Menuju Kehadirat Allah SWT

Manusia pada umumnya mendapatkan pengetahuan dari panca indera, mendengar atau melihat, menulis dan membaca termasuk bagian dari cara manusia memperoleh pengetahuan. Maka disitu letak kelemahan manusia karena ilmu yang didapat lewat panca indera adalah ilmu yang hanya mampu diserap dan dicerna oleh panca indera.

Ilmu tentang Tuhan dengan segala Keaguangan-Nya tidak akan bisa diserap oleh panca indera karena Dia berada diluar jangkauan panca indera. Karena itu Allah mengutus Nabi terakhir seorang yang tidak bisa tulis baca (buta huruf) untuk menyadarkan manusia bahwa hakikat ilmu itu tidak didapat dari membaca.

Jika tidak melalui panca indera, lalu dari mana kita bisa mendapatkan pengetahuan?

Jawabannya dari QALBU, setelah dibersihkan kemudian mampu menyerap cahaya Ilahi, tersambung kepada Zat Maha Mutlak, lewat itulah qalbu senantiasa menerima pengetahuan dari sisi-Nya yang di dalam dunia Tasawuf di sebut dengan ilmu LADUNI.

Untuk bisa mendapatkan itu semua, langkah pertama dan utama adalah menemukan Guru yang sudah ahli dalam bidang tersebut, bukan Guru yang masih belajar atau Guru yang masih uji coba. Guru yang sudah bolak-balik kesuatu tempat sehingga bisa membawa kita dengan nyaman ke tempat tersebut.

Para penempuh jalan menuju Allah ibarat orang yang memasuki Hutan Belantara, secanggih apapun kompas dan peta tidak bisa membuat dia selamat melewat hutan itu. Harus menemui orang yang tinggal di hutan itu sehingga bisa membawa dia masuk dan keluar hutan dengan selamat.

Seorang dokter paling ahli sekalipun tidak akan bisa mencangkok jantung nya sendiri, atau tidak bisa melakukan operasi terhadap tubuhnya sendiri, mesti ada dokter lain yang menolong.

Kelemahan manusia pada umumnya karena terlalu fokus kepada ilmu lewat panca indera akhirnya dia berhenti mencari dibalik pengetahuan yang telah dia baca. Itulah sebab nya hampir semua orang tidak akan bisa menemukan hakikat Tuhan karena pengetahuan tentang itu sudah dibatasi oleh pengetahuan panca indera yang di dapat sejak kecil. Pengetahuan itu selalu mensabotase ilmu yang akan diberikan kepada dia (Andai dia sudah menemukan Guru Mursyid).

Khidir harus menghilangkan ego Musa yang sangat besar akan pengetahuan panca indera baru kemudian bisa mengisi ke Qalbu Musa ilmu dari sisi Allah (Laduni). Selama Musa masih bersama ego pengetahuannya maka sampai kapan pun ilmu itu tidak akan masuk ke qalbu Musa. Musa adalah simbol ilmu (zahir) sedangkan Khidir adalah simbol ilmu bathin (Hakikat) dan dalam kisah tersebut Musa berhasil mengalahkan egonya, tidak lagi bertanya. Bertanya adalah cara manusia pendapatkan pengetahuan lewat panca indera sedangkan diam dihadapan Guru adalah cara manusia mendapatkan pengetahuan lewat Qalbu.

Seorang Profesor di dalam bidangnya pun terus menerus belajar untuk memperdalam pengetahuan karena ilmu itu sifatnya berkembang, konon lagi orang yang hanya dapat ilmu agama lewat panca indera (membaca, mendengar) tentu harus terus belajar mencari Guru yang bisa mentransfer pengetahuan ke Qalbu sehingga Qalbu nya bercahaya dan segala hakikat ilmu akan terisi ke dalamnya.

Ketika Qalbu telah bersih dan selalu terisi dengan Kalimah Allah yang hakiki, maka apa pun yang dirasakan oleh Nabi dan Para Sahabat Beliau akan bisa kita rasakan juga. Jarak dan waktu tidak akan menghalangi rohani. Tentu saja rumus yang kita gunakan harus sama dengan rumus yang di gunakan Nabi. Nabi kita menuju kehadirat Allah lewat bimbingan Mursyid (Jibril as) tentu juga kita harus menggunakan cara yang sama sehingga hasilnya sama.

Ketika manusia sampai kehadirat Allah maka segala dogma dan doktrin tentang agama akan runtuh karena kita telah sampai ke tahap HAQQUL YAQIN. Berdebat tentang gajah yang berlaku bagi orang buta, bagi yang sudah melihat maka tidak akan ada lagi berdebatan karena semua telah NYATA.