Salah satu tema yang secara konsisten ditekankan dalam ajaran Lahiri Mahasaya, tokoh utama Kriya Yoga, adalah Mata Spiritual. Beliau menyebutnya Kutastha. Mata spiritual ini setara dengan pusat mata ketiga atau chakra Ajna yang terletak di ventrikel ketiga otak di tengah kepala, di belakang alis bagian tengah.
Semua orang bijak telah mengatakan bahwa Yang Ilahi ada di dalam diri kita dan bahwa kita dapat menyadari kesatuan kita dengan Yang Ilahi. Lahiri Mahasya telah mengidentifikasi mata spiritual sebagai pusat di mana seseorang dapat mencapai kesadaran Ilahi ini, karena “itu adalah pusat kesadaran ganda di mana diri individu bertemu dengan Diri Kosmik.”
Melalui latihan pernapasan Kriya dan Jyoti Mudra (teknik lanjutan dari Kriya Yoga), pintu menuju Kesadaran Ilahi terungkap. Ia muncul di mata spiritual sebagai cahaya terang – dalam kata-kata Sang Guru – “Cahaya Ilahi menerangi mata spiritual. Di dalam cahaya terang itu terungkap sebuah pusat berwarna biru. Ini adalah cahaya biru pekat yang bersemangat namun tenang. Lebih jauh lagi, di dalam pusat biru ini bersinar sebuah bintang, cahaya penuntun”.
Cahaya penuntun dari bintang ini yang terungkap dalam mata spirituallah yang memenuhi praktisi Kriya dengan kedamaian yang menenangkan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata dan melindunginya dari segala keinginan di tengah hiruk pikuk kehidupan sehari-hari. Cahaya penuntun dari bintang ini yang memenuhi ahli Kriya dengan cinta tanpa pamrih yang pada akhirnya menghentikan aliran roda karma kehidupan dan kematian. Cahaya penuntun inilah yang memenuhi ahli Kriya dengan kekuatan kesadaran yang lebih tinggi yang pada akhirnya mengarah pada persatuan dengan Kesadaran Ilahi kosmik.
Cahaya Ilahi yang terungkap di mata spiritual bersinar di semua pusat lotus lainnya – chakra spiritual di sepanjang saluran astral pusat yang disebut sushumna nadi. Cahaya itu mengubah semua pusat prana ini sehingga masing-masing mengungkapkan tingkat pencerahannya sendiri dalam berbagai bidang kesadaran untuk meliputi seluruh Keberadaan eksistensial.
Hanya ketika seluruh diri telah disadari, jiwa-diri dapat menyatu dengan Diri Ilahi dan mencapai Kesadaran Ilahi. Lahiri Mahasya mengidentifikasi proses ini sebagai kelahiran kedua, “ketika kesadaran diri individu memasuki Kesadaran Diri kosmik, jiwa terlahir kembali dalam Tuhan. Inilah kelahiran kedua mistik.”
Ketika seseorang benar-benar terlahir kembali, ia memasuki Samadhi, tenggelam dalam Cahaya Ilahi dan mengalami kebahagiaan kesadaran yang tak terbatas, kedamaian universal yang mutlak, dan keabadian eksistensi yang tak lekang oleh waktu. Keadaan kesadaran pada mata spiritual disebut Kutastha Chaitanya – keadaan ini memenuhi seluruh tubuh dengan cahaya ilahi.
Jika seseorang mencapai kesempurnaan (siddhi) dalam Kriya, seluruh alam semesta akan berada dalam kendalinya.
