Semakin seseorang merasa menemukan kebenaran, semakin keras ia berbicara tentang kebenaran itu. Semakin sering ia mengucapkan "Ini yang benar!" "Yang lain salah!" "Ikuti jalan ini!". Semakin panjang ceramahnya. Semakin rajin ia mengoreksi Iman orang lain, dan sibuk membicarakan Tuhan, padahal justru ia sendiri yang paling jauh dari ketenangan.
Manusia memang unik. Ia bisa menghafal ribuan definisi dalil tentang Tuhan, tapi tetap panik saat hidup tidak sesuai harapan. Ia bisa menjelaskan Tauhid dengan sangat fasih, tapi masih marah besar ketika pendapatnya tidak disukai. Ia bisa berdebat tentang kebenaran sepanjang malam, tapi Ia masih gelisah ketika lampu kamar dimatikan.
Di situlah ironisnya Spiritual sering muncul. Semakin seseorang bicara tentang kebenaran, kadang justru semakin terlihat bahwa ia masih ingin diyakinkan. Masih ingin diakui. Masih ingin dibenarkan. Karena ketika kebenaran itu sudah benar menjadi bagian dari dirinya, ia tidak lagi sibuk mengumumkannya. Ia hanya hidup dengan dirinya. Seperti Matahari yang tidak pernah membuat status. Matahari tidak perlu klarifikasi ataupun validasi. Ia cukup terbit.
Begitu pula kesadaran. Ia benar-benar melihat sesuatu dengan jernih didalam dirinya, ia tidak lagi tergesa-gesa meyakinkan orang lain. Bukan karena ia merasa lebih tinggi atau bukan karena ia merasa paling benar. Tapi karena ia sudah selesai berdebat dengan dirinya sendiri.
Dan yang paling sulit adalah menenangkan diri sendiri. Maka sebelum manusia berdamai dengan dirinya sendiri, Ia akan terus mencari musuh di luar dirinya. Musuh teologis. Musuh ideologis. Musuh filosofis. Padahal, bukan karena kebenaran yang sedang ia pertahankan. Tetapi karena ego nya sedang terancam. Ego itu bisa memakai jubah agama. Ia bisa berbicara atas nama Tuhan. Ia bisa mengutip ayat dengan sangat fasih. Tapi diam-diam ia hanya ingin satu hal yaitu dianggap paling benar. Itulah sebabnya para Pencari yang benar-benar sampai pada kedalaman tertentu sering terlihat… biasa saja.
— Tidak gaduh.
— Tidak dramatis.
— Tidak sibuk membuktikan dirinya suci.
Mereka masih tertawa. Masih bekerja. Masih makan gorengan pinggir jalan. Tapi ada satu hal yang berubah : mereka tidak lagi panik ketika dunia tidak sepakat dengan mereka. Karena mereka sudah menemukan satu ruang kemenangan di dalam dirinya. Ruang yang tidak bisa diganggu oleh pujian. Ruang yang tidak bisa digoyahkan oleh hinaan. Ruang yang hanya berisi satu hal yaitu Ketenangan.
Dan di sinilah paradoks terbesar dari perjalanan Tauhid. Semakin seseorang mendekati kebenaran, semakin ia tidak merasa perlu berbicara banyak tentang kebenaran itu. Bukan karena ia tidak peduli. Bukan karena ia tidak tahu. Tetapi karena ia sudah mengerti satu hal sederhana yang sering dilupakan manusia : Kebenaran yang benar-benar hidup di dalam diri seseorang tidak selalu terdengar keras. Kadang ia hanya hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.
Sebuah nafas yang tenang, sebuah langkah yang tidak tergesa, dan sebuah hati yang tidak lagi merasa perlu menang dalam setiap percakapan. Ia sudah memahami satu rahasia kecil kehidupan : Bahwa dalam perjalanan menuju kebenaran, ada satu titik di mana kata-kata mulai kelelahan. Dan ketika itu terjadi, yang tersisa hanyalah keheningan yang tidak perlu dibela oleh siapa pun.
