Tharekat Naqsabandiyah Khalidiyah

Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah diajarkan oleh Syekh Muhammad Ilyas bin Aly yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Guru Ilyas tahun 1864 M dan sejumlah penerusnya seperti Mbah Malik, KHR Rifa’i Afandi, KHR Abdussalam dan KHR Toriq Arif Ghuzdewan.

Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah adalah salah satu thariqah mu’tabarah yang dalam sejarah mempunyai silsilah (guru) sampai Rasulullah SAW melalui mursyid akbar (guru besar) Syekh Muhammad Bahaudin al-Uwaisi al-Bukhari Naqsyabandi.

Mbah Ilyas Kedung Paruk

Semula Mbah Guru Ilyas hanya mengajarkan thariqah ini di Grumbul Kedung Paruk Desa Ledug Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas (Purwokerto). Namun perkembangannya meluas sampai Sokaraja dan daerah-daerah sekitar (Keresidenan) Banyumas.

Penerus dan pengembang thariqah yang diajarkan oleh Mbah Guru Ilyas di Kedung Paruk adalah putra beliau dari istri Kedung Paruk Nyai Zainab (cucu Syekh Abdus Shomad/Mbah Jombor ), yaitu Syekh Muhammad Abdul Malik, sedang yang di Sokaraja adalah putra beliau dari istri Sokaraja Nyai Khatijah (putri Kiai Abu Bakar Penghulu Landrat/ Peradilan Agama), yaitu Syekh Muhammad Affandi.

Syekh Muhammad Ilyas (Mbah Guru Ilyas), memperoleh ijazah sebagai mursyid Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah dari Syekh Sulaiman Zuhdi Al Makki di Jabal Qubes Makkah Saudi Arabia. Beliau berguru memperdalam ilmu tasawuf dan berbagai disiplin ilmu lainnya di tanah suci selama 40 tahun.

Mbah Guru Ilyas adalah salah satu dari sembilan Ulama yang mendapat amanah mengajarkan dan menyebarluaskan thariqah di tanah jawa khususnya dan nusantara Indonesia pada umumnya. Dari sang guru Syekh Sulaiman Zuhdi Al Makki Selama 48 tahun (1864-1912) Mbah Guru Ilyas mengemban amanah mengajarkan dan menyebarluaskan Thariqah Naqsyabandiyah Al Khalidiyah di sekitar (Keresidenan) Banyumas.

Syekh Muhammad Abdul Malik

Beberapa saat sebelum Mbah Guru Ilyas wafat (tahun 1333 H/1912 M), kemursyidan Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah Kedung Paruk diamanahkan kepada Syekh Muhammad Abdul Malik dan kemursyidan di Sokaraja diamanahkan kepada Syekh Muhammad Affandi. Mbah Guru Ilyas wafat dalam usia 147 tahun dimakamkan di komplek Pondok Thariqah Sokaraja Lor.

Syekh Muhammad Abdul Malik yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Malik, di samping mengajarkan (mursyid) Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah juga mengajarkan (mursyid) thariqah Syadziliyah dua thariqah terbesar di Indonesia. 

Syekh Muhammad Abdul Malik dikenal sebagai Guru Besar Thariqah An Naqsyabandiyah dan Thariqah As Syadziliyyah Indonesia. Beliau memperoleh ijazah mursyid Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah langsung dari sang ayah Syekh Muhammad Ilyas, sedang ijazah mursyid thariqah Syadziliyyah diperoleh dari Al Qutub Al’Arif Billah As Sayyid Ahmad Nahrawi Al Makki Makkah Saudi Arabia.

Di samping itu Mbah Malik juga pengamal Thariqah Qadiriyyah, Alawiyyah dan lainnya. Konon Mbah Malik mengamalkan 12 Thariqah. Namun ada  empat thariqah yakni Naqsyabandiyah Khalidiyah, Syadziliyah, Qadiriyyah dan Awwaliyyah yang beliau ajarkan kepada penerus-penerusnya.

Mbah Malik memangku kemursyidan thariqah di Kedung Paruk selama 68 tahun (1912-1980 M). Beliau wafat dalam usia 99 tahun, pada hari Kamis malam Jum’at, 2 Jumadil Akhir 1400 H/ 17 April 1980 M dan dimakamkan di belakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-ud-Dien Kedung Paruk

Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah diturunkan (kemursyidannya) kepada Syekh Abdul Qadir (cucu Mbah Malik) dan dua thariqah terbesar (Naqsyabandiyah Khalidiyah dan Syadziliyah) diturunkan (kemursyidannya) kepada murid kesayangannya, yaitu Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, Pekalongan Rais ‘Am Jam’iyyah At Thariqah Mu’tabarah An Nahdiyyah Indonesia (JATMAN).

Penerus Thariqah

Penerus Syekh Muhammad Abdul Malik di Kedung Paruk adalah cucu-cucu beliau, karena beliau tidak menurunkan anak laki-laki (anak laki-laki satu-satunya yang bernama Ahmad Busyairi wafat ketika masih lajang umur 36 tahun). Satu-satunya anak perempuan Mbah Malik (Nyai Chairiyah), menurunkan 9 orang anak (3 anak laki-laki dan 6 anak perempuan).

Penerus pertama Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah adalah Syekh Abdul Qadir bin Haji Ilyas Noor cucu nomor 3, memperoleh ijazah mursyid langsung dari Mbah Malik, memangku kemursyidan selama 22 tahun (1980-2002). Syekh Abdul Qadir wafat pada hari senin 5 Muharram 1423 H/ 19 Maret 2002 M, dalam usia 60 tahun dimakamkan di belakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-ud-Dien Kedung Paruk.

Penerus kedua Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah adalah cucu nomor 6, Syekh Sa’id bin Haji Ilyas Noor, Beliau memperoleh ijazah mursyid  dari Alhabib Almursyid Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan. Ia memangku kemursyidan selama 2 tahun (2002-2004). Syekh Said wafat pada hari kamis, 3 juli 2004 dalam usia 53 tahun dan dimakamkan di belakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-ud-Dien Kedung Paruk.

Sedangkan penerus ketiga Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah adalah cucu nomor 7, Haji Muhammad bin Haji Ilyas Noor.  Ia memperoleh ijazah mursyid  dari Alhabib Almursyid Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya pada hari senin 1 Rajab 1424 H/ 18 Agustus 2004 M. Saat ini, thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah Kedung Paruk dipimpin oleh Haji Muhammad Ilyas Noor penerus ketiga Mbah Malik.

Nama pondok pesantren Bani Malik resmi pada tahun 2004. Sebelumnya jam’iyyah thariqah Kedung Paruk memiliki nama Pondok Pesantren Thariqah Robithoh As-shufiyah. Pergantian nama ini  untuk mengabadikan Mbah Malik, sebagaimana ungkapan Kiai Muhammad Ilyas Noor.

Perubahan nama menjadi pondok pesantren bani malik ini mulai tahun 2004. Dulu awalnya malah tanpa nama ketika tahun 1864-1980. Perubahan nama ini karena ingin mengabadikan Mbah Malik karena Beliau sebagai pendobrak, pemerkasa dakwah di sini

Mursyid Thariqah

Berikut mursyid-mursyid Thariqah Naqsyabandiyah Al Khalidiyah Sokaraja.

KHR Ilyas, Wafat 29 Shofar 1334 H (05 Januari, 1916 M)

KHR Muhammad Affandi, Wafat 1347 H (1929 M)

KHR Ahmad Rifa’i, Wafat 1388 H (1969 M)

KHR Abdusalam, Wafat  Hari Senin, 13 Rajab, 1435 H (12 Mei 2014 M)

KHR Toriq Arif Ghuzdewan MSCE

Silsilah (Guru-Guru) Thariqah

Rasululloh Muhammad SAW

Sahabat Abu Bakar-Siddiq

Sahabat Salman Al-Farisi

Syekh Qashim bin Muhammad

Syekh Ja’far Shodiq

Syekh Thaifur bin ‘Isa Abu Yazid Bustomi

Syekh Abi Hasan ‘Ali Khorqoni

Syekh Abi ‘Ali Al Fadloi

Syekh Yusuf Hamdani

Syekh Abdul Kholiq Ghujdawani

Syekh ‘Arif Riwikari

Syekh Mahmud Anjir Faghnawi

Syekh ‘Ali Romitani

Syekh Baba Samasi

Syekh Amir Kulal Khojikaniyah

Syekh Muhammad Bahauddin Naqsyabandi

Syekh ‘Alaudin ‘Aththor

Syekh Ya’qub Jarhi

Syekh Nashiruddin ‘Ubaidillah Ahror

Syekh Muhammad Zahid

Syekh Muhammad Darwisy

Syekh Muhammad Khaujaki

Syekh Muhammad Baqi Billah

Syekh Ahmad Faruqi

Syekh Muhammad Ma’shum

Syekh Muhammad Saifudin

Syekh Nur Muhammad Budwani

Syekh Habibullah Syamsuddin Jana Janan

Syekh Abdullah Dahlawi

Syekh Khalid Baghdadi

Syekh ‘Abdullah Makki

Syekh Sulaiman Qorimi

Syekh Sulaiman Zuhdi  Ismail Barusi

KHR Muhammad Ilyas

KHR Affandi Ilyas

KHR Rifa’i Afandi

KHR Abdussalam

KHR Toriq Arif Ghuzdewan


Sumber Khayaturrohman


 

Ketidaksamaan Ahli Tharekat Dan Paranormal


Secara pribadi, saya memandang ilmu keparanormalan adalah bagian dari ilmu yang apabila diterapkan secara benar merupakan lahan berdakwah. Bayangkan! begitu besar jumlah orang-orang bingung pada zaman edan ini. mereka berlari menuju cara-cara yang supranatural. Untuk itu menjadi paranormal haruslah diniatkan untuk menyelamatkan orang-orang bingung itu untuk kembali ke jalan Allah SWT.

Keyakinan ber-Tharekat yang menghasilkan kekuatan Paranormal dilandasi bahwa seseorang yang ber-Tharekat hanya semata-mata ingin menjadi  Paranormal, justru kekuatan itu tak mungkin didapatkan. Sebaliknya jika tarekat itu dilakukan sebagai jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT maka secara tidak langsung akan muncul bias-bias ilahy yang menghasilkan kekuatan Paranormal. Seorang Paranormal belum tentu ber-Tharekat, tapi seorang Ahli Tharekat sudah pasti mempunyai kekuatan Paranormal. Menjadi paranormal bukanlah tujuan. Akan tetapi jalan keduanya memiliki arti, tergantung dari tingkat spiritual manusia itu sendiri.
Kiranya perlu dijelaskan pengertian antara syariat, tharekat, hakikat dan makrifat. Syariat adalah amal atau ibadah yang disitu manusia hanya melaksanakan apa yang diperintah.Tharekat adalah suatu cara atau jalan  mengerjakannya. Hakikat adalah mengetahui dari mana asalnya/yang tersirat. Sedangkan makrifat adalah ilmu yang mengutamakan nilai tatakrama manusia kepada Allah SWT.

Jadi tujuan akhir dari seorang yang ber-Tharekat adalah meraih hakikat kemudian makrifat, tanpa meninggalkan syariat menuju keridhaan Allah yang menghasilkan Anugerah-Nya yaitu diberinya manusia untuk mendengar dengan telinga-Nya. Melihat dengan mata-Nya, berfikir dengan hati-Nya dan ilmu Laduni.  
Akhirnya saya berharap semoga blog ini mampu memberikan manfaat bagi orang-orang yang tertarik ilmu supranatural.
Sekali lagi saya tegaskan, peran sebuah blog hanyalah penambah wawasan. 
Penulis tidak mengikhlaskan amalan -amalan yang ada di blog ini, baik berupa amalan/doa/mantera/pengasihan/kadigjayaan, dipergunakan di jalan yang tidak di ridhoi Allah SWT.
Jangan sembarangan/menyepelekan ilmu gaib, sebab tidak sedikit orang yang stress. Untuk itu saran penulis, mintalah petunjuk kepada Pembimbing/Mursyid atau Guru Spiritual ditempat tinggal anda.

Salam Rahayu...
Salam Sarkub...
Salam Budaya....



Ilmu Tharekat dan Khodam


Tanya : Assalamu'alaikum Wr Wb 

Apakah yang dimaksud ilmu Thoriqot?
Apakah ilmu khadam bisa dikategorikan ilmu tasawuf?

Jawab : Wa'alaikumussalam Wr Wb

Ilmu thoriqot sangat luas. Thoriqoh pun banyak sekali, Qodoriyah, Naksabandiyah, Khalidiyah, Satariyah, Sadziliyah, dan lain-lain. Itulah thoriqoh yang diakui atau dikenal dengan thoriqoh mu'tabaroh. Karena itu pelajarilah dahulu sejauh mana ilmu thoriqoh. Sehingga kita masuk suatu thoriqoh bukan sekedar karena iming-iming fadhilahnya. 

Namun, yang pertama dan paling penting, bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah.Yang kedua, bagaimana kita selalu dekat disisi Allah SWT dan disisi Baginda Nabi Muhammad SAW. Silahkan saja memilih, yang jelas thoriqoh punya sanad muasalnya sampai kepada Rasulullah SAW. Thoriqoh itu hakikatnya bukan ilmu kesaktian, ilmu thoriqoh juga bukan untuk mencari kekayaan, menjadi seorang Wali atau mendapatkan karomah atau lebih-lebih mempelajari ilmu thoriqoh sekedar untuk memperoleh khodam. Guru-guru thoriqoh, bila mendapatkan karomah, justru merasa malu kepada Allah SWT.
Dia mawas diri, apakah pantas menerima karomah dari Allah SWT. Semua malah menjadi ujian, fitnah dan beban karena ketermasyuran itu bukan menjadi tujuannya. Makna fitnah ini bukan dari luar, seperti memfitnah dirinya. Namun datangnya dari diri sendiri, karena akan dikhawatirkan akan timbul egoisme, keakuan, sombong serta yang sifatnya kurang terpuji.
Pada hakekatnya ilmu thoriqot adalah pengamalan dari bentuk ihsan. Mampukah kita bersujud kepada Allah SWT seolah-olah kita melihat-Nya. Namun sulit hal ini dilaksanakan bagi awam. Kalau tauhidnya tidak kuat, kata-kata "seolah-olah melihat-Nya" nanti menimbulkan efek mengada-ngada.
Inilah yang sangat dikhawatirkan para guru thoriqoh kepada murid-murid yang baru belajar. Kalau tidak mampu merasa seolah-olah melihat-Nya. Maka kita merasa dilihat dan didengar oleh Yang Maha Kuasa. Ini dulu..., Mampukah kita setiap hari mengamalkan sesuatu yang seolah-olah kita merasa dilihat dan didengar oleh Allah. 

Bila sikap ini tumbuh disetiap hati masing-masing pengamal thoriqoh, Insyaallah akan melahirkan sifat-sifat yang terpuji antara lain :

1. Tumbuh takut kepada Allah (khauf), yang tujuannya akan menambah ketakwaan kepada Allah SWT. Kita akan mawas hati, muhasabah, dan takut jika kita digolongkan sebagai orang yang merugi.

2. Akan menumbuhkan sifat raja', mengharap semata-mata kepada Allah, karena khauf tersebut.

3. Akan menumbuhkan kecintaan kepada Allah, dan kebenaran akan dipegang kuat. Dalam arti benar hatinya, benar matanya, benar telinganya, benar tutur katanya, dan benar perilakunya.

4. Akan menumbuhkan, diantaranya, al-haya' (malu) kepada Allah. Dan karena cinta kepada Allah dan Rasulullah, maka kita akan malu kepada Allah dan Rasul-Nya kalau berbuat yang bertentangan dengan perintah-Nya. Bagaimana kita tidak malu? kita sudah mendapatkan keutamaan dari Yang Maha Kuasa berupa nikmat keutamaan beriman dan ber-islam, melalui Baginda Nabi Muhammad SAW, sedang kenikmatan iman dan islam merupakan kenikmatan yang luar biasa dari Allah SWT. Maka, jika keutamaan tidak dipergunakan sebagaimana mestinya, akan tumbuh rasa malu kepada Allah dan Rasul-Nya.

5. Akan menumbuhkan sifat syukur kita kepada Allah terhadap segala nikmat yang diberikan kepada kita, seperti nikmat iman dan islam, bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, mana halal dan mana haram, akhlaq yang baik dan akhlaq yang buruk.

6. Sabar. Makna sabar akan menuntun kita agar terhindar dari bujukan hawa napsu, lebih-lebih godaan setan, yang selalu masuk kedalam hati kita. Pintu masuk setan terbuka apabila kita tidak bisa memelihara kesabaran, artinya kurang bisa menahan diri dalam memerangi hawa napsu.

7. Muhasabah, memperhitungkan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang menguntungkan atau merugikan diri kita masing-masing. Inti ilmu thoriqot adalah bagaimana dzikir yang kita baca itu dapat membersihkan hati kita dari sifat lupa kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena lupa, akan menimbulkan sifat takabur dan sebagainya.

Thoriqoh disini untuk membentengi segala hal dari perbuatan buruk, secara lahiriyah dan bathiniyah, terutama masalah kemusyrikan kepada Allah SWT. Supaya kita tidak terpengaruh atau masuk kedalam golongan orang yang menyekutukan Allah. Dzikirnya Lailahaillallah Muhammad Rasulullah. Sehingga terukir hiasan itu didalam hati dan menjadi sirr (rahasia) dan cahaya yang akan menangkis segala yang merusak iman dan islam kita.

Ilmu tasawuf adalah ilmu yang bisa digunakan manusia untuk membuat hati kita menjadi zuhud, yakni hati kita bersih dari hasrat kepada hal-hal yang duniawi. Namun bukan berarti kita kemudian tidak berurusan dengan keperluan duniawi sama sekali, menjadi orang yang eksklusif dan terus bersikap tertutup bahkan menjadi orang yang apatis terhadap dunia. Bukan itu, jangan salah paham! Umat islam dituntut jadi muzakki (pembayar zakat), beribadah haji, dan lain-lain. Kalau kita menjauhkan diri dari dunia, bagaimana kita mampu menjadi muzakki, melaksanakan haji dan lainnya? Marilah kita seperti ikan di laut, meskipun asin airnya, ikannya tidak ikut asin. Sedangkan masalah khodam tidak ada keterkaitannya dengan ilmu tasawuf. Sebab makna zuhud tidak ada keterkaitan hati selain Allah dan Rasul-Nya. 

Jadi, mana mungkin kita akan tertarik kepada khodam dan sebagainya? Tetapi kita tidak menolak adanya khodam. Karena khodam itu sendiri berasal dari malaikat, yang diciptakan oleh Allah SWT untuk menjaga isi Al-qur'an, sehingga sampai titik dan hurufnya pun tidak berubah. 
Walau demikian bukan berarti Al-qur'an perlu bantuan dijaga oleh malaikat, tetapi justru sebaliknya, para khadam itu mendapat kehormatan untuk menjaganya. Nah, barang siapa ahli membaca Al-qur'an, para khadam itu dengan seizin Allah akan melayani orang tersebut. Karena ikut menjaganya dalam bacaan. Khodam itu menghormati orang yang membaca Al-qur'an. Jadi, kita ber thoriqoh dan menuntut ilmu tasawuf bukan untuk sekedar menundukkan khodam. Bukan! 
Para khodam itu mendekat kepada kita karena bacaan Al-qur'an yang kita amalkan, bukan karena perbuatan yang lain. Dalam hal ini karena kita ikut menjunjung tinggi kehormatan Al-qur'an, bukan karena sebab dari kita. Para Auliya tidak ada yang Ta'alluq (terpaut hatinya) kepada ilmu khodam. 

Saya menyarankan, thoriqoh harus kita pegang, kita bersihkan hati kita dari hal-hal yang bersifat duniawi, tetapi kita tetap berurusan dengan dunia, sebatas kita mendapatkan bekal untuk beribadah.

Perbedaan ini bisa dikategorikan perbedaan antara Spiritual dan Supranatural.

Sufi dan Meditasi


Para Sufi

Tanya : Saya menemukan dalam buku Anda dan dalam wawancara yang saya baca, pendekatan guru Anda tampaknya lebih terkait dengan yoga daripada tasawuf, gagasan tentang chakra, kundalini, atman.

Jawab : Ya. Anda lihat tasawuf dan yoga adalah satu hal yang sama. Itu hanyalah kata-kata, dalam hikmah tidak ada bedanya. Semua ajarannya benar-benar sama. Itu hanyalah jalan yang berbeda menuju Yang Esa. Guru kami sering berkata, "Kamu bisa mendekati puncak gunung dari sungai, dari jalan raya, dari kota, dari laut, tapi puncak gunung itu akan selalu menjadi salah satu puncaknya." Tidak masalah, dan juga perkataan Sufi yang luar biasa ini, "Jalan menuju Tuhan itu sebanyak manusia, sebanyak nafas anak manusia." Dia mengatakan kepada kami bahwa itu adalah pepatah Sufi kuno dan itu berarti Anda tidak perlu mengubah agama siapa pun. Tak perlu kamu bilang Tuhanku lebih baik dari Tuhanmu. 

Seperti di Irlandia, aku akan membunuhmu jika kamu tidak percaya pada Tuhanku, sampah apa itu!  Yang ada hanyalah Yang Tak Terbatas, Tanpa Nama, dan Anda tidak dapat memenjarakannya dengan memberinya nama apa pun. Kita para Sufi, kita menyebut Tuhan Yang Tercinta. Ya Rahman Ya Rahim. Ini bukan hakim, bukan pencipta, itu adalah Kekasih jiwamu.

"Tenggelamkan pikiran dalam cinta" Itu indah.

Ilmu Tharekat Fir'aun

 

Di abad yang ke 15, dunia mengakui  bahwa kebangkitan Islam telah kembali. Perubahan sikap manusia sejagat yang telah lama tenggelam di dalam lamunan budaya kuning dan gila dunia telah berubah menuju ke arah pendekatan Islam. Mereka telah kembali ke pangkal untuk menerbitkan semula sinar kehidupannya dengan Allah Taala, Mereka kembali kepada Syariat nabi Muhammad s.a.w. malahan tidak kurang pula mereka ke arah jalan yang lebih tinggi untuk rnenjangkau ke alam mengenal diri dan mengenal Tuhan (ilmu Hakiki dan Makrifat).

Dunia umumnya dan negara khususnya, pengajaran ilmu Hakikat dan Tharekat tumbuh seperti cendawan, di sana-sini kita dengar ada saja orang mengajar jalan Hakikat dan Tarekat di samping belajar ilmu Hakikat dan Tarekat tersebut. Minat mereka untuk mempelajari jalan ini haruslah dipuji, karena dengan minat tersebut mereka akan rnenemui jalan sebenarnya jalan untuk mengenal akan dirinya dan Tuhannya.

Sesungguhnya jalan Tharekat dan Hakikat merupakan jalan yang pernah diterapkan oleh para Wali Allah untuk merapatkan diri mereka kepada Allah. Jadi perubahan sikap serta Kesadaran dikalangan masyarakat untuk mendalami ilmu Hakikat.  Kesadaran  meluas dikalangan orang-orang tua, para-para alim Ulama Syariat menyerap di hati,  Tumbuhnya Kesadaran dan Hidayah pertolongan dari Allah s.w.t. Seperti firman Allah Taala : An-Nasr – 1-3

اِذَا جَآءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُ وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًا

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا

"Apabila talah pertolongan Allah dan kemenangan dan kamu lihat manusia masukan agama Allah dengan berduyun-duyun, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepadaNya, sesungguhnya Dialah maha penerima Taubat“

Dimulai dari satu pusat Tharekat ke pusat Tharekat, dari satu pusat Hakikat satu pusat pembelajaran Hakikat, dari seorang Mursyid kepada seorang Mursyid yang lain. Pengajaran Tharekat dan Hakikat terus tumbuh di seluruh pelosok negara kita. Bermacam nama Tharekat timbul di sana-sini, di sana Tarikatnya bernama ini dan di sini pula bernama itu. Sesungguhnya pertubuhan pusat-pusat pengajian ilmu ini harus menjadi kebanggaan kepada masyarakat kita yang celik dan dapatlah mengerti bahawa luasnya ilmu pengetahuan Allah s.w.t. di muka bumi ini. Akan tetapi tidak kurang pula di kalangan pengajar-pengajar iimu Hakikat, memesongkan pembelajaran ilmu ini, menyimpang jauh dari pada jalan Tarikat dan Hakikat yang mempunyai persambungan mata rantai dengan Rasulullah s.a.w dan para-para sahabatnya.

Sebahagian yang diterangkan pada bab-bab yang lain bahawa jika sekiranya satu-satu pengajian ilmu Tarikat dan Hakikat yang tidak mempunyai persambungan dan bermata rantai dengan Rasulullah s.a.w maka satu-satu Tarikat itu bolehlah disifatkan sebagai jalan Tarikat dan jalan Hakikat palsu dan rekaan semata-mata. Sesungguhnya dewasa ini terdapat di kalangan tertentu yang menggelarkan diri mereka sebagai guru-guru Pengajian Tarikat dan Hakikat berserta anak-anak muridnya yang berpegang dengan satu pemahaman palsu, di mana mereka berpegang konsep, bahawa mereka tidak pertu lagi menunaikan tanggungjawab syariat selepas orang itu menceburkan diri ke alam IImu Hakikat. Mereka tidak perlu menunaikan solat, tidak perlu lagi puasa dan sebagainya, malahan tidak kurang pula menghalalkan diri mereka untuk melakukan zina dengan perempuan yang tidak dinikahinya. Sesungguhnya pemahaman seperti inilah yang menjadi kebimbangan junjungan besar kita Nabi Muhammad saw di mana baginda sangat-sangat yang umatnya akan berpecah kepada 73 golongan yang kesemuanya akan disumbat dalam neraka kecuali satu golongan saja yang akan dlkurniakan Syurga. Sesungguhnya di dalam pengajian ilmu Tarikat dan Hakikat. Tidak ada satu jalan pun untuk membolehkan orang-orang yang beriman dan berilmu ini dapat melepaskan diri mereka daripada Syariat Muhammad s.a.w. selagi dirinya berjasad, waras fikirannya dan masih makan minum sebagaimana makan minumnya orang awam.

Maka selama itulah mereka sekali-kali tidak boleh meninggalkan Syariat tubuh itulah yang mengandungi rahsia Allah s.w.t, selagi adanya tubuh dan masih dikatakan hidup, maka selama itulah syariat meliputi batang tubuh seseorang itu. Sesungguhnya Syariat itu adalah pakain bagi jasad, Tarikat itu adalah jalan bagi hati, dan hakikat itu adalah pegangan Nurani dan Makrifat itu adalah tunjangan bagi qalbun. Adapun kita mengatakan Tarikat dan Hakikat Firaun adalah disebabkan manusia-manusia yang mengakui bahawa dia adalah “Tuhan”, adalah sama seperti Firaun kerana Firaun adalah seorang manusia yang mengakui dirinya adalah “Tuhan”. Firaun mendabik dada dan memperakui dengan mulutnya bahawa “Dialah Tuhan”, seraya berkata. “Kalau hendak kenaI Tuhan inilah Dia ……….

Begitulah dengan kebanyakan orang yang menjalani Tarikat dan Hakikat Firaun, mendabik dada dan apabila ditanya dimanakah yang dikatakan tuhan itu ……. ! Lantas mereka menjawab inilah tuhan, sambil menunjukkan jarinya ke dada mereka. Dalam hal ini, ilmu baru sejengkal sudah cuba menduga lautan ilmu yang dalam. Tidak sedar dia itu kambing hendak berak seperti gajah. Banyak lagi telatah-telatah yang curang dan biadab yang ditunjukkan oleh anai-anai Hakikat danTarikat Firaun yang cuba meruntuhkan dirinya sendiri. Dari mana asalnya usul galur ilmu mereka tidaklah pula kita ketahui, tetapi dapat dijelaskan tidak ada satu pendapat ulama. Para para “ulama” Tasauf yang muktabar sama ada di zaman dahulu ataupun sekarang yang memberi peluang, bahawasanya orang yang belajar Tarikat dan Hakikat yang hidup berjasad, berumah tangga, kencing berak, makan minum seperti orang awam, boleh meninggalkan syariat ataupun memerdekakan dirinya daripada Syariat Muhammad s.a.w., walaupun ianya seorang yang bermartabat tinggi.

Sesungguhnya, Junjungan Besar Nabi Muhammad s.a.w. beristeri, makan minum seperti orang awam. Baginda telah mendapat restu dan keredaan besar dari pada Allah. s.w.t. dan maksum dari segala-galanya, terbukti tidak pernah meninggalkan syariat. Baginda menunaikan sembahyang dan puasa sebagaimana orang biasa. Kalau hendak dikira Rasulullah itu letaknya pada martabat wali mana? Kalau makam, makam mana? Sudah tentu, kita akan menjawab pada makam dan martabat yang tertinggi di alam maya ini. Apa hal dengan kita yang bukan Nabi, juga bukan Rasul dan tinggi mana pula makam dan martabat kita? Lantas-Iantas hendak mendabik dada dan meninggalkan syariat. Alangkah mudahnya mereka belajar jalan Tarikat dan Hakikat, dan mengenal tuhan bagaikan belajar mengenal buah hulu (baulu) di Pasar besar. Hendak kenal buah hulu (baulu) pun sudah payah, mesti menuntut untuk mengetahui mana pokoknya? Mana dahannya? Mana bunganya? Datang-datang wujud buah……..Nah! inilah buahnya.

Tuhan dan mengenal diri, bukan semudah itu cek oi …….. . Dimanakah kita hendak persalahkan masalah ini. Kepada guru ataupun kepada murid, sedangkan ilmu Hakikat dan Tarikat adalah ilmu yang sebenar. Mungkin atau sengaja silap guru kerana mengajar ilmu yang salah, mengajar satu-satu ilmu yang tidak dialaminya sendiri iaitu mursyid dan mendabik dada. Akulah orang tinggi di dalam hakikat dan tarikat sedangkan dia mengajar satu ilmu yang dia sendiri tidak pernah mengalaminya dan tidak pula sampai ke martabat untuk diijazah mengajar orang lain. Ataupun guru-guru tersebut tidak menerangkan secara yang jelas dan terang kepada muridnya sehingga terbentuk satu kefahaman yang sebenar keliru, supaya maksud dan hujung jatuh penerangan kepada sesuatu hal yang berkaitan jalan Hakikat dan Tarikat Itu sampai ke maksud sebenar guru yang berkenaan. Lantas muridnya mengambil satu pemahaman yang tidak betul dan diamal kembali oleh murid yang berkenaan mengikut rasa, dan selera naluri sendiri. Terpesonglah murid Itu dari landasan Hakikat dan Tarikat yang berkenaan.

Kemungkinan juga penyelewengan ilmu hakikat dan tarikat ini timbul kerana kesilapan murid, kerana sebelum menuntut satu-satu Ilmu Hakikat dan Tarikat, tidak meneliti dahulu usul galur jalan Tarikat dan Hakikat tersebut, daripada orang yang hendak diperguruinya. Samaada satu-satu jalan itu mempunyai persambungan rantai yang bersambung dari seorang guru kepada seorang guru yang lain dari seorang Wali Allah kepada Wali Allah yang lain, sampailah kepada akar umbi, para-para sahabat dan Rasulullah sendiri. Kemungkinan juga kesesatan ini timbul akibat daripada silapnya murid mengambil jalan singkat dan membuat pemahaman sendiri tanpa dirujuk kepada guru tentang sesuatu hal yang berkaitan tentang kaedah-kaedah perjalanan Tarikat dan Hakikat. Kemungkinan juga faham yang menimbulkan tarikat dan Hakikat Firaun, mereka yang mengakui bahawa guru di mana mereka mengajar murid-muridnya terlebih dahulu mendapatkan ijazah daripada guru asalnya.

Mereka mengajar ikut perasaan mereka sendiri. Mereka sendiri yang kenal diri yang memang layak mengajar sedangkan sebenarnya ilmu yang diperolehinya belum sampai kemana-mana, maka guru semacam ini bukan dinamakan guru mursyid, ianya adalah guru auta ataupun guru pusing alam. Pada sudut yang lain, kemungkinan timbulnya jalan Hakikat dan Tarikat fir’aun dari golongan-golongan opportunis (Munafik) yang ingin mengambil kesempatan kepada muridnya untuk menjadi batu loncatan bagi mencapai satu-satu matlamat demi kepentingan peribadi. Dengan menjadikan medan ilmu ini sebagai tempat penyambung nyawa mereka. Lantaran amalan jenis Tarikat dan Hakikat Firaun ini, ramai di kalangan masyarakat yang mempunyai niat untuk merapatkan diri mereka dengan Allah s.w.t. terpesong kesuatu jalan yang sesat dan mereka ini akan kerugian di dunia dan akhriat. Oleh itu wahai anak cucuku jauhilah dirimu daripada amalan Tarikat dan Hakikat Firaun ini. Semoga kita bersama di berkati oleh Allah dinaikkan pangkat darjat olehNya di dunia dan akhirat. Dan sedarlah wahai Insan bahawa sesuatu amalan yang tidak memiliki persambungan dengan Rasulullah s.a.w. adalah batal dan karut semata-mata.

Kita Bharu Kelantan

 


Baiat Atau Talqin Kepada Mursyid Tharekat

Harus dipahami bahwa jalan kemuridan, jalan inisiasi, tidak sedemikian rupa sehingga guru memberikan beberapa pengetahuan kepada muridnya, mengatakan kepadanya sesuatu yang baru yang belum pernah dia dengar sebelumnya, atau menunjukkan kepadanya suatu keajaiban; jika dia melakukannya, dia bukan guru sejati. Manusia sesungguhnya adalah gurunya sendiri; dalam dirinya adalah rahasia keberadaannya. Kata-kata guru hanya untuk membantunya menemukan dirinya sendiri, Pemurnian Mental, dan Penyembuhan..... Tugas dari guru Sufi bukanlah untuk memaksakan keyakinan pada murid, tetapi untuk melatihnya sehingga dia dapat menjadi cukup bersinar untuk menerima wahyu sendiri. Mistisisme, Jalan Inisiasi dan Pemuridan. Setiap Nama adalah setetes yang berisi seluruh samudra. Anda akan menemukan Dia yang tinggal di hati setiap nama. 

Semua ciptaan adalah ekspresi lahiriah dari Kehadiran Satu Batin. Menembus jantung hanya setetes air, dan Anda akan dibanjiri oleh ratusan samudra. Jangan mengatakan hal lain, ulangi kata itu berulang kali, berkali-kali. 

Akhirnya itu akan kehilangan semua makna, tetapi memiliki arti yang sama sekali baru. Tuhan akan membuka pintu dan Anda akan menemukan diri Anda menggunakan kata sederhana itu untuk mengatakan semua yang ingin Anda katakan.

Untuk mengatakan " aku mencintaimu melebihi sisa hidupku "

Jalan Murid Tharekat


Latihan Tharekat hanya membuka jalan dari yang tampaknya tertutup menuju keilahian yang bersemayam di dalam tubuh manusia. Begitu Anda menemukan kenyataan ini, semua Zikir dan pemujaan lahiriah menjadi sia-sia.

Harus dipahami bahwa jalan kemuridan, jalan inisiasi, tidak sedemikian rupa sehingga Mursyid memberikan beberapa pengetahuan kepada muridnya, mengatakan kepadanya sesuatu yang baru yang belum pernah dia dengar sebelumnya, atau menunjukkan kepadanya suatu keajaiban; jika dia melakukannya, dia bukan guru sejati. Manusia sesungguhnya adalah gurunya sendiri; dalam dirinya adalah rahasia keberadaannya. Kata-kata guru hanya untuk menghantarkan dan membantunya menemukan dirinya sendiri.

Guru adalah ia yang dapat menjadi jalan, menghantarkan yang akan berada di antara Anda dan Sang Ilahi - sebuah pintu dimana Anda dapat melihat kilasan Ilahi. la tahu tidak sekedar pengetahuan tetapi lewat pengalaman. PengalamanNya telah mengubahNya, membawaNya ke "dunia lain". Akibatnya adı Sang Guru berada di dua realitas secara bersamaan. la adalah paradoks. Satu kakiNya menjejak dunia, sementara kaki yang lain ada di dalam Sang Ilahi. Di satu sisi la seperti Anda tapi di sisi lain la adalah kebalikan dari Anda. Guru adalah sebuah paradoks. Hanya melalui paradoks dari Sang Guru inilah, Anda akan dapat mencapai Sang Ilahi, tidak ada cara lain.