Dahulu, kenabian adalah lentera. Ia hadir di tengah gelapnya peradaban, memotong belantara takhayul, menata ulang moral manusia, dan menegakkan tauhid di atas puing-puing penyembahan berhala.
Kenabian itu cahaya. Dan cahaya itu sudah sempurna diturunkan. Final. Lengkap. Karena itu, tidak ada nabi baru.Tidak ada wahyu baru. Tidak ada sistem kenabian baru. Tapi… apakah artinya manusia berhenti bertumbuh? Tidak. Justru karena wahyu telah sempurna, kini tanggung jawabnya pindah ke kesadaran kita. Bukan lagi menunggu suara dari langit, tapi belajar membuka langit di dalam diri.
Kita tidak hidup di era mencari Nabi. Kita hidup di era menghidupkan kesadaran. Keilahian tidak pernah terkurung dalam simbol. Ia tidak terpenjara dalam struktur. Ia hadir ketika hati jujur, ketika akal berani berpikir, ketika jiwa tunduk tanpa pamer. Dan di sinilah banyak yang salah paham.
Agama tanpa kesadaran hanya menjadi rutinitas. Ritual tanpa kedalaman hanya menjadi gerakan kosong. Dan dogma tanpa perenungan hanya melahirkan fanatisme. Tuhan tidak pernah butuh makelar. Yang butuh makelar adalah manusia yang malas berpikir dan takut menyelam ke batinnya sendiri.
Padahal Al-Qur’an sendiri berkali-kali berkata : Afala tatafakkarun — tidakkah kamu berpikir? afala ta’qilun — tidakkah kamu menggunakan akal? Artinya apa? Akses itu langsung. Kesadaran itu personal. Pertanggungjawaban itu individual. Setiap napas adalah amanah. Setiap detak adalah kesempatan.
Spiritualitas bukan berarti keluar dari Agama. Spiritualitas adalah menghidupkan Agama di dalam diri. Bukan sibuk mencari perantara baru, tapi berhenti bergantung pada perantara yang membuat kita tidak pernah dewasa secara ruhani.
Ini bukan era pemberontakan terhadap wahyu. Ini era pembebasan dari kemalasan berpikir. Dan pembebasan itu dimulai dari satu hal sederhana yaitu berani jujur pada diri sendiri. Karena pada akhirnya, yang disebut “waras” bukan yang paling keras membela simbol, tapi yang paling dalam menyadari Hakikat.
Semoga kita tidak lagi sekedar menjadi pengikut, tapi menjadi manusia sadar. Tanpa sombong, tanpa fanatik dan tanpa kehilangan Tauhid. Hanya jiwa yang hening, yang tahu bahwa Tuhan selalu dekat—bahkan lebih dekat dari pikiran kita sendiri.
Salam Kesadaran !!!
