Jasad menghilang ketika Wafat



Kenapa jasad menghilang waktu MENINGGAL

Fenomena jasad wali atau orang shaleh yang dianggap "hilang" atau "raib" saat meninggal dunia merupakan salah satu bentuk karomah (kemuliaan luar biasa) yang sering dibahas dalam literatur tasawuf. Dalam pandangan sufi, hal ini bukanlah sihir, melainkan manifestasi dari pencapaian spiritual tertentu.

Berikut adalah penjelasan mengenai fenomena ini menurut konsep spiritual Islam :

1. Konsep Tajarrud (Pelepasan Materi).

Dalam tasawuf, ada maqam (tingkatan) yang disebut Tajarrud, yaitu kondisi di mana seorang hamba telah sepenuhnya lepas dari keterikatan duniawi, termasuk keterikatan pada jasad fisiknya sendiri. Bagi wali yang telah mencapai kesempurnaan ruhani, ruh mereka tidak lagi "terpenjara" oleh materi. Ketika ajal menjemput, Allah mengizinkan jasad yang bersifat materi tersebut ikut "terangkat" atau bertransformasi menjadi cahaya (nur) karena dominasi ruhani yang begitu kuat atas jasmani. 

2. Maqam Fana' dan Baqa'.

Konsep Fana' (lenyapnya kesadaran diri di dalam Allah) dan Baqa' (kekal bersama Allah) menjadi dasar lainnya. Ada wali yang saking dalamnya tenggelam dalam Fana', keberadaan fisik mereka menjadi "transparan" di hadapan kehendak Allah. 

Hilangnya jasad sering dimaknai sebagai simbol bahwa sang wali tidak ingin meninggalkan jejak materi di dunia, sehingga Allah menyembunyikan jasad mereka dari penglihatan manusia sebagai bentuk perlindungan atau privasi spiritual.

3. Jasad yang Menjadi Cahaya (Nuraniyah).

Menurut Syekh Ibnu Arabi dalam beberapa karyanya, manusia memiliki dimensi jasad yang kasar (katsif) dan halus (latif). Para wali yang konsisten melakukan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan dzikir yang mendalam dapat mengubah kualitas jasad mereka menjadi sangat halus. Saat meninggal, jasad tersebut tidak membusuk atau hancur oleh tanah, melainkan ditarik kembali ke alam Malakut (alam ruh) sehingga tampak hilang dari alam syahadah (dunia fisik).

4. Perbedaan dengan Jasad Utuh.

Perlu dibedakan antara Jasad Utuh: Ini adalah karomah yang lebih umum, di mana bumi diharamkan memakan jasad para Nabi dan para wali pilihan. Jasad Hilang: Ini adalah karamah yang lebih khusus. Contoh yang sering disebut dalam tradisi lisan dan sejarah adalah beberapa ulama besar atau wali yang saat akan dimakamkan, kain katannya terasa ringan atau mengempis, menandakan jasad di dalamnya sudah "pindah" ke dimensi lain.

5. Hikmah di Balik Hilangnya Jasad.

Secara teologis dan sufistik, ada beberapa alasan mengapa Allah memberikan karamah ini: Menghindari Pemujaan Berlebihan: Agar makam mereka tidak dijadikan objek pemujaan yang melampaui batas syariat.

Tanda Kesucian sebagai bukti nyata bagi orang - orang yang beriman tentang kemuliaan ruh atas materi.

Ujian Keimanan Bagi masyarakat sekitar, fenomena ini menjadi ujian apakah mereka akan semakin beriman kepada kekuasaan Allah atau justru terjatuh dalam keraguan.

Jadi, dalam tasawuf, hilangnya jasad dipandang sebagai bentuk "Mati sebelum Mati" (Mautu qabla al-maut) yang sempurna. Ruh sang wali telah menarik seluruh unsurnya kembali kepada Sang Pencipta. Meski secara fisik tidak terlihat, para ulama menegaskan bahwa keberadaan spiritual mereka tetap ada dan dapat dirasakan melalui keberkahan ilmu dan ajaran yang ditinggalkan.