Ujian Sang Pendaki lanjutan

Ketika hidupmu jatuh ke titik terendah.

‎Dunia pun turut berpaling muka. ‎Tidak lagi menghargai Anda seperti dahulu yang penuh kharisma. ‎Bahkan tidak mempercayai Anda lagi, ‎meskipun hanya sejengkal. ‎Lebih ekstrim lagi semua mulai menjauh dan menjaga jarak darimu. ‎Kecuali dirimu sendiri yang tetap setia menemani lapisan lorong waktu. ‎Iringi langkah suka dukamu. ‎Dalam menapak tajamnya kerikil kehidupan. 

‎Bagaimana bisa demikian. ‎Apa pandanganmu terhadap dunia? Apa yang mesti Anda lakukan terhadap dunia? ‎Bagaimana cara Anda mengimbanginya agar diri kembali selaras atau tetap selaras? ‎Hikmah apa yang dapat Anda petik akumulatif semua peristiwa? ‎Jika Anda Pejalan Spiritual, ‎‎apakah terhenti kemudian menarik diri menempuh jalan lain?‎ Ataukah tetap melanjutkan perjalanan, meski tersisa kepingan hati yang berserakan? ‎Apa yang menjadi alasan terkuat Anda? Dan darimana Anda tahu, bahwa diri Anda adalah seorang Pejalan Spiritual? 

Sebenarnya ‎dunia tidaklah menjauh, dunia hanya jujur. Disaat Anda terlepas, bukan Anda yang kehilangan dunia, tapi dunia yang kehilangan topengnya. Seorang Pejalan spiritual murni tidak akan pernah berhenti, dia tetap berjalan meskipun hatinya berkeping, karena tujuannya bukanlah untuk dunia, tapi kembali kepada-Nya. 

Kehidupan yang selaras itu bukan disaat ramai, tapi disaat sendiripun tetap tenang. Satu pintu tertutup, pintu lain akan terbuka dengan wujud & label yang berbeda. 

Seorang Pejalan Spiritual Sejati semakin dihantam semakin membuat dirinya khusyuk tunduk bersimpuh kepada-Nya.