Ambisi Spritual

Aku ingin memperingatkan, untuk Para pencari Spiritual, tentang sesuatu. Dengarkanlah baik-baik dan periksalah apakah ini berlaku bagi kalian. Ini sangat sering terjadi : 

Ketika orang telah gagal di dunia, ketika dia hidup dengan tidak bahagia di dunia, ketika dia tidak bisa meraih kesuksesan duniawi, atau ketika dia merasa ambisinya tetap tidak terpenuhi, dia beralih ke spiritualitas. Ambisi yang sama kini mencari pemenuhan di ranah baru ini. Dan di sini, itu bisa terpenuhi dengan mudah - dengan mudah, karena dalam spiritualitas sangat mudah untuk membohongi diri sendiri.

Di dunia materi, engkau tidak bisa membohongi dirimu sendiri begitu mudahnya. Jika engkau miskin, bagaimana engkau bisa berpura-pura kaya? Dan bahkan jika engkau melakukannya, tidak ada seorang pun yang akan tertipu. Jika engkau berusaha membohongi dirimu sendiri di dunia luar, orang-orang akan berpikir engkau gila.

Tetapi dalam spiritualitas, ini sangat mudah, karena pencapaian yang diklaim itu tidak bisa dilihat. Karena mereka tidak terlihat, tidak ada seorang pun yang bisa membantahnya. Engkau bisa berkata, 'Aku telah menemukan Tuhan!' atau 'Aku telah menemukan jiwaku!' atau 'Aku telah menemukan bahwa aku adalah jiwa yang sangat istimewa!' Engkau bisa berkata, 'Kundaliniku telah bangkit!'

Hanya karena punggungmu sakit, engkau mungkin meyakinkan dirimu sendiri bahwa Kundalinimu telah bangkit. Hanya karena otakmu agak tidak seimbang, engkau percaya chakra-chakramu sedang terbuka. Hanya karena engkau sakit kepala, engkau pikir mata ketigamu sedang terbuka. Engkau bisa membohongi dirimu sendiri dengan semua cara ini, dan tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa menantangmu - dan tidak ada seorang pun yang tertarik.

Tetapi ada Guru-guru palsu yang akan berkata, 'Ya, tepat seperti itu!' Lalu engkau menjadi sangat gembira dan mulai memuja Guru-guru palsu ini, karena mereka telah memuaskan egomu dan memberitahumu, betapa istimewanya engkau.

Sebaliknya, jika engkau bersama dengan seorang Master sejati, dia akan terus-menerus menurunkanmu dari pembesaran egomu. Dia akan memastikan bahwa engkau tidak tersesat dalam waham/delusi (keyakinan atau pikiran yang salah dan sangat bertentangan dengan kenyataan). Berkali-kali, dia akan membawamu kembali ke tanah.

Ingatlah ini baik-baik, dan periksalah setiap hari, apakah pencarianmu bukan sekadar pembesaran ego. Ego selalu mencari pengalaman. Entah pengalaman seksual atau spiritual, tidak ada bedanya. Ego mendambakan mengalami ini dan mengalami itu, mengalami Kundalini. Ego selalu mengejar pengalaman.

Pencarian sejati bukanlah keserakahan akan pengalaman karena setiap pengalaman pada akhirnya akan mengecewakanmu - ia harus mengecewakanmu. Semua pengalaman menuntut pengulangan. Lama-kelamaan, orang akan merasa bosan dan mulai mendambakan pengalaman baru. Pencarian akan sesuatu yang baru adalah ciri khas yang permanen dari ego.

Engkau mungkin bermeditasi, tetapi mungkin engkau bermeditasi hanya untuk merasakan sensasi baru, karena hidupmu terasa terlalu membosankan, sehingga engkau ingin membumbuinya sedikit. Engkau mungkin mendapatkan sensasi itu, karena manusia memperoleh apa pun yang mereka cari. Itulah penderitaan darinya : apa pun yang engkau inginkan, engkau akan menemukannya - dan setelahnya engkau akan menyesalinya.

Engkau akan merasakan sensasinya - tetapi lalu apa? Maka, engkau akan menjadi bosan dengan itu juga. Lalu engkau bergerak, dari satu Master ke yang lain, dari satu ashram (sekolah spiritual) ke ashram lain, selalu mencari sensasi baru.

Ego adalah hasrat akan pengalaman-pengalaman baru. Dan segala sesuatu yang baru pada akhirnya akan menjadi usang. Lalu, lagu yang sama mulai lagi.

Pada kenyataannya, Spiritualitas bukanlah pencarian akan pengalaman tertentu. Spiritualitas adalah pencarian akan sifat alami sejati seseorang. Dan dengan menyadari ini, semua hasrat akan pengalaman berakhir; setiap dorongan untuk sesuatu yang baru lenyap.

Dengan menyadari kebenaran batin, keberadaan yang asli, semua pencarian pun berhenti. Semua pengalaman hanyalah tipuan yang dimainkan pikiran terhadapmu - pelarian dan pengalih perhatian.

OSHO