Ajaran Rahasia Abdul Qadir Jailani

Dalam tradisi esoteris Tharekat Qadiriyah, kemampuan clairvoyant (melihat hal gaib/indera keenam) tidak disebut sebagai kemampuan psikis, melainkan sebagai Kasyaf (keterbukaan hijab bathin) atau Firasat Al-Mukmin. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengajarkan bahwa Kasyaf bukan dicapai melalui latihan olah energi buatan, melainkan efek samping alami dari bersihnya cermin hati (Tashfiyatul Qalb). Ketika cermin Hati  bersih, ia otomatis memantulkan realitas alam malakut (gaib).

Berikut adalah tahapan batiniah dan teknik yang melahirkan kemampuan Kasyaf Sejati menurut ajaran beliau yaitu 

Pembukaan Mata Ketiga Islam: Aktivasi Mata Hati (Ainul Qal)

Di dalam wilayah esoteris, organ untuk melihat hal gaib bukan Chakra Ajna (antara kedua alis), melainkan titik Lathifah Sirr (di dada) dan Lathifah Akhfa (di tengah dada) yang jalurnya lurus menuju Sultanul Azkar (ubun-ubun).

Teknik pembersihan di titik-titik ini dilakukan dengan Zikir Penafian duniawi (Laa Ilaaha Ilallah) yang dihujamkan ke dada untuk menghancurkan ilusi materi, sehingga frekuensi bathin naik ke alam non-materi. 

Teknik Muraqabah Ru'yatul Qalb  (Pengawasan Penglihatan Hati)

Para murid tingkat advance dilatih untuk beralih dari melihat dengan mata fisik ke mata bathin melalui langkah berikut : 

Pejamkan penuh dengan menutup mata fisik dan menarik seluruh Kesadaran dari retina mata ke arah dalam rongga dada. Menghidupkan Layar Bathin di dalam kegelapan pejaman mata tersebut, murid tidak mengkhayalkan sesuatu, melainkan memfokuskan "perhatian" pada ruang kosong di dalam hati. Penyelarasan Ubun-Ubun, menarik getaran energi dari ubun-ubun (Sultanul Azkar)  turun ke dada, membiarkan cahaya bathin menerangi kegelapan tersebut sehingga perlahan realitas ghaib atau simbol Ilham hadir dengan sendirinya tanpa dipaksa.

Tingkatan Penglihatan Gaib (Kasyaf) 

Dalam kitab Sirr al-Asrar, beliau membagi penglihatan bathin menjadi beberapa tingkatan yaitu 

1. Kasyaf Kauni (melihat dimensi astral),  kemampuan melihat jin, malaikat, membaca pikiran orang (telepati) atau melihat tempat yang jauh. Ini adalah tingkat terendah yang sering menjebak ego.

2. Kasyaf Ilahi (melihat hakikat/kebenaran), kemampuan melihat dan melampaui wujud fisik. Seseorang bisa melihat karakter asli manusia di balik wajahnya atau memahami hikmah langsung dari takdir Allah.

3. Kasyaf Asrar (melihat rahasia kedekatan), puncak tertinggi dimana bathin tidak lagi tertarik melihat jin atau malaikat, melainkan hanya melihat tanda-tanda keagungan Dzat Allah (Tajjali).

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani di masa tuanya memberikan peringatan keras mengenai fenomena clairvoyant ini. Beliau menyebut kemampuan melihat hal gaib sebagai "Haadhil Khurafah" (mainan anak-anak Spiritual).

Level yang lebih tinggi lagi dari sekedar Kasyaf (melihat gaib/clairvoyant) atau fana dalam tradisi esoteris Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah Maqam al-Kamilin (Manusia Sempurna yang Kembali) atau disebut juga Maqam al-Insan al-Kamil.

Pada level ini, urusannya bukan lagi melihat alam gaib atau meleburkan diri, melainkan tingkatan dimana alam gaib dan alam nyata tunduk serta melayani kesadaran sang Sufi, sementara sang Sufi sendiri tidak lagi mempedulikan semua itu.

Dari Kasyaf (Melihat) Naik ke Tasharruf (Mengendalikan)

Hakikat Clairvoyant hanya bisa "melihat" tirai gaib, maka pada level tertinggi ini Sufi memiliki kemampuan Tasharruf bil-Idzn (mengubah dan mengendalikan realitas atas izin Allah).

Kondisi Kehendak sang sufi telah melebur total dengan Kehendak Allah. Ketika ia menghendaki sesuatu terjadi di alam fisik maupun malakut, Allah mewujudkannya seketika. 

Namun, rahasia tertingginya adalah Ia justru tidak pernah menggunakan kemampuan ini untuk kepentingan dirinya sendiri sedetik pun, karena egonya sudah mati.

Maqam Al-Ghawthiyyah al-Kubra (Poros Agung Alam Semesta)

Hakikat adalah kedudukan Spiritual tertinggi dalam hirarki kewaliannya, yang disandang oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani sendiri, sehingga beliau dijuluki Sultanul Auliya (Raja Para Wali).

Kondisi: Sufi di maqam ini bertindak sebagai "Pakunya" Spiritual bumi. Melalui bathinnya yang terhubung langsung ke Arsy, Allah menurunkan rahmat, rezeki dan menjaga keseimbangan alam semesta. Kesadarannya meluas hingga mampu merasakan getaran seluruh makhluk, dari galaksi terjauh, bintang, hingga semut di dalam batu hitam.

Fana' al-Fana' wa al-Baqa' Mutlaq (Peleburan dari Peleburan yang Abadi)

Hakikat adalah puncak dari segala meditasi ubun-ubun dan penjelajahan bathin.

Kondisi pada ada level Fana, Aku-Kau hilang. Pada level Fana al-Fana, kesadaran bahwa "aku telah hilang" pun ikut hilang.

Pada level Baqa Mutlaq, Sang Sufi kemudian dikembalikan lagi ke bumi sebagai manusia biasa yang makan, minum, dan berdagang. Namun, esensi bathinnya (Sirr) telah menetap secara permanen di dalam Dzat Allah. Ia hidup di dunia, tetapi tidak lagi berasal dari dunia.

Muraqabah ad-Dzat (Meditasi Tanpa Atribut)

Jika meditasi tingkat bawah berfokus pada cahaya, warna, energi bintang atau penglihatan ghaib. Meditasi level tertinggi justru masuk ke dalam "Kegelapan Agung" (Al-Ghaib al-Mutlaq).

Praktik Sufi melepaskan semua atribut Allah (seperti Yang Maha Melihat, Yang Maha Kuasa) dan langsung menghujamkan Kesadarannya pada Dzat-Nya yang Murni, yang tidak bisa digambarkan oleh akal, tidak berbentuk cahaya dan tidak berupa ruang kosong. 

Ini adalah kondisi diam absolut yang melampaui segala Puncak Pencapaian Spiritual, baik Spiritualitas Timur maupun Barat. 

Penyaksian Kalam Qadim (Mendengar Tanpa Suara)

Hakikat Level tertinggi komunikasi Spiritual yang meniru maqam Nabi Musa AS di Gunung Sinai dan Nabi Muhammad Saw saat Mikraj. 

Sedangkan kondisi sang Sufi menerima ilmu, hukum dan petunjuk (Ilmu Laduni) bukan lagi melalui perantara mimpi, visualisasi gaib, atau bisikan malaikat, tapi Informasi dan kearifan langsung terinstal ke dalam ubun-ubun dan Hati dalam bentuk Kesadaran instan, tanpa huruf, tanpa suara dan tanpa jeda waktu.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menyatakan bahwa orang yang berada di puncak  tertinggi tidak akan pernah pamer Kesaktian, tidak merasa lebih suci dari pendosa dan justru hidup dalam kesunyian yang menyamar. Mereka bisa jadi adalah orang biasa di sebelah Anda yang tampak sederhana, namun bathin nya adalah Penguasa Spiritual Zaman.