Secara geografis Slipi zaman dahulu, wilayahnya terdiri dari Kota bambu selatan, Jati pinggir gang Kiapang, Slipi petamburan, Slipi bludik, bundaran slipi, Slipi hankam, Slipi anggrek, Slipi lapangan Romsol sampai Taman anggrek dulu. Slipi masuk wilayah Kecamatan Slipi Petamburan yang sekarang menjadi Kecamatan Palmerah.
Asal-usul kampung Slipi sendiri dari Kata Salafi. Menurut Cing Kyai Haji Abd Fatah Syafi'ie S.pd, karena orang Betawi demen dengan kata-kata yang singkat, biar gak lama ngomongnya, akhirnya Salafi berubah Slipi. Banyak kata lain yang berubah contohnya kata dari Batavia menjadi Betawi, juga dari nasi wudhu menjadi nasi uduk.
Secara sederhana, salafi adalah golongan orang yang menganut manhaj salaf atau Ahlussunnah wal Jamaah. Prinsip yang dipegang oleh kaum salafi adalah sumber rujukannya memahami akidah dalam manhaj salaf yang terdiri dari Al-Qur'an, Hadis, dan Ijma salaful salih atau Ulama Salaf.
Oleh karena itu zaman dulu bagi yang Keturunan Arab yang tinggal di Slipi, penduduk wilayah lain menyebutnya daerah Orang Salafi. Kampung Slipi masyarakatnya juga Religius, Toleransi dan Aman. Diantara Tokoh Betawi yang lahir di slipi adalah Habib Ali bin Sahil bin Abdul Qodir, KH Muhammad Nur Syafei(Kong Guru Kecil), diteruskan KH Solihun, dan Kyai Ahmad Syafei. Kyai Haji Abd Fatah S.pd. Kata ane dan ente yang menjadi ciri khas ucapan orang Slipi menjadikan akhlak yang baik.
Begitu juga Sejarah istilah maen pukulan lahir sebagai bentuk perlawanan masyarakat Tanah Betawi terhadap penindasan yang dilakukan kolonial Belanda di masa penjajahan. Dan masyarakat Betawi menggunakan pencak silatnya/maen pukulan bukan untuk menyerang melainkan untuk membela diri. Sama seperti yang diajarkan oleh para guru maen pukulan zaman dulu, bahwa Orang Betawi selain harus memiliki keterampilan bela diri, juga harus menguasai ilmu agama agar keduanya seimbang.
Tanah Betawi khususnya Kampung Slipi mengartikan maen pukulan sebagai permainan yang melibatkan kontak fisik serangan membela diri dengan atau tanpa senjata. Oleh karena itu muncullah istilah pukulan karena memang lebih banyak menggunakan tangan. Rahasianya adalah lebih maen pukulan jarak pendek atau dekat dengan lawan, lebih mengutamakan kecepatan dan refleks. Meskipun begitu seiring perkembangan zaman, tendangan juga mendominasi namun hanya sebatas pusar ke bawah.
Penulis sejak usia 10 tahun sudah mulai mempelajari aliran maen pukulan Betawi yaitu aliran yang memang masih orisinil pada Zamannya. Guru - guru penulis yang terkenal pada zamannya diantaranya aliran Petojo dari Kong Sanusi Slipi, Gerak Rasa dari Bang pi'i Slipi, Cingkrik dari Cing Didi Kemanggisan, Pukulan Sabeni Tenabang dari Bang H Yunus Slipi kota bambu, dapat juga dari Kong Ceot Kemanggisan, Aliran Ki Ontong dari Cing Mamat Kemanggisan, pukulan Pancer dari Bang Supri Slipi (Alfatihah untuk Jasa beliau semua).
Masing-masing aliran para guru silat ini memiliki jurus yang berbeda. Penulis pada waktu tahun 1983, bersama para tokoh pesilat di undang Ketua IPSI Bpk Haji Edi Nalapraya, yang sering mengadakan pertemuan dan musyawarah dengan tokoh-tokoh pesilat Betawi di gelanggang Grogol Walikota Jakarta barat. Diantara para undangan Guru sepuh seperti kong Ceot dari Kemanggisan Ilir, turun menampilkan atraksi seni maen pukulannya di atas panggung.
Inti aliran maen pukulan Betawi didasarkan atas karakter dan bentuk maen pukulan yang berseni indah, yang bisa dibuat sebagai seni silat panggung yang akhirnya melahirkan Silat Palang Pintu, yang merupakan tradisi menarik dan indah menjadi bagian dari upacara pernikahan masyarakat Betawi. Palang pintu adalah Penggabungan seni beladiri dengan seni sastra pantun agama.
Salam santun-Salam budaya !!!
