Kisah Para Tokoh Kebathinan Jawa 1


Sendang Semanggi terletak di sebelah barat Pabrik gula Madukismo Bantul-Yogyakarta kini terlihat sepi sepi saja namun bila kita mau untuk melihat perjalanan masa lalunya maka dari Sendang Semanggi ini lah kisah Spiritual pemimpin negeri ini pernah berjelajah spiritual di Sendang ini. Rama Marta, Rama Dijat, Rama Mesran, Rama Budi Utomo adalah guru-guru kebatinan Jawa yang dipercaya Soeharto. Konon, melalui Soejono Hoemardhani, Soeharto mendengarkan informasi gaib mereka yang sering menjadi landasan kebijakan politiknya. Pohon beringin, pohon pamrih, pohon sambi. Dinaungi tiga pohon itu, sendang di pebukitan kapur itu tampak teduh. Air sendang sangat jernih hingga endapan lumpur di dasar terlihat dengan jelas. Dikalangan kebatinan Jawa mengenal mata air dalam cekungan batu kapur itu dulu adalah tempat almarhum Rama Martapangarsa, seorang spiritualis Yogyakarta, menempa diri. Syahdan, pada 1940-an, Martapangarsa mendapat wisik agar menyusuri Gunung Sempu. Dia menemukan sebuah mata air yang dirasanya cocok untuk tempat berendam, mengasah kepekaan. Ia menamakannya Sendang Titis, artinya kolam untuk berlatih menajamkan hati. Dibangunnya sebuah padepokan alit, lalu ia tinggal di situ, meninggalkan rumahnya di bilangan Nataprajan, Yogya.

Untuk menuju sendang yang terletak di Dusun Semanggi, Kelurahan Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY, itu kini tidak terlalu sulit. Ada jalan aspal, meski agak sempit, yang membelah pebukitan kapur tersebut. Sampai di sana, di pendapa bercat kuning yang lusuh, kita masih dapat melihat lukisan wajah almarhum Martapangarsa tergantung di dinding balai. Lukisan itu diapit potret dua almarhum guru lain: Rama Dijat dan Rama Budi Utomo.

Kalangan kebatinan Jawa tahu, sendang itu pernah melintas dalam kehidupan kebatinan Soeharto. Di situlah, pada 1957, lama sebelum Soeharto menjadi presiden, ia oleh Rama Marta dibaptis menjalani "ikatan persaudaraan mistikal" dengan Soedjono Hoemardhani. Dr Budyapradipta, pakar sastra Jawa Universitas Indonesia yang menjadi sekretaris pribadi Soedjono Hoemardani pada 1983–1986, pernah mendengar kisah ini langsung dari mulut Soedjono Hoemardani.

Pak Djono bercerita di Sendang Titis itulah Rama Marta membaptis Pak Harto menjadi Rama, Pak Djono menjadi Lesmana, Bu Tien menjadi Sinta, Bu Jono menjadi Kunti."

Yang datang pertama kali ke sendang, menurut cerita Soedjono itu, adalah Soedjono dan istrinya. Rama Marta telah menunggu. Baru kemudian datang Soeharto dan Tien. Begitu Soeharto datang, Rama Marta seperti seolah membaca tanda-tanda, kemudian berkata: "Lha iki jago wirig kuningku (lha ini jago aduanku datang)." Wirig kuning dalam budaya Jawa adalah ayam jago yang kaki dan paruhnya berwarna kuning dan dikenal tangguh dalam bertarung.

Pertemuan pertama Soeharto dengan Soedjono terjadi pada Juni 1956 saat bertugas di Semarang. Letnan kolonel Soeharto menjadi kepala staf dan kemudian Panglima Divisi Diponegoro. Pada waktu itu Soedjono adalah kapten. Soedjono dikenal menyukai dunia kebatinan Jawa. Keduanya menemukan kecocokan.

Akhir 1957, Soedjono memainkan peran penting membentuk beberapa perusahaan swasta atas nama Divisi Diponegoro. Saat menjadi presiden, "utang budi" Soeharto kepada Soedjono terus meningkat. Soedjono pada awal Orde Baru ditunjuk Soeharto menjadi staf pribadi (spri) dan kemudian asisten pribadi di bidang ekonomi pada 1966–1974. Setelah kerusuhan anti-Jepang (Malari), Soeharto membubarkan posisi aspri.

Soedjono tidak memiliki jabatan penting. Tapi banyak yang menyebut justru pada saat itulah Soedjono aktif mendukung Soeharto secara spiritual. Soedjono melakukan ritual-ritual. Saat itu kesibukan Soeharto meningkat sehingga tak sempat melakukannya. Soedjono juga memantau terus perkembangan sosial-politik secara gaib. Menurut Budyapradipta, itu dilakukan melalui bantuan guru-guru laku Jawa yang dikenalnya selama bergaul dengan Soeharto.

Setelah kembali ke Jakarta, sejak menjadi Panglima Diponegoro, Soeharto, misalnya, sering berdiskusi dengan Mesran Hadi Prayitno, seorang perwira menengah Angkatan Darat yang sama-sama menyukai spiritualitas Jawa. Kepada Soeharto, Mesran menyarankan, jika benar-benar ingin memperdalam spiritualitas Jawa, Soeharto harus bertemu dengan seorang guru bernama Raden Panji Soedijat Prawirokoesoemo atau yang lebih dikenal sebagai Rama Dijat.

Pada 1963, Mesran dan Soeharto bertemu Rama Dijat di rumah orang tua Romo Dijat yang bernama Prawiro Dinomo di Dukuh Gopetan, Desa Gemblegan Kalipotes, Klaten. Soeharto kaget, ternyata Rama Dijat adalah lelaki misterius yang pernah ditemuinya pada 1961 saat ia melakukan ziarah di makam leluhur raja-raja Majapahit di situs Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Waktu itu Soeharto melihat seorang lelaki yang tengah melakukan meditasi dan berhasil melakukan komunikasi dengan alam gaib. Usai meditasi, lelaki tersebut meninggalkan Trowulan. Soeharto terkesan, kagum dan penasaran terhadap lelaki itu. Ia ingin tahu lebih banyak tentang laki-laki itu, tapi laki-laki itu telah menghilang. Dan kini ternyata sosok penuh teka-teki itu ada di hadapannya.

Pada pertemuan Klaten itu, Soeharto langsung menyatakan diri menjadi murid Rama Dijat. Rama Dijat sendiri saat itu tinggal di Semarang. Soeharto kemudian hampir tidak pernah absen mengikuti sarasehan antara Rama Dijat dan murid-muridnya setiap selapan (35 hari) pada Selasa Pahing malam yang dilakukan di rumah Rama Dijat, Jalan Sriwijaya 70 Semarang. Tak hanya acara selapan, setiap membutuhkan konsultasi, Soeharto datang ke Semarang. Saat menjadi presiden, di luar jadwal kepresidenan, Soeharto masih menyempatkan diri ke Semarang. Tak jarang Rama Dijat via Soedjono diundang ke istana atau diutus mencari sesuatu.

"Pak Djono pernah bercerita bagaimana ia bersama Romo Dijat mencari pohon wijayakusuma di dekat Nusakambangan yang lautnya ganas," tutur Budyapradipta. Bunga wijayakusuma dalam kisah pewayangan adalah senjata Kresna. Di Jawa, banyak tumbuh bunga wijayakusuma. Bunga ini mengeluarkan bau harum pada waktu dini hari. Namun, ternyata Rama Dijat bukan hanya mencari bunga ini.

Bunga wijayakusuma yang diinginkan, menurut mereka, hanya tumbuh di sebuah pulau kecil dekat Nusakambangan. Dengan bentuk kecil-kecil, bunga Wijayakusuma dipercaya memberi tanda negara bakal baik. Setelah Soedjono dan Rama Dijat mendapatkannya, pohon ini ditanam di Cendana, Keraton Solo, dan rumah Soedjono.

Romo Marto Pangarso (dari Bantul-Yogyakarta), dikenal sebagai Guru Soeharto dalam arti sesungguhnya.

Ia berhubungan dengan Marto saat memimpin BKR di Yogyakarta. Konon, Marto yang kerap melakukan ritual di Candi Prambanan ini bisa membaca tanda-tanda.

Sejumlah syarat lelaku dari Marto yang terbilang berat pernah dilakukan Soeharto demi memenuhi ramalannya, seperti bersemedi di Gua Srandil (di Cilacap).

Romo Marto meninggal tahun 1980, sebelum meninggalnya Soeharto sempat membangun Padepokan Sendang Semanggi Kasihan Bantul (tempat Marto mengumpulkan pengikutnya dari pelosok Jawa setiap 35 hari











Sains dibalik pohon Sakral di Nusantara

Di Indonesia, banyak pohon dan hutan disakralkan dan diberi kisah-kisah mistis sebagai bentuk pelestarian dan penjaga kelestariannya. Bahkan sebagai bentuk penghormatan terhadap pohon dan hutan tersebut, leluhur kita di zaman dulu, bahkan sampai beberapa masyarakat adat di zaman sekarang, masih menghormati keberadaan dan energi mereka dengan memberikan sesaji sebagai bentuk tanda hormat, kekaguman terhadap alam, dan penyatuan mistik dengan alam semesta.

Dulu leluhur kita belum mampu menjelaskan secara ilmiah, apa pentingnya hutan dan pohon secara ekologi. Mereka hanya bisa mewariskan secara turun-temurun melalui budaya tutur, bahwa pohon dan hutan mengandung roh suci dan dijaga oleh para leluhur/dewa/Danhyang agar hutan tetap lestari. 

Leluhur kita juga belum mampu menjelaskan bencana alam secara ilmiah. Mereka hanya bisa mewariskan budaya tutur, bahwa jika pohon dirusak dan hutan dibabat habis, maka roh penjaga, para leluhur, para Dewa, dan para Danhyang akan marah dan memberikan hukuman kepada manusia. 

Leluhur kita dulu tidak mampu menjelaskan bencana alam secara hukum fisika dan hukum kimia. Karena itu adalah keilmuan modern ala Barat. Tapi leluhur kita sudah mewariskan budaya tutur, semua energi alam semesta yang mencelakai manusia dikategorikan sebagai demit atau roh jahat. Dan patut dihindari dengan cara-cara spiritual. Karenanya harus ada ritual tolak bala, larung sesaji, dan sebagainya sebagai penolak bala di level Pikiran Bawah Sadar.

Dalam buku Becoming Supernatural, dijelaskan bahwa di ranah quantum, apa yang menjadi kepercayaan manusia, maka itulah yang terjadi pada alam semesta. Ini adalah dimensi di mana segala kemungkinan itu eksis. Dan manusia bisa mengaksesnya melalui Pikiran Bawah Sadar. 

Dalam buku The Magic of Reality, anda akan memahami bahwa ritual-ritual adat sejak zaman kuno, sebenarnya merupakan langkah konkret masyarakat adat untuk membentuk realita melalui Kesadaran Kolektif mereka, yang dibangun melalui Pikiran Bawah Sadar masing-masing. Ritual adat adalah proses transendensi agar Pikiran Bawah Sadar terbuka, dan sesaji atau pengorbanan hewan adalah anchor untuk menanamkan sugesti dan realita ke dalam pikiran bawah sadar masing-masing orang. Kemudian, semesta sebagai realita, merespon apa yang tercipta di Pikiran Bawah Sadar ini, dan menyajikannya sebagai realita sungguhan.

Secara sains sendiri, pohon dan hutan memang memiliki peranan penting dalam peradaban manusia.

Daun-daun pohon yang lebat menghasilkan Oksigen. Batang pohonnya yang besar menyimpan cadangan air untuk manusia. Makin besar sebuah pohon, maka makin banyak air yang tersimpan di dalamnya. Makin banyak cadangan air tersimpan, maka makin minim resiko kekeringan di musim kemarau dan resiko bencana alam (banjir dan longsor) di musim penghujan. 

Ini semua adalah kinerja pohon yang hidup, di mana di dalamnya juga terjadi aktifitas kimiawi dan listrik yang saling bersinergi antara akar, batang, dan daun. Leluhur kita menyebut aliran energi ini sebagai roh suci yang mendiami pohon dan hutan. Itulah yang mereka hormati dan mereka berikan sesaji secara berkala.

Pohon tak hanya bekerja untuk internal dirinya saja. Akar pohon yang tunjang, kuat, dan bercabang ke mana-mana telah menjadi pondasi bagi tanah dan menjaga alam agar tidak terjadi bencana. Pohon tak hanya hidup untuk dirinya sendiri. Mereka saling berkomunikasi dengan pohon-pohon lain di sekitarnya, dan juga hewan-hewan.

Ketika ada gangguan datang, entah kedatangan predator ataupun bencana, pohon bisa saling berkomunikasi dengan pohon lainnya melalui suara ultrasonik yang mereka hasilkan, agar pohon-pohon lain bersiap. Ketika pohon dipotong, terkena badai, atau dimangsa oleh predator, pohon sebenarnya menjerit melalui suara ultrasonik mereka, untuk mengingatkan pohon-pohon lain agar siaga.

Saat badai datang dan longsor mengancam, pohon-pohon bersuara untuk mengingatkan pohon lain agar memperkuat akar dan batang mereka, sehingga tidak tumbang diterjang badai dan tanah longsor. Kekuatan akar mereka juga mencegah tanah untuk bergeser, sehingga mereka menjadi penyelamat alami di kala curah hujan tinggi. Kita memang tak mampu mendengarkan suara mereka. Tapi tumbuhan lain dan beberapa jenis hewan tertentu mampu mendengarnya.

Pohon juga membentuk jaringan kompleks bernama “Wood Wide Web”, yang berupa jaringan akar bawah tanah yang saling berkaitan dengan pohon-pohon lain. Melalui akar dan jamur mikoriza, pohon saling berkomunikasi, berkirim sinyal kimiawi, dan berbagi nutrisi (air, karbon, dan nitrogen). Dengan cara ini mereka saling menjaga dan memperkuat satu sama lain.

Pohon juga tanpa kita sadari telah menjaga ekosistem manusia berikut peradabannya. Pohon dan hutan dengan ukuran kayu yang raksasa, biasanya paling banyak kita temukan ada di atas bukit atau di pegunungan. Sedangkan lahan pertanian, perkebunan, dan peternakan biasanya dibangun di dataran yang lebih rendah.

Ketika musim hujan tiba, pohon dan hutan menjadi pondasi bagi bukit dan pegunungan. Sehingga tanah tidak mengalami longsor akibat pelarutan dengan air hujan. Batang mereka yang kokoh juga menyerap sisa-sisa air hujan. Tak jarang, di sekitar pohon berukuran raksasa, kita bisa menemukan sumber air yang sangat jernih dan sehat. Ini karena batang pohon memang menyimpannya, dan bisa mengalirkannya kembali dalma bentuk mata air. Manusia kemudian menggunakan mata air tersebut untuk mengairi sawah, kebun, dan memberi minum ternak-ternak mereka. Ekonomi pun berputar. Dengan cara inilah manusia membentuk peradaban.

Pohon dan hutan secara energi telah membantu manusia membentuk dan menjaga kelangsungan peradaban itu sendiri. Tanpa ada bencana, manusia bisa bertani dan melanjutkan aktifitas ekonominya. Dan dulu, anugerah semacam ini dikatakan Illahiah, suci, dan sering digambarkan dalam perwujudan Roh/Dewa Dewi. Pohon sebesar ini bisa ditemukan di Sendang Titis atau Sendang Semanggi.

Kisah Para Tokoh Kebathinan Jawa 2



Romo Marto, Romo Budi Utomo, Romo Dijat, dan Romo Mesran boleh dianggap sebagai "ring satu" dunia kebatinan Soeharto pada masa lalu. Mereka dianggap memiliki daya linuwih, terutama karena kemampuan berdialog dengan roh leluhur melalui teknik meditasi yang dalam bahasa Jawa disebut njarwo.

Kebudayaan Jawa memiliki cara tua yang telah teruji ratusan tahun untuk mampu berkomunikasi dengan leluhur. Leluhur ini dianggap utusan Tuhan yang pernah terlahirkan sebagai manusia. Leluhur ini akan memberikan pesan-pesan (dhawuh). Ketika masuk dalam diri seorang medium, kata-kata leluhur ini hadir di anak lidah (kerongkongan) medium, hingga leluhur itu bisa diajak berdialog secara sadar.

Hal ini berbeda dengan trance, karena roh yang hadir dalam trance menempel di ujung lidah. Dalam trance medium yang bersangkutan tidak sadar sehingga tidak bisa berdialog. Ucapan yang keluar dari mulutnya hanya disampaikan satu arah. Maka dari itu, seseorang yang dapat melakukan njarwo bukan disebut kesurupan, melainkan Kelungguhan (dari kata lungguh, duduk).

Soedjono sangat percaya pada dhawuh-dhawuh yang disampaikan Romo Marto, Romo Budi Utomo, Romo Dijat, dan Romo Mesran. Dhawuh-dhawuh tersebut dianggapnya lebih akurat ketimbang prediksi dan analisis para doktor atau pakar mana pun. "Intelektual nggak patut didengar, tidak ada unsur ketuhanannya," begitu Soedjono suatu kali mengatakan kepada Budyapradipta. Soedjono aktif mengundang para pinisepuh di atas untuk melakukan njarwo demi mengetahui situasi politik mutakhir. Informasi dari "dunia atas" itu secara rutin dilaporkan kepada Soeharto..

Selama menjadi sekretaris, Budyapradipta selalu mendampingi dan mencatat dhawuh-dhawuh yang keluar dari para guru di atas.

Para Romo itu, menurut dia, memiliki spesialisasi sendiri-sendiri. Romo Dijat diminta untuk menjarwo soal-soal kenegaraan. Romo Marto untuk soal kemasyarakatan dan kerumahtanggaan. Romo Budi untuk hal-hal yang sifatnya pribadi. Bila roh datang, karakter suara yang muncul antara Romo satu dan Romo lain berbeda intonasinya. Bila Romo Marto kelungguhan, misalnya, didahului ketawa ngakak.

Tapi menurut Budya, secara umum, ada tanda-tanda yang sama. "Waktu roh datang, para guru itu seperti keselek (tersedak)," katanya. "Lalu ada suara masuk yang lebih berat, meninggi, dan berbahasa ngoko, menandakan posisinya lebih tinggi dari orang yang diajak bicara." Menurut Budya, ciri-ciri kalimat leluhur itu rapi. Sebagai ahli bahasa Jawa kuno sendiri, ia takjub mendengar kosakata yang keluar sangat kaya. Menurut dia, banyak ungkapan-ungkapan metafor yang bahkan tidak ada dalam kamus Jawa susunan Zoetmulder maupun Ki Padmo. "Misalnya ada ungkapan lobok ora coplok, sesak ora nggebok…."

Banyak kebijakan politik Soeharto, sebelum dikeluarkan, dikomunikasikan dulu dengan para leluhur. "Menurut Pak Djono, saat GBHN dibuat dan saat Indonesia mau merebut Timor Timur, Soeharto terus-menerus meminta pertimbangan dhawuh ini." Soeharto merasa kebijakannya akan lebih sah, mantap, bila leluhur mendukung.

Setiap malam Jumat, Soedjono secara rutin menggelar kegiatan njarwo di rumahnya, Jalan Diponegoro. Mereka yang hadir berjumlah sekitar 40 sampai 100 orang. Budya ingat, bila leluhur "masuk" ke dalam tubuh Romo Mesran, kalimat awalnya adalah "Iyo Ngger…(ya Nak)." Langsung semua yang hadir secara koor sembari sungkem mengatakan: "Sugeng rawuh… (selamat datang, Eyang)." Setelah dhawuh itu didengar, biasanya lalu "komunitas" itu mendiskusikannya dengan situasi politik mutakhir.

Setiap Suro (tahun baru Jawa), menurut Budyapradipta, Soedjono Hoemardhani bersama Romo Dijat juga pergi ke Padepokan Jambe Pitu di Gunung Selok, Cilacap. Ini adalah padepokan yang lokasinya ditemukan Romo Dijat dan kemudian dibangun oleh Soedjono. Antara kawasan Gunung Srandhil dan Gunung Selok di Cilacap memang terkenal banyak bertebaran petilasan.

Soeharto tidak asing dengan petilasan-petilasan di Cilacap. Adi Suwarto, seorang juru kunci di sana, pernah mengantarkan Soeharto berziarah ke petilasan Kiai Semar Bodronoyo atau Kaki Tunggul Sabdodadi Doyo Amongrogo yang letaknya di sisi selatan Bukit Srandil. "Dua hari sebelum kedatangan Pak Harto, lokasi kami kosongkan. Soeharto datang malam hari hanya sekitar dua jam," kata Adi Suwarto.

Menurut Romo Dijat, dibanding petilasan-petilasan lain, letak geografis Jambe memiliki energi paling kuat dan sangat cocok sebagai tempat menerima dhawuh.


Sendang Titis Bukit Sempu


Perjalanan hidup mendiang Presiden Soeharto memang sangat kental dengan kehidupan olah batin dan laku spiritual. Berbagai daerah dikunjunginya dan dijadikan sebagai tempat untuk mendekatkan dirinya pada alam kebatinan Jawa. Salah satunya adalah di tempat ini yang konon diyakini mampu mengangkat derajat dan pamor Soeharto sehingga ia bisa berkuasa selama 32 tahun memimpin negeri.

Tempat keramat ini berupa sebuah mata air atau orang Jawa sering menyebutnya dengan sebutan sendang. Namanya Sendang Titis namun ada pula yang menyebutnya dengan nama Sendang Semanggi karena berada Dusun Semanggi, Desa Bangunjiwo, Kecamatan, Kasihan, Bantul.

Sendang Titis atau Sendang Semanggi ini terletak di lereng bukit cadas kapur bernama Bukit Sempu. Dari pusat Kota Yogyakarta, berjarak sekitar 15 km ke arah arah selatan atau jika mencapainya dengan berkendaraan akan memakan waktu kurang lebih 35 menit.

Di lereng bukit kapur dengan ketinggian sekitar 30 meter ini siapa pun orangnya harus berjalan kaki dengan melewati jalan berbatu menanjak yang licin. Sendang ini hanya berukuran sekitar 3 x 5 m saja, dipagari dengan tumpukan batu yang dinaungi oleh dua pohon beringin tua.

Mbah Purwoutomo (80), juru kunci Sendang Titis menceritakan tentang asal mula mata air keramat ini. “Tidak ada yang tahu pasti kapan terjadinya sendang ini, tapi yang jelas sudah berabad-abad sebelum kita ada,” terangnya.

Kata Titis pada nama Sendang Titis diambil dari suatu peristiwa yang terjadi yang mengiringi terbentuknya sendang ini secara gaib. Dahulu mata air di atas bukit tersebut mengeluarkan air sampai gemercik menetes seperti sebuah air terjun kecil. Peristiwa menetesnya air terjun kecil ini mirip sekali dengan peristiwa tetasan air hujan yang mengenai Tritisan atap-atap rumah Jawa jaman dahulu.

Tritisan atau kata dasarnya Tritis, dalam dalan bahasa Jawa berarti bagian emperan atau pojokan rumah adat Jawa. Sehingga dengan peristiwa tersebut, kemudian mata air tersebut dinamai dengan nama Sendang Titis, serapan kata dari bahasa Jawa yakni Tritis. Adapula anggapan lain yang menyatakan, kata Titis dari nama Sendang Titis ini berasal dari bahasa Jawa yaitu Titis yang berarti jitu. Konon diyakini, barang siapa saja orangnya yang melakukan laku sritual di tempat ini akan mendapatkan suatu petunjuk yang titis alias jitu.

Menaikan Pamor Soeharto

Sang juru junci mengatakan sendang ini dulunya merupakan tempat mendiang Soeharto untuk melakukan ritual olah batin. Ketika itu, Soeharto dikawal dengan ratusan prajurit militer, pengamanan dibuat beberapa ring atau lapisan hingga kawasan Sendang Titis benar benar-benar steril dari warga demi kekhusukan Soeharto menjalankan ritual.

"Saat itu, Pak Harto masuk ke area Sendang Titis sendiri sambil membawa sebuah keris. Pak Harto waktu itu hanya tidur di bawah pepohonan bambu yang terletak di bawah tebing bukit. Di situ Pak Harto tidur hanya beralaskan karung beras saja,” kata Mbah Purwoutomo sambil menunjuk pepohonan bambu di utara rumahnya tak jauh dari Sendang Titis berada.

Konon ada tata cara ketika seseorang akan melakukan ritual penyucian raga di Sendang Titis ini. Yang pertama-tama, niat harus bersih dan tidak boleh memiliki niat yang buruk. Setelah itu mengambil air sendang dengan tangan kanan, kemudian tangan kiri menepuknya sebanyak tiga kali. Kemudian, cipratkan air yang masih tersisa di tangan tersebut ke bahu kanan dan kemudian ke bahu kiri. Setelah itu, barulah berbilas dan menyucikan badan dengan cara mandi di sendang tersebut.

Guru Spiritual Soeharto

Mendiang Soeharto dahulu bisa sampai ke tempat ini bukan tanpa alasan. Hal ini terkait erat dengan adanya sosok seseorang yang disebut-sebut sebagai tokoh yang sangat dihormati oleh Soeharto semasa hidup sampai akhir hayatnya. Ia adalah Almarhum Romo Marto yang telah tutup usia pada tahun 1990 dalam umurnya yang ke 90 tahun.

Njarwo Berdialog dengan Roh Leluhur



Romo Marto, Romo Diyat, Romo Mesran, Romo Budi Utomo adalah guru-guru kebatinan Jawa yang dipercaya Soeharto. Konon, melalui Soejono Hoemardhani, Soeharto mendengarkan informasi gaib mereka yang sering menjadi landasan kebijakan politiknya.

Pohon beringin, pohon pamrih, pohon sambi. Dinaungi tiga pohon itu, sendang di pebukitan kapur itu tampak teduh. Air sendang sangat jernih hingga endapan lumpur di dasar terlihat dengan jelas.

Kalangan kebatinan Jawa mengenal mata air dalam cekungan batu kapur itu dulu adalah tempat almarhum Romo Marto pangarso, seorang spiritualis Yogyakarta, menempa diri.Thn 1940-an, Martopangarso mendapat wisik agar menyusuri Gunung Sempu. Dia menemukan sebuah mata air yang dirasanya cocok untuk tempat berendam, mengasah kepekaan. Ia menamakannya Sendang Titis, artinya kolam untuk berlatih menajamkan hati. Dibangunnya sebuah padepokan alit, lalu ia tinggal di situ, meninggalkan rumahnya di bilangan Nataprajan, Yogya.

Untuk menuju sendang yang terletak di Dusun Semanggi, Kelurahan Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY, itu kini tidak terlalu sulit. Dulu di sana, di pendapa bercat kuning yang lusuh, kita masih dapat melihat lukisan wajah almarhum Martapangarsa tergantung di dinding balai. Lukisan itu diapit potret dua almarhum guru lain: Romo Diyat dan Romo Budi Utomo.

Kalangan kebatinan Jawa tahu, sendang itu pernah melintas dalam kehidupan kebatinan Soeharto. Di situlah, pada 1957, lama sebelum Soeharto menjadi presiden, ia oleh Romo Marto dibaptis menjalani "ikatan persaudaraan mistikal" dengan Soedjono Hoemardhani.

"Pak Djono bercerita di Sendang Titis itulah Romo Marto membaptis Pak Harto menjadi Rama, Pak Djono menjadi Lesmana, Bu Tien menjadi Sinta, Bu Jono menjadi Kunti."

Yang datang pertama kali ke sendang, menurut cerita Soedjono itu, adalah Soedjono dan istrinya. Rama Marta telah menunggu. Baru kemudian datang Soeharto dan Tien. Begitu Soeharto datang, Romo Marto seperti seolah membaca tanda-tanda, kemudian berkata: "Lha iki jago wirig kuningku (lha ini jago aduanku datang)." Wirig kuning dalam budaya Jawa adalah ayam jago yang kaki dan paruhnya berwarna kuning dan dikenal tangguh dalam bertarung.

Soedjono tidak memiliki jabatan penting. Tapi banyak yang menyebut  Soedjono aktif mendukung Soeharto secara spiritual. Soedjono melakukan ritual-ritual. Saat itu kesibukan Soeharto meningkat sehingga tak sempat melakukannya. Soedjono juga memantau terus perkembangan sosial-politik secara gaib. 

Setelah kembali ke Jakarta, sejak menjadi Panglima Diponegoro, Soeharto, misalnya, sering berdiskusi dengan Mesran Hadi Prayitno, seorang perwira menengah Angkatan Darat yang sama-sama menyukai spiritualitas Jawa. Kepada Soeharto, Mesran menyarankan, jika benar-benar ingin memperdalam spiritualitas Jawa, Soeharto harus bertemu dengan seorang guru bernama Raden Panji Soedijat Prawirokoesoemo atau yang lebih dikenal sebagai Rama Diyat.

Pada 1963, Mesran dan Soeharto bertemu Romo Diyat di rumah orang tua Romo Diyat yang bernama Prawiro Dinomo di Dukuh Gopetan, Desa Gemblegan Kalipotes, Klaten. Soeharto kaget, ternyata Romo Diyat adalah lelaki misterius yang pernah ditemuinya pada 1961 saat ia melakukan ziarah di makam leluhur raja-raja Majapahit di situs Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Waktu itu Soeharto melihat seorang lelaki yang tengah melakukan meditasi dan berhasil melakukan komunikasi dengan alam gaib. Usai meditasi, lelaki tersebut meninggalkan Trowulan. Soeharto terkesan, kagum dan penasaran terhadap lelaki itu. Ia ingin tahu lebih banyak tentang laki-laki itu, tapi laki-laki itu telah menghilang. Dan kini ternyata sosok penuh teka-teki itu ada di hadapannya.

Pada pertemuan Klaten itu, Soeharto langsung menyatakan diri menjadi murid Romo Diyat. Romo Diyat sendiri saat itu tinggal di Semarang. Soeharto kemudian hampir tidak pernah absen mengikuti sarasehan antara Romo Diyat dan murid-muridnya setiap selapan (35 hari) pada Selasa Pahing malam yang dilakukan di rumah Romo Diyat, Jalan Sriwijaya 70 Semarang. Tak hanya acara selapan, setiap membutuhkan konsultasi, Soeharto datang ke Semarang. Saat menjadi presiden, di luar jadwal kepresidenan, Soeharto masih menyempatkan diri ke Semarang. Tak jarang Romo Diyat via Soedjono diundang ke istana atau diutus mencari sesuatu.

"Pak Djono pernah bercerita bagaimana ia bersama Romo Diyat mencari pohon wijayakusuma di dekat Nusakambangan yang lautnya ganas,". Bunga wijayakusuma dalam kisah pewayangan adalah senjata Kresna. Di Jawa, banyak tumbuh bunga wijayakusuma. Bunga ini mengeluarkan bau harum pada waktu dini hari. Namun, ternyata Romo Diyat bukan hanya mencari bunga ini.

Bunga wijayakusuma yang diinginkan, menurut mereka, hanya tumbuh di sebuah pulau kecil dekat Nusakambangan. Dengan bentuk kecil-kecil, bunga Wijayakusuma dipercaya memberi tanda negara bakal baik. Setelah Soedjono dan Rama Dijat mendapatkannya, pohon ini ditanam di Cendana, Keraton Solo, dan rumah Soedjono.

Romo Marto, Romo Budi Utomo, Romo Diyat, dan Romo Mesran boleh dianggap sebagai "Ring Satu" dunia kebatinan Soeharto pada masa lalu. Mereka dianggap memiliki daya linuwih, terutama karena kemampuan berdialog dengan Roh Leluhur melalui Teknik Meditasi yang dalam bahasa Jawa disebut : Njarwo.

Kebudayaan Jawa memiliki cara tua yang telah teruji ratusan tahun untuk mampu berkomunikasi dengan Leluhur. Leluhur ini dianggap utusan Tuhan yang pernah terlahirkan sebagai manusia. Leluhur ini akan memberikan pesan-pesan (dhawuh). Ketika masuk dalam diri seorang medium, kata-kata leluhur ini hadir di anak lidah (kerongkongan) medium, hingga leluhur itu bisa diajak berdialog secara sadar.

Hal ini berbeda dengan trance, karena roh yang hadir dalam trance menempel di ujung lidah. Dalam trance medium yang bersangkutan tidak sadar sehingga tidak bisa berdialog. Ucapan yang keluar dari mulutnya hanya disampaikan satu arah. Maka dari itu, seseorang yang dapat melakukan Njarwa bukan disebut kesurupan, melainkan kalenggahan (dari kata lenggah, duduk).

Soedjono sangat percaya pada dhawuh-dhawuh yang disampaikan Romo Marto, Romo Budi Utomo, Romo Diyat, dan Romo Mesran. Dawuh-dawuh tersebut dianggapnya lebih akurat ketimbang prediksi dan analisis para doktor atau pakar mana pun. "Intelektual nggak patut didengar, tidak ada unsur ketuhanannya," begitu Soedjono suatu kali mengatakan kepada Budyapradipta. Soedjono aktif mengundang para pinisepuh di atas untuk melakukan Njarwo demi mengetahui situasi politik mutakhir. Informasi dari "Dunia Atas" itu secara rutin dilaporkan kepada Soeharto.

Selama menjadi sekretaris, Budyapradipta selalu mendampingi dan mencatat dawuh-dawuh yang keluar dari para Guru di atas.

Para Romo itu, menurut dia, memiliki spesialisasi sendiri-sendiri. Romo Diyat diminta untuk men Njarwa soal-soal kenegaraan. Romo Marto untuk soal kemasyarakatan dan kerumahtanggaan. Romo Budi untuk hal-hal yang sifatnya pribadi. Bila Roh datang, karakter suara yang muncul antara Romo satu dan Romo lain berbeda intonasinya. Bila Romo Marto kalenggahan, misalnya, didahului ketawa ngakak.

Tapi menurut Budya, secara umum, ada tanda-tanda yang sama. "Waktu Roh datang, para guru itu seperti keselek (tersedak)," katanya. "Lalu ada suara masuk yang lebih berat, meninggi, dan berbahasa ngoko, menandakan posisinya lebih tinggi dari orang yang diajak bicara."





Kisah Para Tokoh Kebathinan Jawa 3




Tempat ini dinamai Sendang Semanggi atau Sendang Titis yang terletak di Pedukuhan Sembungan, Dusun Semanggi, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.
Pertama kali ditemukan oleh Alm. Romo Marto Pangarso seorang spiritualis yang mendapatkan wangsit sekitar tahun 1940 kemudian menelusuri gunung Sempu lalu mendapatkan sebuah Sendang.
Sendang ini kemudian digunakan untuk tempat tirakat dengan cara kungkum. Semula Sendang Semanggi diberi nama Sendang Titis yang berarti jitu atau tepat sasaran karena dianggap menjadi tempat yang memberikan atau tempat untuk mendapatkan wangsit yang jitu.
Dinamakan Sendang Semanggi karena disekeliling tempat tersebut banyak ditumbuhi tanaman semanggi 
Sendang Titis memiliki luas 2 x 2 m dengan kedalaman 1.5 m yang dinaungi oleh tiga pohon yakni Pohon Beringin, Pohon Pamrih dan Pohon Sambi.
Tempat ini pernah digunakan mendiang Soeharto untuk menggelar ritual. Soeharto bisa sampai ke tempat ini bukan tanpa alasan, hal tersebut terkait dengan adanya sosok Spritual bernama Romo Marto.
Romo Marto adalah seorang penganut kebatinan Jawa yang juga menjadi guru sebuah padepokan yang terletak di kaki Bukit Sempu tak jauh dari Sendang Titis berada. 
Sekitar tahun 1957 Soeharto resmi diangkat menjadi murid oleh Romo Marto. Sejak itulah hubungan kedekatan antara guru dan murid tersebut terjadi hingga akhir hayat mereka berdua.

Hanya sedikit yang tahu, Soeharto sesungguhnya tidak menjalin hubungan dengan SEMAR, tetapi hanya dengan SABDOPALON. Penasehat spiritual/Pepatih dalem Prabu Brawijaya V (KertaBhumi) Raja Majapahit terakhir.
Selama ini orang sudah salah kaprah, dan menganggap Soeharto itu “pemuja” Semar serta meniru filosofi hidup pujaannya itu. Soeharto memang termasuk anggota Semar fans club, tapi sesungguhnya sangat berbeda antara Semar yang dipahami Soeharto dengan Semar yang dikenal orang pada umumnya di cerita pewayangan (Semar Badranaya/Hyang Ismaya).

Setelah lama diselimuti misteri, dan meninggalkan Prabu Brawijaya V, ternyata Sabdopalon bersemayam disebuah pohon Preh tua di Sendang Semanggi.
Awal perkenalan Soeharto dengan Sabdopalon ini, melalui seorang Pertapa Sakti yang dikenal pula sebagai medium Sabdopalon, yaitu Romo Marto Pangarso. Arti kata Romo disini bukan mewakili pemuka agama tertentu, melainkan sebutan kehormatan/kasepuhan/keturunan Kerajaan/Ningrat.
Semasa hidupnya Romo Marto memang seorang tokoh kebatinan yang mumpuni. Ia berperawakan sedang, layaknya orang Jawa tulen. Keramahan orang Jawa terpancar lewat raut mukanya yang teduh dan semanak. Jambul Romo Marto jika diperhatikan memang mirip dengan Semar. Tapi bukan karena itu Romo Marto sakti mandraguna, namun karena lelaku batinnya sebagai seorang Pertapa itulah yang membuatnya jadi tokoh kasepuhan, spiritualis paling disegani di seantero Jawa.

Suatu hari Romo Marto mendapat perlambang / isyarat dalam bentuk tejo sumunar (benda bercahaya) dilangit lepas. Tejo itu beringsut perlahan-lahan, Romo Marto pun juga beranjak pelan-pelan mengikuti cahaya itu. Akhirnya cahaya itu berhenti, diatas patung Dewa Wisnu di Candi Prambanan Yogyakarta. Kala itu kompleks Candi Prambanan belum semegah sekarang, masih bebatuan berserakan, dan mudah dimasuki orang.
Karena rasa ingin tahunya yang besar, Romo Marto bermeditasi di kaki patung Dewa Wisnu tersebut. Dalam meditasinya, ia melihat seekor burung Jalak Putih. Singkat cerita ia mengikuti burung tersebut. Setelah sekian puluh kilometer, akhirnya burung Jalak itu berhenti pada sebuah bukit yang dikelilingi rindang pohon Jati.
Lalu Romo Marto menelusuri perbukitan gunung Sempu, dan menemukan tempat yang dimaksud. Sejak saat itu Romo Marto mulai membuat Sanggar tepat dibawah lokasi mata air ini. Dan tinggal menetap sebagai warga Kampung tersebut.
Di Sanggar Romo Marto inilah, Sabdopalon memberikan nasehat-nasehat dan ajaran tentang menjadi seorang pemimpin kepada presiden Soeharto, melalui medium Romo Marto, melalui ritual magis.

Kebesaran Romo Marto sebagai seorang pertapa tetap abadi sampai hari ini. Ia sangat dihormati, terutama oleh pengikutnya. Sebagai pertapa & spiritualis, beliau memang pantas diteladani. Karena menjauhi sentuhan ragawi dan kenikmatan duniawi (harta/jabatan/popularitas).
Makam Romo Marto Pangarso beserta istri terletak disebelah pojok timur Sendang Titis atau sendang Semanggi tersebut




Leluhur

Darah, Pengetahuan dan Semangat mereka mengalir di tubuh kita dalam bentuk DNA. Kita boleh saja memuliakan leluhur bangsa lain dan Ajaran nya. Tapi jika kita sudah melupakan begitu saja leluhur kita sendiri beserta pengetahuan dan pencapaiannya dimasa silam. Artinya kita tak tahu diri dan lupa diri dari mana kita berasal.

Ingat… kita pun suatu saat akan menjadi leluhur bagi anak cucu kita. Mampukah kita menjadi leluhur yang benar-benar luhur bagi anak cucu kita kelak? Seorang yang terpilih dan yang dipilih dari jiwa-jiwa yang menempati wadah yang di Kehendak-Nya. Dengan menitis dari Jiwa leluhur atau pun jiwa-jiwa suci, yang mempunyai tugas belum terselesaikan, maka Jiwanya menitis, ke satu wadah yang dikehendaki nya, untuk melanjutkan kembali tugas yang dia emban.

Semoga Jiwa -Jiwa yang Suci, yang menitis senantiasa diberi kekuatan lahir dan batin, untuk menjalani hidup, karena dia yang menitis ilmu dari leluhur, dia akan dihadapkan dengan persoalan hidup, yang kadang diluar batas kemampuan manusia pada umum nya. Seorang yang menerima titisan dari leluhur, akan memiliki jiwa dan mental yang kuat, untuk menjadi sosok teladan bagi sesama. 

Tanda-tanda manusia yang mendapatkan TITISAN dari LELUHUR Nusantara yang SUCI yaitu orang-nya sangatlah teduh, wawasan serta pengetahuan sangatlah luas. Ia tidak membeda-bedakan suatu Agama, Suku, Bangsa, Kasta, Tahta, Jabatan, Pakaian. Dan meskipun terlihat seperti orang biasa. Namun semua Alam ghaib, Alam ghaib suci, Alam ghaib sakti Mandraguna jagad, Alam Semesta Raya Nusantara dan di alam Dewa/Dewi bahkan Alam Kahyangan sangatlah mengetahui siapa sebenar-nya dirinya.

DIA-lah wakil-wakil yang diutus Sang Pencipta Alam Semesta dan para leluhur untuk mengembalikan JIWA-JIWA para KSATRIA yang telah lama kehilangan arah dan tujuan karena telah berubah bentuk menjadi PRIBADI para Ksatria berbadan butho kolo (Bhuta Kala)

Ilmu Leluhur

Setiap Seorang dalam sebuah Keluarga tentu mempunyai Leluhur, Jika Leluhur seseorang itu dimasa hidupnya mempelajari suatu ilmu khususnya ilmu Pengobatan, Ilmu Kebatinan, ilmu Gaib, ilmu Tharekat, ilmu Hakikat, Tasawuf atau Makrifat. Maka disaat ini ilmu Leluhur itu sedang melayang-Layang mencari keturunan nya, yang wadahnya siap untuk di isi ilmu tersebut. Jika Keturunan nya belum ada yang siap, maka ilmu itu bisa turun Kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Ciri bangkitnya Spiritual dalam diri yang terhubung dengan keilmuan leluhur dan  ada beberapa orang yang terhubung atau memiliki titisan leluhur. baik ilmu spiritual maupun ilmu supranatural. 

Adapun ciri seseorang memiliki bimbingan leluhur : 

1. Awalnya mendapatkan Gemblengan atau Ujian kehidupan baik itu dalam ekonomi, asmara, bahkan sakit. Ujian gemblengan ini untuk mengasah sisi wadah mental.

2. Mengalami perubahan kesadaran diri, bangkitnya Kesadaran Spiritual Awakening

3. Memiliki kepekaan Rasa-Indra keenam- Insting-felling-intuisi tajam. 

4. Terkoneksi atau terhubung dengan jiwa leluhur.baik dalam mimpi atau berinteraksi meditasi.

5. Memiliki kemampuan baik Spiritual atau Supranatural.

6. Mendapatkan perlindungan dari leluhur. ketika terbentur hal negatif. Leluhur kita akan menjaga. Ini fakta bagi yang peka. 

7. Leluhur juga secara tidak langsung membimbing arah Spiritual menuju jalan Kesadaran Ketuhanan.

Namun tidak semua orang yang memilki. Ilmu leluhur memiliki ciri-ciri tersebut tergantung pada jiwa leluhurnya dimasa Hidupnya.

PESAN...!! 

Hati-hati bagi yang memiliki Ilmu leluhur dalam Emosi, Ucapan dan Doa yang bersifat negatif, apa lagi mendoakan hal yang tidak baik. Karena seseorang yang memiliki keilmuan leluhur pasti memiliki Energi atau Power yang besar. Maka kita harus hati-hati baik ucapan Pikiran didalam bathin Karena ucapannya sering terjadi (Sidhi/Dadi). Lebih baik sugestikan hal-hal yang bersifat kebaikan..Kesuksesan...Kebahagiaan...Cinta..Kasih.

Salam Rahayu Leluhur Leluhur Nusantara