
Opini Tharekat Samaniyah dari Thailand ke Palembang sampai di Betawi.
Pada tahun 2014, pengurus dan anggota Majelis Agama Islam Wilayah Songkhla, Thailand yang berjumlah 36 orang, terdiri atas laki-laki dan perempuan yang dipimpin oleh Tuan Haji Zakaria Bin Saleh, mereka melakukan kunjungan dan pertemuan silaturahmi dengan pengurus MUI DKI Jakarta dan Jakarta Islamic Centre (JIC) di Ruang Muallim KH. M. Syafi'i Hadzami. Pertemuan silaturahmi ini difasilitasi oleh Biro Pendidikan dan Mental Spiritual (Dikmental) Provinsi DKI Jakarta.
Namun yang menarik perhatian pada pertemuan silaturahim ini adalah penjelasan Abdul Halim Lateh, salah seorang pengurus Majelis Agama Islam Wilayah Songkhla, pada sesi dialog. Sambil tangan kirinya memegang tulisan Risalah Hidayatus Salikin fi Suluk Maslakil Muttaqin karya Syekh Abdus Samad Al-Palimbani, ia membacakan sebuah naskah bertulisan Jawi (Arab-Melayu).
Menurut naskah tersebut, Syekh Abdus Samad Al-Palimbani dikuburkan di sebuah kampung (Kampung Bangkrak), Distrik Chana (Melayu: Chenok), Songkhla, Thailand. Menurut Abdul Halim Lateh, yang dikuburkan di Chana adalah hanya tubuh Syekh Abdus Samad Al-Palimbani, sedangkan kepalanya dibawa ke Bangkok oleh tentara Siam. Sebab kematiannya karena ia datang ke Thailand untuk berperang karena mendukung perjuangan kawannya, Syekh Daud bin Abdullah Al-Fatani, dan kaum Muslimin Pattani yang berjihad melawan tentara Siam. Dalam peperangan, Syekh Abdus Samad Al-Palimbani ditangkap tentara Siam dan kemudian dihukum pancung. Penjelasan Abdulhalim Lateh yang mahir berbahasa Melayu ini memperkuat tesis bahwa ulama yang bernama lengkap Abdus Shamad bin Abdullah Al Jawi Al-Palimbani (sumber-sumber Arab menamakannya Sayyid Abdus Shamad bin Abdurrahman Al-Jawi) wafat sebagai syahid di medan perang. Karena selama ini kematiannya memang banyak versi.
Versi lain menyebut bahwa ulama kelahiran Palembang ini diduga meninggal di Arab Saudi setelah menyelesaikan karya terakhirnya Sairus Salikin ila ‘Ibadati Rabbil ‘Alamin. Abdul Halim Lateh telah menyebut nama dua orang ulama yang saling bersahabat, yaitu Syekh Abdus Samad Al-Palimbani dan Syekh Daud bin Abdullah Al-Fatani.
Inilah yang menarik untuk dijelaskan terkait dengan judul tulisan saya kali ini. Syekh Daud bin Abdullah A-Fatani adalah seorang ulama terkemuka, pengikut dan penyebar Tarekat Sammaniyah di Thailand Selatan. Ia lahir pada tahun 1740M, di Kresik, Pattani, Thailand Selatan. Ia kemudian belajar agama ke Aceh, kemudian ke Tanah Suci dan berguru kepada Syaikh Samman, pendiri Tarekat Sammaniyah. Seperti sahabatnya Syekh Abdus Shamad Al-Palimbani, ia juga produktif menulis meliputi ilmu fiqih, ushuluddin, dan tasawuf.
Sedangkan Syekh Abdus Samad Al Palimbani merupakan ulama Melayu Indonesia yang paling menonjol di jaringan ulama abad ke-18 Masehi. Ia banyak menghabiskan aktivitasnya sebagai penulis dan pengajar di kota Makkah dan Madinah. Sebagian karya-karyanya dijadikan bahan pengajaran di banyak majelis-majelis taklim bahkan sampai hari ini, seperti kitab Hidayatus Salikin dan kitab Sairus Salikin. Yang paling dikenal juga, ia adalah salah satu tokoh pembawa dan penyebar Tharekat Samaniyah di Indonesia.
Dikisahkan, dari Palembang, ia melanjutkan studinya ke Kota Mekkah dan Madinah bersama sahabat-sahabatnya dari Palembang, yaitu Kemas Ahmad bin Abdullah dan Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin. Di Haramain ini, ia belajar selama 20 tahun kepada ulama-ulama terkenal. Bidang studi yang paling digemarinya adalah Tauhid dan Tasawuf yang ia belajar langsung kepada Syekh Muhammad Samman. Kepada Mursyid inilah ia mengambil Tharekat Samaniyah yang zikirnya dikenal dengan Ratib Saman. Ia kemudian menyebarkan Tharekat Samaniyah dan Ratib Saman di Palembang.
Di Betawi, menurut Siti Asiyah di dalam karya ilmiahnya menjelaskan bahwa Tharekat Samaniyah dan Tradisi Manaqib Saman yang berjasa menyebarkan Tharekat Samaniyah dan Ratib Saman adalah Syaikh Abdur Rahman Al-Batawi Al-Mashri. Ia ulama Timur Tengah yang kemudian bermukim di Betawi di daerah Petamburan.
Syaikh Abdur Rahman Al-batawi Al-Mashri adalah kawan seperguruan dengan Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani, keduanya murid Syaikh Samman. Selain Syaikh Abdur Rahman Al-Mashri, dilanjutkan Tokoh lain adalah Guru Mughni Kuningan. Ia merupakan ulama Betawi terkemuka yang menyebarkan Ratib dan zikir Samman di masyarakat Betawi sepulang ia belajar di Tanah Suci. Murid-murid Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani juga turut berjasa menyebarkan Tarekat Samaniyah di tanah Betawi. Begitu gigihnya murid-murid Tarekat Samaniyah menyebarkan amalannya di Tanah Betawi sehingga sebagian besar masyarakat Betawi saat itu menjadi pengikutnya atau menjalankan amalan-amalannya sehingga Tharekat Samaniyah disebut sebagai Tharekatnya orang Betawi.
Namun, Tharekat Samaniyah saat ini mulai jarang diikuti orang Betawi. Penyebabnya adalah pengaruh dari pihak-pihak yang yang menyatakan bahwa ada amalan dan ucapan di Tarekat Samaniyah yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam dan dikhawatirkan merusak akidah. Tetapi, munculnya pernyataan tersebut lebih disebabkan ketidakpahaman mereka terhadap bacaan-bacaan dan amalan Tarekat Samaniyah.
Misalnya, di dalam kitab Manaqib Syekh Samman terdapat kalimat yang berbunyi “Siapa yang masuk rumahku, maka akan masuk surga”. Memang jika kata “rumah” di kalimat tersebut diartikan secara tekstual, kalimat tersebut merusak akidah. Padahal, pengertian rumah di sini bukanlah rumah sebagai tempat tinggal Syekh Samman, melainkan rumah untuk ibadah, yaitu musholla atau masjid.
Begitu pula tentang Tawassul. Namun bukan hanya pengaruh dari pendapat-pendapat tersebut yang menyebabkan Tarekat Samaniyah mulai jarang diikuti oleh orang Betawi. Tetapi juga disebabkan ketidakmampuan murid atau penyebar Tarekat Samaniyah sekarang ini untuk untuk mematahkan tuduhan-tuduhan pihak luar terhadap amalan-amalan juga ucapan-ucapan pemimpin Tarekat Samaniyah yang dianggap sesat. Padahal, para penyebar dan murid-murid Tarekat Samaniyah di Indonesia pada periode awal merupakan para pejuang yang mengobarkan semangat, turut berjuang bahkan memimpin jihad fi sabilillah melawan penjajah dan melawan kaum kafir yang memerangi mereka. Syekh Abdus Samad Al-Palimbani merupakan tokoh Tarekat Samaniyah yang banyak meluruskan pemahaman Tharekat yang berlebihan dan yang dianggap dapat merusak akidah.
Empat Serangkai dari Tanah Jawi, begitu lah sebutan untuk empat Murid Syekh Samman Al Madani, yakni Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Syekh Abdussamad Al Palimbangi, Syekh Abdul Wahab Bugis, dan Syekh Abdurrahman Al Masri yang hidup antara 1700-1800 M
Dari sumber penelusuran penulis yaitu KH Abdul Fatah Syafi'i Spd. Estafet Penyebaran Tharekat di Betawi di era kemerdekaan yaitu seorang Ulama dari Palembang (versi lain Riau), KH Moch Noor Syafi'i atau Kong Guru Kecil yang tersebar di wilayah Slipi, Kota bambu, Kemanggisan, Palmerah, Tomang, Tanah abang, Petamburan dan perbatasan Tangerang. Tahun 1977 penulis masih merasakan jika khataman Alquran tidak lupa membaca Ratib Saman.
Makam Syaikh Abdur Rahman Al-Batawi Al-Mashri terletak di depan mesjid Al Islam, jalan KS Tubun no 61 Kelurahan Petamburan Jakarta Pusat