Konsep mengenal Diri

Manusia sering mengira bahwa menjadi diri sendiri berarti mengikuti apa pun yang dirasakan di dalam dirinya. Padahal tidak sesederhana itu.

Di dalam diri kita ada banyak suara: ada keinginan, ketakutan, ambisi, luka, ego, tekanan sosial, kebiasaan, dan ada pula suara hati. Semuanya bisa terdengar seperti “aku”. Karena itu, tidak setiap suara dari dalam layak disebut fatwa hati.

Maka prosesnya dimulai dari berhenti. Jangan langsung mengikuti apa yang terasa. Dengarkan terlebih dahulu : ini keinginan siapa? Ini benar-benar nilai yang kupercaya, atau hanya keinginan untuk dipuji? Ini keberanian, atau sekedar ego? Ini prinsip, atau hanya luka yang ingin membalas?

Setelah itu datang akal. Hati didengarkan, tetapi tidak dibiarkan sendirian. Akal menguji : apakah dorongan ini masuk akal, apakah ia melanggar prinsip yang benar, apakah ia merugikan orang lain, dan apakah ia tetap terasa benar ketika emosi sudah mereda?

Kemudian datang wahyu dan nilai moral sebagai batas. Karena manusia bisa salah membaca dirinya sendiri. Sesuatu bisa terasa sangat meyakinkan tetapi tetap salah. Dalam penelitian tentang moral intuition pun, intuisi moral dipahami sebagai proses yang melibatkan reaksi emosional sekaligus penilaian kognitif bukan sekadar “perasaan pasti benar”.

Barulah kita kembali kepada hati. Setelah nafsu ditenangkan, emosi diberi jarak, akal bekerja dan prinsip diperiksa, sering kali tersisa sesuatu yang lebih sederhana: “Aku tahu apa yang harus kulakukan.”

Itulah yang menarik dari konsep fatwa hati. Ia bukan suara yang paling keras, tetapi suara yang tetap ada setelah kebisingan di dalam diri berkurang.

Dan mungkin di sinilah kedamaian itu muncul. Bukan karena keputusan yang kita ambil selalu mudah. Kadang justru keputusan yang benar membuat kita kehilangan sesuatu. Tetapi ada perbedaan antara sakit karena menjalani sesuatu yang diyakini benar dan gelisah karena hidup bertentangan dengan sesuatu yang kita yakini benar.

Psikologi modern punya istilah yang cukup dekat dengan fenomena ini : self-concordance yakni ketika tujuan yang kita kejar selaras dengan nilai dan motivasi yang benar-benar kita miliki. Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa tujuan yang lebih selaras dengan diri berkaitan dengan usaha yang lebih berkelanjutan dan kesejahteraan yang lebih besar ketika tujuan itu tercapai.

Penelitian lain juga menemukan bahwa konflik tujuan, ambivalensi, dan ketidaksesuaian antara diri aktual dengan diri yang ingin atau merasa harus dijalani berkaitan dengan menurunnya kesejahteraan.

Jadi kedamaian bukan selalu tanda bahwa keputusan kita benar. Tetapi ketika seseorang semakin hidup selaras dengan nilai terdalamnya, konflik bathin cenderung berkurang. Di situlah kalimat “menjadi dirimu sendiri sebagaimana yang dikehendaki Tuhan” menemukan maknanya.

Menjadi diri sendiri bukan mengikuti semua yang ada di dalam diri. Melainkan membersihkan diri dari apa yang bukan dirinya, sampai ia mampu mengenali siapa dirinya di hadapan Tuhan.

Maka “jabatan tertinggi” manusia mungkin bukan menjadi orang yang paling tinggi kedudukannya di mata manusia, melainkan mencapai keadaan ketika tidak lagi diperintah oleh nafsu, tidak diperbudak oleh penilaian manusia, dan tidak mengkhianati suara hati yang telah dijernihkan oleh akal dan petunjuk Tuhan.

Di sana seseorang tidak sekedar hidup sesuai keinginannya. Ia hidup sesuai dengan apa yang ia yakini sebagai kebenaran dan karena itulah hatinya memperoleh tempat untuk tenang.