Murid : Guru... aku melihat banyak orang berbicara tentang tasawuf. Ada yang menangis saat berzikir, ada yang berbicara tentang cahaya, makrifat dan rahasia langit. Tapi aku bahkan belum mengerti harus memulai dari mana.
Guru : Kalau begitu, engkau berada di tempat yang tepat karena orang yang paling sulit dibimbing bukanlah yang tidak tahu melainkan yang merasa sudah tahu.
Murid : Jadi aku tidak perlu memiliki ilmu tinggi?
Guru : Tidak…. Tasawuf tidak dimulai dari kepala yang penuh teori. la dimulai dari hati yang mau tunduk kepada Allah. Banyak orang mengejar pengalaman Spiritual tapi lupa memperbaiki shalatnya. Banyak yang ingin merasakan kedekatan dengan Allah, tetapi masih menyimpan kesombongan, dendam dan Riya didalam dada.
Murid : Lalu langkah pertamanya apa?
Guru : Langkah pertama adalah menyadari bahwa musuh terbesarmu bukan dunia di luar sana. Musuh terbesarmu adalah nafsumu sendiri Karena itu, mulailah dengan taubat yang sungguh-sungguh. Akui kelemahanmu. Mohon ampun kepada Allah. Jangan malu menangis saat sendirian.
Murid : Setelah itu?
Guru : Jaga shalatmu seakan itu adalah pertemuan terakhir dengan Tuhanmu. Perbanyak “istighfar “ hingga lidahmu terbiasa dan hatimu ikut hidup. Bacalah Al-Qur'an, walau hanya beberapa ayat, tetapi renungkan maknanya. Biasakan Muhasabah sebelum tidur. Hari ini siapa yang telah kau sakiti, di mana engkau lalai, dan apa yang harus diperbaiki esok.
Murid : Apakah aku harus mengejar Karomah?
Guru : Tidak… Orang yang sibuk mengejar Karomah sering lupa mengejar Istiqomah. Keajaiban terbesar bukan berjalan di atas air. Keajaiban terbesar adalah mampu menahan amarah ketika dihina, diabaikan, dijauhkan orang lain bahkan saudara. tetap jujur dan mengingat Allah.
Murid : Guru... kapan seseorang disebut telah sampai?
Guru : Saat ia tidak lagi sibuk bertanya, "Sudah sejauh mana aku berjalan?" Melainkan terus berjalan dengan ikhlas, karena yang dicari bukan kedudukan, bukan pujian, bukan pengalaman luar biasa. Yang dicarinya hanyalah Ridho Allah.
Dan ketahuilah....
Perjalanan seorang Tasawuf Sejati sering kali tidak terlihat oleh manusia. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorotan. Yang ada hanya seorang hamba yang diam dan sunyi memperbaiki hatinya. Sementara langit menjadi saksi setiap air matanya jatuh.
Kalau Anda benar-benar masih awam, justru, inilah saat terbaik untuk memulai perjalanan Tasawuf.
