Pertama, shalat syariat adalah shalat yang memiliki bentuk lahiriah- berdiri, rukuk, sujud, duduk, salam. Ia terikat waktu, memiliki syarat dan rukun. Inilah shalat yang diperintahkan secara tegas dalam agama, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi SAW. Lima waktu sehari semalam, dengan tata cara yang jelas. Shalat syariat adalah fondasi. Tanpanya, tidak ada bangunan ruhani yang kokoh. Ia mendidik disiplin, adab, dan kepatuhan. Ia adalah bentuk tunduk jasad dan pengakuan hamba atas Tuhannya. Bahkan orang yang telah mencapai kedalaman ruhani setinggi apa pun tidak gugur kewajiban syariatnya. Justru semakin dalam pengenalannya, semakin halus penjagaannya terhadap syariat.
Bagi yang bermakrifat, ada satu ciri utama- hilangnya keakuan. Bukan merasa menjadi istimewa, bukan merasa telah sampai, bukan merasa berbeda dari yang lain. Justru “aku”-nya melebur. Yang tersisa hanyalah kesadaran sebagai hamba yang faqir di hadapan-Nya. Ia tidak merasa memiliki amal, tidak merasa memiliki kedekatan. Semua ia pandang sebagai karunia, bukan pencapaian.
Lalu apa itu shalat daim? Shalat daim berarti “shalat yang terus-menerus.” Bukan dalam arti fisik terus rukuk dan sujud, tetapi keadaan hati yang senantiasa hadir kepada Allah. Ia tidak terikat waktu. Tidak menunggu adzan. Tidak bergantung pada sajadah. Hatinya tidak lalai meski tubuhnya bekerja, berbicara, berjalan, atau diam. Jika shalat syariat adalah pertemuan yang terjadwal, maka shalat daim adalah kesadaran yang tak pernah terputus. Orang yang berada dalam keadaan ini merasakan bahwa setiap napas adalah zikir, setiap gerak adalah penghambaan, setiap peristiwa adalah percakapan Ilahi. Ia melihat tangan Allah dalam takdir, bukan hanya saat sujud, tetapi juga saat diuji. Namun penting dipahami bahwa shalat daim bukanlah pengganti shalat syariat.
Banyak yang keliru merasa sudah “sampai” lalu meninggalkan bentuk lahiriah dengan alasan sudah menyatu secara batin. Ini justru tanda belum matang. Karena semakin seseorang mengenal Allah dan semakin hilang keakuannya, semakin ia sadar dirinya tetap hamba yang diperintah. Para Wali dan orang saleh terdahulu tidak pernah meninggalkan shalat syariat meski mereka tenggelam dalam dzikir. Sebaliknya, shalat syariat mereka menjadi lebih hidup karena diisi oleh shalat daim.
Shalat syariat tanpa shalat daim bisa menjadi gerakan tanpa rasa. Shalat daim tanpa shalat syariat bisa menjadi klaim tanpa pijakan. Bagi yang bermakrifat, ketika ia berdiri dalam shalat lima waktu, itu bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Ia benar-benar hadir. Rukuknya bukan hanya menundukkan badan, tapi juga ego. Sujudnya bukan sekadar menyentuhkan dahi ke bumi, tapi meleburkan sisa-sisa keakuan diri. Dan ketika ia selesai salam, shalatnya tidak benar-benar selesai. Kesadarannya tetap terjaga. Ia tidak kembali lalai seperti sebelum takbir.
Inilah perbedaan halusnya :
-- Shalat syariat mengikat waktu.
-- Shalat daim melampaui waktu.
-- Shalat syariat membentuk lahir.
-- Shalat daim menghidupkan batin.
-- Shalat syariat adalah kewajiban.
-- Shalat daim adalah keadaan.
Keduanya bukan dua jalan berbeda. Keduanya satu kesatuan. Syariat adalah pintu, Hakikat adalah isi rumahnya. Tidak mungkin masuk tanpa pintu. Dan tidak ada gunanya pintu jika tak pernah masuk ke dalamnya. Maka bagi yang bermakrifat, semakin dalam ia mengenal, semakin hilang “aku”-nya, dan semakin tunduk ia pada bentuk. Karena ia sadar, yang diperintahkan bukan hanya rasa, tetapi juga adab.
Dan adab tertinggi seorang hamba adalah tetap sujud, meski hatinya telah menyaksikan.
