Lebaran




Bertemu dengan orang tua, saudara, kerabat dan teman terdekat untuk saling  memaafkan. 

Masalahnya hanya mau bertemu dengan orang yang sejalan saja. Dan yang tidak sepaham dan hanya teman saja tidak akan ditemuinya. 

Padahal yang diperlukan saling memaafkan adalah yang punya dan ada Rasa ganjalan di hati, yang ada dendam atau kebencian, yang ada jarak dan yang tak terjembatani dalam hubungan.

Dengan Hari raya inilah waktunya untuk saling memaafkan.

Membalas akan membuatmu sejajar dengan musuhmu, tetapi memaafkannya akan menempatkanmu di atas musuhmu.  HB IX





Maafkan agar dirimu Lapang

Jangan simpan dendam dalam hati yang ingin ditempati Allah

Dalam ajaran tasawuf, hati dianggap sebagai wadah suci tempat Allah 'bersemayam' secara spiritual. Maka, hati yang dipenuhi kemarahan, dendam, atau kebencian tidak layak dijadikan tempat hadirnya Cahaya Ilahi.

Maaf bukan berarti membenarkan perlakuan buruk orang lain, tapi sebagai jalan untuk melepaskan beban batin yang memberatkan jiwa sendiri. Sufi paham bahwa ketika kita menyimpan dendam, kita sejatinya sedang menyiksa diri sendiri.

Ibnu Athaillah al-Sakandari menulis dalam al-Hikam : "Tidak akan masuk cahaya ke dalam hati yang dipenuhi oleh hal-hal selain Allah."

Dendam adalah salah satu hal selain Allah itu : ia memenuhi ruang hati dengan gelapnya emosi energi negatif.

Mengapa Memaafkan Memberikan Ketenangan? 

1. Menghapus Energi Negatif dalam Batin

Dendam menciptakan kegelisahan berulang. Memaafkan memutus lingkaran itu.

2. Menghindari Kezaliman Batin

Dalam Islam, bahkan mendoakan keburukan orang yang menyakiti kita bisa jadi dzalim jika sudah berlebihan. Sufi menghindarinya dengan memilih diam atau mendoakan kebaikan.

3. Memaafkan adalah Bentuk Kepercayaan kepada Keadilan Ilahi

 "Saya maafkan karena saya tahu Allah Maha Adil. Biarlah Dia yang mengatur balasannya." Inilah bentuk tawakkal batiniah.

4. Praktik Maaf Ala Sufi

Tutup hari dengan introspeksi dan doa : “Ya Allah, aku lepaskan semua sakit hati ini karena Engkau lebih tahu dari apa yang aku rasa. Gantikan dengan lapang dada dan rahmat dari-Mu.”

Jangan bahas ulang kesalahan orang, kecuali untuk mengambil pelajaran.

Berlatih mendoakan orang yang menyakiti, bukan karena mereka layak, tapi karena kita ingin damai. Inilah Psikologi Jiwa dalam Spritual.


Pembenaran bukanlah Kebenaran

Q.S Al-An-am : 116 : "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan mu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta"

Q.S Yunus : 36 : "Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali prasangkaan saja. Sesungguhnya prasangka itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan".

Kedua Ayat ini menegasakan bahwa kebanyakan manusia mengikuti sesuatu hanya berdasarkan prasangka, persepsi pribadi, atau pembenaran. Dan semua itu bukanlah kebenaran. 

Pengalaman langsung adalah apa yang diinginkan oleh jiwa. Ingatlah bahwa Kata-kata suci yang paling sucipun hanyalah Kata-Kata. Dan semua ajaran adalah referensi belaka.

Pengalaman sejati, yang tiada lain adalah Hidup Kita sendiri, itu yang paling penting. Temukan Cahaya Sejati kita sendiri di dalam sebagai rumah suci kita. Bila Kita sudah mampu menemukan rumah suci di dalam, maka semua yang di luar akan tampak suci. Bila Kita sudah menemukan keindahan di dalam, maka semua yang di luar akan tampak indah. 

Bila Kita sudah menemukan jantung kehidupan di dalam, maka Kita akan dapat menyaksikan jantung kehidupan semesta di luar. Untuk menemukan intisari terdalam diri kita, jalannya bukanlah di langit, bukan di tempat yang jauh, jalannya ada dalam diri sendiri, di QOLBU Kita.

Hapuslah semua ide dan konsep yang usang, yang selama ini bercokol di pikiran tentang berbagai penjelasan dan definisi yang seolah-olah itu kebenaran, padahal yang sesungguhnya adalah pembenaran yang diciptakan oleh persepsi pikiran, agar kebenaran sejati memiliki kesempatan untuk menembus dan megungkapkan dirinya sendiri.

Saat kebenaran sejati mengungkapkan dirinya sendiri, maka kita akan mengalami selflesness, aimlesness, signlesness dan reasonless. Keakuan lenyap, hidup mengalir, lepas segala atribut, hilang segala penjelasan.  

Sadari bahwa selama ini terkadang kehidupan Kita tidak berarti dan tidak bermakna, karena kita membiarkan diri Kita terombang-ambing antara suka dan duka, antara panas dan dingin, antara benar dan salah, antara baik dan buruk, antara kebencian dan kecintaan, antara kehidupan dan kematian, Padahal Allah ada diantara keduanya. 

Hanya mereka yang sudah mengetahui diri sejatinya secara persis, yang dapat mengetahui yang nyata dan yang proyeksi. Pengetahuan tentang diri adalah pintu semua pengetahuan. Ingat tujuan hidup kita adalah melampaui yang fana dan mencapai Kesadaran akan kesatuan dari segalanya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Dan pengalaman langsung adalah penting untuk mencapai kesadaran. Temukan bahwa kebenaran itu satu adanya. Dan jalan menuju Kebenaran bukanlah jalan raya. Jalan menuju Kebenaran adalah jalan sempit, begitu sempit untuk jalan pribadi Kita. Karena harus melewati jalan itu seorang diri dan tidak bisa bergandengan dengan siapapun.  

Dengan pena Kita sendiri yang dianugerahi Allah, Kita bisa melakukan Iqro di Qolbun Salim (di rumahnya yang damai).Tingkatkan semangat meniti Shirothol Mustaqim yaitu jalan yang telah diatasi oleh para Nabi, para Syuhada dan para Sholihin, untuk memperoleh nikmat.  

Berusahalah menjadi Manusia-manusia Ied (Merasakan sebuah perayaan dengan hidangan langit) dan Faidzin (Memperoleh kemenangan, yaitu dengan Kebebasan jiwa).

Yakin semua makhluk hidup, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, di setiap ruang dan waktu, di semua tingkatan....senantiasa Hidup Berbahagia.


Jalan Cinta Sufi

Para astronom menyatakan bahwa planet Jupiter bukanlah massa padat, melainkan mungkin bola raksasa berisi zat gas. Jika ada penghuni di sana, mereka lebih dekat dengan tipe evolusi jenius daripada umat manusia di bumi, dan mereka tidak sepenuhnya menyerap kehidupan di permukaan.

Dalam kitab-kitab Purana Hindu dan literatur para Teosofis disebutkan adanya makhluk serupa sebagai leluhur umat manusia. Dalam tradisi okultisme kuno, mereka disebut Hyperborean. Semua dewa bangsa Arya termasuk dalam jenis ini, dan di tempat asal mereka, bangsa Arya masih dapat berhubungan dengan makhluk-makhluk ini.

Cahaya di dalam tubuh lebih berperan dalam penyembuhan daripada cahaya di luar tubuh. Sinar-X dan gelombang radioaktif memang menembus jaringan dan dengan cara ini memberikan manfaat yaitu, menghantarkan semacam cahaya ke dalam tubuh. Namun, laju getarannya terlalu besar bagi molekul dan sel fisik untuk menahan dan mempertahankan bentuknya ketika dibombardir, sehingga aksi sinar-sinar ini seringkali bersifat merusak daripada kreatif atau mempertahankan.

Seorang anak yang terbiasa dengan perawatan radioaktif mungkin akan tumbuh sehat di bawah perawatan tersebut, tetapi seluruh sistem tubuhnya, termasuk penglihatan dan sarafnya akan berubah. Metode alami menerima cahaya melalui pernapasan adalah yang terbaik. Sang mistikus melakukan ini dan bahkan dapat menerangi bagian dalam tubuh.

Sebagian orang yang keberatan dengan pernyataan bahwa tubuh dapat dipenuhi cahaya setuju bahwa tubuh dapat dipenuhi listrik. Apa itu listrik? Apa itu magnetisme? Keduanya adalah variasi dari energi yang sama yang kita sebut cahaya. Itu adalah hal yang sama, hanya dengan nama yang berbeda. Tetapi apa yang memberi warna pada kulit, darah, dan organ kita? Bukan listrik; melainkan cahaya yang masuk ke dalam sistem kita setiap kali kita bernapas.

Sebagian orang membayangkan bahwa mereka dapat mengarahkan prana ke organ-organ tertentu dan dengan cara itu mencapai pencerahan. Yang lain tidak memperhatikannya tetapi berkonsentrasi pada Tuhan tanpa selalu menyadari bahwa tindakan ini membersihkan darah sehingga dapat membawa cahaya ke chakra.

Ilmu pengetahuan membuktikan hubungan antara chakra atau kelenjar tanpa saluran dan darah. Manusia tidak dapat memaksa chakra untuk terbuka atau mengendalikannya, tetapi Energi Ilahi, yang termanifestasi dalam air, napas, dan darah melalui Rahmat Tuhan dan bukan melalui kehendak manusia, dapat membuka semua chakra dan menerangi setiap bagian pikiran.

Para Sufi memusatkan perhatian pada hati karena mengetahui bahwa hati adalah pusat kendali pikiran dan semua wahananya, termasuk tubuh fisik.

Para Sufi juga memusatkan perhatian pada hati yang merupakan tempat bersemayamnya cinta dan sarana untuk mendekati dan menyapa Sang Kekasih.

Meditasi dalam hati jauh lebih aman dan lebih cepat daripada merangsang pernapasan. Meditasi ini tidak menimbulkan reaksi fisik dan selain itu, memperkuat kualitas moral dan spiritual.

Tidak perlu memberikan banyak latihan pernapasan dan postur yang tidak perlu kepada umat manusia. Manusia harus menyesuaikan diri dengan tingkatan tinggi dan rendah. Ia akan naik ke udara dan tenggelam di bawah permukaan air. Ini berarti pelatihan pernapasan yang cermat dengan berbagai cara. Untuk hal ini, Hatha Yoga dan praktik Tantra tidak selalu membantu dan bahkan dapat dianggap berbahaya.

Hatha Yoga cocok untuk orang-orang yang tidak bekerja atau banyak bergerak, yang dapat duduk dalam berbagai posisi dan tidak perlu naik ke tempat tinggi atau turun ke bawah permukaan laut. Jadi dari sudut pandang praktis, Hatha Yoga tidak mendekatkan manusia kepada Tuhan maupun mempersiapkannya untuk kehidupan yang layak di bumi.

Para mistikus berusaha menghindari segala keanehan praktik asketisme ekstrem. Adalah gegabah untuk melakukan sesuatu secara berlebihan di dunia ini atau di akhirat kecuali memuji Tuhan.

Meskipun kaum Sufi menghormati Muhammad sebagai manusia terhebat dan sebagai penutup misteri, pujian mereka ditujukan kepada Tuhan atas Kemurahan-Nya dalam melestarikan praktik-praktik yang menjadikan pengalaman Muhammad tidak unik, tetapi terbuka bagi semua manusia dan terutama pencapaian tertinggi, yaitu penglihatan akan Tuhan itu sendiri.

Jadi, Tuhan membagi Diri-Nya, bisa dikatakan, menjadi dua bagian, dan sementara satu bagian kadang-kadang disebut Terang dan bagian lainnya Kegelapan, satu bagian disebut Wujud dan bagian lainnya Ketiadaan, kaum Sufi menganggap keduanya sebagai Tuhan yang dalam hal ini dapat disebut Bapa dan Ibu.

Diantara kelenjar tanpa saluran, timus dan pineal terhubung dengan Urouj, gonad dan pituitari dengan Kemal, dan adrenal serta tiroid dengan Zaval. Jantung juga terhubung dengan Kemal. Pada organ-organ yang mengekspresikan fungsi Kemal, selalu ada atau seharusnya ada kelebihan unsur eterik; dapat dilihat bahwa api mendominasi kelenjar pineal, udara di tiroid, air di adrenal, unsur bumi telah dihubungkan dengan pangkal tulang belakang.

Kelenjar timus dan jantung sama-sama mewakili ekspresi tertinggi dari roh dalam dua cara yang berlawanan, yang satu membentuk cetakan di mana roh diwujudkan, yang lain adalah organ di mana materi dijiwai. Keduanya ditempatkan berdekatan di dalam tubuh karena alasan metafisik yang sangat khusus.




Wadah Spritual

Ciri Seorang yang mempunyai Wadah Spritual : 

1. Hatinya bersih sudah tidak ada lagi rasa iri dan dengki.

2. Banyak orang yang salah faham dan tidak Sefrekuensi dengannya 

3. Banyak dikhianati orang terdekatnya, baik Teman bahkan dikhianati Keluarganya.

4. Banyak yang merasa tidak nyaman dan merasa tersaingi dengan kehadirannya.

5. Kuat dalam Latihan Spiritual/Riyadhoh atau Pembersihan diri dari Hawa Nafsu

6. Ilmunya diatas rata-rata Spiritual biasa, Tenang dan Rendah hati

7. Sudah Mengenal diri dan mengenal Tuhannya.

Orang yang tidak Satu frekuensi dengan ciri tersebut maka akan pergi dengan sendirinya. Tuhan punya cara untuk memisahkan orang tersebut. Jangan heran jika Pejalan Spritual banyak dimusuhi dan mau dijatuhkan orang lain.

Ilmu SYARIAT harus Benci memandang Maksiat, tetapi Ilmu MAKRIFAT tidak ada daya upaya semua adalah Kehendak Gusti Allah. Dengan tidak sibuk memandang/mencari kesalahan dan dosa orang lain, tetapi ia sibuk dengan Membaca Kitab Diri Sendiri. 



Dia yang Esa

Aku menyebut diriku 'AKU'. Tapi semakin jauh aku melangkah, semakin samar siapa aku. Apakah tubuh ini Aku. Lalu mengapa ia tua, sakit dan mati. Apakah pikiranku Aku.. Tapi pikiranku berubah setiap hari. Apakah rasaku Aku. Namun rasa juga datang dan pergi tanpa izin, lalu siapa sebenarnya aku ini. 

Dititik sunyi aku mulai mengerti, bahwa sejatinya aku bukan siapa-siapa. Aku bukan milikku, Aku bukan milik dunia. Aku bukan milik nama, gelar, bahkan bukan milik ibadahku. Aku ini pinjaman. Setiap hela nafas, setiap detak jantung adalah titipan dariNya dan semua akan kembali kepada-Nya. Maka sejatinya diri adalah Ketiadaan. Bila engkau ingin mengenal Tuhan mu, maka hilangkan dirimu

Bukan lenyap jasadmu, tapi lenyap ' AKU ' yang merasa memiki amal, yang merasa pantas dipuji, yang merasa tahu, yang merasa telah sampai. Karena yang benar-benar ada hanya Dia yang Esa, yang awal dan yang akhir. 

Dan aku Hanya bayangan yang akan hilang saat Cahaya Sejati hadir. Di saat aku berhenti berkata 'aku shalat' dan hatiku berkata 'Engkaulah yang menggerakkan ku '. Disaat aku tidak berkata 'Aku sabar', karena aku tahu, aku tak mampu tanpamu. 

Disaat itulah aku mulai mengenal sejati dari diri ini. Bahwa aku ini tidak pernah ada, selain sebagai cermin bagi Nama dan Sifatmu

Dan dalam kehampaan itu, engkau akan merasakan ketenangan yang tak bisa dijelaskan oleh kata, karena yang berbicara bukan lagi mulut, tapi ruh yang mengenal asalnya. (Sejatinya diri bukan untuk ditemukan, tapi untuk dihilangkan, agar yang tersisa hanyalah Dia.


Perjalanan Spritual

Sebuah Perjalanan SPIRITUAL setiap manusia tidak akan pernah sama meski laku yang dijalani semua telah sesuai dengan takaran wadah yang ia punya. dan terlebih wadah itu telah ada sejak lahir wadah yang disiapkan untuk sesuatu yang besar.

Wadah yang akan menjalankan titah amanah yang menyangkut kepentingan yang lebih luas.Jangan heran jika wadah itu telah menemukan Guru Pembimbing di Alam nyata akan lebih cepat menyerap bahkan melebihi Guru yang membimbingnya. Karena perjalanan SPRITUAL dituntut untuk cepat mengerti dan memahami serta menjalankan titahnya.

Wadah-wadah itu telah digembleng dengan kepedihan kehidupan sejak kecil hingga selama hidupnya. Itu untuk menjadikan mereka bijaksana dalam menjalankan titahnya dengan berjiwa kesatria bersifat Welas Asih. Karena semua leluhur telah memilih wadahnya.

Kekharismaan seseorang pada dirinya ada Dua yaitu dari luar dan dari dalam,

Kharisma Dari luar personality yang meliputi Dan diperoleh dari penampilan fisik seperti bentuk fisik, rupa menawan..

Kharisma dari dalam didapat dari dalam diri seperti sifat, prilaku sikap atau memang dari spiritual alami maupun dari olah energi seperti meditasi, puasa, atau olah energi lainnya yang menjadikan energi positif membuat orang melihat segan, suka melihatnya terasa sejuk ketika melihat wajah diri.

Begitu juga orang-orang yang memiliki Energi Alami dari Alam yang membuat orang memandang bisa menyukai atau patuh kepada dirinya....Bukan karena takut melainkan karena memang ingin melakukannya dan orang tersebut rela mengorbankan sesuatu untuk orang-orang yang memang memiliki KEKHARISMAAN yang ALAMI dari ALAM bukan dari olah energi yang dikerjakan.

Banyak pelaku Spiritual yang menginginkan energi kharisma tersebut untuk menguntungkan diri pribadi, namun hal itu tidak lah mudah untuk didapatkan.

Dan orang orang yang memiliki kharisma alami itupun didapatnya dari proses alami dari alam dengan gemblengan kehidupan hingga pada titik tersebut. Cahaya terang itu layaknya sebuah pohon yang besar yang selalu bisa memberikan keteduhan serta kesejukan bagi seluruh insan.

Karena sejatinya puncak ajaran spiritual dari setiap ajaran, agama dan kepercayaan adalah Welas Asih yaitu kasih Sayang Atau Ajaran Budi Dharma 

Inti dari setiap ajaran SPIRITUAL adalah kasih dan sayang.

Ketika kita bisa merasakan kedahsyatan dari kasih sayang di dalam diri serta batin kita.lalu menyebarkan kasih sayang itu kepada semua makhluk dari sang pencipta Dengan selalu memilih jalan KEWELAS ASIHAN. Menghormati serta menghargai sesama kehidupan serta mengenali JATI DIRI yang SEJATI adalah jalan terbaik untuk kembali memunculkan sifat serta perilaku sebagai Manusia yang SEJATI - JATINYA Manusia.

Karena sebenarnya tidak ada segala sesuatu kecuali hanya dia saja (Zat yang Maha Suci, Zat tertinggi yang tidak bisa digambarkan hanya dengan bahasa pikiran semata) Atau Gusti Pangeran Atau Allah Yang Maha Kuasa. Tanpa umat ketahui sejatinya kita sedang menuju ke arah yang sama. Maka kembali lah pada jalur yang Benar yaitu jalur kasih dan Sayang (WELAS ASIH). 

Semoga semua makhluk selalu dalam Keberkahan dan Kedamaian. Selalu menghiasi dalam setiap jalan dari kehidupannya.