masing sesuai dengan kadar keimanan dan keyakinannya.
Dasar semua itu adalah sabda Rasulullah Saw : Sesungguhnya ujian para nabi lebih berat dibanding manusia umumnya, lalu selanjutnya dan selanjutnya. Allah akan senantiasa menguji mereka yang mulia, hingga mereka senantiasa sadar, dan tidak lalai dari mengingat-Nya, karena Dia mencintai mereka. Merekalah Ahlul Mahabbah, yang mencintai Allah Azza wa Jalla. Dan orang yang mencintai tidak akan memilih selain dari kekasihnya.
Ujian adalah cambuk bagi hati mereka, pengendali jiwa mereka, menahan mereka dari berbelot kepada hal-hal yang bukan tujuan mereka dan bukan Pencipta mereka. Apabila hal itu telah tertanam dalam diri mereka, maka sirnalah keinginan mereka, hancurlah jiwa mereka, terpisahlah kebenaran dari kebatilan, tertutuplah syahwat dan keinginan, hilanglah kecenderungan kepada kelezatan dan kenyamanan duniawi dan ukhrawi. Jiwanya tenang dengan janji Allah, Ridho dengan ketentuan Allah, merasa cukup dengan pemberian Allah, sabar menghadapi ujian Allah, hatinya merasa aman dari gangguan makhluk Allah. Karena takwa adalah kekuatan hati, maka semua anggota badan dikendalikan olehnya, karena ujian dapat memperkuat hati dan keyakinan, dan mewujudkan keimanan dan kesabaran, serta melemahkan hawa napsu. Setiap kali datang yang menyakitkan hati, akan muncul dari seorang mukmin, kesabaran, ridho dan berserah diri pada kekuasaan Allah serta mensyukurinya. Jika Allah meridhoinya, maka didatangkan baginya lindungan, tambahan kebaikan dan taufiq.
                Allah Azza wa Jalla berfirman : Jika kalian bersyukur, maka Aku akan menambahnya bagimu. 
Dan apabila hawa nafsu itu bergerak untuk menuntut syahwat dan kelezatannya, maka hati akan mengabulkan permintaannya. Hal itu di luar perintah dan izin Allah SWT. Dengan demikian ia akan lalai dari Allah, syirik dan durhaka kepada Allah, maka Allah akan menenggelamkan dalam ujian, penyakit, dan dibiarkan Allah berada dibawah kekuasaan makhluk lain. Maka setiap bagian hati akan mendapatkan bagian dari ujian itu.
                 Apabila hati tidak memenuhi dorongan hawa nafsu, maka datanglah izin dari sisi Allah dengan ilham bagi Waliyullah, dan wahyu bagi para Rasul dan nabi. lalu tindakan diambil berdasarkan ilham dan wahyu itu, baik berupa pemberian atau bukan, maka Allah akan melimpahkan kepadanya rahmat, berkah, kesehatan dan keridhoan, cahaya dan makrifat, kedekatan dan kekayaan, keselamatan dari berbagai penyakit, dan pertolongan Allah atas musuh.
                  Maka ketahuilah dan jagalah hal itu. Dan hati-hatilah dengan bala' bagi yang cepat mengikuti ajakan hawa nafsu. Tapi dalam hal itu perhatikanlah izin Yang Maha Kuasa, maka engkau akan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat, Insyaallah.














Syarat untuk menguasai ajian, ilmu atau doa

1. Pilihlah aji, ilmu atau doa yg sesuai dengan keinginan anda dan laku atau puasanya kuat anda jalani.

2. Janganlah anda memuasai suatu aji, ilmu atau doa tanpa bimbingan seorang guru dan petunjuk yg jelas, sebab bisa sia-sia puasanya dan dikhawatirkan stress atau lebih fatal lagi bisa hilang ingatan.

3. Sekiranya anda sudah mendapatkan aji, ilmu atau doa yg cocok dengan keinginan anda, mintalah disahkan oleh guru ada atau orang yg telah megerti tentang aji, ilmu atau doa tersebut dengan cara diselamati terlebih dahulu dengan maksud agar barokah dan cepat masuk.

4. Pilihlah hari yg sesuai dengan aji, ilmu atau doa yg akan anda puasai, seperti contohnya untuk aji senggoro macan cocoknya dimulai puasa pada hari jumat pahing. Kalau anda tidak tahu, maka puasanya dimulai pada hari kelahiran anda. kalau tidak tahu juga, mulailah puasa pada hari rabu. Konon hari rabu itu hitungannya tanah sehingga kalau anda puasa, Isyaallah ada kuat puasanya.

5. Bagi anda yg masih bujangan alangkah baiknya sebelum anda puasa mintalah izin terlebih dahulu pada kedua orag tua anda. Ingat Hadist Nabi Muhammad SAW " Ridho Allah tergantug ridho kedua orang tuanya, dan kemarahan Allah tergantung kemarahan kedua orang tuanya "

6. Kalau anda akan memuasai suatu aji, ilmu atau doa, entah itu yg puasanya 3 hari, 7 hari, dst,... itu niat puasanya jangan seperti ini " Saya berniat memuasai.......3 hari " ( titik-titiknya tersebut diisi nama ajian, ilmu atau doa yg hendak anda puasai ). Niat puasa seperti diatas salah, sebab kalau anda puasanya tidak sampai hari atau batal sebelum sampai 3 hari, maka puasa anda sia-sia alias tidak berhasil. Jadi yg baik niat puasanya seperti ini " Saya berniat memuasai........sekuat saya ". Jadi andaikan puasa anda tidak sampai pada batas waktu yg telah ditentukan, puasa anda tetap sah dan mendapat barokah, apalagi kalau sebelum puasa, anda selamatan terlebih dahulu (lihat no 3). Dan Isyaallah tetap masuk walaupun tidak sempurna. Dengan syarat niat puasanya seperti yg telah dijelaskan tersebut diatas.

Semoga manfaat

Tawasul lengkap

        
         



Innallaha wamalaikatu yushallu na ala nabi ya ayyuhallazi na amanu shallu alaihi wassalimu taslima. Assalamu alaika ayuhan nabiyu warahmattullahi wabarakatu, assalamu alaina wa'ala ibadillahis sholihin.


1.Li Ridho illahi ta'ala...alfatihah

2. Illa hadrati nabiyil mustofa Muhammadin Rosulullahi Saw, wa ala alihi, waashabihi, wa tabi’in tabi’ina waman tabi’ahum bi ihsani illa yaumiddin radiallahu anhum syaiun lillahi lahumul fatihah…   
3. Illhadrati jamiil ashabi khususon sayidina Abu bakar sidiq, wa umar, wa usman, wa ali, wa sayidina hasan wa husen, wa sayidina hamzah, wa ahli badrin wa ahli uhud wa ahli maqobir baqi wama’la, wa ala alihi wa azwajihi wa zuriyatihi, wa khususon sayidina siti khadijah alkubra, wa siti fatimah azzahra, wa siti aisyah aminah radiallahu anhum syaiun lillahi lahumul fatihah…

 4. Illa hadrati jamiil malaikatil muqorobin, wa jamiil malaikatis sabhi samawati wal ardhi, khususon sayidina jibril, wa mikail, wa israfil, wa izrail, wa munkar, wa nakir, wa rakib, wa atid, wa malik, wa ridwan, wahapazhoti li holqi wahamalatil arsy alaihimussholatu wasalam syaiun lillahi lahumul fatihah…

5. Illa hadrati jamiil ulil azmi wamina rosulli sayidina adam wa umina hawa, wa khususon nabiyina syis, wa idris, wa nuh, wa ibrahim, wa ayub, wa yakub, wa yusuf, wa sulaiman, wa daud, wa musa, wa isa, wa muhammad alaihimussholatu wasalam syaiun lillahi lahumul fatihah…


6. Illa hadrati jamiil anbiya’i walmursalin wa suhada wa sholihin wa auliyai aripin wal ulamai amilin wal malaikati muqorobin wal mushonikyina wa’a immati arba’a almujahidina wa muqollidihim fiddin wa sufiyina muhaqiqina wa masayihina wa tabaina wa muryadina wa aba’ina wa umahatina wa jududina wa jaddatina wa ushulina wa puru’ina wa zuriyatina wa ahli baytina wa ahli quburina wa man lahu hakku alaina wa jamiil mu’minina wa mukminat wal muslimi wal muslimat al ahya’i minhum wal amwat minladun adama ila yaumil qiyamati wa ila jamiil a’lamina ajmaina radiallahu anhum wa gofarallahu lanawalahum syaiun lillahi lahumul fatihah…

7. Summa illaruhi masyayikhi ahli silsilah thariqatil arba'ah, qodiriyah naksabandiyah, naksabandiyah kholidiyah, sadziliya, akmaliyah, radiallahu anhum syaiun lillahi lahumul fatihah…

8. Summa illaruhi sayidi syekh abi hamid muhammad bin muhammad bin muhammad al ghozaly, wa sayidi imami sufiyin imam sahrowardy
wa sayidi imamil muhaqiqin abi yazid tofuri bin isa albusthomi
wa sulthonil ulama izzudin bin abdussalam, wa afdholit tabi’in uwais alqorny
wa sayidi syekh alqutbhi  alfashi al habib abdillah bin alwi alhadad
qodoshollahu sirrohum wa radiallahu anhum syaiun lillahi lahumul fatihah…

9. Summa illaruhi sayidi syekh abi abbas ahmad bin ali albunny
wa sayidi syekh abi abdillah muhammad bin sulaiman aljazuli 
wa sayidi syekh abdissalam bin masyisyi
wa khususon sulthonil auliya anjati syekh muhammad shohibi saman
wa sulthon auliya sufiyati abu hasan assadzily
wa quthubil ghousi syekh abdul qosim junaidi al bagdadi
wa sayidi shohibul karomah al ujbiyati syekh muhammad bahaudin annaqsabandy
wa sayidi syekh abi abbas ahmad al Badawi
wa sayidi syekh ahmad bin abi husaini arifai
wa sayidi syekh ma'ruf alkurkhi
wa sayidi syekh ahmad faruqi alsirhindyi
wa darobihim wahum sufiyah qodosollahu sirrohum wa radiallahu anhum 
syaiun lillahi lahumul fatihah…

10. Summa illaruhi sunan panjalu ciamis , wa sayid mursad campur darat, wa kyai abdurrahman, wa kyai basyarudin sri gading, wa ki ageng hasan besari ponorogo, wa sunan kuning, wa imam hanafi macanbang, wa kyai kholil bangkalan, wa kyai syamsudin batu ampar madura, wa kyai dimyati campur darat, wa kyai abdullah termas, wa kyai abdurrozaq termas, wa kyai mustakin kauman tulung agung, wa kyai arif mustakin, wa kyai Muhammad siraj al arif tulung agung. Wa ushuihim wa furu ihim wamasya’ihim wa afwa’ihim wa radiallahu anhum syaiun lillahi lahumul fatihah…

11. Summa illaruhi auliya tis’ahfi Indonesia khususon ala wali qutbi wa wakilihi wa ghaus hadazzaman, wa afwa ihim wa jamii auliyai lillahi ta’ala, ainama kanu sirron awzahron, waman fataha fi hadiyil balda, wa haziyi qoryat, waman aqomaha illa yaumil qiyamati, qodoshollahu sirrohum ajmaina syaiun lillahi lahumul fatihah…

12. Summa illaruhi mbah ja’asyim, mbah hasan munadah, wa mbah rasmi, wa kyai imam hambali, wa mbah sukaji, wa umi mujiro, wa khususon illa hadroti kyai masruri bandung tulung agung, wa ushulihim wa furu’ ihim wa masyaihim wa atba’ihim gofarollahu lanawalahum waj’al jannata mawahum rohimahumullah syaiun lillahi lahumul fatihah…

13. Summa illaruhi kyai sarqowi, wa kyai ali muhasan, wa kyai muktar, wa kyai muhammad yusa wa umi bunijah, wa khususon al mukjizih kyai abu sulaiman ali muhammad, wa ushulihim wa furu’ihim  wa atba’ihim wa masya’ihim wa ihwa ihim, wa zuriyatihim gofarollahu lanawalahum rohimahumullahu syaiun lillahi lahumul fatihah…

14. Summa illa hadrati shohibul anasir khususon balya bin malkan, nabi allah khidir, wa nabi allah Ilyas, wa nabi allah isa alaihimusholatuwassalam, wa syekh ibni maja, wa syekh sunan bintoro demak, wa syekh syamsudin mekah, wa syekh barat ketigo jogja, wa syekh abdullah, wa syekh tunggak kesambi, wa syekh imam hanafy, wa syekh hasan ibroni, wa syekh abdul karim agung tanahara, wa syekh syafii, wa syekh muhammad siroj al arif bin syafii.
wa adrobihim wa humul muhaqiqun, qoddoshollahu sirrohum wa radiallahu anhum syaiun lillahi lahumul fatihah…

15. Summa illa hadrati sayidina sulthan auliya syekh muhidin abdul qodir jaelani
qoddoshollohu sirro uhdur 3x  bi iznillahi ta’ala awnalana wanasirron alaina syaiun lillahi lahumul fatihah…

16. Summa illaruhi wali songo, sepuluh kang kinari,
khususon syekh syarief hidayatullah, syekh malaya, syekh abd jalil,
khususon syekh dzatul kafi cirebon, wa syekh quro hasanudin kerawang, wa kanjeng pangeran cakrabuana, wa sunan rahmat suci garut, wa syekh muhi pamijahan, wa ki ageng tarub grobogan, wa raden santri singasari gunung pring, wa raden bathara katong ponorogo, wa raden santri jayakusuma cidahu, habib ahmad bin Abdullah bin thalib al-athas pekalongan, wa habib ali bin umar bin abu bakar bafaqih jembrana, qodoshollahu sirrohum wa radiallahu anhum syaiun lillahi lahumul fatihah…

17. Summa illaruhi syekh maulana hasanuddin banten, wa syekh maulana yusuf, wa syekh maulana mansyur, wa pangeran sunyararas tanahara, wa pangeran jaga lautan pulo cangkir, wa syekh muhammad sholeh gunung santri, wa syekh asnawi bin syekh Abdurrahman caringin, wa tubagus muhammad atief tajug, wa habib abdullah bin ali al uraidhi pakuhaji, wa habib husein bin abu bakar alaydrus luar batang
qodoshollahu sirrohum wa radiallahu anhum syaiun lillahi lahumul fatihah…

18. Summa illaruhi para guru, wa khususon bapak ibu beserta keluarga kita, wa Jamiil arwahi ruhaniyin auliya wa sufiya wa jamiil rizalul ghaib. qodoshollahu sirrohum wa radiallahu anhum syaiun lillahi lahumul fatihah…

19. Illa hadrati Jamiil a'lamiina...fatihah  
   
20. Bi siiri…….fatihah

Al ikhlas 3x   Al falaq 1x    An nas 1x   Al fatihah 1x

 1. Bismillahirrahmanirrahim
 2. La hayyun la alimun la sami’un la qodirun la muridun la basyirun la mutakallimun bil haq Ilallah. 
     Membaca 2 kalimat shahadat 3x (setiap baca 1x tahan napas disambung HU)
 3. Istighfar
 4. La ilaha illa anta subhanaka, inni kuntu minazzholimin
 5. Subhanallah walhamdulillah wala ilahailallah wallahu akbar
 6. Lahaulawalaquata ilabilahil aliyil azim
 7. Hasbunallahu wa ni’mal wakil,  nikmal maula wa ni’man nashir
 8. Shalallahu ala muhammad
 9. Allahumma sholli wasalim ala sayidina muhammadin qod’dooqod khilati adrikni ya Rosululloh
10. Allahu akbar

 1. Afdholu zikri fa'lam annahu Lailahailallah 3x <hayyun maujud-hayyun ma’bud-hayyun baag
     La-ilaha-ila-allah ……zikirnya di ukir 4 latifah/zikir jasad/nafi isbat/toyibah
2.  Ilallah…..zikir hati/qolbu
3.  Jasad-hati-ruh-roso… Allah…..zikir ruh/ismu zat
4.  Jasad-hati-ruh-roso…Hu…….zikir zat/tarik nafas ke jantung naik ke ubun2
5.  Napas-anpas-tanapas-nupus…Hu Allah…zikir napas keluar kedalam
6.  Istigroq fi dzatilah..... zikir makrifat/zikir urip/zikir cekik/fana/hampa
7.  Guru sejati, bila ketemu baca salamun qolam mirrobihi rohim 3x

Doanya :
Allahumma anta maksudi waridhoka maklubi, a’tini mahabataka, wa ma’rifatika, wa thoriqo ilaika, wawasula ilaika, bihaqiqotil ma’rifati birohmatika ya arhamarrohimin, robbana atina fiddunyaa hasanah wafil akhiroti hasanah waqina azaa bannar , washallahu ala sayidina muhammadin wa ala alihi washohbihi wasalam walhamdulillahi robbil alamin.

Ilmu Tauhid Para Wali Sama

Ilmu pengetahuan para Wali tentang kehadiran Allah adalah sama. Mereka sering mengadakan diskusi tentang kehadiran Allah, dan mereka sama-sama meng-Esa-kan Allah. Perbedaan yg terjadi adalah penampilan kehidupan di dunia. Ada pula perbedaan dalam berdakwah ilmu tauhid. Imam Syafii dengan Imam Maliki, yg sudah sama-sama mengenal kehadiran Tuhan pun, terdapat pula perbedaan cara berdakwah.
Imam Syafii lebih cenderung menyampaikan dengan mengikuti tatacara kehidupan didalam masyarakat. Imam Syafii berpendapat "Kalau orang banyak sudah melaksanakan demikian, biarkanlah kita merubahnya pelan-pelan, sebab kalau kita merubahnya secara drastis, justru kita yg dianggap mereka gila".
Imam Maliki menjawab "Kalau yg disampaikan orang banyak tidak mengenai sasaran, sebaiknya kita katakan yg sebenarnya kepada mereka, agar mereka menyadari. Mungkin hal ini berat, namun apa boleh buat".
Maksud Imam Syafii, bahwa biarkanlah sementara orang yg belum mengenal Allah, mereka menyembah sekehendaknya. Sedangkan Imam Maliki berpendapat, bahwa beritahukan bahwa sebelum menyembah Allah, hendaklah mengenal Allah. Ini sejalan dengan hadist Nabi SAW, "Awaluddini Makrifatullah" artinya mula-mula beragama adalah makrifat kepada Allah.
Tapi perbedaan itu tidak menjadikan perpecahan diantara mereka. Mereka tetap dalam Ukhuwah Bashariyah. Sebab perbedaan dalam penyampaian memang harus tidak sama. Ada penyampaian berqalam dalam bentuk sasra, dan ini banyak dicontohkan oleh para Wali di Nusantara ini.
Misalnya dengan pupuh Suluk Linglung Sunan Kalijaga. Ada pula dengan syair, misalnya syair perahu yg disampaikan oleh Syekh Hamzah Fansuri. Ada pula yg melalui filsafat , misalnya Ibnu Arabi yg berpendapat , bahwa keadaan Rohani, hendaklah disifati oleh dirinya sendiri. Oleh sebab itu dirinya hendaklah menempati posisi yg positif menuju Rohani dalam aspek Ketuhanan. Ada pula dengan melalui syariat atau aqidah, kekeramatan yg bersifat metafisika, sebagaimana yg disampaikan oleh Nabi Musa.
Sedangkan yg masih mencari ibarat orang yg sedang mendaki bukit, berhutan lebat dan bertebing curam. Sasaran mereka ialah sampai kepuncak bukit. Mereka harus berjuang mencari dan menempuh perjalanan. Ada yg berjalan berputar-putar. Ada yg berjalan lurus, kadang sering jatuh. Apabila mereka sedang menempuh jalan ini dan lalu berbicara tentang kehadiran Tuhan, kemungkinan akan terjadi kebohongan atau manipulasi.
Sebuah cerita menarik dari seseorang yg naik haji, sampai di Mekah dengan khusuknya dia mencium Hajar Aswad , dia bersyukur kepada Tuhan, sebab sudah berhasil mencium berulang kali. Kajian hakikatnya tidaklah demikian, Ia menemukan batu, tapi bukan menemukan Allah.
disini pentingnya....mereka yg berjuang di jalan Allah haruslah punya ilmu dan kemampuan untuk mencari dan menemukan kehadiran Allah. Mengutip ceramah Kyai Zaenudin mz, kemampuan menuju kehadiran Allah harus dengan iman, bukan dengan kemampuan otak. Ada pertanyaan yg sering disampaikan kepada saya "Apakah para Wali itu sudah ber Haji ? ". Seorang Mursyid sudah dapat menilai tingkat akal yg bertanya. Suatu pertanyaan yg tidak menampilkan iman dan akal. Tetapi seorang guru tauhid harus menjawab, meskipun salah persepsi. Jawabnya ringkas " Sudah bahkan hampir setiap malam" Kenapa salah persepsi? Sebab pengertian berhaji menurut yg pertama tidak sama dengan pengertian haji yg diketahui oleh sang guru Mursyid. Berhaji yg pertama ialah berkunjung secara fisik ke Mekkah. Jadi kalau si penanya ingin melanjutkan pelajaran tauhid, maka sang Guru menyarankan supaya di tunda dulu. Tetapi sang Guru akan menjelaskan terlebih dahulu arti haji yg sebenarnya, kalau dia mau dan menerima, kalau tidak, tentu tidak akan di paksa. titik. 

Tawassul (Ensiklopedi NU)

Tawassul adalah salah satu cara yang ditempuh warga Nahdliyin dalam berdoa atau memohon kepada kepada Allah SWT. Tawassul dilakukan dengan suatu wasilah atau segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai sebab atau perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah agar suatu permohonan dapat dikabulkan.
Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman takutlah kamu kepada Allah, dan  carilah jalan (wasilah/perantara). (QS al-Maidah: 35)

Tawassul  bisa dilakukan dengan wasilah amal dan wasilah orang-orang yang dekat dengan Allah. Wasilah dengan amal (al-Tawassul bi al-‘Amal al-Salih) di antaranya ialah dengan iman. Imam sebagai wasilah yang menjadikan menusia dekat kepada Allah SWT. Ibadah dan amal kebajikan juga dapat menjadikan wasilah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Amar ma’ruf dan nahi mungkar juga termasuk wasilah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itu, berdo’a dengan memakai wasilah yang pertama ini direkomendasikan oleh para ulama. 

Tawassul yang kedua dilakukan dengan wasilah orang-orang yang dekat kepada Allah seperti para nabi, para rasul, sahabat-sahabat Rasulullah SAW, para sahabat, para tabi’in, para shuhada, para ulama’ dan para wali. Semua doa dan permintaan tetap ditujukan kepada Allah. Bertawassul dengan wasilah orang-orang yang dekat kepada Allah maksudnya adalah berdoa dan meminta kepada Allah SWT di sisi orang yang dicintai oleh Allah, atau menghadap orang-orang yang mendapatkan tempat terhormat di sisi Allah.
Bertawassul kepada orang-orang yang dicintai oleh Allah dapat dilakukan pada saat mereka masih hidup (al-Tawassul bi al-Ahya’) atau sudah meninggal dunia (al-Tawassul bi al-Amwat. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa manusia yang telah meninggal dunia masih aktif berkomunikasi dengan yang masih hidup. Rasulullah SAW dan para ahli kubur lainnya dapat menjawab salam saudara-saudara mereka yang mengucap salam. Rasulullah SAW bersabda:

Siapa pun yang mengucapkan salam kepadaku, Allah akan mengembalikan ruhku untuk menjawab salam itu. (HR Abu Dawud)

Bertawassul dengan orang-orang yang dekat dengan Allah SWT dimaksudkan agar mereka ikut memohon atas apa yang diminta kepada Allah. Bertawassul dengan orang-orang yang dekat kepada Allah SWT seperti para nabi, para rasul dan para salihin, pada hakekatnya tidak 
bertawassul dengan dzat mereka, tetapi bertawassul dengan amal perbuatan mereka  yang shalih. Karenanya, bertawassul itu tidak dengan orang-orang yang ahli ma’siat, pendosa yang menjauhkan diri dari Allah, dan juga tidak bertawassul dengan pohon, batu, gunung dan lain-lain.

Tidak ada perbedaan antara bertawassul kepada orang-orang yang dicintai oleh Allah pada saat mereka masih hidup atau sudah meniggal dunia. Tujuan bertawassul adalah mengharap berkah dari orang-orang yang dicintai oleh Allah sementara semua pemberian dan kemanfaatan hanyalah kepunyaan Allah. Allahlah yang akan mengabulkan semua keinginan hamba-Nya yang berdoa.

Orang-orang yang telah meninggal akan rusak dan hancur badannya atau jasadnya saja, sedang rohnya tetap hidup dan tidak mati. Mereka berada di alam barzah. Suatu riwayat menyebutkan bahwa di alam barzah Nabi Muhammad SAW menyaksikan perilaku umatnya di dunia. Jika umatnya berbuat baik maka beliau mengucap hamdalah, jika mereka berbuat kejelekan maka nabi memintakan ampun kepada mereka.

Penjelasan hadits di atas juga didukung oleh riwayat lain yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW selalu menyampaikan salam setiap melewati kubur. Ini menunjukkan bahwa ahli kubur pun menjawab salam yang diucapkan oleh orang yang masih hidup. Rasulullah SAW menyampaikan salam:

“Keselamatan atas engkau wahai ahli kubur, mudah-mudahan Allah mengampuni kami dan mengampuni kalian, kalian pendahulu kami dan kami mengikuti jejak kalian.”Bertawassul dengan ahli kubur bertujuan agar ahli kubur bersama-sama dengan pendo’a memohon kepada Allah. Ketika berdiri di depan kuburan Rasulullah SAW mengucapkan salam:  ا�Ž�„س�Ž�‘�„ا�Ž�…� ع�Ž�„�Ž�Š�’�ƒ�Ž �Š�Žار�Žس��ˆ�’�„�Ž ا�„�„�‡�.
Dalam beberapa hadits, Rasulullah juga menjawab salam orang yang menyampaikan salam kepadanya. Artinya, di dalam kubur mereka juga mendo’akan Rasulullah dan para pemberi salam atau yang bertawassul. (A. Khoirul Anam)

Pengasihan Al-Kautsar


Bismillah...

Inna a'tau inna kalkautsar fasolli min asih asih asih hatinya.....
teko welas teko asih, datang welas datang asih.
asih - asih - asih dengan aku
Saking kersaning Allah. Lailahailallah Muhammad Rosulullah
Kunfayakun 3x

Syarat Menulis Azimat

Syarat-syarat menulis Azimat / Rajah

1. Hendaklah berwudhu, pakaian, dan tempat harus bersih.
2. Pada waktu menulis, tidak boleh berbicara dengan siapapun.
3. Lidah harus dirapatkan di langit-langit mulut
4. Menarik napas agak keras dari arah kanan, dan mengeluarkan napas dari arah kiri
5. Menulis menghadap utara.

Setelah semua syarat di atas dipenuhi, maka memulai menulis Rajahnya dengan mengucapkan :

Bismillahirrohmanirrohim
qul uuhiya ilayya annahus-tama'a nafarum minal jinni, wa bihaqqi kaf ha'ya'ain shod,
wa bihaqqi ha'mim'ain sin qoof.
kemudian tulis azimat/Rajah/Tangkal itu sampai selesai. Setelah selesai ditulis, maka
bungkuslah dengan rapih agar tidak mudah rusak ( Hijau+kain).

Bersamaan dengan membungkus, bacalah :
1. Surat al fatihah 1x
2. Innaa fatahnaa laka fat-ham mubiinaa 3x
3. Allahumma sholli 'alaa sayyidinaa muhammad 3x
4. Nashrum minallaahi wa fat-hun qoriib, wa basysyiril mu'miniin 3x
5. Istigfar 3x
6. Wa bi robbil qolbi  17x
7. Lailahaillallah 21x
8. Lailahaillallah Muhammad Rasulullah 13x
9. Innahu taqorruban ilallaahil 'aliyyil 'azhim
10. Jahitlah kain pembungkus azimat tersebut sambil membaca ayat kursi.

Wassalam 

Pandangan Para Wali Tentang Kemakrifatan

Fitnahan terhadap Wali

Ceritanya :
1. " Adapun  Sinuhun Bonamg yang pertama - tama berbicara tentang kehadiran jati dirinya.

2. Lalu Syekh Siti Jenar menjawab : " Menurut hemat saya, iman tokid  (tauhid) dan
makrifat ialah mengetahui kesempurnaan diri. Bila orang membatasi diri sampai
pada makrifat, tandanya dia belum sempurna, sebab dia masih menyadari ada
bermacam - macam benda". Memang kalau belum sampai ke makrifat Dzat,
maka itu belumlah sempurna.

3.Si Nuhun Bonang berucap : " Kesempurnaan orang bermakrifat, ialah pandangan hilang,
tidak ada satupun lagi yang disebut wajah, kecuali wajah Allah. Dan mantaplah
Pangeran Agung yang disembah dengan yang menyembah", Lihat surat
Thaha 20 :14 

4. Syekh Siti Jenar berucap : " Kesempurnaan itu meliputi Pangeran. Maka
manusia tidaklah mempunyai ruang gerak, atau tidak bergerak, dia menjadi mati
sajroning urip ( mati suri ).  Lihat surat An Nisa 4:66

5. Sinuhun Bonang : " Menurut hemat kami, di akhirat tidak ada lagi iman tauhid dan
makrifat ",

6. Ya benar, sahut Syekh Siti Jenar : Yang ada Aku, tiada Tuhan selain Aku'
Surat  Thaha 20:14
" Sesungguhnya  hubungan antara kawula  dan Gusti terungkap dalam memuji dan
menyembah. Hal seperti itu di akhirat tentu tidak ada lagi. Kalau orang tidak memahami
Gusti, tentu dia tidak akan mengerti, maka tidaklah dapat disebut sempurna"

7. Sunan Gunung Jati  menyahut : " Yang disebut makrifat ialah memandang Pangeran
di Urang. Sehingga diluar dia tidak ada lagi yang disembah.
Allah Maha Esa, tidak dua, dan tidak tiga" Surat Al ikhlas ayat 1

8. Sunan Kalijaga berucap : "Arahkan pandangan kepada Tuhan tanpa ragu. Tetapi
bagaimana cara memandangnya, sebab Tuhan tidak berupa"

Inti pembicaraan mereka ialah Surat Thaha 20 ayat 41 :
" Aku memilih engkau untuk diriku "

Dan Surat Qaf 50 ayat 16 : " Kalau ada yang bertanya kepada engkau tentang Aku,
katakan bahwa aku dekat , bahkan lebih dekat dari urat lehernya "

Sesungguhnya manusia bukan saja sempurna, sebagaimana dikatakan oleh para Wali itu.
Manusia juga Wali Ikram yaitu mulia dan suci. Sebab didalam jasad yang sempurna
dibangun Allah dari tanah, maka kedalamnya diutus RohKu. Surat Al Hijr 15 ayat 29 dan
Surat As Sajadah 32 ayat 9.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembicaraan mereka merupakan Ukhuwah Bashariyah
dalam persaudaraan. Bertukar informasi / musyawarah tentang penyaksian.
Tetapi setelah diulas sana sini, maka menjadikan Syekh Siti Jenar dihukum penggal dihadapan
para Wali. Malah sebelum dihukum, terjadilah perang tanding tentang kesaktian.

Ini merupakan suatu analisa yang mengarah kepada politik pecah belah. Dengan menjelekkan
Syekh Siti Jenar, maka yang dipahami sesungguhnya adalah para Wali.
Seolah-olah para Wali tidak memahami hakekat diri. Yang sudah memiliki Rahman dan Rahim
dari Allah SWT. Sebab dengan menghukum Syekh Siti Jenar, maka orang bertarekat,
ahli tasawuf, dan dunia akan berfikir, apa para Wali itu tidak memahami keberadaan Allah
atas dirinya, sebagaimana disampaikan didalam Al Qur'an, Surat Thaha 20 : 46.
" Janganlah engkau takut, Aku ada bersamamu dimanapun engkau berada "

Cerita yang sangat menyedihkan dan tidak masuk akal ini di tulis oleh peneliti asing yang
kemudian diakui pula oleh sebagian besar diantara kita. Yang menjadi polemik adalah
Pandangan Asmaradana yang diuraikan oleh DR D Rinkes, De Heiligen van java.
Fragmen yang dikutipnya adalah tentang sidang para Wali. Masing - masing memaparkan
pandangan tentang kemakrifatan dan tauhid.
Dalam naskah lain agak mirip terdapat tulisan Tan Khoen Swie, kediri 1933.
Dari dua peneliti inilah Prof DR PJ Zoetmulder, SJ, mengupas dan menyampaikan
didalam bukunya yang sangat terkenal untuk mendiskriditkan para Wali. Dan pandangan itu
sangat mudah diterima oleh mereka yang tidak memahami terutama ayat-ayat yang telah
menjadi rujukan bagi seluruh para Wali di Nusantara kita ini.

Wallahu alam. Semoga Allah SWT slalu menyertai kita. Amin



Aji sahadat Cirebon berbagai versi

Bismillah...

Ashadu sahadat gunung jati
Netepaken sejati ning menusa
Bag-bagan iman sejati
Wali-wali Allah, wali Rosul, badan jaya sempurna
Jangkar sahadat buah ning iman
Maning rasa buah menusa alam ning sesa
Titis tulis sang sunan gunung jati
Netepaken raga sukma jatine menusa
Menusa anu sejati, sejatine menusa
Asyahadualailahailallah
Wa asyahadu ana muhammad rosulullah


Bismillah...
Assalamu'alaikum wr wb
Wa'alaikumsalam wr wb

Ashadu sahadat astana
Ana sahadat saking cirebon
Ana bulan tanggal pisan
Ingsun-ingsun, sira-sira aja kasamaran
Ya ingsun pangeran kuwu saking cirebon
Lailahailallah Muhammad Rosulullah


Bismillah...

Ashadu sahadat cirebon
Nur agung sukmaning Allah
Sahadat sejati Syekh Maulana
Melati mekar sepasang
Pus wetan pus kulon dadai rahayu
Adoh katon parek ora katingalan
Bis nurjati lungguhing puser
Kang Muhammad dadi lungguhing embun-embunan
Tegese ilmu Cirebon
Ilmu Rosul Ki Kuwu Cirebon Girang
Cirebon lor sangkane urip
Lailahailallah
Muhammad Rosulullah

Aji Sahadat Cirebon ini adalah pembuka gaib berguna untuk pageran badan, dan pasangannya adalah Aji Kulhu Balik, sehingga dengan mengamalkan aji ini Insyaallah, terhindar dari bahaya yang mengancam, menolak serangan ilmu hitam yang ditujukan kepada diri kita.

Inilah Mantera Kulhu Balik :

Bismillah...

Kulhu Balik, kulhu sungsang rajah imanku
Payungku Allah dadaku malaikat Jibril
Tekenku Nabi Sulaiman
Bolak balikluput kang diseja
Ana niat ora sida
Ana sida orang niat
Ana teka ora dadi
Hu Allah Hu Robbil 'alamin
Balika kang seja ala maring ingsun
Ya ingsun anak putune Pangeran Cakrabuana
Lailahailallah Muhammad Rosulullah