Cara Tuhan mulai memanggil Pulang

 

Ternyata, itu bukan kehilangan, tapi cara Tuhan, mengosongkanmu, agar Dia yang mengisi.

Guru : "Muridku, pernahkah kau bertanya,  mengapa manusia lahir dalam kelemahan, lalu pulang juga dalam kelemahan?"

Murid : "Guru, justru itu yang membuatku masih bingung, Mengapa Tuhan seolah memutar kita, dari tidak berdaya, menjadi kuat... lalu dihancurkan kembali?"

Guru : "Karena kau melihatnya sebagai kehancuran, padahal itu adalah skenario pulang..!'

Murid : "Pulang...? Tapi kenapa harus dilemahkan lagi, Guru?"

Guru : "Karena saat lahir... kau membawa bahasa yang paling sucI, bahasa yang bahkan belum disentuh dunia..."

Murid : "Bahasa... apa itu, Guru?"

Guru : "Bahasa Rasa.."

Guru : "Lihatlah bayi, ia tak bisa bicara, tak punya logika, tapi ibunya mengerti setiap tangisnya,, Itu bukan ilmu, itu bukan teori,  itu adalah getaran hati yang masih murni."

Murid : "Lalu... kenapa kita kehilangannya, Guru?"

Guru : "Karena dunia memanggilmu dan kau menjawabnya dengan Akal bukan dengan Rasa...

Murid : "Jadi... saat dewasa... aku tersesat?"

Guru : "Bukan tersesat, kau hanya terlalu jauh dari dirimu sendiri...'

Murid : "Apa maksudnya...?"

Guru : "Di masa dewasa... kau merasa kuat, kau merasa mampu, kau merasa... seperti Tuhan kecil".

Murid : Ego...kah?

Guru : Ya.. kau mulai ingin menang... ingin diakui... dan suara logikamu, menjadi begitu bising, sampai kau tak lagi mendengar bisikan Tuhan didalam dadamu..!

Murid : "Lalu... masa tua itu apa, Guru...? Hukuman?"

Guru : Bukan... itu adalah surat cinta terakhir..!

Murid : "Surat cinta...?"

Guru : "Ya...Tuhan mulai memanggilmu pulang, dengan cara yang paling lembut."

Murid : "Kenapa mata jadi rabun, tubuh melemah, teman menjauh...?"

Guru : "Karena Tuhan berkata...'Wahai hamba-Ku... cukup kau melihat dunia... sekarang lihatlah Aku... di dalam dirimu..'"

Guru : "Teman-temanmu diambil satu persatu  agar kau berhenti bersandar pada manusia dan mulai bersandar pada-Ku.."'

Murid : Sunyi itu... ternyata bukan sepi ya, Guru..!

Guru : "Itu ruang pertemuan, antara kau dan Dia...

Murid : "Dan tubuh yang melemah...?"

Guru : "Itu cara Tuhan melepaskanmu, dari nafsu, dari ambisi, dari dunia, agar saatnya kau pulang, kau tidak lagi membawa beban"

Murid : "Jadi, dari bayi... dewasa... lalu tua, itu bukan siklus biasa...?"

Guru : "Itu perjalanan suci, dari Rasa... ke Logika... lalu dipaksa kembali ke Rasa..!

Murid : "Untuk bertemu Tuhan?"

Guru : “Bukan sekadar bertemu, tapi untuk mengenali bahwa sejak awal, kau tak pernah benar-benar berpisah".

Guru : "Sekarang aku bertanya padamu, dimana posisi hatimu saat ini...? di Rasa atau masih tersesat di Logika...?"

Murid : "Aku masih di tengah jalan, Guru...

Guru : Bagus, karena yang paling berbahaya... bukan yang tersesat...

Guru : Tapi yang merasa sudah sampai  padahal... belum pernah benar-benar pulang