Meditasi di Gunung Kawi


Kawruh Kebathinan Jawa Kuno 

Meditasi Menyatu dengan Lingga Siwa puncak Gunung Kawi.

Bagi para praktisi kebatinan kuno termasuk cikal bakal aliran Hardo Pusoro, puncak Gunung Kawi tidak dipandang sekedar gundukan tanah, melainkan sebuah Lingga Alam raksasa—poros Spiritual vertikal Dewa Siwa tempat bumi berpasak.

Metode Sujud dan Meditasi : Para penganutnya melakukan meditasi keheningan (Tafakur) di lereng gunung. Konsep ketuhanan mereka meyakini bahwa Tuhan (Sang Hyang Widhi/Sumber Hidup) ada di dalam diri manusia sebagai wijining kedaden (inti kejadian). 

Tujuan Meditasi di Gunung Kawi untuk menyelaraskan Getaran Energi tubuh dengan makrokosmos (energi stana Siwa di puncak gunung) demi mencapai kemuliaan hidup.

Titik lokasi pertapaan keramat Ki Sumocitro (pendiri paguyuban kebathinan Hardo Pusoro) di Gunung Kawi secara spesifik berada di wilayah Keraton Gunung Kawi, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.

Dalam catatan sejarah lisan paguyuban, lokasi bertapa makro beliau mencakup seluruh lereng selatan, namun pemusatan meditasi keheningannya/Tafakur dilakukan di situs purba yang kini dikenal sebagai Kompleks Sanggar Pamujan Keraton Kawi.

Keraton Gunung Kawi

Lokasi Geografis : Terletak di Dusun Gendogo, Desa Balesari, Ngajum. Jaraknya sekitar 30-45 menit perjalanan naik (kurang lebih 4,5 KM) dari arah kompleks Pesarean Gunung Kawi (makom Eyang Jugo).

Titik Meditasi : Di area dalam Kraton, terdapat bangunan berpintu kuning yang menjadi "Punjer" atau titik pusat pertapaan. 

Disinilah tempat utama para mistikus kejawen kuno, termasuk Ki Sumocitro, duduk diam (patrap) mengikat panca indera menghadapi megahnya puncak Gunung Kawi sebagai simbol Lingga Alam.

Titik Punjernya Keraton : Gedong Pasewakan/Sanggar Pamujan

Karakteristik Fisik Titik ini berupa ceruk ruangan meditasi utama (sering ditandai dengan pintu atau kain penutup kuning/hitam). Tempat ini adalah bekas sanggar pemujaan kuno era Prabu Kameswara dari Kerajaan Kediri.

Mengapa Paling Kuat? Di kalangan penganut kebatinan Hardo Pusoro, titik ini disebut sebagai "Punjer Suwung". 

Tempat ini merupakan poros magnetik bumi lereng Kawi yang segaris lurus secara vertikal dengan Puncak Topeng (puncak tertinggi). 

Medan energi di titik ini sangat padat, sehingga peziarah yang melakukan teknik meditasi Patrap (mengunci panca indra) akan merasakan tubuh mereka menjadi sangat panas akibat hantaman energi bumi (Geni Sejati).

Ketika mengalihkan niat meditasi tingkat tinggi di Keraton Gunung Kawi untuk tujuan kekayaan dan kemakmuran hidup, terjadi pergeseran falsafah esoteris yang sangat mendasar.

Dalam ajaran kebatinan murni Hardo Pusoro, mencari Kekayaan melalui Spiritualitas tidak dilakukan dengan cara "pesugihan kuno" yang meminta tumbal atau bersekutu dengan makhluk gaib bawah (entitas negatif). Cara tersebut dinilai merusak struktur jiwa dan mengikat Sedulur Papat dalam kegelapan.

Secara esoteris tingkat tinggi, kemakmuran diraih melalui teknik "Magnetisme Kosmik Siwaistis", yaitu menyelaraskan getaran batin dengan frekuensi kelimpahan alam semesta di titik punjer Keraton Kawi.

Transformasi Sufiyah (Kuning) menjadi Materi

Dalam anatomi spiritual, nafsu kemakmuran dan keindahan duniawi dikontrol oleh salah satu saudara batin, yaitu elemen angin (berwarna kuning visual).

Kesalahan Umum : Orang awam membiarkan nafsu kuning ini liar, sehingga menjadi ketamakan yang menutup pintu rezeki asli.

Teknik Meditasi Tinggi : Di ruang Gedong Pasewakan Keraton, petapa mengunci nafas dan mengikat (Pusoro) energi kuning ini. 

Energi tersebut tidak dimatikan, melainkan dimurnikan. 

Ketika getaran energi kemakmuran di dalam diri melarut ke dalam poros tengah (Pancer), raga manusia tersebut berubah menjadi "Magnit Rezeki". 

Anda tidak lagi mengejar uang, melainkan uang dan peluang hidup yang bergerak mendekat kepada Anda secara alami karena hukum daya tarik magnetis (Law of Resonance).

Membuka Sumur Geni Sejati di Cakra Dasar (Poros Yoni)

Gunung Kawi adalah gunung berapi non-aktif yang menyimpan energi bumi raksasa. 

Dalam kosmologi Hindu-Siwa, bumi adalah simbol Dewi Sri (Laksmi)—sang penguasa kesuburan, pangan, dan kekayaan materi.

Praktik Esoteris : Saat bersila tegak (Lingga) di atas tanah keramat Keraton Kawi (Yoni), petapa melakukan teknik panyondro (visualisasi batin). Energi bumi yang padat ditarik naik melalui Chakra dasar menuju pusat Pusar.

Efek Kemakmuran: Laku ini dipercaya membuka "sumur rezeki gaib" di dalam diri seseorang. Hambatan-hambatan astral berupa sial, sengkolo (energi negatif bawaan lahir), atau kutukan keturunan yang menyumbat jalannya rezeki materi akan dilebur oleh energi murni lereng Kawi. 

Rahasia Filosofi Sugih Tanpa Banda (Kaya Tanpa Harta fisik)

Ini adalah tingkatan esoteris tertinggi mengenai kemakmuran yang dibawa oleh Ki Sumocitro. 

Ketika batin berhasil mencapai kondisi Suwung (kosong dari kecemasan) di titik punjer Kawi, ketakutan akan kemiskinan lenyap.

Jiwa yang terbebas dari ketakutan akan memancarkan energi keyakinan mutlak. 

Dalam realitas fisik sehari-hari, orang yang memiliki ketenangan level ini akan selalu mendapati jalannya dimudahkan : usaha selalu beruntung, relasi bisnis menaruh kepercayaan tinggi, dan rezekinya datang dari arah yang tidak disangka-sangka. 

Mencapai tingkatan yang lebih tinggi  dalam esoterisme kemakmuran di Gunung Kawi berarti meninggalkan konsep "menarik rezeki" (magnetisme) dan masuk ke dalam ranah Kedaulatan Kosmik (Kamulyan Sejati).

Pada titik tertinggi ini, manusia tidak lagi meminta kelimpahan kepada semesta, melainkan menyadari bahwa dirinya adalah pemilik kelimpahan itu sendiri melalui penyatuan mutlak dengan Siwa-Sadasiwa (Sumber Segala Manifestasi Materi).

Membuka Gerbang Srividya (Anatomi Singgasana Laksmi). 

Di atas Chakra jantung, terdapat ruang spiritual tersembunyi yang dalam mistisisme Hindu-Siwaistis Nusantara disebut Hridaya (Pusat Jantung Batin).

Rahasia Esoteris : tempat ini adalah stana dari Sri atau Laksmi (energi kemakmuran universal). 

Selama panca indra manusia masih terikat oleh ketakutan akan kemiskinan materi, gerbang ini terkunci rapat oleh selaput ilusi bernama Maya Granthi.

Teknik Puncak : Saat melakukan Patrap tertinggi di Gedong Pasewakan Keraton, Petapa tidak lagi memikirkan uang atau bisnis. Ia melakukan teknik Laya (peleburan keinginan). 

Ketika keinginan duniawi dilebur menjadi nol (Suwung Gung), selaput Maya Granthi pecah. 

Manifestasinya dalam hidup fisik : Anda tidak perlu lagi mencari rezeki, karena ke manapun kaki Anda melangkah, bumi dan alam semesta berkewajiban mencukupi serta melayani kebutuhan raga Anda (Sabda Dadi).

Penyatuan Ardhanareswari (Meleburnya Lingga dan Yoni)

Puncak tertinggi meditasi kemakmuran kosmik dicapai ketika dualitas energi di dalam tubuh menyatu secara mutlak.

Lingga (Kesadaran Siwa) yang tegak lurus di tulang belakang menyatu dengan Yoni (Energi Shakti/Bumi Kawi) yang dingin di Chakra dasar.

Leburnya Dualitas : Ketika kedua kutub ini bertemu di cakra mahkota (Sahasrara), petapa mengalami kondisi Ardhanareswari (setengah pria, setengah wanita). Secara spiritual, ini melambangkan bersatunya Sang Pencipta dan Ciptaan-Nya.

Dampak Transendental : Manusia yang mencapai titik ini menyadari rahasia esoteris terdalam : "Dunia materi dan dunia spiritual bukanlah dua hal yang berbeda." 

Harta, kekayaan, dan kemakmuran adalah pancaran gelombang dari Kesadaran Agung. Dengan menguasai Kesadaran tersebut, secara otomatis realitas materi disekitarnya tunduk dan bergeser sesuai kehendak Bathinitas nya.



Gunung Kawi Malang Jawa Timur


Gunung Kawi merupakan tempat Ziarah Spiritual Wisatawan Lokal hingga Mancanegara. Gunung yang berada di Malang, Jawa timur ini terdapat dua area Wisata Yaitu

1. Pasarean Gunung Kawi

Lokasi Jl Pesarean Sumbersari Wonosari Kec Wonosari Kabupaten Malang Jawa Timur

~ Makam Eyang Jugo/Kanjeng Kyai Zakaria II (wafat 22 Januari 1871) dan Raden Mas Imam Soedjono (wafat 8 Februari 1876). Mereka adalah tokoh bangsawan yang ikut menentang penjajah dibawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro.

~ Masjid Gunung Kawi

~ Klenteng Gunung Kawi

~ Gedung pertunjukan wayang kulit

2. Keraton Gunung Kawi 

Lokasi Area Gn Pitrang Balesari Kec Ngajum Kabupaten Malang

~ Dibangun pada tahun 861 M berdasarkan tulisan yang tertera pada Prasasti Batu Tulis di puncak Gunung Kawi. Pertapaan ini dibangun oleh Mpu Sendok (penguasa Mataram) pada masa dinasti Syailendra setelah berdirinya Candi Borobudur

~  Tempat para Raja Kediri, Mataram Kuno bertapa dan Moksa 

~ Tempat bertapanya para pendiri Singasari dan Majapahit

~ Sanggar Pamujaan dan tempat Moksa Prabu Kameswara Raja Kediri

~ Makam Ki Tunggul Manik dan Nyi Tunggul Menik

~ Vihara Dewi Kwan Iem 

Pesona Alam Gunung Kawi sejuk dan tenang untuk wisata religius dan begitu khusus. Penulis menepis jika Gunung Kawi yang banyak orang tahu bahwa disana tempat mencari Pesugihan, tetapi Gunung Kawi adalah Gunung Sakral yang memiliki energi pantulan besar serta energi Spiritual Tinggi. Banyak Raja Nusantara di masa lalu melakukan Meditasi di Gunung Kawi untuk menggapai Kesejatian.

Pada tahun 2017 penulis di undang para Tokoh Spiritual untuk Acara Ruwatan dan Pagelaran Budaya Wayang Kulit di area parkir wisata Keraton Gunung Kawi yg diselenggarakan Perusahaan Indofood dan Bogasari.



Eyang Bathoro Katong Ponorogo Jawa Timur

Lokasi Plampitan Setono Kec Jenangan Kabupaten Ponorogo Jawa Timur
                                              





Kyai Ageng Kasan Besari Ponorogo Jawa Timur

Kyai Ageng Muhammad Hasan Besari

Lokasi Jinontro Tegalsari Kec Jetis 
Kabupaten Ponorogo Jawa Timur












Raden Jafar Shodiq Sunan Kudus Jawa Tengah

~ Sunan Kudus (Raden Jafar Shodiq)
Lokasi Kauman Pejaten Kec Kota Kudus Kab Kudus Jawa Tengah


Ki Ageng Tarub Grobogan Jawa Tengah





Kurang lebih pada tahun 1300 M, ada utusan (mubalig) dari Arab yaitu Syaikh Jumadil Kubro. Beliau mempunyai putri bernama Ny. Thobiroh dan Ny. Thobiroh mempunyai putra Syeh Maulana. Disaat itu Syaikh Maulana mendapat perintah mengembangkan syariat Islam di pulau jawa sangat berat. Hal tersebut dikarenakan orang-orang Jawa banyak yang masih memeluk agama Hindu Budha, dan orang-orang jawa pada saat itu ahli bertapa, hingga orang Jawa banyak yang tebal kulitnya. Maka dari itu Syeh Maulana mulai memasukkan syareat Islam di tengah – tengah masyarakat Jawa, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara bertapa keatas pohon giyanti yang sangat besar, dimana diatas pohon tersebut terdapat tumbuhan simbar. Bertepatan itu di Surabaya terdapat Kerajaan Temas, rajanya bernama Singawarman dan mempunyai putri yang bernama Nona Telangkas. Dikala itu Nona Telangkas sudah dewasa, namun belum ada remaja yang berani meminangnya. Setelah itu Nona Telangkas diperintah oleh ayahnya supaya menjalankan bertapa ngidang yaitu masuk hutan selama 7 tahun, tidak boleh pulang atau mendekat pada manusia dan tidak boleh makan kecuali daun yang ada di hutan tersebut. Sehingga Nona Telangkas mempunyai nama Kidang Telangkas. Pada saat akan selesai bertapa, di tengah hutan tersebut Nona Telangkas melihat ada Telaga yang sangat jernih airnya. Kemudian dia mau mandi di telaga tersebut setelah melepas semua pakaian dia melihat di dalam air terdapat bayangan pria yang sangat tampan. Namun dikala itu Nona Telangkas telah terlanjur melepaskan semua pakaiannya. Akhirnya terpaksa menjeburkan diri di telaga tersebut, sambil mengucapkan dalam ucapan bahasa jawa “mboh gus wong bagus “.    
Setelah selesai mandi maka Nona Telangkas kembali pulang ke Kerajaan Temas (Surabaya) untuk menghadap orang tuanya. Namun Nona Telangkas disaat itu ternyata sudah dalam keadaan hamil maka setelah menghadap ayahnya beliau ditanya “Siapakah suamimu, sehingga engkau pulang dalam keadaan hamil ? “ Ditanya ayahnya berulang-ulang, dia tidak bisa menjawab. Namun di dalam hatinya Nona Telangkas teringat dalam pertapanya dikala akan selesai, dimana dia mandi di dalam telaga yang sangat jernih airnya, dan ternyata di dalam air tersebut terdapat bayangan pria yang sangat tampan. Maka disaat ditanya oleh sang ayah dia tidak bisa menjawab, namun didalam hatinya menjawab seperti diatas.
Maka akhirnya dia kembali masuk hutan untuk mas mencari tersebut. Disaat sampai di tengah hutan Nona Telangkas melahirkan bayi, sampai sekarang tempat tersebut diberi sebutan desa Mbubar. Setelah jabang bayi lahir lalu diajak mencari telaga, yang akhirnya menjumpai telaga yang terdapat bayangan pria yang tampan tersebut. Kemudian si jabang bayi diletakkan ditepi sendang telaga dan ditinggal pulang ke kerajaan Themas. Siapakah sebenarnya orang yang kelihatan bayangannya didalam sendang telaga, ternyata beliau adalah Kanjeng Syeh Maulana Maghribi yang sedang bertapa diatas pohon Giyanti. Dikala si jabang bayi Nona telangkas diletakkan dipinggir sendang telaga, Syeh Maulana berkata “ Nona Telangkas keparingan amanateng Allah kang bakal njunjung drajatmu kok ora kerso “ (dalam Bhs jawa).Yang akhirnya Syeh Maulana turun dari pertapanya dan menimang jabang bayi, kemudian dibuatkan tempat yang sangat indah yaitu Bokor Kencono . Dikala itu Dewi Kasian ditinggal wafat suaminya yang bernama Aryo Penanggungan, belum mempunyai putra, karena sayangnya Dewi Kasian terhadap suaminya, walau sudah wafat setiap saat dia selalu menengok makam suaminya. Maka dikala itu Syeh Maulana Maghribi membawa putranya yang telah dimasukkan bokor kencono dan diletakkan disamping makam Aryo Penanggungan. Di malam itu juga kebetulan Dewi Kasian keluar dari rumah menengok kearah makam suaminya, kelihatan sinar yang menjurat keatas dari arah makam suaminya, apakah sebetulnya sinar yang menjurat dari arah makam suaminya tersebut ? Ternyata setelah didekati adalah sebuah bokor kencono yang sangat indah, dan dibuka bokor tersebut ternyata didalamnya terdapat jabang bayi yang sangat mungil dan lucu sekali. Disaat itu Dewi kasian sangat terperanjat hatinya melihat si jabang bayi tersebut, dengan tidak disadari akhirnya bokor berisi jabang bayi dibawa pulang dengan lari dan mengucapkan : “kangmas Penanggungan wis sedo, kok kerso maringi momongan marang aku “. (dalam Bhs Jawa).Kabar mengenai orang yang telah meninggal tetapi bisa memberikan kepada istri jandanya, telah tersiar sampai ke pelosok negeri. Masyarakat berbondong – bondong ingin menyaksikan kebenaran berita tersebut, Akhirnya Dewi Kasian yang asalnya tidak punya harta benda apa – apa menjadi janda yang kaya raya, dari uluran orang – orang yang datang tersebut. Kemudian jabang bayi diberi nama Joko Tarub karena dikala masih bayi diambil Dewi Kasian dari atas makam Aryo Penanggungan yang makamnya dibuat makam Taruban

Pada usia kanak-kanak Joko tarub atau Sunan Tarub mempunyai kesenangan atau hobi menangkap kupu-kupu di ladang. Setelah masuk di tengah hutan bertemu orang yang sangat tua, dia diberi aji – aji tulup yang namanya tulup Tunjung Lanang. Tulup inilah yang akhirnya menjadi aji-aji sangat luar biasa untuk Kiai Ageng Tarub/ Sunan Tarub. Diwaktu mendapat tulup tersebut dia pulang dengan cepat menyampaikan berita kepada ibunya (Dewi Kasian) dan mengatakan bahwa dia di tengah hutan dijumpai seorang yang sangat tua memberi aji – aji tulup kepadanya. Namun karena sayangnya, Dewi Kasian tidak memperbolehkan putranya masuk hutan, karena khawatir kalau dimakan hewan buas atau dibunuh orang yang tidak senang kepadanya.
Namun karena Joko tarub tidak takut lebih-lebih mempunyai aji – aji tulup tersebut, maka Joko Tarub tetap senang masuk hutan untuk mencari burung. Sampai diatas gunung Joko Tarub mendengar suara burung yang sangat indah bunyinya yaitu burung perkutut. Kemudian didekati dan dilepaskan anak tulup kearah burung tersebut namun gagal. Akhirnya Joko Tarub berfikir dan menganggap bahwa burung ini tidak burung biasa. Kemudian terdengar lagi suara burung dari arah selatan, didekati dan dilepaskan lagi anak tulup kearah burung namun tidak mengenai burung itu dan ternyata anak tulup itu mengenai dahan jati. Tempat yang ditinggalkan burung tadi sekarang dinamai Dukuh Karang Getas. Karena sedihnya Joko tarub maka tempat yang ditinggalkan, sekarang dinamai Dukuh Sedah. Kemudian terdengar lagi suara burung dari arah selatan, didekati dari posisi yang strategis (burung dalam keadaan terpojok), maka anak tulup dilepaskan dan ternyata tidak kena dan burung terbang lagi ke selatan.

Tempat tersebut sekarang menjadi Dukuh Pojok. Burung terbang ke selatan dan hinggap diatas pohon asam oleh Joko Tarub dilepaskan lagi anak tulup kearah burung tetapi terbang lagi ke selatan, tempat yang ditinggalkan tadi menjadi Dukuh Karangasem. Diwaktu mengejar burung keselatan Joko Tarub merenungi burung tersebut, dalam ucapannya mengatakan ini burung atau godaan. Tempat merenungi Joko Tarub sekarang dinamai Desa Godan Joko Tarub mengejar terus burung kearah selatan, tempat melihatnya Joko Tarub sekarang dinamakan Dukuh Jentir. Joko Tarub terus melacak burung kearah tenggara kemudian berjumpa lagi dengan burung yang hinggap di pohon tetapi burung tersebut tidak bersuara. Setelah burung itu terbang lagi ke selatan dan tempat yang ditinggalkan tadi dinamakan Dukuh Pangkringan. Kemudian Joko Tarub melacak kearah selatan, setelah sampai ditempat yang sangat rindang disitulah burung terbunyi lagi.Namun Joko Tarub mendengar suara wanita yang baru berlumban (mandi) di dalam sendang. Disaat itu Joko Tarub lupa burung yang dikejar dia beralih mengintai suara wanita yang mandi di dalam sendang Ternyata para bidadari yang sedang dilihat, akhirnya Joko Tarub mengambil salah satu pakaiannya bidadari yang dengan tutup kemudian dibawa pulang dan disimpan dibawah tumpukan padi (lumbung) ketan hitam. 

Joko Tarub kembali lagi ke Sendang dengan membawa sebagian pakaian ibunya. Setelah sampai didekat sendang ternyata para bidadari sudah terbang kembali ke surga. Tinggal satu yang masih mendekam ditepi sendang dengan merintih dan berkata : “sopo yo sing biso nulung aku, yen wadon dadi sedulur sinoro wedi, yen kakung sanggup dadi bojoku“. Disaat itu Joko Tarub mendekati dibawah pohon sambil mendengarkan ucapan bidadari tersebut dan menolong bidadari dengan melontarkan pakaian ibunya. Setelah bidadari berpakaian diajak pulang kerumah ibunya dan disampaikan kepada ibunya bahwa putri ini adalah putri dari sendang yang baru terlantar dan minta tolong kepada siapun : Jika yang menolong pria akan dijadikan suaminya. Akhirnya Joko tarub menikah dengan bidadari tersebut yang bernama Nawang Wulan. Adapun sendang yang dibuat lomban para bidadari, sekarang dinamakan sendang Coyo.

Kemudian Joko Tarub dengan Nawang Wulan mempunyai tiga putri yaitu : Nawang sasi, Nawang Arum, Nawang Sih. Pada waktu bayinya, Nawang Sih mengalami satu riwayat yang sangat hebat yaitu dikala Nawang Sih masih di ayunan, ibunya mau mencuci pakaian di sungai dan berpesan pada Joko Tarub agar mengayun putrinya dan jangan membuka kekep (penutup masakan). Namun setelah Nawang Wulan pergi ke sungai, Joko Tarub penasaran akan pesan istrinya, maka dibukalah kekep tersebut, setelah melihat didalam kukusan, ternyata yang dimasak istrinya hanya satu untai padi. Joko Tarub mengucapkan (Masya Allah, Alhamdulilah istriku yen masak pari sak uli ngeneki tho, lha iyo parine ora kalong – kalong. Tak lama kemudian istrinya datang lalu membuka masakan tersebut, ternyata masih utuh padi untaian. Kemudian istrinya menegur suaminya bahwa pasti kekep tadi dibuka, sehingga terjadi pertengkaran. Akhirnya Nawang Wulan menyadari sehingga harus dibuatkan peralatan dapur (lesung, alu, tampah) Setelah kejadian itu Nyi Nawang Wulan kalau mau masak harus menumbuk padi dulu, sehingga lambat laun padi yang ada di lumbung makin habis. Setelah sampai padi yang bawah sendiri yaitu padi ketan hitam, ternyata pakaiannya diletakkan disitu dan diambil kemudian menghadap suaminya. Akhirnya terjadi pertengkaran yang hebat, ternyata yang mengambil pakaiannya waktu disendang dulu adalah Joko Tarub sendiri. Kemudian Nyi Nawang Wulang ingin pulang kembali ke surga dan berpesan kepada suaminya : Bila putrinya menangis minta mimik agar diletakkan didepan rumah diatas anjang – anjangTetapi setelah Nawang Wulan sampai di Surga di tolak oleh teman-temannya karena sudah berbau manusia. Kemudian Nyi Nawang Wulan turun lagi ke bumi namun tidak ada maksud kembali kerumah suaminya. Dia ingin bunuh diri naik di gunung Merbabu meloncat ke laut selatan. Setelah sampai di laut selatan Nyi Nawang Wulan perperang dengan Nyi loro Kidul, dan akhirnya Nyi Nawang Wulan mendapat kejayaan, sehingga laut selatan dikuasai oleh Nyi Nawang Wulan. Jadi yang ada dilaut selatan ada tiga putri yaitu : Nyi Nawang Wulan, Nyi Loro Kidul, Nyi Blorong

Setelah Joko Tarub ditinggal Nyi Nawang Wulan dia hidup dengan putrinya Nawang Sih. Disaat itu di Kerajaan Majaphit yang diperintah Prabu Browijoyo kelima ditinggal wafat istrinya, sehingga Prabu Browijoyo sakit dan tidak mau menduduki kursi kerajaan, dan setiap malam kalau tidur ditepi Kerajaan. Suatu malam dia bermimpi bila sakitnya ingin sembuh maka harus mengawini putri Wiring Kuning, kemudian raja terbangun dari tidurnya. Akhirnya para patih diperintah untuk mengumpulkan semua putri – putri. Setelah diteliti dan disesuaikan dengan mimpinya tersebut akhirnya menjumpai putri Wiring Kuning yang ternyata adalah pembantunya sendiri. Akhirnya dikawinilah putri tersebut dan dilarang untuk keluar dari taman kaputren karena malu jika ketahuan orang bahwa raja mengawini pembantunya sendiri. Setelah jabang bayi lahir raja Brawijaya memanggil saudaranya (Juru Mertani) supaya memelihara dan mengasuh bayi tersebut. 

Kemudian bayi tersebut diberi nama Bondan Kejawan (Lembu Peteng).Dimasa kanak-kanak Bondan Kejawan, ayah asuhnya atau Juru Mertani akan membayar pajak kekerajaan disaat itu Bondan Kejawan mendengar bahwa ayahnya akan kekerajaan dan dia ingin ikut tetapi tidak diperbolehkan. Namun dia lari dulu dan sampai di Kerajaan dia langsung masuk dan naik keatas kursi raja. Kemudian membunyikan Bende Kerajaan. Sang raja mendengar bunyi bende kerajaan dan marahlah, anak tersebut ditangkap dan dimasukkan kedalam sel kerajaan. Tidak lama kemudian datanglah Juru Mertani dengan membawa padi untuk membayar pajak. Selesai membayar pajak dia menghadap sang raja dan menanyakan anak kecil yang membunyikan bende kerajaan. Diberitahukan kepada sang raja bahwa anak kecil itu putra sang raja sendiri. Kemudian raja memanggil anak kecil itu dan membawa kaca untuk melihat wajahnya sendiri dengan wajah anak tersebut. Ternyata Beliau yakin dan percaya bahwa anak tersebut putranya sendiri. Kemudian Juru Mertani disuruh sang raja untuk mengantarkan putranya ke Saudaranya yaitu Ki Ageng Tarub dan putranya agar diasuh dan dipeliharanya. Disaat itu Ki Ageng Tarub mengasuh dua anak kecil yaitu Bondan Kejawan dan anaknya sendiri. Setelah masuk remaja Bondan Kejawan diperintah ayah asuhnya agar bertapa ngumboro yaitu disuruh ke sawah selama tujuh tahun dan tidak boleh pulang kalau belum diambil. Setelah sampai waktunya Nawang Sih diperintah ayahnya supaya memasak yang enak, setelah memasak agar mengambil saudaranya Bondan Kejawan yang berada ditengah sawah. Setelah sampai dekat gubug yang ditempati Bondan Kejawan, Disaat itu Bondan Kejawan sedang istirahat diatas gubug.
Nawang Sih memanggil Bondan Kejawan dari bawah gubug. Bondan Kejawan terperanjat atas panggilan Nawang Sih karena tidak tahu akan kedatangannya, sehingga Bondan Kejawan jatuh dari atas gubug dan memegang bahunya Nawang Sih. Sampai dirumah Nawang Sih memberitahukan orang tuanya bahwa tadi bahunya dipegang oleh Bondan Kejawan. Tetapi sang ayah malah memberi tahu Nawang Sih akan dijodohkan dengan Bondan Kejawan, dan akhirnya mereka menikah. Kemudian lahirlah anak yang diberi nama Ki Ageng Getas Pandowo (Ki Abdulloh). Bondan Kejawan meneruskan Bopo Morosepuh dan diberi nama Ki Ageng Tarub II, sedang Ki Ageng Getas Pandowo diberi nama Ki Ageng Tarub III

Tempat pertapaan Bondan Kejawan (Lembu Peteng) sekarang terdapat disebelah tenggara makam Ki Ageng Tarub I, dukuhan sebelahnya dinamakan Desa Barahan. Selanjutnya Ki Ageng Tarub III (Getas Pandowo) mempunyai putri banyak dan yang terkenal adalah Ki Ageng Abdurrohman Susila (Ki Ageng Selo).

Adapun adanya Ki Ageng Tarub adalah merupakan suatu karomah dari Allah yang diberikan kepada Syeh Maulana Maghribi dengan Dewi Telangkas (Nona Telangkas) yang melahirkan Ki Ageng Tarub. Adapun karomah yang diberikan Allah kepada Ki Ageng Tarub I yaitu kawin dengan Bidadari yaitu Nawang Wulan. Adapun cucu Ki Ageng Tarub I adalah Ki Ageng Selo yang mendapat karomah dari Allah yaitu dapat menangkap petir. Dari Beliaulah terlahir raja-raja ditanah jawa. Makam Ki Ageng Tarub terletak di desa Tarub Kecamatan Tawangharjo ± 10 km dari Kabupaten Grobogan.
Ditulis oleh: Taufiq Yusuf - sumber Grobogan.org
                            

Astana Ratu Kalinyamat/Sultan Hadlirin Jepara Jawa Tengah

Kanjeng Ratu kalinyamat Jepara
> Sulthan Hadlirin
> Syaikh Raden Abdul Jalil/Sunan Jepara
Lokasi Mantingan, Kec. Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah






Ki Bondan Kejawan

Bondan Kejawan merupakan seorang pangeran Majapahit yang nyaris tak dikenal menyimpan kisah tragis. Di bawah bayang-bayang kejayaan Prabu Brawijaya, Bondan Kejawan tumbuh dan terancam menjadi korban ramalan gelap tentang runtuhnya Kerajaan Majapahit

Kisah bermula ketika raja terakhir Majapahit Prabu Brawijaya mengalami sebuah mimpi yang meresahkan. Mimpi itu memperingatkan perpindahan wahyu kerajaan yang menandakan bahwa kejayaan Majapahit akan berakhir dan digantikan oleh kerajaan lain.

Selain itu, ramalan tersebut mengungkapkan bahwa untuk sembuh dari penyakit misterius yang dideritanya, sang prabu harus memenuhi syarat khusus bercampur dengan seorang wanita, Putri Wandan, yang merupakan dayang dari Putri Dwarawati.

Hal itu diungkapkan dari buku “Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara – Negara Islam di Nusantara”. Meski awalnya ragu, Prabu Brawijaya memenuhi syarat tersebut. Sembilan bulan kemudian, Putri Wandan melahirkan seorang bayi laki-laki. 

Namun, alih-alih menerima anak tersebut sebagai putra yang sah, Prabu Brawijaya menceraikan Putri Wandan dan menyerahkan bayi laki-laki itu kepada seorang juru sawah bernama Ki Masahar

Sang prabu juga memberi perintah kejam: ketika bayi itu berusia sewindu (8 tahun), ia harus dibunuh demi mencegah perpindahan wahyu kerajaan yang diprediksi dalam ramalan. 

Ki Masahar membawa bayi itu pulang dan merawatnya bersama istrinya, Nyi Masahar.

Mereka menamai bayi tersebut Bondan Kejawan. Bondan tumbuh dengan penuh kasih sayang dan tidak tahu bahwa nasibnya telah ditentukan sejak lahir. Namun, ketika Bondan mencapai usia sewindu, Ki Masahar mulai merasa tertekan janji yang pernah ia buat kepada sang prabu. 

Pada hari yang ditentukan, dengan berat hati Ki Masahar berniat memenuhi janjinya untuk membunuh Bondan Kejawan. Namun, saat melihat suaminya menghunus keris, Nyi Masahar jatuh pingsan karena ketakutan dan kepedihan.

Melihat reaksi istrinya, Ki Masahar tidak sanggup melanjutkan tindakan kejam tersebut. Akhirnya, ia memutuskan untuk berbohong kepada sang prabu dan menyembunyikan identitas Bondan sebagai anaknya sendiri. 

Tahun demi tahun berlalu, Bondan tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan kuat. Pada suatu hari, tanpa sepengetahuan ayah angkatnya, Bondan mengikuti rombongan pengantar hasil panen ke istana Majapahit. 

Di sana, Bondan tertarik pada gamelan pusaka bernama Sekar Dalima, hadiah dari Raja Campa yang hanya boleh dimainkan pada momen-momen sakral. Tanpa tahu aturan, Bondan mulai memainkan gamelan tersebut.

Suara gamelan Sekar Dalima menggema di istana, mengejutkan seluruh penghuni kerajaan. Prabu Brawijaya segera memerintahkan para prajuritnya untuk mencari tahu siapa yang berani memainkan gamelan pusaka tersebut. 

Bondan ditangkap dan dibawa ke hadapan sang prabu. Ketika ditanya tentang identitasnya, Bondan mengaku sebagai anak dari Ki Masahar, juru sawah yang mengabdi pada kerajaan. Melihat Bondan, Prabu Brawijaya mulai merasa ada yang tidak biasa.

Sang prabu merasakan ada ikatan batin yang kuat dan mencurigai bahwa Bondan Kejawan adalah putranya yang pernah ia suruh untuk dibunuh. Setelah mendengar cerita dari Ki Masahar, Prabu Brawijaya akhirnya menyadari bahwa Bondan Kejawan adalah darah dagingnya sendiri. 

Namun, alih-alih marah, sang prabu justru merasa lega bahwa putranya selamat dari takdir kejam. Sebagai tanda penerimaan dan kasih sayang, Prabu Brawijaya menghadiahi Bondan dua keris pusaka, Mahisa Nuar dan Malela

Kemudian memberikan perintah kepada Ki Masahar untuk membawa Bondan Kejawan ke Ki Ageng Tarub, seorang tokoh spiritual penting pada masa itu. Ki Masahar segera mematuhi perintah tersebut dan membawa Bondan Kejawan ke Tarub.

Di sana, Bondan diterima dengan baik oleh Ki Ageng Tarub, seorang pemimpin spiritual yang dihormati. Bahkan, Bondan kemudian diambil sebagai menantu oleh Ki Ageng Tarub dan dinikahkan dengan cucunya, Dyah Nawang Sih

Dyah Nawang Sih sendiri merupakan keturunan langsung dari Nawang Wulan, seorang bidadari yang turun dari kahyangan, menjadikan Bondan Kejawan sebagai bagian dari garis keturunan magis yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual. 

Dari pernikahan Bondan Kejawan dengan Dyah Nawang Sih, lahirlah generasi penerus yang menjadi bagian dari sejarah besar Nusantara. Keturunan mereka, termasuk Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senapati.

Mereka menjadi tokoh-tokoh penting dalam sejarah berdirinya Kesultanan Mataram, kerajaan yang kemudian menjadi penerus kejayaan Majapahit di Tanah Jawa.

Jl. Wates km. 6, Kejawan wetan, Balecatur, Gamping, Sleman, DIY 


Makam Raja Mataram Islam Kotagede DIY




Makam Raja Raja Mataram Islam Kotagede DIY

> Sulthan Hadiwijaya

> Ki Ageng Pemanahan

> Panembahan Senopati

> Ki Juru Mertani

> Sendang Seliran kakung dan Sendang putri didalam komplek makam Kotagede

> Masjid gede Mataram Sumber mata air kemuning

Lokasi jl Masjid Besar Mataram, Sayangan, Jagalan, Banguntapan, Bantul DIY

Pertapaan Ki Ageng Pemanahan Gunung Kidul DIY

Pertapaan Kembang Lampir Tirakat Ki Ageng Pemanahan

Lokasi  Panggang Gunung Kidul





Wahyu Ratu Tanah Jawa (wahyu GAGAK Emprit)

Dikisahkan Sunan Kalijaga pernah berkata kepada murid muridnya, bahwa " Wahyu Ratu Tanah Jawa akan turun di tengah Pegunungan Selatan (Gunungkidul Yogyakarta)"
Kisah diawali ketika Ki Ageng Pemanahan berhak memperoleh hadiah dari Sultan Hadiwijaya Raja Pajang yaitu Alas Mentaok karena keberhasilannya menundukkan Arya Penangsang.Tetapi hadiah Tanah Mentaok tidak segera di berikan karena menurut Sabda Sunan Prapen yang menyebutkan bahwa di Alas Mentaok kelak berdiri sebuah kerajaan besar dan Giri pun akan tunduk kepadanya.
Menghadapi kondisi tersebut Ki Ageng Pemanahan menjadi muram, ingin memohon pun tidak berdaya. Akhirnya beliau mendapat nasehat dari Sunan Kalijaga untuk laku prihatin memohon kepada Allah supaya Sultan Hadiwijaya berkenan segera memberikan Alas Mentaok kepadanya.
Sunan Kalijaga memerintahkan kepada Ki Ageng Pemanahan untuk bertapa di daerah Pegunungan Selatan disamping untuk keperluan diberikan nya Alas Mentaok juga, guna mencari Wahyu Ratu yang diisyaratkan akan turun di daerah Pegunungan Selatan. Kepada Ki Ageng Pemanahan diperintahkan untuk bertapa di suatu tempat yang ada bunga yang tergantung / tersangkut di sebuah batang pohon. Akhirnya ditemukanlah Tanah bukit dengan tanda tersebut. Kemudian Ki Ageng Pemanahan membuka hutan tersebut dan memulai laku prihatin di tanah tersebut yang kemudian dikenal sebagai Desa Kembang Semampir. Selama di pertapaan Kembang Semampir, disamping laku tapa brata Beliau dan Ki Juru Martani serta Danang Sutawijaya juga terkadang mendapat piwulang dari Sunan Kalijaga yang sesekali datang berkunjung. Selama Di Kembang Semampir, Ki Ageng Pemanahan juga melakukan dakwah/syiar Islam di desa Belimbing yang letaknya dibawah bukit Kembang Semampir. Bahkan beliau bersama Sunan Kalijaga juga membangun masjid di desa Blimbing
juga membangun masjid di desa Blimbing tsb. Dan setelah sekian lama laku prihatin, tapa brata di pertapaan tersebut akhirnya pada suatu hari Sunan Kalijaga berkunjung ke pertapaannya dan berkata " Jebeng, galo Wahyu Ratu Tanah Jawa wis katon ono sisih Wetan "Jebeng adalah panggilan Sunan Kalijaga untuk Ki Ageng Pemanahan Sementara itu jauh sebelum Ki Ageng Pemanahan bertapa di Kembang Semampir, Sunan Kalijaga memberikan kepada salah satu muridnya yaitu Ki Ageng Giring III sabut kelapa kering untuk di tanam di halaman rumahnya di daerah Paliyan Gunung Kidul. Setiap hari Ki Ageng Giring merawat sabut kelapa tersebut dengan telaten. Akhirnya dari sabut kelapa tersebut tumbuh pohon kelapa. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, delapan tahun berlalu akhirnya pohon kelapa tersebut berbuah untuk pertama kalinya. Pada saat itu Ki Ageng Giring sedang menyadap (nderes) pohon kelapa tersebut, ketika ada sebuah suara bisikan yang bersumber dari buah kelapa muda tersebut yang isinya " Hei Ki Ageng Giring mengertilah! Barang siapa yang meminum air kelapaku sampai habis
yang meminum air kelapaku sampai habis tanpa berhenti (sak degan) kelak akan menjadi Ratu berikut keturunannya akan menguasai Tanah Jawa.
Betapa kagetnya Ki Ageng Giring kemudian dipetiknya buah kelapa muda tersebut dan dibawanya ke rumah untuk diminum airnya. Tapi sebelum meminum air kelapa tersebut Ki Ageng Giring terlebih dahulu masuk ke hutan menebangi pohon supaya nanti sepulang dari hutan bisa menghabiskan air kelapa dalam satu tegukan (sak endegan). Tapi begitulah lelaku kehidupan (takdir), sesampai di rumah ternyata air kelapa muda tersebut telah diminum habis oleh saudara seperguruannya yang datang berkunjung kerumahnya yaitu Ki Ageng Pamanahan. Yang mana pada saat itu Ki Ageng Pamanahan baru saja menyelesaikan tapa brata laku prihatin di Padepokan Kembang Lampir agar memperoleh petunjuk dimana wahyu keraton berada. Akhirnya langkah kakinya mengajaknya untuk berkunjung ke
rumah saudara seperguruan sekaligus sama-sama keturunan darah Majapahit yaitu Ki Ageng Giring III.
Meskipun kecewa, Ki Ageng Giring berusaha memupus semua yang telah terjadi itu telah digariskan oleh Tuhan. kemudian Ki Ageng Giring menceritakan kepada Ki Ageng Pemanahan bahwa wahyu Ratu Jawa ada di dalam kelapa muda yang diminum oleh Ki Ageng Pemanahan tersebut. Kemudian Ki Ageng Giring meminta kepada ki Ageng Pemanahan supaya kelak kerajaan diperintah selang seling dari keturunan mereka tapi Ki Ageng Pemanahan tidak menyetujui, kemudian Ki Ageng Giring memohon lagi diseling setelah keturunan kedua, tapi Ki Ageng Pemanahan tetap tidak mengiyakan begitu seterusnya sampai akhirnya Ki Ageng Giring memohon supaya keturunannya yang ketujuh kelak akan menjadi Ratu di tanah Jawa dan Ki Ageng Pemanahan hanya bisa berkata lirih "Kakang Giring Allahualam, besuk keadaanya bagaimana aku tidak tahu" 
Dan pada kenyataannya sesuai silsilah sejarah ternyata Raja Mataram ke 7 yaitu Sunan Pakubuwana I mempunyai darah keturunan dari Ki Ageng Giring yang diturunkan melalui Dewi Kajoran (Putri Panembahan Rama, bupati Klaten) yang di permaisuri oleh Sunan Amangkurat I. Jadi Sri Sunan Pakubuwana I berikut semua keturunannya mempunyai darah Pamanahan dan Giring III.



Pasarean Ki Ageng Giring 3 /Nyi Ageng Giring Gunung Kidul DIY


Pesarean / Makam Ki Ageng Giring, Pemilik Wahyu Mataram Islam di jawa.

Berdirinya Kerajaan Islam di jawa tidak bisa lepas dari dua tokoh legendaris yaitu Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan, dua tokoh inilah yg menerima wahyu mataram islam,Ki Ageng Giring saat bertapa di gunung kidul,dan Ki Ageng Pemanahan bertapa di Kembang lampir giri sekar panggang.
Ki Ageng Giring memiliki peran besar dalam berdirinya Kerajaan Mataram Islam,Pada waktu masih muda Ki Ageng Giring memiliki nama Raden Mas Kertanadi.
Berdasarkan cerita yang berkembang di kalangan masyarakat setempat, Ki Ageng Giring III adalah keturunan dari Brawijaya (Raja Majapahit).
Beliau adalah sesepuh Trah Mataram yang sangat di hormati.
Ayahanda Ki Ageng Giring adalah Prabu Brawijaya raja Majapahit, sedangkan ibunya bernama Retno Mundri.
Beliau bertemu dan berguru pada Kanjeng Sunan Kalijaga,beliau juga seperguruan dengan Ki Ageng Pemanahan. Keduanya adalah para tokoh legendaris yang mengembara dari istana untuk mengembangkan kekuatan spiritual dan mengajarkan Islam kepada penduduk setempat Perlu diketahui, bahwa setelah hancurnya kerajaan Majapahit, putra-putri Prabu Brawijaya menyebar ke berbagai wilayah di tanah Jawa, bahkan sampai Bali dan Lombok.
Ki Ageng Giring III menikah dengan Nyi Talang Warih,dari pernikahan tersebut dua orang anak, yaitu Rara Lembayung dan Ki Ageng Wonokusumo yang nantinya menjadi Ki Ageng Giring IV.
Isyarat akan turunnya wahyu Kraton Mataram di perbukitan kidul atas petunjuk Sunan Kalijaga, seorang tokoh spiritual dan guru agama yg mampu melihat dengan pandangan lahir batin atas suatu persoalan masyarakat.
Oleh Sunan Kalijaga, Ki Ageng Giring III dan Ki Ageng Pemanahan dianggap sebagai santri yang mampu menjalankan tirakat dengan kuat untuk menyangga negeri, Untuk mengupas keterkaitan kisah tersebut tidak bisa lepas dari perjalanan Ki Ageng Pemanahan mengawal Sultan Hadiwijaya di Kraton Pajang.

Lahumul alfatihaah Ki Ageng Giring.
Lokasi foto :
Tambakrejo,Giring,Kec : Paliyan,Kab : Gunungkidul,DIY 



Ki Ageng Mangir Wonoboyo Bantul DIY

Petilasan Ki Ageng Mangir Wonoboyo - Lokasi Pajangan Bantul DIY





Khayangan Dlepih Wonogiri


Bangunsari Dlepih Kec Tirtomoyo Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah  

Konon jika berada di kawasan Kahyangan Dlepih tidak boleh mengenakan pakaian warna hijau pupus dan kain bermotif parangklitik. Bagi yang meyakini, apabila larangan (pamali) ini dilanggar maka yang bersangkutan bakal kalap (tewas). Begitu disakralkan, tempat ini kerap dimanfaatkan orang untuk meditasi dan ngalab berkah pada malam Selasa Kliwon juga Jumat Kliwon. Terlebih di malam menjelang pergantian tahun Jawa (bulan Suro). Banyak pendatang dari luar daerah, terutama dari daerah Yogyakarta dan Surakarta, bertirakatan di sana.
Kesakralan hutan Kahyangan Dlepih kian terasa manakala dijumpai beberapa petilasan serba batu. Salah satunya, petilasan Selo Gapit atau Penangkep berupa dua buah batu besar yang pada bagian atasnya saling bersentuhan mirip gapura.
Ada juga petilasan yang disebut Selo Payung karena bagian atasnya melebar menyerupai payung. Ketika didekati, tercium jelas aroma bakar dupa. Para pelaku ritual biasanya melakukan doa atau tapa di petilasan ini. Dipercaya, petilasan Selo Payung adalah tempat Raja pertama kesultanan Mataram, Raden Danang Sutawijaya atau bergelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa melakukan semedi.
"Nama Kahyangan ini sudah ada jauh sebelum Wangsa Sanjaya, sebelum ada Panembahan Senopati, Nyi Puju, Kyai Puju. Ketika itu masih zaman perwayangan atau kedewatan, dewa-dewi dipercaya bisa terlihat oleh manusia".
Jauh sebelum Panembahan Senopati, Kahyangan sudah digunakan oleh para Brahmana, begawan termasuk kalangan ksatria dari masa Majapahit untuk tempat bertapa. Ki Juru Martani juga pernah bertapa di Kahyangan sebelum mengabdi kepada keraton.
"Kebanyakan leluhur , terutama para brahmana dan golongan ksatria dari zaman Kadewatan, yang ingin mendekat pada para dewa akan melakukan ritual doa dan tapa disini .Tidak menutup kemungkinan zaman Mataram Kuno, Singosari Ken Arok, Majapahit Raden Wijaya juga Mataram Baru".
Kemudian batu-batu akik yang dipercaya berasal dari tasbihnya Panembahan Senopati dan Sunan Kalijaga itu pun telah dipakai para brahmana dan begawan dalam tiap upacara keagamaan. Nah, sungai berbentuk kolam di kawasan tersebut atau dikenal Kedung Pesiraman, yang airnya bersumber dari sebuah tempuran air terjun, adalah pemandian para bidadari.
Ki Ageng Pemanahan, ayah Panembahan Senopati merupakan cucu Raden Depok atau Ki Ageng Getas Pandowo. 
Raden Depok sendiri anak buah perkawinan Raden Bondhan Kejawan dengan Dewi Nawang Sih, seorang putri dari Nawang Wulan dan Jaka Tarub.







Ki Ageng Balak Sukoharjo Jawa Tengah

Ki Ageng Balak/Raden Sujono

Lokasi Mertan Kec Bendosari, Kab Sukoharjo, Jawa Tengah



Ki Ageng Sutowijoyo Sukoharjo Jawa Tengah


Ki Ageng Bodo dan Ki Ageng Banjaransari
Lokasi Majasto Tawangsari Gg.Dua Majasto Kec Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah



Raden Ngabehi Ronggowarsito Klaten Jawa Tengah




Serat Wedharaga R.Ng. Ranggawarsita:
-----------------------------------
Ajaran leluhur tentang falsafah kehidupan dan tata krama Jawa kuno

“Lamun sarwa putus, kapinteran simpenen ing pungkur, bodhonira ing ngarsa yekti, gampang traping tindak tanduk, amawas pambekaning wong.”
(Jika telah paham, simpanlah kepandaian di belakang, perlihatkan kebodohan di depanmu, memudahkan cara bersikap, memahami sikap orang lain)

“Akeh lumuh katokna balilu, marma tansah mintonaken kawruh pribadi, amrih denalema punjul.”
(Banyak-banyaklah menahan diri dan memperlihatkan kebodohan, jangan menonjolkan kemampuan sendiri, dan jangan pelihara sikap ingin dipuji)

“Umpama jun kurang banyu, kocak-kocak kendhit ing wong, menawi kebak kang jun, yekti anteng denindhit ing lambung, iku bae kena kinarya palupi, pedah apa umbag umum, mundhak kaeseman ing wong.”
(Bila bejana kurang airnya, terguncang dan berbunyi, jika penuh air dalam bejana, pasti tenang saat digendong, itu saja bisa dianggap contoh, untuk apa sombongkan diri, hasilnya ditertawakan orang)

“Lamun seje murad maksudipun, rasakena ing ati, dipun nastiti, aja pijer umbak umuk, mundhak kawiyak, yen bodho”
(Jika menjumpai perbedaan maksud, rasakan dalam hati, perhatikan benar, jangan congkak dan berkoar, bisa-bisa terbuka kebodohanmu)

“Akanthia awas emut, mituhun wewarah kang mikolehi, aja tinggal weweka ing kalbu, den taberi anggeguru, aja isin atatakon.”
(Peganglah sikap waspada, ikuti petunjuk dan nasihat, terus berguru dan jangan malu bertanya-tanya)

“Mangkono kang tinemu, awit anom amendenga laku, ngungkuri mangan lan turu sawatawis, amekak hawa napsu, dhasarana andhap ansor.”
(Demikianlah yang baik, sejak muda menekuni laku, mengurangi makan dan tidur, mengekang hawa nafsu, menjaga sikap rendah hati)

“Lamun wong ngaku cukup, mratandhani kukurangan iku, wong ngungasaken kaekndelan tandha jirih, wong ngaku kiyat pengkuh, tanda apes amalendo.”
(Bila orang mengaku kaya, menandakan ia miskin, orang yang menunjukkan keberaniannya tandanya ia penakut, orang mengaku kuat sentosa, tandanya ia lemah dan tak dapat diandalkan)

“Wong ngaurip wus tamtu, akeh pada arebut piyangkuh, lumuh lamun kasor kaseser sathithik, nanging singa peksa unggul, ing wekasan dadi asor.”
(Dalam hidup pasti, banyak orang berebut kebanggaan, tidak mau kalah dan bergeser sedikit, tapi siapa yang memaksa unggul, akhirnya menjadi hina)

Rahayu Rahayu sagung dumadi