Siapa yang mengenal dirimu, akan mengenal Tuhanmu



Manusia adalah cermin tempat Tuhan memandang diri-Nya. Manusia adalah lisan tempat Tuhan berbicara. Manusia adalah tangan tempat Kasih-Nya  menyentuh sesama ciptaan-Nya.

itulah kenapa dikatakan mengenal diri, berarti mengenal Tuhan. Bukan karena diri yang terpisah itu Tuhan, melainkan karena di kedalaman diri yang sejati tak ada lagi "aku" dan "Tuhan", yang ada hanyalah Satu yang menyadari diri-Nya.

Tuhan tak butuh disembah di tempat yang jauh. Dia butuh dikenali di dalam hati yang tulus. Dia tak butuh nama yang diagungkan. Dia butuh kasih yang Tulus di antara sesama manusia.

Jika kau ingin menemui-Nya, jangan cari di luar sana. Cari di dalam dirimu, di sana Dia berdiam, di sana Dia hidup, di sana Dia senantiasa Ada. 

Manusia bukan pencipta Tuhan, melainkan rumah tempat Tuhan berkenan tinggal. Dan ketika rumah itu bersih dan jernih, Cahaya-Nya memancar keluar sehingga semua orang dapat melihat Tuhan bukan di langit, tapi di wajah sesamanya.



Diakhir Perjalanan

Saya tidak pernah menghakimi siapapun. Semakin jauh saya mendaki perjalanan hidup, semakin saya menyadari bahwa setiap manusia sedang menjalani karma, kebajikan dan pelajaran hidup masing-masing. Tidak ada satu pun perjalanan manusia yang benar-benar sama. Karena itu, saya tidak pernah merasa memiliki hak untuk menghakimi siapapun.

Saya memilih diam. Bukan karena saya tidak mengetahui, bukan pula karena saya takut berbicara, tetapi karena saya memahami bahwa keheningan sering kali mengandung kebijaksanaan yang tidak mampu diungkapkan oleh kata-kata. Dalam keheningan, saya belajar melihat dan membaca kehidupan dengan hati yang lebih jernih.

Saya menghormati perjalanan hidup setiap orang. Maka saya pun berharap perjalanan hidup saya dihormati sebagaimana adanya.

Jangan membandingkan saya dengan siapa pun, karena Tuhan tidak pernah menciptakan dua jiwa dengan tugas yang sama. Kita lahir dengan benih karma yang berbeda, dipanggil oleh kebajikan yang berbeda, dan dipersiapkan untuk melayani kehidupan dengan cara yang berbeda pula.

Pengalaman hidup telah mengajarkan kepada saya bahwa penilaian manusia selalu berubah. Hari ini seseorang dipuji, besok ia dicela. Hari ini seseorang diangkat, esok ia dilupakan. Karena itu, saya tidak lagi menjadikan penilaian manusia sebagai arah perjalanan hidup saya. Saya lebih memilih menjadikan suara hati dan kehendak Tuhan sebagai kompas kehidupan.

Saya memilih menepi, bukan karena membenci dunia, tetapi karena saya ingin menjaga kejernihan bathin agar tetap mampu melayani tanpa pamrih. Saya ingin lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih banyak bekerja daripada mencari pengakuan, dan lebih banyak menanam daripada menghitung hasil.

Kini saya percaya bahwa keberhasilan sejati bukanlah ketika nama kita dikenal banyak orang, melainkan ketika kehidupan kita mampu menghadirkan manfaat bagi sesama. Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Sedangkan Warisan terbesar bukanlah kekayaan, jabatan, ataupun penghargaan, melainkan nilai-nilai yang tetap hidup di dalam hati manusia yang pernah kita sentuh dengan kasih dan keteladanan.

Saya percaya pada hukum karma dan waktu Tuhan. Apa yang kita tanam, itulah yang pada akhirnya akan kita tuai. Karena itu, saya merasa tidak perlu membalas kebencian dengan kebencian, ataupun menjawab setiap penilaian dengan pembelaan. Biarlah waktu menjadi saksi, kehidupan menjadi Guru terbaik dan karma menjalankan tugasnya dengan adil.

Di penghujung perjalanan ini, saya hanya ingin menjadi seorang yang berjalan dengan tenang, melayani dengan tulus, mengasihi tanpa membeda-bedakan, dan meninggalkan dunia dengan hati yang damai. 

Jika kelak nama saya terlupakan, tetapi gagasan dan semangat pengabdian tetap hidup dalam jiwa-jiwa yang meneruskannya. 

Karena hal terindah adalah menghasilkan orang-orang tulus, kedamaian, pengendalian diri, dan welas asih bagi Kehidupan.

Bagi saya, itulah makna kehidupan yang sesungguhnya.




Proses Perjalanan Spritual

Kalimat diatas berbicara tentang dua tingkatan perjalanan bathin yang sering disalahpahami. Banyak orang mengira bahwa mendekat kepada Allah selalu identik dengan ketenangan, kelapangan, dan hidup yang terasa ringan. Padahal, justru sebagai tanda awal seseorang berjalan menuju Allah dalam Ujian.

Fase pertama yang digunakan Tuhan adalah untuk membersihkan arah, meluruskan niat, dan menguji apakah langkah itu sungguh menuju-Nya atau hanya menuju rasa nyaman.

Orang yang berjalan menuju Allah diuji agar ia belajar membedakan antara Iman dan kebiasaan, antara tawakal dan angan-angan.

Ujian membuat akal berhenti bersandar pada logika dunia semata, dan hati mulai belajar bersandar pada sesuatu yang tak kasat mata. Di fase ini, manusia masih merasa dirinya berjalan, masih sadar bahwa ia berjuang, masih mengukur lelah dan hasil. Ujian datang sebagai cermin agar ia mengenali batas dirinya.

Namun ada fase kedua yang lebih dalam, lebih sunyi, dan lebih menyakitkan, yaitu Orang yang dicintai Allah tidak sekedar diuji, tetapi dibakar. Bukan dibakar untuk dihancurkan, melainkan dibakar untuk dimurnikan. 

Yang dibakar bukan jasadnya, tetapi sandaran-sandaran palsu dalam hatinya. Ambisi, kebanggaan, rasa memiliki, bahkan harapan - harapan yang tidak sepenuhnya bersandar pada Allah perlahan diluruskan. Di titik ini, manusia tidak lagi bertanya mengapa? Karena pertanyaan itu sendiri telah terbakar.

Secara filosofis, pembakaran ini adalah proses kefanaan. Diri yang merasa memiliki kehendak dilebur, ego yang ingin mengatur dilenyapkan. Yang tersisa bukan kehampaan, tetapi kehadiran. Ketika semua yang selain Allah runtuh, barulah hati mengenal makna cukup yang sebenarnya. Bukan karena memiliki banyak, tetapi karena tidak lagi bergantung pada apa pun selain Dia.

Secara psikologis, fase ini sering tampak seperti kehilangan total. Kehilangan arah, kehilangan rasa, kehilangan pegangan. Tetapi justru di sanalah ketenangan terdalam lahir. Saat tidak ada lagi yang bisa diandalkan, Allah menjadi satu-satunya tempat berpulang. Dan ketika itu terjadi, penderitaan tidak lagi terasa sebagai hukuman, melainkan sebagai bentuk kasih yang paling jujur. Pada akhirnya, ujian membuatmu berjalan, tetapi pembakaran membuatmu sampai. Ujian mengajarimu bersabar, pembakaran mengajarimu pasrah. Dan ketika tak ada lagi yang tersisa selain Dia, barulah Cinta itu benar-benar dimengerti.

Masuk ke Dunia Spiritual yang berubah bukan diri Anda, melainkan cara orang memandang. Mereka mulai menganggap Anda berbeda. Karena Anda lebih banyak diam dari pada menjelaskan. Lebih memilih menjaga energi daripada mencari pengakuan. Lebih nyaman menyendiri daripada berada di keramaian yang melelahkan. 

Biarlah mereka menilai dari sudut pandang berbeda. Karena setiap perjalanan memiliki pelajaran yang tidak semua orang harus mengerti. Yang terpenting, tetap rendah hati, tetap bijaksana dan terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Jalur Spiritualitas murni terbentuk bukan karena banyaknya beribadah atau berguru bahkan berziarah Tapi karena ia di bakar dan di hancurkan habis-habisan oleh keadaan.






Baik-baiklah ke diri Sendiri



Jagalah kesehatanmu. Dan perhatikan hak tubuh dan hatimu. Karena Anda masih harus hidup untuk waktu yang cukup lama. Masih banyak yang harus Anda selesaikan. Masih banyak yang harus Anda ketahui. 

Maka, hiduplah sampai Anda tahu. Bahwa ternyata dunia ini tidak layak untuk dikejar dengan serius.

Hiduplah sampai Anda tahu bahwa Anda akan meninggalkan semua yang Anda kumpulkan. Tapi justru akan bersama dengan apa yang Anda berikan.

Hiduplah sampai Anda tahu. Bahwa terkadang, Keikhlasan justru membuatmu diremehkan. Sementara yang perhitungan malah dianggap profesional. 

Hiduplah sampai Anda tahu. Bahwa menganggap orang sekitar Anda meskipun saudara, selalu mempunyai hati yang tulus dan bisa dipercaya selamanya adalah sebuah khayalan semu. Karena Ia akan selalu berpindah dan berbalik arah kepada siapa yang bisa menguntungkannya.

Hiduplah sampai Anda tahu. Bahwa pada akhirnya, hanya Memaafkan yang bisa jadi obat untuk semua rasa sakit di dalam hati, agar dirimu lapang. Karena mengingat kesalahan manusia tidak pernah membuat dirimu menjadi lebih baik.

Hiduplah sampai Anda tahu. Bahwa ternyata, hal yang paling kita butuhkan bukanlah pujian, tapi iman. Hebat di dunia dengan ribuan pujian, tak menjamin akhiratmu selamat. Meskipun Anda  menggenggam dunia sulit didapat, itulah yang kelak malah menjadi sebabmu Selamat.

Karenanya, jangan terlalu lelah. Beranilah untuk menolak permintaan jika kau memang tak ingin mengerjakannya. Tidak perlu memaksakan untuk sesuatu yang memang tidak mampu kau selesaikan. 

Jangan mendengarkan semua omongan. Perlu ada beberapa kalimat yang harus dianggap tidak didengar. Jangan terlalu ingin memuaskan semua orang sampai mengorbankan diri sendiri.

Anda harus Sehat untuk tetap bisa belajar banyak hal. Dan menemukan satu per satu pelajaran kehidupan yang pada akhirnya, membuatmu paham, bahwa Dunia ini hanyalah Ujian -- Bukan Hadiah.

Tidak semua bunga mekar di waktu yang sama. Ada yang tumbuh diam-diam, menguat lewat luka dan kecewa. Hidup bukan tentang siapa paling sempurna, tetapi siapa yang tetap tulus meski dunia sering berubah. Jadilah diri sendiri. Sebab ketenangan terbesar lahir dari hati yang tidak berpura-pura.

Ketika Anda bermasalah dengan seseorang tapi Anda tetap diam, tidak marah-marah, tidak menyindir di sosmed dan tidak sibuk mengumbar kemana-mana, percayalah itu menunjukkan kalau etika, adab dan kualitas moral Anda sudah diatas rata-rata. Dan itu tidak semua orang punya. 



.

.

Cinta dan rasa Syukur

Semakin bertambah usia, mendekat kepala 6, saya semakin memahami bahwa waktu adalah persembahan yang terlalu suci untuk dihabiskan bersama orang-orang yang menguras kedamaian bathin.

Dulu saya ingin merangkul semua orang. Saya percaya setiap orang akan berjalan bersama dalam ketulusan. Namun kehidupan adalah Guru yang tidak pernah salah. Ia mengajarkan bahwa tidak semua yang datang membawa Cinta, dan tidak semua yang tersenyum membawa ketulusan. Ada yang datang hanya ketika membutuhkan. Ada yang mendekat untuk mengambil, bukan memberi. Ada pula yang tidak bahagia melihat orang lain bertumbuh.

Saya tidak menyalahkan mereka. Di fase itu, saya justru bersyukur. Karena melalui mereka saya belajar membedakan antara keramaian dan persaudaraan, antara pujian dan ketulusan, antara kedekatan dan kasih sayang Sejati.

Hari ini saya memilih hidup lebih sederhana. Lingkaran pergaulan saya semakin kecil, tetapi hati saya justru semakin luas. Saya tidak lagi mencari banyak teman, apalagi pengikut. Saya hanya berharap dipertemukan dengan jiwa-jiwa yang mencintai kebenaran, yang saling menguatkan dalam Kebajikan, dan yang bersama-sama menyalakan Cahaya, bukan memadamkannya.

Saya percaya, energi adalah anugerah Tuhan. Jangan habiskan untuk meyakinkan orang yang memang tidak ingin memahami. Jangan habiskan untuk membalas kebencian. Gunakanlah energi itu untuk melayani, berdoa, berkarya, dan menumbuhkan generasi yang akan membawa manfaat bagi dunia.

Pengalaman hidup mengajarkan saya bahwa orang-orang terbaik tidak selalu berjalan paling dekat dengan kita, tetapi mereka selalu hadir dengan hati yang tulus. Kehadiran mereka tidak membuat kita lelah, melainkan membuat kita semakin dekat kepada Allah. 

Pada akhirnya, bukan tentang seberapa banyak orang yang mengenal nama kita. Yang jauh lebih penting adalah, seberapa banyak hati yang menjadi lebih damai karena kehadiran kita.

Itulah kekayaan yang tidak dapat dibeli, tidak dapat dipuji, dan tidak akan pernah hilang oleh waktu. 

Alhamdulillah....!!




Fase Memahami Kehidupan


Orang yang tenang dalam kesendirian adalah Jiwa yang paling sulit disentuh. Ia tidak mencari siapapun untuk merasakan cukup. Bila tidak dihormati ia pergi, jika dikhianati ia tidak marah. Ketika mereka meninggalkannya, ia tersenyum dan melepas mereka dengan Hati yang ringan. Ia bebas dari ikatan emosi apapun.

Awalnya Ia seorang yang sangat peduli. Ia pernah menjadi sebaik-baiknya manusia, Tapi ketika Ia jatuh, malah dikecewakan dan dikhianati. Ia baru memahami bahwa pada dasarnya mereka tidak peduli padanya. mereka diam-diam senang kalau melihat Ia terjatuh. Ternyata mereka mendekati saudaranya hanya untuk memanfaatkan saja demi keuntungannya sendiri. Padahal sesungguhnya mereka sedang menghalangi keberkahan dalam hidupnya. Mungkin mereka berpikir cerdas, namun pada faktanya, mereka sedang mengundang bencana dan kesusahan dalam hidupnya sendiri.

Di fase ini Anda harus diam, lebih menjaga jarak dan mematikan rasa peduli diantara saudara yang mendekat. Anda sudah memahami dan sudah melewati satu episode kehidupan. "Berharap kepada manusia pasti kecewa dan hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan" 

Ketika Anda sudah bangkit, di masa itu, saudara Anda hanya melihat dari kejauhan dan tak berani mendekat kembali. Dan Anda hanya  tersenyum.

Pegang lah kata-kata ini, hidup di dunia ini penuh dengan orang palsu. Kita dianggap baik ketika kita diperlukan. Setelah itu kita diperlakukan seperti orang yang tidak ada satupun kebaikan. Maka belajarlah terbiasa tidak dianggap baik dan penting oleh orang lain. Karena sebuah tongkat akan dibuang setelah si buta sudah melihat.



Hanya Allah tempat untuk Kembali

Ketika Allah menghadirkan seseorang dalam hidupmu, bisa jadi itu adalah UJIAN

Pernahkah kamu bertemu seseorang yang awalnya terasa seperti jawaban dari doa? Dia datang ketika hidupmu sedang sepi.

Dia membuatmu tersenyum ketika Hatimu sedang terluka. Dia mendengarkan ketika tidak ada seorang pun yang mau memahami. Lalu tanpa disadari, kehadirannya menjadi begitu berarti. Namun suatu hari, semuanya berubah.

Orang yang dahulu membuatmu bahagia justru menjadi sumber air mata. Orang yang dahulu begitu dekat perlahan menjauh. Atau seseorang yang sangat kamu sayangi akhirnya pergi dari hidupmu.

Kemudian kamu bertanya dalam Hati : “Mengapa Allah mempertemukan aku dengannya?” Pertanyaan itu manusiawi. Tetapi terkadang, kita terlalu sibuk  mencari alasan mengapa seseorang datang, sampai lupa melihat apa yang sedang Allah ajarkan kepada kita melalui keadaan tersebut. 

1. Tidak semua pertemuan berakhir dengan kebersamaan. 

Dalam kehidupan, kita akan bertemu dengan banyak manusia. Ada yang hanya sebentar. Ada yang bertahun-tahun. Ada yang menjadi sahabat. Ada yang menjadi pasangan. Ada yang menjadi Guru. Ada yang menjadi orang yang pernah menyakiti kita. Tidak semua orang yang hadir ditakdirkan untuk tinggal selamanya. Dan tidak semua perpisahan berarti kegagalan. Kadang seseorang hadir dalam hidup kita, lalu pergi setelah meninggalkan sebuah pelajaran. Mungkin melalui dirinya kita belajar mencintai. Mungkin melalui dirinya kita belajar kehilangan. Mungkin melalui dirinya kita belajar memaafkan. Mungkin melalui dirinya kita belajar bahwa  menggantungkan seluruh kebahagiaan kepada manusia adalah sesuatu yang berbahaya bagi Hati. Karena manusia bisa berubah. Manusia bisa pergi. Manusia bisa mengecewakan. Tetapi Allah tetap menjadi tempat untuk kembali.

2. Orang baik pun bisa menjadi ujian. 

Kita sering mengira ujian hanya berupa kesedihan. Padahal kesenangan juga merupakan ujian. Allah berfirman : “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS. Al-Anbiya:35). Artinya, bukan hanya orang yang menyakiti kita yang menjadi ujian. Orang yang mencintai kita pun bisa menjadi ujian. Ketika Allah memberikan pasangan yang baik, apakah kita bersyukur? Ketika Allah memberikan sahabat yang setia, apakah kita menghargainya? Ketika seseorang memberikan perhatian kepada kita, apakah kita semakin bersyukur kepada Allah atau justru melupakan-Nya? Karena terkadang manusia tidak diuji dengan kehilangan, tetapi diuji dengan memiliki.

3. Orang yang menyakitimu bisa jadi sebagai ujian kesabaran.

Ada orang yang datang membawa luka. Perkataannya menyakitkan. Sikapnya mengecewakan. Kebaikan kita mungkin dibalas dengan keburukan. Dalam keadaan seperti ini, kita memiliki pilihan. Membalas dengan keburukan. Atau berusaha menahan diri dan mencari Keridhaan Allah. Allah berfirman : “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas". (QS. Az-Zumar:10). Sabar bukan berarti membiarkan diri dizalimi. Sabar bukan berarti tidak boleh menjauh dari orang yang merusak kita. Sabar berarti tetap menjaga diri agar tidak melakukan sesuatu yang Allah larang  ketika sedang terluka. Kita boleh pergi. Kita boleh menjaga jarak. Kita boleh mengatakan tidak. Tetapi jangan sampai luka membuat kita menjadi zhalim.

4. Jangan menjadikan seseorang sebagai pusat kehidupanmu. 

Salah satu ujian terbesar dalam hubungan dengan manusia adalah ketika hati mulai bergantung secara berlebihan. Awalnya hanya menyukai. Kemudian membutuhkan. Lalu takut kehilangan. Sampai akhirnya merasa tidak bisa hidup tanpanya. Padahal hati seorang mukmin seharusnya bergantung kepada Allah. Manusia hanyalah sebab. Allah adalah tempat bergantung. Karena ketika seseorang menjadi pusat kebahagiaan kita, kepergiannya bisa terasa seperti akhir dari dunia. Tetapi ketika Allah menjadi pusat  kehidupan kita, kehilangan manusia tetap menyakitkan, namun tidak membuat kita kehilangan arah.

5. Ada orang yang hadir untuk menguji keikhlasanmu.

Pernahkah kamu melakukan begitu banyak kebaikan kepada seseorang, tetapi tidak mendapatkan penghargaan? Kamu membantu. Kamu mendengarkan. Kamu menjaga perasaannya. Namun ketika kamu membutuhkan bantuan, dia justru tidak ada. Disitulah keikhlasan diuji. Apakah kita berbuat baik karena manusia? Ataukah karena Allah? Jika seluruh kebaikan kita hanya mengharapkan balasan manusia, kita akan mudah kecewa. Tetapi jika kita berbuat baik karena Allah, maka penghargaan manusia bukan lagi menjadi tujuan utama. Allah mengetahui setiap kebaikan yang kita lakukan, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.

6. Kehilangan seseorang bukan berarti Allah membencimu.

Ini penting untuk dipahami. Ketika seseorang pergi dari hidupmu, jangan langsung menyimpulkan : “Allah sedang menghukumku". Kita tidak mengetahui perkara ghaib. Bisa jadi perpisahan itu merupakan ujian. Bisa jadi akibat pilihan manusia. Bisa jadi sebuah konsekuensi dari keadaan. Dan bisa jadi ada hikmah yang baru kita pahami bertahun-tahun kemudian. Karena itu, jangan terlalu cepat mengklaim bahwa “Allah mengambil dia karena dia tidak baik untukku”. Kita tidak mengetahui seluruh hikmah Allah. Yang bisa kita lakukan adalah menerima takdir, memperbaiki diri, mengambil pelajaran, dan tetap berbaik sangka kepada Allah. 

7. Jangan memaksa sesuatu yang sudah Allah jadikan jauh. 

Ada kalanya kita terus mengejar seseorang yang sudah tidak ingin tinggal. Terus menghubungi. Terus berharap. Terus memohon agar keadaan kembali seperti dahulu. Padahal mungkin yang perlu kita lakukan bukan mengejar orang tersebut, tetapi kembali mendekat kepada Allah. Tidak semua yang kita cintai harus kita miliki. Tidak semua yang kita inginkan baik bagi kita. Allah berfirman : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui". (QS. Al-Baqarah: 216). Ayat ini mengajarkan bahwa pengetahuan kita terbatas. Kita melihat hari ini. Allah mengetahui seluruh perjalanan hidup kita. 

8. Jangan biarkan satu orang menghancurkan hubunganmu dengan Allah. Ini yang paling penting. Jangan sampai karena seseorang meninggalkanmu, kamu tidak ibadah. Jangan karena seseorang mengecewakanmu, kamu berhenti berdoa. Jangan karena seseorang mengkhianatimu, kamu mulai membenci kehidupan. Jangan karena manusia tidak menghargaimu, kamu merasa Allah tidak menyayangimu. Justru ketika manusia pergi menjauh, itulah saat yang tepat untuk semakin mendekat kepada Allah. Menangislah di hadapan Allah. Ceritakan semuanya kepada-Nya. Tidak ada satupun air mata yang luput dari pengetahuan-Nya.

9. Perhatikan apa yang terjadi pada Imanmu.

Ada satu pertanyaan penting yang bisa kita renungkan bahwa "Setelah orang ini hadir dalam hidupku, apakah aku semakin dekat atau semakin jauh dari Allah?". Jika sebuah hubungan membuatmu semakin rajin beribadah, semakin menjaga diri, semakin dekat dengan kebaikan dan semakin takut kepada Allah, maka syukurilah. Tetapi jika hubungan tersebut membuatmu meninggalkan kewajiban, melakukan maksiat, kehilangan ketenangan, dan semakin jauh dari Allah, maka berhentilah sejenak dan evaluasi. Cinta tidak boleh menjadi alasan untuk bermaksiat. Persahabatan tidak boleh membuat kita meninggalkan agama. Dan rasa sayang kepada manusia tidak boleh mengalahkan ketaatan kepada Allah. 

10. Bisa jadi ujian terbesar bukan orangnya, tetapi Hatimu.

Kadang masalah sebenarnya bukan pada siapa yang datang. Tetapi bagaimana Hati kita merespons kehadirannya. Ketika dipuji, apakah kita menjadi sombong? Ketika  dicintai, apakah kita menjadi lalai? Ketika disakiti, apakah kita menjadi pendendam? Ketika ditinggalkan, apakah kita berputus asa? Ketika seseorang pergi, apakah kita tetap percaya bahwa Allah memiliki rencana yang lebih luas daripada apa yang mampu kita lihat? Disitulah ujian sebenarnya. Jangan hanya bertanya, “mengapa dia datang?” Ketika seseorang hadir dalam hidupmu, jangan hanya bertanya :“Apakah dia akan menjadi milikku selamanya?” Tetapi tanyakan : “Apa yang harus aku pelajari dari pertemuan ini?”  Mungkin kamu belajar mencintai tanpa berlebihan. Mungkin kamu belajar melepaskan tanpa membenci. Mungkin kamu belajar memaafkan tanpa kembali ke hubungan yang sama. Mungkin kamu belajar menjaga batas. Mungkin kamu belajar menghargai orang baik. Dan mungkin yang paling penting…kamu belajar bahwa tidak ada manusia yang boleh mengambil tempat Allah di dalam Hatimu.

PADA AKHIRNYA.....Manusia datang dan pergi. Ada yang membawa kebahagiaan. Ada yang membawa luka. Ada yang meninggalkan kenangan. Ada yang meninggalkan pelajaran. Namun setiap pertemuan dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri. Jika seseorang membuatmu bahagia, bersyukurlah kepada Allah. Jika seseorang membuatmu terluka, mintalah pertolongan kepada Allah. Jika seseorang pergi, serahkan urusannya kepada Allah. Dan jika seseorang tetap berada di sisimu, jangan pernah lupa bahwa semua itu adalah sesuatu yang bisa berubah kapan saja atas kehendak Allah. 

Maka jangan terlalu menggantungkan Hati kepada manusia. Cintailah manusia karena Allah. Perlakukan mereka dengan baik karena Allah. Maafkan karena Allah. Dan ketika harus melepaskan, lepaskan karena Allah. Sebab manusia mungkin menjadi bagian dari perjalanan hidupmu. Tetapi tujuan akhir perjalananmu tetap kembali kepada Allah. 

DOA

Ya Allah jika seseorang yang Engkau hadirkan dalam hidup kami adalah  kebaikan, maka jadikan kehadirannya membawa kami semakin dekat kepada-Mu. Jika dia adalah ujian, berikan kami kesabaran. Jika dia adalah pelajaran, berikan kami pemahaman. Jika dia harus pergi, berikan kami keikhlasan. Dan jangan biarkan Hati kami tergantung kepada  makhluk hingga melupakan-Mu.

Ya Allah, ajarkan kami mencintai tanpa berlebihan, kehilangan tanpa berputus asa, dan menerima takdir-Mu dengan Hati yang tenang. Aamiin Yra.