Semakin bertambah usia, mendekat kepala 6, saya semakin memahami bahwa waktu adalah persembahan yang terlalu suci untuk dihabiskan bersama orang-orang yang menguras kedamaian bathin.
Dulu saya ingin merangkul semua orang. Saya percaya setiap orang akan berjalan bersama dalam ketulusan. Namun kehidupan adalah Guru yang tidak pernah salah. Ia mengajarkan bahwa tidak semua yang datang membawa Cinta, dan tidak semua yang tersenyum membawa ketulusan. Ada yang datang hanya ketika membutuhkan. Ada yang mendekat untuk mengambil, bukan memberi. Ada pula yang tidak bahagia melihat orang lain bertumbuh.
Saya tidak menyalahkan mereka. Di fase itu, saya justru bersyukur. Karena melalui mereka saya belajar membedakan antara keramaian dan persaudaraan, antara pujian dan ketulusan, antara kedekatan dan kasih sayang Sejati.
Hari ini saya memilih hidup lebih sederhana. Lingkaran pergaulan saya semakin kecil, tetapi hati saya justru semakin luas. Saya tidak lagi mencari banyak teman, apalagi pengikut. Saya hanya berharap dipertemukan dengan jiwa-jiwa yang mencintai kebenaran, yang saling menguatkan dalam Kebajikan, dan yang bersama-sama menyalakan Cahaya, bukan memadamkannya.
Saya percaya, energi adalah anugerah Tuhan. Jangan habiskan untuk meyakinkan orang yang memang tidak ingin memahami. Jangan habiskan untuk membalas kebencian. Gunakanlah energi itu untuk melayani, berdoa, berkarya, dan menumbuhkan generasi yang akan membawa manfaat bagi dunia.
Pengalaman hidup mengajarkan saya bahwa orang-orang terbaik tidak selalu berjalan paling dekat dengan kita, tetapi mereka selalu hadir dengan hati yang tulus. Kehadiran mereka tidak membuat kita lelah, melainkan membuat kita semakin dekat kepada Allah.
Pada akhirnya, bukan tentang seberapa banyak orang yang mengenal nama kita. Yang jauh lebih penting adalah, seberapa banyak hati yang menjadi lebih damai karena kehadiran kita.
Itulah kekayaan yang tidak dapat dibeli, tidak dapat dipuji, dan tidak akan pernah hilang oleh waktu.
Alhamdulillah....!!
