Ungkapan Jalaluddin Rumi ini menggambarkan perbedaan halus antara cinta yang kita beri dan cinta yang kita terima, terutama saat emosi manusia berada pada titik yang berbeda.
Kalimat “Ketika kau senang, kau akan pergi pada orang kau cinta” menunjukkan bahwa kebahagiaan sering mendorong manusia untuk berbagi dengan mereka yang menjadi objek cintanya. Dalam kondisi senang, manusia ingin menunjukkan rasa memiliki, kedekatan, dan kegembiraan. Pergi kepada orang yang kita cintai saat bahagia kerap bersifat ekspresif, kita ingin berbagi cerita, tawa, dan kebanggaan.
Namun Rumi melanjutkan dengan pengamatan yang lebih dalam: “Tapi ketika kau sedih, kau akan pergi pada orang yang mencintaimu.” Saat kesedihan datang, manusia secara naluriah mencari tempat yang aman, bukan sekadar tempat yang menyenangkan. Orang yang mencintai kita tanpa syarat memberi rasa diterima, dipahami, dan tidak dihakimi. Dalam duka, yang dicari bukan pujian, melainkan pelukan batin dan ketulusan.
Ungkapan ini menyingkap bahwa cinta yang memberi dan cinta yang melindungi memiliki fungsi berbeda. Mencintai sering membuat kita ingin hadir saat segalanya baik-baik saja, tetapi dicintai membuat kita berani datang saat kita rapuh dan tidak utuh.
Secara spiritual, Rumi juga mengisyaratkan hubungan manusia dengan Tuhan. Saat bahagia, manusia kerap sibuk dengan apa yang dicintainya di dunia. Namun ketika sedih dan terluka, ia kembali kepada Allah, Zat yang mencintainya tanpa syarat, bahkan ketika manusia sendiri tidak mampu mencintai dirinya.
Secara keseluruhan, ungkapan ini mengajarkan bahwa ukuran cinta sejati tampak jelas dalam kesedihan. Orang yang benar-benar mencintai bukan hanya hadir dalam tawa, tetapi menjadi tempat pulang ketika dunia terasa berat.
