Rahasia Titik BA


"Seluruh kandungan rahasia Al-Qur’an ada di dalam Al-Fatihah. Dan semua yang ada dalam Al-Fatihah ada di dalam Bismillaahirrahmaanirrahiim, dan setiap kandungan yang ada dalam Bismillaahirrahmaanirrahiim ada di dalam huruf ‘BA’. Dan setiap yang terkandung di dalam ‘BA’ ada di dalam TITIK yang berada dibawah BA”.  ~ Sayidina Ali bin Abi Talib

“Bismillaahirrahmaanirrahim itu kedudukannya sama dengan “KUN” dari Allah”, bagi yang sudah memecahkan rahasia titik di bawah huruf BA”.  

Chakra Sahasrara, yang paling atas, sebenarnya bukan chakra. Dikatakan bahwa chakra Sahasrara adalah tempat tinggal Purusha atau Siwa atau kesadaran. Secara simbolis, ini dikenal sebagai chakra 1.000 atau lebih kelopak, tetapi kami mencoba memahami ini dengan cara yang berbeda. Seluruh otak adalah area, yang merupakan chakra Sahasrara, namun pusat utamanya adalah kelenjar di otak yang dikenal sebagai tubuh hipofisis. Kelenjar ini adalah pusat yang merupakan chakra yang sebenarnya, jika tidak otak adalah seluruh area yang dikenal sebagai Sahasrara. Daun lotus, yang seharusnya menjadi simbol chakra Sahasrara, menutupi seluruh wilayah Sahasrara. Setiap chakra terhubung langsung dengan Sahasrara. Dengan menggunakan istilah chakra, ini dimaksudkan untuk menggambarkan titik ini sebagai pusat atau pleksus; berdasarkan area, itu berarti area hebat yang dikontrolnya. Chakra Sahasrara adalah tubuh hipofisis dan area Sahasrara adalah seluruh otak dan masing-masing dan setiap chakra terhubung langsung dengan otak (atau area Sahasrara).

Dalam chakra Sahasrara inilah semua suara, semua 'dewa,' semua kualitas, dan semua kemampuan berbaring tidak aktif. Untuk membuka ribuan kelopak bunga teratai yang besar ini, meditasi yang dilakukan sangat sederhana; tidak perlu banyak waktu dan merupakan salah satu meditasi yang paling mudah. Tetapi ingat bahwa meditasi itu sendiri di Sahasrara tidak memberi Anda hasil yang diinginkan. 

Kebangkitan Sahasrara tergantung pada kebangkitan chakra lainnya. Jika semua chakra dibangunkan, maka seluruh otak atau seluruh chakra Sahasrara terjaga. Jika hanya satu chakra tertentu yang terjaga dan yang lain tidak, maka hanya satu area khusus Sahasrara yang akan terjaga dan kemampuannya dapat terlihat bermanifestasi dalam kehidupan kita. Dengan praktik-praktik tertentu, seperti sirshasana, sarvangasana, dan vipareeti karani, Anda dapat memengaruhi otak dan chakra Sahasrara dengan sangat luas. Ada juga praktik pranayama yang membantu dalam kebangkitan shakti atau dalam kebangkitan tubuh hipofisis. Juga dikatakan dalam beberapa teks bahwa siddhasana memainkan peranan yang sangat penting dalam kebangkitan Sahasrara.

Kita telah menyadari satu hal penting dalam hal ini: bahwa rahasianya ada di puncak, tetapi kuncinya ada pada setiap chakra dan bahwa cadangan energi yang ada di atas di Sahasrara. Dengan mengatakan ini, kami tidak mengklaim bahwa tujuan akhir adalah membangkitkan chakra Sahasrara, namun ketika kesadaran berada di Sahasrara, itu adalah sesuatu seperti 'samadhi' (dikenal sebagai Laya Samadhi). Kami menyebutnya Laya Samadhi atau Laya Yoga Samadhi; ini mengacu pada ketika pembubaran kesadaran normal terjadi dan yogi tetap dalam tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dan keadaan persekutuan yang lebih tinggi dengan dirinya sendiri.

“Misalkan air laut dijadikan tinta, dan daun-daun diseluruh jagat ini dijadikan kertasnya, masih belum cukup untuk menuliskan ilmu Allah, Ki Sanak,” ujar Sunan Bonang.

“Tidak sebanyak itu yang saya mau tuntut. Saya cuma perlu satu titik. Di titik Ba itu, Kanjeng,” balas Raden Mas Syahid yang kelak bergelar Sunan Kalijaga.

Syaikh Ibnu Arabi Dan Eksistensi Tuhan


Syaikh Muhyiddin Ibn Arabi. Siapa yang tidak kenal dengan nama ini?. Dialah sufi paling kontroversial seperti Imam al Ghazali, dikagumi sekaligus dicaci maki sepanjang masa. 

Para pengagumnya menyebut dia sang Sufi (mistikus) terbesar sepanjang sejarah, dialah sang“al Syaikh al Akbar” (guru terbesar) dan “al Kibrit al Ahmar” (sumber api). 

Tidak ada pemilik gelar seperti ini di kalangan ulama, pemikir Islam dan mistikus sepanjang zaman, kecuali dia. 

Dia menegaskan bahwa Tuhanlah satu-satunya Eksistensi yang riil. Segala hal dalam ruang semesta adalah kenihilan belaka. Lenyap. 

Andai saja tiada Dia

Dan tiada aku

Niscaya tiada lah yang ada

Aku sungguh melihat

Sang Kebenaran

Dalam realitas-realitas

Dalam nama-nama

Aku tidak melihat semuanya

Kecuali Aku

Fenomena-fenomena alam semesta (kosmos) adalah “Tajalliyyat” (Penyingkapan) Tuhan dalam alam semesta. 

Fenomena alam semesta dalam pandangannya adalah keindahan-keindahan yang menunjukkan Eksistensi Tuhan. 

“Tak ada pada alam semesta ini kecuali Tuhan. Segala selain Tuhan adalah ketiadaan hakiki”.

Nama Tuhan yang Seratus

 

Khabira. Ini adalah nama Sufi, namaTuhan. Secara harfiah artinya yang melihat semuanya, yang menyadari, sang penglihat dari semuanya. Dan itu tersembunyi pada semua orang - sang saksi. Apa yang kita lihat mungkin benar, mungkin tidak benar, tetapi sang penglihat selalu benar. Yang terlihat mungkin iya, mungkin tidak. Di malam hari engkau melihat sebuah mimpi, di pagi hari engkau menemukan bahwa ternyata itu tidak nyata, tetapi ia yang melihat mimpi itu masih tetap nyata. Di pagi hari, di malam hari, sepanjang waktu ia adalah nyata. Engkau melihat sebuah tali dan engkau berpikir, dalam kegelapan malam, bahwa itu adalah seekor ular. Tapi ketika engkau mendekat engkau tahu bahwa itu adalah palsu, itu tidak seperti itu. Tapi sang penglihat itu tidak palsu. Bahkan dalam melihat suatu halusinasi, sang penglihat tetap nyata; penglihat tidak pernah palsu.

'Khabira' berarti: yang melihat, sang saksi yang ada di dalam. Sufi memiliki nama-nama yang indah untuk Tuhan; kesemuanya mereka memiliki sembilan puluh-sembilan nama untuk Tuhan. 

Kita bertanya-tanya mengapa tidak seratus? Ini terlihat sangat tidak lengkap. Sudah pasti, untuk alasan-alasan yang samar, nama yang ke seratus sengaja dibiarkan tidak terucapkan. Itu adalah nama Tuhan yang sebenarnya yang tidak dapat diucapkan. 

Tao yang dapat diucapkan bukanlah tao yang sesungguhnya dan Tuhan yang dapat dibicarakan bukanlah Tuhan yang sesungguhnya, Tan Keno Kinoyo Ngopo

Karena kata 'Tuhan' memalsukan realitas Ketuhanan. Jadi nama keseratus adalah nama yang sesungguhnya - apa yang disebut Hindu sebagai 'Satnam', nama yang sebenarnya - tetapi tidak dapat diucapkan. Ini akan kehilangan keindahannya jika diucapkan. Itu tetap tak terucapkan, pada inti terdalam dari Hati. Tapi sembilan puluh-sembilan nama dapat diucapkan hanya sebagai bantuan untuk mencapai yang keseratus. 

Nama yang keseratus adalah sebuah ketiadaan - apa yang dikatakan oleh para Buddha sebagai ‘Nirvana', Ketiadaan.Jadi aku menyebutnya sembilan puluh - sembilan nama dari ketiadaan; salah satunya adalah 'khabira'. Masuklah ke dalam gagasan itu dan jadilah lebih dan lebih lagi sebagai sang penglihat. Ubahlah dirimu dari yang terlihat menjadi penglihat. 

Saat melihat pohon, ingatlah ia yang melihat; saat makan, ingatlah ia yang makan; saat berjalan, ingatlah ia yang berjalan. Alih-alih melakukan penekanan kepada yang ada diluar, tekankan pada yang di dalam, dan perlahan-lahan itu akan menjadi jelas tentang siapakah sang penglihat ini. Itulah realitas kita yang sebenarnya dan itu adalah Tuhan.

99 Nama Asmaul Husna


Asma'ul Husna (bahasa Arab : أسماء ٱلله ٱلحسنى 'asmā'u llahi l-Husna , " Nama Indah Allah") adalah nama-nama dikaitkan dengan Tuhan dalam Islam oleh Muslim. Sementara beberapa nama hanya ada dalam Al-Qur'an, dan yang lainnya hanya ada dalam hadits, ada beberapa nama yang muncul di keduanya. Dalam beberapa hadis dari Syiah dan Sunni , dikatakan bahwa Mahdi mengungkapkan nama-100. 

Ada tradisi di Sufisme untuk efek 99 nama titik Allah untuk mistis " Nama yang Agung dan Superior " (Ismu l-'A'ẓam ( الاسم ٱلأعظم ). Ini "Nama Allah" dikatakan" yg jika dipanggil/dizikirkan,  Dia akan menjawabnya." Nama Tuhan yang paling besar adalah 'Aku Ada'. Sumber Baháʼí menyatakan bahwa nama ke-100 diturunkan sebagai "Baháʼ " (Arab : اء ‎ "kemuliaan, kemegahan"), yang muncul dalam kata Bahá'u'lláh dan Baháʼí. Mereka juga percaya bahwa itu adalah nama Tuhan yang terbesar. "Sesungguhnya, ada sembilan puluh sembilan nama Tuhan, seratus dikurangi satu. Siapa yang menghitungnya akan masuk surga." (Sahih Muslim, Vol. 4, no. 1410) Namun telah dikabarkan bahwa ada nama ke-100 yang disembunyikan. Dalam tasawuf, gagasan tentang nama ke-100 adalah yang paling menonjol. Ia telah menjadi objek devosi mistik yang sulit dipahami, simbol transendensi Tuhan. 

Jantung misteri 99 Nama suci Allah

Ini adalah kendaraan untuk memahami sifat Tuhan yang tak terbatas, dan untuk menemukan potensi ilahi dalam setiap jiwa. Nama Allah yang ke-100 adalah “Ana” (aku/aku). Cendekiawan terpelajar dan mistik Mansur Al-Hallaj dihukum mati pada abad ke-9 karena mengungkap rahasia ini. Banyak orang pada saat itu tidak memahami arti sebenarnya di balik kata-katanya, “Ana 'l-Ḥaqq” (Akulah kebenaran), dan mereka yang memahaminya dapat melihatnya berpotensi membahayakan gengsi dan otoritas mereka. Itu sebabnya Hallaj harus dibungkam.

Al Hallaj berkata :

Aku melihat Tuhanku dengan mata  hati aku bertanya, 'Siapakah Engkau?' Dia menjawab, 'Kamu'. Hanya dibutuhkan orang yang bijaksana untuk memahami apa yang dimaksud dengan ini. Hallaj mengatakan bahwa Tuhan ditemukan di dalam diri kita masing-masing, dan bahwa terhubung dengan yang ilahi membutuhkan usaha, tetapi dimungkinkan dengan kontemplasi dan penyembahan. Pada dasarnya, Anda dapat mencapai Tuhan di dalam hati Anda - tetapi hanya jika Anda memiliki Niya (Niat) yang murni dan pemahaman tentang Al-Qur'an dan Sunnah dan di atas semua itu tujuan sebenarnya dari Islam, yaitu untuk membebaskan kita.

Ini bukan sesuatu yang dapat dengan mudah dijelaskan melalui internet. Bahkan cendekiawan terpelajar, yang menghabiskan hidup mereka mempelajari Islam, tahu bahwa masalah itu rumit. Mereka yang memberikan jawaban cepat dan mudah adalah mereka yang tidak tahu. Orang-orang dibunuh selama berabad-abad untuk mengetahui hal ini. Karena para pemimpin dan penguasa tidak ingin orang biasa tahu bahwa mereka dapat berpikir sendiri atau menemukan kebenaran dengan mencari ke dalam. Sebaliknya, para pemimpin dan ulama hanya menuntut kepatuhan yang tunduk pada tuntutan mereka. Ajaran apa pun yang melemahkan ketaatan hanya akan melemahkan kekuatan dan pengaruh yang maha kuasa, itulah sebabnya kebenaran ini dipendam dan disembunyikan begitu lama.

“Aku telah hafal dari Rasulullah dua macam ilmu, pertama ialah ilmu yang aku dianjurkan untuk menyebarluaskan kepada sekalian manusia yaitu Ilmu Syariat

Dan yang kedua ialah ilmu yang aku tidak diperintahkan untuk menyebarluaskan kepada manusia yaitu Ilmu yang seperti “Hai’atil Maknun”. 

Maka apabila ilmu ini aku sebarluaskan niscaya engkau sekalian memotong leherku (engkau menghalalkan darahku). (HR. Thabrani)

Simbol Angka Tigabelas


Angka 13 itu memiliki unsur 3 di dalamnya yang merupakan simbol yang bermakna OM, Allah, Tuhan, Alpha dan Omega..

Angka 3 ini juga jika di miringkan membentuk seperti Trisula Shiva atau juga seperti simbol Allah dalam tulisan Arab, yang sebenarnya itu memiliki makna Tiga Jalur Energi Utama dalam tubuh manusia..

Perhatikan hal ini mencari Allah tidak perlu ke mana - mana semua itu ada ditubuhmu. Penjelasannya begini: ada tiga buah jalur, ida, pinggala, sushumna bentuknya seperti trisula engkau dapat melihat itu pada tulisan Allah yang ditulis menggunakan tulisan arab. Alif di sebelah lam pertama menandakan jalur pinggala atau jalur panas atau jalur matahari lam, yang kedua bersanding dengan Huruf Ha menandakan jalur dingin atau jalur ida atau jalur bulan yin dan yang bersatu menimbulkan batas tengah atau sushumna. Itulah Allah yang tertulis di tubuh manusia sebagai jalur mengalirnya ruh atau energy kundalini, jadi kini engkau memahami apa itu Allah.

Alif pertama unsurnya api, Lam pertama unsurnya angin, Lam kedua unsurnya air, Ha unsurnya tanah, 4 unsur bersatu bangkitlah ruh atau kundalini. Allah itu tidak ghaib bagi yang tahu, bagi yang tidak tahu Allah itu ghaib. Allah itu sistem jalur energy kundalini atau energy ruh atau energy atomik di tubuh manusia, yang disebut ruh karena jaman dulu manusia tidak bisa menjelaskan secara fisika tapi jaman sekarang sudah bisa dijelaskan, orang jaman dulu menganggap Allah itu Tuhan yang tidak ada penjelasan, padahal ada penjelasannya. Hukumnya: selama masih bisa ditulis dan diucapkan maka ada penjelasannya dan bisa dijelaskan dan boleh dipelajari.

Jadi Angka 13 itu berati Penyatuan. 1 nya berati Tuhan, 3 nya berarti jalur Tulang Belakang. Jadi Penyatuan dengan Tuhan di kepala yang naik melalui 3 Jalur Utama Tulang Belakang. 


Shalat



Tujuan Sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Didalam gerakan sholat itu telah menyimpan makna (arti) dalam menjalani kehidupan ini, bagi orang sadar dan paham akan hakikat...Bahwa tujuan dan makna sholat adalah ibadah sosial dalam menjalani kehidupan bermasyarakat itulah wujud/bentuk sholat yang sebenarnya.

Berdiri itu tegak, teguh pendirian, jujur dan adil.....

Rukuk itu membungkuk, tawadhu dan rendah hati kepada sesama...

Sujud itu tunduk patuh, taat berserah diri...

Duduk itu sabar tabah, tenang nerimo...

Dari hakekat itulah muncul syariat (laku) Apakah sholat kita sudah terwujud ? Atau hanya sebatas berhenti di gerakan yang tanpa makna ?

Janganlah diantara mu sibuk ibadah mencari surga, karena engkau akan mengalami kegagalan dan kekecewaan...Tapi fokuslah untuk membersihkan Hati dan Batinmu sendiri dalam prilaku...Hal demikian itu adalah awal Hubungan dengan TUHAN mu.

Shalat Daim dan Shalat Syariat


Perbedaan shalat daim dan shalat syariat sering disalahpahami, seolah keduanya berdiri berlawanan. Padahal bagi orang yang telah sampai pada kesadaran  makrifat, keduanya justru saling menyempurnakan.

Pertama, shalat syariat adalah shalat yang memiliki bentuk lahiriah- berdiri, rukuk, sujud, duduk, salam. Ia terikat waktu, memiliki syarat dan rukun. Inilah shalat yang diperintahkan secara tegas dalam agama, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi SAW. Lima waktu sehari semalam, dengan tata cara yang jelas. Shalat syariat adalah fondasi. Tanpanya, tidak ada bangunan ruhani yang kokoh. Ia mendidik disiplin, adab, dan kepatuhan. Ia adalah bentuk tunduk jasad dan pengakuan hamba atas Tuhannya. Bahkan orang yang telah mencapai kedalaman ruhani setinggi apa pun tidak gugur kewajiban syariatnya. Justru semakin dalam pengenalannya, semakin halus penjagaannya terhadap syariat. 

Bagi yang bermakrifat, ada satu ciri utama- hilangnya keakuan. Bukan merasa menjadi istimewa, bukan merasa telah sampai, bukan merasa berbeda dari yang lain. Justru “aku”-nya melebur. Yang tersisa hanyalah kesadaran sebagai hamba yang faqir di hadapan-Nya. Ia tidak merasa memiliki amal, tidak merasa memiliki kedekatan. Semua ia pandang sebagai karunia, bukan pencapaian.

Lalu apa itu shalat daim? Shalat daim berarti “shalat yang terus-menerus.” Bukan dalam arti fisik terus rukuk dan sujud, tetapi keadaan hati yang senantiasa hadir kepada Allah. Ia tidak terikat waktu. Tidak menunggu adzan. Tidak bergantung pada sajadah. Hatinya tidak lalai meski tubuhnya bekerja, berbicara, berjalan, atau diam. Jika shalat syariat adalah pertemuan yang terjadwal, maka shalat daim adalah kesadaran yang tak pernah terputus. Orang yang berada dalam keadaan ini merasakan bahwa setiap napas adalah zikir, setiap gerak adalah  penghambaan, setiap peristiwa adalah percakapan Ilahi. Ia melihat tangan Allah dalam takdir, bukan hanya saat sujud, tetapi juga saat diuji. Namun penting dipahami bahwa shalat daim bukanlah pengganti shalat syariat. 

Banyak yang keliru merasa sudah “sampai” lalu meninggalkan bentuk lahiriah dengan alasan sudah menyatu secara batin. Ini justru tanda belum matang. Karena semakin seseorang mengenal Allah dan semakin hilang  keakuannya, semakin ia sadar dirinya tetap hamba yang diperintah. Para Wali dan orang saleh terdahulu tidak pernah meninggalkan shalat syariat meski mereka tenggelam dalam dzikir. Sebaliknya, shalat syariat mereka menjadi lebih hidup karena diisi oleh shalat daim. 

Shalat syariat tanpa shalat daim bisa menjadi gerakan tanpa rasa. Shalat daim tanpa shalat syariat bisa menjadi klaim tanpa pijakan. Bagi yang bermakrifat, ketika ia berdiri dalam shalat lima waktu, itu bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Ia benar-benar hadir. Rukuknya bukan hanya menundukkan badan, tapi juga ego. Sujudnya bukan sekadar  menyentuhkan dahi ke bumi, tapi meleburkan sisa-sisa keakuan diri. Dan ketika ia selesai salam, shalatnya tidak benar-benar selesai. Kesadarannya tetap terjaga. Ia tidak kembali lalai seperti sebelum takbir. 

Inilah perbedaan halusnya : 

-- Shalat syariat mengikat waktu. 

-- Shalat daim melampaui waktu.

-- Shalat syariat membentuk lahir.

-- Shalat daim menghidupkan batin.

-- Shalat syariat adalah kewajiban. 

-- Shalat daim adalah keadaan.

Keduanya bukan dua jalan berbeda. Keduanya satu kesatuan. Syariat adalah pintu, Hakikat adalah isi rumahnya. Tidak mungkin masuk tanpa pintu. Dan tidak ada gunanya pintu jika tak pernah masuk ke dalamnya. Maka bagi yang bermakrifat, semakin dalam ia mengenal, semakin hilang “aku”-nya, dan semakin tunduk ia pada bentuk. Karena ia sadar, yang diperintahkan bukan hanya rasa, tetapi juga adab. 

Dan adab tertinggi seorang hamba adalah tetap sujud, meski hatinya telah menyaksikan.