The Way of Sufi

"Menjadi seorang Sufi berarti melepaskan diri dari ide-ide yang sudah mapan dan prasangka; dan tidak mencoba menghindari apa yang menjadi takdirmu."

Kaum Sufi tidak memiliki keyakinan atau ketidakpercayaan yang pasti. Cahaya Ilahi adalah satu-satunya penopang jiwa mereka, dan melalui cahaya ini mereka melihat jalan mereka dengan jelas, dan apa yang mereka lihat dalam cahaya ini mereka percayai, dan apa yang tidak mereka lihat tidak mereka percayai secara membabi buta. Namun mereka tidak mencampuri keyakinan atau ketidakpercayaan orang lain, dengan berpikir bahwa mungkin sebagian besar cahaya telah menyalakan hatinya, sehingga ia melihat dan percaya bahwa kaum Sufi tidak dapat melihat atau percaya. Atau, mungkin sebagian kecil cahaya telah membuat penglihatannya redup dan ia tidak dapat melihat dan percaya sebagaimana kaum Sufi percaya. Oleh karena itu kaum Sufi menyerahkan keyakinan dan ketidakpercayaan kepada tingkat evolusi setiap jiwa individu. 

Pekerjaan Mursyid adalah menyalakan api Hati, dan menyalakan obor jiwa muridnya, dan membiarkan muridnya percaya dan tidak percaya sebagaimana ia memilihnya, sambil menempuh perjalanan melalui jalan evolusi. Namun pada akhirnya semua berpuncak pada satu keyakinan, Huma man am, yaitu, 'Aku adalah semua yang ada' dan semua keyakinan lainnya adalah persiapan untuk keyakinan akhir ini, yang disebut Haqq al-Iman dalam terminologi Sufi.

Jika ada yang bertanya apa itu Tasawuf, Agama macam apa itu, jawabannya adalah Tasawuf adalah Agama Hati, agama yang mengutamakan pencarian Tuhan di Hati  manusia.

Seorang Sufi adalah orang yang melakukan apa yang dilakukan orang lain – ketika diperlukan. Ia juga orang yang melakukan apa yang tidak dapat dilakukan orang lain – ketika hal itu diperintahkan.

Semua metode adalah metode, semua cara adalah cara. Dan jika Anda ingin mencapai tujuan akhir, Anda harus meninggalkan semua cara dan semua metode. Itulah satu-satunya cara untuk memasuki tujuan akhir. Sang pencinta harus melupakan semua tentang cinta, dan sang meditator harus melupakan semua tentang meditasi.

Ketika seseorang mulai melihat semua kebaikan sebagai kebaikan Tuhan, semua keindahan yang mengelilinginya sebagai keindahan ilahi, ia mulai menyembah Tuhan yang kasat mata, dan ketika hatinya terus-menerus mencintai dan mengagumi keindahan ilahi dalam semua yang dilihatnya, ia mulai melihat dalam semua yang kasat mata satu visi tunggal; semua menjadi baginya visi keindahan Tuhan. Kecintaannya pada keindahan meningkatkan kapasitasnya sedemikian rupa sehingga kebajikan-kebajikan besar seperti toleransi dan pengampunan muncul secara alami dari hatinya. Bahkan hal-hal yang kebanyakan orang pandang dengan hina, ia pandang dengan toleransi.

Persaudaraan manusia tidak perlu ia pelajari, karena ia tidak melihat manusia, ia hanya melihat Tuhan. Dan ketika visi ini berkembang, visi itu menjadi visi ilahi yang mengisi setiap momen dalam hidupnya. Di alam ia melihat Tuhan, dalam manusia ia melihat gambar-Nya, dan dalam seni dan puisi ia melihat tarian Tuhan. Ombak laut membawa pesan dari atas kepadanya, dan goyangan dahan-dahan pohon ditiup angin baginya tampak seperti doa. Baginya ada kontak terus-menerus dengan Tuhannya. Ia tidak mengenal was-was, atau rasa takut apa pun. Kelahiran dan kematian baginya hanyalah perubahan yang tidak berarti dalam hidup. 

Hidup baginya adalah gambar bergerak yang ia cintai dan kagumi, namun ia terbebas dari semua itu. Di situ ada kegembiraan, banyak berbagai macam keberkahan.


Pencerahan yang Sebenarnya

 

Permata Berharga

Pencerahan pertama adalah Penyatuan dengan Tuhan (Manunggaling Kawulo Gusti) "Aku tidak ada yang ada hanyalah Tuhan."

Pencerahan kedua Pencerahan yang sebenarnya adalah Tuhan sirna (Aku tidak ada dan Tuhan pun tidak ada). Dalam versi yang sering saya ceritakan Tuhan itu adalah : Tuan. Sedang Tuhan yang sebenarnya adalah "The Unknown" Ada banyak orang yang berkhotbah tentang mengulang nama Tuhan dan meditasi, berpura-pura menjadi ahli yang sangat maju. Mereka mengklaim sebagai Master, sehingga mereka dapat mengumpulkan banyak penonton dan memamerkan keterampilan mereka. Tetapi pertunjukan bakat seperti itu bukanlah tanda pencapaian spiritual. 

Pencapaian spiritual menghindari publisitas. Latihan spiritual harus dilakukan dalam KEHENINGAN, jauh dari pandangan umum. Nama dan wujud Tuhan dipuja sebagai "permata berharga". Permata berharga tidak dibawa sebagai barang dagangan ke pasar. Hanya sayuran yang dipamerkan untuk dilihat semua orang.

Fase Kebangkitan Spritual


Awal jiwa terpilih 

Tidak semua orang itu bangkit dalam Kesadaran Spritual nya ...apa lagi di zaman sekarang ini, dominan berpikir logika lebih diutamakan. Biasanya seseorang yang telah bangkit kesadaran spiritualnya itu mengalami ujian kehidupan yang luar biasa. Proses kebangkitan Spritual itu adalah mengalami kehancuran yang sehancur -  hancurnya entah itu Kesehatan, Kehancuran keluarga, Kehancuran usaha, dll

Berawal dari fase ujian kehidupan yang begitu mendalam membuat diri kita merenung & berpikir lebih dalam lagi bahkan sampai berserah diri kepada Gusti Allah. Seorang Spritual tentu mengalami fase tersebut hingga dititik terendah bahkan sampai dibilang jauh dalam kehidupan normal. Ujian gemblengan kehidupan tersebut merupakan fase menguatkan dan pertumbuhan mental sehingga diberikan ujian-ujian yang begitu luar biasa agar kita introspeksi diri, memahami diri, berserah diri sepenuhnya kepada Gusti Allah.

Bangkitnya Kesadaran Spiritual tentu berawal melalui berbagai proses perubahan diri dengan mencari jati diri, tujuan hidup, ketenangan diri, mencari tahu tentang siapa diri, untuk apa diri hidup di dunia. 

Dari mencari jati diri kemudian mulai dituntun oleh Alam Semesta mencari dan menemukan keilmuan spiritual dengan belajar dari Guru, Kitab, Alam semesta. Sedikit demi sedikit mempraktekkan seperti Meditasi, Zikir, Muraqabah, dan lain-lain yang akhirnya :

1. Mulai memahami dan merasakan kenikmatan dalam pengolahan bathin yang menimbulkan kepekaan Insting, felling dan intuisi meningkat.

2. Mulai memahami tentang Energi kekuatan yang ada didalam diri

3. Setelah memahami tentang energi didalam diri dan titik pembersihan hingga terbukanya chakra dari chakra dasar sampai chakra mahkota, baru kemudian masuk perjalanan spiritual yang sesungguhnya ke dimensi yang lebih tinggi yaitu pencerahan dan terbukanya tabir rahasia dibalik  rahasia....

Jiwa terpilih proses ujiannya di mulai tahun  2019  namun pengalaman dan proses Kebangkitan Spritual seseorang tentu berbeda-beda. 

Sebagai orang yang terpilih Kuncinya, adalah Kenali diri mu sendiri dan percaya kepada kekuatan diri mu karena Semesta tidak mungkin salah pilih. 

Anda pantas dan mampu menyelesaikan itu.....

Kebangkitan Spritual dan kebenaran pasti akan datang di Nusantara.., mereka  membawa sebuah kebenaran sesuai apa yang di inginkan para Nabi & Rosul, dari apa yang disampaikan oleh mereka semua  kepada jiwa-jiwa terpilih. Mendatang akan bermunculan Para Spritual.


Teknik pernapasan khusus

Rahasia napas untuk Mengendalikan Kehidupan Itu Sendiri

Untuk tujuan khusus memberi energi pada tubuh, Paramhansa Yogananda merekomendasikan "pernapasan ganda" yang kuat. Ini terdiri dari menghirup napas pendek melalui hidung, diikuti oleh napas panjang; kemudian menghembuskan napas pendek dan panjang melalui mulut dan hidung. Penelitian di University of California, Los Angeles, menunjukkan bahwa pernapasan ganda mengosongkan dan mengisi paru-paru lebih lengkap daripada pernapasan dalam biasa. Namun, untuk menenangkan pikiran saat meditasi , Yogananda merekomendasikan hitungan yang seimbang untuk ketiga fase pernapasan—menghirup, menahan, dan menghembuskan napas.

Yogananda juga mengatakan bahwa pikiran dipengaruhi oleh bagian hidung tempat napas dirasakan mengalir. Orang-orang yang berwatak kaku dan menghakimi cenderung bernapas dengan sempit melalui bagian tengah lubang hidung yang terjepit, seolah-olah ingin menghindari menghirup terlalu banyak alam semesta yang berantakan. Jutaan orang telah terbiasa dengan Pranayam Darth Vader yang berat dan penuh dengan kekuatan. Bernapas melalui mulut menarik energi ke bawah di tulang belakang dan menghilangkan sebagian pasokan oksigen ke otak. Yogananda mengatakan bahwa tempat yang paling bermanfaat untuk merasakan aliran napas adalah di lubang hidung bagian atas, tempat oksigen dapat masuk dengan mudah ke lobus frontal otak.

Ketika nafas berhenti

Bagaimana dengan tidak bernapas? Napas berhenti saat pikiran sangat tenang dalam meditasi mendalam. Teknik meditasi sederhana terdiri dari mengamati aliran napas. Latihan ini memfokuskan perhatian, yang menenangkan pikiran. Ketenangan mental memperlambat napas, yang selanjutnya menenangkan pikiran. Dengan demikian, terbentuklah lingkaran umpan balik yang menuntun meditator semakin dalam ke konsentrasi yang tenang dan mantap.

Pernapasan yang melambat membuat jantung bekerja lebih sedikit, yang karenanya memperlambat detaknya. Yogananda mengatakan bahwa cakra jantung adalah "saklar utama" yang mengendalikan aliran energi dari tulang belakang ke ekstremitas. Ketika jantung melambat, prana secara otomatis ditarik ke tulang belakang bagian dalam, dan tubuh memasuki keadaan mati suri di mana oksigen tidak lagi dibutuhkan, dan pernapasan berhenti.

Pintu gerbang menuju kesadaran kosmik

Beberapa orang yang kasusnya dilaporkan dalam buku populer Life After Life mengatakan bahwa ketika jantung mereka berhenti selama operasi, mereka mendapati diri mereka berlari melalui terowongan gelap menuju cahaya putih cemerlang yang memancarkan cinta dan kegembiraan murni. Swami Kriyananda mengatakan bahwa "terowongan" ini adalah tulang belakang bagian dalam, yang dapat dimasuki dalam meditasi mendalam, dan bahwa cahaya putih cemerlang adalah cahaya mata spiritual .

Yogananda menyebut mata spiritual, di titik antara kedua alis, sebagai "pintu gerbang menuju kesadaran kosmis." Dengan memfokuskan perhatian pada mata spiritual, kita mengalihkan kesadaran kita dari medula oblongata ke lobus frontal otak, pusat kesadaran yang lebih tinggi. Yogananda mengatakan bahwa ketika kita belajar melewati bintang berujung lima yang terlihat di mata spiritual dalam meditasi mendalam, kita mengalami kesadaran kosmis (samadhi).


Dialog tentang Tasawuf lanjutan

Manusia modern bisa terhubung dengan seluruh dunia tapi tidak dengan hatinya sendiri. Banyak yang terlihat bahagia padahal batinnya diam-diam lelah. Tasawuf bukanlah pelarian dari dunia. Tasawuf adalah jalan sunyi pulang menuju Hati yang hidup.

Murid : Guru, apa benar Tasawuf itu ajaran yang membuat manusia meninggalkan dunia?

Guru : Tidak...Justru manusia tanpa  Tasawuf sering kehilangan dirinya didalam dunia.

Murid : Aku masih belum mengerti..

Guru : Dengar baik-baik. Islam bukan hanya Syariat yang terlihat. Ada tubuhnya dan ada ruhnya. Banyak manusia hari ini sibuk menjaga kulit agama tapi lupa menghidupkan jantungnya.

Murid : Jantungnya?

Guru : Ya. Dan Tasawuf adalah usaha menghidupkan kembali jantung itu.

Murid : Lalu kenapa hatiku tetap kosong, padahal aku shalat?

Guru : Karena gerakanmu belum tentu menghadirkan rasa. Lidahmu mungkin menyebut nama Allah tapi hatimu masih dipenuhi dunia.

Martin Lings pernah menjelaskan manusia modern kehilangan pusat hidupnya. Mereka tahu banyak hal tapi tidak mengenal dirinya sendiri. Mereka mampu menaklukkan langit tapi kalah melawan nafsunya sendiri.

Murid : Jadi tasawuf itu melawan hawa nafsu?

Guru : Lebih dari itu. Tasawuf adalah perjalanan membebaskan jiwa dari segala sesuatu selain Allah. Karena penderitaan terbesar manusia bukan miskin. Bukan gagal tapi saat hatinya terputus dari Tuhan.

Murid : Mengapa sekarang banyak manusia merasa hampa?

Guru : Karena dunia modern mengajarkan manusia cara membeli segalanya kecuali ketenanga. Teknologi membuat manusia terkoneksi,, tapi batin mereka terasing. Mereka punya ribuan teman tapi tak  mengenal dirinya sendiri. Mereka tertawa di siang hari lalu diam dan menangis saat malam.

Murid : Apakah Tasawuf itu harus masuk Tharekat?

Guru : Tharekat hanyalah jalan tapi  Tasawuf yang sejati adalah ketika hatimu mulai hidup. Ketika kau mulai malu  berbuat dosa meskipun tak ada manusia yang melihat. Ketika kau mulai mencari Allah meskipun tetap mencari dunia.

Murid : Guru... kenapa kata-kata Tasawuf terasa sangat dalam?

Guru : Karena ia berbicara kepada bagian dirimu yang selama ini diam.

Martin Lings menjelaskan bahwa manusia punya dimensi lahir dan batin. Dan kebanyakan manusia modern mati di bagian batinnya. "Mereka hidup tapi ruhnya lapar". "Mereka bekerja tanpa henti namun tak tahu untuk apa mereka hidup". 

Murid : Lalu apa tujuan Tasawuf  sebenarnya?

Guru : Mengenal Allah bukan sekedar tahu bahwa Allah Ada tapi benar-benar merasakan kehadiran-Nya. Tasawuf adalah perjalanan dari kepala menuju Hati. Dari ilmu menuju cahaya. Dari ibadah yang kosong menjadi ibadah yang hidup

Murid : Apakah semua orang membutuhkan Tasawuf?

Guru : Selama manusia masih punya Hati, dia membutuhkannya.Karena tanpa dimensi ruhani, Agama bisa berubah  hanya menjadi rutinitas. Tubuh sujud tapi hati tetap liar. Lidah berzikir tapi jiwa tetap gelisah. 

Murid : Guru... kenapa buku Martin Lings terasa berbeda? 

Guru : Karena dia tidak menulis seperti orang yang hanya membaca kitab. "Dia menulis seperti seseorang...'"yang pernah merasakan kekeringan dunia modern" Lalu menemukan mata air di dalam tasawuf". Dia melihat bagaimana manusia modern perlahan kehilangan makna dan Tasawuf menjadi jalan untuk kembali. 

Murid : Jadi Tasawuf bukan tentang lari dari dunia?

Guru : Tidak.Tasawuf adalah ketika dunia tidak bisa lagi menguasai Hatimu. "Kau tetap bekerja...tetap hidup... tetap berjalan di bumi". Tapi hatimu tidak diperbudak dunia. 

Murid : Aku merasa selama ini hidupku jauh sekali dari diriku sendiri

Guru : Itulah awal perjalanan karena  banyak manusia baru mencari Tuhan setelah dunia gagal mengisi kekosongan didadanya. Manusia modern takut kehilangan uang, padahal yang paling lama hilang dari hidup mereka adalah Allah.




Dialog tentang Tasawuf


Benarkah Nabi tidak mengajarkan Tasawuf?Jika Nabi tidak pernah menyebut Tasawuf... lalu kenapa para ulama justru menjaganya selama ratusan tahun? 

Banyak orang mengira Tasawuf tidak diajarkan Nabi. Padahal... Nabi justru mengajarkan inti Tasawuf tanpa menyebut namanya. Malam itu angin berhembus pelan di halaman pesantren tua. Lampu temaram menggantung di serambi kayu. Seorang murid duduk gelisah di hadapan Gurunya yang dikenal teduh dan dalam pandangannya.

Murid : "Guru... bolehkah aku bertanya sesuatu yang mengganjal di hatiku?"

Guru : "Tanyakanlah. Hati yang bertanya adalah hati yang sedang mencari jalan pulang."

Murid : "Aku sering mendengar orang berkata tentang Tasawuf. Tapi aku juga mendengar orang lain berkata bahwa Nabi tidak pernah mengajarkan Tasawuf. Aku jadi bingung. Apakah kita memang harus bertasawuf?"

Guru itu tersenyum tipis. la menatap langit malam seakan membaca sesuatu yang tidak terlihat.

Guru : "Anakku... memang benar Nabi tidak pernah menyebut kata Tasawuf." Murid itu sedikit terkejut.

Murid : "Jadi... benar begitu, Guru?"

Guru : "Ya. Nabi tidak menyebut kata itu. Tetapi Nabi mengajarkan seluruh isi Tasawuf dalam hidupnya."

Murid terdiam. Angin malam berhembus membawa suara daun bergesekan seperti bisikan yang halus.

Murid : "Aku belum mengerti, Guru.."

Guru menatap muridnya dengan lembut.

Guru : "Coba kau ingat satu hadits yang sangat terkenal. Ketika Malaikat Jibril datang kepada Nabi dan bertanya tentang ihsan."

Guru berhenti sejenak.

Guru : "Jibril bertanya, 'Apa itu ihsan?' Lalu Nabi menjawab, 'Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.!"

Murid terdiam lama.

Guru : "Itulah tasawuf, anakku."

Murid : "Maksud Guru...?"

Guru : "Ketika seseorang membersihkan hatinya dari riya, dari sombong, dari dengki... itu Tasawuf!" "Ketika seseorang beribadah bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi karena cintanya kepada Allah... itu Tasawuf." “Ketika seseorang merasa Allah selalu melihatnya, bahkan saat ia sendirian... itu tasawuf."

Mata murid mulai berkaca-kaca.

Murid : "Jadi... Tasawuf bukan sesuatu yang baru?"

Guru menggeleng perlahan.

Guru : "Tidak. Tasawuf hanyalah nama yang diberikan ulama untuk menjelaskan perjalanan hati menuju Allah." "Pada zaman Nabi, orang tidak menyebutnya Tasawuf... karena para Sahabat sudah hidup dalam keadaan itu."

Guru menunjuk ke dada muridnya.

Guru : "Masalah manusia hari ini bukan kurang ibadah.." "Masalahnya adalah hati yang kering saat beribadah."

Murid menunduk.

Murid : "Guru... sekarang aku mulai mengerti."

Guru tersenyum.

Guru : "'Jika Engkau sholat tetapi hatimu hadir kepada Allah...kau sedang berjalan di jalan Tasawuf." “Jika kau berzikir hingga hatimu lembut... kau sedang berjalan di jalan Tasawuf." “Dan jika suatu hari kau merasakan Allah lebih dekat daripada napas mu sendiri...!'

Guru berhenti sejenak. Angin malam tiba-tiba terasa sangat hening.

Guru : "Di situlah engkau akan memahami bahwa Tasawuf bukan sekadar ilmu." "Melainkan perjalanan pulang... dari hati manusia menuju Tuhannya."

Murid : Apakah benar kalau belajar sendiri tanpa Guru, Gurunya adalah setan?

Guru : Ungkapan itu peringatan agar kita sadar. Ilmu Tasawuf tidak bisa hanya dipelajari dari buku atau medsos tanpa bimbingan Guru yang terpercaya. Membaca karya ulama atau mendengar ceramah memang penting, tapi tetap dibutuhkan pembimbing langsung yang bisa mengoreksi langkah dan membersihkan hati. Seorang Mursyid  tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik jiwa. Ia menjaga murid dari kesalahan tafsir dan jebakan hawa nafsu. Belajar tanpa Guru ibarat berjalan dihutan gelap tanpa peta, bisa sesat meski niatnya baik.

Bertasawuf, membuka Rasa dan Kesadaran diri... Siapapun yang merasakan pasti mengetahui dan Sadar diri. Maka kenapa banyak sekali ayat yang menjelaskan tentang keadaan mereka yang khusyuk saat beribadah dan tersungkur lalu sujud dan menangis. Karena mereka merasakan hadirnya Sang Maha Segalanya...







Dialog Sang AKU

Siapa yang sebenarnya hidup di dalam Dirimu?

“Kalau kamu masih merasa 'aku yang mengendalikan hidup ini' mungkin kamu belum benar-benar sadar siapa dirimu."  Di dalam dirimu bukan hanya satu suara, tapi ada perang antara yang ingin kembali kepada-Nya, dan yang ingin memiliki dunia. Dan kamu mungkin belum tahu siapa yang sedang menang.

Murid: "Guru... aku bingung, Kenapa di dalam diriku seperti ada dua suara yang selalu bertengkar?"

Guru : "Itu bukan dua suara,, Itu dua dunia yang sedang berebut dirimu."

Murid : "Dua dunia...?"

Guru: : "Yang satu... ingin kembali kepada Allah. Yang satu... ingin memiliki dunia."

Murid :: "Lalu... yang mana aku, Guru?"

Guru ::"Yang bertanya itu... bukan tubuhmu. Bukan pikiranmu., Itu adalah kesadaranmu... yang mulai bangun."

Murid :: "Kesadaran..?"

Guru : "Allah menciptakanmu bukan sekadar hidup,, Tapi untuk menyadari siapa yang menghidupkan mu."

Murid : "Lalu... kenapa aku diberi kehendak, kalau akhirnya harus kembali juga?"

Guru : "Karena tanpa kehendak... kau hanya boneka. Dan Allah tidak menciptakan boneka,, Dia menciptakan pencinta."

Murid : "Jadi.. semua pertentangan ini...?"

Guru : "Adalah medan ujian cinta."

Murid : "Cinta... kepada siapa?"

Guru : "Kepada dunia... atau kepada Dia."

Murid ::"Lalu... siapa sebenarnya aku ini, Guru?"

Guru : "Kau... bukan yang kau pikirkan selama ini.""Tubuhmu hanya pakaian. Pikiranmu hanya bayangan. Perasaanmu hanya gelombang."

Guru : "Yang sejati dalam dirimu,, adalah yang menyadari semua itu."

Murid : "Jadi.. aku ini kesadaran itu?"

Guru ::"Ya,, Tapi kesadaranmu sedang tertidur... dalam mimpi bernama 'aku'."

Murid :: '..Lalu bagaimana aku bangun?"

Guru : "Berhenti merasa bahwa kau adalah pelaku.." "...dan mulailah menyadari... bahwa selama ini... kau hanya disaksikan."

Murid : .Disaksikan oleh siapa?"

Guru :: "Yang sejak awal,, tidak pernah meninggalkanmu." "Yang bertengkar dalam dirimu... bukan kamu. Tapi pilihan... siapa yang ingin kamu Cintai".



Chakra Mahkota -- Puncak Makrifat


Apa itu Chakra Mahkota (Sahasrara)?

Chakra Mahkota adalah pusat energi ketujuh dalam sistem chakra. Chakra ini terletak di puncak kepala Kita, membentuk hubungan yang kuat dengan Diri Tertinggi.  

Sahasrara berarti "ribuan" dalam bahasa Sansekerta. Namanya berasal dari bunga teratai dengan seribu kelopak. Setiap kelopak mewakili aspek yang berbeda dari keberadaan kita, seperti emosi, pikiran, dan tindakan. Membuka kelopak secara menyeluruh menyebabkan keseimbangan universal antara tubuh, pikiran, dan jiwa. 

Ketika Chakra Sahasrara terbuka dan seimbang, Kita memiliki pandangan hidup yang lebih positif. Perubahan nyata dalam sikap akan terlihat dalam emosi seperti rasa Syukur, Kasih sayang dan penerimaan akan menjadi Jati Diri yang sebenarnya. 

Ciri Kebangkitan Spiritual berdampak positif baik secara emosional maupun fisik, sebagai berikut : 

A. Gejala Emosional 

-Kebangkitan spiritual.

-Kejernihan pikiran.

-Meningkatnya empati dan kasih sayang.

-Rasa tujuan yang lebih besar.

-Intuisi yang ditingkatkan.

-Mengurangi kecemasan dan stres.

B. Gejala Fisik 

Chakra Sahasrara yang tidak seimbang dapat menyebabkan kelenjar pineal menjadi lamban atau terlalu aktif. Hal ini dapat menyebabkan : 

-Migrain dan sakit kepala 

-Kesulitan dalam menentukan arah.

-Insomnia.

-Kelelahan.

Chakra ungu memandu kecerdasan mental dan Spiritual. Energi ini disuplay oleh enam chakra lain di dalam tubuh. Oleh karena itu, Anda perlu mempelajari cara menyeimbangkan enam chakra bawah untuk mengaktifkan chakra Sahasrara secara efektif. 

Cara Membuka Chakra Mahkota : 

Duduklah dalam posisi yang nyaman dengan punggung tegak dan kaki  bertumpu di lantai. Letakkan tangan Anda dalam posisi 'mudra' dengan menaruhnya di lutut dan menghadapkan telapak tangan ke langit. Tutup mata Anda rapat-rapat, tarik napas lewat -hidung dan hembuskan napas lewat mulut. Teruslah bernapas perlahan dan teratur dan bayangkan kelopak Chakra Mahkota Anda terbentang.  

Bayangkan warna putih mengelilingi  ubun-ubun kepala Anda dan perlahan menyebar ke seluruh tubuh Anda. Buka mata Anda setelah 5 sampai 10 menit dan duduklah dengan tenang selama beberapa waktu.

Jika chakra mahkota berfungsi dengan baik,  akan mengetahui banyak rahasia alam, mudah menghilangkan pikiran negatif dan prasangka buruk tentang diri sendiri dan orang lain. Dan jika sudah terbuka lebar maka seseorang dapat melakukan perjalanan astral dengan lebih mudah. Chakra mahkota yang tidak bekerja secara aktif mendatangkan berbagai masalah. Orang-orang yang tidak terlihat Religius terkadang punya cara yang lebih indah untuk menyenangkan Tuhan nya dari pada orang-orang yang terlihat religius padahal hanya  penampilannya saja. -- Palson

Di dalam tubuh manusia ada 7 (tujuh) tempat yang disebut Latifah sebagai tempat bersarangnya hawa nafsu yang harus dibersihkan dengan Asma Allah atau bisa dikenal dengan sebutan Chakra. Artinya latifah adalah sebutan lain dari chakra. 

Sebenarnya semua Agama mengajarkan beberapa hal yang sama. Hanya karena beda penyebutan saja akan menjadi polemik yang disebabkan tidak memahami isinya atau maksud dari Ajarannya yang masih mengedepankan ego paling merasa benar,  itulah yang jadi masalahnya.

Konsep 7 chakra itu sudah ada semenjak sebelum agama lahir di muka bumi ini.

Jadi bisa dikatakan, latifah atau chakra adalah suatu konsep yang telah ada bahkan sebelum agama lahir dimuka bumi ini. Sampai akhirnya setiap agama menerima ajaran tersebut dengan istilah yang berbeda-beda.

Latifah sendiri menurut islam adalah tempat bersarangnya nafsu di tujuh lubang pada manusia. 7 lubang yang kebanyakan orang pahami adalah lubang yang terlihat secara fisik yaitu di anus, penis, pusar, telinga, mulut dan hidung. 

Padahal konsep 7 lubang yang diajarkan dalam Islam itu sama persis dengan 7 chakra pada manusia. Yang letaknya di chakra dasar, chakra sex, chakra pusar, chakra perut, chakra tenggorokan, chakra ajna dan chakra mahkota.

Ketika seseorang memahami suatu ajaran berdasarkan esensinya, maka tidak ada lagi perdebatan dan lebih mudah mengamalkan. Mungkin ada beberapa orang yang tahu latifah, ada juga yang tidak. Tapi ada berapa banyak orang yang mengamalkan atau mempraktekkannya ajaran ini? dalam hadist qudsi: “Aku jadikan pada tubuh anak Adam (manusia) itu qasrun (istana), di situ ada sadrun (dada), di dalam dada itu ada qalbu (tempat bolak balik ingatan), di dalamnya ada lagi fuad (jujur ingatannya), di dalamnya pula ada syaghaf (kerinduan), didalamnya lagi ada lubbun (merasa terlalu rindu), dan di dalam lubbun ada sirrun (mesra), sedangkan di dalam sirrun ada “Aku”. 

Pada dasarnya lathifah-lathifah tersebut berasal dari alam amri (perintah) Allah : “Kun fayakun”, yang artinya, “jadi maka jadilah” (QS : 36: 82) merupakan al-ruh yang bersifat immaterial. Semua yang berasal dari alam al-khalqi (alam ciptaan) bersifat material.

Itulah kenapa orang-orang yang sudah bersih 7 lubang atau 7 chakranya berputar secara selaras dan maksimal, seperti mempunyai kekuatan Tuhan. Apa yang dikatakan dan dibatinkan bisa langsung jadi kenyataan. Makanya orang-orang yang telah terbuka chakranya atau latifahnya, lebih cepat mengalami perubahan hidup dan lebih harmonis hidupnya. 

"Kendati semua tempat suci Kau datangi jika belum masuk kedalam diri dan berkomunikasi dengan Sang Jiwa, maka perjalanan ke tempat suci akan sia-sia".

Andaikan, mandi di tujuh sungai suci dan berharap suci, ilmu pengetahuan, tanpa mengembangkan Logika, tanpa BERKESADARAN, tanpa KEBIJAKSANAAN maka semua itu tiada guna. Walau seluruh tubuh di rajah dengan aksara-aksara/Ayat-ayat suci, jika "Hati" &  "Pikiran" tidak di latih maka luka batin, penderitaan, akan selalu datang silih berganti,.

Manusia adalah makhluk Spiritual, jadi tak perlu pencarian ke gunung, ke dasar Laut, ke hutan, ke goa, yang dibutuhkan adalah 𝙈𝙖𝙨𝙪𝙠 𝙠𝙚𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝘿𝙄𝙍𝙄, lalu belajar dari pengalaman pribadi dan bergaul dengan para Guru yang tercerahkan, berteman dengan para Praktisi kehidupan, itu akan membuat semakin bertumbuh.

Sebab Tuhan sudah menaruh Kuasa Luar biasa pada Roh manusia yang  bersemayam dalam diri. 

Belajar komunikasi dengan Sang Diri (Roh) adalah pelajaran pembebasan, siapa diri anda, diri kita, mau kemana, kenapa dilahirkan, apa tujuan hidup, pertanyaan - pertanyaan seperti ini akan membangkitkan Kekuatan Spiritual/Rohani dalam diri anda. 

Sang Diri tidak mengajarkan tentang kesaktian atau perasaan paling benar, merasa paling tahu, merasa paling suci, merasa paling bisa, merasa paling sulit, merasa dan merasa sehingga timbul kesombongan Batin. Tetapi  MENGARAHKAN tentang bagaimana

Kondisi-kondisi seperti itu bisa  dilenyapkan dengan Kesadaran Sejati melalui meditasi/ bertafakur/berdzikir nafas. 

Karena belajar meditasi bukanlah untuk mencari kesaktian, bisa terawang atau yang lainnya sehingga membuat  kesombongan Batin dalam diri. 

Tetapi kita akan sampai juga kesana apabila belajar meditasi dengan Hati yang bersih sehingga pikiran, jiwa dan tubuh kita seimbang maka timbullah Kesadaran.

Pada Hakekat nya :  belajar/berlatih meditasi adalah untuk membersihkan Batin dan chakra-chakra yang kotor supaya semakin bersinar seperti matahari dan berguna mengakhiri penderitaan (sakit fisik, sakit bathin, sakit pikiran). 

Karena hidup itu seperti menyapu lantai setelah disapu ia kotor lagi. Demikian juga dengan kehidupan. Biarpun kedamaian terus disebar tapi kekerasan datang lagi dan lagi. Kendati demikian tetaplah terus menyebarkan kedamaian. 

Untuk melewati perjalanan jiwa tidaklah cukup sekedar pengabdian saja. Tetapi juga banyak rintangan yang harus dihadapi dengan hinaan, kekecewaan, fitnahan,  penghianatan bahkan penderitaan. Maka janganlah berbangga sebelum teruji Jiwa dengan sabar, tegar, niat dan tekad yang kuat. Sebagaimana sebuah bangunan rumah tanpa pondasi yang kokoh lalu apa yang akan terjadi? Akan roboh. Begitu juga dengan Jiwa, akan mudah berputus asa.

Sebagaimana keris akan menampakkan pamornya ketika direndam dalam cairan asam, Kekotoran batin juga perlu di bersihkan supaya nampak Diri Sejati. Semua akan mudah dilalui dengan jiwa yang selalu bersama dengan Yang Maha Jiwa. 


Tasawuf Jalan Para Sufi

Tasawuf dikenal sebagai “Jalan Hati, Jalan Suci, Jalan Mistik Islam”. Itu juga disebut Sekolah Pengetahuan Diri atau Ngaji Diri. Sufisme adalah cara untuk menghilangkan gravitasi dari diri yang lebih rendah (yang membebani roh) dan naik melalui metode dan praktik ke keadaan di mana "Visi Tuhan" disajikan. 

Ini adalah seni menemukan keabadian dalam diri kita sendiri. Jalan Sufi membawa pencari ke Dzat Ilahi, tujuan akhir adalah untuk larut dalam Kebenaran Mutlak  Tuhan. Jalan menuju Tuhan sama banyaknya dengan nafas manusia, dan setiap individu memiliki jalannya sendiri-sendiri. 

Sufisme menekankan perlunya menembus tabir keberadaan selama di bumi, karena “Siapa pun yang buta di dunia ini akan buta di akhirat dan semakin tersesat.”Berasal dari mistisisme Islam, alat terbesar tasawuf adalah Al-Qur'an ("The Instrument of Discernment") yang dikenal sebagai "Firman Tuhan yang Tidak Diciptakan." Sufi berbicara tentang "berusaha menenggelamkan diri" dalam ayat-ayatnya. Mereka ingin minum sebanyak yang bisa mereka tahan, karena mereka menyadari kekosongan internal mereka dan rasa sakit untuk mengisi Roh mereka daripada Pikiran mereka. Sufi terus berusaha untuk menghayati Quran eksplisit, mengakui bahwa Tuhan ada di mana-mana. “Kami (Tuhan) lebih dekat kepadanya (manusia) daripada urat lehernya.” Bagi para Sufi, Tuhan adalah segala sesuatu yang "Keagungan" dan "Indah". Dengan mewujudkan dua kualitas ilahi ini, para Sufi hidup di Surga, di bumi. Bagi mereka, dunia fisik hanyalah proyeksi dari dunia surgawi.

Apa itu tasawuf ? Kenikmatan indera adalah bayangan pola dasar surgawi yang ingin disampaikan oleh Tuhan. Bagi para sufi, Anugerah yang muncul dari melihat pemandangan yang indah adalah Tuhan. Tuhan terus-menerus berada di dalam dan di dalam kita, begitu banyak di dalam dan di luar, sehingga kita tidak mengenali-Nya tetapi berbalik mencari.“Dia tersembunyi dalam manifestasi luarnya sendiri di mana Dia muncul sebagai selubung demi selubung yang dibuat untuk menutupi kemuliaan-Nya.” Saat kita semua hidup dan menghirup udara yang sama, Ibu Pertiwi menyatukan kita semua dan meneriakkan semua rahasia di antara kita begitu keras sehingga kita tidak mendengarnya! 

Sufi adalah jalan mistik. Untuk masuk ke dalam tarekat sufi, individu harus "dihantui oleh pemikiran Tuhan" dan memiliki "pernyataan tentang keadaan yang lebih tinggi." Tujuan dari awal tidak kurang dari kesucian; Sufi berusaha untuk Kesempurnaan. Dari Rukun Islam yang Lima (Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa, dan Haji ke Mekah), Sufi hanya mengamalkan Rukun Pertama, yang dapat disimpulkan sebagai, “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.” 

Para Sufi lebih mementingkan ketulusan pengabdian yang luwes, dibandingkan dengan perhatian Islam yang kaku dengan doa ritual. Sufi terbungkus dalam perjuangan terus-menerus berjuang tanpa henti dalam mengejar Pengetahuan Penuh tentang Ke ILLAHI an diatas segalanya, tujuan Sufi adalah untuk kehilangan rasa diri mereka. Individualitas, kata para sufi, adalah jumlah dari segala sesuatu yang pernah dipelajari oleh seseorang. 

Betapapun bangganya kita, tasawuf memohon agar kita melepaskan diri dari tipu muslihat ini. Sufi berkata, "lepaskan dirimu untuk menjadi bebas." Para ahli telah mencapai Fana, keadaan “kematian-diri”, di mana Sufi telah benar-benar kehilangan “dirinya” dan mencapai stasiun spiritual “kedai kehancuran.”Sufisme adalah “Kewaspadaan Hati.” Sebagaimana jantung tubuh menerima Kehidupan dari Keilahian yang membanjiri tubuh dengan Kehidupan, demikian juga itu merupakan titik fokus konsentrasi semua kekuatan jiwa dalam aspirasinya menuju Yang Tak Terbatas. 

Bagi Sufi, Hati adalah Akal dan Roh. Ini adalah Akal dalam istilah Latin intelektus , yaitu, "kemampuan yang merasakan yang transenden." Apa itu tasawuf? menggambarkan The Heart. Sebagai, "pusat dan puncak umat manusia, itu adalah langsung dari visi spiritual (atau intelektual)." Kita melihat baik-baik dengan mata kita, Hati kitalah yang menjadi buta. Penekannya adalah pada berpikir dengan Hati daripada pikiran. Syekh `Al 'al Jamal berkata, “Rilekskan pikiran dan belajar berenang.” Pikiran adalah jebakan satu dimensi, hanya dengan melepaskan jiwa dapat mengalami intuisi.

Sufisme sangat tertutup. Ada makna ganda dalam tulisan mereka yang melampaui terjemahan puitis biasa. Seorang pemula dapat menghargai bahasa tasawuf karena keindahan yang dimilikinya, tetapi orang yang mahirlah yang mengenali makna terdalamnya. Misalnya, ketika seorang Sufi mengacu pada "Cinta", kita akan melihatnya secara langsung dan menjelaskan perasaan asmara dan kemudian menerapkannya pada perasaan Sufi terhadap Tuhan. Tetapi apa yang digambarkan oleh Sufi adalah keadaan tidak berwujud yang memiliki Tuhan sepenuhnya di dalam. 

Sufi bahkan tidak mencoba menjelaskan kepada orang luar. Buket Cinta tidak cocok untuk semua orang. "Sufi adalah orang-orang yang menjalani kehidupan yang penuh rasa ingin tahu di bumi – di sini, tetapi tidak lagi benar-benar. Mereka telah menemukan jawaban dengan tenang, bahkan ketika seluruh dunia berteriak.

Meditasi Tekun Hening

Meditasi HENING adalah meditasi mempersiapkan diri untuk menerima wejangan Illahiah, dimana kita berdiam diri sepenuhnya.

Di dalam meditasi Hening ada kepasrahan mutlak dalam penyerahan, dengan mengizinkan yang Maha Kuasa saja yang menggerakkan, berkehendak, mengatur, menuntun, hingga mengisi diri kita demi KemulyaanNya.

Saat Meditasi Hening, tidak sedikit petunjuk yang kita bisa terima langsung dari Sang Maha Kuasa. Dalam perjalanan Spiritual tidak mungkin di mulai kecuali dalam Keadaan tenang,  hening, tentram, damai dan hanya Guru Sejati didalam diri  yang bisa memberi Wejangan ketika bermeditasi.

Mungkin akan berbeda lagi dengan meditasi nya orang lain dengan mencari keilmuan dengan tujuan tertentu, seperti membuka mata batin, terawangan dll. Melakukan meditasi dengan Wirid untuk suatu tujuan itu sah saja. 

Tetapi untuk mempelajari hal-hal gaib lebih aman dan cara mudah kita harus mengenal diri sendiri otomatis maka akan mengenal Tuhan.

Bagaimana cara meditasi yang benar?  cukup kita perhatikan, rasakan, nikmati dan sadari setiap tarikan dan hembusan Nafas dan Sadari pemberian murni dari Sang Sumber hidup di setiap nafas, sadari kesatuan dengan diri yang Sejati dan Sang Sumber hidup di pangkal dan ujung Nafas.

Ini teknik sederhana, bukan rumus yang dirahasiakan, tapi justru inilah rahasia manusia yang tercerahkan.  

Kunci berhasil dalam Meditasi adalah Tekun Hening sepanjang waktu,  dimanapun kita berada (Meditasi Ngerame).

Kewaskitaan bukan terletak pada kemampuan kita berkomunikasi dengan makhluk halus atau membinasakan musuh, tetapi pada bagaimana kita mampu berdialog dengan jiwa kita dan membuat musuh-musuh didalam diri kita sendiri berada di bawah kendali kesadaran kita. 

Ketika kita bertafakur/bermeditasi, pasti  ada suatu keadaan ada kekuatan energi yang luar biasa diluar akal, nalar, dan kesadaran kita. Kita merasakan bahwa ada penguasa sejati yang memang benar  "Mutlak Ada" dan menguasai segala bentuk gerak dan keadaan badan diri kita juga pada alam jagat raya ini.

Di dalam bermeditasi, bertafakur, atau pengendapan rasa, kita dituntut belajar untuk menep yang artinya diam mengendapkan segala bentuk imajinasi, pikiran, bahkan berbagai nuansa rasa, hingga kita mencapai Rasa Sejati diri kita yang murni yang dapat kita temui dan kita sadari adanya. 

Diri kita yang Sejati adalah apa yang ada di pusat di sekitar dada kita dan terus naik hingga ke ubun-ubun, yang memiliki gelombang energi cukup besar sebagai cerminan atau gerbang yang tersambung dengan energi sejati ilahiah. Energi hanya memantulkan atau menyalurkan saja dari Sang Maha Kuasa.

Jika aku, engkau, kita, atau siapa saja yang masih mengandalkan akal pikiran didalam bermeditasi atau Bertafakur, tentu tidak akan dapat sempurna memancarkan daya ilahiah.

Namun ketika kita sudah berada dalam keadaan yang totalitas berserah (kosong) dan benar menyadari ketiadaan kita, maka kita akan memasuki ruang demi ruang, dimensi demi dimensi realitas ketiadaan daya upaya kita sehingga totalitas kita tiada dan yang sejati akan memancarkan daya (Kekuatan) ilahiah dengan sempurna.

HIDUP bukan tentang SUSAH atau NYAMAN menjalaninya. Tapi tentang KEKUATAN TENANG MENERIMA apapun juga. Tidak terlena dengan pujian, hinaan, cacian, tidak takut akan kekurangan duniawi yang menawarkan Harta. 

HIDUP dengan TUHAN di dalam HATI adalah HARTA SEMESTA. Khawatir dengan besok saja, sudah termasuk menghina Tuhan di dalam Dirimu. 

Dahulukan Dunia Akhirat Ketinggalan. Dahulukan Akhirat Dunia Mengikuti.


Wawasan datang dalam Keheningan Meditasi

Menerima Bimbingan Batin dalam Keheningan Meditasi

“Untuk menjelajahi alam batin yang paling jauh, seseorang harus memahami sifat sejati seseorang. Mungkin bukan sepenuhnya kesalahan manusia modern bahwa ia tidak memahami alam semesta batinnya sendiri. Ia telah mencapai banyak hal, dan jika konsep-konsep seperti itu luput dari kesadarannya sendiri. itu karena dia tidak memiliki elang yang menyala-nyala dari roh di tinjunya untuk terbang melampaui jangkauan intelek yang terbatas. 

Manusia telah melakukan perjalanan ke bulan fisik, tetapi mereka tidak tahu apa-apa tentang wilayah musik bahagia di dalam diri mereka sendiri -- wilayah yang terletak di luar bulan, di luar matahari, di luar bintang dan galaksi yang paling jauh." (George Arnsby Jones, "The Pilgrimage of James -- An Odyssey of Inner Space")

Wawasan akan datang kepada kita dalam keheningan meditasi. Kami akan terinspirasi dengan cara yang tidak pernah kami duga sebelumnya. Kreativitas akan mengalir tidak seperti sebelumnya. Suara Ilahi akan menuntun kita ke arah positif yang baru, dan pada akhirnya akan membimbing kita di Atas.

"Ini adalah fakta aksiomatik bahwa saat Anda bermeditasi, Anda berbicara dengan Roh Anda sendiri. Dalam keadaan pikiran itu Anda mengajukan pertanyaan tertentu kepada Roh Anda dan Roh menjawab: Terang memancar dan kenyataan terungkap." (Abdul-BAHA dari Bahai Faith)

Dengan melahirkan diri kita dalam 'rahim' meditasi hening, Diri atau Roh yang lebih tinggi tidak hanya menjadi pusat teoretis dari keberadaan kita, tetapi kenyataan yang kita alami secara langsung. Kita belajar untuk mulai hidup dari pusat keberadaan kita, memanfaatkan kebijaksanaan yang lebih tinggi yang berasal dari tingkat Diri atau Roh, jiwa dan Oversoul.

“Selama kita tidak dapat memiliki keheningan yang tenang di dalam diri kita, jiwa tidak dapat mendengarkan Suara keheningan yang muncul dari kedalaman Keheningan yang paling dalam. Dengan mengikuti Suara itu kita dapat mencapai sumber dan sumber dari Keheningan Besar yang disebut Tuhan dan menjadi diberkati selamanya." (Kirpal Singh, The Way of the Saints, diterbitkan oleh Sant Bani Ashram dari New Hampshire)

Berkomunikasi dalam Hening


Bagian paling vital dari meditasi – seluruh inti materi dalam mencapai tujuan akhir kesadaran Tuhan adalah keheningan. Ketika kita diam dan mengenal Tuhan sebagai kedamaian, kebahagiaan, dan cinta, maka pikiran normal akan dibuang dan kita berada dalam keadaan kesadaran batin

Untuk berkomunikasi dengan Tuhan, kita perlu masuk ke dalam keheningan. Ada poin penting dari meditasi yang sering disalahpahami. Pertimbangkan apa tujuan meditasi yang diinginkan : kesadaran Tuhan yang murni— keheningan -- Tuhan Sendiri.

Biasanya kesadaran kita bergetar dengan pikiran dan emosi, dan tidak dapat menyatu dengan kesadaran tenang dari kesadaran ilahi. Keheningan meditasi berarti terserap dan merasakan kehadiran Tuhan di mata spiritual. Dalam keheningan inilah kita mengalami hubungan dengan Tuhan sebagai damai, sebagai sukacita, sebagai cinta. “Dalam keheningan ada kesadaran yang sadar, keadaan waspada yang mendalam tanpa pikiran.” Meditasi kami memiliki 5 tahap : 1. Membaca 2. Doa 3. Teknik Meditasi 4. Latihan Keheningan 5. Latihan Pengabdian.

Setelah teknik meditasi, kita harus duduk diam. Dalam keheningan Anda terserap dan dalam pengabdian anda merasakan kehadiran Tuhan dan Guru. Apa yang Anda lakukan dalam meditasi Anda? Pemuja berkata, "Saya berkomunikasi dengan Tuhan". Apa yang Anda katakan kepada Tuhan? "Saya tidak mengatakan apa-apa kepada Tuhan, saya mendengarkan" Lalu, apa yang Tuhan katakan kepada Anda? "Dia juga tidak mengatakan apa-apa, Dia juga mendengarkan" Selama berhubungan dimana baik Tuhan maupun Hamba tidak perlu berbicara. Saya berkomunikasi dengan Diri Tinggi saya. Bukan berbicara – itu hanya bisa terjadi dalam keheningan. Itulah mengapa teknik harus diperlakukan sebagai kendaraan ketika kita mulai bermeditasi. Kita sadar kita gembira, itulah keheningan. 

Bagaimana cara mencapai keadaan hening itu? KONSENTRASI! “Dalam keheningan penyembah, keheningan Tuhan berhenti.” 

Di kuil keheningan, di kuil kedamaian, aku akan bertemu denganmu, aku akan menyentuhmu, aku akan mencintaimu, dan membujukmu ke altar kedamaianku. Di kuil samadhi, di kuil kebahagiaan, aku akan bertemu denganmu, aku akan menyentuhmu, aku akan mencintaimu, dan membujukmu ke altar kebahagiaanku. 

"Setelah Anda berlatih teknik, duduk lama dalam keheningan." Keheningan berarti terserap dalam merasakan kehadiran Tuhan di mata spiritual. Tidak berpikir! Tidak ada nyanyian! Tidak berdoa! Itulah saat bercinta dengan Tuhan : Katakan pada-Nya betapa Anda mencintai-Nya, betapa Anda menginginkan-Nya, betapa Anda mencari-Nya. Curahkan hati Anda kepada-Nya, kata Guru, seperti yang Anda lakukan kepada seorang teman, atau kepada ibu Anda, atau orang terkasih lainnya. "Anda tidak perlu pergi ke surga untuk melihat Tuhan; Anda tidak perlu berbicara keras, seolah-olah Tuhan itu jauh; Anda juga tidak perlu menangis seperti burung merpati untuk terbang kepada-Nya. 

Hanya dalam keheningan, dan Anda akan menemukan Tuhan di dalam dirimu sendiri." — Santo Teresa dari Avila, lalu dia menoleh ke arah saya dan berkata : "Keheningan adalah Tuhan."

Manekung



Bagi ajaran Jawadipa, penyembahan kepada Tuhan itu tidak diperlukan karena Tuhan tidak butuh disembah dan tidak memerintahkan penyembahan apapun. Dia sudah sempurna dari awal dan tetap sempurna hingga detik ini. Tak ada kekurangan dan tak ada yang tidak Dia miliki. Jika Dia meminta di sembah, artinya Tuhan masih kekurangan walau sekedar kurang pengakuan belaka. Tuhan yang minta disembah apalagi pencemburu ketika tidak disembah artinya belum bisa disebut Tuhan Sejati. Begitu menurut Jawadipa.

Ajaran Jawadipa mengenal manêkung, yaitu proses masuk ke dalam diri untuk mencari ruang hening di dalam bathin manusia, bukan ritual penyembahan. Keheningan tercipta ketika Idhêp (pikiran), rasa (perasaan), jinêm (kesadaran), yatna (ingatan) larut dan mengendap. Dalam kondisi seperti itu Yitma (Ruh) kita akan mudah memberikan petunjuk secara gamblang. Manêkung adalah proses membiasakan bathin menjadi hening. Dan hanya dengan hening maka petunjuk Yitma (Ruh) akan mudah kita terima. Petunjuk Yitma (Ruh) adalah petunjuk Tuhan. Karena Yitma (Ruh) adalah bagian dari Sangyang Yitmajati atau Tuhan itu sendiri. 

Manêkung bisa dilakukan kapan saja. Lebih bagus menghadap ke wetan. Wetan artinya wiwitan atau asal. Menghadap ke wetan artinya menghadap kepada awal mula kita yaitu Tuhan itu sendiri. Mula pertama duduk bersila. Atur tubuh senyaman mungkin. Bersila bisa dengan cara kaki kiri berada di bawah ditumpangi oleh kaki kanan. Lebih nyaman memakai alas. Sesudahnya berikan sembah kepada Sanghyang Yitmajati atau Tuhan yang bertahta di dalam jiwa kita dengan bersembah dan membaca mantra :

"Hyang-Hyang Taya Yitmajati, têlênging tyas pandoming dumadi, daya-daya handayani, byar padhang urip sawiji."

Sesudah bersembah tangan bersendekap. Pandang ujung hidung, pejamkan mata. Begitu mata terpejam sudah tidak lagi memandang ujung hidung. Bernafas dengan alami. Nikmati keluar masuknya nafas. Pikiran, perasaan atau ingatan apapun yang muncul, bebaskan. Sejorok apapun, sekotor apapun, biarkan. Amati saja kehadiran mereka. Pada suatu titik semua akan larut dan lelah. Idhêp (pikiran), rasa (perasaan) dan yatna (ingatan) akan mengendap. Tinggal jinêm (kesadaran) yang tersisa. Di saat seperti ini berhati-hati karena jinêm (kesadaran) biasanya akan larut dan kita bablas tertidur karena nikmat dan tenang yang kita rasakan. Pertahankan jinêm (kesadaran). Nikmati ruang hening yang hadir. Nikmati ketenangan dan kedamaian yang ada. Pertahankan beberapa lama. Ketika sudah dirasa cukup, sudahi manêkung. Angkat sembah kepada Sanghyang Yitmajati sembari membaca mantra :

"Hyang-Hyang Taya Yitmajati, waras, sugih, wibawa, rahayu."

Manêkung selesai. Dengan membiasakan masuk ke ruang hening, maka petunjuk dari Yitma (Ruh) akan mudah kita terima dan akan menjadi pembimbing sejati bagi kita dalam melewati kehidupan. Siapapun Anda. Apapun agama Anda, bisa menjalani manêkung ini.

Madep,mantep,sowan ing ngarsaning Gusti.


Hanya Napas

Bukan Kristen, Yahudi, atau Muslim, bukan Hindu, Buddha, Sufi, atau Zen. Bukan agama atau sistem budaya apa pun.

Aku bukan dari Timur atau Barat, bukan dari lautan atau dari atas tanah, bukan alam atau makhluk halus, bukan terbuat dari unsur-unsur apapun.

Aku tidak ada, bukan entitas di dunia ini atau dunia berikutnya,  tidak berasal dari Adam atau Hawa atau kisah asal usul apa pun.

Tempatku hampa, jejak dari kehampaan. Tak berwujud, tak berwujud, tak berwujud, tak berwujud.

Aku milik yang terkasih, telah melihat dua dunia sebagai satu dan yang satu itu memanggil dan mengetahui, pertama, terakhir, luar, dalam, hanya manusia yang bernapas itu.

- Rumi

Jika Anda bertanya kepada seorang Sufi tentang Tuhan, ia akan tertawa, atau ia akan menyanyikan lagu yang tidak ada hubungannya dengan Tuhan, atau ia akan menceritakan kisah yang sama sekali tidak berhubungan dengan pertanyaan tersebut. Ia hanya berkata, "Jangan bodoh. Mari kita bersikap praktis." Anda bertanya tentang Tuhan dan ia akan berbicara tentang doa, bukan tentang Tuhan. 

Seorang Sufi sejati akan menghindari topik tentang Tuhan. Ia akan berbicara tentang doa; doa itu praktis. Anda bertanya tentang surga dan ia akan berbicara tentang kesengsaraan Anda dan cara melepaskannya -- itulah kepraktisan. Karena surga tidak berada di tempat lain, ketika Anda telah melepaskan cara hidup Anda yang menyedihkan, Anda berada di surga, atau lebih tepatnya, Anda ADALAH surga.


Mengapa tak kuat duduk lama dalam Berzikir ?



Daniel Coyle di buku The Talent Code bilang: otak kita punya zat bernama myelin. Setiap kali kita melakukan kesalahan dan memperbaikinya, myelin itu semakin menebal. 

Semakin tebal, semakin cepat sinyal otak kita. Jadi bukan bakat yang membuat  kita hebat. Tapi  sudah berapa kali  kita itu telah rela gagal dengan sadar.

Kenapa anak umur 13 tahun bisa main biola seperti dewa dalam 6 menit ? Karena dia tidak hanya sekedar latihan. Dia latihan dalam mode struggle. Dia akan terus bermain, lalu salah, kemudian diulang, salah lagi, diulang lagi. Itu namanya deep practice. Bukan latihan keras. Tapi latihan sakit yang membuat otak kita terbakar, bukan sekadar berkeringat.

Tapi kalau kalau kita tidak punya motivasi, myelin hanya akan menjadi lemak otak. Maka Coyle mengatakan bahwa kamu butuh ignition. Sesuatu yang membuat kita terbakar. Bukanlah cita-cita, tapi rasa sakit, rasa ingin balas dendam, rasa ingin membuktikan. Tanpa itu maka latihanmu hanya akan menjadi rutinitas mati. Kita bisa saja latihan 10.000 jam tapi tetap payah, kalau tidak ada master coach yang mengarahkan bahwa kita itu salah dimana. 

Bukan juga guru yang selalu memuji, tapi yang mengoreksi “Stop .. kaki kamu terlalu kenceng .. Ulang.” Tanpa itu maka kita cuma mengulang teknik. Jadi masih percaya bakat? Atau kita mau mulai cari kesalahan sendiri? Mulai latihan sampai otak panas. Dan cari orang yang berani mengatakan " kamu belum cukup". Karena kehebatan bukan anugerah. Tapi luka yang kita pilih untuk diulang sampai sempurna. 

Lalu bagaimana dengan duduk dalam berzikir, kebanyakan dari kita seringkali malas berzikir karena tak kuat duduk berlama-lama. Buya HSS. Ahmad Farki Bin HSS Kadirun Yahya mengatakan bahwa kebanyakan dari kita tak kuat menahan sakit selama duduk dalam berzikir sehingga energi zikir tidak dapat terserap secara maksimal. Padahal energi zikir hanya akan dapat terserap secara maksimal ketika telah mencapai titik bakar, dimana akan menghasilkan panas yang tinggi. 

Maka dudukpun harus dipaksakan sehingga ada saatnya rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya kemudian akan berganti menjadi rasa nyaman, tenang, tidak ada lagi rasa sakit, dan gelisah. Dan akhirnya tercapailah tujuan dari zikir itu sendiri yaitu mengakses energi Tuhan secara maksimal.

Dialog tentang Zikir

Siapakah sebenarnya yang berzikir?

Murid : Guru… jika zikir diperintahkan kepada kita…lalu dalam Hakikat… siapa sebenarnya yang berzikir?

Guru : Secara syariat…kamu yang berzikir… dengan lisan dan hatimu…itu adalah bentuk ibadahmu… sebagai hamba…

Murid : Lalu… dalam Hakikat?

Guru : Dalam Hakikat…kamu tidak akan mampu berzikir…tanpa izin dan pertolongan dari-Nya…bahkan keinginanmu untuk mengingat-Nya…adalah pemberian dari-Nya…

Murid : Jadi…?

Guru : Maka secara lahir… kamu berzikir…

namun secara batin… Allah yang menghidupkan zikir itu dalam hatimu…

Murid : Apakah itu berarti… Allah yang berzikir?

Guru : Yang sebenarnya DIA yang memuji diri-NYA sendiri 

Murid : Lalu apa yang harus saya rasakan, Guru?

Guru : Rasakan bahwa setiap zikir yang terucap…bukan karena kekuatanmu…tapi karena Dia… yang membimbing mu…di situlah Hati menjadi lembut…tidak sombong…dan penuh Rasa Syukur…


Awal belajar Tasawuf

Ketika Anda merasa untuk belajar Tasawuf justru itulah alasan Allah sedang memanggilmu. Bukan tentang menjadi orang hebat, tetapi menjadi hamba yang hatinya bersih dan selalu ingin kembali kepada Allah.

Murid : Guru... aku melihat banyak orang berbicara tentang tasawuf. Ada yang menangis saat berzikir, ada yang berbicara tentang cahaya, makrifat dan rahasia langit. Tapi aku bahkan belum mengerti harus memulai dari mana.

Guru : Kalau begitu, engkau berada di tempat yang tepat karena orang yang paling sulit dibimbing bukanlah yang tidak tahu melainkan yang merasa sudah tahu.

Murid : Jadi aku tidak perlu memiliki ilmu tinggi?

Guru : Tidak…. Tasawuf tidak dimulai dari kepala yang penuh teori. la dimulai dari hati yang mau tunduk kepada Allah. Banyak orang mengejar pengalaman Spiritual tapi lupa memperbaiki shalatnya.  Banyak yang ingin merasakan kedekatan dengan Allah, tetapi masih menyimpan kesombongan, dendam dan Riya didalam dada.

Murid : Lalu langkah pertamanya apa?

Guru : Langkah pertama adalah menyadari bahwa musuh terbesarmu bukan dunia di luar sana. Musuh terbesarmu adalah nafsumu sendiri Karena itu, mulailah dengan taubat yang sungguh-sungguh. Akui kelemahanmu. Mohon ampun kepada Allah. Jangan malu menangis saat sendirian.

Murid : Setelah itu?

Guru : Jaga shalatmu seakan itu adalah pertemuan terakhir dengan Tuhanmu.  Perbanyak “istighfar “ hingga lidahmu terbiasa dan hatimu ikut hidup. Bacalah Al-Qur'an, walau hanya beberapa ayat, tetapi renungkan maknanya. Biasakan Muhasabah sebelum tidur. Hari ini siapa yang telah kau sakiti, di mana engkau lalai, dan apa yang harus diperbaiki esok.

Murid : Apakah aku harus mengejar Karomah?

Guru  : Tidak… Orang yang sibuk mengejar Karomah sering lupa mengejar Istiqomah. Keajaiban terbesar bukan berjalan di atas air. Keajaiban terbesar adalah mampu menahan amarah ketika dihina, diabaikan, dijauhkan orang lain bahkan saudara. tetap jujur dan mengingat Allah. 

Murid : Guru... kapan seseorang disebut telah sampai?

Guru : Saat ia tidak lagi sibuk bertanya, "Sudah sejauh mana aku berjalan?"  Melainkan terus berjalan dengan ikhlas, karena yang dicari bukan kedudukan, bukan pujian, bukan pengalaman luar biasa. Yang dicarinya hanyalah Ridho  Allah.

Dan ketahuilah....

Perjalanan seorang Tasawuf Sejati sering kali tidak terlihat oleh manusia. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorotan. Yang ada hanya seorang hamba yang diam dan sunyi memperbaiki hatinya. Sementara langit menjadi saksi setiap air matanya jatuh.

Kalau Anda benar-benar masih awam, justru, inilah saat terbaik untuk memulai perjalanan Tasawuf.




Hakikat Iqra menurut Ulama Tasawuf


1. Membaca tanda-tanda Allah di Alam. Alam semesta adalah kitab Allah yang terbuka "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar. (QS. Fussilat 41: Ayat 53)

2. Membaca kitab Diri sendiri , para sufi mengatakan : Manusia Adalah kitab Allah yang paling besar. Imam Ali bin Abi Thalib berkata : "Apakah engkau mengira dirimu hanya tubuh kecil? Padahal didalam dirimu terkandung alam yang besar." Karena itu sebagian ahlii haqiqat berkata "IQRA' NAFSAKA"(Bacalah dirimu sendiri)

3. Bacalah dengan nama Tuhanmu (Bi Ismi Robbik). Bacalah alam dengan kesadaran bahwa semuanya berasal dari Allah. Jika membaca alam tanpa "Bismillah" manusia hanya melihat sebab, bukan pencipta sebab. Contoh orang yg bisa melihat : alam semesta, matahari, lautan, gunung, dll. Tetapi Ahli Ma'rifat melihat sebagai : Tajalli qudrah Allah, Hikmah Allah, Rahmat Allah,  dll.

4. Membaca dengan Hati, bukan dengan mata. Para ahli Tasawuf mengatakan ada 3 jenis membaca : Membaca dengan mata, ini adalah membaca tulisan, Membaca dengan akal, ini adalah memahami ilmu, Membaca dengan hati, ini membaca rahasia Tuhan dalam segala sesuatu. Inilah yang disebut  Basirah (penglihatan batin)

5. Iqra' adalah pintu Ma'rifat. Urutan nya sebagai berikut :

Iqra - membaca tanda-tanda Allah

Ilmu - memahami rahasia penciptaan

Dzauq - merasakan kehadiran Allah

Kasyaf - terbukanya rahasia

Ma'rifat - mengenal Allah.

6. Rahasia lebih dalam menurut ahli Hakikat. Perintah iqra' sebenarnya memiliki makna batin. Artinya dari mana wujudmu? Siapa yang menghidupkanmu? Siapa yang mengerakkan hatimu? Siapa yang memberi niat dalam dirimu?. 

Ketika seorang salik membaca semuanya,  Ia akan sampai pada kesimpulan :  LAA MAUJUD ILALLAH. 


Belajar Tasawuf



Fana adalah ketiadaan dan kehancuran. Dan lawan dari fana adalah baqa, abadi, dan tetap ada. Seperti Tuhan termasuk kategori abadi dan baqa, sementara selain-Nya atau seluruh makhluk digolongkan ke dalam ketiadaaan, kehancuran, dan fana. Sedangkan fana dalam makna gramatikalnya adalah tidak memandang, memperhatikan, dan menyaksikan keberadaannya sendiri.Yang pasti hal ini tidak berarti asing terhadap dirinya sendiri, namun lebih bermakna bahwa seseorang yang hadir di sisi Tuhan sama sekali tidak melihat eksistensi dirinya sendiri dan dia meniadakan segala sesuatu selain-Nya di dalam hatinya.

Maqâm Fana dalam Tasawuf
Dalam istilah tasawuf, fana’ berarti penghancuran diri yaitual-fana’‘an al-nafs. Yang dimaksud dengan al-fana’ ‘an al-nafs ialah hancurnya perasaan atau kesadaran seseorang terhadap wujud tubuh kasarnya dan alam sekitarnya.
Maqâm adalah suatu derajat dan tingkatan yang telah dicapai oleh seorang Arif setelah bertahun-tahun melewati segala penderitaan, tazkiyah, dan pensucian diri, serta segala kesulitan. Oleh karena itu, pada umumnya suatu perubahan akan bersifat tetap, abadi, dan tidak mudah sirna apabila dilalui dan dicapai dengan susah payah dan kerja keras.
Pada maqâm fana, manusia di hadapan Tuhan tidak menyaksikan diri sendirinya, penghambaannya, keinginan-keinginannya, harapan-harapannya, dan dunia sekelilingnya.
 
Manusia hanya memandang dan melihat jamaliyah dan jalaliyah Tuhan. Apa saja yang disaksikan oleh para wali Tuhan adalah Yang Haq, apakah melalui perantara atau dengan perantara.
Bagi para pesuluk dan pencari makrifat terkadang perantara itu adalah nama-nama dan sifat-sifat Tuhan,
akan tetapi hijab dan perantara cahaya ini pun akan tersingkap,
 
"Ya Tuhanku anugerahkan padaku kesempurnaan penyaksian kepada-Mu… sedemikian sehingga pandangan hati merobek hijab-hijab cahaya."
 
Inilah puncak dan akhir derajat fana yang setelah itu manusia berada pada kondisi melupakan segala sesuatu kecuali Yang Haq dan "menyirnakan" segala sesuatu secara sempurna selain-Nya.
 
Di sinilah dia mendengar dengan pendengaran Tuhan, melihat dengan pandangan Tuhan, dan berbicara dengan lisan Tuhan. Penyingkapan hakikat zat Tuhan, karena hakikat zat-Nya hanya diketahui oleh-Nya dan tidak ada satupun makhluk yang dapat menyaksikan hakikat zat-Nya.

Penjelasan Detail :

Secara leksikal fana bermakna ketiadaan dan kehancuran. Lawan dari fana adalah baqa yang berarti abadi, tetap, dan eksis. Kata ini dipergunakan dalam al-Quran, walaupun sebagian dari derivatnya yang diaplikasikan, seperti:
"Segala sesuatu akan hancur dan yang tinggal wajah Tuhanmu," Tuhan dalam ayat ini meletakkan kata "fanin" (hancur) berhadapan dengan kata "yabqa" (yang tetap, yang tinggal, dan abadi), yang bermakna bahwa hanya Tuhanlah yang selamanya ada dan baqa, sementara segala sesuatu selain-Nya adalah hancur dan sirna.
Fana dalam makna gramatikalnya adalah tidak menyaksikan, memandang, melihat, dan mendapatkan dirinya sendiri.
 
Namun hal ini tidak berarti asing terhadap dirinya sendiri, melainkan manusia tidak menyaksikan dirinya sendiri di hadapan Tuhan dan hanya Dia yang dipandang. 
Istilah fana’ memiliki beberapa tingkatan, aspek dan makna. Semuanya dapat diringkaskan sebagai berikut :

a. Transformasi moral dari jiwa yang dicapai melalui pengendalian nafsu dan keinginan.

b. Abstraksi mental dan berlakunya pikiran dari seluruh objek persepsi,pemikiran, tindakan dan perasaan; dan dengan mana kemudian memusatkan fikiran tentang Tuhan. Yang dimaksud dengan memikirkan Tuhan adalah memikirkan dan merenungi sifat-sifat-Nya.

c. Berhentinya pemikiran yang dilandasi kesadaran.
Tingkat fana yang tertinggi akan tercapai apabila kesadaran tentang fana itu sendiri juga hilang. Inilah yang oleh para sufi dikenal “kefanaan dari fana”atau lenyapnya kesadaran tentang tiada (fana’ al-fana’)
tahap terakhir dari fana’ adalah lenyapnya diri secara penuh, yang merupakan bentuk permulaan dari baqa, yang artinya berkesinambungan di dalam Tuhan
Bahwa dalam faham fana ini, materi manusianya tetap ada dan sama sekali tidak hilang atau hancur, yang hilang hanya kesadaran akan dirinya sebagai manusia. 
Ia tidak merasakan lagi akan eksistensi jasad kasarnya..Yakni, “Fana, sirnanya sufi terhadap wujud dirinya, masuk ke dalam baqa, kesinambungan wujudnya yang sebenarnya. Dia orang yang kelihatan pribadi, hidup bersama Tuhan, dan fana, kesempurnaan dari kematian (kehancuran) ini, menandakan tercapainya baqa, atau persatuan dengan kehidupan Ilahi”
Definisi Fana dalam Perspektif Para Arif
Al-Junaid, sebagaimana dikemukakan oleh Ibrahim Basyuni, menggambarkan fana’ sebagai “sirnanya daya tangkap hati terhadap yang bersifat indrawi karena menyaksikan sesuatu, maksudnya lenyap segala yang ada dihadapan serta segala sesuatu dari serapan indrawi sehingga tidak ada sesuatu yang dapat diraba dan dirasakan”
 
Abu Said Harraz mendefinisikan fana sebagai berikut, "Fana adalah fana nya seorang hamba dari memandang penghambaan nya, dan baqa adalah baqa nya seorang hamba dengan penyaksian Ilahi. Qusyairi menyatakan, "Setiap kali Pemiliki Hakikat menyelimuti dirinya maka dia tidak lagi menyaksikan segala sesuatu selain-Nya baik wujudnya maupun perbuatannya, dia fana dari makhluk dan baqa dengan Perantara Nya."
Mir Syarif  Jurjany juga mengungkapkan, "Sirna dan tiadanya sifat-sifat buruk itu disebut fana, sebagaimana keberadaan sifat-sifat yang terbatas dikatakan baqa."

Maqâm Fana

Di dalam Irfan terdapat dua istilah:
1. Maqâm;
2. Hâl.

Maqâm adalah suatu derajat dan tingkatan yang telah dicapai secara ikhtiari (dengan kehendak sendiri) oleh seorang Arif setelah bertahun-tahun melewati segala tempaan, tazkiyah, pensucian diri, dan segala kesulitan. Oleh karena itu, secara umum maqâm itu sangatlah sulit untuk sirna dan tiada. Dengan ungkapan lain, penderitaan dan kesulitan yang dijalani dan dialami secara terus menerus dan bergradual oleh seorang Arif dan pesuluk dalam praktek-praktek kezuhudan dan pengorbanan diri sendiri telah mengantarkannya pada suatu derajat khusus dan maqâm tertentu yang pantas baginya. Dan karena tingkatan-tingkatan dan tahapan-tahapan pensucian diri itu dilaluinya dengan upaya yang sungguh-sungguh dan kerja keras, maka maqâm yang telah digapainya itu tidak akan turun dan sirna dengan mudah.
Sementara pengertian hâl berlawanan dengan maqâm tersebut. Hâl adalah suatu bentuk perubahan yang hadir pada diri seorang arif tanpa kehendaknya sendiri setelah menapaki tahapan-tahapan spiritual. Karena perubahan yang hadir itu datang secara tiba-tiba, maka sangat mungkin akan sirna juga dengan tiba-tiba. Dengan demikian, hâl adalah suatu kualitas spiritual yang tidak bersifat konstan dan terus menerus mengalami suatu perubahan.

Manusia dalam maqâm fana tidak menyaksikan dirinya sendiri,  penghambaannya, kecenderungan-kecenderungannya, harapan-harapannya, dan alam sekitarnya dihadapan Tuhan dan hanya semata-mata memandang Yang Haq.

Dalam kondisi demikian, fana tidak lagi bersesuaian dengan makna leksikalnya yang bernada negatif, bahkan merupakan suatu tingkatan kesempurnaan. Dan inilah yang sebenarnya dimaksudkan oleh para urafa yang menyatakan, "Puncak fana adalah baqa dan abadi di hadapan Yang Haq." Inilah yang dalam istilah Irfan dinamakan sebagai "fana fii Allah" (fana dalam sifat-sifat Tuhan).

Bagaimana Mencapai Maqâm Fana

Ketika antara manusia dan Tuhannya terdapat hijab-hijab berupa dosa-dosa, maksiat, dan egoisme, serta kebergantungan kepada selain-Nya, maka hijab-hijab kegelapan ini akan menjadi penghalang yang sangat besar untuk sampainya seorang hamba di hadapan suci Tuhannya.
Apabila dia tidak memiliki dosa-dosa, hijab-hijab kegelapan, dan kebergantungan kepada selain-Nya serta sirnanya perhatian kepada keinginan diri sendiri, maka sangat mungkin dia menggapai derajat penyaksian sifat-sifat Tuhan secara terbatas. Setelah mencapai tingkatan ini barulah maqâm fana itu akan diraihnya dan hadir dalam dirinya.Yang pasti bahwa tingkatan-tingkatan dan tahapan-tahapan yang kita tidak akan bahas dalam kesempatan ini.
Akan tetapi, maksud dari "liqa ullah" (perjumpaan dengan Tuhan) yang dibungkus dalam kata-kata seperti syuhud, baqa, dan… adalah tidak dengan menggunakan mata lahiriah ini, karena sebagaimana dalam ayat al-Quran dikatakan, "Dia (Tuhan) tidak dapat dilihat dan dijangkau dengan mata. "[3] Dan begitu pula Tuhan tidak dapat diliputi dengan pikiran-pikiran, karena pikiran dan metode rasionalitas itu tidak disebut sebagai syuhud, liqa, dan …; melainkan apabila seorang hamba ingin "menyaksikan" sifat-sifat Tuhan dan mencapai maqâm fana maka -sebagaimana yang difirmankan dalam al-Quran- dia harus meninggalkan segala sesuatu selain Tuhan, melaksanakan amal dan perbuatan shaleh, dan tidak menyekutukan Tuhan.

Seorang hamba yang berkehendak menyaksikan Yang Haq dengan tanpa perantara mestilah dia tidak memandang dirinya sendiri dan segala sesuatu selain-Nya.
Allah Swt berfirman, "Barangsiapa yang berharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia beramal dengan amal yang shaleh dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dalam penghambaan kepada Tuhannya."

Nabi Musa As pun menjadi tidak sadarkan diri atau pingsan ketika berkaitan dengan cerita penyaksian Tuhan. Setelah beliau tersadar dari pingsannya bersabda, "Tuhanku Engkau tidak dapat disaksikan tanpa fana dan memutuskan segala bentuk keterikatan dan kebergantungan."
Akan tetapi, persoalan yang sangat mendasar di sini adalah apa makna dari ungkapan bahwa sebagian pembesar para pesuluk dan arif mengklaim dapat menyaksikan Tuhan Yang Maha Tinggi itu dengan tanpa perantara? Dan secara umum apa yang dimaksud dengan perantara-perantara tersebut?

Untuk memahami dan mengerti makna ungkapan tersebut alangkah baiknya kita memperhatikan dan menyimak pernyataan-pernyataan Imam Khomeni qs dalam kitabnya "Arbain Hadis".
Beliau dalam kitab itu mengungkapkan,
"Setelah mencapai ketakwaan yang sempurna, terputusnya secara total perhatian dan kebergantungan hati dari segala sesuatu yang ada di alam, menyirnakan segala bentuk egoisme dan kecintaan kepada diri sendiri, perhatian sempurna kepada Tuhan, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya, larut dalam kecintaan kepada Yang Maha Suci, melakukan segala bentuk pensucian hati, maka akan muncul dan hadir suatu bentuk pencerahan hati dan cahaya malakuti di dalam hati para pesuluk yang beriringan dengan manifestasi nama-nama dan sifat-sifat Tuhan… dan antara ruh suci pesuluk dan Dzat Suci Tuhan hanya terdapat satu hijab, yakni hijab nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Untuk itu sangatlah mungkin mampu merobek hijab-hijab cahaya (hijab nama dan sifat Tuhan) tersebut dan hanya menyaksikan dirinya bergantung secara mutlak kepada Zat Suci Tuhan, dan dalam penyaksian ini dia "memandang" pancaran eksistensial Tuhan dan kefanaan zatnya sendiri."
Dengan kandungan makna yang kurang lebih sama dengan pernyataan Imam Khomeni qs, di bawah akan diutarakan suatu doa yang mulia, munajat sya'baniyah : "Ya Ilahi anugerahkan kepadaku kesempurnaan penyatuan dengan-Mu … sedemikian sehingga mata hati merobek hijab-hijab cahaya."

Dari berbagai referensi kitab-kitab tua seperti Kitab Syarah Hikam Ibni Athoillah As-Kandariah, Kitab Manhal-Shofi, Kitab Addurul-Nafs dan lain-lain menggunakan istilah-istilah seperti 'binasa' dan 'hapus' untuk memperihalkan tentang maksud fana.
Ulama-ulama lainnya yang banyak menggabungkan beberapa disiplin ilmu lain seperti falsafah menggunakan istilah-istilah seperti 'lebur', 'larut', 'tenggelam' dan 'lenyap' dalama usaha mereka untuk memperkatakan sesuatu tentang 'hal' atau 'maqam' fana ini.
Di dalam Kitab Arrisalah al-Qusyairiah memberikan penjelasan tentang fana.
Fana itu ialah; "Lenyapnya sifat-sifat basyariah(pancaindera)"
"Fananya seseorang dari dirinya dan dari makhluk lain terjadi
dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan tentang makhluk
lain itu……. Sebenarnya dirinya ada dan demikian pula makhluk
lain ada. Tetapi Ia tidak sadar lagi pada mereka dan pada dirinya"
(Al-Qusyairi, t.th: 37)
Maka sesiapa yang telah diliputi Hakikat Ketuhanan sehingga tiada lagi melihat daripada Alam baharu, Alam rupa dan Alam wujud ini, maka dikatakanlah ia telah fana dari Alam Cipta. Fana berarti hilangnya sifat-sifat buruk (maksiat lahir dan maksiat batin) dan kekalnya sifat-sifat terpuji(mahmudah). Bahwa fana itu ialah lenyapnya segala-galanya, lenyap af'alnya/perbuatannya(fana fil af'al), lenyap sifatnya(fana fis-sifat), lenyap dirinya(fan fiz-zat). 

Oleh karena inilah ada di kalangan ahli-ahli tasawuf berkata :
"Tasawuf itu ialah mereka fana dari dirinya dan baqa dengan Tuhannya kerena kehadiran hati mereka bersama Allah".
Sahabat Rasulullah yang banyak memperkatakan tentang 'fana' ialah Sayyidina Ali, salah seorang sahabat Rasulullah yang terdekat yang diiktiraf oleh Rasulullah sebagai 'Pintu Gedung Ilmu'.
Sayyidina Ali sering berkata tentang fana : "Di dalam fanaku, leburlah kefanaanku, tetapi di dalam kefanaan itulah bahkan aku mendapatkan Engkau Tuhan".
Demikianlah 'fana; ditanggapi oleh para kaun sufi secara baik, bahkan fana itulah merupakan pintu kepada mereka yang ingin menemukan Allah(Liqa Allah) bagi yang benar-benar mempunyai keinginan dan keimanan yang kuat untuk bertemu dengan Allah.
 
Firman Allah yang bermaksud : 
"Maka barangsiapa yang ingin akan menemukan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amalan Sholeh dan janganlah ia mempersekutukan siapapun dalam beribadat kepada Allah
(Surah Al-Kahfi)

Untuk mencapai liqa Allah dalam ayat yang tersebut di atas, ada dua kewajiban yang mesti dilaksanakan yaitu :

* Pertamanya mengerjakan amalan sholeh dengan menghilangkan semua- sifat-sifat yang tercela dan menetapkan dengan sifat-sifat yang terpuji iaitu Takhali dan Tahali.

* Keduanya meniadakan/menafikan segala sesuatu termasuk dirinya sehingga yang benar-benar wujud/isbat hanya Allah semata-mata dalam beribadat. Itulah artinya memfanakan diri.

Para Nabi-nabi dan wali-wali seperti Sheikh Abu Qasim Al-Junaid, Abu Qadir Al-Jailani , Imam Al-Ghazali, Ab Yazid Al-Busthomi sering mengalami keadaan "fana" fillah dalam menemukan Allah. Umpamanya Nabi Musa alaihisalam ketika ia sangat ingin melihat Allah maka baginda berkata yang kemudiannya dijawab oleh Allah Taala seperti berikut; "Ya Tuhan, bagaimanakah caranya supaya aku sampai kepada Mu? Tuhan berfirman : Tinggalkan dirimu/lenyapkan dirimu(fana), baru kamu kemari."

Abu Yazid al-Bustami yang sekaligus dipandang sebagai pembawa faham al-Fana’, al-Baqa’, dan al-ittihad.
Ada seorang bertanya kepada Abu Yazid Al-Busthomi; 
* "Bagaimana tuan habiskan masa pagimu?". Abu Yazid menjawab: "Diri saya telah hilang(fana) dalam mengenang Allah hingga saya tidak tahu malam dan siang".

* Satu ketika Abu Yazid telah ditanyai orang bagaimanakah kita boleh mencapai Allah. Beliau telah menjawab dengan katanya:
"Buangkanlah diri kamu. Di situlah terletak jalan menuju Allah. Barangsiapa yang melenyapkan (fana) dirinya dalam Allah, maka didapati bahwa Allah itu segala-galanya".

* Beliau pernah menceritakan sesuatu tentang fana ini dengan katanya;
Apabila Allah memfanakan saya dan membawa saya baqa dengan Nya dan membuka hijab yang mendinding saya dengan Dia, maka saya pun dapat memandangNya dan ketika itu hancur leburlah panca inderaku dan tidak dapat berkata apa-apa. Hijab diriku tersingkap dan saya berada di keadaan itu beberapa lama tanpa pertolongan sebarang panca indera. Kemudian Allah kurnia kan saya mata Ketuhanan dan telinga Ketuhanan dan saya dapat dapati segala-galanya adalah di dalam Dia juga."
Dari segi bahasa al-Fana’ berarti binasa,
Fana’ berbeda dengan al-Fasad (rusak).
Fana’ artinya tidak nampaknya sesuatu, sedangkan Fasad atau rusak adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain . 

Menurut ahli sufi, arti Fana’ adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazimnya digunakan pada diri.
Fana’juga berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat ketuhanan dan dapat pula berarti hilangnya sifat-sifat tercela. 

Mustafa Zahri mengatakan bahwa yang dimaksud Fana’ adalah lenyapnya inderawi atau kebasyariahan, yakni sifat sebagai manusia biasa yang suka pada syahwat dan hawa nafsu.
Orang yang telah diliputi hakikat ketuhanan, sehingga tiada lagi melihat alam baharu, alam rupa dan alam wujud ini, maka ia akan dikatakan Fana’ dari alam cipta atau dari alam makhluk .
Selain itu Fana’ juga dapat berarti hilangnya sifat-sifat buruk lahir bathin.
Sebagai akibat dari Fana’ adalah Baqa’, secara harfiah Baqa’ berarti kekal sedangkan dalam pandangan kaum sufi, Baqa’ adalah kekalnya sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia. Karena sifat-sifat kemanusiaan (basyariah) telah lenyap maka yang kekal dan tinggal adalah sifat-sifat ilahiyah atau ketuhanan. Fana’ dan Baqa’ ini menurut ahli tasawuf datang beriringan sebgaimana ungkapan mereka :”Apabila nampak nur ke Baqa’an, maka Fana’lah yang tiada dan Baqa’lah yangkekal”. Juga ungkapan mereka : “Tasawuf itu adalah mereka Fana’ dari dirinya dan Baqa’ dengan Tuhannya, karena kehadiran mereka bersama Allah”.

Abu Yazid al-Bustami berpendapat bahwa manusia hakikatnya se-esensi dengan Allah, dapat bersatu dengan-Nya apabila ia mampu melebur eksitensi keberadaan-Nya sebagai suatu pribadi sehingga ia tidak menyadari dirinya.

Menurut al-Qusyairi, Fana’ yang dimaksud adalah : Fana’nya seseorang dari dirinya dan makhluk lain, terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan tentang mahkluk lain itu. Sebenarnya dirinya tetap ada dan demikian pula mahkluk lain ada, tetapi ia tidak sadar lagi pada mereka dan pada dirinya. 

Diantara kaum sufi ada yang berpendapat bahwa manusia dapat bersatu dengan Tuhan. Seorang sufi yang sampai pada tingkat ma’rifah akan melihat Tuhan dengan mata sanubarinya.

Menurut al-Syathi, proses penghancuran sifat-sifat basyariah, disebut Fana’ al-sifat dan proses penghancuran tentang irodah dirinya disebut Fana’ al-irodah serta proses penghancuran tentang adanya wujud dirinya dan zat yang lain disekitarnya disebutFana’ al-nafs

Apabila seorang sufi telah sampai kepada Fana’ al-nafs yaitu tidak disadarinya wujud jasmaniyah, maka yang tinggal adalah wujud rohaniahnya dan ketika itu ia bersatu dengan Tuhan secara ruhani.

Dari berbagai uraian tersebut diketahui bahwa yang dituju dengan Fana’ dan Baqa’ adalah mencapai persatuan secara rohaniah dan bathiniah dengan Tuhan, sehingga yang disadarinya hanya Tuhan dalam dirinya. Dengan demikian materi manusianya tetap ada, sama sekali tidak hancur, demikianlah juga alam sekitarnya, yang hilang atau hancur hanya kesadaran dirinya sebagai manusia, ia tidak lagi merasakan jasad kasarnya.

Al-Kalabazi (wafat 380 H) menjelaskan bahwa keadaan Fana’ itu tidak bisa berlangsung terus-menerus sebab kelangsungannya yang terus-menerus akan menghentikan organ-organ tubuh untuk melaksanakan fungsinya sebagai hamba Allah dan peranannya sebagain khalifah di muka bumi .
Bila seseorang telah Fana’ atau tidak sadar lagi tentanmg wujudnya sendiri dan wujud lain disekitarnya pada saat itulah ia sampai kepada Baqa’ dan berlanjut kepada Ittihad.

Fana’ dan Baqa’ menurut sufi adalah kembar dan tak terpisahkan sebagaimana ungkapan mereka : “Siapa yang menghilangkan sifat-sifatnya, maka yang ada adalah sifat-sifat Tuhan”. Dengan tercapainya Fana’ dan Baqa’ maka seorang sufi dianggap telah sampai kepada tingkat ittihad atau menyatu dengan yang Maha Tunggal (Tuhan) yang oleh Bayazid disebut “Tajrid Fana’ fi at- Tauhid” yaitu dengan perpaduan dengan Tuhan tanpa diantar oleh sesuatu apapun. 

Dalam ajaran ittihad, yang dilihat hanya satu wujud meskipun sebenarnya ada dua wujud yaitu Tuhan dan manusia. Karena yang dilihat dan yang dirasakan hanya satu wujud maka dalam ittihad ini bisa jadi pertukaran peranan antara manusia dengan Tuhan.
Dalam suasana seperti ini mereka merasa bersatu dengan Tuhan, suatu tingkatan dimana antara yang mencinta dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah satu memanggil yang lain dengan kata-kata “Hai Aku” . Dalam keadaan Fana’ si sufi yang bersangkutan tidak mempunyai kesadaran lagi sehingga ia berbicara atas nama Tuhan.

Al-Bustami ketika telah Fana’ dan mencapai Baqa’ maka dia mengucapkan kata-kata ganjil seperti : “Tidak ada Tuhan melainkan aku, sembahlah aku, Maha suci aku, Maha suci aku, Maha besar aku”. 
Selanjutnya diceritakan bahwa seorang lelaki lewat rumah Abu Yazid Al-Bustami dan mengetok pintu, Abu Yazid bertanya : “Siapa yang engkau cari ?” jawabnya : “Abu Yazid”. Lalu Abu Yazid mengatakan : “Pergilah, dirumah ini tidak ada kecuali Allah yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi”.  Ittihad ini dipandang sebagai  penyelewengan (inhiraf) bagi orang yang toleran, akan tetapi bagi orang yang keras berpegang pada agama hal ini dipandang sebagai suatu kekufuran.
Faham ittihad ini selanjutnya dapat mengambil bentuk hulul dan wahdat al-wujud

Ittihad juga adalah hal yang sama yang dijadikan faham oleh al-Hallaj (lahir 224 H / 858 M) dengan fahamnya al-Hulul yang berarti penyatuan meliputi :
 
a) penyatuan substansial antara jasad dan ruh;
b) penyatuan ruh dengan Tuhan dalam diri manusia;
c) inkarnasi suatu aksiden dalam substansinya;
d) penyatuan bentuk dengan materi pertama dan
e) hubungan antara suatu benda dengan tempatnya.

Meskipun demikian terdapat perbedaan al-Hulul dengan ittihad yaitu dalam hulul, jasad al-hallaj tidak lebur sedangkan dalam ittihad dalam diri al-Bustami lebur dan yang ada hanya diri Allah.
Dan dalam ittihad yang dilihat hanya satu wujud dan dalam hulul ada dua wujud yang bersatu dalam satu tubuh. Faham sufi yang juga dekat dengan faham Ittihad ini adalah dengan faham wahdat al-wujud yang diperkenalkan oleh Ibn Araby wafat tahun 638 H/ 1240 M). Faham wahdat al-wujud ini menurut Harun Nasution adalah merupakan kelanjutan dari faham al-Hulul. Konsep wahdat al-wujud ini memahami bahwa aspek ketuhanan ada dalam tiap mahkluk, bukan hanya manusia sebagaimana yang dikatakan al-Hallaj .
Paham fana’, Baqa’, dan Ittihad menurut kaum sufi sejalan dengan konsep pertemuan dengan Allah.
 
Fana’ dan Baqa’ juga dianggap merupakan jalan menuju pertemuan dengan Tuhan sesuai dengan
Firman Allah SWT yang bunyinya : “Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada-Nya” (Q.S. al-Kahfi, 18 : 110) Hal yang lebih jelas mengenai proses Ittihad dapat pula kita simak melalui ungkapan al-Bustami : “Pada suatu hari ketika saya dinaikkan ke hadirat Allah, Ia berkata, “Hai Abu Yazid, mahkluk-Ku ingin melihatmu, aku menjawab, hiasi lah aku dengan ke Esaan itu, sehingga apabila mahkluk itu melihatku mereka akan berkata :“Kami tetap melihat engkau, maka yang demikian adalah engkau dan aku tidak ada disana”. Hal ini merupakan ilustrasi proses terjadinya Ittihad, Demikian juga dalam ungkapan Abu Yazid :
“Tuhan berkata : semua mereka kecuali engkau adalah mahlukku, aku pun berkata : Aku adalah engkau, engkau adalah aku dan aku adalah engkau. Sebenarnya kata-kata “Aku” bukanlah sebagai gambaran dari diri Abu Yazid, tetapi gambaran Tuhan, karena ia telah bersatu dengan Tuhan sehingga dapat dikatakan bahwa Tuhan bicara melalui lidah Abu Yazid sedang Abu Yazid tidak mengetahui dirinya Tuhan.

Al-Junaid Al-Bagdadi yang menjadi Imam Tasawuf kepada golongan Ahli Sunnah Wal-Jamaah pernah membicarakan tentang fana ini dengan kata-kata beliau seperti berikut:

* Kamu tidak mencapai baqa(kekal dengan Allah)
sebelum melalui fana(hapus diri)
* Membuangkan segala-galanya kecuali Allah dan 'mematikan diri' ialah kesufian.
* Seorang itu tidak akan mencapai Cinta kepada Allah (mahabbah) hingga dia memfanakan dirinya. Percakapan orang-orang yang cinta kepada Allah itu pandangan orang-orang biasa adalah dongeng sahaja.
3. Himpunan perkataan Tentang Fana
A. Sembahyang orang yang cinta (mahabbah) ialah memfanakan diri sementara sembahyang orang awam ialah rukuk dan sujud.
B. Setengah mereka yang fana (lupa diri sendiri) dalam satu tajali zat dan kekal dalam keadaan itu selama-lamanya. Mereka adalah Majzub yang hakiki.
C. Sufi itu mulanya satu titik air dan menjadi lautan. Fana nya diri itu meluaskan keupayaannya. Keupayaan setitik air menjadi keupayaan lautan.
D. Dalam keadaan fana, wujud Salik yang terhadap itu dikuasai oleh wujud Allah yang Mutlak. Dengan itu Salik tidak mengetahui dirinya dan benda-benda lain. Inilah peringkat Wilayah(Kewalian). 
Perbedaan antara Wali-wali itu ialah disebabkan oleh perbedaan tempo masa keadaan ini. Ada yang merasakan keadaan fana itu satu saat, satu jam, ada yang satu harian seterusnya. Mereka yang dalam keadaan fana seumur hidupnya digelar majzub. Mereka masuk ke dalam satu suasana dimana menjadi mutlak.
E. Kewalian ialah melihat Allah melalui Allah. Kenabian ialah melihat Allah melalui makhluk. Dalam kewalian tidak ada bayang makhluk yang wujud. Dalam kenabian makhluk masih nampak di samping memerhati Allah. Kewalian ialah peringkat fana dan kenabian ialah peringkat baqa
F. Tidak ada pandangan yang pernah melihat Tajalinya Zat. Jika ada pun ia mencapai Tajali ini, maka ianya binasa dan fana kerana Tajali Zat melarutkan semua cermin penzohiran. Firman Allah yang bermaksud : Sesungguhnya Allah meliputi segala-galanya.(Surah Al-Fadhilah:54)
G. Tajali berarti menunjukkan sesuatu pada diriNya dalam beberapa dan berbagai bentuk. Umpama satu biji benih menunjukkan dirinya sebagai beberapa ladang dan satu unggun api menunjukkan dirinya sebagai beberapa unggun api.
H. Wujud alam ini fana (binasa) dalam wujud Allah. Dalilnya ialah Firman Allah dalam Surah An-Nur:35 yang bermaksud;
"Cahaya atas cahaya, Allah membimbing dengan cahayanya sesiapa yang dikehendakinya." dan "Allah adalah cahaya langit dan bumi."
I. Muraqobah ialah memfanakan hamba akan afaalnya dan sifatnya dan zatnya dalam afaal Allah, sifat Allah dan zat Allah.
J. Al-Thomsu atau hilang yaitu hapus segala tanda-tanda sekalian pada sifat Allah.Maka Yaitu satu bagai daripada fana.
5. Tajuk-tajuk yang berkaitan dengan Fana
* Mikraj Muhammad
* Alamat Sampai Kepada Maqam Yang Tinggi Adalah sangat mungkin manusia mencapai suatu derajat yang antara dia dan Tuhannya hanya terhijabi cahaya nama dan sifat Tuhan. Dan juga sangatlah mungkin manusia menggapai suatu tingkatan yang tidak ada lagi hijab-hijab cahaya antara dia dan Zat Suci Tuhan. Yang sempurna akan mampu melewati hijab-hijab cahaya ini dan meraih kefanaan yang sempurna.
Dalam kondisi puncak spiritual ini, apa yang disaksikannya adalah hanya Yang Maha Suci. Apa yang didengarnya tidak lain adalah bersumber dari Yang Maha Benar. Dia melihat dengan "mata" Tuhan, mendengar dengan "telinga" Tuhan, dan berucap dengan "lisan" Tuhan. 

Inilah puncak dan akhir fana dalam Tuhan (fana fillah) Insya Allah.... aamiiin
penghujung Ilmu, Adalah Ilmu Penamat, Penutut Dan Penghabisan Segala Ilmu!
Mereka yang berjaya sampai kepada tahap makrifat itu, adalah mereka-mereka yang telah mencapai maqam atau tingkatan ilmu kerohanian yang tertinggi.
 
Tahap atau maqam ilmu makrifat yang tertinggi itu, adalah tahap pencapaian atau tahap persinggahan ilmu pada garis penamat yang penghabisan dan terakhir.

Inilah yang dikatakan pencarian di penghujung tujuan. Ucapan, perasaan atau pengakuan qalbu di ujung pencarian itu, adalah qalbu yang meluap, pecah dan meletup dengan ucapan
La haulawala kuuwatailla billahhilaliyilzim” (Tiada daya dan upaya kita, melainkan segalanya dari Allah).
Perkataan yang lahir dari pandangan qalbu itu, tidak lagi boleh menurut pengertian akal. Bilamana pengertian qalbu, tidak lagi dapat dibaca oleh akal itu, Maka lahirlah perkataan “aku tidak ada”. Bahasa pengakuan hati atau bahasa pengakuan qalbu yang makrifat kepada Allah Taala itu, tidak lagi boleh berdalil, bersandar, berpaut atau bergantung lagi pada akal!.
 
Segala ikhtiar atau usaha akal kita itu, sesungguhnya sudah berakhir, binasa dan karam karena tenggelam dalam lautan makrifat Allah. Inilah yang dikatakan penamat, penutup dan ibu segala ilmu!.

Sekiranya tuan-tuan lalu ditepi sungai, saya minta tuan-tuan kutip seketul batu dan campakkan ia kedalam sungai yang dalam. Saya mau bertanya, apakah lagi yang tuan-tuan nampak dan apakah lagi yang terlihat, cuba jawab?…
Begitulah dalil dan contohnya jika diri kita, kita tengelamkan atau campakkan kedalam dasar lautan makriffat!. Makrifat (mengenal Tuhan) itu, adalah tauhid.
Tauhid itu, adalah hijrah akal menuju qalbu dalam mengEsakan Allah!. Hijrah akal menuju qalbu, itulah intisari ilmu makrifatullah. Hijrah akal menuju qalbu itu, adalah hijrah jahil kepada alim.
Hijrah akal kepada perbicaraan qalbu para-para arifin billah itu, membawa kita kepada ilmu mengEsakan Allah (penutup segala ilmu). Hijrah akal kepada makam qalbu inilah yang menyebabkan pula di tuduh ilmu salah, kafir, sesat dan Zindik.

Maaf Kiranya kalau kurang berkenan.

Kebanyakkan dari ulama kita, tidak ramai yang dibedahkan dengan pengajian ilmu makrifat (ilmu rohani).
Ketidak pakaran dalam ilmu makrifat itu, bagaimana mungkin mereka boleh menghukum ulama-ulama yang mengajar ilmu makrifat itu, sesat atau salah?.
Jika sekiranya pihak ulama mendakwa yang mereka juga memiliki kepakaran dalam bidang ilmu makrifat,
cuba jelas dan terangkan kepada kami, dimanakah sekolah, dimanakah pondok atau dimanakah pusat-pusat pengajian tinggi yang mengajar ilmu makrifat.
Mari kita tanya ulama fiqih, dimana mereka belajar ilmu makrifat, supaya kita juga boleh dengan beramai-ramai turut serta menuntut ditempat yang didakwa!. Sedangkan tidakkah kita tahu yang bidang ilmu makrifat itu, adalah bidang ilmu yang wajib, bidang ilmu fardhu ain (suatu bidang ilmu yang wajib) bagi setiap umat yang bergelar Islam!.
Fakta atau kenyataan sesat yang tuan-tuan fiqih bawa itu, dari mana asasnya dan dimana ulama-ulama fiqih, belajar atau berguru ilmu makrifat, sehingga dapat menuduh sesat?. Saya sebagai pengarang ilmu makrifat yang sudah berkecimpung dalam bidang ini selama 38.00 tahun, saya tidak pernah jumpa ada pusat pengajian ilmu makrifat, guru atau sekolah ilmu makrifat, baik didalam negeri maupun diluar negara!. Dengan berbekalkan ilmu syariat, ilmu fiqih atau dengan berbekalkan dengan ilmu akal, apakah layak tuan-tuan fiqih menuduh, menangkap dan menghukum golongan makrifat, sebagaimana yang berlaku kepada pentadbiran-pentadbiran terdahulu?
Namun pesan dan nasihat saya kepada para arifin billah sekalian yang ada, terutama kepada yang memperjuangkan ilmu makrifat, hadapilah kenyataan pemerintah dan golongan fiqih hari ini dengan tabah dan jangan sekali-kali berputus asa. Kayu ukur atau tanda aras pentadbiran ulama atau pemerintah yang ada pada dunia hari ini, untuk menghukum adalah melalui bacaan ilmu akal (hukum fiqih). Mereka tidak sekali-kali memandang pada bacaan ilmu rohani (Ilmu makrifat). Mereka tidak faham apa itu makrifat! (diri yang fana’, diri yang lebur, diri yang baqa’ atau diri yang karam dengan Allah!).
Bilamana tidak faham dan tidak arif dalam bidang ilmu fana’ atau ilmu baqa’, mana mungkin golongan yang beilmu fiqih itu dapat menyelami ilmu makrifat!.
Bilamana tidak faham ilmu makrifat, itulah makanya tuduhan demi tuduhan mereka lontarkan kepada pengamal ilmu makrifat!. Mereka itu, hanya berpandukan kayu pengukur ilmu fiqih, untuk menghukum dan menuduh kesesatan ilmu makrifat. Yang menjadi mangsa ulama fiqih itu, adalah orang-orang yang berilmu makrifat. Itulah makanya golongan makrifat itu, selalu dituduh sesat dan selalu dipandang salah dimata golongan ahli fiqih. Sesungguhnya bidang ilmu makrifat itu, Adalah cabang ilmu rohani (ilmu mantik) yang tidak memungkinkan difahami oleh kebanyakan Ulama. 

Jika kita tidak faham ilmu makrifat, sekurang-kurangnya jangan mudah menuduh sesat kepada golongan makrifat!
Ulama keluaran dari pusat pengajian tinggi itu, hanya belajar dalam bidang ilmu fiqih sedangkan mereka tidak pernah dididik atau didedah dengan ilmu makrifat!. Mana mungkin akan memahami ilmu makrifat!.
Namun siapa yang akan peduli dan siapakah yang akan faham luapan hati orang-orang makrifat!,
Saran demi saran diutarakan kepada pucuk pimpinan agama, namun keluhan serta ucapan kita itu, sekadar menjadi menjadi hiasan mata dan hawa telinga mereka semata-mata. Pun begitu, kita tidak boleh sekali-kali memandang rendah atau menyalahkan penjawab awam atau menyalahkan para ulama fiqih dalam hal ini. Mereka-mereka itu, terdidik dan terasuh dengan ilmu fiqih tanpa didedahkan dengan ilmu makrifat. Selayaknyalah mereka begitu!.

Karena ilmu makrifat itu, adalah persinggahan terakhir segala ilmu! (ibu segala ilmu).

Ilmu Makrifat Itu, Adalah Ilmu Yang Melewati Hayalan Akal!

Konsep ilmu ketuhanan orang arifin billah yang berilmu makrifat itu, adalah konsep ilmu yang melewati hayalan akal atau mengatasi kenyataan akal. 

Konsep ilmu ketuhanan para-para arifin billah yang berilmu makrifat itu, adalah berlandaskan hanya dengan satu jalan, satu konsep, satu kaedah dan satu cara, yaitu jalan fana’, jalan baqa’ dan jalan berserah diri kepada Allah Taala.
 
Berkonsepkan “hanya Allah yang wujud, hanya Allah yang ujud dan hanya Allah yang maujud”.
Kenyataan atau pendapat ahad itu,
bukan berlandas atau bukan berkonsepkan kepada konsep hulul atau konsep wahdatul wujud!.
 
Konsep ilmu makrifat itu, adalah konsep mengEsakan Allah Taala. Konsep mengEsakan Allah Taala itu, adalah konsep yang tidak berdalil kepada sembarang konsep dan konsep yang tidak ketergantungan kepada dalil akal!. 

Allah itu, adalah Allah. Allah yang tidak ada seumpama, tidak seumpama sebagaimana yang dipikir oleh akal, oleh angan-angan atau hayalan.

Makrifat itu, adalah konsep yang sudah tengelam dalam lautan makrifat kepada Allah!. Konsep yang menenggelamkan diri dalam lautan hadiah (Ahad atau Esa).Yaitu suatu konsep yang semestinya tidak difahami oleh akal!. Konsep yang melewati hayalan atau melewati kenyataan akal!.
Untuk memahaminya hendaklah turun kedalam kolam air makrifatullah!.

Ilmu Makrifat Bukan Konsep Yang DiBuat-Buat! (Tetapi Dari Ilmu Rasulullah Dan Iman Ghazali Sendiri). 
Pendapat, pegangan, pengakuan serta pemahaman ilmu makrifat itu, sesungguhnya bukan dibuat-buat atau diada-adakan tetapi hanya, adalah datangnya dari Baginda Rasulullah dan disambung oleh para sahabat dan Iman Al-Ghazali sendiri. Namun tidak ramai yang mendalami, menyelami dan memahaminya!. Konsep ini, adalah satu-satunya konsep yang boleh menunjang tauhid kedalam qalbu para arifin billah, sebagaimana imam Ghazali sendiri. Inilah makam tauhid, makam ilmu rasa dan makam ilmu para arifin billah terdahulu!. Yang menjadi pegangan, pengakuan dan yang menyebabkan menunjangnya keyakinan tauhid kepada Allah Taala. 

Ilmu makrifat itu, merupakan inti tertinggi para ulama arifin billah terdahulu. Yang mana sesungguhnya tidak sedikitpun menjadi percangahan atau berlawanan dengan konsep Ahli Sunnah Waljamaah!.
Hanya bagi yang tidak arif dengan ilmu makrifat saja yang memandang bahwa ilmu makrifat itu, salah atau sesat!. Sedangkan hanya melalui ilmu makrifat sajalah satu-satunya ilmu yang boleh membawa, mengarah dan menghala hati-hati kita kepada arah meEsakan Allah Taala.
 
Inilah konsep dan inilah ilmu yang dibawa oleh Baginda Rasulullah, semasa mula-mula Baginda berpindah dari Kota Makkah ke Kota Madinah!. Yaitu konsep ilmu tauhid atau konsep ilmu megEsakan Allah Taala.
Soal:-Bagaimanakah caranya untuk mengatakan yang Allah itu benar-benar Esa?.
Untuk menyatakan yang Allah itu benar-benar Esa,
ianya bukan dengan sebutan kalimah syahadah, bukan dengan mengerjakan ibadah sembahyang, puasa, zakat atau bukan dengan ibadah perkerjaan ibadah haji!.
Menyatakan keEsaan Allah itu, adalah hendaknya dan sepatutnya sebelum melafas kalimah syahadah, sebelum ibadah sembahyang atau sebagainya!.
Menyatakan Allah itu, bukan perkara untuk dinyatakan sesudah sembahyang atau bukan untuk dinyatakan didalam waktu ketika tengah sembahyang, apa lagi diketika sesudah sembahyang!.
Bagi menyatakan Allah itu, bukannya semasa didalam berpuasa atau selepas berbuka puasa!. Ataupun bukan didalam ketika menyebut perkataan syahadah!.
Ilmu makrifat itu, adalah ilmu menyatakan Allah (ilmu menyatakan keEsaan Allah), ilmu mengEsakan Allah dan ilmu menzahirkan Allah, dengan nyata dan senyata-nyatanya!.
Bukan ilmu hanya bercakap dibibir!.
Kita boleh menyebut perkataan syahadah (perkataan mentauhidkan Allah) sebanyak mungkin yang kita mampu menyebut, tetapi Islam itu bukan agama bunyi atau agama suara yang keluar dari lidah atau dibibr!. Islam itu, adalah agama benar, agama nyata dan agama pasti!.
Ilmu makrifat itu, adalah ilmu yang tidak sekali-kali mengasingkan Tuhan dengan alam!.
Imu makrifat itu, adalah ilmu mengEsakan Allah, Yaitu ilmu yang tidak menduakan Allah (tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu). Ilmu makrifat itu, adalah ilmu yang tidak menwujudkan Allah dengan wujud yang lain selain Allah Taala. Ilmu makrifat itu, adalah ilmu yang tidak memandang bahawa Allah dan makhluk itu, dua wujud yang berbeza atau “dua yang bersifat wujud”. Dari kaca mata ilmu makrifat, barangsiapa yang memandang, barangapan atau beriktikad bahawa adanya wujud Allah dan adanya wujud alam makhluk, bersama-sama dengan wujud Allah, maka hukumnya adalah syirik. Allah lain dan makhluk lain itu, maka terputuslah seluruh kesedaran batinnya terhadap Allah Taala dan terputus juga kesadaran rohaninya terhadap makhluk. Tetapi jangan pula hendaknya disatukan makhluk dengan Allah!, Ingat itu………………….
Allah dengan makhluk itu, bercerai tidak dan bersatu tiada,
ini adalah terjemahan mengikut suluhan bahasa makrifat dan bahasa rohani yang tidak sama sekali difahami atau dimengerti oleh akal, apa lagi oleh ahl ilmu feqah. Allah dan makhluk itu, bercerai tidak dan berpisah tiada!. Sebagaimana kata orang tua-tua kita dahulu, belajar ilmu makrifat itu, susahnya “seumpama mati”, manakala setelah mengenal makrifat, senangya “seumpama tidur”. Belajar ilmu makifat itu, senang, mudah dan tak payah. Belajar ilmu makrifat atau ilmu megenal Allah.
Apa tidaknya, terang cahaya mata hari itu, terang lagi Allah, dekatnya mata putih dengan mata hitam itu, dekat lagi Allah, mana mungkin megenal Allah itu payah!. Mengenal Allah itu, adalah ilmu yang paling senang dan paling mudah, berbanding dengan ilmu-ilmu yang lain. Allah tidak terhijab atau terdinding, tidak tertutup atau terhalang oleh seuatu!. Masakan kita tidak mengenal Allah dengan mudah!.
Mudahnya sekolah tadika atau sekolah kafa
itu, mudah dan senang lagi ilmu mengenl Allah!.
Kenapa tidak kenal?……………………………………….
Ini bukan bertujuan untuk Menerapkan nilai-nilai hulul atau unsur-unsur wahdatul wujud!. Ini semata-mata bertujuan untuk membuka mata semua pihak-pihak yang mendakwah.
Tafsir kalimah ahad, isinya adalah suatu perkara yang berbeda berbanding dengan tafsiran kalimah wahdatul wujud!. 

Ilmu Makrifat Sejati tidak menyamakan Allah dengan makhluk, tetapi tidak juga memisahkan dengan makhluk!.
Seumpama “asap bukan api, tetapi tidak lain dari api”. Fahami itu baik-baik.