LebaranTahun 2026




Bertemu dengan orang tua, saudara, kerabat dan teman terdekat untuk saling  memaafkan. 

Masalahnya hanya mau bertemu dengan orang yang sejalan saja. Dan yang tidak sepaham dan hanya teman saja tidak akan ditemuinya. 

Padahal yang diperlukan saling memaafkan adalah yang punya dan ada Rasa ganjalan di hati, yang ada dendam atau kebencian, yang ada jarak dan yang tak terjembatani dalam hubungan.

Dengan Hari raya inilah waktunya untuk saling memaafkan.

Membalas akan membuatmu sejajar dengan musuhmu, tetapi memaafkannya akan menempatkanmu diatas musuhmu. -- HB IX

Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Lokasi : Mesjid Ar-Ridwan. Kota bambu Selatan Jakarta Barat 

Bersama : KH. Abdul Fattah Syafi'ie S.pd -- Ketua DKM dan Pengurus 



Orangtua yang telah tiada



Ibu..wanita hebat nan kuat. Senantiasa menjadi muslimah taat. Seorang diri yang mendidik dan merawat kasih sayang pada kami tiada berkarat.

Ayah...kami selalu rindu padamu. Ingin memeluk tubuh yang hebat itu. Setiap berdoa kami terus mengadu. Walau hanya dalam mimpi bertemu.

Terima kasih telah memberikan yang terbaik. Sedari kecil kami dirawat & dididik untuk menghadapi dunia yang pelik. Kini tenanglah kalian menghadap sang Khalik.

Bukankah dunia hanya sementara sedangkan akhirat kekal selamanya. Jika hamba boleh memanjatkan pinta dapat berkumpul bersama disurga-Nya 

kami akan selalu mendoakan kalian karena hanya doa yang tulus yang dapat menjadi penawar rindu bagi mereka yang telah berbeda dunia. 

Oleh : KH. Abdul Fattah Syafi'ie S.pd 

Ratib Saman di Masyarakat Betawi

Tujuan dan Hikmah Masyarakat Betawi Membaca Ratib Saman. 

Perlunya naskah Ratib Saman dilanjutkan ke wilayah lain di sekitar DKI Jakarta. Tujuannya, menjaga khazanah dan tradisi keagamaan yang dulu pernah berkembang di masyarakat, khususnya Betawi, yang kini telah bergeser ke Kota Depok, Tangerang, Bekasi, dan sebagian Bogor. 

Demikian salah satu rekomendasi dari penelitian yang dilakukan A Musthofa Asrori berjudul Tradisi Keagamaan dalam Manuskrip Hikayat Syaikh Muhammad Samman dan Tradisi Manaqib Samman di Masyarakat Betawi. Penelitian dilakukan tahun 2020 dengan dukungan Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ).

Selain itu, peneliti juga merekomendasikan kepada Litbang Kemenag agar bekerjasama dengan Ditjen Kebudayaan Kemendikbud untuk memperbanyak kitab tersebut agar tradisi keagamaan itu bisa kembali lestari. "Upaya melestarikan tradisi ini salah satunya bisa melalui festival pembacaan Ratib Samman di Taman Ismail Marzuki atau zona kebudayaan lain di Jakarta. Jika dipertimbangkan bahwa penggandaan butuh anggaran besar, bisa ditempuh melalui festival tersebut," tulis peneliti dalam laporannya.

Peneliti mengungkapkan bahwa tradisi pembacaan Manaqib atau Ratib Samman merupakan tradisi keagamaan yang bisa dikatakan hampir punah. Nasib Ratib Samman mungkin mirip seperti Ratib al-Athas dan Ratib al-Haddad, tidak seperti pembacaan Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat.

Penyebabnya antara lain Ratib ini dianggap kurang ampuh dibanding dengan yang disebut terakhir. Selain itu belum dicetaknya manuskrip naskah kuno Ratib Samman dalam jumlah banyak. Sementara kalangan masyarakat berusia di atas 60-an memiliki harapan agar tradisi pembacaan ratib tersebut dihidupkan kembali. Minimal diperkenalkan kepada kaum muda. Oleh karena itu, sejumlah narasumber dalam riset ini berharap kepada pemerintah, dalam hal ini Balitbang Kementerian Agama RI untuk memfasilitasi penggandaan manaqib Syaikh Samman tersebut.

Tujuan Manaqiban Saman

Menurut temuan peneliti, penyelenggaraan Manaqib Samman yang biasa dilakukan oleh masyarakat Betawi ini memiliki paling tidak tiga tujuan utama. 

Pertama, sebagian besar bermaksud untuk melaksanakan nazar karena Allah. Hal ini menurut Ustadz Iwan Mahmud berdasarkan dalil dari Al-Qur'an, yakni QS Al-Insan ayat 7 yang artinya "Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata dimana-mana."

Kedua, ada pula dari mereka bermaksud untuk bertawasul kepada Syaikh Samman karena Allah SWT. Bertawasul kepada waliyullah hakikatnya bertawasul dengan amal shalehnya. Hal ini didasarkan pada QS Al-Maidah ayat 35 yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan" yang menurut mereka merupakan dalil kebolehan bertawasul.

Ketiga, untuk ber-tabarruk kepada Syaikh Samman. Mereka berharap mendapatkan rahmat dan barakah dari Allah SWT. Bertabaruk pada dasarnya sama dengan tawasulan. Bertabaruk boleh dilakukan kepada para waliyullah, ulama dan orang-orang shaleh, dengan keyakinan bahwa manfaat dan madharatnya berada di tangan Allah semata.

Keutamaan

Ustadz Marhusin, yang merupakan salah seorang tokoh pemuka agama Betawi menyatakan bahwa Manaqiban ini mengandung keutamaan khususnya bagi masyarakat diwilayahnya, setidaknya ada tiga hal.

Pertama, selain bertujuan untuk memenuhi nadzar, pembacaan Manaqib Samman secara bersama-sama juga dimaksudkan untuk mempererat tali persaudaraan (ukhuwah islamiyah).

Kedua, menambah wawasan tentang karomah para wali. Di dalam upacara Manaqiban, guru atau tokoh agama menerangkan berbagai macam hal mengenai kelebihan atau kekeramatan (karomah) yang dimilikinya. 

Ketiga, menambah kecintaan kepada para ulama’ dan orang shaleh.

Karena itu, nilai-nilai tradisi dalam manuskrip kuno keagamaan seperti Ratib Samman menjadi penting untuk dilapkukan dan dilanjutkan agar tetap lestari. Bagi generasi muda, nilai-nilai tradisi ini sangat dibutuhkan. Selain itu, juga bisa dijadikan alat untuk memakmurkan masjid yang belakangan sepi dari kegiatan-kegiatan keagamaan semacam pembacaan ratib.

Mengacu kepada tradisi tersebut, pengajian kitab atau pembacaan dzikir Ratib Samman di masjid-masjid oleh seorang guru yang hingga kini masih hidup di kalangan masyarakat Betawi menjadi penting. Sebab, selain sebagai tempat peribadatan, masjid juga berfungsi sebagai tempat pengajaran dan penyebaran Islam.

"Melalui proses inilah perkembangan Islam makin kokoh dan diterima semua kalangan. Dengan kata lain, kecenderungan yang kuat mempertahankan tradisi sangat menentukan tersebarnya pemahaman Islam di tengah masyarakat Betawi," tulis peneliti.

 

Tharekat Samaniyah

Opini Tharekat Samaniyah dari Thailand ke Palembang sampai di Betawi. 

Pada tahun 2014, pengurus dan anggota Majelis Agama Islam Wilayah Songkhla, Thailand yang berjumlah 36 orang, terdiri atas laki-laki dan perempuan yang dipimpin oleh Tuan Haji Zakaria Bin Saleh, mereka melakukan kunjungan dan pertemuan silaturahmi dengan pengurus MUI DKI Jakarta dan Jakarta Islamic Centre (JIC) di Ruang Muallim KH. M. Syafi'i Hadzami. Pertemuan silaturahmi ini difasilitasi oleh Biro Pendidikan dan Mental Spiritual (Dikmental) Provinsi DKI Jakarta. 

Namun yang menarik perhatian pada pertemuan silaturahim ini adalah penjelasan Abdul Halim Lateh, salah seorang pengurus Majelis Agama Islam Wilayah Songkhla, pada sesi dialog. Sambil tangan kirinya memegang tulisan Risalah Hidayatus Salikin fi Suluk Maslakil Muttaqin karya Syekh Abdus Samad Al-Palimbani, ia membacakan sebuah naskah bertulisan Jawi (Arab-Melayu).

Menurut naskah tersebut, Syekh Abdus Samad Al-Palimbani dikuburkan di sebuah kampung (Kampung Bangkrak), Distrik Chana (Melayu: Chenok),  Songkhla, Thailand. Menurut Abdul Halim Lateh, yang dikuburkan di Chana adalah hanya tubuh Syekh Abdus Samad Al-Palimbani, sedangkan kepalanya dibawa ke Bangkok oleh tentara Siam. Sebab kematiannya karena ia datang ke Thailand untuk berperang karena mendukung perjuangan kawannya, Syekh Daud bin Abdullah Al-Fatani, dan kaum Muslimin Pattani yang berjihad melawan tentara Siam. Dalam peperangan, Syekh Abdus Samad Al-Palimbani ditangkap tentara Siam dan kemudian dihukum pancung. Penjelasan Abdulhalim Lateh yang mahir berbahasa Melayu ini memperkuat tesis bahwa ulama yang bernama lengkap Abdus Shamad bin Abdullah Al Jawi Al-Palimbani (sumber-sumber Arab menamakannya Sayyid Abdus Shamad bin Abdurrahman Al-Jawi) wafat sebagai syahid di medan perang. Karena selama ini kematiannya memang banyak versi. 

Versi lain menyebut bahwa ulama kelahiran Palembang ini diduga meninggal di Arab Saudi setelah menyelesaikan karya terakhirnya Sairus Salikin ila ‘Ibadati Rabbil ‘Alamin. Abdul Halim Lateh telah menyebut nama dua orang ulama yang saling bersahabat, yaitu Syekh Abdus Samad Al-Palimbani dan Syekh Daud bin Abdullah Al-Fatani. 

Inilah yang menarik untuk dijelaskan terkait dengan judul tulisan saya kali ini. Syekh Daud bin Abdullah A-Fatani adalah seorang ulama terkemuka, pengikut dan penyebar Tarekat Sammaniyah di Thailand Selatan. Ia lahir pada tahun 1740M, di Kresik, Pattani, Thailand Selatan. Ia kemudian belajar agama ke Aceh, kemudian ke Tanah Suci dan berguru kepada Syaikh Samman, pendiri Tarekat Sammaniyah. Seperti sahabatnya Syekh Abdus Shamad Al-Palimbani, ia juga produktif menulis meliputi ilmu fiqih, ushuluddin, dan tasawuf. 

Sedangkan Syekh Abdus Samad Al Palimbani merupakan ulama Melayu Indonesia yang paling menonjol di jaringan ulama abad ke-18 Masehi. Ia banyak menghabiskan aktivitasnya sebagai penulis dan pengajar di kota Makkah dan Madinah. Sebagian karya-karyanya dijadikan bahan pengajaran di banyak majelis-majelis taklim bahkan sampai hari ini, seperti kitab Hidayatus Salikin dan kitab Sairus Salikin. Yang paling dikenal juga, ia adalah salah satu tokoh pembawa dan penyebar Tharekat Samaniyah di Indonesia. 

Dikisahkan, dari Palembang, ia melanjutkan studinya ke Kota Mekkah dan Madinah bersama sahabat-sahabatnya dari Palembang, yaitu Kemas Ahmad bin Abdullah dan Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin. Di Haramain ini, ia belajar selama 20 tahun kepada ulama-ulama terkenal. Bidang studi yang paling digemarinya adalah Tauhid dan Tasawuf yang ia belajar langsung kepada Syekh Muhammad Samman. Kepada Mursyid inilah ia mengambil Tharekat Samaniyah yang zikirnya dikenal dengan Ratib Saman. Ia kemudian menyebarkan Tharekat Samaniyah dan Ratib Saman di Palembang. 

Di Betawi, menurut Siti Asiyah di dalam karya ilmiahnya menjelaskan bahwa Tharekat Samaniyah dan Tradisi Manaqib Saman yang berjasa menyebarkan Tharekat Samaniyah dan Ratib Saman adalah Syaikh Abdur Rahman Al-Batawi Al-Mashri. Ia ulama  Timur Tengah yang kemudian bermukim di Betawi di daerah Petamburan.

Syaikh Abdur Rahman Al-batawi Al-Mashri   adalah kawan seperguruan dengan Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani, keduanya murid Syaikh Samman. Selain Syaikh Abdur Rahman Al-Mashri, dilanjutkan Tokoh lain adalah Guru Mughni Kuningan. Ia  merupakan ulama Betawi terkemuka yang menyebarkan Ratib dan zikir Samman di masyarakat Betawi sepulang ia belajar di Tanah Suci. Murid-murid Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani juga turut berjasa menyebarkan Tarekat Samaniyah di tanah Betawi. Begitu gigihnya murid-murid Tarekat Samaniyah menyebarkan amalannya di Tanah Betawi sehingga sebagian besar masyarakat Betawi saat itu menjadi pengikutnya atau menjalankan amalan-amalannya sehingga Tharekat Samaniyah disebut sebagai Tharekatnya orang Betawi. 

Namun, Tharekat Samaniyah saat ini mulai jarang diikuti orang Betawi. Penyebabnya adalah pengaruh dari pihak-pihak yang yang menyatakan bahwa ada amalan dan ucapan di Tarekat Samaniyah yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam dan dikhawatirkan merusak akidah. Tetapi, munculnya pernyataan tersebut lebih disebabkan ketidakpahaman mereka terhadap bacaan-bacaan dan amalan Tarekat Samaniyah. 

Misalnya, di dalam kitab Manaqib Syekh Samman terdapat kalimat yang berbunyi “Siapa yang masuk rumahku, maka akan masuk surga”. Memang jika kata “rumah” di kalimat tersebut diartikan secara tekstual, kalimat tersebut merusak akidah. Padahal, pengertian rumah di sini bukanlah rumah sebagai tempat tinggal Syekh Samman, melainkan rumah untuk ibadah, yaitu musholla atau masjid. 

Begitu pula tentang Tawassul. Namun bukan hanya pengaruh dari pendapat-pendapat tersebut yang menyebabkan Tarekat Samaniyah mulai jarang diikuti oleh orang Betawi. Tetapi juga disebabkan ketidakmampuan murid atau penyebar Tarekat Samaniyah sekarang ini untuk untuk mematahkan tuduhan-tuduhan pihak luar terhadap amalan-amalan juga ucapan-ucapan pemimpin Tarekat Samaniyah yang dianggap sesat. Padahal, para penyebar dan murid-murid Tarekat Samaniyah di Indonesia pada periode awal merupakan para pejuang yang mengobarkan semangat, turut berjuang bahkan memimpin jihad fi sabilillah melawan penjajah dan melawan kaum kafir yang memerangi mereka. Syekh Abdus Samad Al-Palimbani merupakan tokoh Tarekat Samaniyah yang banyak meluruskan pemahaman Tharekat yang berlebihan dan yang dianggap dapat merusak akidah. 

Empat Serangkai dari Tanah Jawi, begitu lah sebutan untuk empat Murid Syekh Samman Al Madani, yakni Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Syekh Abdussamad Al Palimbangi, Syekh Abdul Wahab Bugis, dan Syekh Abdurrahman Al Masri yang hidup antara 1700-1800 M

Dari sumber penelusuran penulis yaitu KH Abdul Fatah Syafi'i Spd. Estafet Penyebaran Tharekat di Betawi di era kemerdekaan yaitu seorang Ulama dari Palembang (versi lain Riau), KH Moch Noor Syafi'i atau Kong Guru Kecil yang tersebar di wilayah Slipi, Kota bambu, Kemanggisan, Palmerah, Tomang, Tanah abang, Petamburan dan perbatasan Tangerang. Tahun 1977 penulis masih merasakan jika khataman Alquran tidak lupa membaca Ratib Saman. 

Makam Syaikh Abdur Rahman Al-Batawi Al-Mashri terletak di depan mesjid Al Islam, jalan KS Tubun no 61 Kelurahan Petamburan Jakarta Pusat



Syaikh Abdussomad dan perkembangan Tharekat

Masa Kebangkitan Tharekat Sufi di Indonesia dari abad 16 hingga abad 18.

Kalau dulu ada ulama dari Aceh yaitu  Hamzah Fansuri, ada Syamsuddin As-Sumatrani serta Nuruddin Ar-raniri. Mereka berbeda tapi sama-sama Sufi hingga puncaknya hadir Syekh Abdurrauf As-Singkili, Mereka semua belajar di Madinah. Mereka juga disebut poros Aceh dengan ditandai munculnya Tharekat Satariyah. Kalau di Jawa dikembangkan di Jawa Barat oleh Syekh Muhi pamijahan. Di Sumatera Barat oleh Syekh Burhanuddin. 

Kemudian Fase berkembang, berpindah ke wilayah Palembang dengan munculnya Syekh Muhammad Aqib (Datuk Aqib) bin Syekh Hassanudin dan murid mereka yaitu Syekh Abdussomad ditandai dengan adanya Tharekat Samaniyah. Sebagai ahli Sanad dan ahli hadist, Syekh Abdussomad juga memiliki Tharekat yang dikenal dengan Tharekat Samaniyah, Khalwatiyah dan Qadiriyah. Sebetulnya beliau punya Tharekat lain, tapi ketiga ini lebih di mansyur kan di masyarakat. Sebagai bukti tharekat Samaniyah berkembang ditandai dengan adanya tarian Saman dari Aceh dan zikir Talqin/Ratib Saman yang berkembang di Betawi.

Syekh Abdussomad mempunyai sanad penerus yaitu Syaikhu Fatimah (putrinya)  dan syekh Nawawi al-Bantani, maka ketika Tharekat berpindah dari Palembang ke Banten akhirnya terselamatkan Sanad  Tharekat Samaniyah yang terus  berkembang di wilayah Banten hingga Betawi.

Di Sumatera Barat (Minangkabau) berkembang juga Tharekat Samaniyah jauh setelah Syekh Abdussomad yaitu Syekh Abdurrahman (Syekh Kumango) dan Sayyid Muhammad Amin bin Ahmad Ar-Ridwan.

Syeikh Abdussomad Al palembani 15 tahun di Madinah dan 15 tahun di Mekah,  sehingga boleh dikatakan bahwa Silsilah Ulama Indonesia pada masa itu adalah ulama berkelas dunia. Syaikh Abdussomad Al Palembani wafat di Thailand. Keilmuan beliau luar biasa sehingga doanya bisa mendapatkan kekebalan senjata. Sehingga sampai wafatnya kepala dan tubuhnya di pisah oleh Belanda, mirip kisah Sayidina Husen ketika wafat, hingga masa itu, ilmu kekebalan tubuh dari senjata meluas sampai wilayah Banten dari jalur Tharekat.

Hari ini banyak ulama Indonesia yang lama di Madinah dan di Mekkah tapi waktunya tidak selama Syaikh Abdussomad. Beberapa  Ulama sekarang hafal hadist dan sanad tapi kebanyakan mereka justru membatalkan Tharekat. Bagaimana pendapat anda?

Catatan : Sebagai seorang ulama, KH Mohammad Noor Syafi'i (kakek penulis) sangat menghormati para Guru silsilah, terbukti nama dari anak-anaknya diberi nama Fatimah, Ahmad, Abdul dan peninggalan mesjid nya yang diberi nama Mesjid Ar Ridwan. Baca : Tharekat Samaniyah 





Tharekat Samaniyah

Mengenal Pendiri, Ajaran dan Adabnya.

Tharekat Samaniyah merupakan Tharekat pertama yang mendapatkan pengikut secara massal di Nusantara.   "Riwayat tentang keramat-keramat Syekh Samman, terutama pertolongan supranaturalnya kepada penganut yang terjepit, agaknya, menambah daya tarik Tharekat  Samaniyah bagi kalangan awam" tulis  Martin van Bruinessen. Ia menjelaskan analisis tersebut dalam buku yang berjudul Kitab Kuning, Pesantren dan Tharekat. Menurut Martin, keajaiban dan kisah karomah Syekh Samman dapat ditemukan dalam buku kecil berjudul Manaqibal Wali As-Syahir bi Muhammad Samman. Buku kecil ini berisi beberapa kisah tentang keajaiban sang Mursyid Tharekat Saman.   Diantara kisah keajaiban Syekh Samman di Manaqib adalh mampu menolong saat kesusahan, hanya dengan memanggil namanya, "Ya Samman". 

Simak kisahnya : Baca Judul Tharekat Sammaniyah : Dari Pattani, Palembang, sampai Betawi "Dan setengah dari perkataan tuan Syekh Muhammad Samman Ra. Aku berkata seperti yang dikatakan oleh Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani; "Barang siapa menyeru aku "Ya Samman" tiga kali, niscaya hadirlah dengan lekas aku menolong akan kesusahan dunia bagi orang yang menyeru itu".  Faktor lain, kata Martin, di balik berbondong-bondongnya masyarakat Nusantara masuk ke Tharekat Saman, karena Ratib dan Dzikir kerasnya yang penuh semangat. Dzikir dilakukan dengan repetisi dan ritme yang teratur, memadukan suara, dan gerakan tubuh.  Tidak jarang, suasana yang tercipta membawa jamaah pada keadaan ekstasi, mereka merasakan kedekatan Spiritual yang intens dengan Allah. Hal unik yang membuat orang tertarik bergabung dengan Tharekat Saman adalah perkembangan Dzikir dan Ratib Tarekat Samaniyah di berbagai daerah di Indonesia, yang telah menjadi salah satu bentuk hiburan rakyat, yaitu Tari Saman. Tarian ini  menggabungkan elemen seni dengan gerakan dzikir yang dinamis, sehingga menciptakan perpaduan antara aspek keagamaan dan keindahan tarian yang menawan. Tari Saman biasanya  ditampilkan pada acara-acara adat, pesta pernikahan, atau peringatan hari-hari besar Islam, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. "Tharekat ini mengesankan sebagai ekspresi agama rakyat dan berbeda dengan pola keagamaan para ulama fiqih," tutur Martin (halaman 386). Dengan begitu, Tharekat Samaniyah bukan sekedar sebuah Tharekat yang menjalankan ritual-ritual ibadah, tetapi telah menjadi bagian dari kebudayaan lokal yang mengintegrasikan unsur agama dengan seni dan tradisi lokal. Inilah yang membuat Tharekat ini bertahan dan terus berkembang di berbagai daerah, bahkan hingga ke pelosok Nusantara. 

Secara ringkas sejarah Tharekat  Sammaniyah Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Samman Al-Madani As-Syafi'i al-Qadiri Al-Quraisyi, yang lebih dikenal dengan nama Syekh Samman, tokoh di balik berdirinya Tarekat Samaniyah. Syekh Samman, salah satu tokoh sufi terkemuka pada abad ke-18. Ia dilahirkan di Madinah pada tahun 1132 H (1719 M). Syekh Samman memiliki silsilah keturunan yang terhormat,. Ia berasal dari suku Quraisy yang juga merupakan suku Nabi Muhammad saw. Karena itu, ia dikenal sebagai seorang Sayid—gelar yang disematkan kepada mereka yang memiliki hubungan darah dengan Rasulullah Saw.  Dalam kitab Hikayat Syaikh Muhammad Samman yang ditulis oleh Muhyiddin bin Syihabuddin, dijelaskan, penyebutan “Al-Quraisyi” pada nama Syekh Samman menunjukkan silsilah keluarga beliau yang berasal dari suku Quraisy. Suku ini adalah salah satu suku Arab yang hijrah dari Makkah ke Madinah bersama Nabi Muhammad saw.

Syekh Samman tidak hanya dikenal sebagai seorang sufi, tetapi juga sebagai seorang ulama yang menguasai berbagai cabang ilmu keislaman, fiqih, hadits dan tafsir. Ia menimba ilmu dari berbagai Guru besar pada masanya yang ahli di bidang fiqih maupun Tasawuf. Salah satu sumber yang hampir sezaman dengannya, yaitu Sulaiman Al-Ahdal dalam karyanya An-Nafs Al-Yamani, menyebutkan lima Guru Syekh Samman dalam fiqih yaitu; Muhammad Ad-Daqqaq, Sayyid Ali Al-'Aththar, Ali Al-Kurdi, 'Abdul Wahhab At-Thanthawi (di Makkah), dan Sa'id Hillal Al-Makki. Dari para ulama ini, Syekh Samman mempelajari berbagai disiplin ilmu seperti fiqih dan ushul fiqih, yang nantinya membentuk dasar pemahamannya yang luas dalam berbagai aspek keislaman. 

Namun keistimewaan Syekh Samman yang sesungguhnya terlihat dalam perhatiannya terhadap ilmu tasawuf dan tauhid. Di bidang ini, Guru nya yang paling menonjol adalah Mustafa bin Kamaluddin Al-Bakri, seorang Sufi besar dari Damaskus yang juga merupakan Syekh Tarekat Khalwatiyah. Mustafa Al-Bakri dikenal sebagai penulis produktif yang karya-karyanya banyak menjadi rujukan dalam kajian tasawuf. Hubungan antara Syekh Samman dan Mustafa Al-Bakri memperlihatkan kedalaman Spiritualitas dan keilmuan yang diwariskan dalam jalur Tharekat.  Selain itu, Syekh Samman juga dikatakan pernah belajar dengan dua Syekh Tharekat Khalwatiyah lainnya saat berkunjung ke Mesir pada tahun 1760, yaitu Muhammad bin Salim Al-Hifnawi dan Mahmud Al-Kurdi. 

Sementara itu, Ahmad Purwadaksi, dalam buku Ratib Samman dan Hikayat Syekh Muhammad Samman; Suntingan Naskah dan Kajian Isi Teks tersebut mengungkapkan bahwa Syekh Samman menganut Tharekat Qadiriyah sepanjang hidupnya. Menariknya, Tharekat yang dianutnya bukanlah satu-satunya; ia juga mengamalkan lima Tharekat lain, yaitu Naqsyabandiyah, Syaziliyah, Adiliyah, dan Khalwatiyah. Ia menerima Tharekat Qadiriah dari seorang Syekh bernama Syekh Tahir, dan ayahnya juga merupakan penganut Tharekat yang sama. Selain itu, ia mendapatkan ijazah Tharekat  Khalwatiah dari Gurunya, Sayyid Mustafa bin Kamaluddin Al-Baket, yang hidup antara tahun 1688 hingga 1749.  Akan tetapi, dari lima Tharekat yang diikutinya, Syekh Samman lebih mendalami Tharekat  Qadiriyah dan Khalwatiyah. Ia secara konsisten mengamalkan dzikir dan wirid yang terkait dengan kedua tarekat tersebut, serta menjalani 'uzlah. Berkat ketekunan dan dedikasinya dalam berdzikir dan melakukan 'uzlah, Syekh Samman berhasil mencapai kasyf dan Makrifat. 

Tharekat Samaniyah di Nusantara 

Di Nusantara, Tharekat Samaniyah mulai menyebar luas pada abad ke-18 dan 19 melalui jalur perdagangan, ziarah, dan dakwah yang dilakukan oleh ulama-ulama yang pernah berguru kepada Syekh Samman di Madinah. Salah satu tokoh penting yang berperan dalam penyebaran tharekat ini di Nusantara adalah Syekh Abdusshamad Al-Falimbani, seorang ulama asal Palembang yang merupakan murid langsung dari Syekh Samman.    Semasa hidupnya, ia aktif menyebarkan ajaran tharekat ini di Sumatera dan Jawa, serta menjadi perantara utama dalam menghubungkan komunitas muslim Nusantara dengan pusat tasawuf di Timur Tengah. Terkait perjumpaan Syekh Abdussamad Al-Palimbani dengan Syekh Samman, ada kisah menarik. Martin van Bruinessen,  di buku Kitab Kuning, Pesantren, dan Tharekat mengungkapkan kisah ini, berdasarkan wawancara dengan KH M Zen Syukri, seorang Mursyid Sammaniyah dari Palembang. Alkisah, Syekh Abdussamad berencana melanjutkan studi ke Al-Azhar, Mesir. Akan tetapi, dalam perjalanan menuntut ilmu ke Al-Azhar, Syekh Abdussamad singgah di Jeddah. Di kota tersebut, ia mengalami pertemuan yang tak terlupakan. Seusai shalat di masjid, ia memperhatikan seorang pria yang berdzikir dengan cara yang berbeda dari biasanya. Bukan hanya lisannya yang menyebut nama Allah, tetapi seluruh tubuhnya seakan bergetar seiring lantunan dzikir, seolah digerakkan oleh kekuatan Ilahi. Keingintahuan membuatnya mendekati dan berkenalan dengan pria tersebut. Setelah berkenalan, pria tersebut diketahui sebagai Syekh Shiddiq, seorang pengikut Tharekat Sammaniyah. Syekh Abdussamad memohon kepada Syekh Shiddiq untuk diajari dzikir Tarekat Sammaniyah. Permintaan tersebut dipenuhi oleh Syekh Shiddiq yang memberikan talqin dzikir tersebut kepada Syekh Abdussamad, sehingga memulai proses pembelajaran spiritual yang mendalam. Tak lama setelah itu, Al-Falimbani memutuskan untuk bertemu langsung dengan Syekh Samman. Dalam kesempatan itu, Syekh Shiddiq memperkenalkan Syekh Abdussamad kepada Syekh Samman di Madinah. Setelah menjalani proses pembelajaran yang panjang, Syekh Abdussamad akhirnya menerima ijazah untuk menyebarkan ajaran Tharekat  Sammaniyah di Nusantara. Dengan izin tersebut, beliau berperan penting dalam memperkenalkan tharekat ini ke berbagai daerah di Indonesia, yang menyebabkan perkembangan pesat Tharekat  Sammaniyah di tanah air.

Michael Laffan dalam buku The Makings of Indonesian Islam Orientalism and the Narration of a Sufi Past, mencatat, sosok Syekh Abdussamad Al-Falimbani, ulama besar Nusantara pada abad ke-18 yang dikenal karena keilmuannya dan kontribusinya dalam penyebaran ajaran tasawuf di kepulauan Melayu. Ia berperan dalam membangun hubungan antara dunia Melayu dengan pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah. (2011: halaman 28).   

Perjumpaannya dengan Syekh Samman di Madinah antara tahun 1767 dan 1772 merupakan titik balik yang sangat penting. Syekh Samman adalah seorang sufi besar yang terkenal dengan ajaran-ajarannya yang menekankan dzikir, kesucian hati, dan pentingnya peran Mursyid dalam membimbing murid-muridnya. Tharekat  Sammaniyah yang didirikannya juga menekankan hubungan spiritual yang erat antara Guru dan murid, serta pentingnya memperkuat ikatan bathin melalui praktik-praktik Tasawuf yang intens.  

Syekh Abdussamad Al-Falimbani belajar langsung di bawah bimbingan Syekh Samman, membaca kitab Fathur Rahman yang merupakan salah satu rujukan utama dalam Tharekat ini. Ia tidak hanya menguasai ajaran tersebut, tetapi juga turut berperan dalam menyebarkannya ke dunia Melayu.  Pengaruh tharekat  Samaniyah ini kemudian menyebar luas, tidak hanya di Palembang, tetapi juga di Banten, Banjar, dan berbagai kerajaan Melayu lainnya. Bahkan, pengaruh tharekat  ini turut membawa perubahan signifikan di istana-istana Melayu yang sebelumnya didominasi oleh ajaran Tharekat  Satthariyah.   

Syekh Abdussamad Al-Falimbani dikenal sebagai seorang intelektual yang aktif menulis dan berinteraksi dengan komunitas Muslim di Nusantara. Meski sebagian besar hidupnya dihabiskan di Tanah Hijaz (Makkah dan Madinah), pengaruh pemikirannya tetap kuat di tanah kelahirannya. Karya-karyanya yang terkenal, seperti Hidayatus Salikin dan Sairus Salikin, menekankan pentingnya spiritualitas dan akhlak dalam kehidupan Muslim, serta memberikan bimbingan praktis bagi para pengikut tharekat.   Selain Al-Falimbani, ada satu nama yang tak bisa dipisahkan dengan penyebaran tharekat Sammaniyah di Nusantara,  yaitu Muhammad Arsyad Al-Banjari (wafat 1812). Keduanya pernah belajar langsung dari Syekh Samman di Madinah dan keduanya memainkan peran penting dalam mengarahkan pengadilan-pengadilan Melayu ke arah tulisan-tulisan Al-Ghazali dan para penafsir Mesir.

Syekh Muhammad Arsyad juga terkenal karena karya tulisnya yang menjadi rujukan utama dalam hukum Islam di Nusantara, yaitu Sabilul Muhtadin (Jalan Orang-orang yang Terpandu). Karya ini merupakan perluasan dari kitab Shirathul Mustaqim karya Nuruddin Ar-Raniri. Atas instruksi dari kerajaan, Syekh Muhammad Arsyad menulis kitab ini untuk memberikan panduan yang lebih komprehensif mengenai hukum-hukum fiqih yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.   

Meskipun ia menempatkan dirinya dalam jalur para muhaqqiqin (peneliti dan penafsir hukum Islam), berbeda dengan Abdussamad  Al-Falimbani, Syekh Muhammad Arsyad tidak merujuk pada ajaran-ajaran tokoh seperti Ibrahim Al-Kurani, Syamsuddin Sumatrani, atau Al-Burhanpuri. Sebaliknya, ia lebih memilih pendekatan yang moderat dengan merujuk pada ulama Mesir yang tenang seperti Jalaluddin As-Suyuti dan As-Sya’rani.   Pilihan Syekh Muhammad Arsyad untuk lebih merujuk kepada ulama Mesir ini menunjukkan kecenderungannya terhadap ajaran yang lebih seimbang dan tidak terlalu kontroversial. Imam As-Suyuti dan As-Sya’rani, misalnya, dikenal sebagai ulama yang menekankan pentingnya moderasi dan harmonisasi antara tasawuf dan fiqih.  

Ini tampak sebagai langkah strategis untuk memastikan ajaran-ajarannya dapat diterima oleh berbagai kalangan, baik oleh kaum tradisionalis maupun para pembaru. Sikap moderat ini mungkin pula dipengaruhi oleh situasi sosial-politik di Banjar saat itu, di mana konflik antara aliran-aliran keagamaan dapat berdampak pada stabilitas kerajaan.  

Lebih lanjut, Micheal Laffan dalam tulisan juga mengungkap fakta bahwa salah satu momen penting dalam sejarah hidup Syekh Arsyad ialah kampanyenya melawan Abdul Hamid Abulung, seorang penganut ajaran Wujudiyah, yang dianggap menyimpang oleh para ulama Sunni saat itu. Wujudiyah adalah ajaran yang menekankan pada penyatuan eksistensi antara manusia dengan Tuhan. Menurut kepercayaan masyarakat Banjar, Abulung adalah murid dari Muhammad Nafis Al-Banjari, seorang ulama yang tinggal di Mekkah. Ajaran Abulung menyatakan bahwa “tidak ada yang ada kecuali Dia ... Dia adalah aku dan aku adalah Dia,” yang dianggap berbahaya karena mendekati ajaran panteisme yang dianggap menyimpang. Akibat ajarannya ini, ia dieksekusi atas perintah Sultan Tamjid Allah.(Halaman 30). Satu lagi ulama asal Kalimantan Selatan yang menganut dan menyebarkan tharekat Sammaniyah. Ia adalah Syekh Muhammad Nafis bin Idris Al-Banjari. Ia menulis karya yang sangat populer berjudul Al-Durrun Nafis, atau biasa disebut Darrun Nafis, sebuah teks tasawuf yang membahas konsep wahdatul wujud. Kitab ini masih sering dicetak ulang hingga kini dan menjadi referensi penting dalam kajian Tasawuf. 


Kitab Al-Durrun Nafis diselesaikan sekitar tahun 1200 Hijriah atau 1785 Masehi di Makkah, sepuluh tahun setelah wafatnya Syekh Samman. Dalam kitab tersebut, Syekh Nafis menyebut beberapa nama Guru yang sama dengan yang disebutkan oleh Syekh Abdussamad, salah seorang ulama besar pada masa itu. Ia juga mengaku telah menggabungkan diri ke dalam berbagai Tharekat seperti Qadiriyah, Syatthariyah, Naqsyabandiyah, Khalwatiyah, dan Samaniyah.    

Salah satu Guru yang dikaguminya adalah Syekh Shiddiq bin 'Umar Khan, seorang khalifah dari Syekh Samman, yang juga pernah menjadi guru pertama Abdussamad dalam Tharekat  Sammaniyah. Muhammad Nafis hidup pada masa yang sama dengan dua tokoh ulama besar lainnya, yakni Syekh Abdussamad dan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, namun ia lebih muda dari keduanya.    Meskipun hidup sezaman, Syekh Nafis tampaknya tidak pernah belajar langsung kepada Syekh Samman, karena ia tidak menyebutnya dengan gelar "Syaikhuna" sebagaimana yang biasa digunakan untuk guru-guru lainnya. Hal ini mungkin disebabkan karena ia baru tiba di Hijaz setelah tahun 1775, yang berarti setelah wafatnya Syekh Samman. (Martin van Bruinessen: 380).   

Ajaran Tharekat Samaniyah 

Salah satu kitab yang membahas ajaran tharekat Samman ini adalah Kitab An-Nafahatul Ilahiyah, yang ditulis oleh Syekh Samman. Kitab ini berisi berbagai panduan dan tata cara bagi murid untuk menapaki jalan tharekat serta menggapai Makrifatullah.  

Diantara ajaran dan adab Tharekat Samaniyah sebagai berikut :   

1. Taubat. Dalam Tharekat Samaniyah, bertaubat dipandang sebagai langkah awal yang sangat penting bagi setiap murid. Syekh Samman menjelaskan bahwa taubat bukan sekadar permintaan maaf secara lisan, melainkan sebuah proses yang mencakup penyesalan mendalam, tekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa, dan memperbaiki hubungan dengan Allah serta sesama makhluk. (An-Nafahatul Ilahiyah, halaman 6).  

Ajaran Tharekat Samaniyah, ber-taubat dianggap sebagai pondasi Spiritual yang harus kokoh, karena tanpa taubat yang tulus, perjalanan Spiritual seorang murid tidak akan mencapai kesempurnaan. Karena itu, murid-murid diajak untuk membersihkan hati dan jiwa dari segala noda dosa sebelum melangkah lebih jauh ke tingkat ibadah dan dzikir yang lebih tinggi.  

Perintah taubat ini terkandung dalam surat Tahrim ayat 8:   يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ    Artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya."    Ada juga dalam hadits Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi saw bersabda:   يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إلى اللهِ، فإنِّي أَتُوبُ في اليَومِ إلَيْهِ مِئَةَ مَرَّةٍ   Artinya, "Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari." (HR Bukhari dan Muslim). 

Menurut Syekh Samman ada tiga syarat utama dalam proses bertaubat. 

Pertama, mengingat betapa buruknya dosa yang telah dilakukan. Langkah ini mengharuskan seseorang untuk merenungi tindakan-tindakan yang salah dan melawan nilai-nilai yang diajarkan oleh agama. Sejatinya, perbuatan dosa, sekecil apa pun, adalah bentuk pembangkangan terhadap perintah Allah yang telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Kesadaran ini akan membawa Salik pada rasa penyesalan yang mendalam dan membangkitkan keinginan untuk memperbaiki diri.   

Kedua, mengingat betapa kerasnya hukuman Allah serta beratnya kemurkaan dan kemarahan-Nya yang tidak akan mampu ditahan manusia. Mengingat hukuman ini bukanlah bertujuan untuk menakut-nakuti, melainkan agar manusia memahami realitas dari akibat perbuatan buruknya. Hukuman Allah tidak dapat dihindari atau diringankan oleh kekuatan manusia. Kemurkaan-Nya melampaui semua bentuk kemarahan yang bisa dibayangkan oleh akal. Ketika seseorang mengingat betapa beratnya murka Allah, ia akan terdorong untuk menghindari segala bentuk dosa dan memohon ampunan dengan sepenuh hati.  

Ketiga, menyadari kelemahan diri sendiri dan betapa terbatasnya kemampuan untuk menahan azab. Manusia diciptakan dengan fisik dan jiwa yang lemah. Jika seseorang tidak mampu menahan panasnya matahari di dunia, pukulan dari seorang manusia biasa, atau bahkan gigitan seekor semut kecil, bagaimana mungkin ia mampu menahan panasnya api neraka Jahanam? Dalam berbagai riwayat disebutkan, api neraka memiliki panas yang seribu kali lipat lebih dahsyat dibandingkan api dunia. Di dalamnya, terdapat ular-ular besar dengan tubuh seperti leher unta, serta kalajengking yang seukuran bagal. Semua ini diciptakan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menggambarkan realitas yang harus dihadapi oleh mereka yang tidak bertaubat.

2. Ajaran Tharekat mempunyai  Mursyid.

Seorang murid (salik) yang berkeinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan masuk jalan Tharekat harus mengikuti langkah awal yang diajarkan oleh para Mursyid. 

Langkah tersebut mencakup dua hal : 

pertama, keterikatan secara lahiriah atau formal. Kedua, keterikatan secara bathiniah atau maknawi. Dua aspek ini menjadi pondasi penting dalam perjalanan Spiritual seorang murid (ber-tharekat). 

Keterikatan secara lahiriah terjadi ketika seorang murid mengambil baiat dari seorang Mursyid yakni Guru Spiritual serta menerima ajaran amalan Tharekat.  Setelah mengambil baiat, sang murid diharuskan untuk melaksanakan perintah pekerjaan dzikir yang diberikan oleh Mursyid tanpa kelalaian, baik saat berada di rumah maupun dalam perjalanan. Ketaatan kepada perintah Mursyid akan memberikan perlindungan bagi murid. Meskipun secara fisik mungkin terpisah, tapi hubungan bathin antara Murid dan Mursyid tetap terjaga, dan wasiat dari Mursyid harus dijadikan sebagai cara untuk mengatasi berbagai hambatan yang mungkin muncul. Keterikatan secara bathin terjadi ketika seorang murid sudah mengikatkan diri dengan baiat dan menerima ajaran dzikir, disertai dengan kebersamaan dan pelayanan kepada Mursyid. Hal ini dilakukan untuk memahami makna Baiat dan mendapatkan hak warisan Spiritual dari Mursyid. Jika seorang murid tulus dalam niatnya, ia akan dipandang seperti anak kandung yang mewarisi penuh dari Mursyid.  واستاذ العاملين سيدى السيد (محمد) الغوث . قدس الله سره العزيز . في . في كتابه الدرجات (اعلم) ان أول الشروط في حق المريد السالك وأول سبيل له خيرة المرشد. فبذلك يكون بلوغ المريد   

NU Online : Kamis, 17 Oktober 2024. Oleh : Zainuddin Lubis Penulis 



Ayat 1000 Dinar


Bahasa Latin ayat Seribu Dinar sebagai berikut :

Wa may yattaqillaha yaj al-lahu makhraja. Wa yarzuq-hu min aisu la yahtasib, wa may yatawakkal alallahi fa huwa hasbuh, innallaha baligu amrih, qad ja alallahu likulli syai in qadra.

Banyak orang menganggap bahwa ayat seribu dinar merupakan mantra atau doa pesugihan agar cepat kaya, menarik rezeki setiap hari, mudah menghasilkan banyak uang dan sebagainya.

Didalam kandungan dari ayat seribu dinar tersebut sebagai ayat yang dikhususkan untuk memohon kelimpahan rezeki karena pada dasarnya ayat tersebut memang membahas tentang Allah yang maha kuasa dan maha murah rezeki.

Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baiknya ibadah umatku adalah membaca Alquran.” (HR Baihaqi) termasuk didalamnya adalah ayat seribu dinar.

Berikut adalah keutamaan dan fadilah dari ayat seribu dinar.

1. Barang siapa membacanya dengan sungguh-sungguh, maka Allah SWT akan membantunya keluar dari masalah yang tengah dihadapi.

2. Bagi yang bertakwa kepada-Nya dengan melafalkan ayat seribu dinar, maka Allah SWT akan memberinya rezeki yang berlimpah.

3. Doa ayat seribu dinar yang dibaca merupakan salah satu penghalang bagi syaitan untuk menghasut kita agar berbuat kejahatan atau dosa.

4. Dipakaikan kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat mahkota dari cahaya dan sinarnya bagaikan sinar matahari, dan dikenakan pada kedua orang tuanya dua perhiasan yang nilainya tidak tertandingi oleh dunia.

5. Digolongkan dalam golongan orang beriman.

Ijazah KH Moch Noor Syafei bin KH Syariun bin KH Ja'man Slipi - Jakarta (sumber: Fatimah Syafei)

Maafkan agar Dirimu Lapang



Jangan simpan dendam dalam hati yang ingin ditempati Allah

Dalam ajaran tasawuf, hati dianggap sebagai wadah suci tempat Allah 'bersemayam' secara spiritual. Maka, hati yang dipenuhi kemarahan, dendam, atau kebencian tidak layak dijadikan tempat hadirnya Cahaya Ilahi.

Maaf bukan berarti membenarkan perlakuan buruk orang lain, tapi sebagai jalan untuk melepaskan beban batin yang memberatkan jiwa sendiri. Sufi paham bahwa ketika kita menyimpan dendam, kita sejatinya sedang menyiksa diri sendiri.

Ibnu Athaillah al-Sakandari menulis dalam al-Hikam : "Tidak akan masuk cahaya ke dalam hati yang dipenuhi oleh hal-hal selain Allah." Dendam adalah salah satu hal selain Allah itu : ia memenuhi ruang hati dengan gelapnya emosi energi negatif. Mengapa Memaafkan Memberikan Ketenangan? 

1. Menghapus Energi Negatif dalam Batin

Dendam menciptakan kegelisahan berulang. Memaafkan memutus lingkaran itu.

2. Menghindari Kezaliman Batin

Dalam Islam, bahkan mendoakan keburukan orang yang menyakiti kita bisa jadi dzalim jika sudah berlebihan. Sufi menghindarinya dengan memilih diam atau mendoakan kebaikan.

3. Memaafkan adalah Bentuk Kepercayaan kepada Keadilan Ilahi

 "Saya maafkan karena saya tahu Allah Maha Adil. Biarlah Dia yang mengatur balasannya." Inilah bentuk tawakkal batiniah.

4. Praktik Maaf Ala Sufi

Tutup hari dengan introspeksi dan doa : “Ya Allah, aku lepaskan semua sakit hati ini karena Engkau lebih tahu dari apa yang aku rasa. Gantikan dengan lapang dada dan rahmat dari-Mu.”

Jangan bahas ulang kesalahan orang, kecuali untuk mengambil pelajaran. Berlatihlah mendoakan orang yang menyakiti, bukan karena mereka layak, tapi karena kita ingin damai. Inilah Psikologi Jiwa dalam Spritual.

Mulailah belajar menerima dengan lapang dada apapun yang terjadi. Karena mau kita terima atau tidak, semuanya tetap berjalan. Takdir tidak pernah bertanya bagaimana perasaan kita, apakah kita suka, tidak suka, atau bahagia. Takdir juga tidak menunggu proses kita. Justru di situlah letak kekuatan. Ketika kita belajar menerima, kita menjadi lebih kuat, lebih tenang, dan lebih siap menghadapi apapun yang datang.


Pembenaran bukanlah Kebenaran

Q.S Al-An-am : 116 : "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan mu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta"

Q.S Yunus : 36 : "Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali prasangkaan saja. Sesungguhnya prasangka itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan".

Kedua Ayat ini menegasakan bahwa kebanyakan manusia mengikuti sesuatu hanya berdasarkan prasangka, persepsi pribadi, atau pembenaran. Dan semua itu bukanlah kebenaran. 

Pengalaman langsung adalah apa yang diinginkan oleh jiwa. Ingatlah bahwa Kata-kata suci yang paling sucipun hanyalah Kata-Kata. Dan semua ajaran adalah referensi belaka.

Pengalaman sejati, yang tiada lain adalah Hidup Kita sendiri, itu yang paling penting. Temukan Cahaya Sejati kita sendiri di dalam sebagai rumah suci kita. Bila Kita sudah mampu menemukan rumah suci di dalam, maka semua yang di luar akan tampak suci. Bila Kita sudah menemukan keindahan di dalam, maka semua yang di luar akan tampak indah. 

Bila Kita sudah menemukan jantung kehidupan di dalam, maka Kita akan dapat menyaksikan jantung kehidupan semesta di luar. Untuk menemukan intisari terdalam diri kita, jalannya bukanlah di langit, bukan di tempat yang jauh, jalannya ada dalam diri sendiri, di QOLBU Kita.

Hapuslah semua ide dan konsep yang usang, yang selama ini bercokol di pikiran tentang berbagai penjelasan dan definisi yang seolah-olah itu kebenaran, padahal yang sesungguhnya adalah pembenaran yang diciptakan oleh persepsi pikiran, agar kebenaran sejati memiliki kesempatan untuk menembus dan megungkapkan dirinya sendiri.

Saat kebenaran sejati mengungkapkan dirinya sendiri, maka kita akan mengalami selflesness, aimlesness, signlesness dan reasonless. Keakuan lenyap, hidup mengalir, lepas segala atribut, hilang segala penjelasan.  

Sadari bahwa selama ini terkadang kehidupan Kita tidak berarti dan tidak bermakna, karena kita membiarkan diri Kita terombang-ambing antara suka dan duka, antara panas dan dingin, antara benar dan salah, antara baik dan buruk, antara kebencian dan kecintaan, antara kehidupan dan kematian, Padahal Allah ada diantara keduanya. 

Hanya mereka yang sudah mengetahui diri sejatinya secara persis, yang dapat mengetahui yang nyata dan yang proyeksi. Pengetahuan tentang diri adalah pintu semua pengetahuan. Ingat tujuan hidup kita adalah melampaui yang fana dan mencapai Kesadaran akan kesatuan dari segalanya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Dan pengalaman langsung adalah penting untuk mencapai kesadaran. Temukan bahwa kebenaran itu satu adanya. Dan jalan menuju Kebenaran bukanlah jalan raya. Jalan menuju Kebenaran adalah jalan sempit, begitu sempit untuk jalan pribadi Kita. Karena harus melewati jalan itu seorang diri dan tidak bisa bergandengan dengan siapapun.  

Dengan pena Kita sendiri yang dianugerahi Allah, Kita bisa melakukan Iqro di Qolbun Salim (di rumahnya yang damai).Tingkatkan semangat meniti Shirothol Mustaqim yaitu jalan yang telah diatasi oleh para Nabi, para Syuhada dan para Sholihin, untuk memperoleh nikmat.  

Berusahalah menjadi Manusia-manusia Ied (Merasakan sebuah perayaan dengan hidangan langit) dan Faidzin (Memperoleh kemenangan, yaitu dengan Kebebasan jiwa). Yakin semua makhluk hidup, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, di setiap ruang dan waktu, di semua tingkatan....senantiasa Hidup Berbahagia.

Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."








Menerima Kebenaran


Kebenaran tidak selalu hadir dalam bentuk yang menyenangkan. 

Ada kalanya ia menegur kesalahan kita, membongkar kenyamanan yang selama ini kita pertahankan, atau memaksa kita mengakui bahwa selama ini kita telah keliru. Karena itulah menerima kebenaran sering kali jauh lebih sulit daripada menemukannya. Bukan karena kebenaran itu kurang jelas, melainkan karena ego manusia lebih senang mendengar apa yang sesuai dengan keinginannya daripada apa yang benar-benar perlu didengarnya.

Banyak orang tidak menolak sebuah pendapat karena kurangnya bukti, tetapi karena konsekuensi dari menerimanya terasa terlalu berat. Mengakui kesalahan berarti harus meminta maaf. Menerima nasihat berarti harus mengubah kebiasaan. Mengakui kebenaran berarti mungkin harus meninggalkan kepentingan, gengsi, atau kenyamanan yang telah lama dinikmati. Akibatnya, seseorang mulai mencari berbagai alasan untuk membenarkan dirinya sendiri. Yang dicari bukan lagi kebenaran, melainkan pembenaran.

Sikap seperti ini perlahan menutup pintu pertumbuhan. Orang yang hanya mau menerima sesuatu jika sesuai dengan keinginannya akan sulit belajar. Ia tidak lagi mendengarkan dengan pikiran yang terbuka, tetapi hanya menunggu kesempatan untuk menolak. Setiap kritik dianggap serangan, setiap nasihat dipandang sebagai penghinaan, dan setiap perbedaan diperlakukan sebagai ancaman. Pada akhirnya, ia terjebak dalam dunia yang hanya memantulkan pendapatnya sendiri, tanpa pernah memberi ruang bagi kemungkinan bahwa dirinya juga boleh salah.

Sebaliknya, orang yang bijaksana tidak menjadikan egonya sebagai ukuran kebenaran. Ia berani berkata, “Aku keliru,” ketika memang terbukti salah. Ia bersedia mengubah pendapatnya ketika menemukan alasan yang lebih kuat. Sikap seperti ini bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan. Sebab yang mulia bukanlah orang yang tidak pernah salah, melainkan orang yang lebih mencintai kebenaran daripada gengsinya sendiri.

"Ikutilah kebenaran, dan jangan mengikuti orang yang benar, karena belum tentu besok pagi orang itu benar lagi".




Melepaskan Kotoran Jiwa


Dalam Q.S 91:9-10 Allah berfirman : "Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan JIWA-nya. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori JIWA-nya".

Mari Kita jujur pada diri Kita sendiri bahwa kepribadian kita terdiri dari banyak faktor yang berbeda, beberapa diantaranya saling berlawanan. Terkadang kita di suatu waktu begitu penuh kasih dan di lain waktu kita dapat menjadi pendengki. Ada saat kita menjadi sombong dan menolak nasihat orang lain, di lain kesempatan kita menjadi terbuka dan mau belajar. 

Kita tidak memiliki kepribadian tetap karena karakteristik kita dapat berubah. Dengan semakin membiasakan diri dengan sikap konstruktif dan mengurangi sikap yang membahayakan, karakter kita dapat berkembang.

KOTORAN BATHIN itu bukanlah bagian INTRINSIK dalam diri kita. kotoran bathin itu bagaikan awan yang menyelimuti dan memburamkan langit yang luas, sehingga mereka dapat berubah dan hilang. 

Kekotoran bathin itu sumbernya berasal dari SALAH INTERPRETASI dan PROYEKSI yang tidak tepat, sehingga jika kita menyadari kesalahan ini, kekotoran negatif tersebut dapat diatasi. Saat KEBIJAKSANAAN dan WELAS ASIH meningkat, kotoran batin akan lenyap. 

Kotoran Bathin itu tidak akan bisa lenyap dengan hanya dengan mengharapkan atau berdo'a begitu saja. kotoran bathin itu disebabkan oleh Kita telah menciptanya. Saat kita mengurangi kotoran batin dalam keseharian kita secara bertahap, maka PIKIRAN YANG DAMAI akan muncul secara alamiah. 

Kita memiliki tanggung jawab dan kendali. Bathin yang jernih selalu ada dalam diri kita, hanya sedang menunggu untuk disingkap melalui lenyapnya awan kotoran batin. Inilah keindahan kita sebagai manusia, inilah potensi kita.

Kekotoran bathin kita sesungguhnya terdiri dari dua faktor utama : Yang pertama adalah ketidaktahuan, dan Yang kedua adalah egoisme. 

Ketika Kita tidak memahami dan mengenal JATI DIRI Kita, dan bagaimana fenomena kekotoran bathin itu bisa terjadi pada diri Kita, Inilah yang disebut ketidaktahuan. Akibat ketidaktahuan itu, maka kita kemudian menempatkan penekanan yang tidak proporsional pada saya dan milik saya.

Filosofi batinnya adalah, “Saya adalah orang terpenting. Kebahagiaan saya adalah yang paling penting dan penderitaan saya harus diakhiri terlebih dahulu.” Hal ini tampak seperti sifat kekanak-kanakan, namun ketika kita memeriksa pikiran kita sendiri, kita akan menemukan banyak perilaku kita yang dimotivasi oleh sikap “kebahagiaan saya.” Ini adalah kebiasaan yang telah kita miliki sejak lahir (bahkan sebelum kita lahir). Walaupun bayi tidak dapat berpikir dalam kata-kata, mereka menangis untuk makan bukan hanya karena perut mereka lapar, namun juga karena pikiran mereka sedang menuntut untuk “KEBAHAGIAAN SAYA SEKARANG”. 

Jika Kita menjadi egois, maka tidak mungkin lagi menumbuhkan CINTA dan WELAS ASIH tanpa batas bagi semua makhluk. Banyak orang yang selama berabad-abad telah berhasil mengubah sikap dan benar-benar mengutamakan orang lain dibandingkan dengan diri mereka sendiri. Pada kenyataannya, EGOISME dapat dikurangi dan pada akhirnya dapat dilenyapkan dari arus batin kita. Sadarilah kerugian akibat bersikap egois. Setelah meyakini bahwa egoisme menjadi penyebab semua masalah yang tidak diinginkan, kita pun akan memeriksa cara kerja dan melenyapkannya. Kerugian lain dari pikiran yang egois adalah masalah kita akan tampak lebih besar dibandingkan yang sebenarnya. Kita  mengalami kesulitan yang kecil, namun dengan memikirkannya berulang kali,

Masalah itu bertumbuh hingga kita tidak dapat memikirkan hal lain lagi. keterpakuan kita terhadap hal kecil membuat mereka menempati proporsi yang besar dengan konsekuensi yang seakan dapat menggetarkan dunia.

Yakin Semua Makhluk Hidup, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, di setiap ruang dan waktu, di semua tingkatan....senantiasa HIDUP BAHAGIA.....







Berdamai dengan diri Sendiri


Semakin seseorang merasa menemukan kebenaran, semakin keras ia berbicara tentang kebenaran itu. Semakin sering ia mengucapkan "Ini yang benar!" "Yang lain salah!" "Ikuti jalan ini!". Semakin panjang ceramahnya. Semakin rajin ia mengoreksi Iman orang lain, dan sibuk membicarakan Tuhan, padahal justru ia sendiri yang paling jauh dari ketenangan.

Manusia memang unik. Ia bisa menghafal ribuan definisi dalil tentang Tuhan, tapi tetap panik saat hidup tidak sesuai harapan. Ia bisa menjelaskan Tauhid dengan sangat fasih, tapi masih marah besar ketika pendapatnya tidak disukai. Ia bisa berdebat tentang kebenaran sepanjang malam, tapi Ia masih gelisah ketika lampu kamar dimatikan. 

Di situlah ironisnya Spiritual sering muncul. Semakin seseorang bicara tentang kebenaran, kadang justru semakin terlihat bahwa ia masih ingin diyakinkan. Masih ingin diakui. Masih ingin dibenarkan. Karena ketika kebenaran itu sudah benar menjadi bagian dari dirinya, ia tidak lagi sibuk  mengumumkannya. Ia hanya hidup dengan dirinya. Seperti Matahari yang tidak pernah membuat status. Matahari tidak perlu klarifikasi ataupun validasi. Ia cukup terbit. 

Begitu pula kesadaran. Ia benar-benar melihat sesuatu dengan jernih didalam dirinya, ia tidak lagi tergesa-gesa meyakinkan orang lain. Bukan karena ia merasa lebih tinggi atau bukan karena ia merasa paling benar. Tapi karena ia sudah selesai berdebat dengan dirinya sendiri. 

Dan yang paling sulit adalah menenangkan diri sendiri. Maka sebelum manusia  berdamai dengan dirinya sendiri, Ia akan terus mencari musuh di luar dirinya. Musuh teologis. Musuh ideologis. Musuh filosofis. Padahal, bukan karena kebenaran yang sedang ia pertahankan. Tetapi karena ego nya sedang terancam. Ego itu bisa memakai jubah agama. Ia bisa berbicara atas nama Tuhan. Ia bisa mengutip ayat dengan sangat fasih. Tapi diam-diam ia hanya ingin satu hal yaitu dianggap paling benar. Itulah sebabnya para Pencari yang benar-benar sampai pada kedalaman tertentu sering terlihat… biasa saja. 

— Tidak gaduh.

— Tidak dramatis.

— Tidak sibuk membuktikan dirinya suci.

Mereka masih tertawa. Masih bekerja. Masih makan gorengan pinggir jalan. Tapi ada satu hal yang berubah : mereka tidak lagi panik ketika dunia tidak sepakat dengan mereka. Karena mereka sudah menemukan satu ruang kemenangan di dalam dirinya. Ruang yang tidak bisa diganggu oleh pujian. Ruang yang tidak bisa digoyahkan oleh hinaan. Ruang yang hanya berisi satu hal yaitu Ketenangan.

Dan di sinilah paradoks terbesar dari perjalanan Tauhid. Semakin seseorang mendekati kebenaran, semakin ia tidak merasa perlu berbicara banyak tentang kebenaran itu. Bukan karena ia tidak peduli. Bukan karena ia tidak tahu. Tetapi karena ia sudah mengerti satu hal sederhana yang sering dilupakan manusia : Kebenaran yang benar-benar hidup di dalam diri seseorang tidak selalu terdengar keras. Kadang ia hanya hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. 

Sebuah nafas yang tenang, sebuah langkah yang tidak tergesa, dan sebuah hati yang tidak lagi merasa perlu menang dalam setiap percakapan. Ia sudah memahami satu rahasia kecil kehidupan : Bahwa dalam perjalanan menuju kebenaran, ada satu titik di mana kata-kata mulai kelelahan. Dan ketika itu terjadi, yang tersisa hanyalah keheningan yang tidak perlu dibela oleh siapa pun. 

Berdamailah dengan keadaan dan mengikhlaskan banyak hal yang tidak bisa Anda paksakan, biar hidup ini lebih tenang dan damai.

Saat Anda berdamai dengan diri, Anda tidak lagi sibuk melawan apa yang tidak bisa Anda ubah. Anda mulai menerima bahwa tidak semua hal harus sempurna, tidak semua luka harus segera sembuh, dan tidak semua orang harus memahami perjalananmu. Ada ketenangan yang muncul ketika Anda berhenti menjadi musuh bagi dirimu sendiri.

Berdamailah dengan diri bukan berarti menyerah pada keadaan. Justru di sanalah Anda belajar menerima masa lalu tanpa terus hidup di dalamnya, mengakui kekurangan tanpa membenci diri sendiri, dan melepaskan kebutuhan untuk selalu mendapatkan pengakuan dari orang lain. Anda mulai memilih hidup dari kesadaran, bukan dari ketakutan.

Pada akhirnya, beban hidup mungkin tetap ada, tetapi cara Anda membawanya berubah. Hati yang dulu penuh perlawanan perlahan menjadi lebih lapang. Karena terkadang yang membuat hidup terasa berat bukan hanya masalahnya, melainkan perjuangan kita untuk terus melawan diri sendiri.

Saat Anda berdamai dengan diri, perjalanan hidup akan terasa lebih ringan.