Perjalanan ke dalam diri dimulai ketika seseorang berhenti menyalahkan keadaan dan mulai bertanya kepada dirinya sendiri. Mengapa aku mudah marah? Mengapa aku selalu takut kehilangan? Mengapa aku begitu haus akan pengakuan? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak selalu nyaman dijawab, tetapi di situlah pertumbuhan dimulai.
Orang yang berani melihat dirinya dengan jujur akan menemukan bahwa musuh terbesar dalam hidup sering kali bukan orang lain, melainkan ego, ketakutan, dan hawa nafsu yang bersemayam di dalam dirinya sendiri.
Menariknya, semakin seseorang mengenal dirinya, semakin luas pula cara ia memandang dunia. Ia menjadi lebih mudah memahami bahwa setiap orang sedang memikul beban yang berbeda. Ia tidak lagi terburu-buru menghakimi, karena tahu bahwa dirinya pun penuh dengan kekurangan. Ia lebih mudah berempati, karena telah mengenal rasa sakit di dalam dirinya sendiri.
Pengalaman batin membuat pandangannya melampaui batas-batas geografis. Meski tidak pernah menginjakkan kaki di banyak tempat, ia mampu memahami manusia dari berbagai latar belakang karena telah terlebih dahulu memahami hakikat dirinya sebagai manusia.
