Suluk Dewa Ruci


Khazanah kepustakaan Jawa kaya dengan karangan-karangan tentang filsafat mistik yang lazim disebut suluk. Pada umumnya suluk disampaikan melalui kisah perumpamaan atau alegori, dan ditulis dalam bentuk puisi atau tembang macapat gaya Mataram, tetapi tidak jarang ditulis dalam bentuk gancaran atau prosa. Sebagai alegori, suluk-suluk itu kaya dengan ungkapan-ungkapan simbolik dan simbol atau image-image simbolik. Karena itu untuk memahaminya diperlukan metode penafsiran atau pemahaman yang sesuai.

Kisah Dewa Ruci adalah salah satu suluk yang populer di Jawa dan sering dipergelarkan sebagai lakon wayang kulit. Keragaman versinya menunjukkan luasnya penyebaran kisah ini, begitu pula dengan banyaknya naskah yang memuat teks kisah ini di berbagai museum dalam dan luar negeri. Sejak lama cukup banyak sarjana sastra Jawa telah menelitinya, berdasar pertimbangan bahwa suluk ini merupakan representasi terbaik dari wacana mistisisme Jawa. Di dalamnya filsafat hidup Jawa yang didasarkan pada bentuk-bentuk spiritualitas atau mistisisme yang sinkretik tergambar dengan jelasnya.

Kisah Dewa Ruci sarat dengan ajaran kebatinan masyarakat Jawa, yakni berisi pencarian jati diri seorang manusia. Resi Drona memerintahkan Bima untuk mencari air kehidupan (tirta pawitra) yang akan membuat Bima mencapai kesempurnaan hidup.

Perjalanan Bima mengalahkan para Raksasa untuk menemukan air pawitra, mengalahkan Naga, dan bertemu dengan Dewa Ruci sesungguhnya sarat dengan simbol-simbol tentang perjuangan manusia mengalahkan nafsu-nafsu yang dapat menghalanginya menuju kesempurnaan.

Kisah Bima mencari tirta pawitra (air kehidupan) dalam lakon wayang cerita Dewaruci secara filosofis melambangkan bagaimana manusia harus menjalani perjalanan batinnya sendiri guna menemukan identitas diri sejatinya. Pencarian sangkan paraning dumadi : asal dan tujuan hidup manusia Darimana asalku ? Untuk apa di dunia ini ? Kemana tujuanku ini ? Pertanyaan itu harus dijawab sendiri oleh manusia, oleh karenanya Bima melakukan perjalanan guna mendapatkan jawabannya. 

Jalan menuju Tuhan yang ditempuh oleh Bima disebutkan melalui empat tahap, yaitu: sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa, dalam bahasa keislaman di kenal dengan syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Beberapa guru spiritual di Jawa menambahkan dengan mahabbah atau cinta kasih pada hasil akhir dari 4 tahap proses pencarian tersebut. 

Kemudian diriwayatkan Bima bertemu dengan Dewa Ruci, sosok Dewa yang mirip dengan dirinya namun hanya sebesar Ibu Jari. Sang Dewaruci (ruh suci) memerintahkan Bima agar masuk kedalam diri-Nya melalui lubang telinganNya sebelah Kanan.

Tanpa banyak tanya, Bima pun langsung mematuhi perintah sang guru tersebut ia memasuki tubuh sang dewa melalui telinga KananNya. Dewa Ruci mengatakan bahwa air kehidupan tidak ada di mana-mana, percuma mencari air kehidupan di segala tempat di dunia, sebab air kehidupan berada di dalam diri manusia itu sendiri.

Ada empat macam benda yang tampak oleh Bima, yaitu: Hitam, Merah, Kuning dan Putih. Lalu berkatalah Dewa Ruci, "Yang pertama kau lihat cahaya, menyala tidak tahu namanya, Pancamaya itu, sesungguhnya ada di dalam Hatimu, yang memimpin dirimu".

Lebih lanjut ajaran ini menyebutkan bahwa pada diri manusia pun terdapat 4 (empat) kekuatan yang selalu menjadi kawan dalam perjalanan hidup, di saat suka maupun duka, hingga layak disebut “Saudara”. Masing-masing ditandai dengan simbol warna putih, merah, kuning dan hitam (Sedulur Papat). Posisi mereka di dalam jiwa manusia adalah lekat dengan Atman(Pancer), membuat cahayanya membentuk warna “Pelangi”. 

Lekas pulang jangan berjalan, selidikilah rupa itu jangan ragu, untuk tinggal di hati , Di pusat hati itulah, menandai pada hakikatmu, sedangkan yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih, itu adalah penghalang hati.

Setelah warna yang empat lenyap, lantas muncul: Cahaya Tunggal 8 (Delapan) warna. Bima bertanya: “Apakah cahaya delapan warna ini merupakan hakekat sejati? 

Tampak seolah permata gemerlapan kadang seperti bayangan, mempesona kadang pancaran sinarnya bagaikan zamrud”. 

Dewa Ruci menjawab: “Inilah intipati kesatuan/Artinya segala hal yang ada di alam dunia ada pula dalam dirimu. Pun semua yang ada di alam dunia/Memiliki padanan dalam dirimu/Antara jagad besar/Dan jagad kecil tidak berbeda.

Seperti warna yang empat/Kepada dunia memberi hayat/ Jagad besar dan jagad kecil/ Setiap yang ada sama dalam keduanya/Jika rupa di alam dunia/Ini lenyap seisinya/Maka semua wujud akan tiada/Dan menyatu dalam wujud tunggal/Tiada lelaki atau wanita".

Bima bertanya kepada Dewa Ruci, apakah yang tampak itu merupakan dhat hakiki yang dicarinya selama ini? Dewa Ruci menjawab, bukan itu yang harus dicari. “Sesuatu” yang dicari itu adalah susuh angin (sarang angin), ati banyu (hati air), galih kangkung (galih kangkung), tampak kuntul nglayang (bekas burung terbang), gigi panglu (pinggir dari globe), wates langit (batas cakrawala), yang merupakan sesuatu yang “tidak tergambarkan” atau “tidak dapat di sepertikan” yang dalam bahasa Jawa “Tan kena kinaya ngapa”. Ketika tiba diambang batas kesadaran, hanya seperti kilasan mimpi, kita seolah menyelinap ke dalam Rasa Sejati.

Suluk Saloka Jiwa Ronggo Warsito

Suluk Saloka Jiwa Ranggawarsita - Islam dan Mistik Jawa

Alkisah, seorang dewa Hindu, Wisnu didorong oleh keinginannya yang besar untuk mencari titik temu antara ajaran Hindu dan Islam, rela menempuh perjalanan jauh, dengan mengarungi lautan dan daratan, untuk datang ke negeri Rum (Turki), salah satu pusat negeri Islam, yang kala itu dalam penguasaan Daulah Usmaniyah. Untuk mencapai maksud itu, Wisnu mengubah namanya menjadi Seh Suman. Dia pun menganut dua agama sekaligus, lahir tetap dewa Hindu namun batinnya telah menganut Islam.

Dan demikianlah, setelah menempuh perjalanan yang demikian jauh dan melelahkan, sampailah Seh Suman di Negeri Rum. Kebetulan pada masa itu Seh Suman bisa menghadiri musyawarah para wali itu bertujuan untuk mencocokkan wejangan enam mursyid (guru sufi):

1) Seh Sumah,

2) She Ngusman Najid,

3) Seh Suman sendiri,

4) Seh Bukti Jalal,

5) Seh Brahmana dan

6) Seh Takru Alam.

Demikianlah ikhtisar Suluk Saloka Jiwa karya pujangga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Raden Ngabehi Ranggawarsita, sebagaimana dirangkumkan oleh pakar masalah kejawen dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Simuh (1991:76). Menurut Simuh, kitab ini nampaknya diilhami oleh tradisi permusyawaratan para wali atau ahli sufi untuk membahas ilmu kasampuranan atau makrifat yang banyak berkembang di dunia tarekat.

Dunia Penciptaan.

Sumber lain menyebut kitab ini sebagai Suluk Jiwa begitu saja. Misalnya, dalam disertasi Dr. Alwi Shihab di Universitas ‘Ain Syams, Mesir, Al Tashawwuf Al-Indunisi Al-Ma’asir yang kemudian diindonesiakan oleh Dr. Muhammad Nursamad menjadi Islam Sufistik : “Islam Pertama” dan pengaruhnya hingga kini di Indonesia.

Bahkan bukan saja penyebutan judulnya yang berbeda, namun nama tokoh-tokohnya ditulis menurut ejaan Arab. Sehingga, Seh Suman oleh Alwi Shihab ditulisnya sebagai Sulaiman. Seh Ngusman Najib ditulis Syaikh Ustman Al-Naji. Meskipun begitu alur cerita yang digambarkan oleh Alwi Shihab tidak berbeda dengan yang dipaparkan oleh Dr. Simuh.

Dari perbedaan penyebutan itu timbul beberapa spekulasi. Spekulasi pertama barangkali memang penyebutan Alwi Shihab kurang lengkap mengingat Alwi tampaknya tidak mengambil dari sumber langsung atau mungkin kekeliruan dalam penerjemahan. Namun, spekulasi yang lain bisa saja antara Suluk Saloka Jiwa dan Suluk Jiwa memang kitab yang berbeda atau turunan yang lain. Hal ini bisa saja terjadi karena kitab Jawa, yang penurunannya belum memakai metode cetak tapi tulisan tangan, suatu kitab sejenis antara turunan yang satu dengan turunan yang lainnya bisa mengalami perubahan karena ditulis dalam waktu dan kesempatan yang berbeda, bahkan bisa oleh penulis yang berbeda pula.

Namun antara apa yang diungkapan oleh Dr. Simuh dengan Dr. Alwi Shihab tidak ada perbedaan yang berarti. Keduanya menyebut bahwa karya Ranggawarsita yang satu ini memiliki pertalian yang erat dengan upaya mensinkronkan ajaran Islam dan Jawa (Hinduisme). Bahkan, Dr. Alwi Shihab menyebut sosok Ranggawarsita sebagai Bapak Kebatinan Jawa atau Kejawen. Menurut Menteri Luar Negeri RI pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, penjulukannya ini didasarkan pada kenyataan bahwa karya-karya Ranggawarsita menjadi rujukan utama untuk kebatinan Jawa.

Serat Suluk Saloka Jiwa ini berbicara soal dunia penciptaan, yaitu dari masa manusia berasal dan ke mana bakal kembali (sangkan paraning dumadi). Ini terlihat dari hasil perbincangan enam sufi di Negeri Rum yang juga dihadiri oleh Seh Suman alias Dewa Wisnu tersebut. Dari sinilah, Seh Suman berkesimpulan bahwa sesungguhnya antara ajaran Islam dan Jawa memiliki paralelisme.

Menurut Ranggawarsita, sebagaimana digambarkan dari hasil percakapan enam sufi, Allah SWT itu ada sebelum segala sesuatu ada. Yang mula-mula diciptakan oleh Allah adalah :

* al-nur yang kemudian terpancar darinya 4 unsur : tanah, api, udara, dan air.

* Kemudian diciptakanlah jasad yang terdiri dari 4 unsur: darah, daging, tulang dan tulang rusuk.

Api melahirkan 4 jenis jiwa/nafsu : aluamah (dlm ejaan Arab lawamah) yang memancarkan :

1) warna hitam;

2) amarah (ammarah) memancarkan warna merah;

3) supiah (shufiyyah) berwarna kuning dan

4) mutmainah (muthma’inah) berwarna putih.

Yang di kalangan Kebatinan Jawa di kenal sebagai: Sedulur Papat Lima Pancer

Serat Pangracutan


Menutup Babahan Howo Songo

Arus kesadaran yang tersebar di sembilan gerbang tubuh dan indera, harus dikumpulkan di gerbang kesepuluh.

Gerbang kesepuluh adalah titik  berkumpulnya kesadaran. Di situlah letak jalan untuk kita kembali. Gerbang kesepuluh juga dikenal sebagai chakra keenam, mata ketiga, bindu, pusat yang terletak di antara dua alis. Ini adalah gerbang yang melaluinya kita meninggalkan gerbang organ-organ indera dan memasuki alam ilahi dan akhirnya menjadi mapan dalam jiwa. Kita melakukan perjalanan kembali dari Alam Kegelapan ke Alam Cahaya, dari Cahaya ke Suara Ilahi, dan dari Alam Suara ke Status Tanpa Suara. Ini disebut kembali ke Sumber.

Serat Pangracutan Sultan Agung Mataram


Naskah Serat Kakiyasaning Pangracutan ini mencakup berbagai serat. 

Ada dugaan bahwa naskah tersebut merupakan kumpulan beberapa nukilan dari berbagai naskah yang berisi ilmu kasampurnan Manunggaling Kawula Gusti

Isi naskah itu ialah : Uraian Serat Kakiyasaning Pangracutan, Serat Banyu Bening, Ilmu Kasampurnan, Sastra Jendra dan Sastra Ceta, Mardi Utami, Mardi Budi, Lampahing Agesang, Serat Sastra Harjendra, dan Bunga Rampai.

Serat Kekiyasanning Pangracutan adalah salah satu buah karya sastra Sultan Agung Raja Mataram antara (1613-1645). 

Serat Kekiyasaning Pangracutan ini juga menjadi sumber penulisan Serat Wirid Hidayat Jati yang dikarang oleh R.Ng Ronggowarsito karena ada beberapa bab yang terdapat pada Serat kekiyasanning Pangrautan terdapat pula pada Serat Wirid Hidayat Jati. 

Pada manuskrip huruf Jawa Serat kekiyasanning Pangracutan tersebut telah ditulis kembali pada tahun shaka 1857 / 1935 masehi.

Keluar masuknya nafas benar-benar dirasakan adanya energi hidup sembari mengucap mantra dalam hati/batin saja. 

Mengucap “Hu” pada saat nafas ditarik dari puser ke arah ubun-ubun. 

Lalu mengucap “Ya” pada saat keluarnya nafas yakni turunnya nafas dari ubun-ubun ke arah pusar. 

Naik turunnya nafas tadi melewati dada dan cethak. Nah, disebut sastra cetha karena pada saat mengucapkan kedua mantra hu – ya  dibarengi dengan pengendalian buka tutupnya cethak untuk menahan dan melepas nafas.

Setelah masuknya Islam ke nusantara, terjadi beberapa anasir seperti dalam wirid naqshabandiyah SSJ mantra hu – ya dirubah bunyi menjadi hu – allah

Namun kemudian terdapat mazab lain di luar mazabnya SSJ, dan melakukan modifikasi zikir Hu – allah menjadi haillah – haillallah, dikenal sebagai wirit tharekat Satariyah

Perbedaannya, dalam tradisi satariyah ini tidak dilakukan menahan nafas, melainkan hanya bernafas seperti biasanya.

Cara Melakukan Pangracutan:

Langkah 1 - Rilekskan Pikiran dan Tubuh Anda

Waktu terbaik untuk mencobanya adalah sekitar jam 5-7 pagi, setelah Anda mendapatkan kualitas tidur yang baik, tetapi masih cukup lelah untuk kembali tidur REM yang berkepanjangan.

Berbaring dalam posisi yang nyaman (telentang adalah pilihan yang populer).

Ambil napas perlahan dan terkontrol dan biarkan mata Anda menutup secara alami. Cobalah untuk tidak memikirkan apa pun - biarkan pikiran apa pun lewat pada waktunya sendiri.

Mulailah rutinitas meditasi Anda. Pemula mungkin merasa terbantu untuk mendengarkan suara blisscode di headphone, karena hal ini menghilangkan gangguan pikiran dan merangsang keadaan kesadaran yang lebih rileks.

Tujuan awalnya adalah untuk menjernihkan dan memfokuskan pikiran Anda saat tubuh Anda tertidur.

Lakukan rutinitas relaksasi sistematis Anda. Mulai dari jari kaki, kencangkan lalu kendurkan setiap kelompok otot di tubuh Anda. Bayangkan mereka tenggelam ke tempat tidur atau melayang dan menjadi tidak berbobot atau menghilang begitu saja. Akhiri dengan merilekskan wajah, rahang, dan leher Anda sepenuhnya di tempat Anda paling tegang.

Dalam 5-10 menit Anda akan merasa rileks dan melamun, dengan kesadaran tubuh Anda yang sangat berkurang. Anda mungkin mulai merasakan anggota badan mengambang atau lengan Anda berada pada posisi yang berbeda dari sebelumnya. Ini adalah kemajuan besar!

Langkah 2 - Geser Kesadaran Anda

Ketika Anda memiliki sedikit sensasi tubuh yang tersisa, alihkan kesadaran Anda dari tubuh Anda dan pandanglah ke ruang hitam di depan Anda.

Visualisasikan bintang dan planet yang jauh, atau ikuti hipnagogia alami Anda (lampu berputar dan pola geometris yang menghipnotis Anda untuk tidur). Saat Anda masuk lebih dalam, waspadai gambaran yang muncul di mata batin Anda, di luar bidang penglihatan Anda.

Ini dikenal sebagai "tertidur secara sadar". Anda menipu tubuh Anda dengan berpikir bahwa Anda telah tertidur. Otak dan tubuh Anda memiliki cara komunikasi yang tidak biasa dan Anda hanya mengeksploitasi celah yang tidak banyak diketahui dalam proses itu.

Jangan menggerakkan otot - tetap rileks dan lembut sepenuhnya. (Jika Anda merasa gatal, tidak apa-apa untuk menggaruknya, tetapi kemudian lacak kembali atau lanjutkan dari bagian terakhir yang Anda tinggalkan.)

Pada tahap ini Anda mungkin merasakan efek kelumpuhan tidur, seolah-olah ada beban berat yang bergerak di tubuh Anda. Biarkan itu datang, mengetahui bahwa Anda sekarang sangat dekat dengan pengalaman di luar tubuh. Namun, beberapa orang tidak pernah merasakan tahap ini sama sekali, karena kesadaran mereka sudah terfokus jauh di luar tubuh fisik.

Saat pikiran Anda mengembara lebih jauh ke dalam kegelapan, Anda mungkin dikejutkan oleh getaran keras atau suara dengung di dalam kepala Anda!

Ini hanyalah fase lain dalam proses keluar tubuh. Anggap ini sebagai kebisingan statis di radio antara dua frekuensi. Kemungkinan besar komunikasi dari otak menanyakan apakah Anda masih terjaga, jadi lawan insting Anda dan abaikan saja.

(Sebenarnya, beberapa kali pertama ini mungkin sangat sulit untuk diabaikan karena bisa memekakkan telinga. Tapi Anda akan segera terbiasa dan menyadari tidak ada hal buruk yang terjadi.)

Langkah 3 - Keluar dari Tubuh

Getaran segera berlalu dan begitu itu terjadi, Anda akan dibebaskan ke dunia impian Anda.

Anda mungkin mendapati bahwa lengan atau kaki Anda sudah bebas, sepenuhnya melayang di atas tubuh Anda di tempat tidur, atau Anda telah berguling di tempat tidur dan jatuh ke lantai!

Jangan khawatir - tubuh asli Anda sedang berbaring di tempat tidur dan tidur dengan nyenyak. Gerakan awal ini bisa sangat membingungkan tetapi tetap dengan itu atau Anda mungkin terbangun. Jika ternyata Anda masih "terjebak" di tubuh Anda, ingatlah bahwa Anda sekarang berada di dunia mimpi jernih, di mana pikiran Anda menjadi sangat kuat dan mengendalikan semua gerakan Anda. 

Gunakan salah satu metode berikut untuk meninggalkan tubuh "lumpuh" Anda:

Melayang keluar - visualisasikan sudut pandang Anda telah naik beberapa kaki ke udara

Ayunkan - visualisasikan ayunan yang membentuk busur panjang saat Anda mendapatkan momentum

Tenggelam - bayangkan tubuh impian Anda perlahan jatuh ke tempat tidur

Roll out - bayangkan diri Anda berputar ke samping dan berguling

Teleportasi - bayangkan lokasi lain dan libatkan indra Anda

Jika Anda belum melakukannya, secara alami Anda akan mendapatkan kembali penglihatan Anda ketika kesadaran Anda keluar dari tubuh.

* Metode meraga sukma versi rileksasi

Lelaku Marang Gusti

Nasehat-Nasehat Penuh Hikmah dari Kyai Muhammad Joyo Kongidun Ploso Klaten Kediri

Ada saat dalam hidup ketika manusia berhenti dari segala riuhnya, bukan karena dunia telah selesai, tetapi karena hatinya lelah memikul sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pahami. Di situlah sunyi mulai berbicara. Sunyi yang tidak hanya mengosongkan telinga, tetapi menelanjangi jiwa—memperlihatkan betapa rapuhnya “aku” yang selama ini diagungkan.

Pitutur kanggo wong kang lelaku marang ma’rifatullah, sebagaimana disampaikan oleh Kyai Muhammad Joyo Kongidun Ploso Klaten Kediri—seorang Mursyidul Kamil Mukammil Thariqah Syatthariyah dari jalur Kyai Ageng Muhammad Besari Tegalsari Ponorogo—bukan sekadar rangkaian kata, melainkan peta sunyi bagi jiwa yang ingin pulang kepada Gusti.

Dalam kesunyian seperti itulah, nasihat para ahli hati terasa seperti cahaya yang tidak menyilaukan, namun perlahan menembus relung terdalam. Di antara suara-suara itu, pitutur dari Kyai Muhammad Joyo Kongidun hadir dengan kelembutan yang dalam, seperti tangan yang tidak memaksa, tetapi menggandeng pelan seorang hamba yang tersesat dalam dirinya sendiri.

Beliau tidak berbicara dengan retorika tinggi, tetapi setiap kalimatnya seperti cermin—memantulkan keadaan hati kita yang sebenarnya. “Resikana atimu luwih dhisik, awit ati kang reged ora bakal bisa nampa cahyaning Pangeran.” Bersihkanlah hatimu terlebih dahulu, karena hati yang kotor tidak akan mampu menerima cahaya Tuhan.

Kalimat itu terdengar sederhana, namun jika direnungkan dalam keheningan, ia seperti pisau yang mengiris pelan kesadaran kita. Betapa selama ini kita sibuk memperbaiki dunia luar, tetapi lupa bahwa sumber segala gelap justru bersarang di dalam dada. Allah telah mengingatkan: “Yawma la yanfa’u malun wa la banun illa man atallaha bi qalbin salim”—pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali mereka yang datang dengan hati yang bersih.

Namun membersihkan hati bukan perkara mudah. Ia bukan sekedar meninggalkan dosa lahir, tetapi juga menghadapi bayang-bayang tersembunyi: riya’ yang halus, ujub yang tak terasa, hasad yang diam-diam tumbuh dalam diam. Dan sering kali, yang paling sulit ditinggalkan bukan dosa besar, tetapi rasa ingin dipandang baik oleh manusia.

Dalam perjalanan itu, Kyai Muhammad Joyo Kongidun mengingatkan dengan penuh kebijaksanaan: “Aja ngoyak rasa lan kahanan kang aneh-aneh. Sing penting kuwat ing istiqamah, sanadyan cilik nanging ajeg.” Jangan mengejar rasa dan keadaan yang aneh-aneh. Yang penting adalah istiqamah, walau kecil namun terus menerus.

Di sinilah banyak orang tergelincir. Mereka ingin merasakan “sesuatu”—ingin menangis dalam dzikir, ingin mengalami getaran ruhani, ingin merasa dekat dengan Tuhan dalam sensasi yang luar biasa. Padahal, jalan ini bukan tentang rasa, tetapi tentang setia. Rasulullah ï·º bersabda: “Ahabbul a’mali ilallahi adwamuha wa in qalla”—amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus meskipun sedikit.

Istiqamah adalah bukti cinta yang sunyi. Ia tidak riuh, tidak dramatis, tetapi justru di situlah kemurniannya. Karena ia dilakukan bukan untuk dirasakan, tetapi untuk dipersembahkan.

Lalu nasihat itu menjadi semakin dalam, semakin mengguncang, ketika beliau berkata: “Sing kudu sirna iku dudu awakmu, nanging rasa ‘aku’-mu. Yen isih ana rumangsa luwih, durung tekan dalane.” Yang harus hilang itu bukan dirimu, tetapi rasa “aku”-mu.

Betapa kalimat ini seperti menggugurkan seluruh bangunan kesombongan yang kita pelihara selama ini. Kita mungkin merasa telah beribadah, merasa telah dekat, merasa lebih baik dari orang lain—namun justru perasaan itu menjadi hijab paling tebal antara kita dan Allah.

Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu pernah mengingatkan: “Halaka fiya ithnani: muhibbun ghalin wa mubghidhun qalin”—celaka dua golongan terhadapku: yang berlebihan dalam mencinta dan yang berlebihan dalam membenci. Sebuah peringatan agar manusia tidak melampaui batas, termasuk dalam memandang dirinya sendiri.

Selama “aku” masih berdiri tegak, maka cahaya tidak akan sepenuhnya masuk. Karena cahaya Ilahi hanya menetap di hati yang hancur, yang tidak lagi merasa memiliki apa-apa.

Perjalanan ini tidak bisa ditempuh sendirian. Ada saat di mana seseorang merasa cukup dengan ilmunya, merasa mampu berjalan tanpa bimbingan. Namun di situlah jebakan paling halus bekerja. Karena ego bisa menyamar menjadi petunjuk, dan hawa nafsu bisa tampil seolah-olah cahaya.

Kyai Muhammad Joyo Kongidun menasihati: “Goleka kanca lan guru kang bisa nuntun atimu eling marang Gusti, aja mlaku dhewe tanpa tuntunan.” Carilah sahabat dan guru yang mampu menuntun hatimu mengingat Allah, jangan berjalan sendiri tanpa bimbingan.

Imam Al-Ghazali pernah merasakan kegelisahan yang begitu dalam hingga ia meninggalkan kemegahan ilmunya demi mencari kejujuran hati. Ia menyadari bahwa ilmu tanpa bimbingan ruhani hanya akan melahirkan kesombongan yang lebih halus.

Dan ketika hati mulai dilatih, dzikir menjadi jalan yang menghidupkan. Namun dzikir yang dimaksud bukan sekadar suara di bibir. “Dzikir iku dudu mung ing ilat, nanging kudu tumetes tekan ati, nganti dadi napas ing uripmu.”

Allah berfirman: “Ala bidzikrillahi tathma’innul qulub”—ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Ketika dzikir telah menjadi napas, ia tidak lagi membutuhkan suara. Ia hidup dalam diam, dalam detak, dalam setiap hela nafas yang tak terlihat.

Namun jalan ini panjang. Tidak semua orang kuat bertahan ketika ujian datang tanpa jeda. Ada masa di mana doa terasa kosong, ibadah terasa hambar, dan Allah seakan jauh. Padahal justru di situlah cinta sedang diuji.

Dengan penuh kelembutan, beliau mengingatkan: “Aja kesusu kepengin tekan pungkasan. Lelaku iki dawa lan kebak ujian, sing sabar bakal dituntun alon-alon.” Jangan tergesa ingin sampai. Perjalanan ini panjang dan penuh ujian. Yang sabar akan dituntun perlahan. Allah berfirman: “Innallaha ma’ash-shabirin”—sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Bersama, bukan berarti tanpa luka, tetapi ditemani dalam setiap luka.

Dan pada akhirnya, seorang hamba akan sampai pada satu titik yang paling sunyi: pasrah. “Pasrah lan ridha iku kunci. Kabeh sing kok alami iku bagean saka piwulangipun Gusti.” Pasrah dan ridha adalah kunci. Semua yang engkau alami adalah bagian dari pelajaran Tuhan. Di titik ini, manusia berhenti menuntut. Ia tidak lagi bertanya “mengapa”, tetapi mulai memahami bahwa setiap peristiwa adalah bahasa cinta yang sering kali tidak ia mengerti.

Namun semua itu akan runtuh jika adab ditinggalkan. “Adab iku luwih dhuwur tinimbang ilmu. Yen adabmu rusak, dalanmu bakal ketutup.” Adab lebih tinggi daripada ilmu. Imam Malik pernah berkata: “Pelajarilah adab sebelum ilmu.” Karena ilmu tanpa adab hanya akan menjauhkan, bukan mendekatkan.

Dan akhirnya, seluruh perjalanan ini ditutup dengan satu kesadaran yang paling menggetarkan, sebagaimana diungkapkan oleh Kyai Muhammad Joyo Kongidun dengan kalimat yang begitu sederhana namun menghunjam: “Sejatine, lelaku iki dudu nambah apa-apa, nanging ngilangke kabeh sing nutupi Gusti ing njero atimu.”

Perjalanan ini bukan tentang menjadi lebih, tetapi tentang mengurangi. Mengurangi ego, mengurangi keterikatan, mengurangi segala sesuatu yang menutupi cahaya Allah dalam diri. Hingga suatu saat, dalam sunyi yang paling dalam, seorang hamba menyadari bahwa yang selama ini ia cari ternyata tidak pernah pergi. Bahwa Allah tidak pernah jauh—hanya hatinya yang terlalu penuh oleh dirinya sendiri.

Dan ketika “aku” itu runtuh, ketika air mata jatuh tanpa alasan yang bisa dijelaskan, ketika dada terasa sesak oleh rindu yang tak bernama—mungkin di situlah awal dari pertemuan yang sesungguhnya. Sebuah pertemuan yang tidak terdengar, tidak terlihat, tetapi dirasakan oleh hati yang telah lama belajar kehilangan dirinya.