Wadah Spritual

Ciri Seorang yang mempunyai Wadah Spritual : 

1. Hatinya bersih sudah tidak ada lagi rasa iri dan dengki.

2. Banyak orang yang salah faham dan tidak Sefrekuensi dengannya 

3. Banyak dikhianati orang terdekatnya, baik Teman bahkan dikhianati Keluarganya.

4. Banyak yang merasa tidak nyaman dan merasa tersaingi dengan kehadirannya.

5. Kuat dalam Latihan Spiritual/Riyadhoh atau Pembersihan diri dari Hawa Nafsu

6. Ilmunya diatas rata-rata Spiritual biasa, Tenang dan Rendah hati

7. Sudah Mengenal diri dan mengenal Tuhannya.

Orang yang tidak Satu frekuensi dengan ciri tersebut maka akan pergi dengan sendirinya. Tuhan punya cara untuk memisahkan orang tersebut. Jangan heran jika Pejalan Spritual banyak dimusuhi dan mau dijatuhkan orang lain.

Ilmu SYARIAT harus Benci memandang Maksiat, tetapi Ilmu MAKRIFAT tidak ada daya upaya semua adalah Kehendak Gusti Allah. Dengan tidak sibuk memandang/mencari kesalahan dan dosa orang lain, tetapi ia sibuk dengan Membaca Kitab Diri Sendiri. 



Dia yang Esa

Aku menyebut diriku 'AKU'. Tapi semakin jauh aku melangkah, semakin samar siapa aku. Apakah tubuh ini Aku. Lalu mengapa ia tua, sakit dan mati. Apakah pikiranku Aku.. Tapi pikiranku berubah setiap hari. Apakah rasaku Aku. Namun rasa juga datang dan pergi tanpa izin, lalu siapa sebenarnya aku ini. 

Dititik sunyi aku mulai mengerti, bahwa sejatinya aku bukan siapa-siapa. Aku bukan milikku, Aku bukan milik dunia. Aku bukan milik nama, gelar, bahkan bukan milik ibadahku. Aku ini pinjaman. Setiap hela nafas, setiap detak jantung adalah titipan dariNya dan semua akan kembali kepada-Nya. Maka sejatinya diri adalah Ketiadaan. Bila engkau ingin mengenal Tuhan mu, maka hilangkan dirimu

Bukan lenyap jasadmu, tapi lenyap ' AKU ' yang merasa memiki amal, yang merasa pantas dipuji, yang merasa tahu, yang merasa telah sampai. Karena yang benar-benar ada hanya Dia yang Esa, yang awal dan yang akhir. 

Dan aku Hanya bayangan yang akan hilang saat Cahaya Sejati hadir. Di saat aku berhenti berkata 'aku shalat' dan hatiku berkata 'Engkaulah yang menggerakkan ku '. Disaat aku tidak berkata 'Aku sabar', karena aku tahu, aku tak mampu tanpamu. 

Disaat itulah aku mulai mengenal sejati dari diri ini. Bahwa aku ini tidak pernah ada, selain sebagai cermin bagi Nama dan Sifatmu

Dan dalam kehampaan itu, engkau akan merasakan ketenangan yang tak bisa dijelaskan oleh kata, karena yang berbicara bukan lagi mulut, tapi ruh yang mengenal asalnya. (Sejatinya diri bukan untuk ditemukan, tapi untuk dihilangkan, agar yang tersisa hanyalah Dia.


Ajaran Spritual

Sebuah Perjalanan SPIRITUAL setiap manusia tidak akan pernah sama meski laku yang dijalani semua telah sesuai dengan takaran wadah yang ia punya. dan terlebih wadah itu telah ada sejak lahir wadah yang disiapkan untuk sesuatu yang besar.

Wadah yang akan menjalankan titah amanah yang menyangkut kepentingan yang lebih luas. Jangan heran jika wadah itu telah menemukan Guru Pembimbing di Alam nyata akan lebih cepat menyerap bahkan melebihi Guru yang membimbingnya. Karena perjalanan SPRITUAL dituntut untuk cepat mengerti dan memahami serta menjalankan titahnya.

Wadah-wadah itu telah digembleng dengan kepedihan kehidupan sejak kecil hingga selama hidupnya. Itu untuk menjadikan mereka bijaksana dalam menjalankan titahnya dengan berjiwa kesatria bersifat Welas Asih. Karena semua leluhur telah memilih wadahnya.

Kekharismaan seseorang pada dirinya ada Dua yaitu dari luar dan dari dalam,

Kharisma Dari luar personality yang meliputi Dan diperoleh dari penampilan fisik seperti bentuk fisik, rupa menawan..

Kharisma dari dalam didapat dari dalam diri seperti sifat, prilaku sikap atau memang dari spiritual alami maupun dari olah energi seperti meditasi, puasa, atau olah energi lainnya yang menjadikan energi positif membuat orang melihat segan, suka melihatnya terasa sejuk ketika melihat wajah diri.

Begitu juga orang-orang yang memiliki Energi Alami dari Alam yang membuat orang memandang bisa menyukai atau patuh kepada dirinya....Bukan karena takut melainkan karena memang ingin melakukannya dan orang tersebut rela mengorbankan sesuatu untuk orang-orang yang memang memiliki KEKHARISMAAN yang ALAMI dari ALAM bukan dari olah energi yang dikerjakan.

Banyak pelaku Spiritual yang menginginkan energi kharisma tersebut untuk menguntungkan diri pribadi, namun hal itu tidaklah mudah untuk didapatkan.

Dan orang orang yang memiliki kharisma alami itupun didapatnya dari proses alami dari alam dengan gemblengan kehidupan hingga pada titik tersebut. Cahaya terang itu layaknya sebuah pohon yang besar yang selalu bisa memberikan keteduhan serta kesejukan bagi seluruh insan.

Karena sejatinya puncak ajaran spiritual dari setiap ajaran, agama dan kepercayaan adalah Welas Asih yaitu kasih Sayang Atau Ajaran Budi Dharma 

Inti dari setiap ajaran SPIRITUAL adalah Kasih dan Sayang.

Ketika kita bisa merasakan kedahsyatan dari kasih sayang di dalam diri serta batin kita, lalu menyebarkan kasih sayang itu kepada semua makhluk dari Sang Pencipta dengan selalu memilih Jalan KEWELAS ASIHAN. Menghormati serta menghargai sesama kehidupan serta mengenali JATI DIRI yang SEJATI adalah jalan terbaik untuk kembali memunculkan sifat serta perilaku sebagai Manusia yang SEJATI-JATInya Manusia.

Karena sebenarnya tidak ada segala sesuatu kecuali hanya Dia saja (Zat yang Maha Suci, Zat tertinggi yang tidak bisa digambarkan hanya dengan bahasa pikiran semata) Atau Gusti Pangeran Atau Allah Yang Maha Kuasa. Tanpa umat ketahui sejatinya kita sedang menuju ke arah yang sama. Maka kembalilah pada jalur yang Benar yaitu jalur kasih dan Sayang (WELAS ASIH). 

Semoga semua makhluk selalu dalam Keberkahan dan Kedamaian. Selalu menghiasi dalam setiap jalan dari kehidupannya.


Waktunya Menghidupkan Spritual

Dahulu, kenabian adalah lentera. Ia hadir di tengah gelapnya peradaban, memotong belantara takhayul, menata ulang moral manusia, dan menegakkan tauhid di atas puing-puing penyembahan berhala. 

Kenabian itu cahaya. Dan cahaya itu sudah sempurna diturunkan. Final. Lengkap. Karena itu, tidak ada nabi baru.Tidak ada wahyu baru. Tidak ada sistem kenabian baru. Tapi… apakah artinya manusia berhenti bertumbuh? Tidak. Justru karena wahyu telah sempurna, kini tanggung jawabnya pindah ke kesadaran kita. Bukan lagi menunggu suara dari langit, tapi belajar membuka langit di dalam diri. 

Kita tidak hidup di fase mencari Nabi. Kita hidup di era menghidupkan Kesadaran. Keilahian tidak pernah terkurung dalam simbol. Ia tidak terpenjara dalam struktur. Ia hadir ketika hati jujur, ketika akal berani berpikir, ketika jiwa tunduk tanpa pamer. Dan di sinilah banyak yang salah paham.

Agama tanpa Kesadaran hanya menjadi rutinitas. Ritual tanpa kedalaman hanya menjadi gerakan kosong. Dan dogma tanpa perenungan hanya melahirkan fanatisme. Tuhan tidak pernah butuh makelar. Yang butuh makelar adalah manusia yang malas berpikir dan takut menyelam ke batinnya sendiri. 

Padahal Al-Qur’an sendiri berkali-kali berkata : Afala tatafakkarun — tidakkah kamu berpikir? afala ta’qilun — tidakkah kamu menggunakan akal? Artinya apa? Akses itu langsung. Kesadaran itu personal. Pertanggungjawaban itu individual. Setiap napas adalah amanah. Setiap detak adalah kesempatan. 

Spiritualitas bukan berarti keluar dari Agama. Spiritualitas adalah menghidupkan Agama di dalam diri. Bukan sibuk mencari perantara baru, tapi berhenti bergantung pada perantara yang membuat kita tidak pernah dewasa secara ruhani.

Ini bukan era pemberontakan terhadap Wahyu. Ini era pembebasan dari kemalasan berpikir. Dan pembebasan itu dimulai dari satu hal sederhana yaitu berani jujur pada diri sendiri. Karena pada akhirnya, yang disebut “waras” bukan yang paling keras membela simbol, tapi yang paling dalam menyadari Hakikat. 

Semoga kita tidak lagi sekedar menjadi pengikut, tapi menjadi manusia Sadar. Tanpa sombong, tanpa fanatik dan tanpa kehilangan Tauhid. Hanya jiwa yang hening, yang tahu bahwa Tuhan selalu dekat—bahkan lebih dekat dari pikiran kita sendiri. 

Salam Kesadaran !!!



Pesan Sufi

Sufisme tidak dapat disebut agama karena ia bebas dari prinsip, perbedaan, dan pembedaan, yang merupakan dasar dari berdirinya agama-agama; ia juga tidak dapat disebut filsafat, karena filsafat mengajarkan studi tentang alam dalam kualitas dan keberagamannya, sedangkan Sufisme mengajarkan kesatuan. Oleh karena itu, yang paling tepat disebut sebagai pelatihan pandangan saja.

Kata 'Sufi' menyiratkan kesucian, dan kesucian mengandung dua kualitas. Murni berarti tidak tercampur dengan unsur lain, atau dengan kata lain sesuatu yang ada dalam unsurnya sendiri, tanpa campuran dan tanpa noda. Kualitas kedua dari kesucian adalah kemampuan beradaptasi yang tinggi.

Demikian pula sifat seorang Sufi. Pertama-tama, ia menyucikan dirinya dengan selalu menjaga visi Tuhan di hadapannya, tidak membiarkan noda perbedaan dan pembedaan duniawi tercermin di hatinya, demikian pula pergaulan yang baik atau buruk, atau pergaulan dengan orang-orang kelas atas atau bawah. Iman atau kepercayaan pun tidak akan pernah mengganggu kesuciannya.

Seorang Sufi menunjukkan persaudaraan universalnya dalam kemampuan beradaptasi. Di antara umat Kristen ia adalah seorang Kristen, di antara umat Yahudi ia adalah seorang Yahudi, di antara umat Muslim ia adalah seorang Muslim, di antara umat Hindu ia adalah seorang Hindu; karena ia satu dengan semua, dan dengan demikian semua bersama dengannya. Ia mengizinkan setiap orang untuk bergabung dalam persaudaraannya, dan dengan cara yang sama ia mengizinkan dirinya sendiri untuk bergabung dalam persaudaraan lainnya. Ia tidak pernah bertanya, 'Apa kepercayaan, bangsa, atau agamamu?' Ia juga tidak bertanya, 'Apa ajaran atau prinsipmu?'

Panggil dia saudara, dia akan menjawab saudara, dan dia sungguh-sungguh mengatakannya. Mengenai prinsip, seorang Sufi tidak memiliki prinsip, karena kebaikan mungkin bermanfaat bagi seseorang dan berbahaya bagi orang lain. Demikian pula dengan semua prinsip, baik dan buruk, ramah dan kejam. Seseorang mungkin percaya pada prinsip tertentu, sementara orang lain mungkin memiliki pendapat yang sangat bertentangan. Apa yang disebut baik oleh seseorang mungkin disebut buruk oleh orang lain. Seseorang mengatakan jalan tertentu adalah jalan yang benar, sementara orang lain mengambil arah yang berlawanan.

Seorang Sufi, alih-alih berpusat pada suka dan tidak sukanya serta membatasi diri pada keyakinan atau kepercayaan tertentu, dan menalar tentang benar dan salah, memfokuskan pandangannya pada pandangan orang lain, dan dengan demikian melihat alasan mengapa ia percaya dan mengapa ia tidak percaya, mengapa sesuatu itu benar bagi seseorang dan salah bagi orang lain. Ia juga memahami mengapa apa yang disebut baik oleh sebagian orang mungkin disebut buruk oleh orang lain, dan dengan demikian, dengan mengendalikan sudut pandangnya, ia mencapai puncak kebijaksanaan sejati.

Seorang Sufi adalah seorang Kristen sejati dalam hal amal, persaudaraan, dan penyembuhan jiwanya sendiri serta jiwa orang lain. Ia tidak fanatik dalam ketaatannya pada Gereja tertentu, atau dalam meninggalkan guru-guru lain dan pengikut mereka yang datang sebelum dan sesudah Kristus, tetapi kesatuannya dengan Kristus serta penghargaan dan praktik kebenaran-Nya sama tajamnya dengan seorang Kristen sejati.

Dalam kehidupan para dervishlah kita melihat gambaran nyata kehidupan dan ajaran Kristus, terutama dalam berbagi atap dan makanan dengan orang lain, baik teman maupun musuh. Bahkan hingga saat ini mereka terus menjalani kehidupan yang murni. Seorang Sufi adalah seorang Katolik karena ia mewujudkan gambaran ideal pengabdiannya dalam jiwanya, dan ia adalah seorang Protestan karena meninggalkan upacara-upacara keagamaan.

Sufi adalah seorang Brahmana, karena kata Brahmana berarti 'orang yang mengetahui Brahma', Tuhan, satu-satunya Wujud. Agamanya terletak pada kepercayaan bahwa tidak ada eksistensi lain selain Tuhan, yang oleh Brahmana disebut Advaita. Sufi memiliki tingkatan evolusi spiritual yang sama banyaknya dengan Yogi. Hampir tidak ada perbedaan yang ditemukan bahkan dalam praktik mereka, perbedaannya terutama terletak pada nama-nama. Tidak diragukan lagi bahwa Sufi memilih kehidupan normal daripada kehidupan seorang pertapa, namun ia tidak membatasi dirinya pada yang pertama atau yang terakhir.

Seorang Sufi menganggap ajaran para Avatar sebagai manifestasi sejati dari kebijaksanaan ilahi, dan ia memiliki wawasan sempurna tentang pengetahuan halus Vedanta. Seorang Sufi menghargai konsep Jain tentang tanpa kekerasan, dan menganggap bahwa kebaikan adalah jalan sejati menuju kesucian dan kesempurnaan. Di masa lalu, para Sufi menjalani kehidupan pelepasan duniawi, dan di Timur sebagian besar dari mereka masih menjalani kehidupan yang sangat tanpa kekerasan, seperti halnya kaum Jain.

Seorang Sufi adalah seorang Buddhis, karena ia menggunakan penalaran di setiap langkah perjalanan spiritualnya. Ajaran Sufi sangat mirip dengan ajaran Buddha; bahkan, Sufi-lah yang menyatukan orang-orang beriman dan orang-orang kafir dalam ideal Tuhan dan dalam pengetahuan tentang kesatuan.

Seorang Sufi adalah seorang Muslim, bukan karena banyak Muslim yang kebetulan adalah Sufi, atau karena penggunaan ungkapan-ungkapan Muslim olehnya, tetapi karena dalam hidupnya ia membuktikan seperti apa seharusnya seorang Muslim sejati. Umat Muslim memiliki rasa pengabdian yang sedemikian rupa sehingga betapapun besarnya dosa atau betapapun kejamnya seseorang, nama Allah atau Nabi  Muhammad SAW akan langsung membuatnya menangis. Demikian pula, praktik-praktik Sufisme pertama-tama mengembangkan kualitas hati yang sering diabaikan oleh banyak mistikus lainnya. Penyucian hati inilah yang membuatnya reseptif terhadap pencerahan jiwa. Para Sufi adalah orang-orang yang membaca Al-Qur'an dari setiap pengalaman hidup, dan melihat serta mengenali wajah Muhammad dalam setiap atom manifestasi.

Seorang Sufi, seperti seorang Zoroaster atau Persia, memandang matahari dan bersujud di hadapan udara, api, air, dan bumi, mengakui kemahakuasaan Tuhan dalam manifestasi-Nya, menganggap matahari dan bulan sebagai tanda-tanda Tuhan. Seorang Sufi menafsirkan api sebagai simbol kebijaksanaan, dan matahari sebagai cahaya surgawi. Ia tidak hanya bersujud di hadapan mereka tetapi juga menyerap kualitas mereka. Biasanya di hadapan para dervish, api unggun dan dupa menyala terus-menerus.

Seorang Sufi adalah seorang Israelit, terutama dalam studi dan penguasaannya terhadap berbagai nama Tuhan. Kekuatan ajaib Musa juga dapat ditemukan dalam kehidupan para Sufi di masa lalu dan sekarang. Bahkan, seorang Sufi adalah ahli dalam mistisisme Ibrani, suara ilahi yang didengar Musa di Gunung Sinai di masa lalu dapat didengar oleh banyak Sufi saat ini.





Jalan Cinta Sufi

Para astronom menyatakan bahwa planet Jupiter bukanlah massa padat, melainkan mungkin bola raksasa berisi zat gas. Jika ada penghuni di sana, mereka lebih dekat dengan tipe evolusi jenius daripada umat manusia di bumi, dan mereka tidak sepenuhnya menyerap kehidupan di permukaan.

Dalam kitab-kitab Purana Hindu dan literatur para Teosofis disebutkan adanya makhluk serupa sebagai leluhur umat manusia. Dalam tradisi okultisme kuno, mereka disebut Hyperborean. Semua dewa bangsa Arya termasuk dalam jenis ini, dan di tempat asal mereka, bangsa Arya masih dapat berhubungan dengan makhluk-makhluk ini.

Cahaya di dalam tubuh lebih berperan dalam penyembuhan daripada cahaya di luar tubuh. Sinar-X dan gelombang radioaktif memang menembus jaringan dan dengan cara ini memberikan manfaat yaitu, menghantarkan semacam cahaya ke dalam tubuh. Namun, laju getarannya terlalu besar bagi molekul dan sel fisik untuk menahan dan mempertahankan bentuknya ketika dibombardir, sehingga aksi sinar-sinar ini seringkali bersifat merusak daripada kreatif atau mempertahankan.

Seorang anak yang terbiasa dengan perawatan radioaktif mungkin akan tumbuh sehat di bawah perawatan tersebut, tetapi seluruh sistem tubuhnya, termasuk penglihatan dan sarafnya akan berubah. Metode alami menerima cahaya melalui pernapasan adalah yang terbaik. Sang mistikus melakukan ini dan bahkan dapat menerangi bagian dalam tubuh.

Sebagian orang yang keberatan dengan pernyataan bahwa tubuh dapat dipenuhi cahaya setuju bahwa tubuh dapat dipenuhi listrik. Apa itu listrik? Apa itu magnetisme? Keduanya adalah variasi dari energi yang sama yang kita sebut cahaya. Itu adalah hal yang sama, hanya dengan nama yang berbeda. Tetapi apa yang memberi warna pada kulit, darah, dan organ kita? Bukan listrik; melainkan cahaya yang masuk ke dalam sistem kita setiap kali kita bernapas.

Sebagian orang membayangkan bahwa mereka dapat mengarahkan prana ke organ-organ tertentu dan dengan cara itu mencapai pencerahan. Yang lain tidak memperhatikannya tetapi berkonsentrasi pada Tuhan tanpa selalu menyadari bahwa tindakan ini membersihkan darah sehingga dapat membawa cahaya ke chakra.

Ilmu pengetahuan membuktikan hubungan antara chakra atau kelenjar tanpa saluran dan darah. Manusia tidak dapat memaksa chakra untuk terbuka atau mengendalikannya, tetapi Energi Ilahi, yang termanifestasi dalam air, napas, dan darah melalui Rahmat Tuhan dan bukan melalui kehendak manusia, dapat membuka semua chakra dan menerangi setiap bagian pikiran.

Para Sufi memusatkan perhatian pada hati karena mengetahui bahwa hati adalah pusat kendali pikiran dan semua wahananya, termasuk tubuh fisik.

Para Sufi juga memusatkan perhatian pada hati yang merupakan tempat bersemayamnya cinta dan sarana untuk mendekati dan menyapa Sang Kekasih.

Meditasi dalam hati jauh lebih aman dan lebih cepat daripada merangsang pernapasan. Meditasi ini tidak menimbulkan reaksi fisik dan selain itu, memperkuat kualitas moral dan spiritual.

Tidak perlu memberikan banyak latihan pernapasan dan postur yang tidak perlu kepada umat manusia. Manusia harus menyesuaikan diri dengan tingkatan tinggi dan rendah. Ia akan naik ke udara dan tenggelam di bawah permukaan air. Ini berarti pelatihan pernapasan yang cermat dengan berbagai cara. Untuk hal ini, Hatha Yoga dan praktik Tantra tidak selalu membantu dan bahkan dapat dianggap berbahaya.

Hatha Yoga cocok untuk orang-orang yang tidak bekerja atau banyak bergerak, yang dapat duduk dalam berbagai posisi dan tidak perlu naik ke tempat tinggi atau turun ke bawah permukaan laut. Jadi dari sudut pandang praktis, Hatha Yoga tidak mendekatkan manusia kepada Tuhan maupun mempersiapkannya untuk kehidupan yang layak di bumi.

Para mistikus berusaha menghindari segala keanehan praktik asketisme ekstrem. Adalah gegabah untuk melakukan sesuatu secara berlebihan di dunia ini atau di akhirat kecuali memuji Tuhan.

Meskipun kaum Sufi menghormati Muhammad sebagai manusia terhebat dan sebagai penutup misteri, pujian mereka ditujukan kepada Tuhan atas Kemurahan-Nya dalam melestarikan praktik-praktik yang menjadikan pengalaman Muhammad tidak unik, tetapi terbuka bagi semua manusia dan terutama pencapaian tertinggi, yaitu penglihatan akan Tuhan itu sendiri.

Jadi, Tuhan membagi Diri-Nya, bisa dikatakan, menjadi dua bagian, dan sementara satu bagian kadang-kadang disebut Terang dan bagian lainnya Kegelapan, satu bagian disebut Wujud dan bagian lainnya Ketiadaan, kaum Sufi menganggap keduanya sebagai Tuhan yang dalam hal ini dapat disebut Bapa dan Ibu.

Diantara kelenjar tanpa saluran, timus dan pineal terhubung dengan Urouj, gonad dan pituitari dengan Kemal, dan adrenal serta tiroid dengan Zaval. Jantung juga terhubung dengan Kemal. Pada organ-organ yang mengekspresikan fungsi Kemal, selalu ada atau seharusnya ada kelebihan unsur eterik; dapat dilihat bahwa api mendominasi kelenjar pineal, udara di tiroid, air di adrenal, unsur bumi telah dihubungkan dengan pangkal tulang belakang.

Kelenjar timus dan jantung sama-sama mewakili ekspresi tertinggi dari roh dalam dua cara yang berlawanan, yang satu membentuk cetakan di mana roh diwujudkan, yang lain adalah organ di mana materi dijiwai. Keduanya ditempatkan berdekatan di dalam tubuh karena alasan metafisik yang sangat khusus.




Sang Guru Spritual

Sang Guru tidak suka akan orang-orang yang terus-menerus larut dalam kesedihan atau kemarahan. "Disakiti itu tidak jadi masalah jika kamu tidak memaksa mengingatnya," katanya.

Sang Guru ingin mengingatkan bahwa tidak ada seorangpun dapat menyakiti kita, selain diri kita sendiri. Sang Guru yang asli selalu mengarah pada perubahan diri menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih suka berbagi. Mistisisme sejati adalah tentang Transformasi diri.

Spritual bukanlah filsafat yang hanya tersimpan di rak buku yang berdebu. Hukum Spritual dimaksudkan sebagai buku panduan hidup yang dinamis dan terus berkembang. Dengan memahami hukum spiritual alam semesta maka apa yang Anda bagikan akan kembali kepada Anda, dan bahwa setiap tantangan adalah kesempatan untuk bertumbuh. Anda berhenti menjadi korban keadaan dan mulai menjadi pencipta realitas Anda sendiri.

Ingatlah bahwa tujuan utama Spritual itu sederhana yaitu membawa lebih banyak Cahaya ke dunia.



Simpan Baik - baik








Bismillahirrahmanirrahim 

Ketahuilah anak-anakku, para menantu, para cucu, dan Seturun - turunnya, bahwa Dunia hanya sementara sedangkan Akhirat adalah abadi. Tak ada materi yang dibawa ke alam kubur, hanya kain kafan yang membalut Orangtua. Kami ingin kalian hidup sederhana, jagalah sikap dan tatakrama di dunia ini, warisan pun Ayah memberikan untuk kalian adalah ilmu. Dengan ilmu kalian bisa bermanfaat untuk dunia maupun akhirat. kejarlah dunia hanya untuk kebutuhannya saja, jangan mengejar keinginan dan jangan mempunyai kemelekatan dunia karena setiap harta yang kita punya harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah Swt. Kalian semua adalah kesayangan kami. 

Pesan ayah....Ibu...

1. Perbanyaklah membaca Alfatihah kepada ayah/Ibu walaupun sudah tiada, ayah/ibu selalu hidup dan akan selalu mendampingi kalian baik susah maupun duka, kemudian janganlah bertikai dengan sesama saudara karena kalian lahir dari darah yang sama, Ayah memberikan warisan ilmu sebagai perisai.

2. Perbanyaklah Zikir dan beramal kebaikan karena Allah, bukan untuk memperhitungkan balasan atau berharap sesuatu.

3. ilmu yang bermanfaat, Carilah Guru yang bisa membimbing kalian, perdalam ajarannya, pemahamannya, amalannya hingga wawasannya, agar kalian Sukses hidup berkah Dunia Akhirat, mendapatkan Rahmat dan Ridho Allah sehingga suatu saat kita akan bertemu dalam satu bendera yaitu bendera Rasulullah Saw.

Hiduplah secara sederhana. Bermimpi lah yang besar. Bersyukurlah. Berilah cinta. Tertawalah yang banyak. Jadilah berani. Ambillah risiko. Tidak ada yang bisa mengganti pengalaman. Rahasia kehidupan adalah jatuh tujuh kali dan bangun delapan kali.

Jangan merasa yatim piatu karena kita tak pernah berpisah. Kalian bisa terkoneksi dengan kami karena Partikel yang di dalam tanah kembali ke diri kalian, ketika kalian terus mengakses kami itulah disebut Cinta Kasih. Inilah bukti cinta kasih Orangtua. Ibu dan ayah akan selalu merindukan kalian. 


Gbr. Keluarga besar M Nur Syafei 

Syamsul Arifin dari >
Garis Ayh -  Syamsul Arifin bin Abdul Haris bin Abdul Rahman bin Adam

Erny Yosefa dari >
Garis Ayah - Erny Yosefa binti Muhammad Yunus bin Husen bin Dullah bin Adam
Garis Ibu - Erny Yosefa binti Mimin Suminar binti Memed bin Adam 


Jadilah Rendah Hati

“Segala sesuatu ditentukan, baik awal maupun akhir, oleh kekuatan yang berada di luar kendali kita. Hal itu ditentukan untuk serangga, maupun untuk bintang. Manusia, tumbuhan, atau debu kosmik, kita semua menari mengikuti melodi misterius, yang dilantunkan dari kejauhan oleh seorang pemain seruling yang tak terlihat.” ~ Albert Einstein

“Selalu ingat, jauh di lubuk hatimu bahwa Semuanya Baik-Baik Saja dan segala sesuatunya berjalan sebagaimana mestinya. Anda adalah Diri Sejati (Tuhan di Dalam Diri), Diri Sejati yang sempurna dan tak berubah. Hanya ada satu Diri Sejati dan Anda adalah Itu. Anda Cemerlang dan Bersinar. Anda adalah matahari di balik awan. Bersukacitalah! Bersyukurlah! Semuanya baik-baik Saja.”

Kesadaran Agung bahwa segala sesuatunya Baik-baik Saja, adalah milik Yang Maha Agung - Al Azhim. Namun Anda berada dalam tubuh manusia dan Anda harus menghormati apa yang diperlukan untuk menghargai perjalanan ini. Segala sesuatu yang Anda lakukan dan katakan akan kembali kepada Anda untuk mempelajari belas kasih

Karena itu, Anda wajib berdiam dalam Kebaikan selama Anda berada di dunia ini. Artinya jadilah rendah hati, lembut, dan kuat. Ringankan penderitaan orang lain. Inilah Kebenaran. Inilah hal tertinggi yang dapat Anda lakukan selama Anda berada di bumi ini. Inilah kesucian.

Merendahkan diri bukan berarti kehilangan nilai, tapi justru membuka jalan untuk mengenal Hakikat diri yang sesungguhnya. Saat ego dilepaskan, hati menjadi jernih dan di situlah kebesaran jiwa mulai tumbuh. Karena semakin kita "tiada" di hadapan dunia, semakin dekat kita dengan kebenaran dan kehadiran Allah dalam Diri.