Hb. Luthfi : Ilmu Thoriqot dan Khodam






Tanya : Assalamu'alaikum Wr Wb Apakah yang dimaksud ilmu thoriqot?
Apakah ilmu khadam bisa dikategorikan ilmu tasawuf?
Jawab : Wa'alaikumussalam Wr Wb
Ilmu thoriqot sangat luas. Thoriqot pun banyak sekali, Qodoriyah, Naksabandiyah, Khalidiyah, Satariyah, Sadziliyah, Alawiyah, dan lain-lain. Itulah thoriqot yang diakui atau dikenal dengan thoriqot mu'tabaroh. Karena itu pelajarilah dahulu sejauh mana ilmu thoriqot. Sehingga kita masuk suatu thoriqoh bukan sekedar karena iming-iming fadhilahnya. Namun, yang pertama dan paling penting, bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah.Yang kedua, bagaimana kita selalu dekat disisi Allah SWT dan disisi Baginda Nabi Muhammad SAW. Silahkan saja memilih, yang jelas thoriqoh punya sanad muasalnya sampai kepada Rasulullah SAW. Thoriqot itu hakikatnya bukan ilmu kesaktian, ilmu thoriqot juga bukan untuk mencari kekayaan, menjadi seorang Wali atau mendapatkan karomah atau lebih-lebih mempelajari ilmu thoriqot sekedar untuk memperoleh khadam. Guru-guru thoriqot, bila mendapatkan karomah, justru merasa malu kepada Allah SWT.
Dia mawas diri, apakah pantas menerima karomah dari Allah SWT. Semua malah menjadi ujian, fitnah dan beban karena ketermasyuran itu bukan menjadi tujuannya. Makna fitnah ini bukan dari luar, seperti memfitnah dirinya. Namun datangnya dari diri sendiri, karena akan dikhawatirkan akan timbul egoisme, keakuan, sombong serta yang sifatnya kurang terpuji.
Pada hakekatnya ilmu thoriqot adalah pengamalan dari bentuk ihsan. Mampukah kita bersujud kepada Allah SWT seolah-olah kita melihat-Nya. Namun sulit hal ini dilaksanakan bagi awam. Kalau tauhidnya tidak kuat, kata-kata "seolah-olah melihat-Nya" nanti menimbulkan efek mengada-ngada.
Inilah yang sangat dikhawatirkan para guru thoriqot kepada murid-murid yang baru belajar. Kalau tidak mampu merasa seolah-olah melihat-Nya. Maka kita merasa dilihat dan didengar oleh Yang Maha Kuasa. Ini dulu..., Mampukah kita setiap hari mengamalkan sesuatu yang seolah-olah kita merasa dilihat dan didengar oleh Allah. Bila sikap ini tumbuh disetiap hati masing-masing pengamal thoriqot, Insyaallah akan melahirkan sifat-sifat yang terpuji antara lain :
1. Tumbuh takut kepada Allah (khauf), yang tujuannya akan menambah ketakwaan kepada Allah SWT. Kita akan mawas hati, muhasabah, dan takut jika kita digolongkan sebagai orang yang merugi.
2. Akan menumbuhkan sifat raja', mengharap semata-mata kepada Allah, karena khauf tersebut.
3. Akan menumbuhkan kecintaan kepada Allah, dan kebenaran akan dipegang kuat. Dalam arti benar hatinya, benar matanya, benar telinganya, benar tutur katanya, dan benar perilakunya.
4. Akan menumbuhkan, diantaranya, al-haya' (malu) kepada Allah. Dan karena cinta kepada Allah dan Rasulullah, maka kita akan malu kepada Allah dan Rasul-Nya kalau berbuat yang bertentangan dengan perintah-Nya. Bagaimana kita tidak malu? kita sudah mendapatkan keutamaan dari Yang Maha Kuasa berupa nikmat keutamaan beriman dan ber-islam, melalui Baginda Nabi Muhammad SAW, sedang kenikmatan iman dan islam merupakan kenikmatan yang luar biasa dari Allah SWT. Maka, jika keutamaan tidak dipergunakan sebagaimana mestinya, akan tumbuh rasa malu kepada Allah dan Rasul-Nya.
5. Akan menumbuhkan sifat syukur kita kepada Allah terhadap segala nikmat yang diberikan kepada kita, seperti nikmat iman dan islam, bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, mana halal dan mana haram, akhlaq yang baik dan akhlaq yang buruk.
6. Sabar. Makna sabar akan menuntun kita agar terhindar dari bujukan hawa napsu, lebih-lebih godaan setan, yang selalu masuk kedalam hati kita. Pintu masuk setan terbuka apabila kita tidak bisa memelihara kesabaran, artinya kurang bisa menahan diri dalam memerangi hawa napsu.
7. Muhasabah, memperhitungkan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang menguntungkan atau merugikan diri kita masing-masing. Inti ilmu thoriqot adalah bagaimana dzikir yang kita baca itu dapat membersihkan hati kita dari sifat lupa kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena lupa, akan menimbulkan sifat takabur dan sebagainya.
Thoriqot disini untuk membentengi segala hal dari perbuatan buruk, secara lahiriyah dan bathiniyah, terutama masalah kemusyrikan kepada Allah SWT. Supaya kita tidak terpengaruh atau masuk kedalam golongan orang yang menyekutukan Allah. Dzikirnya Lailahaillallah Muhammad Rasulullah. Sehingga terukir hiasan itu didalam hati dan menjadi sirr (rahasia) dan cahaya yang
akan menangkis segala yang merusak iman dan islam kita.
Ilmu tasawuf adalah ilmu yang bisa digunakan manusia untuk membuat hati kita menjadi zuhud, yakni hati kita bersih dari hasrat kepada hal-hal yang duniawi. Namun bukan berarti kita kemudian tidak berurusan dengan keperluan duniawi sama sekali, menjadi orang yang eksklusif dan terus bersikap tertutup bahkan menjadi orang yang apatis terhadap dunia. Bukan itu, jangan salah paham!
Umat islam dituntut jadi muzakki (pembayar zakat), beribadah haji, dan lain-lain.
Kalau kita menjauhkan diri dari dunia, bagaimana kita mampu menjadi muzakki, melaksanakan haji dan lainnya? Marilah kita seperti ikan dilaut, meskipun asin airnya, ikannya tidak ikut asin.
Sedangkan masalah khodam tidak ada keterkaitannya dengan ilmu tasawuf. Sebab makna zuhud tidak ada keterpautan hati selain Allah dan Rasul-Nya. jadi, mana mungkin kita akan tertarik kepada khadam dan sebagainya? Tetapi kita tidak menolak adanya khodam. Karena khadam itu sendiri berasal dari malaikat, yang diciptakan oleh Allah SWT untuk menjaga isi Al-qur'an, sehingga sampai titik dan hurufnya pun tidak berubah. Walau demikian bukan berarti Al-qur'an perlu bantuan dijaga oleh malaikat, tetapi justru sebaliknya, para khadam itu mendapat kehormatan untuk menjaganya. Nah, barang siapa ahli membaca Al-qur'an, para khadam itu dengan seizin Allah akan melayani
orang tersebut. Karena ikut menjaganya dalam bacaan. Khadam itu menghormati orang yang membaca Al-qur'an. Jadi, kita berthoriqot dan menuntut ilmu tasawuf bukan untuk sekedar menundukkan khadam. Bukan! Para khadam itu mendekat kepada kita karena bacaan Al-qur'an yang kita amalkan, bukan karena perbuatan yang lain. Dalam hal ini karena kita ikut menjunjung tinggi kehormatan Al-qur'an, bukan karena sebab dari kita. Para Auliya tidak ada yang Ta'alluq (terpaut hatinya) kepada ilmu khadam. Saya menyarankan, thoriqot harus kita pegang, kita bersihkan hati kita dari hal-hal yang bersifat duniawi, tetapi kita tetap berurusan dengan dunia, sebatas kita mendapatkan bekal untuk beribadah.
Wassalam.

Sumber : Habib Luthfi bin Yahya - Alkisah
Rais 'am idarah 'aliyah jam'iyyah ahlith Thoriqoh Al Mu'tabarah
An-Nahdliyiyah