Singgasana Tuhan


Singgasana Tuhan yang terletak pada bagian tubuh manusia.

Nabi Muhamad bertemu dengan Allah bukan disebuah tempat karena Allah tidak terkungkung oleh konsep ruang dan waktu, kisah Isra Mi'raj sebenarnya hanya simbolik menceritakan perjalanan Nabi mencapai Sidratul Muntaha. Yang dimaksud Sidratul Muntaha sebenarnya adalah puncak/langit/lapisan Kesadaran yang dicapai Nabi setelah menembus langit ketujuh. Makna 7 lapisan langit Kesadaran yaitu 

1. Adam-Materi

2. Yahya-Energi

3. Yusuf-Keindahan

4. Idris-Cerdas

5. Harun-Cinta

6. Musa-Mutakalliman

7. Ibrahim-Kesadaran

Adapun yang dimaksud langit adalah lapisan-lapisan atau puncak Kesadaran.

Ubun-ubun/Otak - Baitul Arsy 

Kening - Sidratul Muntaha 

Mata - Baitul Makmur

Hidung - Baitul Muqoddas 

Mulut -: Baitul Aqsha 

Leher - Masjidil Haram

Jantung - Madinathul Munawaroh 

Hati/Qolbu - Baitullah/Ruhul Qudus

Kemaluan laki2 - Baitulrahman 

Kemaluan perempuan - Baitulrahim

Sukma sejati, badan rasa sejati disebut Ahmad 

Akal/pikiran disebut Jibril

Qolbu disebut Ruhul Qudus

Sirr disebut Nur Muhammad

--------------------------------------------------

Zikir Lisan disebut Syariat 

Zikir Hati disebut Tharekat 

Zikir Nafas disebut Hakikat

Zikir dalam hening/diam/manekung itulah disebut Makrifat yaitu hening dalam sebenar-sebenarnya Zikir. Hening dalam Kesadaran (Sidratul Muntaha) dan hanya dengan manekung/hening maka petunjuk akan mudah kita terima.





Puncak Kesadaran Tertinggi


Nabi Muhammad Saw tidak bertemu Tuhan bukan disebuah tempat karena Tuhan tidak terkungkung oleh konsep ruang dan waktu tetapi pada sidrahtul muntaha, dipuncak kesadaran yang tertinggi akan Allah, Jika seseorang meningkatkan kesadaran demi kesadaran maka disana sudah tiada lagi sebutan, karena itu hanya nama. Allah bukanlah nama, bukan sifat, bukan pula Asma'...semua hanya bentuk penjelasan dalam pengenalan karena Allah tak menyerupai apapun..!!!Maka nyatanya Allah ada dalam diam, pada KEYAKINAN, RASA dan PERBUATAN. Jadi yang sampai kepada Allah adalah KESADARAN TERTINGGI, sedangkan Sidrahtul Muntaha, langit dalam bahasa spiritual menceritakan lapisan-lapisan kesadaran tentang Tuhan

Berikut Nabi yang bertemu Rasulullah Saw di langit saat Isra Mi'raj secara simbolik di Kesadaran :

1. Nabi Adam As
Nabi Adam AS adalah manusia dan khalifah pertama yang diciptakan Allah SWT. Saat Isra Mikraj, Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril bertemu dengan Nabi Adam As di langit pertama. Nabi Muhammad mengucapkan salam kepada Nabi Adam. Sebaliknya, Nabi Adam juga membalas salam Nabi Muhammad.

2. Nabi Yahya As & Nabi Isa As di langit kedua, Nabi Muhammad SAW bertemu Nabi Yahya As saat Isra Mikraj. Nabi Yahya As adalah anak dari Nabi Zakaria As yang lahir ketika usianya sudah sangat tua. Nabi Yahya As ialah seorang yang berprinsip, integritas tinggi dan penegak keadilan. Selain bertemu Nabi Yahya As, di langit kedua Nabi Muhammad SAW juga bertemu Nabi Isa As. Nabi Isa As terlahir dengan mukjizat Allah SWT dari seorang perempuan suci bernama Maryam. Beliau mendapatkan mukjizat kitab Injil dan menjadi nabi dari umat Nasrani.

3. Nabi Yusuf As
Kemudian di langit ketiga, Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril bertemu Nabi Yusuf As. Nabi Yusuf As pernah bermimpi bulan, matahari dan bintang bersujud padanya. Sejak itulah, Nabi Yaqub mengetahui bahwa putranya akan menjadi orang besar.

4. Nabi Idris As
Di langit keempat, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Idris As. Nabi Idris adalah keturunan Nabi Adam yang dikenal dengan kecerdasannya. Ia adalah nabi pertama yang dapat menulis dan membaca.

5. Nabi Harun As
Kemudian pada langit kelima, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Harun As. Nabi Harun As dikaruniai kemampuan berbahasa yang luar biasa.

6. Nabi Musa As
Pada langit keenam, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Musa As. Nabi Musa menangis karena Nabi Muhammad memiliki umat yang paling banyak masuk surga, melampaui dari umat Nabi Musa.

7. Nabi Ibrahim As
Terakhir di langit ketujuh. Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Ibrahim As. Nabi Ibrahim juga memiliki mukjizat tetap hidup meski dibakar dengan api. Ia mendapat hukuman dibakar hidup-hidup usai menghancurkan berhala dan tak ingin mengakui Raja Namrud sebagai Tuhan.

Kisah Isra Mi'raj sebenarnya hanya simbolik menceritakan perjalanan Nabi mencapai Sidratul Muntaha, yang dimaksud Sidratul Muntaha sebenarnya puncak kesadaran tertinggi yang dicapai nabi setelah menembus langit ketujuh. Adapun yang dimaksud langit disini adalah lapisan-lapisan kesadaran. 

Mi'raj-nya Nabi Muhammad

Sesungguhnya mi'raj yang dialami oleh Baginda Nabi Muhammad adalah mi'raj secara jasmaniyah dan ruhaniyah. Tetapi ayat-ayat tentang mi'raj itu adalah mengandung makna yang tersirat, yaitu mi'raj ruhaniyah yang dialami oleh para salik.

Bukanlah perkara yang mustahil bagi Allah untuk memi'rajkan dirinya Nabi Muhammad beserta dengan jasmani-nya hingga sampai ke langit ketujuh.

Ambillah pelajaran dari kisah pada zaman Nabi Sulaiman yaitu pada waktu Nabi Sulaiman mengadakan sayembara untuk mencari siapa yang paling cepat dapat memindahkan singgasananya Ratu Balqis ke tempatnya. Ternyata ada seorang Waliyullah yang bernama Ashif bin Barkhiya

yang diberi karunia oleh Allah dengan ilmu kitab, sehingga ia dapat memindahkan singgasananya Ratu Balqis dari tempat yang sangat jauh ke tempat Nabi Sulaiman dalam waktu yang lebih cepat dari kecepatan mata berkedip.

Yang dimaksud ilmu kitab yang dikaruniakan kepada waliyullah tersebut bukanlah ilmu dari kitab yang berupa mushaf atau ilmu pengetahuan dari kalimat-kalimat, tetapi ilmu dari kitab yang hakiki yaitu Nur Allah. Karena Nur itulah yang merupakan kunci pembuka segala sesuatunya.

Secara logika, sangat mustahil hal itu bisa terjadi, karena menurut logika bagaimana mungkin singgasananya Ratu Balqis dari tempat yang sangat jauh dapat dipindahkan ke tempat Nabi Sulaiman dalam waktu yang lebih cepat dari kedipan mata?. Tentulah logika manusia pada umumnya akan mengira bahwa jika ada benda yang dipindahkan secara fisik dari jarak yang sangat jauh dengan kecepatan yang melebihi kecepatan kedipan mata maka pastilah benda itu akan hancur luluh sebelum tiba di tempat tujuan.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah dari nur-Nya, kemudian dapat ditarik ke dalam Nur, serta dikembalikan kepada Nur.

Alam Nur itu tiada ruang dan waktu, dan tiada berlaku jarak. Maka sesuatu yang jaraknya jauh atau dekat dari kita, bagi Nur itu semuanya sama saja, artinya tidak ada sesuatu yang jauh bagi Nur Allah.

Maka memindahkan tubuhnya Nabi dari langit pertama ke langit ketujuh dalam waktu lebih cepat dari kedipan mata jika dilakukan dari alam Nur adalah perkara yang mudah dengan kekuasaan Allah. Tentulah tubuh yang akan dipindahkan itu harus ditarik ke dalam Nur, kemudian dikeluarkan kembali ke tempat yang lain.

Tentunya jadi pertanyaan bagi kita, bagaimana keadaan fisik tujuh langit yang dilalui oleh Nabi kita, apakah semuanya sama keadaannya? Jawabannya, tentunya berbeda.

Semakin jauh langitnya maka semakin halus keadaannya. Maka tubuhnya Baginda Nabi kita yang ditarik ke tiap-tiap tingkatan langit itu tentulah dirubah keadaannya di dalam Nur untuk disesuaikan keadaannya dengan keadaan fisiknya langit dimana tubuhnya berada.

Maka, benarlah bahwa mi'raj yang dialami oleh Baginda Nabi kita adalah mi'raj secara jasmaniyah dan ruhaniyah. Sedangkan kita sebagai umatnya wajib mengalami mi'raj secara ruhaniyah saja.

Mi'raj Ruhaniyah 

✅Adapun Buroq itu adalah simbol dari Nur Allah yang merupakan Ruh bagi kita.

Maka mi'raj ruhaniyah itu adalah diri kita ditarik dari nur-Nya hingga berhimpun ke dalam nur-Nya, di kedalaman hati kita. Maka diri kita hadir kepada Allah dengan mi'raj ruhaniyah.

✅Tujuh langit fisik yang dilalui oleh Baginda Nabi kita adalah simbol dari tujuh langit kesadaran bagi kita, yaitu pada tujuh latifah.

✅Sidratul-Muntaha itu adalah wilayahnya puncak kesadaran ruhaniyah kita, yang wilayahnya berada di qolbu kita yang terdalam.

✅ Sedangkan Jibril itu adalah nafas bagi kita.  Karena sesungguhnya nafas itu bukan hanya angin yang keluar dan masuk ke tubuh kita, tetapi merupakan rahasia Allah yang zahir menjadi nafas. Maka sesungguhnya kuncinya mi'raj ruhaniyah itu ada pada nafas kita.

Catatan :

Tentang Mi'raj Ruhaniyah Yang dialami oleh para Salik. 

Mi'raj Ruhaniyah itu bukanlah perjalanan diri kita diangkat ke langit yang di luar diri kita tetapi merupakan perjalanan ke dalam diri kita sendiri melintasi langit-langit kesadaran pada Qolbu kita. 

Sesungguhnya mi'raj ruhaniyah itu diri kita ditarik dari nur-Nya hingga berhimpun kepada nur-Nya di kedalaman qolbu kita. Kunci perjalanannya ada pada nafas masuk.




Esensi Spiritual

Mutiara Biru [adalah] penutup paling halus dari jiwa individu....Ketika kita melihat cahaya biru kecil ini dalam meditasi, kita harus memahami bahwa kita sedang melihat bentuk dari Diri batiniah. Untuk mengalami ini adalah tujuan hidup manusia. [Mutiara Biru] itu kecil, tetapi berisi semua alam eksistensi yang berbeda.

- Swami Muktananda

Muktananda menyebut Mutiara Biru sebagai manifestasi fisik dari jiwa. Dia mengatakan bahwa melihatnya dalam meditasi adalah seperti melihat jiwa. "Kematian" hanyalah nama yang kami berikan untuk kepergian Mutiara Biru dari tubuh. 

Dalam bukunya Apakah Kematian Benar-Benar Ada? Muktananda berkata,Titik biru, yang kita sebut Mutiara Biru, berdiam di sahasrara, pusat spiritual di ubun-ubun kepala. Ini adalah tubuh Diri. Semua kesadaran terkandung di dalamnya. Semua dinamika proses pernapasan berasal dari Mutiara Biru. Ketika cahaya itu memasuki tubuh, ritme pernapasan dimulai. Ketika meninggalkan tubuh, kesadaran berangkat dari aliran darah, saraf dan paru-paru, meninggalkan segalanya lemas dan tak bernyawa. "Kematian" hanyalah nama yang kami berikan untuk kepergian Mutiara Biru dari tubuh. 

Buku itu selanjutnya mengatakan bahwa seseorang dapat melihat Titik Biru meninggalkan tubuh saat kematian, dan di mana ia keluar, menurut kitab suci, menunjukkan keadaan pengalaman orang tersebut. Jika jiwa pergi melalui mata, seseorang telah sangat berbudi luhur.

Master Tibet Djwhal Khul , berbicara melalui Alice A. Bailey tentang ajaran kebijaksanaan awet muda, juga mengacu pada "Cakram Biru" di empat tempat tertentu ~ setiap kali dalam konteks latihan visualisasi meditasi.

Dalam kegelapan jiwa, terpenjara dalam bentuk, titik cahaya terlihat. Kemudian muncul, di sekitar titik itu, bidang biru terdalam dan ini menjadi disinari oleh jiwa, matahari bagian dalam, bersinar di dalam bidang biru cemerlang. Titik-titik cahaya menjadi banyak garis atau sinar cahaya; garis-garis ini kemudian bergabung dan berbaur sampai Jalan yang terang muncul. Salah satunya adalah cahaya, cahaya di atas Jalan. Salah satunya adalah Jalan dan selalu berjalan di atasnya yaitu Sidratul Muntaha.

DK memberi tahu kita tentang titik biru tua, atau piringan nila kecil, yang muncul: “Ini, pada kenyataannya, pintu keluar di kepala yang melaluinya jiwa keluar dari dunia keberadaan fenomenal, dan itu adalah simbol dari jalan atau pintu ke dalam kerajaan Allah.” Dirayakan abad ketiga belas India Mystic-Penyair-Yogi Jnaneshwar Maharaj (1271-1293) mengatakan Warna Biru adalah pusat ziarah besar dan suci. Dalam Islam Isra mi'raj.

 “Warna Biru yang bercahaya dan berkilauan dan luhur ini dapat dilihat secara langsung dalam meditasi. Jika kita ingin melihat hal yang begitu besar dan indah, cara hidup dan kebiasaan kita harus yang paling murni dan paling suci. itu. Pergaulan kita, perkataan kita, dan pikiran kita harus penuh dengan Tuhan. Dia yang telah melihat Warna Biru adalah yang paling diberkati dari semua manusia."

Jika Malaikat Biru mengunjungi Anda, ketahuilah bahwa Anda telah diberi hadiah kebenaran. Sebuah hadiah suci. Sebuah karunia kebenaran, perlindungan dan keilahian Anda sendiri.