Diuji Jodoh

Jodohmu Bisa Pergi - Dan Itu Bukan Kegagalan

Kalau hatimu pernah diuji soal jodoh, Simak sampai akhir. Jangan skip.

Tak semua Jodoh ditakdirkan bertahan. Yang pergi bukan salah, tapi selesai. Kalau jodoh itu takdir, kenapa ada yang sudah sah tapi tetap pergi? 

Jodoh bukan soal memiliki. Kadang ia hadir untuk mengajar, lalu pergi ketika pelajarannya selesai. Yang penting bukan siapa yang tinggal, tapi siapa yang mendekatkanmu pada Allah. 

Murid : Guru... jika jodoh itu takdir, mengapa banyak orang terluka karenanya? Mengapa ada yang menunggu lama, ada yang ditinggal, ada yang gagal dalam pernikahan?

Guru : Karena kau mengira jodoh hanya soal memiliki. Padahal dalam tasawuf, jodoh adalah proses dimiliki oleh takdir, bukan sebaliknya.

Murid : Maksud Guru... jodohku sudah ditulis?

Guru : Sudah. Bahkan sebelum kau pandai mencintai. Apa yang tertulis di Lauhul Mahfuz tidak pernah salah alamat. la tidak tertukar. la tidak direbut. la tidak terlambat, Yang sering terlambat itu kesadaran manusia, bukan jodohnya. 

Murid : Tapi Guru, mengapa orang baik bertemu yang menyakitkan?

Guru : Karena jodoh bukan hadiah, la cermin, Cermin kesabaranmu, Cermin egomu, Cermin akhlakmu. Allah tidak pernah salah memasangkan, Yang sering salah adalah cara manusia membaca hikmah.

Murid : Jadi, pasangan itu guru?

Guru : Ya. Ada yang mengajarmu dengan kelembutan. Ada yang mengajarmu dengan luka. Ada yang mengangkatmu. Ada yang menghancurkan kesombonganmu. Semua mengajar satu pelajaran yang sama: siapa dirimu di hadapan Allah.

Murid : Lalu pernikahan itu tujuan hidup?

Guru : Itu kesalahan terbesar manusia modern, Dalam tasawuf, pernikahan bukan tujuan, la hanya wasilah. Tujuanmu tetap satu : makrifatullah. Jika pasangan mendekatkanmu pada Allah, ia jodohmu. Jika menjauhkanmu, ia ujian, meski sah di mata manusia.

Murid : Apakah berarti jodoh tidak harus membahagiakan?

Guru : Bahagia versi siapa? Nafsu atau ruh? Para sufi berkata Jodohmu bukan yang membuatmu nyaman, tapi yang membuatmu taat. Kadang jodoh hadir sebagai ketenangan. Kadang sebagai luka yang memaksamu sujud lebih lama.

Murid : Guru... bagaimana dengan perpisahan?

Guru : Inilah yang paling ditakuti ego. Padahal dalam tasawuf, perpisahan juga jodoh. Ada pertemuan untuk saling menolong. Ada pertemuan untuk saling menyembuhkan. Ada pertemuan untuk saling belajar. Dan ketika tugas selesai, Allah memisahkan. Bukan karena gagal, Tapi karena pelajaran telah tuntas.

Murid : Jadi yang pergi... bukan kerugian?

Guru : Tidak semua yang bertahan harus dimiliki. Tidak semua yang pergi berarti kehilangan. Kadang yang pergi justru membawamu lebih dekat kepada Allah.

Murid : Lalu... siapa jodoh sejati menurut tasawuf?

Guru : Allah. Cinta pertama para kekasih-Nya. Segala cinta dunia hanyalah bayangan. Manusia bisa berubah, Bisa pergi, Bisa mati. Tapi jodoh ruhani, Allah tidak pernah meninggalkan.

Murid : Sekarang aku mengerti, Guru.

Guru : Belum. Kau baru mulai melepaskan ilusi. Karena jodoh bukan soal siapa yang kau genggam, melainkan siapa yang  membawamu pulang kepada Allah.