Spritual dipusat kekuasaan Indonesia.

Presiden Prabowo beberapa waktu lalu melakukan prosesi penyiraman air kembang ke pesawat tempur Dassault Rafale dan pesawat Falcon 8X yang baru dibeli. Orang-orang, terutama kalangan rasional, tentu bereaksi negatif terhadap prosesi ini. Tuduhan klenik pun sering kita dengar. Namun sebenarnya kekuasaan di Indonesia tidak pernah jauh dari unsur spiritual dan  klenik atau ghaib. Contoh paling jelas tentu pada mertua Prabowo, yaitu pak Harto. 

Dalam konteks spiritual yang tidak rasional, sudah menjadi rahasia umum kekuasaan Pak Harto juga ditopang dengan upaya-upaya spiritual atau disebut “klenik” oleh para pengkritiknya. Akar klenik rezim Orde Baru ini sudah muncul sejak Soeharto belum berkuasa, dan sejak ia berteman dengan Soedjono Hoemardani dan menjadi murid dari Raden Panji Soediyat Prawirokoesoemo (Romo Diyat) Tokoh spiritual dan Sesepuh kebatinan Jawa yang berpusat di Semarang yang memimpin Paguyuban Nawangsasi. 

Ada sebuah kisah yang sangat populer di kalangan penghayat kebatinan Jawa bahwa jauh sebelum Soeharto menjadi presiden (ketika masih menjadi perwira menengah di Kodam Diponegoro), Romo Diyat sudah membaca tanda-tanda alam (sasmita). Romo Diyat memerintahkan Soedjono untuk "menjaga dan nempel" kepada Soeharto. Romo Diyat meramalkan bahwa Soeharto kelak akan menjadi penguasa kuat di Indonesia. Menurut Ricklefs dalam buku Mengislamkan Jawa (2013), Romo Diyat menjadi guru kerap memimpin ritual Soeharto di tempat bernama Jambe Pitu di Gunung Selok, Pantai Selatan Jawa.

Kisah lisan dari kerabat mengatakan bahwa sebelum meninggal pada 1986, Romo Diyat jauh-jauh hari sudah memberikan isyarat halus bahwa pemilu 1987 adalah pemilu terakhir untuk jadi presiden dan jangan lagi mencalonkan diri pada Pemilu selanjutnya (1992) karena "wahyu kekuasaannya" sudah berangsur pergi. Namun, karena bujukan lingkaran dekatnya yang beraliran rasional-politik, Soeharto tetap maju, yang pada akhirnya berujung pada kejatuhan tragisnya di tahun 1998.

Meski Romo Diyat ini adalah sosok utama dalam lingkaran spiritual Pak Harto, namun yang terkenal di tingkat nasional adalah Soedjono Hoemardani. Dia masuk tentara dan pangkat terakhir adalah mayor jenderal, dan menjadi menteri ekonomi dan perdagangan. Dia dijuluki sebagai "Rasputin-nya Indonesia" atau "Rasputin Jawa" oleh sejumlah jurnalis dan pengamat Barat pada masa Orde Baru (Rasputin adalah dukun terkenal di istana Kaisar Tsar II di Rusia). Bersama Ali Moertopo, dia juga menjadi salah satu tokoh kunci di balik pendirian Centre for Strategic and International Studies (CSIS), sebuah lembaga pemikir (think tank) modern yang diisi oleh kaum intelektual berpendidikan Barat. Bagi Soedjono, spiritualitas Jawa bukanlah pelarian dari realitas, melainkan sebuah "kompas" atau alat analisis internal untuk mengendalikan situasi politik yang rumit. Kontradiksi inilah yang membuatnya tetap menjadi salah satu tokoh paling misterius yang pernah berdiri di pusat kekuasaan Indonesia.

Konon, selain Ibu Tien, Sudjono adalah salah satu dari sedikit orang yang memiliki akses bebas untuk keluar masuk kamar pribadi Soeharto. Tidak seperti perwira ABRI pada umumnya, Soedjono tampil nyentrik dengan rambut gondrong mirip seniman. Jurnalis asing kerap mencatat kebiasaannya yang bernuansa mistis, seperti menerima duta besar negara Barat di ruangan yang remang-remang sambil mengenakan pakaian adat Jawa dan bertelanjang kaki. Rumah dan ruang kerjanya dipenuhi oleh ratusan benda pusaka, mulai dari keris, tombak, batu akik, hingga jimat-jimat kuno. Ruangan pribadinya kerap beraroma kemenyan atau dupa.

Soedjono diyakini memiliki kemampuan membaca tanda-tanda alam atau petunjuk gaib. Setiap kali rezim Orde Baru menghadapi krisis politik atau hendak mengambil keputusan besar, Soedjono sering kali melakukan tirakat atau meditasi terlebih dahulu untuk mencari "restu" dari alam gaib. Bersama Soeharto, Soedjono sering melakukan laku prihatin, seperti bertapa, meditasi, atau kungkum (merendam diri) di sungai-sungai yang dianggap suci di Jawa. Mereka juga kerap mengunjungi tempat-tempat yang memiliki kekuatan magis kuat, seperti Jambatan (Gua) Selomangleng, Sendang Pemancingan di Yogyakarta, hingga petilasan-petilasan kerajaan Majapahit dan Mataram Islam.

Salah satu tugas spiritual paling terkenal yang dikaitkan dengan Soedjono adalah mengumpulkan keris-keris pusaka tanah Jawa yang dianggap memegang wahyu kedaton (wahyu kekuasaan) untuk memperkuat legitimasi dan keselamatan pemerintahan Soeharto. Soedjono sering menyisir kawasan petilasan Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur, mendeteksi keris atau pusaka kuno yang terkubur atau "moksa" (menghilang ke dunia gaib) untuk dimunculkan kembali demi memperkuat pagar gaib istana.

Salah satu kisah yang paling terkenal dan kontroversial adalah misi peminjaman Topeng Gajah Mada di Bali. Cerita ini bukan sekadar rumor, tetapi peristiwa nyata di balik layar politik masa itu yang tercatat dalam sejarah lisan masyarakat Bali, serta sempat ditulis oleh Lee Khoon Choy (mantan Duta Besar Singapura untuk Indonesia era 1970-an) dalam bukunya.

Pada sekitar tahun 1967, di awal masa transisi kekuasaan Orde Baru, Soedjono Hoemardani diutus oleh Pak Harto untuk mendatangi tempat sakral di Bali, yaitu Pura Penataran Agung Gelgel (atau dikenal juga terkait dengan Pura Penopengan) di Blahbatuh, Gianyar, Bali.

Tujuan kedatangannya sangat spesifik: meminjam Topeng (Pratima) Gajah Mada. Topeng kuno tersebut diyakini peninggalan keramat yang berkaitan erat dengan Aria Rajasanatha atau patih sekutu Gajah Mada saat menyatukan Nusantara. Selama lebih dari 600 tahun, topeng itu disakralkan secara turun-temurun oleh keturunannya. Topeng itu tidak boleh sembarangan dikeluarkan, apalagi dibawa pergi dari Bali. Pada saat itu penjaga warisan keramat itu adalah pemuka adat bernama I Gusti Ngurah Mantra. 

Dalam kosmologi spiritual yang diyakini lingkaran Orde Baru saat itu, Topeng Gajah Mada dianggap memancarkan energi wahyu kedaton yang sangat besar. Membawa atau menyandingkan topeng tersebut di dekat Soeharto dipercaya dapat mentransfer legitimasi spiritual dan kekuatan goib kepemimpinan Gajah Mada kepada Soeharto yang baru saja memimpin Indonesia pasca 1965.

Awalnya masyarakat menolak, dan penjaga pura takut akan kutukan (bencana niskala) jika benda sakral tersebut keluar dari tanah Bali. Namun, dengan menggunakan pengaruh kekuasaan, Soedjono akhirnya berhasil meyakinkan penjaga pura agar topeng tersebut diizinkan dibawa ke Jakarta untuk ritual khusus demi keselamatan negara.

Setibanya di Jakarta, konon Soeharto dan Soedjono melakukan ritual khusus di depan topeng itu selama beberapa hari di ruang rahasia di cendana sebelum akhirnya topeng itu dikembalikan ke Bali. Menurut kalangan dalam istana, beberapa waktu setelah ritual itu, gaya kepemimpinan Pak Harto banyak berubah: lebih tenang, bernuansa mistis (di mata yang memiliki penglihatan mistik), dingin, lebih tegas, cenderung tak kenal kompromi. 

Meski amat dekat dengan Pak Harto, Soedjono bukannya tidak punya lawan politik. Salah satu yang tidak suka kepadanya adalah Letjen Alamsyah Ratu Perwiranegara, sesama Asisten Pribadi (Aspri) Soeharto pada awal Orde Baru. Ia berada di faksi yang berseberangan dengan kubu Soedjono Hoemardani dan Ali Moertopo. Alamsyah secara terbuka sangat mengkritik pengaruh mistis Soedjono di istana. Dalam beberapa kesempatan, Alamsyah-lah yang secara blak-blakan menjuluki Soedjono sebagai "dukun" istana dan mengeluhkan bagaimana urusan-urusan takhayul dan klenik dibawa ke dalam lingkaran kebijakan negara. Rivalitas ini menjadi rahasia umum di lingkaran dalam militer saat itu. Laporan-laporan menjelang dan pasca Peristiwa Malari 1974 banyak menyoroti kritik publik terhadap institusi Aspri yang dipimpin Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani, yang kala itu dianggap sebagai institusi bayangan yang super-power.

Namun Pak Harto sendiri dalam buku biografinya memberikan kesaksian yang bernada meluruskan sekaligus membenarkan kedekatan mereka dengan dunia spiritual. Soeharto menolak anggapan bahwa Soedjono adalah "guru spiritualnya". Sebaliknya, Soeharto bersaksi bahwa dalam urusan kebatinan Jawa, Soedjono justru sering datang kepadanya untuk belajar dan menguji penglihatan spiritualnya. Soeharto mengakui bahwa mereka sering mendiskusikan filsafat dan perlambang Jawa, namun membantah bahwa keputusan negara diambil berdasarkan klenik semata.

(sc. Buku Biografi Pak Harto, Biografi Jenderal Soemitro, Lee Khon Cooy [Indonesia: Between Myth and Reality], Jose Tesoro [The Invinsible Palace], Inside).