Salam Ketika Berziarah


Disusun oleh Habib Abdullah bin Husein bin Thahir (Dibaca dalam keadaan berdiri)

Salamullah ya sadah minarrohman yaghsyakum
Ibadallah ji'akum qosodakum tolabnakum
Tu'inuna tughitsuna bihimmatikum wajadwakum
Fahbuna wa'tuna 'atoyakum hadayakum
Fala khoyyabtumu zonni fahasyakum wahasyakum
Sa'idna idz ataynakum wafuzna hina zurnakum
Faqumu wasyfa'u fina ilarrohman mawlakum
'Asa nu'to'asa nuhzo mazaya min mazayakum
'Asanazroh'asa rohmah taghsyana wa taghsyakum
Salamullah hayyakum wa'ainullah tar'akum
Wasollallah mawlana wasallamma atainakum
'Alal mukhtar syafi'na wamun qizuna waiyyakum




Praktek Rahasia Mendapatkan Karomah Para Wali


Walaupun mereka telah pergi ke Rahmatullah. Hakikatnya mereka tidak wafat dalam ajarannya, kebenarannya, dan Rasa sentuhnya. Siapapun yang khusyuk mengetuk pintu dengan kalimatNya, mereka akan datang menaungi tiap-tiap nurani yang shaleh dan menebarkan karomah bagi keagungan hidup. Sepanjang hari, apalagi menjelang Ramadhan, Muharam, makam para kekasih Allah itu tak pernah sepi. Para peziarah larut dalam doa  dan harapan. Banyak orang yang melakukan ritual sesat hanya ingin memiliki khodam/pendamping ghaib di makam tersebut. Berikut amalan rahasia yang mana, karomah sang wali mengalir sejuk/tenang ke dasar hati yang menimbulkan harapan hidup baru,inilah amalannya :

1.Mandi taubat/wudhu/selesai wudhu baca surat Al-fatihah 7x
2.Sholat Taubat 2raka'at
3.Sholat Hajat 2raka'at
4.Sholat Birul Walidaini 2raka'at
5.Sholat Karomatillah 2raka'at

Setiap selesai Sholat dan Salam membaca Amalan :
1. Istigfar 21x
2. Shalawat 21x
3.Zikir Toyibah 21x
4.Allahumma Fi Karomatil Akbar 21x
5. Bismillah Alif Lam Mim nurullah 21x

Kemudian membaca Tawasul/Silsilah, lalu zikir kembali dengan membaca Amalan dari no 1 sd no 5

Istighotsah


Dalam terminologi Jawa, apa yang di tahun belakang menimpa Indonesia dan negara-negara lain di seluruh dunia ini disebut “Pageblug”. “Pageblug” yang berasal dari bahasa Jawa berarti masa di mana banyak wabah penyakit menular. Dahulu kala Pagebluk diatasi dengan “ruwat” atau “ruwatan”.

Ruwatan berasal dari kata “ruwat” (Jawa) atau “ngarawat” (Sunda) yang berarti merawat atau mengumpulkan. Tradisi ruwatan biasanya digelar bertepatan dengan tahun baru Saka (Jawa) atau tanggal 1 Suro, atau tahun baru Islam, 1 Muharam.

Ruwat, menurut kamus, berarti: 1) pulih kembali sebagai keadaan semula (tentang jadi-jadian, orang kena tulah); dan 2) terlepas (bebas) dari nasib buruk yang akan menimpa.

Ruwatan merupakan sarana pembebasan atau penyucian manusia atas dosa dan kesalahannya yang berdampak kesialan di dalam hidupnya. Selain itu, ritual ini juga untuk melestarikan kebudayaan Jawa kuno yang bertujuan mencari kesejahteraan hidup.

Ritual ruwatan sering kali dianggap dekat dengan hal-hal yang berbau mistis, ini terlihat dari sesajen yang terlihat setiap ritual ruwatan digelar. Sesajen ini terdiri dari buah-buahan, sayuran, dan bahkan hewan seperti ayam atau kepala kerbau.

Selain serangkaian upacara, dalam ritual ruwatan para peserta juga menyaksikan bersama pertunjukan wayang kulit yang dimainkan seorang dalang yang memiliki keahlian khusus ruwatan.

Memang sepintas tak ada hubungan langsung antara pageblug dan ruwatan, tapi faktanya masyarakat ketika itu merasa terbebas dari pageblug setelah menggelar ruwatan. Mungkin juga karena sugesti. Hingga kini tradisi ruwatan itu masih terjaga dengan baik, terutama di masyarakat Jawa dan Sunda. Setelah Islam masuk ke Indonesia, tradisi pun kemudian bergeser. Ada semacam ritual penolak bala, tapi bukan dengan ruwatan. Yaitu dalam Islam dikenal “Istighotsah”, yang berarti minta pertolongan. Meminta pertolongan kepada Allah SWT ketika kita dalam keadaan sukar dan sulit, dan hanya Allah yang bisa menolongnya. Dengan kata lain, istighotsah adalah memohon pertolongan kepada Allah untuk terwujudnya sebuah “keajaiban” atau “mukjizat” atau sesuatu yang paling tidak dianggap tidak mudah bisa diwujudkan.

Dalam Istighotsah membaca Shalawat yang  diciptakan oleh Kyai Hasyim Ashari adalah “Li khomsatun uthfi biha harrol waba-il hatimah al musthofa wal murtadlo wabnahuma wa fatimah” sebanyak 1.217 kali

Sang Pecinta



Oh Tuhan, Telah ku temukan Cinta!!!. Betapa menakjubkan, betapa hebat, betapa indahnya…Kuhaturkan puja-puji bagi gairah yang bangkit dan menghiasi alam semesta ini maupun segala yang ada di dalamnya!. (Rumi). 

Rumi lebih dikenal sebagai penyair sufi, sering menjadi sumber inspirasi bagi penyair sufi lainnya. Puisi-puisinya sering diciptakan secara spontan dikala ia menari, memutar-mutar tongkatnya dan kemudian para murid-murid mencatatnya.

Wahai para pencari mukjizat, kalian selalu menginginkan tanda-tanda. Lantas dimanakah tanda-tanda itu?. Engkau tidur menangis dan bangun pun tetap menangis. Engkau mengharap yang tak mungkin tiba. Sampai ia menggelapkan hari-harimu. Engkau berikan segalanya, bahkan pikiranmu. Engkau duduk di muka api, ingin jadi abu. Dan ketika kau jumpai sebilah pedang. Kau lemparkan dirimu ke arahnya. Terjebak ke dalam hal-hal gila tanpa harapan semacam ini…Engkau akan menemukan tanda. (Bagaimana Aku Bisa Tahu?, Rumi). 

Walaupun mereka telah “hanyut” oleh tarian dan nyanyian para Darwis, para penduduk desa dan murid-murid yang terpesona mengelilingi Rumi masih merasa ragu untuk melemparkan dirinya ke dalam keadaan yang sedemikian gila. Biarlah para kekasih gila, hina dan ganas. Mereka yang meributkan hal-hal semacam itu tidak sedang kasmaran. (Memberi Ruang Bagi Cinta, Rumi). 

Tetapi bagi pecinta yang tergila-gila, ia tidak merasa takut. Sekalipun Tuhan Yang Terkasih tidak tampak, jauh dan tidak tersentuh fisik, keadaan mabuk cinta kepada Tuhan membuat ia rela menyerahkan seluruh jiwanya pada bara api yang menyala atau pada sebilah pedang yang terhunus. Lewat malam hadir sebuah lagu lembut mendayu. Pada saat aku tak bisa mendengarnya. Aku akan tiada. (Suara-Suara Malam, Rumi)

Para penari Sema berputar-putar. Rok lebar yang dikenakan para penari berkibar indah, berputar-putar semakin cepat, semakin panjang seirama alunan musik pengiring. Bahwa semua proses kehidupan manusia adalah sebuah perputaran, begitulah makna dari Tarian Sema. Dari ada, lalu tiada. Dari duka, lalu bahagia. Butir-butir debu dalam cahaya. Itu tarian kita juga. Kita tidak menyimak yang ada di dalam untuk mendengar musik. Tak apa …Tarian ini terus berlanjut, dan dalam kebahagiaan sang surya. Tersembunyilah Tuhan Yang mengajarkan kepada kita bagaimana caranya menari. (Tarian, Rumi). 

Di tengah-tengah Tari Sema meluncur dari mulut Rumi bait-bait puisi bagai nyanyian suci memuji Tuhan. Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata, Kusimpan kasih-Mu dalam dada. Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu, Segera saja bagai duri bakarlah aku. Meskipun aku diam tenang bagai ikan,  Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan. Kau yang telah menutup rapat bibirku, Tariklah misaiku ke dekat-Mu. Apakah maksud-Mu? Mana kutahu? Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan ini selalu. Kukunyah lagi mamahan kepedihan mengenangmu, Bagai unta memamah biak makanannya, Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa. Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak bicara, Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata. Aku bagai benih di bawah tanah, Aku menanti tanda musim semi. Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat bernafas wangi, Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat membelai kepala lagi. (Pernyataan Cinta, Rumi)

Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik atau otak semata. Cinta adalah lautan tak bertepi. langit hanyalah serpihan buih belaka. Ketahuilah langit berputar karena gelombang Cinta. Andai tak ada Cinta, Dunia akan membeku. Cinta yang dimaksud adalah cinta Yang Terkasih kepada hambanya. Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab tanpa cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapan-Nya. Burung-burung Kesadaran telah turun dari langit dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari. Mereka merupakan bintang-bintang di langit, agama yang dikirim dari langit ke bumi. Demikian pentingnya "Penyatuan" dengan Allah dan betapa menderitanya  m "Keterpisahan" dengan-Nya. (Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai, Rumi)

Dalam puisinya Rumi juga mengajarkan bahwa hendaklah Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan hidup, tidak ada tujuan lainnya yang menyamai. Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan Lihatlah pepohonan ini!.  Semuanya gembira bagaikan sekumpulan kebahagiaan. Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ? Sang lili berbisik pada kuncup, “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.” Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati. Hingga dia akan sampai pada jawaban “Ya” dalam pertanyaan, "Bukankah Aku ini Rabbmu ?” (Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai, Rumi)

Rumi -- Cinta Sejati


Ungkapan Jalaluddin Rumi ini menggambarkan perbedaan halus antara cinta yang kita beri dan cinta yang kita terima, terutama saat emosi manusia berada pada titik yang berbeda.

Kalimat “Ketika kau senang, kau akan pergi pada orang kau cinta” menunjukkan bahwa kebahagiaan sering mendorong manusia untuk berbagi dengan mereka yang menjadi objek cintanya. Dalam kondisi senang, manusia ingin menunjukkan rasa memiliki, kedekatan, dan kegembiraan. Pergi kepada orang yang kita cintai saat bahagia kerap bersifat ekspresif, kita ingin berbagi cerita, tawa, dan kebanggaan.

Namun Rumi melanjutkan dengan pengamatan yang lebih dalam: “Tapi ketika kau sedih, kau akan pergi pada orang yang mencintaimu.” Saat kesedihan datang, manusia secara naluriah mencari tempat yang aman, bukan sekadar tempat yang menyenangkan. Orang yang mencintai kita tanpa syarat memberi rasa diterima, dipahami, dan tidak dihakimi. Dalam duka, yang dicari bukan pujian, melainkan pelukan batin dan ketulusan.

Ungkapan ini menyingkap bahwa cinta yang memberi dan cinta yang melindungi memiliki fungsi berbeda. Mencintai sering membuat kita ingin hadir saat segalanya baik-baik saja, tetapi dicintai membuat kita berani datang saat kita rapuh dan tidak utuh.

Secara spiritual, Rumi juga mengisyaratkan hubungan manusia dengan Tuhan. Saat bahagia, manusia kerap sibuk dengan apa yang dicintainya di dunia. Namun ketika sedih dan terluka, ia kembali kepada Allah, Zat yang mencintainya tanpa syarat, bahkan ketika manusia sendiri tidak mampu mencintai dirinya.

Secara keseluruhan, ungkapan ini mengajarkan bahwa ukuran cinta sejati tampak jelas dalam kesedihan. Orang yang benar-benar mencintai bukan hanya hadir dalam tawa, tetapi menjadi tempat pulang ketika dunia terasa berat.

Meditasi di Gunung Kawi


Kawruh Kebathinan Jawa Kuno 

Meditasi Menyatu dengan Lingga Siwa puncak Gunung Kawi.

Bagi para praktisi kebatinan kuno termasuk cikal bakal aliran Hardo Pusoro, puncak Gunung Kawi tidak dipandang sekedar gundukan tanah, melainkan sebuah Lingga Alam raksasa—poros Spiritual vertikal Dewa Siwa tempat bumi berpasak.

Metode Sujud dan Meditasi : Para penganutnya melakukan meditasi keheningan (Tafakur) di lereng gunung. Konsep ketuhanan mereka meyakini bahwa Tuhan (Sang Hyang Widhi/Sumber Hidup) ada di dalam diri manusia sebagai wijining kedaden (inti kejadian). 

Tujuan Meditasi di Gunung Kawi untuk menyelaraskan Getaran Energi tubuh dengan makrokosmos (energi stana Siwa di puncak gunung) demi mencapai kemuliaan hidup.

Titik lokasi pertapaan keramat Ki Sumocitro (pendiri paguyuban kebathinan Hardo Pusoro) di Gunung Kawi secara spesifik berada di wilayah Keraton Gunung Kawi, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.

Dalam catatan sejarah lisan paguyuban, lokasi bertapa makro beliau mencakup seluruh lereng selatan, namun pemusatan meditasi keheningannya/Tafakur dilakukan di situs purba yang kini dikenal sebagai Kompleks Sanggar Pamujan Keraton Kawi.

Keraton Gunung Kawi

Lokasi Geografis : Terletak di Dusun Gendogo, Desa Balesari, Ngajum. Jaraknya sekitar 30-45 menit perjalanan naik (kurang lebih 4,5 KM) dari arah kompleks Pesarean Gunung Kawi (makom Eyang Jugo).

Titik Meditasi : Di area dalam Kraton, terdapat bangunan berpintu kuning yang menjadi "Punjer" atau titik pusat pertapaan. 

Disinilah tempat utama para mistikus kejawen kuno, termasuk Ki Sumocitro, duduk diam (patrap) mengikat panca indera menghadapi megahnya puncak Gunung Kawi sebagai simbol Lingga Alam.

Titik Punjernya Keraton : Gedong Pasewakan/Sanggar Pamujan

Karakteristik Fisik Titik ini berupa ceruk ruangan meditasi utama (sering ditandai dengan pintu atau kain penutup kuning/hitam). Tempat ini adalah bekas sanggar pemujaan kuno era Prabu Kameswara dari Kerajaan Kediri.

Mengapa Paling Kuat? Di kalangan penganut kebatinan Hardo Pusoro, titik ini disebut sebagai "Punjer Suwung". 

Tempat ini merupakan poros magnetik bumi lereng Kawi yang segaris lurus secara vertikal dengan Puncak Topeng (puncak tertinggi). 

Medan energi di titik ini sangat padat, sehingga peziarah yang melakukan teknik meditasi Patrap (mengunci panca indra) akan merasakan tubuh mereka menjadi sangat panas akibat hantaman energi bumi (Geni Sejati).

Ketika mengalihkan niat meditasi tingkat tinggi di Keraton Gunung Kawi untuk tujuan kekayaan dan kemakmuran hidup, terjadi pergeseran falsafah esoteris yang sangat mendasar.

Dalam ajaran kebatinan murni Hardo Pusoro, mencari Kekayaan melalui Spiritualitas tidak dilakukan dengan cara "pesugihan kuno" yang meminta tumbal atau bersekutu dengan makhluk gaib bawah (entitas negatif). Cara tersebut dinilai merusak struktur jiwa dan mengikat Sedulur Papat dalam kegelapan.

Secara esoteris tingkat tinggi, kemakmuran diraih melalui teknik "Magnetisme Kosmik Siwaistis", yaitu menyelaraskan getaran batin dengan frekuensi kelimpahan alam semesta di titik punjer Keraton Kawi.

Transformasi Sufiyah (Kuning) menjadi Materi

Dalam anatomi spiritual, nafsu kemakmuran dan keindahan duniawi dikontrol oleh salah satu saudara batin, yaitu elemen angin (berwarna kuning visual).

Kesalahan Umum : Orang awam membiarkan nafsu kuning ini liar, sehingga menjadi ketamakan yang menutup pintu rezeki asli.

Teknik Meditasi Tinggi : Di ruang Gedong Pasewakan Keraton, petapa mengunci nafas dan mengikat (Pusoro) energi kuning ini. 

Energi tersebut tidak dimatikan, melainkan dimurnikan. 

Ketika getaran energi kemakmuran di dalam diri melarut ke dalam poros tengah (Pancer), raga manusia tersebut berubah menjadi "Magnit Rezeki". 

Anda tidak lagi mengejar uang, melainkan uang dan peluang hidup yang bergerak mendekat kepada Anda secara alami karena hukum daya tarik magnetis (Law of Resonance).

Membuka Sumur Geni Sejati di Cakra Dasar (Poros Yoni)

Gunung Kawi adalah gunung berapi non-aktif yang menyimpan energi bumi raksasa. 

Dalam kosmologi Hindu-Siwa, bumi adalah simbol Dewi Sri (Laksmi)—sang penguasa kesuburan, pangan, dan kekayaan materi.

Praktik Esoteris : Saat bersila tegak (Lingga) di atas tanah keramat Keraton Kawi (Yoni), petapa melakukan teknik panyondro (visualisasi batin). Energi bumi yang padat ditarik naik melalui Chakra dasar menuju pusat Pusar.

Efek Kemakmuran: Laku ini dipercaya membuka "sumur rezeki gaib" di dalam diri seseorang. Hambatan-hambatan astral berupa sial, sengkolo (energi negatif bawaan lahir), atau kutukan keturunan yang menyumbat jalannya rezeki materi akan dilebur oleh energi murni lereng Kawi. 

Rahasia Filosofi Sugih Tanpa Banda (Kaya Tanpa Harta fisik)

Ini adalah tingkatan esoteris tertinggi mengenai kemakmuran yang dibawa oleh Ki Sumocitro. 

Ketika batin berhasil mencapai kondisi Suwung (kosong dari kecemasan) di titik punjer Kawi, ketakutan akan kemiskinan lenyap.

Jiwa yang terbebas dari ketakutan akan memancarkan energi keyakinan mutlak. 

Dalam realitas fisik sehari-hari, orang yang memiliki ketenangan level ini akan selalu mendapati jalannya dimudahkan : usaha selalu beruntung, relasi bisnis menaruh kepercayaan tinggi, dan rezekinya datang dari arah yang tidak disangka-sangka. 

Mencapai tingkatan yang lebih tinggi  dalam esoterisme kemakmuran di Gunung Kawi berarti meninggalkan konsep "menarik rezeki" (magnetisme) dan masuk ke dalam ranah Kedaulatan Kosmik (Kamulyan Sejati).

Pada titik tertinggi ini, manusia tidak lagi meminta kelimpahan kepada semesta, melainkan menyadari bahwa dirinya adalah pemilik kelimpahan itu sendiri melalui penyatuan mutlak dengan Siwa-Sadasiwa (Sumber Segala Manifestasi Materi).

Membuka Gerbang Srividya (Anatomi Singgasana Laksmi). 

Di atas Chakra jantung, terdapat ruang spiritual tersembunyi yang dalam mistisisme Hindu-Siwaistis Nusantara disebut Hridaya (Pusat Jantung Batin).

Rahasia Esoteris : tempat ini adalah stana dari Sri atau Laksmi (energi kemakmuran universal). 

Selama panca indra manusia masih terikat oleh ketakutan akan kemiskinan materi, gerbang ini terkunci rapat oleh selaput ilusi bernama Maya Granthi.

Teknik Puncak : Saat melakukan Patrap tertinggi di Gedong Pasewakan Keraton, Petapa tidak lagi memikirkan uang atau bisnis. Ia melakukan teknik Laya (peleburan keinginan). 

Ketika keinginan duniawi dilebur menjadi nol (Suwung Gung), selaput Maya Granthi pecah. 

Manifestasinya dalam hidup fisik : Anda tidak perlu lagi mencari rezeki, karena ke manapun kaki Anda melangkah, bumi dan alam semesta berkewajiban mencukupi serta melayani kebutuhan raga Anda (Sabda Dadi).

Penyatuan Ardhanareswari (Meleburnya Lingga dan Yoni)

Puncak tertinggi meditasi kemakmuran kosmik dicapai ketika dualitas energi di dalam tubuh menyatu secara mutlak.

Lingga (Kesadaran Siwa) yang tegak lurus di tulang belakang menyatu dengan Yoni (Energi Shakti/Bumi Kawi) yang dingin di Chakra dasar.

Leburnya Dualitas : Ketika kedua kutub ini bertemu di cakra mahkota (Sahasrara), petapa mengalami kondisi Ardhanareswari (setengah pria, setengah wanita). Secara spiritual, ini melambangkan bersatunya Sang Pencipta dan Ciptaan-Nya.

Dampak Transendental : Manusia yang mencapai titik ini menyadari rahasia esoteris terdalam : "Dunia materi dan dunia spiritual bukanlah dua hal yang berbeda." 

Harta, kekayaan, dan kemakmuran adalah pancaran gelombang dari Kesadaran Agung. Dengan menguasai Kesadaran tersebut, secara otomatis realitas materi disekitarnya tunduk dan bergeser sesuai kehendak Bathinitas nya.



Gunung Kawi Malang Jawa Timur


Gunung Kawi merupakan tempat Ziarah Spiritual Wisatawan Lokal hingga Mancanegara. Gunung yang berada di Malang, Jawa timur ini terdapat dua area Wisata Yaitu

1. Pasarean Gunung Kawi

Lokasi Jl Pesarean Sumbersari Wonosari Kec Wonosari Kabupaten Malang Jawa Timur

~ Makam Eyang Jugo/Kanjeng Kyai Zakaria II (wafat 22 Januari 1871) dan Raden Mas Imam Soedjono (wafat 8 Februari 1876). Mereka adalah tokoh bangsawan yang ikut menentang penjajah dibawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro.

~ Masjid Gunung Kawi

~ Klenteng Gunung Kawi

~ Gedung pertunjukan wayang kulit

2. Keraton Gunung Kawi 

Lokasi Area Gn Pitrang Balesari Kec Ngajum Kabupaten Malang

~ Dibangun pada tahun 861 M berdasarkan tulisan yang tertera pada Prasasti Batu Tulis di puncak Gunung Kawi. Pertapaan ini dibangun oleh Mpu Sendok (penguasa Mataram) pada masa dinasti Syailendra setelah berdirinya Candi Borobudur

~  Tempat para Raja Kediri, Mataram Kuno bertapa dan Moksa 

~ Tempat bertapanya para pendiri Singasari dan Majapahit

~ Sanggar Pamujaan dan tempat Moksa Prabu Kameswara Raja Kediri

~ Makam Ki Tunggul Manik dan Nyi Tunggul Menik

~ Vihara Dewi Kwan Iem 

Pesona Alam Gunung Kawi sejuk dan tenang untuk wisata religius dan begitu khusus. Penulis menepis jika Gunung Kawi yang banyak orang tahu bahwa disana tempat mencari Pesugihan, tetapi Gunung Kawi adalah Gunung Sakral yang memiliki energi pantulan besar serta energi Spiritual Tinggi. Banyak Raja Nusantara di masa lalu melakukan Meditasi di Gunung Kawi untuk menggapai Kesejatian.

Pada tahun 2017 penulis di undang para Tokoh Spiritual untuk Acara Ruwatan dan Pagelaran Budaya Wayang Kulit di area parkir wisata Keraton Gunung Kawi yg diselenggarakan Perusahaan Indofood dan Bogasari.