Banyak orang mengira Tasawuf tidak diajarkan Nabi. Padahal... Nabi justru mengajarkan inti Tasawuf tanpa menyebut namanya. Malam itu angin berhembus pelan di halaman pesantren tua. Lampu temaram menggantung di serambi kayu. Seorang murid duduk gelisah di hadapan Gurunya yang dikenal teduh dan dalam pandangannya.
Murid :
"Guru... bolehkah aku bertanya sesuatu yang mengganjal di hatiku?"
Guru :
"Tanyakanlah. Hati yang bertanya adalah hati yang sedang mencari jalan pulang."
Murid :
"Aku sering mendengar orang berkata tentang Tasawuf. Tapi aku juga mendengar orang lain berkata bahwa Nabi tidak pernah mengajarkan Tasawuf. Aku jadi bingung. Apakah kita memang harus bertasawuf?"
Guru itu tersenyum tipis. la menatap langit malam seakan membaca sesuatu yang tidak terlihat.
Guru :
"Anakku... memang benar Nabi tidak pernah menyebut kata Tasawuf." Murid itu sedikit terkejut.
Murid :
"Jadi... benar begitu, Guru?"
Guru :
"Ya. Nabi tidak menyebut kata itu. Tetapi Nabi mengajarkan seluruh isi Tasawuf dalam hidupnya."
Murid terdiam. Angin malam berhembus membawa suara daun bergesekan seperti bisikan yang halus.
Murid :
"Aku belum mengerti, Guru.."
Guru menatap muridnya dengan lembut.
Guru :
"Coba kau ingat satu hadits yang sangat terkenal. Ketika Malaikat Jibril datang kepada Nabi dan bertanya tentang ihsan."
Guru berhenti sejenak.
Guru :
"Jibril bertanya, 'Apa itu ihsan?' Lalu Nabi menjawab, 'Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.!"
Murid terdiam lama.
Guru :
"Itulah tasawuf, anakku."
Murid :
"Maksud Guru...?"
Guru:
"Ketika seseorang membersihkan hatinya dari riya, dari sombong, dari dengki... itu Tasawuf!" "Ketika seseorang beribadah bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi karena cintanya kepada Allah... itu Tasawuf." “Ketika seseorang merasa Allah selalu melihatnya, bahkan saat ia sendirian... itu tasawuf."
Mata murid mulai berkaca-kaca.
Murid :
"Jadi... Tasawuf bukan sesuatu yang baru?"
Guru menggeleng perlahan.
Guru :
"Tidak. Tasawuf hanyalah nama yang diberikan ulama untuk menjelaskan perjalanan hati menuju Allah." "Pada zaman Nabi, orang tidak menyebutnya Tasawuf... karena para Sahabat sudah hidup dalam keadaan itu."
Guru menunjuk ke dada muridnya.
Guru :
"Masalah manusia hari ini bukan kurang ibadah.." "Masalahnya adalah hati yang kering saat beribadah."
Murid menunduk.
Murid :
"Guru... sekarang aku mulai mengerti."
Guru tersenyum.
Guru :
"'Jika Engkau sholat tetapi hatimu hadir kepada Allah...kau sedang berjalan di jalan Tasawuf." “Jika kau berzikir hingga hatimu lembut... kau sedang berjalan di jalan Tasawuf." “Dan jika suatu hari kau merasakan Allah lebih dekat daripada napas mu sendiri...!'
Guru berhenti sejenak. Angin malam tiba-tiba terasa sangat hening.
Guru :
"Di situlah engkau akan memahami bahwa Tasawuf bukan sekadar ilmu." "Melainkan perjalanan pulang... dari hati manusia menuju Tuhannya."
Murid :
Apakah benar kalau belajar sendiri tanpa Guru, Gurunya adalah setan?
Guru :
Ungkapan itu peringatan agar kita sadar. Ilmu Tasawuf tidak bisa hanya dipelajari dari buku atau medsos tanpa bimbingan Guru yang terpercaya. Membaca karya ulama atau mendengar ceramah memang penting, tapi tetap dibutuhkan pembimbing langsung yang bisa mengoreksi langkah dan membersihkan hati. Seorang Mursyid tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik jiwa. Ia menjaga murid dari kesalahan tafsir dan jebakan hawa nafsu. Belajar tanpa Guru ibarat berjalan dihutan gelap tanpa peta, bisa sesat meski niatnya baik.
Bertasawuf, membuka Rasa dan Kesadaran diri... Siapapun yang merasakan pasti mengetahui dan Sadar diri. Maka kenapa banyak sekali ayat yang menjelaskan tentang keadaan mereka yang khusyuk saat beribadah dan tersungkur lalu sujud dan menangis. Karena mereka merasakan hadirnya Sang Maha Segalanya...
