Dialog tentang Amanah Pernikahan

Pernikahan bukan tentang ditemukan lelaki terbaik tapi tentang apakah hatimu sudah siap menjadi wanita terbaik". Banyak wanita ingin dicintai, sedikit yang sibuk memantaskan diri, bekal itu bukan gaun tapi hati yang sudah tunduk. 

Muridah duduk dalam diam yang panjang. Matanya sembab, dadanya sesak bukan karena patah cinta melainkan karena ketakutan akan amanah bernama Pernikahan.

Murid : "Guru.." suaranya pecah, "aku ingin menikah... tapi aku takut."

Guru : "Anakku..!' akhirnya ia berbicara, lembut tapi menusuk "ketahuilah... ketakutanmu itu bukan kelemahan. Itu tanda bahwa jiwamu masih hidup."

Murid : "Kenapa Allah memuliakan pernikahan, Guru? Kenapa Rasulullah menyebutnya Sunah yang Agung?"

Sang Guru : "Karena pernikahan bukan hadiah bagi wanita yang cantik... Pernikahan adalah ujian bagi wanita yang ingin dekat dengan Allah". 

Lalu Sang guru melanjutkan, suaranya semakin dalam : "Menikah bukan sekedar berpindah rumah dan bukan sekedar berganti status. Menikah adalah saat di mana egomu mulai dilucuti satu persatu". 

- Ego tentang ingin selalu dimengerti

- Ego tentang ingin selalu diprioritaskan

- Ego tentang ingin selalu benar

- Ego tentang ingin selalu dipuji.

- Ego tentang ingin selalu menang 

Murid : Air matanya mulai menetes tanpa bisa dibendung 

Guru : "Dalam pernikahan, Allah akan memperlihatkan siapa dirimu dan sifat aslimu. Apakah engkau benar-benar lembut atau hanya terlihat lembut saat semua sudah sesuai dengan keinginanmu." "Apakah engkau benar-benar sabar atau hanya tenang selama tak ada yang mengusik egomu". 

Muridah : "Lalu... apa yang harus aku persiapkan, Guru?"

Guru mendekat sedikit, lalu berkata pelan namun tajam : "Banyak wanita sibuk menyiapkan gaun, sibuk menyiapkan pesta, sibuk menyiapkan wajah terbaik." "Tapi sangat sedikit yang sibuk  menyiapkan hatinya." "Bekal wanita sebelum menikah bukan hanya bisa memasak, bukan hanya pandai merawat diri, bukan hanya pintar berbicara manis".

Guru menatap tajam murid itu perlahan.  "Bekalmu adalah menyiapkan Hati yang sudah belajar memaafkan, jiwa yang sudah berdamai dengan takdir, ego yang sudah mulai tunduk, air mata yang sudah sering jatuh dalam doa, bukan dalam drama" 

Sang guru melanjutkan : "Wanita yang belum selesai dengan dirinya sendiri akan tersiksa dalam pernikahan meskipun ia dipeluk setiap hari". “Wanita yang belum kenal Allah dengan benar, akan  menggantungkan seluruh Kebahagiaannya pada manusia dan saat manusia itu mengecewakan, ia pun runtuh".

Muridah : "Guru... apakah pernikahan memang seberat itu?"

Sang guru : "Ya. Berat tapi justru karena itulah ia Mulia." "Karena pernikahan adalah jalan yang Allah pilih untuk membersihkan, membersihkan Cintamu, membersihkan Niatmu, membersihkan Hatimu".

Guru : "Anakku... jangan bersiap menjadi istri seseorang, bersiaplah menjadi hamba Allah yang kuat." "Karena jika engkau kuat dengan Allah maka siapa pun yang Allah takdirkan untukmu... akan menjadi jalan menuju Surga bukan jalan menuju luka". 

Murid itu duduk terdiam lama bukan karena bingung tapi karena Hatinya akhirnya tersadar.