Guru Sejati ada di dalam diri, itu Benar dalam konteks tertentu tapi keliru jika dijadikan alasan menolak mempunyai Mursyid.
Guru di dalam diri itu bukan ego, yang dimaksud Guru Sejati dalam diri bukan bisikkan ego, bukan merasa "aku sudah cukup". Yang dimaksud adalah Fitrah, Nur hati, Kepekaan Ruhani, yang muncul ketika sudah disucikan, kemudian dilatih dan dibimbing. Cahayanya tidak langsung jernih tanpa berproses dulu.
Seorang Mursyid berfungsi membersihkan " kaca". Dan Hati itu ibarat cermin. Sedangkan Guru di dalam diri adalah Cahaya, jadi tugas Mursyid adalah membantu membersihkan karat cermin. Tanpa Mursyid, Cahaya tetap ada tapi ia tertutup dan sering disalah artikan sebagai suara ego atau bisikan nafsu.
Para Sufi berkata "Barang siapa tidak punya Mursyid, maka syaitan lah yang membimbing menjadi Guru nya". Artinya bukan tanpa Mursyid pasti sesat tapi tanpa Pembimbing, manusia bisa mudah menipu diri nya sendiri.
Kapan Guru bathin bekerja? Guru dalam diri aktif sepenuhnya ketika, nafsu sudah dilemahkan, ego tidak lagi memimpin, syariat kokoh, adab hidup dan pikiran matang, jadi semua diawali dengan bimbingan luar yaitu Mursyid. Setelahnya peran Mursyid mengecil, melepas, tidak intens lagi membimbing, tidak menghantarkan bukan karena peran Mursyid tidak lagi penting tapi karena tugasnya selesai.
Ingat...Para Wali pun berguru. Tidak ada Wali besar yang merasa dirinya mumpuni sejak awal. Bahkan yang sudah diberi Kashaf pun tetap menjaga adab kepada Gurunya, tidak memutus hasad, tidak mendewakan "pengalaman bathin" sendiri karena pengalaman bukan kebenaran, Ia hanya isyarat.
Guru Sejati ada di dalam diri bukan berarti tidak butuh Mursyid. Tugas Mursyid dibutuhkan sebagai Jembatan dan menghantarkan.
Guru bathin adalah tujuan kesadaran. Yang keliru adalah menukar jembatan dengan tujuannya lalu menyebutnya sebagai Kebebasan.
