Tasawuf dari medsos - Jalan Cahaya atau Tipu Daya Ego?
“Banyak yang menangis karena tasawuf di medsos...tapi sedikit yang benar-benar berubah". "Kalau hatimu pernah tersentuh, jangan lewatkan. Dengarkan sampai akhir... lalu jujurlah pada dirimu".
Belajar Tasawuf dari media sosial tidak salah. Yang berbahaya adalah saat ego merasa sudah sampai. Tasawuf bukan tentang paham, tapi tentang hilangnya rasa diri. Kalau setelah menonton kau merasa lebih tinggi, itu bukan cahaya-itu jebakan halus.
Murid : Guru... izinkan aku bertanya dengan jujur. Di zaman ini, banyak orang belajar Tasawuf dari media sosial. Video singkat, potongan hikmah, kutipan para sufi. Apakah itu salah, Guru? Apakah aku sedang tersesat tanpa sadar?
Guru : Anakku... yang salah bukan medianya. Yang berbahaya adalah perasaan sudah sampai hanya karena menonton jalan.
Murid : Tapi Guru... kata-kata itu indah. Hatiku bergetar. Air mataku jatuh. Aku merasa dekat dengan Tuhan ketika mendengarnya.
Guru : Tentu saja. Api kecil pun bisa menghangatkan tangan. Namun apakah api kecil cukup untuk memasak perjalanan hidupmu?
Murid : Jadi rasa haru itu... belum hakikat?
Guru : Rasa haru adalah pintu, bukan rumah. Tasawuf bukan tentang menangis di depan layar, tetapi tentang siapa yang kau bawa ketika layar dimatikan.
Murid : Lalu mengapa banyak orang merasa tercerahkan hanya dari medsos?
Guru : Karena ego pandai menyamar sebagai Cahaya. Ia berbisik, "Aku sudah mengerti". Padahal yang mengerti baru akal, sementara hati belum disentuh disiplin.
Murid : Apakah para Sufi dulu tidak berbagi hikmah?
Guru : Mereka berbagi, tetapi setelah muridnya DIBERSIHKAN. Kata-kata Sufi tanpa “adab” ibarat pedang di tangan anak kecil, indah berkilau, tapi melukai diri sendiri.
Murid : Jadi medsos itu haram bagi penempuh jalan?
Guru : Tidak. Medsos adalah cermin. Ia memantulkan siapa dirimu sebenarnya. Jika setelah menonton kau makin rendah hati, makin takut pada riya, makin rajin menyapu hatimu itu tanda kau mengambil manfaat. Namun jika setelah menonton kau sibuk berdebat, merasa lebih paham dari orang lain, merasa "lebih sadar". Ketahuilah, yang tumbuh bukan ruh, tapi kesombongan halus.
Murid : Aku mulai mengerti...jadi apa posisi medsos dalam tasawuf, Guru?
Guru : la seperti azan dari kejauhan. la mengingatkan waktu shalat, tapi tidak menggantikan shalat itu sendiri. Tasawuf hakikatnya adalah: lapar yang ditahan, marah yang diredam, pujian yang ditolak, dan dosa yang diakui diam-diam.
Murid : Lalu bagaimana aku seharusnya bersikap?
Guru : Dengarkan hikmah di medsos seperti kau mencium aroma roti, Aroma itu membuatmu lapar tapi makanlah di dapur amal. Jangan bangga dengan apa yang kau tonton. Banggalah jika egomu berkurang, jika hatimu makin sepi dari ingin dipuji.
Murid : Guru... aku takut salah jalan.
Guru : Takut itu rahmat. Yang celaka adalah yang merasa aman. Ingat baik-baik, anakku Tasawuf tidak diukur dari berapa banyak yang kau simpan di kepala, tetapi berapa banyak yang gugur dari kesombonganmu. Media sosial boleh kau dengar, boleh kau jadikan isyarat, tetapi jalan ini hanya terbuka bagi mereka yang mau dilukai oleh kejujuran pada diri sendiri.
Murid : Aku paham sekarang, Guru. Medsos hanyalah tanda di pinggir jalan.
Guru : Ya,,,.Dan yang berjalan tetap kakimu, yang letih tetap nafsumu, yang sampai—jika Allah menghendaki, hanyalah Hati yang telah hancur dan diserahkannya kembali kepada-Nya.
