Jebakan Spritual

Jebakan menolak kekayaan dalam jalan $piritual

Banyak orang Spiritual anti terhadap kemapanan dan kekayaan karena mereka menganggap harta duniawi adalah penghalang. Ini bukan kebenaran, ini hanya sudut pandang, hanya pilihan. Lalu mereka merasa sudah pasrah total, merasa ingin cepat pulang, merasa ingin menjadi Suci. Ini adalah anggapan.

Inilah orang-orang yang masuk dalam alam Khayali. Khayalan menjadi orang suci, khayalan menjadi cepat sadar, khayalan menjadi cepat bertemu Tuhan, khayalan untuk tidak reinkarnasi kembali. Justru ini membuat mereka jatuh ke dalam Ketidaktauhidan.

Tauhid artinya tunggal, artinya satu, artinya utuh. Tidak ada yang dipilih dan tidak ada yang ditolak. Ketika seorang memilih menjadi Suci dengan menolak dunia, dia sudah masuk ke dalam perpecahan. Karena sudut pandang itu arti­nya menyudut, tidak menyeluruh, tidak utuh.

Tauhid itu Esa. Tunggal itu Satu. Satu itu utuh. Utuh itu tidak terpecah. Tidak memilih sebagian dan menolak sebagian.

Ketika Anda merasa pasrah tetapi di dalam batin masih ada yang ditolak, maka penolakan itu adalah bentuk lain dari keinginan. Contohnya, ketika Anda menolak duniawi, arti­nya Anda menginginkan akhirat. Ini adalah jebakan yang halus.

Sama halnya dengan orang yang memilih menjadi kaya dan menolak kemiskinan. Itu juga bentuk pemilihan. Menjadi kaya berarti menolak kemiskinan. Penolakan adalah hambatan. Penolakan menciptakan tekanan, dan tekanan menghambat aliran. 

Inilah yang membuat hidup terasa tidak selaras walaupun Anda merasa sudah pasrah. Karena memilih menjadi kaya atau memilih menjadi miskin, keduanya sama-sama bentuk perpecahan. Keduanya masih masuk dalam khayalan dan pemisahan.

Menolak kekayaan sama buruknya dengan menolak kemiskinan. Orang yang benar-benar pasrah tidak memilih dan tidak menolak. Dia diam.

Lalu apakah orang yang tidak memilih akan menjadi miskin? Tidak. Justru dia menjadi orang terpilih. Orang terpilih bukan karena dia memilih, tetapi karena dia dipilih.

$eperti dalam pemilihan, Anda tidak memilih diri Anda menjadi pejabat, tetapi Anda dipilih. Orang yang dipilih hidupnya tercukupi, hidupnya mulia, hidupnya terjaga. 

Seperti para Rasul dan utusan, mereka adalah orang-orang terpilih. Orang terpilih tidak mungkin kekurangan. Tidak mungkin disia-siakan. 

Tetapi ketika Anda memilih menjadi miskin dengan alasan ingin menjadi suci, lalu menikmati penderitaan dengan alasan itu adalah kebenaran, maka Anda masuk ke dalam khayali.

Itulah ilusi kesucian dan Anda terjebak di dalamnya.