Martabat Tujuh lanjutan

Martabat 7 adalah ajaran Tasawuf yang menjelaskan proses penciptaan alam semesta dan manusia dari pancaran sifat Allah SWT dalam tujuh tingkatan wujud. Konsep ini bersumber dari kitab At-Tuhfah al-Mursalah karya Muhammad al-Burhanpuri dan populer di Nusantara sejak abad ke-17.

Banyak orang mengira Martabat Tujuh adalah ilmu mistik, ilmu kesaktian, atau ajaran yg sakral. Padahal... Martabat Tujuh adalah peta perjalanan wujud. Peta untuk memahami dari mana manusia berasal, sedang berada di mana, dan hendak pulang kemana. Kata martabat berarti tingkatan atau jenjang keberadaan. 

Sedangkan angka tujuh menggambarkan tahapan Tajalli (penampakan) wujud dari yang Maha Mutlak hingga manusia sempurna. 

Dalam Martabat Tujuh sebenarnya sedang mengatakan yang sederhana yaitu manusia bukan sekedar tubuh. Tubuh hanyalah lapisan terakhir dari perjalanan panjang ruh, sebelum menjadi jasad, ada perjalanan yang jauh lebih tua. Dan setelah tubuh selesai menjalankan tugasnya, perjalanan ruh pun tidak berhenti.

Untuk Peradaban modern hanya mengakui Alam Jasmani. Yang dianggap nyata hanyalah yang bisa difoto, bisa ditimbang, bisa diukur dan bisa dibeli dan akibatnya manusia sibuk dengan tubuh saja, tapi lupa membersihkan jiwa nya.

Sibuk membangun rumah, tetapi lupa membangun bathin. 

Sibuk mengejar jabatan, tetapi lupa mengenal dirinya sendiri.

Dalam Kehidupan tidak berhenti pada alam materi, tapi memiliki tingkatan keberadaan yang lebih halus. Semua itu bukan untuk tahu tentang alam ghaib, melainkan agar memahami asal-usul dan tujuan penciptaan manusia. 

Jadi Martabat Tujuh adalah peta dirimu sendiri. Anda lahir sebagai manusia dan tubuhmu memang tinggal di Alam dunia, tapi ruhmu diciptakan untuk terus bertumbuh hingga memantulkan Cahaya Insan Kamil.


Pangeran Jaga Lautan Pulau Cangkir Kronjo Banten


Beliau dilahirkan di Cirebon pada tahun 1479,  Anak kedua perkawinan antara Syekh Syarief Hidayatullah dengan Nyi Kawung Putri Ki Gendeng Anten. Kemudian pada tahun 1526, Pangeran Hasanuddin menikah dengan putri mahkota Sultan Trenggono (Nyi Ratu Ayu Kirana). Setelah menikah beliau dinobatkan menjadi
Sultan Banten Pertama Oleh Sultan Trenggono (demak III) pada tahun 1552 saat berusia 37 tahun.
Pada tahun 1570 beliau wafat dalam usia 91 tahun (1479-1570),  dimakamkan di samping Mesjid Banten.
Silsilah Waliyullah Pangeran Jaga Lautan Pulau Cangkir

A. Maulana Hasanuddin dengan Nyi Ayu Kirana, mempunyai 3 anak yaitu
1. Ratu Fatimah
2. Pangeran Yusuf 
3. Pangeran Arya Jepara

B. Maulana Hasanuddin dengan Raja Indra Pura, mempunyai 1 anak yaitu
1. Pangeran Sabrang Wetan

C. Maulana Hasanuddin dengan Putri Demak, mempunyai 4 anak yaitu
1. Pangeran Suniraras (Tanara)
2. Pangeran Pajajaran
3. Pangeran Pringgalaya
4. Ratu Ayu Kamudarage

D. Maulana Hasanuddin dengan Selir, mempunyai 8 anak yaitu
2. Ratu Keben
3. Ratu Terpenter
4. Ratu Wetan
5. Ratu Biru
6. Ratu Ayu Arsanengah
7. Pangeran Pajajaran Wadho
8. Tumenggung Walatikta


Diedarkan Oleh Pengurus Kramat Pulau Cangkir. Mudah-mudahan bermanfaat

Martabat Tujuh


Martabat Tujuh adalah tujuh tingkat tajalli (penampakan) dari Dzat Allah menuju alam makhluk, dan dari makhluk kembali mengenal Dzat-Nya. Bukan tujuh “tempat”, tetapi tujuh tahap kesadaran wujud. 

1. 𝘼𝙝𝙖𝙙𝙞𝙮𝙖𝙝 (Keesaan Mutlak). Keadaan Dzat murni – tanpa nama, tanpa sifat, tanpa bentuk, tanpa arah.  Tidak ada selain Dia. Tidak ada “Aku”, tidak ada makhluk, tidak ada malaikat, tidak ada alam. Tidak bisa dibayangkan atau diungkapkan. Inilah kesunyian absolut, “La ta‘ayyun” (tanpa penampakan). Kesadaran batin - Hening total.  Rasa “aku” hilang. Yang ada hanya ADA. 

2. 𝙒𝙖𝙝𝙙𝙖𝙝 (Kesatuan Pertama) Dzat mulai menyingkap diri-Nya sebagai Ilmu. Masih belum ada makhluk. Hanya “pengetahuan Allah tentang segala sesuatu.” Seperti cahaya akan muncul, tapi belum memancar . Kesadaran batin - Timbul rasa kesatuan, namun belum ada “rupa'. Seperti gelombang halus sebelum suara terdengar. 

3. 𝙒𝙖𝙝𝙞𝙙𝙞𝙮𝙖𝙝 (Kesatuan Kedua – Tajalli Sifat) Nama-nama dan sifat-sifat Ilahi mulai tampak dalam ilmu Allah. Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Qadir, Al-Alim, dll. Belum “tercipta”, tetapi potensi semua makhluk telah berada di tingkat ini.  Kesadaran batin - Melihat bahwa segala yang terjadi adalah sifat-sifat-Nya yang bekerja dalam alam.

4. 𝘼𝙡𝙖𝙢 𝘼𝙧𝙬𝙖𝙝 (Ruhaniyah) Tajalli cahaya ruh-ruh. Cahaya-cahaya ruh tercipta. Ruh Adam, ruh para nabi, ruh manusia. Tidak ada jasad. Alam kelembutan. Kesadaran batin- Merasa hidup, bergerak, sadar – tetapi belum merasa “berbadan”. Energi murni. 

5. 𝘼𝙡𝙖𝙢 𝙈𝙞𝙩𝙨𝙖𝙡 - Alam Ajsam Latifah (Imaginatif) Alam rupa halus, bayangan, bentuk-bentuk non-fisik. Mimpi, visi ruhani, simbol-simbol. Tubuh masih halus, bukan materi. Alam Jabarut dan Malakut bercampur. Kesadaran batin - pengalaman mimpi terang, firasat, visi simbolis, petunjuk. 

6. 𝘼𝙡𝙖𝙢 𝘼𝙟𝙨𝙖𝙢 (Materi Nyata – Syahadah) Dari cahaya turun menjadi bentuk fisik. Tubuh manusia, hewan, alam semesta, waktu, ruang. Inilah dunia yang kita tempati sekarang. Kesadaran batin- Merasa terpisah, merasa “aku”, merasa dunia nyata adalah satu-satunya. 

7. 𝙄𝙣𝙨𝙖𝙣 𝙆𝙖𝙢𝙞𝙡 (Manusia Sempurna) – Kembali ke Dzat Puncak martabat- manusia menjadi cermin sempurna bagi sifat dan nama Allah. Menyaksikan bahwa realitas dirinya dan alam adalah tajalli Allah. Menyatunya Syariat – Tharekat – Hakikat – Makrifat. Bukan hilang menjadi Tuhan, tetapi sadar bahwa tiada wujud kecuali Wujud-Nya. Kesadaran batin - Fana dalam Dzat (hilangnya aku), Baqa Billah (tetap dengan-Nya), dan hidup kembali membawa cahaya kepada manusia. 

RANGKUMAN SINGKAT 

Martabat Nama Penjelasan 

1.Ahadiyah Dzat murni, tanpa nama & sifat 

2 .Wahdah Ilmu Allah, kesatuan pertama 

3.Wahidiyah Nama & sifat Ilahi tampak 

4 .Arwah Alam ruh, cahaya murni 

5.Mitsal Alam rupa halus - mimpi 

6.Ajsam Alam materi fisik 

7.Insan Kamil Kesempurnaan manusia sebagai cermin 𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝

Syaikh Abdul Karim Agung Tanara Banten

Perjalanan Wisata Ziarah kali ini Menuju Makam Yang diyakini Ayahanda dari
Syaikh Abdul Karim Tanara, Penyebar Tarekat Qodoriyah Naksabandiyah.






Tidak banyak sejarah yang menceritakan dan tempat kelahiran Syekh Agung Abd Karim Tanara - Banten,
Mungkin sengaja dikaburkan semenjak perlawanan terhadap Belanda sehingga sampai sekarang, tidak banyak yang diungkap tentang sejarahnya. Makam kedua orang tua Guru Tarekat ini sebetulnya sudah penulis temukan semenjak tahun 2002, tetapi hanya berbentuk prasasti yang ditancapkan di tanah dan letaknya dulu di area persawahan, tidak seperti sekarang yang sudah di bangun untuk para peziarah. Dua makam tersebut bernama Syekh Bukhori dan Syaikh Muafa, Mereka di yakini orang tua dari Syaikh Abd Karim. Makam tersebut berada di arah barat Mesjid Agung Tanara dan Makam Syaikh Sunya Raras, anak dari Syaikh Maulana Hasanudin Banten.
Para sepuh menyebut Tanahara bukan Tanara.
Ada juga di lingkungan Mesjid Agung Tanara, Petilasannya Syekh Nawawi
yang menjadi Ulama Besar di Mekah dan Pengarang Kitab.

                                          
 Gbr. Masjid Agung Tanara - Banten


Syaikh Abdul Karim Tanahara, Peletak Tharekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

Mursyid Tharekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah terakhir yang mampu menyatukan kepemimpinan keseluruhan cabang tarekat itu. Dia murid dan salah satu khalifah Syaikh Ahmad Khatib Sambas, penyusun Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. 
Lewat Syaikh Abdul Karim yang berpusat di Banten, Tharekat ini tersebar ke berbagai daerah di Nusantara. Tidak hanya dalam soal olah batin, lingkaran tarekat Abdul Karim juga terkenal  karena sebagian murid terdekatnya dihubungkan dengan pemberontakan petani melawan Belanda tahun 1888.
Tahun kelahirannya tidak banyak diketahui, tetapi sebuah sumber memperkirakan dia dilahirkan pada tahun 1830 M/1250 H. di desa Lampuyang, Serang, Banten. Nama orang tua dan masa pendidikan kecilnya juga tidak banyak diketahui, kecuali dia tinggal di daerah Banten. Tokoh ini dikenal kemudian belajar ke Mekkah, sezaman dengan para sahabat yang ditemuinya, yaitu Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikhona Muhammad Cholil, Syaikh Mahfudz at-Tirmasi, dan lain-lain.
Di Kota Mekkah ini, dia belajar di antaranya kepada Syaikh Ahmad Khatib Sambas yang saat itu sudah menjadi pengajar di Masjidil Haram, sekaligus mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dari bimbingan Syaikh Ahmad Khatib Sambas ini, Syaikh Abdul Karim Tanahara mumpuni di bidang ilmu tasawuf, dan diangkat sebagai salah satu khalifahnya.
Selain Syaikh Abdul Karim, Syaikh Ahmad Khatib juga dikenal mengangkat beberapa khalifah untuk menyebarkan tarekatnya ke Nusantara, yaitu: Syaikh Tholhah Cirebon dan Syaikh Ahmad Hasbullah al-Maduri yang tinggal di Mekkah. Beberapa murid Ahmad Khatib juga mengajarkan Qadiriyah wa Naqsyabandiyah meskipun tidak ada keterangan apakah benar-benar telah diangkat sebagai khalifah ataukah sekadar sebagai badal.
Setelah memperoleh ilmu di Mekkah, Abdul Karim kembali ke Banten, diperkirakan pada tahun 1860-an, kemudian mendirikan pesantren dan menyebarkan tarekat yang diperoleh dari gurunya. Nama pesantrennya, sayang  tidak diketahui, kecuali hanya informasi bahwa pesantren ini berkembang dan murid-murid tersebar di berbagai pelosok Banten dan daerah lain.
Di antara murid-muridnya adalah Syaikh Tubagus Muhammad Falak Pandeglang. Para pejabat pemerintah juga menghormatinya, karena Syaikh Abdul Karim telah menjadi tokoh terkenal, karismatik, dan oleh masyarakat disebut sebagai Kiai Agung dan waliyullah.
Pada saat dia tinggal di Banten ini, kondisi sosial masyarakat tengah terhimpit oleh pemerintah kolonial, utamanya di kalangan petani. Semangat melakukan perlawanan telah muncul lama di kalangan masyarakat, hingga sebagian murid-murid dan tokoh-tokoh di Banten ingin melakukan pemberontakan kepada pemerintah kolonial. 
Sebagai tokoh karismatik, dia selalu dimintai restu oleh tokoh-tokoh Banten, baik pejabat pemerintah maupun para pemimpin perancang pemberontakan. Beberapa muridnya yang kemudian dianggap berperan dalam mengajak pemberontakan adalah Tubagus Ismail dan H. Mardjuki (yang menjadi salah satu khalifahnya dalam Tharekat).
Hanya saja, sebelum pemberontakan benar-benar pecah di Banten tahun 1888, Abdul Karim pergi ke Mekkah, diperkirakan terjadi pada tahun 1876, setahun setelah meninggalnya Ahmad Khatib Sambas. H. Mardjuki kemudian juga menyusul pergi ke Mekkah sebelum pemberontakan terjadi.
Di Mekkah, Syaikh Abdul Karim semakin dipandang sebagai khalifah yang ditaati oleh para khalifah yang telah diangkat Syaikh Ahmad Khatib. Sampai akhir hayatnya, dia tinggal di Mekkah dan memimpin Tharekat ini, tetapi angka tahunnya tidak diketahui pasti. Sepeninggal beliau Tharekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah tidak memiliki pemimpin tunggal yang ditaati oleh seluruh anggota dan hanya menjadi kelompok Tharekat dengan kepemimpinan lokal, meskipun memiliki pengikut yang sangat besar. (Sumber: Ensiklopedia NU)





Pangeran Wijaya Kusuma Jakarta Barat



Habib Husein bin Abubakar Alaydrus Penjaringan Jakarta Barat


Tokoh ini tak bisa dilepaskan dari keberadaan bangunan bersejarah Masjid Jami Keramat Luar Batang yang berada di wilayah Penjaringan, Jakarta Utara.

Habib Husein merupakan seorang ulama dan pendakwah asal Hadramaut, Yaman yang datang ke Indonesia tempatnya ke Batavia pada tahun 1736. Habib Husein dikenal sebagai ulama zuhud namun sangat disegani oleh tentara kolonial Belanda. Kemudian, Habib Husein mendirikan mushola yang kini dikenal sebagai Masjid Luar Batang pada tahun 1739 sebagai tempat berdakwah.

Habib Husein adalah seorang ulama dari Hadramaut. Awalnya Masjid Luar Batang memiliki nama Masjid An-Nur. Namun masjid berubah saat Habib Husein wafat di tahun 1756 dan dimakamkan di area masjid yang kini selalu ramai peziarah. wafat nya beliau berkali-kali dibawa ke pemakaman tiba-tiba jenazah hilang dan sudah ada di area masjid yg akhirnya dimakamkan area masjid tersebut. Sesuai peraturan pada masa itu, bahwa setiap orang asing harus dikuburkan di pemakaman khusus di Tanah Abang. Jasad Habib Husein pun diusung dengan kurung batang (keranda). Namun, keanehan justru terjadi manakala keranda tiba di lokasi pemakaman. Sesampainya di pekuburan, jenazah Habib Husein justri raib dari dalam kurung batang. Jenazah tersebut malah ditemukan di tempat tinggalnya semula.

Masyarakat mengistilahkan bahwa jasad Habib Husein keluar dari kurung batang. Para pengantar jenazah mencoba kembali mengusung jenazah Habib Husein ke pekuburan Tanah Abang, namun lagi-lagi jasadnya kembali ke tempat semula. Kini, Masjid Luar Batang tak pernah sepi oleh para peziarah yang datang dari berbagai daerah bukan hanya warga Jakarta saja.