Meditasi Tekun Hening

Meditasi HENING adalah meditasi mempersiapkan diri untuk menerima wejangan Illahiah, dimana kita berdiam diri sepenuhnya.

Di dalam meditasi Hening ada kepasrahan mutlak dalam penyerahan, dengan mengizinkan yang Maha Kuasa saja yang menggerakkan, berkehendak, mengatur, menuntun, hingga mengisi diri kita demi KemulyaanNya.

Saat Meditasi Hening, tidak sedikit petunjuk yang kita bisa terima langsung dari Sang Maha Kuasa. Dalam perjalanan Spiritual tidak mungkin di mulai kecuali dalam Keadaan tenang,  hening, tentram, damai dan hanya Guru Sejati didalam diri  yang bisa memberi Wejangan ketika bermeditasi.

Mungkin akan berbeda lagi dengan meditasi nya orang lain dengan mencari keilmuan dengan tujuan tertentu, seperti membuka mata batin, terawangan dll. Melakukan meditasi dengan Wirid untuk suatu tujuan itu sah saja. 

Tetapi untuk mempelajari hal-hal gaib lebih aman dan cara mudah kita harus mengenal diri sendiri otomatis maka akan mengenal Tuhan.

Bagaimana cara meditasi yang benar?  cukup kita perhatikan, rasakan, nikmati dan sadari setiap tarikan dan hembusan Nafas dan Sadari pemberian murni dari Sang Sumber hidup di setiap nafas, sadari kesatuan dengan diri yang Sejati dan Sang Sumber hidup di pangkal dan ujung Nafas.

Ini teknik sederhana, bukan rumus yang dirahasiakan, tapi justru inilah rahasia manusia yang tercerahkan.  

Kunci berhasil dalam Meditasi adalah Tekun Hening sepanjang waktu,  dimanapun kita berada (Meditasi Ngerame).

Kewaskitaan bukan terletak pada kemampuan kita berkomunikasi dengan makhluk halus atau membinasakan musuh, tetapi pada bagaimana kita mampu berdialog dengan jiwa kita dan membuat musuh-musuh didalam diri kita sendiri berada di bawah kendali kesadaran kita. 

Ketika kita bertafakur/bermeditasi, pasti  ada suatu keadaan ada kekuatan energi yang luar biasa diluar akal, nalar, dan kesadaran kita. Kita merasakan bahwa ada penguasa sejati yang memang benar  "Mutlak Ada" dan menguasai segala bentuk gerak dan keadaan badan diri kita juga pada alam jagat raya ini.

Di dalam bermeditasi, bertafakur, atau pengendapan rasa, kita dituntut belajar untuk menep yang artinya diam mengendapkan segala bentuk imajinasi, pikiran, bahkan berbagai nuansa rasa, hingga kita mencapai Rasa Sejati diri kita yang murni yang dapat kita temui dan kita sadari adanya. 

Diri kita yang Sejati adalah apa yang ada di pusat di sekitar dada kita dan terus naik hingga ke ubun-ubun, yang memiliki gelombang energi cukup besar sebagai cerminan atau gerbang yang tersambung dengan energi sejati ilahiah. Energi hanya memantulkan atau menyalurkan saja dari Sang Maha Kuasa.

Jika aku, engkau, kita, atau siapa saja yang masih mengandalkan akal pikiran didalam bermeditasi atau Bertafakur, tentu tidak akan dapat sempurna memancarkan daya ilahiah.

Namun ketika kita sudah berada dalam keadaan yang totalitas berserah (kosong) dan benar menyadari ketiadaan kita, maka kita akan memasuki ruang demi ruang, dimensi demi dimensi realitas ketiadaan daya upaya kita sehingga totalitas kita tiada dan yang sejati akan memancarkan daya (Kekuatan) ilahiah dengan sempurna.

HIDUP bukan tentang SUSAH atau NYAMAN menjalaninya. Tapi tentang KEKUATAN TENANG MENERIMA apapun juga. Tidak terlena dengan pujian, hinaan, cacian, tidak takut akan kekurangan duniawi yang menawarkan Harta. 

HIDUP dengan TUHAN di dalam HATI adalah HARTA SEMESTA. Khawatir  dengan besok saja, sudah termasuk menghina Tuhan di dalam Dirimu. 

Dahulukan Dunia Akhirat Ketinggalan. Dahulukan Akhirat Dunia Mengikuti.