Belajar kematian

Ada ketakutan yang diam-diam hidup dalam dada manusia… Seolah-olah ia adalah puncak dari segala rasa sakit… seolah kematian adalah sesuatu yang mengerikan. Namun dalam pandangan tasawuf…tidak demikian. Sakaratul maut itu tidak sakit… bagi jiwa yang tenang… bagi hati yang telah lama rindu untuk pulang. 

Ruh yang sepanjang hidupnya belajar mengenal Allah, yang sedikit demi sedikit melepaskan dunia dalam genggamannya, yang menjadikan Allah sebagai tujuan… bukan sekadar harapan— maka ketika panggilan itu datang… ia tidak melawan. Ia justru tenang… Seperti seorang musafir yang lelah di perjalanan panjang, lalu melihat rumahnya dari kejauhan… ada rasa haru… ada rindu… ada damai. Dan pada saat itulah, terdengar panggilan yang begitu lembut… panggilan yang tidak memaksa, tetapi menenangkan  "Ya ayyatuhan-nafsul muṭma’innah, irji‘ī ilā rabbiki raḍiyatan marḍiyyah, fadkhulī fī ‘ibādī, wadkhulī jannatī.'  “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Qur'an, Al-Fajr- 27–30) 

Tidak ada paksaan di sana… tidak ada rasa sakit yang menyiksa… yang ada hanyalah kepulangan… kepulangan yang dirindukan sejak lama. Namun… berbeda bagi jiwa yang tidak siap. Jiwa yang sepanjang hidupnya tenggelam dalam nafsu, yang mencintai dunia seolah ia akan tinggal selamanya, yang hatinya penuh keterikatan… maka ketika sakaratul maut datang…ia bukan sekadar perpisahan… tetapi pemisahan yang menyakitkan. 

Ruh ingin kembali… tetapi nafsu menahannya. Terjadilah tarik-menarik yang tak terlihat… perlawanan yang membuat semuanya terasa pedih. Seperti kulit yang tersilet tajam… perihnya bukan hanya sesaat… tetapi menusuk hingga ke dalam. Bukan karena kematian itu sendiri yang menyakitkan… tetapi karena hati tidak rela melepaskan. Allah telah mengingatkan- 'Waja’at sakratul maut bil-haqq…' “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya…” (QS. Al-Qur'an, Qaf- 19) 

Di saat itu… semua menjadi jelas. Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan. Apakah kita ingin pulang… atau justru masih ingin tinggal. Maka renungkanlah… yang perlu kita persiapkan bukanlah cara menghindari kematian… tetapi bagaimana agar hati kita siap saat dipanggil.

Pesan ....

Jika hari ini hatimu masih berat meninggalkan dunia… maka itu tanda… engkau perlu belajar melepaskan. Karena sakaratul maut tidak akan menyakitkan bagi mereka yang sudah rindu pulang… Namun ia akan terasa pedih… bagi hati yang masih menggenggam dunia dan enggan kembali kepada Tuhannya.