Prabu Jayabaya

Jayabaya adalah seorang raja Hindu yang memerintah kerajaan kuno Kediri. Dia dikreditkan karena mengantarkan kerajaan Jawa Timur ke kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan sebagian besar dikenang karena ramalannya yang terkenal. Di antara ramalannya yang menjadi kenyataan adalah kedatangan penjajah Belanda yang menjajah pulau-pulau di Indonesia yang terjadi lebih dari 800 tahun setelah ia menjadi raja.

Kekayaan dan pengaruh Kediri bahkan didokumentasikan dalam teks Cina abad ke-12 Zhou Qufei. Dalam bukunya, Lingwai Daida , yang diterjemahkan secara longgar menjadi Answers From Beyond The Mountains , Zhou menulis tentang kerajaan Jawa yang makmur yang menyaingi kekayaan China sendiri. Para sarjana percaya dia menulis tentang Kediri.

Seperti banyak raja sebelumnya, Jayabaya melegitimasi haknya atas takhta melalui klaim sebagai keturunan para dewa. Dalam beberapa teks sejarah dia adalah cicit dari dewa kebijaksanaan Hindu, Brahma, sementara yang lain mengklaim dia adalah reinkarnasi Wisnu, dewa berlengan empat yang memulihkan kebaikan dan ketertiban dunia.

Nostradamus (1503 – 1566) paling dikenal sebagai penulis ramalan. Dia dikreditkan oleh beberapa orang dengan memprediksi sejumlah peristiwa dalam sejarah dunia, termasuk Revolusi Perancis, bom atom, kebangkitan Adolf Hitler dan serangan 11 September di World Trade Center. Namun, sekitar 400 tahun sebelum dia hidup Jayabaya, seorang raja Hindu di Jawa yang penting dalam sejarah nusantara yang sekarang dikenal sebagai Indonesia, juga dikenal karena ramalannya, terutama tentang masa depan Jawa.

Ramalan Jayabaya, seperti ramalan Nostradamus, masih memiliki pengaruh besar di benak banyak orang Indonesia, karena diyakini banyak dari apa yang dia prediksi menjadi kenyataan.

Raja Jayabaya (atau Joyoboyo) memerintah Kerajaan Kediri pada tahun 1135-1157 dan masih populer di kalangan orang Jawa hingga saat ini, seperti yang tertulis dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa.

Ayahnya, Gendrayana, mengaku sebagai keturunan legendaris Pandawa Lima Bersaudara dari epos Hindu Mahabharata, menelusuri garis keturunannya hingga Arjuna, Kakak Pandawa ketiga, yang dirinya adalah putra dewa Indra. Karena itu, Jayabaya diyakini memiliki bakat magis yang kuat yang menyebabkan kemampuannya untuk melihat jauh ke masa lalu dan jauh ke masa depan.

Dalam Serat Musarar Jayabaya diceritakan bahwa Jayabaya belajar dari surai yang bernama Maolana Ngali Samsujen. Dari pembelajarannya, Jayabaya mendapat visi tentang Pulau Jawa dari zaman Aji Saka hingga ujung dunia.

Ramalan Jayabaya masih memiliki pengaruh besar di benak banyak orang Indonesia hari ini karena banyak dari apa yang dia prediksi menjadi kenyataan. Salah satu ramalan Jayabaya yang paling terkenal adalah kedatangan pria berkulit putih yang membawa senjata yang mampu membunuh dari jarak jauh. Dia meramalkan bahwa pria berkulit putih akan menduduki Jawa untuk waktu yang sangat lama. Mereka kemudian akan dikalahkan, katanya, oleh orang-orang berkulit kuning dari Utara, yang hanya akan menduduki Jawa seumur hidup sebagai batang jagung.

Ramalan Jayabaya yang paling dinanti adalah kedatangan Ratu Adil (Raja/Ratu Keadilan, meskipun orang Jawa menganggapnya sebagai laki-laki) sebagai pemimpin baru Indonesia. Jayabaya meramalkan bahwa orang ini akan menjadi keturunan keluarga kerajaan Majapahit kuno yang akan bangkit menjadi pemimpin terbesar yang pernah diketahui Jawa dan dunia. Dia akan muncul, menurut Jayabaya, "ketika kereta besi bisa melaju tanpa kuda dan kapal bisa berlayar di langit" (saat ada mobil dan pesawat terbang).

Nubuatannya kira-kira seperti ini:

Ketika kereta melaju tanpa kuda,

kapal terbang melintasi langit,

dan kalung besi mengelilingi pulau Jawa

Ketika wanita mengenakan pakaian pria,

dan anak-anak mengabaikan orang tua mereka yang sudah lanjut usia,

ketahuilah bahwa waktu kegilaan telah dimulai.

Kereta dengan kuda, kapal yang terbang di langit, wanita yang mengenakan pakaian pria dan anak-anak mengabaikan orang tua mereka….apa yang mungkin terdengar keterlaluan di Jawa abad ke-12 terdengar sangat normal di dunia modern yang mengendarai mobil dan menerbangkan pesawat.

Sebagaimana orang Jawa percaya pada sejarah siklus kemakmuran hidup yang silih berganti - di mana era kemakmuran akan diikuti oleh era kegelapan yang akan kembali lagi ke era kemakmuran pada waktunya, prediksi ini menarik bagi sistem kepercayaan orang Jawa. 

Banyak orang Jawa yang percaya bahwa mereka sekarang berada di tengah Jaman Edan (zaman kegilaan), atau zaman kegelapan. Oleh karena itu, kedatangan Ratu Adil diperkirakan sudah mendekati waktunya dan dia akan mengantarkan fajar zaman keemasan baru.

Sabda Palon bersumpah untuk kembali lagi dalam 500 tahun setelah meninggalkan raja untuk menjadi penjaga Tanah Jawa. 

Selain itu, pada ayat-ayat terakhir kitab nubuat di Jayabaya tahun 1135-1157 disebutkan Sabda Palon pada ayat 164 dan 173 yang menggambarkan sosok Putra Betara Indra yang menguasai seluruh pelajaran, dia membelah tanah Jawa dua kali.

Bagian paling aneh? Jayabaya juga meramalkan bencana alam terakhir dunia akan terjadi pada tahun 2100. Ini untuk 79 tahun lagi di Bumi!

Brawijaya

 

Brawijaya Goa Bribin - Pantai Ngobaran - Tan Keno Kinoyo Ngopo -

Pada permulaan masa dewa-dewa, keberadaan lahir dari ketiadaan. (Rig Veda).

Suatu waktu di sekitar akhir abad XVI, seorang ‘Raja Jawa’ manekung di sebuah gua. Menyendiri. Meninggalkan riuh kekuasaan yang ‘ambruk’. Melenguhkan penderitaan Jawa. Seakan hendak merelakan kebesaran ‘agama’nya dipergantikan; nuju kelepasan. Kemudian, ia mengulang-ulang pertanyaan ini: akan memilih ke mana tubuh-ruhku, ke agamaku ataukah ke ‘anakku’?

Barangkali, jauh di kedalaman hatinya, sebelum menepi-menyepi ke Gua Bribin itu, sebelum meninggi di tebing Ngobaran, sebelum memelosok di gunung-gunung Gunungkidul, ia sudah punya jawaban. Jawaban setua paganisme Jawa. Bukankah Jawa telah cukup dari mula; tak butuh tetek-bengek lagi ideologi? Bukankah orang-orang dunia kuno [baca: Yunani kuno] menyebut Jawa tempat leluhurnya menancapkan paku sebagai ‘tanah suci’, white island; the land pured by fire?

Hanya tampak bersit cahaya dari luaran, untuk beberapa waktu ia merenungkannya. Toh pada akhirnya, ia, raja Majapahit yang ‘ada’ dalam angan-angan kolektif rakyat pegunungan selatan, yang tak pernah sama sekali disebut dalam prasasti atau manuskrip sebagai raja terakhir Majapahit―karena sumber prasasti menyebut Raja Majapahit terakhir dari Dinasti Girindrawarddhana, tokoh yang dituturkan ulang kali dalam upacara-upacara, legenda, dan mitologi, yang diceritakan berbeda-beda dalam Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, dan Darmogandul tentang keberadaannya menjelang runtuhnya Majapahit, memilih moksa: senyap yang tanpa bekas.

Rakyat punya versi sejarah sendiri tentangnya. Keyakinannya lebih tertanam pada apa yang telah indah dan akan selalu indah di bumi Jawa, di nusa-antara; Eden yang penuh tetumbuhan. Menumbuhkan biji-biji Ideologi. Islam adalah tetumbuh yang keluar dari tanah pertiwi, dan ia, Brawijaya, satu dari sekian bapak sejarahnya di waktu-waktu kemudian. Setelah mengembara sekian lama akhirnya si biji tumbuh menjadi anak ideologi, pulang pada sang ibu, lantas setelah si anak menemukan si ayah diam di situ, dengan bahasa dekoratif yang tenang ia menginjak bapaknya. Menyetubuhi ibunya.

‘Orang-orang’ menganggap pilihan Brawijaya kontroversial. Dan kontroversi metafor bagi kreatifitas. Namun sudah banyak disebutkan dalam cerita-cerita: Raden Patah pulang membawa oleh-oleh, agama hubb yang akan menentramkan nusantara, merubah ibu pertiwi menjadi ‘madani’. ‘Buku sejarah’ pernah mewartakan, manusia berusaha menciptakan sejarah demi visi kemenangan, kejayaan, keadilan satu ideologi, yang dipercaya sebagai ‘satu-satunya’ jalan bagi kehidupan yang serba terbatas.

Suatu wilayah geografi sebagai ‘pan-islam’ adalah sebuah angan-angan. Dan melalui bahasa, Raden Patah mencoba mewujudkannya. Bahasa berujung ganda. Konon ia, Si Anak, akan ‘mengajak’ ayahandanya ke surga. Dan Si Bapak, tanpa ragu, sebenarnya telah memilih surganya sendiri. Bukankah dalam ‘kitab-kitab’ disebutkan bahwa nusa-antara adalah surga, di timur? Bukankah Barat mencari ‘ekstator’ di timur, di wilayah yang katanya disepakati bernama (h)indus-nesos ini? Bukankah Gunung kidul surga bagi manusia pra-aksara? Bukankah sejak 1800-an pegunungan seribu oleh Junghuhn disebut sebagai ‘taman Firdaus’? Brawijaya tak perlu sorga, karena ia di sorga, ia sorga.

Cerita moksa sang raja bermula dari alur yang tidak lah njlimet: Raden Patah bukan ‘orang Jawa’, ia tokoh’ dalam sejarah Jawa. Ini tentang ‘anak’ yang mencari bapaknya; ngawu-awu sudarma jika meminjam terma pewayangan. Ia anak ”Elit Arab” yang karena determinasi peperangan lantas di-aku-kan sebagai anak oleh Brawijaya. Dan, lagi-lagi, konstruksi sejarah nusa-antara yang terpaut langsung atau tak langsung dengan hadirnya ‘Islam’ tetaplah abu-abu, bahkan seluruh bangun sejarah nusa-antara yang ‘kewolak-walik’. Sang Anak tak merasa sebagai bagian klan pribumi yang ‘kafir’; sebutan bagi orang-orang yang kediriannya tak dibentuk oleh baju ”Islam”; oleh langit Islam. Sang Bapak bukan ”Islam”. De­ngan ‘kepercayaan Arab’ yang dihaluskan dalam Kitab ia dianggap nista, melenceng, tak pantas. Sang Anak hendak menuntut tahta, sekaligus menegakkan ‘a-gama’ yang ia bawa dari rantau. Sang Bapak memilih senyap.

Membaca moksa Brawijaya seakan meletakkan Complex Oedius psiko-analisisnya Freudian di lembar-lembar tanah Jawa. Teringat sebuah ketegangan antara Sangkuriang dan ayahnya, atau antara Watugunung dengan para dewa. Jika Oedipus membunuh Laius lantas mendapatkan Jocasta beserta kerajaannya, maka Sangkuriang membunuh ayahnya (anjing Si Tumang) dan kemudian hari mengawini Dayang Sumbi, Watugunung mengawini Shinta, ibunya, maka Raden Patah ‘yang Islam’ menyingkirkan ‘ayahnya’ untuk saresmi dengan Pertiwi, lantas menjadi raja Jawa.

Raden Patah resah layaknya remaja yang sedang mencari kediriannya yang terbelah, risau akan identitas. Siapa aku? Barangkali di dalam hatinya ia berkata: Aku adalah putra raja Jawa! Aku membawa agama perdamaian! Aku bukan anak haram! Aku pemimpin baru, harapan baru! Kelahiran baru! Namun, pantaskah seorang anak menyingkirkan bapak demi sebuah konsep kemaslahatan? Bukankah perkawinan sumbang melahirkan bencana?

Dulu, di masa yang lebih tua, seseorang dari tanah seberang dengan genealogi ‘ibrahiman’ menuju tanah Jawa, mengawini putri leluhur Jawa bernama Aki Tirem dan menggantikannya menjadi raja. Kratonnya bernama Salaka-Nagara [Negeri Perak]. Ia mewartakan ide ‘tuhan yang menyatukan’: allahu ahad. Kemudian, di masa-masa yang kemudian, anak cucu Jawa mengamini ide ketuhanan ini; menggunakannya sebagai laku kehidupannya. Ia seperti Bathara Brahma yang mengabarkan ‘ketuhanan’ di tanah Jawa. Tuhan yang menyatukan. Cerita ini seperti ide tentang tuhan yang mengembara, kemudian di waktu-waktu berikutnya ide tentang tuhan itu pulang kampung.

Terkadang konsep ”tuhan” hanya dilihat seba­gai salah satu terma leksikal: theos saja. Ia tak dipersejajarkan dengan konsep ‘paling mutakhir’ dari ‘bukan konsep tuhan’ yang lain. Dengan demikian, tentu saja, kemaslahatan Raden Patah dengan Allah Semitik-nya seakan-akan ‘antagonisme’ bagi Brawijaya. Bersama dengan itu, Brawijaya tak dianggap punya daya khalifah yang universal. Ia bukan khalifah, namun Brahmin. Dan barangkali Brawijaya waktu itu menjawab: “Jawa adalah Islam, namun ‘Islam’ terkadang bukan Jawa, Anakku!” Dan ia pun tampak tak berkenan dengan ekspresi-agresif Raden Patah dan Sunan Kalijaga yang penuh determinasi atas nama ‘Islam’. Mereka ‘memburu’ Brawijaya dari Ngawen, Nglipar, Gubug Gedhe, Ngobaran, hingga Bribin, dalam rangka agar ‘menjadi Islam’.

Bukankah ia sudah Islam, dengan baju Budo? Bukankah ia tak pernah memamerkan kepintaran ‘kitab’ dengan suara-suara yang hebat? Brawijaya tidak dengan ‘sholat’ untuk menuju ‘cahaya maha cayaha’, untuk menjadi ‘cahaya’. Ia cahaya. Ketika beberapa helai rambut gondrongnya ditebas dengan pisau, sebagai kode ‘pengislaman’, ia moksa. Ia lenyap; tubuh, pikir, jiwa, dan ruhnya. Kini ia mungkret, karena selama ruang waktu ini keyakinan telah membuatnya mulur. Ia bintang yang tak lagi punya massa. Ia supernova. Ia pekat. Ia memangsa tubuhnya sendiri. Ia irasional. Ia monisme. Dan tentu saja, lagi-lagi, segala aroma Monistik-Timur yang ‘irasional’ Platonik dianggap berbahaya seperti oleh Pythagoras, karena akan merusak alam semesta.

Dari cerita-cerita yang laten di seluas gunung-gunung selatan, Brawijaya menawarkan sesuatu yang akan selalu hidup sebagai spirit paganisme: Jawa adalah heningnya laku, di goa-goa, bukan teriakan yang menggemuruh.

(Untuk Naskah Darmogandul menurut profesor Agus Sanyoto dibikin Belanda untuk memecah belah)

Kesultanan Demak

Kesultanan merupakan sebutan bagi sebuah Kerajaan yg didirikan atas dasar Agama Islam. Di Indonesia sendiri, banyak berdiri Kesultanan, salah satunya yaitu Kesultanan Demak.

Demak adalah Kesultanan atau Kerajaan Islam pertama yg berdiri di Pulau Jawa. Dan Kesultanan Demak lah yg menurunkan Kesultanan lain di Pulau Jawa, seperti Pajang, Banten, dan Mataram.

Sebelumnya, Demak merupakan sebuah Kadipaten yg berdiri dibawah Kerajaan Majapahit. Di Akhir-akhir kekuasaan Majapahit, Kadipaten Demak sendiri dipimpin oleh Jin Bun atau Raden Fatah.

Kala itu, Kerajaan Majapahit mulai terombang-ambing menuju keruntuhan. Kekacauan di internal Kerajaan membuat daerah bawahannya mulai tidak terurus.

Pada saat itulah, sebagai Bupati Demak, Raden Fatah memisahkan diri dari Majapahit, dan memproklamirkan berdirinya Kerajaan tersendiri yaitu Kerajaan Demak.

Setelah Majapahit benar-benar runtuh, maka Kesultanan Demak lah yg disebut-sebut sebagai Ahli Waris dari Kerajaan Majapahit. Terutama karena Raja pertamanya yaitu Raden Fatah adalah keturunan dari Raja Majapahit terakhir, Raja Brawijaya V.

Sepeninggal Raden Fatah, Kesultanan Demak diteruskan oleh Adipati Unus atau yg juga dikenal sebagai Pangeran Sabrang Lor, karena pernah memimpin penyerangan terhadap Portugis di Malaka atau sebelah Utara.

Setelah Adipati Unus wafat, Pemimpin selajutnya diserahkan kepada Saudaranya yaitu Pangeran Trenggono. Di masa kepemimpinannya lah, Kesultanan Demak mencapai puncak kejayaannya. Saat itu, Kesultanan Demak berhasil menguasai hampir seluruh Pulau Jawa.

Namun, setelah berakhirnya era Pangeran Trenggono, di Kesultanan Demak terjadi perebutan tahta kekuasaan. Hingga akhirnya, justru berimbas pada runtuhnya Kesultanan Demak.

Masjid agung Demak

Masjid Agung Demak merupakan Masjid yg dibangun pada abad 15, dan salah satu Masjid tertua di Indonesia.

Letak Masjid ini berada di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Lokasinya yg berada di dekat alun-alun Ibukota Demak, menjadikan Masjid ini mudah untuk ditemui. 

Masjid Agung Demak dibangun oleh Sultan pertama Kesultanan Demak, yaitu Raden Patah, bersama para Walisongo.

4 tiang utama di dalam Masjid atau Saka Guru Masjid, dibuat langsung oleh Walisongo. Tiang sebelah barat laut, dibuat oleh Sunan Bonang. Tiang sebelah barat daya, dibuat oleh Sunan Gunung Jati. Tiang sebelah tenggara, dibuat oleh Sunan Ampel. Tiang sebelah timur laut, dibuat oleh Sunan Kalijaga.

Masjid Agung Demak inilah yg menjadi tempat berkumpulnya Dewan Walisongo, untuk bermusyawarah terutama dalam urusan penyebaran Agama Islam.

Sebagai bangunan penting Kesultanan Demak, Di Komplek Masjid Agung Demak ini, juga terdapat Makam-Makam para Sultan Demak dan abdinya.





Trah Ki Ageng Giring III

Ki Ageng Giring III terlahir dengan nama Raden Kertonadi. Jika ditarik ke atas, Beliau adalah keturunan Raja Brawijaya IV. Raden Kertonadi muda adalah salah satu murid Sunan Kalijaga seperti halnya Ki Ageng Pemanahan.

Ki Ageng Giring III adalah pemilik kelapa muda tempat Wahyu Gagak Emprit berada. Sesuai permintaan Beliau, kelak keturunan ketujuh Beliau memerintah Mataram. Salah satu keturunan Beliau kelak menikah dengan Sunan Amangkurat I dan menurunkan Sunan Pakubuwana I

Silsilah Ki Ageng Giring III :

Prabhu Brawijaya IV Raja Majapahit menikah dengan Dewi Tappen, asli dari Nagari Lumajang menurunkan 3 anak.

Dari Garwa Permaisuri Dewi Tappen asli Lumajang menurunkan :

1. Raden Joko Alit / Raden Haryo Ongkowijoyo kelak bergelar Prabhu Brawijaya V

2. Dyah Retno Mundri, menikah dengan Haryo Bubaran / Haryo Pandoyo ( cucu Patih Gajah Mada )

3. Raden Djoko Baribin, menikah dengan Ratu Pamekas adik Prabhu Silihwangi Pajajaran.

Dyah Retno Mundri menikah dengan Haryo Pandoyo III menurunkan :

Ki Ageng Wuking I. 

Ki Ageng Wuking I menurunkan Ki Ageng Wuking II.

Ki Ageng Wuking II menurunkan Raden Sinangjaya atau Ki Ageng Giring I

Ki Ageng Giring I menurunkan Raden Tambakboyo atau Ki Ageng Giring II.

Ki Ageng Giring II menikah dengan putri Sunan Tembayat menurunkan Raden Kertonadi atau Ki Ageng Giring III.

Raden Kertonadi menikah dengan Nyai Talang Warih menurunkan :

1. Roro Lembayung / Niken Purwosari.

Niken Purwosari menikah dengan Panembahan Senopati bergelar Kangjeng Ratu Giring. Menurunkan : 

a.1 RM Damar/ Raden Joko Umbaran / Panembahan Purubaya I, menurunkan Panembahan Purubaya II, Purubaya II menurunkan Raden Ayu Kajoran.

Raden Ayu Kajoran menikah dengan Panembahan Rama menurunkan GKR Mas Palabuhan Permaisuri Prabhu Amangkurat I, kelak menurunkan Susuhunan Pakubuwana I.

a.2 Raden Ayu Wangsa Cipta menikah dengan Pangeran Radin Kajoran.

2. Raden Banyak Suala ( Ki Ageng Giring IV )

Ki Ageng Giring IV menurunkan Raden Wonokusumo I, Raden Wonokusumo I menurunkan Raden Wonokusumo II.

Raden Wonokusumo II menurunkan Kangjeng Panembahan Rama.

Panembahan Rama menikah dengan Raden Ayu Kajoran menurunkan GKR Mas Palabuhan, Permaisuri Prabhu Amangkurat I, dan kelak menurunkan Susuhunan Pakubuwana I

Makam Ki Ageng Giring lll dusun Sidorejo, desa Sodo, kecamatan Paliyan, Gunungkidul.

Ditulis oleh KRT Koes Sajid Jayaningrat


Ki Ageng Enis

Ki Ageng Henis (Ki Ageng Laweyan) Leluhur Raja-Raja Mataram

Apa jadinya bila dalam sejarah tidak terlahir Ki Ageng Henis? Tentulah perjalanan  sejarah di tanah Jawa khususnya akan sangatlah jauh berbeda. Tak ada kerajaan Mataram (Islam), demikian juga Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. 

Siapa sebenarnya Ki Ageng Henis sehingga namanya begitu sentral dalam perjalanan sejarah tanah Jawa khususnya kerajaan Mataram Islam?

Ki Ageng Henis adalah ayah Ki Ageng Pemanahan dan itu berarti kakek dari Sutawijaya (Panembahan Senopati), pendiri kerajaan Mataram Islam.

Sementara Ki Ageng Henis adalah Putra dari Ki Ageng Selo dari Selo, Grobogan. Dalam tradisi cerita tutur Ki Ageng Henis sering disebut juga sebagai Sela Anom yang menjadi teman berlatih dan sekaligus guru Mas Karabet (Jaka Tingkir) sebagai kepanjangan tangan Ki Ageng Selo.

Ki Ageng Henis (Enis) adalah putra bungsu Ki Ageng Selo Grobogan (dalam cerita tutur /cerita rakyat diceritakan mampu menangkap petir) dengan Nyai Bicak putri Sunan Ngerang. 

Henis memiliki enam saudara, di mana semua saudaranya adalah perempuan, yaitu: Nyai Ageng Lurung Tengah, Nyai Ageng Saba, Nyai Ageng Bangsri, Nyai Ageng Jati, Nyai Ageng Patanen dan Nyai Ageng Pakisdadu.

Dari Ki Ageng Henis inilah kemudian lahir Pemanahan (Ki Ageng Pemanahan) yang kemudian dari hasil perkawinan dengan putri tertua bibinya, Nyai Gede Saba menurunkan Raden Bagus (Bagus Srubut atau Danang Sutawijaya) yang kelak mendirikan kerajaan Mataram Islam. 

Kisah perjalan hidup Ki Ageng Henis sampai ke Pajang, seperti ditulis dalam Babad Tanah Jawi  tak lepas dari Sultan Hadiwijaya yang sangat menghargai peran Ki Ageng Sela dan anak keturunannya yang sangat besar jasanya dalam menghantarkan Jaka Tingkir sebagai Sultan Pajang.

Sultan Pajang memberi hadiah bumi Laweyan kepada Ki Ageng Henis. Turut menyertai kepergian Ki Ageng Henis ke Kasultanan Pajang adalah 3 orang pemuda yang kelak dikenal sebagai –tiga serangkai dari selo-, Pemanahan putra Ki Ageng Henis), Juru Martani (putra Nyai Gede Saba, sepupu dan ipar Pemanahan), dan Penjawi (putra angkat Ki Gede Henis).

Persaudaraan Sultan Pajang dan ketiga serangkai dari Sela menjadi semakin mendalam setelah mereka juga menjadi murid Sunan Kalijaga.

Pemanahan dan Penjawi pun diangkat sebagai pemimpin para tamtama, sedang Juru Martani sebagai penasehat militer. Berkat nama Ki Ageng Henis yang sangat berpengaruh di istana Pajang dan dibantu kehadiran tiga serangkai dari Sela iru, stabilitas politik pada awal berdirinya kerajaan Pajang sangatlah stabil. 

Pada akhir hayatnya Ki Ageng Henis meninggal dan dimakamkan di Pasarean Laweyan. Rumah tempat tinggal Ki Ageng Henis kemudian ditempati oleh cucunya, Danang Sutawijaya. Karena tinggal di utara pasar itulah Sutawijaya lebih dikenal dengan sebutan Raden Ngabehi Saloring Pasar.

Makam Ki Ageng Henis terletak di kompleks Astana Laweyan, Kampung Laweyan, Solo, di sebelah selatan Masjid Laweyan. Ki Ageng Henis diperkirakan meninggal pada tahun 1570.

Makamnya berada di pinggir Sungai Jenes, Laweyan, Solo, yang di masa lampau sering digunakan warga sebagai jalur perdagangan batik. Makam ini sering diziarahi, termasuk oleh pejabat Kota Solo, terutama saat memperingati hari jadi Kota Solo. Area ini merupakan situs cagar budaya. 



Ki Ageng Pamanahan

Kiai Gede Mataram sebelum pindah ke alas Mentaok pemberian Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Pajang dikenal sebagai Kiai Gede Pamanahan atau Ki Ageng Pamanahan. Ia putra dari Kiai Gede Ngenis atau Ki Ageng Ngenis, dari Laweyan (sebelah timur Pajang) cucu dari Kiai Gede Sela atau Ki Ageng Selo. Kiai Gede Sela ini putra  dari Ki Getas Pandawa yang nikah dengan  putri Ki Ageng Ngerang Jadi Kiai Gede Mataram ini buyut (cicit) dari Ki Getas Pandawa. Ki Getas Pandawa memiliki  putra-putri sebanyak tujuh orang yakni :

1. Ki Ageng Selo

2. Nyi Ageng Pakis.

3. Nyi Ageng Purna.

4.  Nyi Ageng Kare.

5.  Nyi Ageng Wanglu.

6.  Nyi Ageng Bokong.

7.  Nyi Ageng Adibaya.

Sedang  Kiai Ageng Selo dikaruniai putra-putri juga sebanyak tujuh orang seperti ayahnya masing masing adalah :

1.  Nyi Ageng Lurung Tengah.

2.  Nyi Ageng Saba.

3.  Nyi Ageng Bangsri.

4.  Nyi Ageng Jati.

5.  Nyi Ageng Patanen.

6.  Nyi Ageng Pakis Dadu.

7.   Ki Ageng Ngenis.

Sungguh suatu kebetulan atau memang sudah kehendak Tuhan, bila Ki Getas Pandawa putranya cuma satu yaitu Ki Ageng Selo yang menempati urutan pertama (Sulung) giliran Ki Ageng Sela putranya juga cuma satu yaitu Ki Ageng Ngenis namun menempati urutan terakhir (Bungsu)  kebalikan dengan ayahnya. Ki Ageng Pamanahan  adalah  putra Ki Ageng Ngenis, nama kecilnya ialah Bagus Kacung aslinya dari Grobogan dekat Purwadadi, ikut ayahnya mengabdi di Kerajaan Pajang. Kebetulan Sultan Hadiwijaya itu saudara  seperguruan dengannya  dalam  Olah Kanuragan dan spiritual kepada Ki Ageng  Selo. Maka tak heran bila ia adalah Andi yang disayangi dan dihormati Sultan, bahkan  anaknya  yang bernama Danang  Sutawijaya  menjadii  anak angkat Sultan. Kepribadian Ki Ageng Pemanahan sederhana suka mengalah dalam  menghadapi setiap masalah, baginya  mengalah itu bukan berarti kalah tetapi merupakan kemenangan yang tertunda. Sesudah memperoleh anugerah tanah yang terletak di Alas Mentaok dari Sultan Hadiwijaya, dalam perjalanan ke daerahnya yang baru, Kiai Gede Pemanahan  selanjutnya  bernama Kiai Gede Mataram.  Keberangkatannya dari Pajang  berlangsung secara sederhana tanpa kebesaran. Kiai Gede Mataraman berjalan didepan, kemudian istri dan anak-anaknya dalam deretan panjang, dengan membawa  berbagai macam barang  dan bekal. Apa  saja yang termasuk keperluan rumah tangga dibawa semua, tidak ada sepotong barangpun yang ditinggalkan. Maka tidak mengherankan apabila perjalanan mereka lamban. Versi lain menceritakan bahwa perjalanan dimulai dari daerah asalnya  (Grobogan) dengan disertai istri, anak-anaknya  dan  seluruh kerabat serta pen-duduk Desa yang mau ikut. Perjalanan membentuk barisan  panjang mengurai  mengular,  maka tidak mengherankan  perjalanan terasa lamban. Keperluan yang dibawa tidak beda alias sama. Upacara keberangkatan Kiai Gede Pemanahan dari Pajang biasa-biasa  saja. Ini berlawanan  dengan Serat Kandha (hal. 504) yang masih menceritakan penyerahan sebuah piagam secara resmi. Mengenai permukimsn Kiai Gede Pamanahan atau  Kiai  Gede  Pemanahan di Mataram, Babad Tanah Jawi  (Meinsma, Babad, hal. 66-67)  cuma  dicerita- kan hal-hal yang menggembirakan yaitu Alam  membantu dengan panen yang berlimpah, bahkan air sumur tampak  jernih. Perdagangan berkembang dengan pesat. Banyak orang-orang yang menetap di sana. Ki Gede Pamanahan yang sudah  berganti  nama menjadi Ki Ageng Mataram, bersama kaumnya menikmati kehidupan tanpa kesulitan apa pun. Namun, ia  melakukan tapa disebabkan ia mendengar  dan  mengetahui apa yang pernah diramalkan oleh Sunan Giri bahwa dikelak  kemudian hari, di Mataram akan muncul  Raja-Raja besar yg berkuasa atas seluruh  tanah Jawa dan ramalan yang  mengatakan  kelak keturunannya akan menjadi Raja. Dan berharap bahwa keturunannya menjadi Raja dikemudian hari.


- DR.H.J de Graaf  "Awal Kebangkitan Mataram" Penerbit PT Pustaka Gtafitipers, Cetakan Pertama 1985.

Panembahan Senopati

RADEN DANANG SUTAWIJAYA PELETAK DASAR EKSITENSI KERAJAAN MATARAM PADA TAHUN 1584

Raden Danang Sutawijaya adalah putra Ki Ageng Pamanahan(Pemanahan), terlahir  dari rahim putri Ki Ageng Saba yang dinikahi oleh Bagus Kacung (Ki Ageng Pamanahan. Silsilah dan garis ibu yaitu Ki Ageng Saba(kakek Raden Danang Sutawijaya)atau mertua ayahnya. Ki Ageng Saba sendiri adalah putra Sunan Giri ke II, Sunan Giri ke II putra Sunan Giri I. Dari garis ayah, ia putra Ki Ageng Pamanahan, ayahnya adalah Ki Ageng Ngenis berdiam di Laweyan (sebelah  timur Pajang). Selanjutnya ayah Ki Ageng  Ngenis adalah Ki Ageng Selo dan ayah Ki Ageng Selo adalah Ki Getas Pandawa.

Raden Danang Sutawijaya juga disebut Bagus Srubut, mempunyai saudara :

1. Raden Tompe.

2. Raden Santri.

3. Raden Jambu.

4. Putri (istri Tumenggung Mayang).

Raden Danang Sutawijaya dijadikan putra angkat oleh Sultan Hadiwijaya dari  Kerajaan Pajang dan diangkat sebagai Ngabehi, sejak itu disebut Raden Ngabehi Loring Pasar, Dimungkinkan kediamannya di sebelah utara pasar, hanya saja tidak  terlacak pasar mana? diduga ada tiga kemungkinan tempat dimana pasar itu yakni :

1. Pasar Pajang.

2.  Pasar Jongke.

3.  Pasar Laweyan.

Awal kekuasaan Raden Danang Sutawijaya  tidak lepas dari pemberitaan Babad Tanah Jawi (BTJ)Meinsma, Babad,hal.72 memberikan gambaran yg singkat sekali :

- Setelah ada berita mengenai kemakmuran Mataram murah sandang pangan menyusul berita tentang  penyakit  Kiai Gede Mataram. Ia menyerahkan sepeninggalnya atas nasib keturunannya kepada Ki Juru Martani, yang harus dipatuhi oleh anak-anaknya. Putranya   Ngabehi Loring Pasar, akan menjadi penggantinya. Selanjutnya jenazahnya  dimakamkan disebelah barat masjid.

Serat Kandha (hal. 527-528)  tidak  memuat penjelasan lain. Namun sesudah itu terdapat berita mengenai  pengangkatan putranya (Meinsma, Babad,

hal. 72-73) :

- Sehari setelah meninggalnya Ki Gede Mataram, Ki Juru Martani bersama  seluruh keluarga pergi ke Pajang  menghadap Sultan, tepat pada suatu hari  Senin. Mereka mengambil tempat dibawah

pohon beringin kurung. Setelah dipanggil Sultan Ki Juru Martani menyampaikan  berita tentang junjungannya, dan bertanya  siapakah dari kelima  putranya  yang  akan  menggantikan petinggi  Mataram itu. Sultan menunjuk "putranya",Ngabehi  Loring Pasar dan memberikan nama Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama. Tahun pertama ia tidak usah datang di istana Pajang, agar dapat menggunakan  waktunya untuk menertibkan daerahnya  dan mencicipi kenikmatan.

- Setelah itu Ki Juru Martani dan kemenakannya mencium kaki Sultan dan minta izin pulang.

- Semenjak itu jumlah penduduk Mataram bertambah banyak dan Senapati menikmati Kehidupan tanpa kesulitan.

Itulah awal berkuasanya Senapati dibumi  Mataram, tahun 1584 merupakan juga tahun meninggalnya Ki Gede Pamanahan. Menjadi Raja di Kerajaan Mataram yang  didirikannya pada tahun 1586 dan meninggal pada tahun 1601.  Versi lain mengatakan mulai memerintah pada tahun 1584. Ia dimakamkan disebelah selatan masjid, diujung kaki ayahnya. Meninggalkan 2 orang permaisuri, yang nomor satu putrinya Ki Ageng Panjawi (Pati) dan yang nomor dua putrinya Panembahan Mas (Madiun). Putra-putrinya ada 23 orang, yang hidup cuma18(Putra 11, Putri 7) serta yang  meninggal sewaktu masih kecil 5 orang. Dalam bidang budaya Panembahan  Senopati telah menyempurnakan bentuk  wayang dengan tatahan gempuran.

 (Haryanto,1988, hal.204).