Lebaran




Bertemu dengan orang tua, saudara, kerabat dan teman terdekat untuk saling  memaafkan. 

Masalahnya hanya mau bertemu dengan orang yang sejalan saja. Dan yang tidak sepaham dan hanya teman saja tidak akan ditemuinya. 

Padahal yang diperlukan saling memaafkan adalah yang punya dan ada Rasa ganjalan di hati, yang ada dendam atau kebencian, yang ada jarak dan yang tak terjembatani dalam hubungan.

Dengan Hari raya inilah waktunya untuk saling memaafkan.

Membalas akan membuatmu sejajar dengan musuhmu, tetapi memaafkannya akan menempatkanmu di atas musuhmu. -- HB IX

Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Lokasi : Mesjid Al Ridwan. Kota bambu Selatan Jakarta Barat 



Orangtua yang telah tiada



Ibu..wanita hebat nan kuat. Senantiasa menjadi muslimah taat. Seorang diri yang mendidik dan merawat kasih sayang pada kami tiada berkarat.

Ayah...kami selalu rindu padamu. Ingin memeluk tubuh yang hebat itu. Setiap berdoa kami terus mengadu. Walau hanya dalam mimpi bertemu.

Terima kasih telah memberikan yang terbaik. Sedari kecil kami dirawat & dididik untuk menghadapi dunia yang pelik. Kini tenanglah kalian menghadap sang Khalik.

Bukankah dunia hanya sementara sedangkan akhirat kekal selamanya. Jika hamba boleh memanjatkan pinta dapat berkumpul bersama disurga-Nya 

kami akan selalu mendoakan kalian karena hanya doa yang tulus yang dapat menjadi penawar rindu bagi mereka yang telah berbeda dunia. 

Oleh : KH. Abdul Fattah Syafi'ie S.pd 

Manaqib Samman di Masyarakat Betawi

Tujuan dan Hikmah Masyarakat Betawi Membaca Ratib Samman

Perlunya naskah Ratib Samman dilanjutkan ke wilayah lain di sekitar DKI Jakarta. Tujuannya, menjaga khazanah dan tradisi keagamaan yang dulu pernah berkembang di masyarakat, khususnya Betawi, yang kini telah bergeser ke Kota Depok, Tangerang, Bekasi, dan sebagian Bogor. 

Demikian salah satu rekomendasi dari penelitian yang dilakukan A Musthofa Asrori berjudul Tradisi Keagamaan dalam Manuskrip Hikayat Syaikh Muhammad Samman dan Tradisi Manaqib Samman di Masyarakat Betawi. Penelitian dilakukan tahun 2020 dengan dukungan Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ).

Selain itu, peneliti juga merekomendasikan kepada Litbang Kemenag agar bekerjasama dengan Ditjen Kebudayaan Kemendikbud untuk memperbanyak kitab tersebut agar tradisi keagamaan itu bisa kembali lestari. "Upaya melestarikan tradisi ini salah satunya bisa melalui festival pembacaan Ratib Samman di Taman Ismail Marzuki atau zona kebudayaan lain di Jakarta. Jika dipertimbangkan bahwa penggandaan butuh anggaran besar, bisa ditempuh melalui festival tersebut," tulis peneliti dalam laporannya.

Peneliti mengungkapkan bahwa tradisi pembacaan Manaqib atau Ratib Samman merupakan tradisi keagamaan yang bisa dikatakan hampir punah. Nasib Ratib Samman mungkin mirip seperti Ratib al-Athas dan Ratib al-Haddad, tidak seperti pembacaan Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat.

Penyebabnya antara lain Ratib ini dianggap kurang ampuh dibanding dengan yang disebut terakhir. Selain itu belum dicetaknya manuskrip naskah kuno Ratib Samman dalam jumlah banyak. Sementara kalangan masyarakat berusia di atas 60-an memiliki harapan agar tradisi pembacaan ratib tersebut dihidupkan kembali. Minimal diperkenalkan kepada kaum muda. Oleh karena itu, sejumlah narasumber dalam riset ini berharap kepada pemerintah, dalam hal ini Balitbang Kementerian Agama RI untuk memfasilitasi penggandaan manaqib Syaikh Samman tersebut.

Tujuan Manaqiban Samman

Menurut temuan peneliti, penyelenggaraan Manaqib Samman yang biasa dilakukan oleh masyarakat Betawi ini memiliki paling tidak tiga tujuan utama. 

Pertama, sebagian besar bermaksud untuk melaksanakan nazar karena Allah. Hal ini menurut Ustadz Iwan Mahmud berdasarkan dalil dari Al-Qur'an, yakni QS Al-Insan ayat 7 yang artinya "Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata dimana-mana."

Kedua, ada pula dari mereka bermaksud untuk bertawasul kepada Syaikh Samman karena Allah SWT. Bertawasul kepada waliyullah hakikatnya bertawasul dengan amal shalehnya. Hal ini didasarkan pada QS Al-Maidah ayat 35 yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan" yang menurut mereka merupakan dalil kebolehan bertawasul.

Ketiga, untuk ber-tabarruk kepada Syaikh Samman. Mereka berharap mendapatkan rahmat dan barakah dari Allah SWT. Bertabaruk pada dasarnya sama dengan tawasulan. Bertabaruk boleh dilakukan kepada para waliyullah, ulama dan orang-orang shaleh, dengan keyakinan bahwa manfaat dan madharatnya berada di tangan Allah semata.

Keutamaan

Ustadz Marhusin, yang merupakan salah seorang tokoh pemuka agama Betawi menyatakan bahwa Manaqiban ini mengandung keutamaan khususnya bagi masyarakat diwilayahnya, setidaknya ada tiga hal.

Pertama, selain bertujuan untuk memenuhi nadzar, pembacaan Manaqib Samman secara bersama-sama juga dimaksudkan untuk mempererat tali persaudaraan (ukhuwah islamiyah).

Kedua, menambah wawasan tentang karomah para wali. Di dalam upacara Manaqiban, guru atau tokoh agama menerangkan berbagai macam hal mengenai kelebihan atau kekeramatan (karomah) yang dimilikinya. 

Ketiga, menambah kecintaan kepada para ulama’ dan orang shaleh.

Karena itu, nilai-nilai tradisi dalam manuskrip kuno keagamaan seperti Ratib Samman menjadi penting untuk dilapkukan dan dilanjutkan agar tetap lestari. Bagi generasi muda, nilai-nilai tradisi ini sangat dibutuhkan. Selain itu, juga bisa dijadikan alat untuk memakmurkan masjid yang belakangan sepi dari kegiatan-kegiatan keagamaan semacam pembacaan ratib.

Mengacu kepada tradisi tersebut, pengajian kitab atau pembacaan dzikir Ratib Samman di masjid-masjid oleh seorang guru yang hingga kini masih hidup di kalangan masyarakat Betawi menjadi penting. Sebab, selain sebagai tempat peribadatan, masjid juga berfungsi sebagai tempat pengajaran dan penyebaran Islam.

"Melalui proses inilah perkembangan Islam makin kokoh dan diterima semua kalangan. Dengan kata lain, kecenderungan yang kuat mempertahankan tradisi sangat menentukan tersebarnya pemahaman Islam di tengah masyarakat Betawi," tulis peneliti.

 


Tharekat Sammaniyah

Opini Tharekat Sammaniyah. Dari Thailand ke Palembang sampai di Betawi

Pada tahun  2014, pengurus dan anggota Majelis Agama Islam Wilayah Songkhla, Thailand yang berjumlah 36 orang, terdiri atas laki-laki dan perempuan yang dipimpin oleh Tuan Haji Zakaria Bin Saleh, mereka melakukan kunjungan dan pertemuan silaturahmi dengan pengurus MUI DKI Jakarta dan Jakarta Islamic Centre (JIC) di Ruang Muallim KH. M. Syafi'i Hadzami. Pertemuan silaturahmi ini difasilitasi oleh Biro Pendidikan dan Mental Spiritual (Dikmental) Provinsi DKI Jakarta. 

Namun yang menarik perhatian pada pertemuan silaturahim ini adalah penjelasan Abdul Halim Lateh, salah seorang pengurus Majelis Agama Islam Wilayah Songkhla, pada sesi dialog. Sambil tangan kirinya memegang tulisan Risalah Hidayatus Salikin fi Suluk Maslakil Muttaqin karya Syekh Abdus Samad Al-Palimbani, ia membacakan sebuah naskah bertulisan Jawi (Arab-Melayu).

Menurut naskah tersebut, Syekh Abdus Samad Al-Palimbani dikuburkan di sebuah kampung (Kampung Bangkrak), Distrik Chana (Melayu: Chenok),  Songkhla, Thailand. Menurut Abdul Halim Lateh, yang dikuburkan di Chana adalah hanya tubuh Syekh Abdus Samad Al-Palimbani, sedangkan kepalanya dibawa ke Bangkok oleh tentara Siam. Sebab kematiannya karena ia datang ke Thailand untuk berperang karena mendukung perjuangan kawannya, Syekh Daud bin Abdullah Al-Fatani, dan kaum Muslimin Pattani yang berjihad melawan tentara Siam. Dalam peperangan, Syekh Abdus Samad Al-Palimbani ditangkap tentara Siam dan kemudian dihukum pancung. Penjelasan Abdulhalim Lateh yang mahir berbahasa Melayu ini memperkuat tesis bahwa ulama yang bernama lengkap Abdus Shamad bin Abdullah Al Jawi Al-Palimbani (sumber-sumber Arab menamakannya Sayyid Abdus Shamad bin Abdurrahman Al-Jawi) wafat sebagai syahid di medan perang. Karena selama ini kematiannya memang banyak versi. 

Seperti ada yang menyatakan bahwa ulama kelahiran Palembang ini diduga kuat meninggal di Arab Saudi setelah menyelesaikan karya terakhirnya Sairus Salikin ila ‘Ibadati Rabbil ‘Alamin. Abdul Halim Lateh telah menyebut nama dua orang ulama yang saling bersahabat, yaitu Syekh Abdus Shamad Al-Palimbani dan Syekh Daud bin Abdullah Al-Fatani. 

Inilah yang menarik untuk dijelaskan terkait dengan judul tulisan saya kali ini. Syekh Daud bin Abdullah A-Fatani adalah seorang ulama terkemuka, pengikut dan penyebar Tarekat Sammaniyah di Thailand Selatan. Ia lahir pada tahun 1740M, di Kresik, Pattani, Thailand Selatan. Ia kemudian belajar agama ke Aceh, kemudian ke Tanah Suci dan berguru kepada Syakh Samman, pendiri Tarekat Sammaniyah. Seperti sahabatnya Syekh Abdus Shamad Al-Palimbani, ia juga produktif menulis meliputi ilmu fiqih, ushuluddin, dan tasawuf. 

Sedangkan Syekh Abdus Shamad Al Palimbani merupakan ulama Melayu Indonesia yang paling menonjol di jaringan ulama abad ke-18 Masehi. Ia banyak menghabiskan aktivitasnya sebagai penulis dan pengajar di kota Makkah dan Madinah. Sebagian karya-karyanya dijadikan bahan pengajaran di banyak majelis-majelis taklim bahkan sampai hari ini, seperti kitab Hidayatus Salikin dan kitab Sairus Salikin. Yang paling dikenal juga, ia adalah salah satu tokoh pembawa dan penyebar Tharekat Sammaniyah di Indonesia. 

Dikisahkan, dari Palembang, ia melanjutkan studinya ke Kota Mekkah dan Madinah bersama sahabat-sahabatnya dari Palembang, yaitu Kemas Ahmad bin Abdullah dan Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin. Di Haramain ini, ia belajar selama 20 tahun kepada ulama-ulama terkenal. Bidang studi yang paling digemarinya adalah Tauhid dan Tasawuf yang ia belajar langsung kepada Syekh Muhammad Samman. Kepada Mursyid inilah ia mengambil Tharekat Sammaniyah yang zikirnya dikenal dengan Ratib Samman. Ia kemudian menyebarkan Tharekat Sammaniyah dan Ratib Samman di Palembang. 

Di Betawi, menurut Siti Asiyah di dalam karya ilmiahnya menjelaskan bahwa Tharekat Sammaniyah dan Tradisi Manaqib Samman yang berjasa menyebarkan Tarekat Sammaniyah dan Ratib Samman adalah Syaikh Abdur Rahman Al-Batawi Al-Mashri. Ia ulama  Timur Tengah yang kemudian bermukim di Betawi di daerah Petamburan.

Syaikh Abdur Rahman Al-batawi Al-Mashri   adalah kawan seperguruan dengan Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani, keduanya murid Syaikh Samman. Selain Syaikh Abdur Rahman Al-Mashri, dilanjutkan Tokoh lain adalah Guru Mughni Kuningan. Ia  merupakan ulama Betawi terkemuka yang menyebarkan Ratib dan zikir Samman di masyarakat Betawi sepulang ia belajar di Tanah Suci. Murid-murid Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani juga turut berjasa menyebarkan Tarekat Sammaniyah di tanah Betawi. Begitu gigihnya murid-murid Tarekat Sammaniyah menyebarkan amalannya di Tanah Betawi sehingga sebagian besar masyarakat Betawi saat itu menjadi pengikutnya atau menjalankan amalan-amalannya sehingga Tharekat Sammaniyah disebut sebagai Tharekatnya orang Betawi. 

Namun, Tarekat Sammaniyah saat ini mulai jarang diikuti orang Betawi. Penyebabnya adalah pengaruh dari pihak-pihak yang yang menyatakan bahwa ada amalan dan ucapan di Tarekat Sammaniyah yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam dan dikhawatirkan merusak akidah. Tetapi, munculnya pernyataan tersebut lebih disebabkan ketidakpahaman mereka terhadap bacaan-bacaan dan amalan Tarekat Sammaniyah. 

Misalnya, di dalam kitab Manaqib Syekh Samman terdapat kalimat yang berbunyi “Siapa yang masuk rumahku, maka akan masuk surga”. Memang jika kata “rumah” di kalimat tersebut diartikan secara tekstual, kalimat tersebut merusak akidah. Padahal, pengertian rumah di sini bukanlah rumah sebagai tempat tinggal Syekh Samman, melainkan rumah untuk ibadah, yaitu musholla atau masjid. 

Begitu pula tentang Tawassul. Namun bukan hanya pengaruh dari pendapat-pendapat tersebut yang menyebabkan Tarekat Sammaniyah mulai jarang diikuti oleh orang Betawi. Tetapi juga disebabkan ketidakmampuan murid atau penyebar Tarekat Sammaniyah sekarang ini untuk untuk mematahkan tuduhan-tuduhan pihak luar terhadap amalan-amalan juga ucapan-ucapan pemimpin Tarekat Sammaniyah yang dianggap sesat. Padahal, para penyebar dan murid-murid Tarekat Sammaniyah di Indonesia pada periode awal merupakan para pejuang yang mengobarkan semangat, turut berjuang bahkan memimpin jihad fi sabilillah melawan penjajah dan melawan kaum kafir yang memerangi mereka. Syekh Abdus Shamad Al-Palimbani merupakan tokoh Tarekat Sammaniyah yang banyak meluruskan pemahaman Tharekat yang berlebihan dan yang dianggap dapat merusak akidah. 

Dari sumber penelusuran penulis yaitu KH Abdul Fatah Syafi'i Spd. Estafet Penyebaran Tharekat di Betawi di era kemerdekaan yaitu KH Moch Noor Syafi'i atau Kong Guru Kecil khususnya menyebar di wilayah Slipi, Kemanggisan, Palmerah, Tomang, Tanah abang, Petamburan dan perbatasan Tangerang. Tahun 1977 penulis masih merasakan jika khataman Alquran tidak lupa membaca Ratib Samman. 

Makam Syaikh Abdur Rahman Al-Batawi Al-Mashri terletak di depan mesjid Al Islam, jalan KS Tubun no 61 Kelurahan Petamburan Jakarta Pusat





Ayat 1000 Dinar

Bahasa Latin ayat Seribu Dinar sebagai berikut :

Wa may yattaqillaha yaj al-lahu makhraja. Wa yarzuq-hu min aisu la yahtasib, wa may yatawakkal alallahi fa huwa hasbuh, innallaha baligu amrih, qad ja alallahu likulli syai in qadra.

Banyak orang menganggap bahwa ayat seribu dinar merupakan mantra atau doa pesugihan agar cepat kaya, menarik rezeki setiap hari, mudah menghasilkan banyak uang dan sebagainya.

Didalam kandungan dari ayat seribu dinar tersebut sebagai ayat yang dikhususkan untuk memohon kelimpahan rezeki karena pada dasarnya ayat tersebut memang membahas tentang Allah yang maha kuasa dan maha murah rezeki.

Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baiknya ibadah umatku adalah membaca Alquran.” (HR Baihaqi) termasuk didalamnya adalah ayat seribu dinar.

Berikut adalah keutamaan dan fadilah dari ayat seribu dinar.

1. Barang siapa membacanya dengan sungguh-sungguh, maka Allah SWT akan membantunya keluar dari masalah yang tengah dihadapi.

2. Bagi yang bertakwa kepada-Nya dengan melafalkan ayat seribu dinar, maka Allah SWT akan memberinya rezeki yang berlimpah.

3. Doa ayat seribu dinar yang dibaca merupakan salah satu penghalang bagi syaitan untuk menghasut kita agar berbuat kejahatan atau dosa.

4. Dipakaikan kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat mahkota dari cahaya dan sinarnya bagaikan sinar matahari, dan dikenakan pada kedua orang tuanya dua perhiasan yang nilainya tidak tertandingi oleh dunia.

5. Digolongkan dalam golongan orang beriman.

Ijazah KH Moch Noor Syafei bin KH Syariun bin KH Ja'man Slipi - Jakarta (sumber: Fatmah Syafei)

Baik - baiklah ke diri Sendiri



Jagalah kesehatanmu. Dan perhatikan hak tubuh dan hatimu. Karena Anda masih harus hidup untuk waktu yang cukup lama. Masih banyak yang harus Anda selesaikan. Masih banyak yang harus Anda ketahui. 

Maka, hiduplah sampai Anda tahu. Bahwa ternyata dunia ini tidak layak untuk dikejar dengan serius.

Hiduplah sampai Anda tahu bahwa Anda akan meninggalkan semua yang Anda kumpulkan. Tapi justru akan bersama dengan apa yang Anda berikan.

Hiduplah sampai Anda tahu. Bahwa terkadang, Keikhlasan justru membuatmu diremehkan. Sementara yang perhitungan malah dianggap profesional. 

Hiduplah sampai Anda tahu. Bahwa menganggap orang sekitar Anda meskipun saudara, selalu mempunyai hati yang tulus dan bisa dipercaya selamanya adalah sebuah khayalan semu. Karena Ia akan selalu berpindah dan berbalik arah kepada siapa yang bisa menguntungkannya.

Hiduplah sampai Anda tahu. Bahwa pada akhirnya, hanya Memaafkan yang bisa jadi obat untuk semua rasa sakit di dalam hati, agar dirimu lapang. Karena mengingat kesalahan manusia tidak pernah membuat dirimu menjadi lebih baik.

Hiduplah sampai Anda tahu. Bahwa ternyata, hal yang paling kita butuhkan bukanlah pujian, tapi iman. Hebat di dunia dengan ribuan pujian, tak menjamin akhiratmu selamat. Meskipun Anda  menggenggam dunia sulit didapat, itulah yang kelak malah menjadi sebabmu Selamat.

Karenanya, jangan terlalu lelah. Beranilah untuk menolak permintaan jika kau memang tak ingin mengerjakannya. Tidak perlu memaksakan untuk sesuatu yang memang tidak mampu kau selesaikan. 

Jangan mendengarkan semua omongan. Perlu ada beberapa kalimat yang harus dianggap tidak didengar. Jangan terlalu ingin memuaskan semua orang sampai mengorbankan diri sendiri.

Anda harus Sehat untuk tetap bisa belajar banyak hal. Dan menemukan satu per satu pelajaran kehidupan yang pada akhirnya, membuatmu paham, bahwa Dunia ini hanyalah Ujian -- Bukan Hadiah.

Tidak semua bunga mekar di waktu yang sama. Ada yang tumbuh diam-diam, menguat lewat luka dan kecewa. Hidup bukan tentang siapa paling sempurna, tetapi siapa yang tetap tulus meski dunia sering berubah. Jadilah diri sendiri. Sebab ketenangan terbesar lahir dari hati yang tidak berpura-pura.






.

.

Pembenaran bukanlah Kebenaran

Q.S Al-An-am : 116 : "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan mu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta"

Q.S Yunus : 36 : "Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali prasangkaan saja. Sesungguhnya prasangka itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan".

Kedua Ayat ini menegasakan bahwa kebanyakan manusia mengikuti sesuatu hanya berdasarkan prasangka, persepsi pribadi, atau pembenaran. Dan semua itu bukanlah kebenaran. 

Pengalaman langsung adalah apa yang diinginkan oleh jiwa. Ingatlah bahwa Kata-kata suci yang paling sucipun hanyalah Kata-Kata. Dan semua ajaran adalah referensi belaka.

Pengalaman sejati, yang tiada lain adalah Hidup Kita sendiri, itu yang paling penting. Temukan Cahaya Sejati kita sendiri di dalam sebagai rumah suci kita. Bila Kita sudah mampu menemukan rumah suci di dalam, maka semua yang di luar akan tampak suci. Bila Kita sudah menemukan keindahan di dalam, maka semua yang di luar akan tampak indah. 

Bila Kita sudah menemukan jantung kehidupan di dalam, maka Kita akan dapat menyaksikan jantung kehidupan semesta di luar. Untuk menemukan intisari terdalam diri kita, jalannya bukanlah di langit, bukan di tempat yang jauh, jalannya ada dalam diri sendiri, di QOLBU Kita.

Hapuslah semua ide dan konsep yang usang, yang selama ini bercokol di pikiran tentang berbagai penjelasan dan definisi yang seolah-olah itu kebenaran, padahal yang sesungguhnya adalah pembenaran yang diciptakan oleh persepsi pikiran, agar kebenaran sejati memiliki kesempatan untuk menembus dan megungkapkan dirinya sendiri.

Saat kebenaran sejati mengungkapkan dirinya sendiri, maka kita akan mengalami selflesness, aimlesness, signlesness dan reasonless. Keakuan lenyap, hidup mengalir, lepas segala atribut, hilang segala penjelasan.  

Sadari bahwa selama ini terkadang kehidupan Kita tidak berarti dan tidak bermakna, karena kita membiarkan diri Kita terombang-ambing antara suka dan duka, antara panas dan dingin, antara benar dan salah, antara baik dan buruk, antara kebencian dan kecintaan, antara kehidupan dan kematian, Padahal Allah ada diantara keduanya. 

Hanya mereka yang sudah mengetahui diri sejatinya secara persis, yang dapat mengetahui yang nyata dan yang proyeksi. Pengetahuan tentang diri adalah pintu semua pengetahuan. Ingat tujuan hidup kita adalah melampaui yang fana dan mencapai Kesadaran akan kesatuan dari segalanya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Dan pengalaman langsung adalah penting untuk mencapai kesadaran. Temukan bahwa kebenaran itu satu adanya. Dan jalan menuju Kebenaran bukanlah jalan raya. Jalan menuju Kebenaran adalah jalan sempit, begitu sempit untuk jalan pribadi Kita. Karena harus melewati jalan itu seorang diri dan tidak bisa bergandengan dengan siapapun.  

Dengan pena Kita sendiri yang dianugerahi Allah, Kita bisa melakukan Iqro di Qolbun Salim (di rumahnya yang damai).Tingkatkan semangat meniti Shirothol Mustaqim yaitu jalan yang telah diatasi oleh para Nabi, para Syuhada dan para Sholihin, untuk memperoleh nikmat.  

Berusahalah menjadi Manusia-manusia Ied (Merasakan sebuah perayaan dengan hidangan langit) dan Faidzin (Memperoleh kemenangan, yaitu dengan Kebebasan jiwa). Yakin semua makhluk hidup, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, di setiap ruang dan waktu, di semua tingkatan....senantiasa Hidup Berbahagia.

Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."








Maafkan agar Dirimu Lapang

Jangan simpan dendam dalam hati yang ingin ditempati Allah

Dalam ajaran tasawuf, hati dianggap sebagai wadah suci tempat Allah 'bersemayam' secara spiritual. Maka, hati yang dipenuhi kemarahan, dendam, atau kebencian tidak layak dijadikan tempat hadirnya Cahaya Ilahi.

Maaf bukan berarti membenarkan perlakuan buruk orang lain, tapi sebagai jalan untuk melepaskan beban batin yang memberatkan jiwa sendiri. Sufi paham bahwa ketika kita menyimpan dendam, kita sejatinya sedang menyiksa diri sendiri.

Ibnu Athaillah al-Sakandari menulis dalam al-Hikam : "Tidak akan masuk cahaya ke dalam hati yang dipenuhi oleh hal-hal selain Allah." Dendam adalah salah satu hal selain Allah itu : ia memenuhi ruang hati dengan gelapnya emosi energi negatif. Mengapa Memaafkan Memberikan Ketenangan? 

1. Menghapus Energi Negatif dalam Batin

Dendam menciptakan kegelisahan berulang. Memaafkan memutus lingkaran itu.

2. Menghindari Kezaliman Batin

Dalam Islam, bahkan mendoakan keburukan orang yang menyakiti kita bisa jadi dzalim jika sudah berlebihan. Sufi menghindarinya dengan memilih diam atau mendoakan kebaikan.

3. Memaafkan adalah Bentuk Kepercayaan kepada Keadilan Ilahi

 "Saya maafkan karena saya tahu Allah Maha Adil. Biarlah Dia yang mengatur balasannya." Inilah bentuk tawakkal batiniah.

4. Praktik Maaf Ala Sufi

Tutup hari dengan introspeksi dan doa : “Ya Allah, aku lepaskan semua sakit hati ini karena Engkau lebih tahu dari apa yang aku rasa. Gantikan dengan lapang dada dan rahmat dari-Mu.”

Jangan bahas ulang kesalahan orang, kecuali untuk mengambil pelajaran. Berlatihlah mendoakan orang yang menyakiti, bukan karena mereka layak, tapi karena kita ingin damai. Inilah Psikologi Jiwa dalam Spritual.

Mulailah belajar menerima dengan lapang dada apapun yang terjadi. Karena mau kita terima atau tidak, semuanya tetap berjalan. Takdir tidak pernah bertanya bagaimana perasaan kita, apakah kita suka, tidak suka, atau bahagia. Takdir juga tidak menunggu proses kita. Justru di situlah letak kekuatan. Ketika kita belajar menerima, kita menjadi lebih kuat, lebih tenang, dan lebih siap menghadapi apapun yang datang.


Melepaskan Kotoran Jiwa


Dalam Q.S 91:9-10 Allah berfirman : "Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan JIWA-nya. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori JIWA-nya".

Mari Kita jujur pada diri Kita sendiri bahwa kepribadian kita terdiri dari banyak faktor yang berbeda, beberapa diantaranya saling berlawanan. Terkadang kita di suatu waktu begitu penuh kasih dan di lain waktu kita dapat menjadi pendengki. Ada saat kita menjadi sombong dan menolak nasihat orang lain, di lain kesempatan kita menjadi terbuka dan mau belajar. 

Kita tidak memiliki kepribadian tetap karena karakteristik kita dapat berubah. Dengan semakin membiasakan diri dengan sikap konstruktif dan mengurangi sikap yang membahayakan, karakter kita dapat berkembang.

KOTORAN BATHIN itu bukanlah bagian INTRINSIK dalam diri kita. kotoran bathin itu bagaikan awan yang menyelimuti dan memburamkan langit yang luas, sehingga mereka dapat berubah dan hilang. 

Kekotoran bathin itu sumbernya berasal dari SALAH INTERPRETASI dan PROYEKSI yang tidak tepat, sehingga jika kita menyadari kesalahan ini, kekotoran negatif tersebut dapat diatasi. Saat KEBIJAKSANAAN dan WELAS ASIH meningkat, kotoran batin akan lenyap. 

Kotoran Bathin itu tidak akan bisa lenyap dengan hanya dengan mengharapkan atau berdo'a begitu saja. kotoran bathin itu disebabkan oleh Kita telah menciptanya. Saat kita mengurangi kotoran batin dalam keseharian kita secara bertahap, maka PIKIRAN YANG DAMAI akan muncul secara alamiah. 

Kita memiliki tanggung jawab dan kendali. Bathin yang jernih selalu ada dalam diri kita, hanya sedang menunggu untuk disingkap melalui lenyapnya awan kotoran batin. Inilah keindahan kita sebagai manusia, inilah potensi kita.

Kekotoran bathin kita sesungguhnya terdiri dari dua faktor utama : Yang pertama adalah ketidaktahuan, dan Yang kedua adalah egoisme

Ketika Kita tidak memahami dan mengenal JATI DIRI Kita, dan bagaimana fenomena kekotoran bathin itu bisa terjadi pada diri Kita, Inilah yang disebut ketidaktahuan. Akibat ketidaktahuan itu, maka kita kemudian menempatkan penekanan yang tidak proporsional pada saya dan milik saya.

Filosofi batinnya adalah, “Saya adalah orang terpenting. Kebahagiaan saya adalah yang paling pentin dan penderitaan saya harus diakhiri terlebih dahulu.” Hal ini tampak seperti sifat kekanak-kanakan, namun ketika kita memeriksa pikiran kita sendiri, kita akan menemukan banyak perilaku kita yang dimotivasi oleh sikap “kebahagiaan saya.” Ini adalah kebiasaan yang telah kita miliki sejak lahir (bahkan sebelum kita lahir). Walaupun bayi tidak dapat berpikir dalam kata-kata, mereka menangis untuk makan bukan hanya karena perut mereka lapar, namun juga karena pikiran mereka sedang menuntut untuk “KEBAHAGIAAN SAYA SEKARANG”. 

Jika Kita menjadi egois, maka tidak mungkin lagi menumbuhkan CINTA dan WELAS ASIH tanpa batas bagi semua makhluk. Banyak orang yang selama berabad-abad telah berhasil mengubah sikap dan benar-benar mengutamakan orang lain dibandingkan dengan diri mereka sendiri. Pada kenyataannya, EGOISME dapat dikurangi dan pada akhirnya dapat dilenyapkan dari arus batin kita. Sadarilah kerugian akibat bersikap egois. Setelah meyakini bahwa egoisme menjadi penyebab semua masalah yang tidak diinginkan, kita pun akan memeriksa cara kerja dan melenyapkannya. Kerugian lain dari pikiran yang egois adalah masalah kita akan tampak lebih besar dibandingkan yang sebenarnya. Kita  mengalami kesulitan yang kecil, namun dengan memikirkannya berulang kali,

Masalah itu bertumbuh hingga kita tidak dapat memikirkan hal lain lagi. keterpakuan kita terhadap hal kecil membuat mereka menempati proporsi yang besar dengan konsekuensi yang seakan dapat menggetarkan dunia.

Yakin Semua Makhluk Hidup, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, di setiap ruang dan waktu, di semua tingkatan....senantiasa HIDUP BAHAGIA.....