Meditasi Jawa Serat Wedhatama


Kemandirian dalam mengatur kehidupan tanpa bantuan kitab-kitab agama atau nabi manapun yang disebut Manunggaling Kawulo Gusti .

Dalam Serat Wedhatama diajarkan 4 macam ibadah :

1.      Sembah Raga

2.      Ciptaan Ibadah

3.      Menyembah Jiwa

4.      Menyembah Rasa

Dari 4 tingkatan proses ini akan menuju Cahaya Ilahi

Dari dahulu, ajaran spiritualisme Jawa ini tidak mengenal ajaran yang penuh tabir yang menunjukkan hasil rekaan yang bisa dilihat dari cara menggunakan amalan dan mantra yang aneh-aneh. Spiritualisme Jawa tujuannya hanya ingin menemukan Cahaya Ilahi. 

Dan juga ajaran spiritualisme Jawa; dari dahulu tertib, teratur, runtut dan harmonis. Disini ditekankan bahwa Sembah Raga tidak lah cukup untuk dapat mencapai Cahaya Ilahi. Tetapi harus ditingkatkan sampai mencapai Sembah Roso. Didalam Serat Wedhatama proses ini diuraikan semuanya

Mengenai Cahaya Ilahi; hal ini tidak dapat dicari dan diciptakan. Karena dalam spiritualisme Jawa; di percaya bahwa Cahaya Ilahi adalah anugerah yang akan diberikan kepada semua orang (tanpa terkecuali) yang telah mencapai Sembah Roso.

'Manunggaling Kawulo Gusti' adalah pencapaian paling sempurna dari Ibadah Roso yang dianugerahkan Cahaya Ilahi (menyatu dengan Cahaya Ilahi). Dalam proses ini; Cahaya Ilahi tidak lagi dicari. Namun proses ini telah menyatu dengan manusia tanpa harus mencari lagi.

Pencapaian ini adalah pencapaian tertinggi dari manusia dalam pencarian Cahaya Ilahi. Hal ini yang disebut sebagai ‘Sangkan Paraning Dumadi’

Dalam Serat Wedhatama ada 4 macam meditasi:

1.      Meditasi sebagai Ritual

2.      Meditasi untuk Sang Pencipta

3.      Meditasi untuk Roh-diri

4.      Meditasi dengan Roso (merupakan gabungan dari ketiganya)

Ini adalah 4 tahap proses meditasi yang akan mengarah pada Cahaya Ilahi

Ajaran spiritualisme Jawa sejak awal tidak mengenal ajaran yang kabur yang menunjukkan hasil palsu yang terlihat dari penggunaan Mantra yang aneh dan praktek-praktek gaib lainnya. Tujuan spiritualisme Jawa hanya untuk menemukan Energi Ilahi Tuhan

Dan juga ajaran spiritualisme Jawa; sejak awal adalah: tertib, teratur, padu dan serasi. Ditekankan di sini bahwa Ibadah sebagai Ritual saja tidak cukup untuk mencapai Energi Ilahi. Namun harus ditingkatkan hingga mencapai Ibadah bersama Roso. 

Serat Wedhatama menjelaskan segalanya tentang proses ini.

'Manunggaling Kawulo Gusti' adalah pencapaian paling sempurna dari Meditasi Roso yang diberikan oleh Energi Ilahi (menyatu dengan Energi Ilahi). Dalam proses ini; Energi Ilahi tidak lagi dicari. Tetapi terintegrasi dengan orang tersebut tanpa perlu mencarinya lagi.

Pencapaian ini adalah tingkat tertinggi yang dapat dicapai manusia mana pun dalam pencarian Energi Ilahi. Ini disebut 'Sangkan Paraning Dumadi.

Menurut Spiritualisme Jawa; Harta, kemakmuran dan kemiskinan itu apa sebetulnya?

Didalam ajaran Jawa intinya adalah keselarasan jiwa dan raga. Tidak ada keharusan untuk menjadi Kaya atau Miskin. Semuanya harus disesuaikan dengan masing2 jiwa dan raganya.

Tidak ada larangan untuk menjadi sangat kaya tetapi diharapkan keselarasan dalam berkehidupan dengan lingkungannya Juga, tidak dianjurkan untuk menjadi sangat miskin diharapkan keselarasan dengan sewajarnya dalam berkehidupan

Kemakmuran tidak dimaksudkan sebagai kekayaan yang melimpah; tetapi memiliki penghasilan yang cukup untuk dirinya atau keluarganya

Intinya semuanya diharapkan seimbang dan selaras

Mengenai, Serat Wedhatama terdiri dari:

1.      Pangkur - Pemujaan tubuh

2.      Sinom - Penciptaan Penyembahan

3.      Pucung – Sembah Jiwa

4.      Gambuh – Menyembah Rasa

Bagaimana penerapannya dalam Meditasi Jawa?

Tentang Serat Wedhatama, yang terdiri dari:

1.      Pangkur - Meditasi Tubuh

2.      Sonoma – Meditasi Cipta

3.      Pucung - Meditasi Jiwa

4.      Gambuh - Perasaan Meditasi

Pelaksanaan meditasi tersebut di Jawa dapat dikategorikan dalam dua kelompok

Kelompok pertama: mengikuti semua 4 meditasi langkah demi langkah dan setiap langkah membutuhkan proses dan waktu

Kelompok kedua: mereka dapat melakukan semua proses (keempat meditasi) dalam satu waktu

Kedua kategori tersebut harus melalui proses yang tidak mudah dan waktu yang lama. Yang membedakan adalah pemahaman meditator terhadap proses yang dilaluinya.

Yang harus dipahami terlebih dahulu adalah: dalam Serat Wedhatama bagian ke 1  pada hakikatnya merupakan gambaran dasar kehidupan manusia di dunia nyata. Hal-hal yang diuraikan dalam Pangkur merupakan pedoman dasar bagi manusia dalam mempersiapkan diri menuju kesempurnaan.

Sembah Raga adalah penghormatan atau meditasi yang hanya dilakukan oleh tubuh kita. Tidak masalah, apa agama Anda dan meditasi ini paling sering dilakukan dan diajarkan kepada masyarakat umum yang ingin belajar meditasi untuk tujuan apapun. Meditasi Raga tidak bergantung pada ritual atau prosesi tertentu. Meditasi dapat dilakukan di mana saja dan oleh siapa saja

Padahal ini hanyalah Meditasi yang paling dasar; namun harus dipahami dengan benar agar bisa melanjutkan ke level berikutnya. Banyak orang menganggap Meditasi ini tidak berguna; namun sebenarnya Meditasi ini adalah awal dari pemahaman dan kemampuan untuk menuju ke tingkat yang lebih tinggi.

Yang ke 2 : Meditasi Sinom – Cipta. Bisakah Anda menjelaskan artinya?

Sinom dalam kehidupan digambarkan seperti anak yang menjelang dewasa (masa remaja) yang umumnya berada ditahap mencari Jati Diri, ingin berontak keluar dari aturan dll. 

Oleh karena itu, didalam Sinom dilakukan yang disebut Sembah Cipta.

Di dalam Sinom, di ajarkan mengenai cara untuk mengatur keinginan2 yang bergejolak dalam diri manusia. Sembah Cipta ini ditujukan agar manusia itu belajar memahami dirinya sendiri.

Disini diberi contoh nama2 besar di Jawa yang melakukan hal ini, seperti: Panembahan Senopati, Ratu Kidul dll. Disini di berikan gambaran bahwa kekayaan, kecantikan, kedudukan dan kewibawaan pun belum tentu bisa memberikan ketenangan batin.

Juga dijelaskan bahwa mempelajari ilmu2 yang datang dari luar belum tentu bisa memberikan ketenangan batin, juga.

Intinya adalah: Sembah Cipta ini adalah peningkatan diri dari Sembah Raga untuk bisa mengatur keinginan keduniawian manusia. Jadi, Sembah Cipta adalah meditasi yang lebih mendalam; dalam hal memahami diri sendiri.

Meditasi Ke 3 adalah Meditasi Pucung – Jiwa. Apa yang dimaksud dengan Meditasi Jiwa?

Pada Meditasi Jiwa ini, yang melaksanakan sudah mulai memahami Sembah Raga dan Sembah Cipta. Didalam Sembah Jiwa ini; pelaku meditasi belajar untuk mengenal Ruh diri sendiri. Karena didalam Meditasi Cipta di pelajari cara mengatur semua sifat keduniawian maka didalam Meditasi Jiwa ini pengenalan diri sudah lebih mendalam dan ketenangan jiwa sudah lebih bisa dikuasai.

Didalam Meditasi Jiwa ini, para pelaksana sudah terlihat di dalam kehidupan kesehariannya menjadi lebih sabar dan keinginan keduniawiannya sudah tidak menggebu-gebu lagi.

Jadi, peningkatan pemahaman ini dapat dilihat dari perilaku pelaksananya.

Dan, didalam meditasi Jiwa ini karena sudah lebih mengenal Ruh diri sendirinya; pelaksana sudah mulai belajar mengenal ROSO. Didalam Sembah Jiwa ini sudah mulai muncul kesadaran untuk menuju Sang Pencipta.

Bagaimana dengan meditasi ke 4 ?

(Meditasi Roso) Didalam Sembah Roso ini; pelaku dalam meditasinya sudah bisa memisahkan antara Roso dan Pangroso. Jadi didalam manembah benar2 Ruh sejatinya

Inilah yang disebut Manunggaling Kawulo Gusti dan Sangkan Paraning Dumadi

Inilah Meditasi Jawa yang sesungguhnya dan yang dituju oleh manusia.

Sejarah Serat Wedhatama

KGPAA MANGKUNEGARA IV DAN SERAT WEDHATAMA

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV lahir pada tanggal 3 Maret 1811 (Senin Pahing, 8 Sapar 1738 tahun Jawa Jumakir, Windu Sancaya) dengan nama kecil Raden Mas Sudira.

Semasa bertahta, MN IV mendirikan pabrik gula di Colomadu (sebelah barat laut kota Surakarta, telah ditutup) dan Tasikmadu, memprakarsai berdirinya Stasiun Kereta Api Solo Balapan sebagai bagian pembangunan jalur rel kereta api Solo – Semarang, kanalisasi kota, serta penataan ruang kota.

Pada masa pemerintahannya, pihak istana Mangkunegaran menulis kurang lebih 42 buku, di antaranya Serat Wedhatama, dan beberapa komposisi gamelan. 

Salah satu karya komposisinya yang terkenal adalah Ketawang Puspawarna, yang turut dikirim ke luar angkasa melalui Piringan Emas Voyager di dalam pesawat antariksa nirawak Voyager I tahun 1977.

Apa yang hilang dari pemahaman Serat Wedhatama? Yang kurang adalah pemahaman dasar tentang keyakinan KGPAA Mangkunegoro IV. Dia mengabdikan diri pada ajaran leluhur Jawa, titik.

Dia tidak mengharapkan kita untuk mengikutinya; ia hanya menyampaikan pemikiran dan pengalaman pribadinya. Hidup kita adalah pilihan kita sendiri untuk melakukan apa yang ingin di lakukan. Perbedaan utama antara keyakinannya dan keyakinan yang lain adalah tentang cara menemukan Tuhan. Dalam kepercayaan leluhur Jawa, pelajaran mendasar untuk menemukan Tuhan hanya dapat dilakukan melalui pemahaman mengenai tubuh, pikiran dan jiwa kita. Jadi, dia mencari kedalam diri sendiri melalui pemahaman tentang Meditasi Raga (Tubuh), Cipta (Pikiran), Jiwa (Ruh) dan akhirnya (jika Anda rajin) semoga Tuhan memberkati dengan Meditasi ROSO sebagai yang terakhir dan tertinggi. Banyak orang yang tidak memahami perkataannya, meski dibaca berkali-kali dan selalu memaksakan keyakinannya pada naskah ini. Dia menyebutkan ini dengan jelas di Sinom - ayat no. 24

Lamun sira paksa nulad,

Tuladhaning Kangjeng Nabi,

O, ngger kadohan panjangkah,

Wateke tan betah kaki,

Rehne ta sira Jawi,

Sathithik bae wus cukup,

Aywa guru aleman,

Nelad kas ngepleki pekih,

Lamun pangkuh pangangkah yekti karahmat.

Terjemahan bahasa Indonesia

Kalau kau ingin meniru,

karakter dari Nabi itu

Anakku, kau melangkah terlalu jauh,

budayanya berbeda,

karena kamu orang Jawa

dan kesederhanaan adalah hidup kita,

kelancangan bukan diri kita.

Mereka mendambakan meniru hidup kita,

tetapi, kalau kamu mengerti Jawa,

kamu pasti mengerti.

Kalau kau ingin meniru,

karakter dari Nabi itu

Anakku, kau melangkah terlalu jauh,

budayanya berbeda,

karena kamu orang Jawa

dan kesederhanaan adalah hidup kita

Dalam Serat Wedhatama ditekankan pentingnya memahami makna 'Bersatu dengan Tuhan'

Sebab, penjelasan detail tentang spiritualisme Jawa sejati yang masih bisa dibaca hingga saat ini dan mengupas secara lengkap makna hidup manusia -dari lahir hingga meninggal dunia- tertulis dalam Wedhatama; yang diciptakan oleh Mangkunegoro IV  (1809-1881)

Serat Wedhatama yang ditulis oleh Mangkunegoro IV sebenarnya karena kekecewaannya terhadap sikap keluarga dan anak kandungnya yang mengagungkan ajaran agama yang datang dari luar Jawa (rantau) dan merendahkan ajaran spiritualisme Jawa yang telah terbukti ketahanannya selama ribuan tahun.

Dalam Serat Wedhatama diajarkan hal-hal sebagai berikut:

1. Agama atau ageman bukan hanya tentang fisik; tetapi juga berupa makna yang harus dipahami dalam kehidupan

2. Ageman harus mampu membuat manusia berproses secara mandiri dan tidak tergantung pada petunjuk Kitab Suci manapun, atau Nabi dsb; yang bahasanya tidak diketahui atau dimengerti

3. Dalam Serat Wedhatama ditekankan pentingnya memahami makna 'Manunggaling Kawulo Gusti'

Banyak orang berpikir bahwa; kerendahan hati adalah kemiskinan, itu adalah konsep yang salah. 

Anda bisa menjadi sekaya yang Anda inginkan, tetapi Anda juga bisa menjalani hidup Anda sesederhana yang Anda inginkan. 

Jadilah kaya dan tetap rendah hati dalam hidup Anda.

Konsep Manunggaling Kawulo Gusti

Kantuk Yang Tak Berujung Lelap 

Konsep Manunggaling Kawulo-Gusti adalah sebuah konsep tentang apa yang oleh Serat Wedhatama diistilahkan sebagai “Roroning Atunggil” 

Konsep kemanunggalan dalam budaya Jawa bukanlah kemanunggalan di mana dua unsur melebur menjadi satu dan tak lagi dapat dibedakan. Kawula dan Gusti, meski tak dapat dipisahkan, tapi tetap dapat dibedakan. 

Seperti yang diperlambangkan oleh Wedhatama dengan Gula dan Manisnya.

Pada konsep Ketuhanan, istilah pamor tersebut dapat terjadi ketika segala hijab (warana) antara kawulo (suksma sejati) dan Gusti (suksma kawekas) tersingkap. 

Suasana itu tak ubahnya suasana 

Kantuk Yang Tak Berujung Lelap 

(Liyep Layaping Aluyup).

Liyep layaping aluyup terjadi ketika frekuensi otak berkisar di antara 7-13 Hz. 

Di antara pikiran sadar dan bawah sadar, yang membelah tetapi juga menyatukannya, terletak tingkat kesadaran ketiga: Supra Sadar. Keadaan ini dimulai pada garis pemisah yang halus antara tidur dan bangun. 

Jika Anda dapat menangkap pikiran Anda tepat pada saat Anda tertidur, atau pada saat yang sekilas sebelum kesadaran Anda naik ke kesadaran penuh, Anda mungkin menemukan bahwa Anda dapat dengan lembut tergelincir ke alam semi- Super Sadar, atau masuk ke dalam kesadaran Supra Sadar penuh.

Tan samar pamoring suksma

Sinuksmaya winahya ing asepi

Sinimpen Telenging Kalbu

Pambukaning warana

Tarlen saking liyep layaping aluyup

Pindha pesating sumpenan

Sinimpen ing rasa jati

—Serat Wedhatama

Tiada ragu berkumpulnya Suksma

Merasuk ke wadah keheningan

Dipendam dalam Pusat Hati

Tersingkapnya hijab 

Tiada lain seperti kantuk yang tak berujung lelap 

Tersusupi Rasa Sejati.

Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti

Tuhan Didalam Diri

Rahasia Suci yang disembunyikan dari bangsa-bangsa di masa lalu telah diungkapkan kepada Anda. Paulus adalah seorang Ibrani dan dia juga seorang Yahudi. Sangat penting untuk mengetahui siapa Paulus. Itu bukan orang yang sebenarnya. Itu adalah sekolah pemikiran gnostik, itu adalah kebijaksanaan esoteris. Siapa pun itu, mungkin sekelompok orang, mungkin sebuah sekolah, mungkin Apollo, karena itulah artinya. Ada empat kasta menurut freemason. Kita hidup di bawah sistem freemason apakah Anda suka atau tidak. Menurut sistem ini, ada empat kasta spiritual umat manusia. Ada orang Ibrani di atas, dan ada kasta di atasnya – disebut Kelios, yang disempurnakan, dan jumlahnya sangat, sangat sedikit. Lalu orang Yahudi, lalu orang Israel dan coba tebak siapa yang paling bawah? Orang Kristen. Mereka adalah prajurit infanteri. “Pergilah berperang. Kami akan membuat seragam seperti yang telah kami lakukan sebelumnya.” Ini bukan ras, ini kasta. Paulus adalah orang Ibrani dan Yahudi tetapi dia tidak menyadari pangkat Telios di atasnya tetapi dia jelas salah satu dari para freemason yang mengetahui Ilmu Rahasia. Dan rahasia Suci adalah Kristus di dalam, bukan Kristus di luar karena tidak pernah ada.”

Di bawah otak bagian dalam terdapat kolostrum, atau dikenal juga sebagai kolostrum suci karena mengeluarkan cairan. Sekresi dan rahasia adalah kata yang sama. Cairan tersebut melewati kelenjar pineal dan kelenjar pituitari dan berubah menjadi gaya listrik. Ada tiga saraf yang menuju ke tulang belakang, yaitu sumsum tulang belakang, pingala, dan ida. Pingala berasal dari kelenjar pineal dan bersifat elektrik serta jantan, dan menuju ke sumsum tulang belakang.

Di sisi lain adalah kelenjar pituitari, yang feminin dan merupakan “Maria”… “Joseph dan Maria, madu dan susu karena mereka masing-masing mengeluarkan madu dan susu. Dia mengirimkan energi magnetik. Cairan tersebut mengalir hingga ke chakra sakral, chakra bawah kedua, di bawah ulu hati. Sakral adalah kata rahasia dan rahasianya ada di atas di surga, di otak besar, kolostrum suci, atau dengan kata lain, Kolostrum Santa dan Anda harus turun hingga ke cerobong asap untuk membawa hadiah ke tempat suci tempat pleksus suci terhubung ke lima tulang sakral dari 33 ruas tulang belakang.

Ada 5 bagian tulang belakang. Bagian paling bawah kedua adalah 5 tulang belakang yang menyatu yang disebut “tulang belakang sakrum”, jadi ini adalah “Rahasia Suci”. Setiap 29 setengah hari, bulan akan berada di tanda matahari Anda saat Anda lahir. Saat bulan ada di sana, dalam cairan itu ada benih yang lahir dan lahir di Ulu Hati, Telenging Ati, atau di sebut sebagai: Solar Plexus. 

Jadi setiap bulan, saat bulan berada di tanda matahari Anda, “benih” itu ditempatkan di Betlehem. Betlehem adalah ulu hati. 

Itu adalah Virgo di cakra ke-3, ulu hati, daerah perut. Itulah Betlehem, rumah roti. Virgo adalah orang yang memegang selubung gandum di tangannya. Beth berarti “rumah” dan lehem berarti “roti”. Dia adalah ibu perawan dari anak itu, benih yang lahir di ulu hati setiap bulan. Jika kita memakan buahnya, minum alkohol atau berhubungan seks selama masa menstruasi, benih itu akan terbuang sia-sia, hilang selamanya. Pria yang sedang orgasme baru saja menyia-nyiakan benih itu dan ia telah merusak sekresi Kristus yang berasal dari Sinterklas, kolostrum, yang dibedakan oleh kedua orang tua anak itu, Yusuf dan Maria yang sedang menantikan kedatangan Kristus kembali. Jika Anda tidak menyia-nyiakan benih Kristus itu, Anda kemudian dapat mengubah benih itu saat ia terus bergerak ke atas dan kembali ke tempat asalnya.

Yang terjadi pada akhirnya adalah cairan ini sampai ke suatu tempat yang disebut pons dan medula oblongata, yang merupakan salah satu dari empat otak manusia. 

Kita memiliki otak besar, otak kecil, medula oblongata, dan ulu hati. 

Ketika sampai di sana, cairan ini melewati saraf pneumogastrik: pneumo yang berarti udara, atau paru-paru, dan gastrik adalah lambung. Jadi, ini adalah saraf yang mensuplai lambung dan paru-paru. Jika Anda melihatnya, saraf ini tampak seperti pohon. Kedua saraf tersebut berasal dari kelenjar pineal dan kelenjar pituitari di salah satu dari empat ruang yang disebut empat ventrikel di otak. Di antara kedua kelenjar tersebut terdapat talamus optikus.

Ketika minyak naik dan melewati saraf pneumogastrik, ia akan “disalib”. Yusuf dan Maria senang bahwa putra mereka disalibkan karena kecuali ia disalibkan, ia tidak dapat menyelamatkan dunia. Anda tidak dapat diselamatkan kecuali minyak itu menyentuh thalamus optikus, yang berbentuk seperti Telur.

Telur kosmik di mana Semar lahir. 

“Karena kami adalah Tanah Suci.”

Menemukan Sang Sumber

Di seluruh dunia selama saya bepergian, saya ditanyai pertanyaan ini, “Bagaimana cara saya memasuki mata rohani?” Nampaknya di atas segalanya kita mendambakan yang ilahi, karena kita tahu bahwa dalam mencari dan menemukan Tuhan atau Sumber atau Wujud di dalam diri kita, semua pertanyaan lain akan terjawab.

SATU – CAHAYA LUAR

Yang pertama adalah teknik yang diajarkan kepada saya di Tibet dan India, untuk mengembangkan pandangan yang mantap dan tidak berkedip. Yogananda sebenarnya memberi tahu kita: “Mata yang gelisah dan terus-menerus berkedip menandakan pikiran yang gelisah; mata tenang, tak berkedip, pikiran tenang. Tuhan tidak terlihat, tidak dapat dikenali oleh mata manusia biasa yang gelisah. Dengan memusatkan mata pada satu titik menyebabkan pikiran menjadi tenang dan terkonsentrasi.”

Menatap mata pada satu titik adalah latihan yoga klasik yang disebut meditasi Tratak. Ini terdiri dari menatap suatu objek, seringkali berupa lilin, yang ditempatkan sedikit lebih tinggi dari mata, pada jarak yang dekat. Perbaiki objek tersebut, jangan pernah berpaling, tetap mantap dengan pandangan Anda, tidak berkedip, bahkan jika mata mulai mengeluarkan air mata.

DUA – CAHAYA DALAM

Yogananda mengajarkan teknik lain untuk menstimulasi penglihatan mata spiritual kita, dengan menggunakan cahaya luar, yaitu lampu. Ia menjelaskan, ”Lihatlah cahaya dan pejamkan matamu. Lupakan kegelapan di sekitarmu dan perhatikan warna merah darah di kelopak matamu. Coba perhatikan baik-baik warna merah violet di hadapan Anda. Renungkan dan bayangkan bahwa hal itu menjadi semakin besar. Lihatlah disekelilingmu lautan cahaya ungu yang bersinar redup. Engkau adalah gelombang cahaya, riak kedamaian yang mengambang di permukaan laut.”

TIGA – VISUALISASI CAHAYA DALAM

Yogananda mengajarkan visualisasi sebagai teknik ampuh untuk mengembangkan konsentrasi batin. Bahkan mengarah pada siddhi (kekuatan) perwujudan :

“ Saya dapat terus memandangi ruangan ini dan berkonsentrasi padanya sampai, ketika saya memejamkan mata, saya masih dapat melihat ruangan itu persis seperti apa adanya. Ini adalah langkah pertama dalam konsentrasi mendalam, namun kebanyakan orang tidak memiliki kesabaran untuk mempraktikkannya. Saya memiliki kesabaran. Saat Anda terus berlatih visualisasi, Anda akan menemukan bahwa pikiran Anda menjadi terwujud. Hukum alam semesta akan mengaturnya sedemikian rupa sehingga apa pun yang Anda pikirkan akan terwujud dalam kenyataan, jika Anda memerintahkannya demikian. Misalkan saya sedang memikirkan sebuah apel, dan apel itu muncul di tangan saya. Itu akan menjadi demonstrasi kekuatan konsentrasi tertinggi. Cobalah. Bereksperimenlah dengannya. Praktekkan: perhatikan secara intens sebuah apel (atau benda apa pun di kamar Anda) selama beberapa waktu. Cetaklah gambaran itu dalam pikiran Anda. Kemudian tutup mata Anda, lihat titik di antara kedua alis. Di dalam hati, cobalah melihat objek itu sejelas mungkin.”

EMPAT – TEKNIK MATA SPIRITUAL

Berkonsentrasilah pada titik di antara kedua alis. Visualisasikan di sana sebuah terowongan cahaya keemasan. Masuki terowongan itu secara mental, dan rasakan diri Anda dikelilingi oleh rasa kebahagiaan dan kebebasan yang agung. Saat Anda bergerak melalui terowongan, rasakan diri Anda bermandikan cahaya sampai semua pikiran duniawi lenyap.

Setelah melayang melewati terowongan selama Anda mau, visualisasikan di hadapan Anda tirai cahaya biru ungu tua. Lewati tirai itu menuju terowongan lain dengan cahaya biru ungu yang dalam. Rasakan cahaya di sekeliling Anda. Perlahan, dinding terowongan menghilang dalam cahaya biru. Perluas kesadaran Anda menuju cahaya itu – menuju kebebasan dan kebahagiaan tanpa batas. Sekarang tidak ada terowongan. Yang ada hanyalah kebiruan dan kebahagiaan tak terbatas yang mencakup segalanya.

Terakhir, visualisasikan di hadapan Anda sebuah bintang cahaya berujung lima berwarna putih keperakan. Serahkan setiap pikiran, setiap perasaan ke dalam bintang kebahagiaan mutlak yang selalu ada ini.

Tegaskan secara mental: “Aku terbangun dalam Cahaya-Mu, aku terbangun dalam Cahaya-Mu, aku gembira, aku bebas, aku terjaga dalam Cahaya-Mu!”

LIMA – PENYERAPAN

Saat Anda bermeditasi, tatapan tajam pada mata spiritual memiliki momen yang tepat. Selama berlatih teknik apa pun, mata diarahkan ke mata spiritual, ya, tapi konsentrasi kita bukan pada titik itu, tapi pada teknik itu sendiri : saat berlatih Hong-Sau atau teknik mantra apa pun, kita berkonsentrasi pada napas dan teknik mana pun. mantra; selama Kriya Yoga kita berkonsentrasi pada arus batin di tulang belakang astral; selama teknik AUM kita fokus pada suara batin.

Waktu untuk berkonsentrasi penuh pada mata spiritual terjadi setelah teknik ini, pada bagian terakhir meditasi. Pada saat itu konsentrasikan pandangan dan perhatian Anda sepenuhnya pada “Christ Center,” ruang di antara alis – tempat ekstase dalam tubuh – dengan pengabdian, memandang ke arah Tuhan. Serahkan segalanya kepada Sumber. Jangan biarkan apa pun mengalihkan pandangan Anda dari mata rohani Anda, yang membawa Anda menuju ekstasi.

ENAM – PROSES

Berikut uraian Yogananda tentang mata spiritual

“Ketika seorang yogi berkonsentrasi cukup lama dengan mata setengah terbuka pada titik di antara alis, dan ketika pandangannya tanpa gerakan yang gelisah, ia akan dapat melihat cahaya tetap yang dikelilingi oleh cahaya lain, namun berkelap-kelip. Ia tidak boleh teralihkan oleh lingkaran cahaya mata rohani yang berkilauan ini, tetapi harus dengan tekun melihat ke tengah mata sampai ia merasakan pikirannya terserap seluruhnya ke dalamnya. Pada waktunya, dia akan melihat formasi sempurna dari mata spiritualnya: bola dunia berwarna biru opal gelap di dalam lingkaran api yang bergetar. Perlahan-lahan, dengan konsentrasi yang dalam, sebuah bintang putih yang sangat cemerlang kadang-kadang berkilauan di tengah-tengah bintang biru. Bintang adalah pintu gerbang yang harus dilalui kesadaran untuk mencapai kesatuan dengan Roh. Dibutuhkan waktu dan latihan yang tenang untuk memantapkan cahaya mata astral intuitif. Dibutuhkan latihan yang lebih dalam dan lama untuk melihat bintang. Dibutuhkan kesadaran yang lebih besar untuk mempertahankan persepsi bintang. Dan dibutuhkan penguasaan dalam meditasi untuk menggerakkan kesadaran, dengan penuh kemenangan, melewati gerbang cahaya berbintang. Setelah pemuja mampu melihat mata cahaya dan intuisi astralnya dengan mata tertutup atau terbuka, dan menjaganya tetap stabil tanpa batas waktu, pada akhirnya dia akan mencapai kekuatan untuk melihatnya menuju Keabadian; dan melalui gerbang berbintang dia akan berlayar menuju Mahahadir. Kemajuan melalui mata spiritual, yang dialami oleh para yogi tingkat lanjut, pertama-tama menyingkapkan persepsi menakjubkan tentang kesadaran super, wilayah pancaran cahaya tempat semua materi berevolusi. Sinar kosmik kreatif menyembunyikan seperti tabir kehadiran Kristus universal yang imanen atau Kesadaran Krishna, Tuhan yang hadir di mana-mana dalam ciptaan. Dengan konsentrasi dan meditasi yang lebih dalam, mata spiritual intuisi terbuka, dan melalui bintang kebijaksanaan sang yogi bersatu dengan Kemahahadiran Kristus-Krishna; dan dari sana, dalam ekstasi terdalam, dia mencapai Kesadaran Kosmik dari Roh.”

TUJUH - CINTA

Yogananda menceritakan kepada kami bahwa ketika pertama kali datang ke ashram Sri Yukteswar, dia akan menjaga pikiran dan pandangannya sebisa mungkin terfokus pada titik di antara kedua alis. 

“Jika Anda ingin mencapai kemajuan pesat dalam jalur spiritual,” dia sering memberi tahu kami, “jagalah agar pikiran Anda selalu terpusat pada hal itu.” 

Namun praktik ini harus diikuti dan didukung oleh pengabdian Hati. Karena konsentrasi pada mata spiritual, yang dikenal sebagai cakra ajna, mengembangkan kemauan yang besar, namun juga bisa membuat seseorang menjadi kejam jika tidak dipadukan dengan cinta hati. Ketika kekuatan kemauan digabungkan dengan cinta, konsekuensinya adalah kegembiraan yang besar.

Uninong Aning Unong

Jalaluddin Rumi berpendapat bahwa seluruh benda yang tergelar di jagat raya ini adalah manifestasi (tajalli) atau pengejawantahan Tuhan. Allah tidak mewujud, tapi meliputi seluruh wujud, begitu antara lain tertulis dalam "Fihi ma Fihi", salah satu kumpulan karya sastra sufistiknya.

Dengan maksud yang sama, orang Jawa mengatakan: "Gusti Allah ora maujud, nanging nglimputi sakehing wujud". Rumi juga mengatakan, Tuhan tidak dapat dibayangkan seperti apa. "Apa pun bayangan Anda tentang Tuhan, Ia berbeda dengan itu", begitu konsep awal kaum sufi.

Cangkriman (teka-teki) guyonan antara punakawan Petruk dengan cantrik (santri) Begawan Abiyasa. "Ana kanthi kang tansah kinanti-kanthi, nanging yen didumuk dudu" (Ada teman yang selalu (diajak) ikut serta, tetapi, jika diraba bukan).

"Apakah itu?" tanya cantrik setelah pusing berpikir tujuh keliling. Jawab Petruk entheng (ringan): "Bayangan (ayang-ayang). Memang betul, bayang-bayang bukanlah eksistensi yang sebenarnya apa yang membayang. Orang Jawa menyimpulkan: "Gusti Allah tan keno, kinoyo ngopo (Allah, tidak bisa direka-reka)". Tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Beyond intellect. Di luar jangkauan nalar.

Dalam istilah Ki Ageng Suryomentaram disebut sebagai “rasa; aku bukan kramadhangsa” atau “aku kang madeg pribadi” atau saya sebut sebagai Rahsa Sejati. Itulah paraning dumadi manusia, tak berada jauh di atas langit sana, tetapi ada dalam setiap pribadi kita masing-masing. Kesadaran ini dapat menjelaskan pula mengapa nenek moyang bangsa kita dulu jika berdoa tidak menengadah sambil menatap langit, melainkan cukup dengan telapak tangan memegang dada. 

Dalam maneges pun tersebutlah NIAT INGSUN, yang bermakna Ingsun ing sajroning aku, Aku ing sajroning Ingsun. 

Konsep KGPAA Mangkunegoro ke IV sebagai Roroning Atunggil, dwi tunggal, atau Manunggaling Kawula Gusti. 

Sebuah pelataran spiritual yang pernah pula digelar oleh Ki Ageng Kebo Kenongo (Ki Ageng Pengging) bersama Syeh Lemah Abang (Syekh Abdul Jalil) sebagai UNINONG ANING UNONG.

Mengurusi tiap tetes embun yang hadir sebelum kokok ayam jago.

Menyamar menjadi para peminta hanya untuk menyapaku.

Ada kalanya meniupkan angin untuk menggugurkan dedaunan di depan rumah.

Dan kadang, bisa aku temukan dalam senyuman mbok jamu di pasar itu.

Ajaran rahasia Ibnu Arabi huruf Alif

Dalam ajaran esoteris tingkat tinggi Syaikh Akbar Ibnu Arabi—yang kemudian dikembangkan lebih detail oleh para Mursyid utamanya seperti Syaikh Abdul Karim al-Jili dalam kitab Al-Insan al-Kamil—huruf Alif adalah rajanya para huruf. 

Alif bukan sekadar simbol linguistik, melainkan entitas spiritual tertinggi yang merepresentasikan Ahadiah (Keesaan Mutlak) dan Poros Semesta (Quthb).

Visualisasi huruf Alif tingkat tinggi ini tidak ditujukan untuk mendapatkan kesaktian atau melihat alam jin, melainkan untuk meluruskan poros kesadaran makhluk agar melebur total ke dalam Wujud Mutlak Tuhan (Fana fillah).

Berikut adalah tahapan praktis dan anatomi esoteris dari visualisasi rahasia huruf Alif :

Persiapan Makrokosmos (Adab Lahir & Batin).

Waktu : Dilakukan pada sepertiga malam terakhir (waktu keheningan kosmik paling murni).

Ruang : Berada di ruang gelap murni (Khalwah) yang terisolasi dari gangguan suara dan cahaya luar.

Postur : Duduk bersila dengan tulang punggung tegak lurus sempurna. 

Tulang punggung yang tegak ini adalah perwujudan fisik dari huruf Alif di alam materi.

Tahap 1 : Proyeksi Geometris Cahaya (Tajalli al-Huruf)

Fokus Mata Batin : Tutup mata fisik Anda dengan lembut.

Visualisasi : Bayangkan sebaris garis tegak lurus yang terbuat dari cahaya putih keperakan yang sangat terang di dalam kegelapan pikiran Anda. Garis ini berbentuk huruf Alif (ا).

Titik Jangkar : Letakkan ujung bawah Alif tersebut tepat di pusat jantung Anda (Qalb), dan biarkan ujung atasnya melesat lurus ke atas menembus ubun-ubun kepala (Crown Center) hingga tak terbatas.

Tahap 2 : Sinkronisasi Arus Napas (Dzikir al-Anfas). Saat Menarik Napas, Bayangkan cahaya huruf Alif tersebut membesar dan menarik seluruh energi spiritual dari Arsy (dimensi ketuhanan tertinggi) turun menembus ubun-ubun, lalu masuk mengunci ke dalam jantung Anda.

Saat Mengembuskan Napas : Bayangkan seluruh batasan fisik tubuh Anda, ego Anda, dan identitas nama Anda ikut melebur dan menguap keluar bersama hembusan napas, mengalir naik menyusuri jalur Alif tersebut menuju keheningan mutlak di atas kepala.

Tahap 3 : Transendensi Makna (Sirr al-Alif)

Pada tahap ini, visualisasi bentuk geometris Alif mulai ditinggalkan untuk memasuki esensinya. 

Ibnu Arabi menjelaskan karakteristik unik Alif : ia berdiri sendiri, tidak bergantung, tidak menyentuh, dan tidak mau disambung dengan huruf setelahnya.

Kontemplasi : Resapi sifat Alif tersebut ke dalam jiwa Anda. 

Rasakan keadaan di mana diri Anda terbebas dari ketergantungan pada makhluk, lepas dari ketakutan akan kemiskinan, dan terbebas dari jeratan opini manusia. Anda menjadi mandiri secara Spiritual (Ghani), hanya tegak berdiri karena Allah.

Puncak Tertinggi : Lenyapnya Bentuk (Fana al-Asma)

Ketika konsentrasi mencapai puncaknya, garis cahaya Alif dan jasad Anda yang sedang bermeditasi akan melebur menjadi satu kesatuan.

Anda tidak lagi "melihat" huruf Alif dari luar, melainkan Anda telah bertransformasi menjadi huruf Alif itu sendiri—sebuah poros vertikal cahaya murni yang menghubungkan bumi dan langit.

Di titik transendental ini, dualitas runtuh. Kesadaran "Aku sedang bermeditasi" lenyap total. 

Yang tersisa hanyalah Realitas Tunggal. 

Jiwa menyadari rahasia terbesar bahwa semua huruf dan semua ciptaan di alam semesta ini sebenarnya hanyalah modifikasi atau manifestasi dari satu huruf tunggal, yaitu Alif (Tuhan).

Ibnu Arabi mengajarkan bahwa Alif adalah Poros Keselarasan Ilahi (Quthb) (Al-Futuhat al-Makkiyya). Penyakit (fisik/mental) dan kemiskinan (materi/jiwa) dianggap sebagai kondisi di mana energi manusia tertekuk, bengkok, dan menyimpang dari poros aslinya. Dengan menegakkan kembali "Alif" di dalam kesadaran batin, tubuh dan urusan duniawi secara otomatis akan kembali ke cetak biru kesempurnaannya (Fushush al-Hikam).

Teknik Visualisasi untuk penyembuhan:

Duduk dengan tulang punggung tegak lurus (membentuk huruf Alif fisik). Bayangkan huruf Alif terbuat dari cahaya putih keperakan yang sangat sejuk dan bersih tegak lurus di dalam tubuh Anda. Ujung atasnya menembus ubun-ubun, ujung bawahnya tertanam di dasar tulang ekor.

Arus Napas : Saat menarik napas, bayangkan cahaya Alif menyerap energi kehidupan murni dari langit. Saat mengembuskan napas, arahkan pancaran cahaya Alif tersebut langsung ke organ tubuh Anda yang sakit atau terasa lemah.

Cahaya Alif yang tegak lurus bertindak seperti jarum akupunktur spiritual yang menghancurkan sumbatan energi, menetralkan sel-sel yang rusak, dan mengembalikan frekuensi tubuh ke kondisi sehat alami (Fitrah).

Huruf Alif untuk Kekayaan dan Kelimpahan (Al-Ghaniah)

Kemiskinan atau kesempitan rezeki dalam ajaran Wahdat al-Wujud berakar dari mentalitas bathin yang merasa terpisah dari Tuhan (Maha Kaya) dan merasa bergantung pada makhluk (Fushush al-Hikam). Alif digunakan untuk memotong ketergantungan tersebut dan menyambungkan jiwa langsung pada Sumber Rezeki [Al-Futuhat al-Makkiyya].

Karakteristik Esoteris Alif: Alif adalah satu-satunya huruf yang berdiri sendiri, kokoh, tidak menyentuh, dan tidak butuh bersandar pada huruf lain [Al-Futuhat al-Makkiyya].

Teknik Kesadaran : Masuk ke dalam keheningan batin, visualisasikan huruf Alif yang berwarna emas terang berkilauan tepat di dalam rongga jantung Anda (Qalb).

Resapi sifat Alif yang mandiri tersebut ke dalam jiwa Anda. 

Katakan pada batin Anda: "Aku adalah Alif, aku hanya bersandar pada Allah yang Maha Kaya (Al-Ghani), aku tidak bergantung pada belas kasihan manusia atau situasi ekonomi dunia."

Hancurkan rasa takut akan kekurangan. Bayangkan diri Anda sebagai sebuah cermin kosong, dan biarkan cahaya kelimpahan-Nya memantul utuh ke dalam hidup Anda melalui poros Alif emas tersebut.

Ketika bathin Anda berhenti merasa miskin dan berubah menjadi kokoh seperti Alif, frekuensi batin Anda akan berubah menjadi magnet spiritual yang kuat. 

Berdasarkan hukum resonansi ketuhanan, peluang materi, rezeki, dan kekayaan duniawi akan datang mengejar dan melayani Anda tanpa perlu Anda kejar dengan keserakahan ego.

Syaikh Akbar memperingatkan bahwa visualisasi intensitas cahaya Alif dapat memicu getaran energi yang sangat masif pada sistem saraf tubuh fisik. 

Jika pikiran murid masih dipenuhi keterikatan duniawi atau kebencian, energi ini dapat berbalik memicu disorientasi mental (kegilaan spiritual/Majdzub/Jadab). 

Latihan ini wajib diseimbangkan dengan sifat kasih sayang (Rahman) yang dipancarkan dari pusat jantung.






Sosrokartono Sang Alif Jawa

Raden Mas Panji Sosrokartono dalam setiap kesempatan senantiasa mengungkapkan bahwa ia tidak mempunyai ilmu, japa mantra atau dalil-dalil yang muluk-muluk. Namun kenyataannya ia mendapatkan karunia Illahi yang luar biasa untuk memberikan pertolongan kepada orang-orang yang memerlukan. Bukan saja orang yang sakit tetapi juga orang yang menderita karena berbagai persoalan hidup yang dialami. Di samping ia menggunakan srono air tirto busodo, ia juga menggunakan huruf Alif yang disulam dengan benang di atas selembar kain..

Alif menurut Sosrokartono berarti Tuhan + Aku = Ingsun.

Sosrokartono memiliki tiga jenis huruf Alif yaitu Alif warna hitam dengan dasar putih, Alif warna putih dengan dasar biru muda dan Alif warna putih dengan dasar merah.

Setiap malam setelah para tamu yang meminta pertolongan pulang. masuk kamarnya kemudian membakar kemenyan sehingga asapnya memenuhi kamar tempat ia melakukan ritual Sosrokartono Alif. Setelah itu ia beberapa saat melakukan semedi dan kemudian dengan menahan nafas Sosrokartono menyulam penyulaman Alif dengan benang berwarna putih, satu persatu hingga nafasnya habis. Ia bisa beberapa menit menahan nafas. 

Setelah gambar itu ia keluar dari kamar. Tengah malam berikutnya pekerjaan menyulan Alif itu dilakukan hingga selesai. Ketika menyulam huruf Alif itu, Sosrokartono juga berpuasa.

Sampai hari wafatnya Sosrokartono tanggal 8 Pebruari 1952 symbol Alif masih berfungsi sebagai wakil beliau. Bahkan ketika ia telah meninggalkan alam yang fana ini, anyaman Alif yang ditinggalkan di Dar Oes Salam masih berfungsi seperti sediakala untuk menolong mereka yang memerlukan pertolongan dengan pelayanan warga Monosoeko. Pada waktu rumah Dar Oes – Salam tidak dapat dipertahankan lagi tepat setelah memperingati 1000 hari setelah wafatnya Sosrokartono, maka atas persetujuan para ahli waris sulaman Alif dipindahkan ke Kudus dan digantungkan di dinding dalam gedung pasarean leluhur Hyang Sosrokartono, kanjeng Adipati Ario Tjondronegoro IV.

Ada pertanyaan menarik yang diajukan oleh dr Bruneck kepada Sosrokartono saat mengunjungi sahabatnya di wiswa Dar Oes – Salam mengapa ia melakukan pengobatan dengan air putih?. Jawaban yang diberikan oleh Sosrokartono mengejutkan dr Bruneck. Itu hendaknya ditanyakan kepada Tuhan, saya sendiri tidak tahu, ujar Sosrokartono.

Ada dua cara yang digunakan oleh Sosrokartono dalam menjadikan air menjadi Tirto Husodo. Pertama, dengan cara memandang beberapa detik dengan diam dan mendoakan air yang dibawa penderita lalu menyerahkan kembali kepada pasien. Cara kedua, jika beliau tidak berada dirumah maka Tirto Husodo dapat diperoleh dengan meletakkan botol berisi air dibawah huruf Alif.

Di samping menugaskan Parnadi dan Soepardi, Sosrokartono juga berpesan, yang melayani tamu untuk memohon air tirto busodo di depan Alif tidak boleh banyak- banyak, cukup dua orang. Botol atau tempat air lainnya harus ditempatkan di tengah-tengah daun meja kecil yang diletakkan tepat di bawah huruf Alif, pada posisi yang ditandai dengan titik silang dua garis.

Pemohon berdiri di depan gambar Alif dan diminta memanjatkan permohonannya dengan batin yang tulus, ikhlas dan sungguh-sungguh. Pembantu menyertai dengan berdiri diam di sampingnya. Setelah beberapa waktu, pemohon diperkenankan mengambil botolnya dengan diberi petunjuk bagaimana cara memakai dan menyimpan air tirto husodo.

Umumnya mereka diberitahu cara membawa dan menyimpan botol air tersebut dengan baik-baik, jangan sampai di langkahi oleh siapapun, termasuk hewan. Jadi diletakkan di atas. Di samping itu kalau sudah dapat harus terus pulang dan tidak boleh mampir-mampir di tengah jalan. Orang yang sakit atau yang susah tiap hari harus minum air paling sedikit tiga kali sehari. Kalau air di dalam botol tinggal sedikit harus diisi dengan air minum penuh kembali dengan ingat kepada Sosrokartono. Kalau kehabisan sama sekali boleh datang kembali untuk meminta Tirto Husodo ke Dar Oes-Salam. 

Sosrokartono mengajarkan ilmu kasunyatan, yang tak lain adalah ajaran tentang kekosongan (sunna, shunya).

Beliau menggambarkan sunyata ini sebagai Alif yang berkerebat dengan aksara huruf A bahasa Latin, asal muasal semua huruf.

Dengan kertas bertuliskan Alif ini, ia menyembuhkan banyak orang dengan memasukkannya ke dalam air lalu meminumkannya pada si sakit. Dari mana ia belajar metode seperti ini? Yang pasti, beliau dan adiknya Kartini mengenal dengan baik juru Tionghoa yang meminta mereka minum air kertas fu (talisman) dari Kelenteng Xuantian Shangdi Miao di Welahan. Konon ia juga bervegetarian sama dengan adiknya, Kartini. Sang pangeran dari Jawa ini juga tidak menikah rupanya dan hidup selibat.

Sosrokartono atau Kartono adalah warga negara Jawa dan Hindia Belanda pertama yang pergi ke Eropa untuk belajar dan meraih gelar sarjana. Ia dikenal sebagai "Pangeran Jawa yang Tampan" saat masih menjadi mahasiswa. Ia adalah seorang poliglot yang menguasai 26 bahasa, termasuk bahasa Basque.

Kartono tak pernah bicara soal agama apa pun, apalagi fiqih , meski ibunya adalah putri seorang guru Islam, atau kliniknya yang bernama Arab, Dar-El-Salam.

Dalam salah satu puisinya berjudul “ Digdaya Tanpa Aji ”, Kartono menyinggung Mazmur 3:4. Tetapi Engkau, ya HUU, perisaiku, kemuliaanku, yang mengangkat kepalaku dengan bebas. (Mazmur 3:4 dalam The Beloved and I).

Ia menegaskan bahwa seseorang hanya membutuhkan Tuhan sebagai perisai atau pelindung dadanya, bahwa Tuhan adalah satu-satunya kekuatan seseorang; dan bahwa Hikmat dari-Nya adalah satu-satunya kekuatan yang dapat menyelamatkan seseorang.

Kepatuhan pada Kehendak Tuhan merupakan tema yang paling terkenal dan kuat dari semua mistikus dan filsuf Jawa, termasuk Kartono. Ia melakukannya dengan mengatakan dalam salah satu ajarannya dalam “ Trimah mawi Pasrah ” (Terima lalu Berserah) :

“Ikhlas marang sing wis kelakon (Berserah pada apa yang telah terjadi)“ Trimah apa kang dilakoni (Terima apa yang sedang kau lakukan)

“Pasrah marang kang bakal ana (Berserah pada apa yang akan terjadi)”.

“Trimah mawi Pasrah” beliau tidak berarti suatu tindakan tanpa usaha, tetapi dalam ajarannya “ Aji Tekad ” (Kekuatan Kemauan yang Kuat) beliau menekankan pentingnya Niat seseorang dalam kemauannya yang kuat. Kemauan yang kuat ini seharusnya hanya untuk Tuhan. Seseorang seharusnya tidak takut pada apa pun karena Tuhan bersamanya. Ini akan seperti kiasan dari ayat lain dalam Mazmur 3 : Aku berbaring, lalu tidur, aku terbangun, karena Tuhan menopang aku dengan kuk-Nya. Aku tidak akan takut kepada sepuluh ribu orang yang mengepung aku lagi. (Mazmur 3:6-7 dalam The Beloved and I ).

Pandangan hidup Kartono juga sejajar dengan Taoisme. Ia tidak menganjurkan seseorang untuk berenang melawan arus, melainkan mengikuti arus, tetapi tidak tenggelam ke dalamnya dan tetap waspada.

Kartono dimakamkan di Kudus, Jawa Tengah, dan banyak orang menganggapnya sebagai orang suci. Banyak orang Jawa yang beragama Islam dan Kristen menghormati dan sering berziarah ke makamnya.

Ketua Adisti (Taslima) menganggapnya sebagai Guru yang dihormati dan orang suci Jawa yang paling inspiratif. Penemuannya tentang Tahun Yubelium Jawa pada tahun 2016 sebagai konvergensi kalender Henokh (dalam Kitab Henokh dan Kitab Yubelium, seperti yang digunakan oleh kaum Essenes dan komunitas Qumran) dengan Sengkalan Jawa untuk Kalender Taslima, terinspirasi oleh Kartono setelah beberapa kali bermimpi.

Sosrokartono menjelaskan ajarannya dalam “Doktrin Alif” sebagai berikut :  "Saya adalah hamba Tuhan dan saya mencintai keindahan hidup. Saya beribadah, yaitu saya memenuhi kewajiban pengabdian saya dan saya datang kepada sesama".



Sangkan Paraning Dumadi

Tuhan adalah Sangkan Paraning Dumadi”, asal usul dan tujuan akhir makhluk. Leluhur kita menyebutnya “tan kena kinaya ngapa”, tak dapat disepertikan, Acintya. Terhadap Tuhan, manusia hanya bisa memberikan sebutan sehubungan dengan peranan-Nya. Gusti Kang Murbeng Dumadi (Penentu nasib semua mahluk), Gusti Kang Murbeng Gesang (Penguasa kehidupan), Gusti Kang Maha Agung (Tuhan Yang Maha Besar) dll yang dikenal dengan “Ekam Sat Viprah Bahuda Vadanti” artinya “Tuhan itu satu tetapi para bijak menyebut-Nya dengan banyak nama”.

Perjalanan manusia menemukan Tuhannya digambarkan seperti perjalanan Bima, satria Pandawa mencari susuhing angin, sarangnya angin. Mencari TAPAKE KUNTUL NGLAYANG, jejaknya burung yang terbang, mencari galihing kangkung, intinya sayur kangkung yang kosong. Sebelum bertemu dengan Dewa Ruci, Bima dalam samudera kehidupan harus mengalahkan naga ganas keduniawian yang membelitnya dengan kuat dan erat. Kesungguhan hatinya, naga dapat dikalahkan dengan kuku pancanakha, dan Bima bertemu dengan Dewa Ruci, wujud kembarannya yang kecil. Dewa Ruci meminta Bima memasuki dirinya lewat telinganya. Pada awalnya Bima ragu-ragu, wujud dirinya besar sedang wujud Dewa Ruci kecil. Dewa Ruci mengatakan, besar mana antara diri Bima dengan samudera dan jagad raya, karena seluruh jagad raya ini bisa masuk ke dalam dirinya.

Leluhur kita menggambarkan wadag, raga ini sebagai warangka, sarung keris, sedang roh kita adalah curiga, kerisnya Manusia hidup di alam ini disebut curiga manjing warangka, keris di dalam sarungnya. Setelah manusia sadar atas ketidaksempurnaan duniawi ini dan dapat melepaskan dari belitan naga ganas duniawi dan yakin pada dirinya yang sejati, maka dia dapat memasuki dirinya yang sejati, seperti Bima yang memasuki Dewa Ruci. Di dalam diri Dewa Ruci ini ternyata sangat luas, alam pun berada pada dirinya. Leluhur kita menggambarkan peristiwa ini ibarat warangka manjing curiga, sarung keris masuk kedalam keris, kodok ngemuli lenge, katak menyelimuti liangnya, Manunggaling Kawula Gusti, bersatunya makhluk dengan Keberadaan. Selama ini manusia diibaratkan golek banyu apikulun warih (manusia mencari air sedang dirinya memikul air).

Rahayu🙏

Cara Menghidupkan Meditasi

Bagaimana cara Menjalani Meditasi—Bukan Sekedar Mengunjunginya

Ini bukan tentang menutup mata. Ini tentang membuka hidupmu. Meditasi bukanlah sebuah praktik. Ia adalah sebuah kehadiran. Sebuah cara hidup di mana kesadaran Anda tidak pernah meninggalkan altar. Setiap langkah  menjadi sakral. Setiap napas menjadi doa. Setiap momen menjadi persatuan. Inilah cara menjalani hidup dalam meditasi—secara menyeluruh, praktis, dan penuh kekuatan.

BANGUNLAH DI DALAM TUBUHMU

Kebanyakan orang hidup dalam pikiran mereka, menyeret tubuh mereka seperti barang bawaan. Bermeditasi berarti kembali ke kuil wujudmu. Rasakan napasmu. Rasakan berat badanmu.  Rasakan saat ini. Sebelum meraih  ponselmu, raihlah dirimu sendiri. Berlabuhlah. Inilah tempat duduk batinmu. Pulanglah ke sana.

JADILAH PENDENGAR

Meditasi dimulai ketika reaksi berakhir. Dunia akan berteriak. Pikiranmu akan berputar. Tetapi alih-alih membalas kebisingan dengan kebisingan --dengarkanlah. Berhentilah sejenak  sebelum berbicara. Rasakan sebelum bertindak. Tanyakan: “Di manakah  ketenangan di balik ini?” Tanggapilah dari sana.

PERLAMBAT GERAKANMU UNTUK MERASAKAN GERAKANMU

Kecepatan adalah musuh kesadaran. Berjalanlah seolah bumi itu suci. Makanlah seolah makanan itu hidup. Ketiklah seolah jari-jarimu sedang melukis doa. Ketika kau melambat, kau kembali ke sungai di bawah sungai.

JADIKAN SETIAP TUGAS SEBAGAI RITUAL

Mencuci piring? Hadir sepenuhnya. Mengemudi? Biarkan jalanan membaptis Anda dalam ritme. Menyikat gigi? Rasakan setiap gerakan seolah-olah Anda sedang merawat mulut Tuhan. Setiap tugas menjadi suci ketika Anda berhenti mencoba menyelesaikannya dan malah masuk ke dalamnya. Kehadiran mengkuduskan segalanya.

JANGAN MENGEJAR KEDAMAIAN— PERHATIKANLAH---AMATILAH

Anda tidak perlu keheningan untuk merasa tenang di dalam. Bahkan di tengah kekacauan, ada pusat yang tenang. Tujuannya bukanlah untuk melarikan diri dari kebisingan, tetapi untuk menemukan ketenangan di dalamnya. Pejamkan mata Anda jika perlu—tetapi tetaplah pejamkan mata Anda saat membukanya. Biarkan kesadaran berjalan di samping Anda.

AKHIRI PERANG DENGAN DIRIMU SENDIRI BERDAMAILAH

Penghakiman diri memecah kehadiran. Meditasi adalah keutuhan. Berkatilah pikiranmu. Berkatilah keinginanmu. Berkatilah luka-lukamu. Itu bukanlah penghalang—melainkan jalan itu sendiri. Biarkan kritik batin larut dalam cahaya kasih sayang. Biarkan kehadiran merangkul setiap bagian dirimu.

JADWALKAN WAKTU UNTUK TENANG— LALU BAWALAH ITU BERSAMAMU

Mulailah harimu dengan 10 menit kehadiran penuh. Bukan untuk sekedar  memenuhi kewajiban, tetapi untuk  mengingat siapa dirimu. Kemudian—bawalah itu. Kembalilah pada momen itu di antara panggilan telepon. Berhenti sejenak sebelum tugas berikutnya. Biarkan setiap tarikan napas menjadi loncengmu. 

MENYAKSIKAN TANPA CAMPUR TANGAN

Dalam meditasi, Anda melihat tanpa meraih. Mendengar tanpa memberi label. Merasakan tanpa melekat. Kesadaran yang sama ini dapat menyertai Anda. Perhatikan pikiran. Perhatikan suasana hati. Perhatikan orang lain. Tidak perlu memperbaiki atau melarikan diri. Cukup melihat. Melihat secara murni adalah pembebasan.

BERNAPASLAH SEOLAH TUHAN BERADA DI PARU-PARUMU

Napas adalah benang emas. Ketika hilang, kembalilah kepadanya. Satu tarikan napas dalam yang dirasakan sepenuhnya adalah seribu jam perjuangan yang sia-sia. Biarkan tarikan napasmu menjadi penerimaan. Biarkan hembusan napasmu menjadi penyerahan. Jalani dunia sebagai kuil yang bernapas. Dari Tuhan kembali Ke Tuhan.

BIARKAN HIDUP MEMBIMBINGMU

Meditasi terbesar bukanlah usaha, melainkan penyerahan diri. Biarkan angin membimbing kesadaranmu. Biarkan tawa anak kecil membawamu pulang. Biarkan patah hati membelahmu hingga hanya cinta yang tersisa. Biarkan hidup itu sendiri menjadi mantra. Kamu tidak terpisah. Kamu tidak sedang menunggu. Momen ini adalah tempat suci. Dan biarlah angin berhembus membelai wajahmu menyeka semua dukamu



Diri Sejati Melampaui Segalanya

Bagaimanapun, secerdas apapun, seindah apapun kata-kata berada di dalam ruang dan waktu. Dan kita ingin dapat melampaui nya karena Diri Sejati lebih daripada itu....sungguh!

Jadi dapatkah kita sekarang hidup tanpa harus memberi label kata pada segalanya, ini Islam, itu Kristen, Katolik, Hindu, Buddha. Dapatkah kita melihat segala sesuatu tanpa adanya keharusan memberikan nama, label, kategori....?

Seperti kepedihan, jika itu hadir dapatkah kita hanya merasakan dan mengamatinya tanpa harus memberikan judul 'ini kepedihan' baginya? Dan kita memberikan nama 'ini kepedihan' hanya karena itu adalah sesuatu yang asing dan berbeda, karena kita tidak mengenalnya sebelumnya maka kita memberikan nama itu.......  

Atau seperti kerinduan, dapatkah kita hanya menikmatinya saja selagi rasa itu masih ada? Karena cinta, kepedihan dan juga kerinduan, mereka datang dari alam yang berbeda, yang tidak kita kenal selama ini, dan jika kita dapat hanya merasakannya serta membiarkan mereka hadir, maka kita akan mengetahui bahwa mereka sesungguhnya adalah para pembawa pesan untuk membuat kita dapat menjadi Terjaga...

Dengarkan Suara Jangkrik

Dalam Buku Kedua, Canto Empat Belas dari Savitri, Aswapati dituntun ke alam jiwa-dunia atau alam psikis “oleh sebuah suara misterius” Suara seruling, jangkrik, guntur, dan laut. Suara lonceng gelang kaki dan lebah.

Dalam Catatan Yoga, beberapa bunyi ini dirujuk di mana Sri Aurobindo berbicara tentang pengembangan kemampuan pendengaran halus, śravana atau sūkshma śabdadrishti , yang merupakan bagian dari kemampuan vishayadrishti atau persepsi indra halus yang lebih umum. Pada awal Agustus 1919, ia menulis dalam buku hariannya:

Sravana datang dengan kekuatan atau kegigihan hanya dalam suara simbolik lama, jangkrik, detak, lonceng, guntur, dll....

Sebuah celah terang muncul jauh di Ruang Pikiran yang mengarah ke kedalaman Tuhan. Celah itu memanggilnya dengan ekstase Cahaya yang bergetar dan Aswapathy memasuki lorong seperti terowongan. Ia dituntun oleh suara misterius yang merupakan gabungan dari banyak suara, seperti seruan seruling, nada jangkrik, lonceng gelang kaki, denting kafilah, gong kuil, nyanyian lebah, gelombang laut.

Suara-suara halus yang menunjukkan kemajuan dalam Yoga

Ketika Yoga memasuki kondisi trans yang lebih dalam, panas Kundalini mulai mengalir melalui tubuh, tubuh halus diaktifkan dan otak mengalami keheningan alami yang bergema. Sang Yogin mengalami rasa kemurnian, peremajaan, dan kewaspadaan di dalam. Pada titik ini, seseorang mungkin mendengar suara-suara halus di telinga, mencium bau dupa yang terbakar atau wewangian bunga (yang berasal dari non-duniawi) dan memperoleh penglihatan ke dunia gaib. Suara-suara yang didengar sang Yogin cenderung bervariasi tergantung pada bidang kesadaran batin yang sedang dijalani seseorang.

Anda harus memfokuskan kesadaran atau Arus batin Anda di tengah alis — titik pertemuan saluran Ida dan Pingla — yang dikenal sebagai gerbang kesepuluh, Sushumna, Cakra Ajna atau mata ketiga. Praktisi akan mencapai satu titik melalui praktik ini. Dengan kata lain, tanda alam cahaya (bindu) yang paling halus dan paling cemerlang akan muncul. Dengan tanda cemerlang itu, Suara batin juga akan terwujud.

Pertama-tama Suara itu berasal dari bindu atau Cakra Ajna (mata ketiga). Seorang praktisi yang dapat menarik pikirannya dari sembilan gerbang tubuh dan berkonsentrasi di gerbang kesepuluh, hanya dia yang mampu mendengar Suara halus itu.

Tubuh ini adalah tempat suci yang suci (Ka'bah, tempat tersuci dalam Islam) yang diciptakan oleh Sang Ilahi, dan di dalamnya terdapat lengkungan (alam semesta makrokosmos yang lebih tinggi yang dimulai dari gerbang kesepuluh). Itu adalah tempat suci di dalam, di mana Suara Ilahi bergema. Wahai praktisi, dengarkanlah dengan konsentrasi penuh; Suara yang berasal dari Sang Ilahi terus-menerus bergema dan memanggil Anda.

Pesan spiritual yang dibawa oleh suara jangkrik sering kali berhubungan dengan kelimpahan, keberuntungan dan transformasi pribadi .

Sepanjang sejarah, kehadiran jangkrik telah dirayakan sebagai tanda keberuntungan dan pertanda positif . Dalam banyak budaya, terutama di Asia, mendengar jangkrik di malam hari memiliki makna spiritual yang mendalam. Makhluk kecil ini diyakini dapat menarik kekayaan dan kemakmuran.

Hubungan antara jangkrik dan kelimpahan berakar dalam kearifan tradisional. Pola kicauan mereka yang terus-menerus dianggap menciptakan getaran yang selaras dengan frekuensi kemakmuran dan kesuksesan.

Simbol Kelimpahan dan Keberuntungan

Kaitan antara jangkrik dan keberuntungan sudah terjalin erat di banyak budaya. Kehadiran mereka, terutama saat terdengar di malam hari, sering dianggap sebagai tanda kuat akan datangnya kelimpahan dan kemakmuran. Kearifan kuno mengajarkan bahwa kehadiran jangkrik dapat menarik energi positif dan berkah materi ke dalam hidup Anda.

Pertimbangkan untuk membuat ruang khusus di rumah Anda tempat Anda dapat mendengarkan suara jangkrik dan menetapkan niat untuk kekayaan dan kesuksesan. Banyak praktisi seni spiritual percaya bahwa menyelaraskan praktik manifestasi Anda dengan ritme alami, seperti kicauan jangkrik, dapat meningkatkan efektivitasnya dan memberikan hasil yang lebih cepat.

Jadi mulailah meditasi. Dengarkan " Suara Jangkrik "