Dia yang tak pernah Jauh

Tidak semua yang Haq harus terlihat oleh mata dan tak semua yang dekat harus tersentuh oleh tangan. Melihat wujud Allah, bukan sekedar membaca tulisan, bukan hanya mendengar kata, bukan pula membayangkan rupa. Karena sesungguhnya, jejak kehadiran-Nya sudah ada pada dirimu sendiri. Saat engkau bernafas, siapa yang menghidupkan nafas itu? Saat hatimu bergetar dalam sunyi, siapa yang menggerakkan rasa itu? 

Allah berfirman, "Aku lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu" 

Maka jangan hanya mencari-Nya dilangit yang jauh, sementara Dia hadir dalam setiap denyut nafasmu. Tetapi untuk Mengenal-Nya, engkau harus berjalan menjadi tiada. Tiada rasa memiliki, tiada keakuan, tiada kesombongan, tiada merasakan paling suci. Karena selama "aku" masih berdiri, hijab itu tidak akan pernah terbuka. 

Belajarlah hening, sampai pujian dan hinaan terasa sama. Belajarlah kosong sampai dunia tidak lagi menguasai hatimu. Saat dirimu luluh dalam kepasrahan maka yang tinggal hanyalah Dia. Bagaikan setitik air yang kembali menyatu kelautan. Bukan mata yang melihat-Nya, tetapi hati yang disinari oleh-Nya. Dan ketika hijab dalam diri tersingkap, maka engkau akan sadar bahwa sejak awal Dia tidak pernah jauh.