Chakra Mahkota -- Puncak Makrifat


Apa itu Chakra Mahkota (Sahasrara)?

Chakra Mahkota adalah pusat energi ketujuh dalam sistem chakra. Chakra ini terletak di puncak kepala Kita, membentuk hubungan yang kuat dengan Diri Tertinggi.  

Sahasrara berarti "ribuan" dalam bahasa Sansekerta. Namanya berasal dari bunga teratai dengan seribu kelopak. Setiap kelopak mewakili aspek yang berbeda dari keberadaan kita, seperti emosi, pikiran, dan tindakan. Membuka kelopak secara menyeluruh menyebabkan keseimbangan universal antara tubuh, pikiran, dan jiwa. 

Ketika Chakra Sahasrara terbuka dan seimbang, Kita memiliki pandangan hidup yang lebih positif. Perubahan nyata dalam sikap akan terlihat dalam emosi seperti rasa Syukur, Kasih sayang dan penerimaan akan menjadi Jati Diri yang sebenarnya. 

Ciri Kebangkitan Spiritual berdampak positif baik secara emosional maupun fisik, sebagai berikut : 

A. Gejala Emosional 

-Kebangkitan spiritual.

-Kejernihan pikiran.

-Meningkatnya empati dan kasih sayang.

-Rasa tujuan yang lebih besar.

-Intuisi yang ditingkatkan.

-Mengurangi kecemasan dan stres.

B. Gejala Fisik 

Chakra Sahasrara yang tidak seimbang dapat menyebabkan kelenjar pineal menjadi lamban atau terlalu aktif. Hal ini dapat menyebabkan : 

-Migrain dan sakit kepala 

-Kesulitan dalam menentukan arah.

-Insomnia.

-Kelelahan.

Chakra ungu memandu kecerdasan mental dan Spiritual. Energi ini disuplay oleh enam chakra lain di dalam tubuh. Oleh karena itu, Anda perlu mempelajari cara menyeimbangkan enam chakra bawah untuk mengaktifkan chakra Sahasrara secara efektif. 

Cara Membuka Chakra Mahkota : 

Duduklah dalam posisi yang nyaman dengan punggung tegak dan kaki  bertumpu di lantai. Letakkan tangan Anda dalam posisi 'mudra' dengan menaruhnya di lutut dan menghadapkan telapak tangan ke langit. Tutup mata Anda rapat-rapat, tarik napas lewat -hidung dan hembuskan napas lewat mulut. Teruslah bernapas perlahan dan teratur dan bayangkan kelopak Chakra Mahkota Anda terbentang.  

Bayangkan warna putih mengelilingi  ubun-ubun kepala Anda dan perlahan menyebar ke seluruh tubuh Anda. Buka mata Anda setelah 5 sampai 10 menit dan duduklah dengan tenang selama beberapa waktu.

Jika chakra mahkota berfungsi dengan baik,  akan mengetahui banyak rahasia alam, mudah menghilangkan pikiran negatif dan prasangka buruk tentang diri sendiri dan orang lain. Dan jika sudah terbuka lebar maka seseorang dapat melakukan perjalanan astral dengan lebih mudah. Chakra mahkota yang tidak bekerja secara aktif mendatangkan berbagai masalah. Orang-orang yang tidak terlihat Religius terkadang punya cara yang lebih indah untuk menyenangkan Tuhan nya dari pada orang-orang yang terlihat religius padahal hanya  penampilannya saja. -- Palson

Di dalam tubuh manusia ada 7 (tujuh) tempat yang disebut Latifah sebagai tempat bersarangnya hawa nafsu yang harus dibersihkan dengan Asma Allah atau bisa dikenal dengan sebutan Chakra. Artinya latifah adalah sebutan lain dari chakra. 

Sebenarnya semua Agama mengajarkan beberapa hal yang sama. Hanya karena beda penyebutan saja akan menjadi polemik yang disebabkan tidak memahami isinya atau maksud dari Ajarannya yang masih mengedepankan ego paling merasa benar,  itulah yang jadi masalahnya.

Konsep 7 chakra itu sudah ada semenjak sebelum agama lahir di muka bumi ini.

Jadi bisa dikatakan, latifah atau chakra adalah suatu konsep yang telah ada bahkan sebelum agama lahir dimuka bumi ini. Sampai akhirnya setiap agama menerima ajaran tersebut dengan istilah yang berbeda-beda.

Latifah sendiri menurut islam adalah tempat bersarangnya nafsu di tujuh lubang pada manusia. 7 lubang yang kebanyakan orang pahami adalah lubang yang terlihat secara fisik yaitu di anus, penis, pusar, telinga, mulut dan hidung. 

Padahal konsep 7 lubang yang diajarkan dalam Islam itu sama persis dengan 7 chakra pada manusia. Yang letaknya di chakra dasar, chakra sex, chakra pusar, chakra perut, chakra tenggorokan, chakra ajna dan chakra mahkota.

Ketika seseorang memahami suatu ajaran berdasarkan esensinya, maka tidak ada lagi perdebatan dan lebih mudah mengamalkan. Mungkin ada beberapa orang yang tahu latifah, ada juga yang tidak. Tapi ada berapa banyak orang yang mengamalkan atau mempraktekkannya ajaran ini? dalam hadist qudsi: “Aku jadikan pada tubuh anak Adam (manusia) itu qasrun (istana), di situ ada sadrun (dada), di dalam dada itu ada qalbu (tempat bolak balik ingatan), di dalamnya ada lagi fuad (jujur ingatannya), di dalamnya pula ada syaghaf (kerinduan), didalamnya lagi ada lubbun (merasa terlalu rindu), dan di dalam lubbun ada sirrun (mesra), sedangkan di dalam sirrun ada “Aku”. 

Pada dasarnya lathifah-lathifah tersebut berasal dari alam amri (perintah) Allah : “Kun fayakun”, yang artinya, “jadi maka jadilah” (QS : 36: 82) merupakan al-ruh yang bersifat immaterial. Semua yang berasal dari alam al-khalqi (alam ciptaan) bersifat material.

Itulah kenapa orang-orang yang sudah bersih 7 lubang atau 7 chakranya berputar secara selaras dan maksimal, seperti mempunyai kekuatan Tuhan. Apa yang dikatakan dan dibatinkan bisa langsung jadi kenyataan. Makanya orang-orang yang telah terbuka chakranya atau latifahnya, lebih cepat mengalami perubahan hidup dan lebih harmonis hidupnya. 

"Kendati semua tempat suci Kau datangi jika belum masuk kedalam diri dan berkomunikasi dengan Sang Jiwa, maka perjalanan ke tempat suci akan sia-sia".

Andaikan, mandi di tujuh sungai suci dan berharap suci, ilmu pengetahuan, tanpa mengembangkan Logika, tanpa BERKESADARAN, tanpa KEBIJAKSANAAN maka semua itu tiada guna. Walau seluruh tubuh di rajah dengan aksara-aksara/Ayat-ayat suci, jika "Hati" &  "Pikiran" tidak di latih maka luka batin, penderitaan, akan selalu datang silih berganti,.

Manusia adalah makhluk Spiritual, jadi tak perlu pencarian ke gunung, ke dasar Laut, ke hutan, ke goa, yang dibutuhkan adalah π™ˆπ™–π™¨π™ͺ𝙠 π™ π™šπ™™π™–π™‘π™–π™’ π˜Ώπ™„π™π™„, lalu belajar dari pengalaman pribadi dan bergaul dengan para Guru yang tercerahkan, berteman dengan para Praktisi kehidupan, itu akan membuat semakin bertumbuh.

Sebab Tuhan sudah menaruh Kuasa Luar biasa pada Roh manusia yang  bersemayam dalam diri. 

Belajar komunikasi dengan Sang Diri (Roh) adalah pelajaran pembebasan, siapa diri anda, diri kita, mau kemana, kenapa dilahirkan, apa tujuan hidup, pertanyaan - pertanyaan seperti ini akan membangkitkan Kekuatan Spiritual/Rohani dalam diri anda. 

Sang Diri tidak mengajarkan tentang kesaktian atau perasaan paling benar, merasa paling tahu, merasa paling suci, merasa paling bisa, merasa paling sulit, merasa dan merasa sehingga timbul kesombongan Batin. Tetapi  MENGARAHKAN tentang bagaimana

Kondisi-kondisi seperti itu bisa  dilenyapkan dengan Kesadaran Sejati melalui meditasi/ bertafakur/berdzikir nafas. 

Karena belajar meditasi bukanlah untuk mencari kesaktian, bisa terawang atau yang lainnya sehingga membuat  kesombongan Batin dalam diri. 

Tetapi kita akan sampai juga kesana apabila belajar meditasi dengan Hati yang bersih sehingga pikiran, jiwa dan tubuh kita seimbang maka timbullah Kesadaran.

Pada Hakekat nya :  belajar/berlatih meditasi adalah untuk membersihkan Batin dan chakra-chakra yang kotor supaya semakin bersinar seperti matahari dan berguna mengakhiri penderitaan (sakit fisik, sakit bathin, sakit pikiran). 

Karena hidup itu seperti menyapu lantai setelah disapu ia kotor lagi. Demikian juga dengan kehidupan. Biarpun kedamaian terus disebar tapi kekerasan datang lagi dan lagi. Kendati demikian tetaplah terus menyebarkan kedamaian. 

Untuk melewati perjalanan jiwa tidaklah cukup sekedar pengabdian saja. Tetapi juga banyak rintangan yang harus dihadapi dengan hinaan, kekecewaan, fitnahan,  penghianatan bahkan penderitaan. Maka janganlah berbangga sebelum teruji Jiwa dengan sabar, tegar, niat dan tekad yang kuat. Sebagaimana sebuah bangunan rumah tanpa pondasi yang kokoh lalu apa yang akan terjadi? Akan roboh. Begitu juga dengan Jiwa, akan mudah berputus asa.

Sebagaimana keris akan menampakkan pamornya ketika direndam dalam cairan asam, Kekotoran batin juga perlu di bersihkan supaya nampak Diri Sejati. Semua akan mudah dilalui dengan jiwa yang selalu bersama dengan Yang Maha Jiwa.