Anda Miskin bukan karena kurang Kerja, tapi karena salah Rasa. Ketika Anda sudah lelah, karena bekerja dari pagi hingga malam. Mengejar target, banting tulang mengorbankan waktu dengan keluarga. Tapi saldo rekening rasanya segitu saja, gajian hanya numpang lewat. Kenapa? Karena selama ini kita diajarkan cara mendapatkan uang tapi tidak pernah diajarkan cara merasakan Uang.
1. Uang itu persis seperti Air
Coba Anda tahan air di ember. Diamkan seminggu. Apa yang terjadi? Keruh. Berbau. Jadi sarang penyakit. Itulah yang Anda lakukan saat menahan uang dengan rasa takut. Takut habis. Takut tidak dapat lagi. Anda mengira sedang hemat, padahal Anda lagi membuat energinya busuk. Uang yang dialirkan dengan tenang, yang Anda pakai untuk nafas, untuk membuat tersenyum orang rumah, uang menjadi jernih. Uang itu hidup seperti air dan air yang hidup pasti cari jalan untuk kembali padamu, lebih deras.
2. Pelit pada diri sendiri itu Doa kemiskinan paling cepat.
Setiap kali Anda berkata "tidak usah, mahal", padahal badanmu butuh vitamin, hatimu butuh rehat, Anda lagi teriak ke semesta: "aku orang kekurangan!" Dan semesta itu menuruti. Dia tidak debat. Anda minta kekurangan, dia kasih kekurangan. Belilah hal yang bikin jiwamu sehat, itu bukan pemborosan. Itu laporan keuangan ke semesta bahwa Anda siap kelola lebih banyak.
3. Tangismu saat bayar tagihan adalah sumbatan Rezeki.
Jujurlah ketika klik bayar buat listrik, buat cicilan, dada Anda berat? Mengeluh? Maka Energi itu akan menempel di uangmu. Anda mengirim uang pergi dengan rasa benci. Pantas dia tidak mau balik. Mulai saat ini diubah. Tarik nafas. Senyum. Bilang "Terima kasih listrik, Anda bikin anakku bisa belajar malam-malam. Terima kasih, uang. Silakan pergi, ajak teman-temanmu balik". Rasanya aneh? Iya. Hasilnya? Gila.
4. Sedekah itu bukan mengurangi. Itu memperbesar wadah.
Logika manusia 10 - 1 = 9. Logika semesta 10 - 1 = 20. Disaat Anda memberi 10 ribu ke orang yang lebih butuh dengan Ikhlas, Anda baru saja mengatakan ke semesta "Rejeki ku kebesaran buat 10 ribu. Kirim yang lebih besar lagi ya". Anda sudah melubangi langit. Jangan Sedekah supaya kaya tapi Sedekah lah karena Anda sudah merasa kaya.
5. Rezeki tertutup? Cek dadamu, bukan dompetmu.
Anda tidak miskin karena malas. Anda terhalang karena di dadamu masih ada dendam, benci ke saudara, sakit hati ke orang tua atau dendam kepada rekan kerja. Energi dendam itu berat dan pekat. Seperti lumpur di pipa. Uang mau lewat saja tidak bisa. Maafkan bukan untuk mereka. Maafkan agar pipamu lancar. Maafkanlah agar dirimu lapang dada. Supaya Rezeki tidak perlu antri di luar. Berhentilah menyalahkan pekerjaan, menyalahkan gaji, menyalahkan pemerintah dan menyalahkan usaha.
Musuhmu bukan di luar tapi sumbatan yang ada di dalam, yang Anda rasakan dan pelihara setiap hari. Uang hanya datang ketika mengikuti perintah dari Rasa di dadamu.
