Jangan Mengontrol Pikiran

Hukum Law of Attraction itu tidak salah, itu benar. Tapi kita tidak bisa melakukan setting atau manipulasi terhadap hukum itu. Hukum itu berjalan apa adanya. Misalnya kita ingin fokus pada hal-hal positif, itu hampir mustahil. Karena pikiran negatif juga pasti muncul. Saya ingat, jauh sebelum mengenal Law of Attraction, pernah muncul satu pikiran dalam diri saya: ingin mengalami kehidupan yang berwarna-warni, bahkan ingin merasakan penderitaan. Aneh, karena penderitaan itu tidak enak. Tapi pikiran itu muncul sendiri, tanpa saya sengaja.

Dan sampai hari ini, saya melihat pikiran memang seperti itu. Bergerak sendiri. Tanpa kontrol. Tanpa izin dari kita. Kita tidak benar-benar bisa mengendalikan pikiran. Pikiran hanya bisa disadari, bukan dikontrol. Karena pikiran itu seperti punya jalannya sendiri, punya arah sendiri. Seolah punya “kesadaran” sendiri dan hanya menumpang di tubuh kita. Hampir seperti orang kesurupan. Ada “sesuatu” yang punya keinginan sendiri, dan tubuh ini hanya dipakai.

Maka menurut saya, lebih baik berhenti mengontrol pikiran. Berhenti mengatur, mengkondisikan, atau memaksanya sesuai keinginan kita. Karena itu hampir mustahil. Saat kita mencoba mengontrol, kita justru mencampuri arus alami pikiran. Dan seringnya yang terjadi justru kebalikannya. Seperti sungai yang ditahan, dia akan mencari jalan lain. Kita tahan di satu sisi, dia bocor di sisi lain. Kita mungkin bisa “menarik” sesuatu, tapi pasti ada kebocoran di sisi lain yang tidak kita sadari. 

Hidup ini sebenarnya sudah bergerak sendiri secara alami. Kalau dalam agama, ini digerakkan oleh Tuhan. Kalau dalam kesadaran, ini bergerak dengan sendirinya. Tanpa bisa kita campuri sepenuhnya. Maka yang perlu dilakukan adalah menyadari saja. Apa adanya. Siang ya terima siang. Malam ya terima malam. Ketika kita memaksa malam jadi siang, justru kita akan masuk ke kegelapan. Kita akan menderita. Karena hidup selalu memberi. Tapi pemberiannya tidak selalu sesuai keinginan kita. Kadang memberi siang. Kadang memberi malam. Kadang memberi terang. Kadang memberi gelap. Tugas kita bukan mengatur pemberian itu. Tapi menyadari dan menerima.