Setelah selesai mandi maka Nona Telangkas kembali pulang ke Kerajaan
Temas (Surabaya) untuk menghadap orang tuanya. Namun Nona Telangkas
disaat itu ternyata sudah dalam keadaan hamil maka setelah menghadap
ayahnya beliau ditanya “Siapakah suamimu, sehingga engkau pulang dalam
keadaan hamil ? “ Ditanya ayahnya berulang-ulang, dia tidak bisa
menjawab. Namun di dalam hatinya Nona Telangkas teringat dalam
pertapanya dikala akan selesai, dimana dia mandi di dalam telaga yang
sangat jernih airnya, dan ternyata di dalam air tersebut terdapat
bayangan pria yang sangat tampan. Maka disaat ditanya oleh sang ayah dia
tidak bisa menjawab, namun didalam hatinya menjawab seperti diatas.
Maka akhirnya dia kembali masuk hutan untuk mas mencari tersebut. Disaat sampai di tengah hutan Nona Telangkas melahirkan bayi, sampai sekarang tempat tersebut diberi sebutan desa Mbubar. Setelah jabang bayi lahir lalu diajak mencari telaga, yang akhirnya menjumpai telaga yang terdapat bayangan pria yang tampan tersebut. Kemudian si jabang bayi diletakkan ditepi sendang telaga dan ditinggal pulang ke kerajaan Themas. Siapakah sebenarnya orang yang kelihatan bayangannya didalam sendang telaga, ternyata beliau adalah Kanjeng Syeh Maulana Maghribi yang sedang bertapa diatas pohon Giyanti. Dikala si jabang bayi Nona telangkas diletakkan dipinggir sendang telaga, Syeh Maulana berkata “ Nona Telangkas keparingan amanateng Allah kang bakal njunjung drajatmu kok ora kerso “ (dalam Bhs jawa).Yang akhirnya Syeh Maulana turun dari pertapanya dan menimang jabang bayi, kemudian dibuatkan tempat yang sangat indah yaitu Bokor Kencono . Dikala itu Dewi Kasian ditinggal wafat suaminya yang bernama Aryo Penanggungan, belum mempunyai putra, karena sayangnya Dewi Kasian terhadap suaminya, walau sudah wafat setiap saat dia selalu menengok makam suaminya. Maka dikala itu Syeh Maulana Maghribi membawa putranya yang telah dimasukkan bokor kencono dan diletakkan disamping makam Aryo Penanggungan. Di malam itu juga kebetulan Dewi Kasian keluar dari rumah menengok kearah makam suaminya, kelihatan sinar yang menjurat keatas dari arah makam suaminya, apakah sebetulnya sinar yang menjurat dari arah makam suaminya tersebut ? Ternyata setelah didekati adalah sebuah bokor kencono yang sangat indah, dan dibuka bokor tersebut ternyata didalamnya terdapat jabang bayi yang sangat mungil dan lucu sekali. Disaat itu Dewi kasian sangat terperanjat hatinya melihat si jabang bayi tersebut, dengan tidak disadari akhirnya bokor berisi jabang bayi dibawa pulang dengan lari dan mengucapkan : “kangmas Penanggungan wis sedo, kok kerso maringi momongan marang aku “. (dalam Bhs Jawa).Kabar mengenai orang yang telah meninggal tetapi bisa memberikan kepada istri jandanya, telah tersiar sampai ke pelosok negeri. Masyarakat berbondong – bondong ingin menyaksikan kebenaran berita tersebut, Akhirnya Dewi Kasian yang asalnya tidak punya harta benda apa – apa menjadi janda yang kaya raya, dari uluran orang – orang yang datang tersebut. Kemudian jabang bayi diberi nama Joko Tarub karena dikala masih bayi diambil Dewi Kasian dari atas makam Aryo Penanggungan yang makamnya dibuat makam Taruban.
Maka akhirnya dia kembali masuk hutan untuk mas mencari tersebut. Disaat sampai di tengah hutan Nona Telangkas melahirkan bayi, sampai sekarang tempat tersebut diberi sebutan desa Mbubar. Setelah jabang bayi lahir lalu diajak mencari telaga, yang akhirnya menjumpai telaga yang terdapat bayangan pria yang tampan tersebut. Kemudian si jabang bayi diletakkan ditepi sendang telaga dan ditinggal pulang ke kerajaan Themas. Siapakah sebenarnya orang yang kelihatan bayangannya didalam sendang telaga, ternyata beliau adalah Kanjeng Syeh Maulana Maghribi yang sedang bertapa diatas pohon Giyanti. Dikala si jabang bayi Nona telangkas diletakkan dipinggir sendang telaga, Syeh Maulana berkata “ Nona Telangkas keparingan amanateng Allah kang bakal njunjung drajatmu kok ora kerso “ (dalam Bhs jawa).Yang akhirnya Syeh Maulana turun dari pertapanya dan menimang jabang bayi, kemudian dibuatkan tempat yang sangat indah yaitu Bokor Kencono . Dikala itu Dewi Kasian ditinggal wafat suaminya yang bernama Aryo Penanggungan, belum mempunyai putra, karena sayangnya Dewi Kasian terhadap suaminya, walau sudah wafat setiap saat dia selalu menengok makam suaminya. Maka dikala itu Syeh Maulana Maghribi membawa putranya yang telah dimasukkan bokor kencono dan diletakkan disamping makam Aryo Penanggungan. Di malam itu juga kebetulan Dewi Kasian keluar dari rumah menengok kearah makam suaminya, kelihatan sinar yang menjurat keatas dari arah makam suaminya, apakah sebetulnya sinar yang menjurat dari arah makam suaminya tersebut ? Ternyata setelah didekati adalah sebuah bokor kencono yang sangat indah, dan dibuka bokor tersebut ternyata didalamnya terdapat jabang bayi yang sangat mungil dan lucu sekali. Disaat itu Dewi kasian sangat terperanjat hatinya melihat si jabang bayi tersebut, dengan tidak disadari akhirnya bokor berisi jabang bayi dibawa pulang dengan lari dan mengucapkan : “kangmas Penanggungan wis sedo, kok kerso maringi momongan marang aku “. (dalam Bhs Jawa).Kabar mengenai orang yang telah meninggal tetapi bisa memberikan kepada istri jandanya, telah tersiar sampai ke pelosok negeri. Masyarakat berbondong – bondong ingin menyaksikan kebenaran berita tersebut, Akhirnya Dewi Kasian yang asalnya tidak punya harta benda apa – apa menjadi janda yang kaya raya, dari uluran orang – orang yang datang tersebut. Kemudian jabang bayi diberi nama Joko Tarub karena dikala masih bayi diambil Dewi Kasian dari atas makam Aryo Penanggungan yang makamnya dibuat makam Taruban.
Pada usia kanak-kanak Joko tarub atau
Sunan Tarub mempunyai kesenangan atau hobi menangkap kupu-kupu di
ladang. Setelah masuk di tengah hutan bertemu orang yang sangat tua, dia
diberi aji – aji tulup yang namanya tulup Tunjung Lanang. Tulup inilah
yang akhirnya menjadi aji-aji sangat luar biasa untuk Kiai Ageng Tarub/
Sunan Tarub. Diwaktu mendapat tulup tersebut dia pulang dengan cepat
menyampaikan berita kepada ibunya (Dewi Kasian) dan mengatakan bahwa dia
di tengah hutan dijumpai seorang yang sangat tua memberi aji – aji
tulup kepadanya. Namun karena sayangnya, Dewi Kasian tidak
memperbolehkan putranya masuk hutan, karena khawatir kalau dimakan hewan
buas atau dibunuh orang yang tidak senang kepadanya.
Namun karena Joko tarub tidak takut lebih-lebih mempunyai aji – aji tulup tersebut, maka Joko Tarub tetap senang masuk hutan untuk mencari burung. Sampai diatas gunung Joko Tarub mendengar suara burung yang sangat indah bunyinya yaitu burung perkutut. Kemudian didekati dan dilepaskan anak tulup kearah burung tersebut namun gagal. Akhirnya Joko Tarub berfikir dan menganggap bahwa burung ini tidak burung biasa. Kemudian terdengar lagi suara burung dari arah selatan, didekati dan dilepaskan lagi anak tulup kearah burung namun tidak mengenai burung itu dan ternyata anak tulup itu mengenai dahan jati. Tempat yang ditinggalkan burung tadi sekarang dinamai Dukuh Karang Getas. Karena sedihnya Joko tarub maka tempat yang ditinggalkan, sekarang dinamai Dukuh Sedah. Kemudian terdengar lagi suara burung dari arah selatan, didekati dari posisi yang strategis (burung dalam keadaan terpojok), maka anak tulup dilepaskan dan ternyata tidak kena dan burung terbang lagi ke selatan.
Namun karena Joko tarub tidak takut lebih-lebih mempunyai aji – aji tulup tersebut, maka Joko Tarub tetap senang masuk hutan untuk mencari burung. Sampai diatas gunung Joko Tarub mendengar suara burung yang sangat indah bunyinya yaitu burung perkutut. Kemudian didekati dan dilepaskan anak tulup kearah burung tersebut namun gagal. Akhirnya Joko Tarub berfikir dan menganggap bahwa burung ini tidak burung biasa. Kemudian terdengar lagi suara burung dari arah selatan, didekati dan dilepaskan lagi anak tulup kearah burung namun tidak mengenai burung itu dan ternyata anak tulup itu mengenai dahan jati. Tempat yang ditinggalkan burung tadi sekarang dinamai Dukuh Karang Getas. Karena sedihnya Joko tarub maka tempat yang ditinggalkan, sekarang dinamai Dukuh Sedah. Kemudian terdengar lagi suara burung dari arah selatan, didekati dari posisi yang strategis (burung dalam keadaan terpojok), maka anak tulup dilepaskan dan ternyata tidak kena dan burung terbang lagi ke selatan.
Tempat tersebut sekarang menjadi Dukuh Pojok. Burung terbang ke selatan dan hinggap diatas pohon asam oleh Joko Tarub dilepaskan lagi anak tulup kearah burung tetapi terbang lagi ke selatan, tempat yang ditinggalkan tadi menjadi Dukuh Karangasem. Diwaktu mengejar burung keselatan Joko Tarub merenungi burung tersebut, dalam ucapannya mengatakan ini burung atau godaan. Tempat merenungi Joko Tarub sekarang dinamai Desa Godan Joko Tarub mengejar terus burung kearah selatan, tempat melihatnya Joko Tarub sekarang dinamakan Dukuh Jentir. Joko Tarub terus melacak burung kearah tenggara kemudian berjumpa lagi dengan burung yang hinggap di pohon tetapi burung tersebut tidak bersuara. Setelah burung itu terbang lagi ke selatan dan tempat yang ditinggalkan tadi dinamakan Dukuh Pangkringan. Kemudian Joko Tarub melacak kearah selatan, setelah sampai ditempat yang sangat rindang disitulah burung terbunyi lagi.Namun Joko Tarub mendengar suara wanita yang baru berlumban (mandi) di dalam sendang. Disaat itu Joko Tarub lupa burung yang dikejar dia beralih mengintai suara wanita yang mandi di dalam sendang Ternyata para bidadari yang sedang dilihat, akhirnya Joko Tarub mengambil salah satu pakaiannya bidadari yang dengan tutup kemudian dibawa pulang dan disimpan dibawah tumpukan padi (lumbung) ketan hitam.
Joko Tarub kembali
lagi ke Sendang dengan membawa sebagian pakaian ibunya. Setelah sampai
didekat sendang ternyata para bidadari sudah terbang kembali ke surga.
Tinggal satu yang masih mendekam ditepi sendang dengan merintih dan
berkata : “sopo yo sing biso nulung aku, yen wadon dadi sedulur sinoro
wedi, yen kakung sanggup dadi bojoku“. Disaat itu Joko Tarub mendekati
dibawah pohon sambil mendengarkan ucapan bidadari tersebut dan menolong
bidadari dengan melontarkan pakaian ibunya. Setelah bidadari berpakaian
diajak pulang kerumah ibunya dan disampaikan kepada ibunya bahwa putri
ini adalah putri dari sendang yang baru terlantar dan minta tolong
kepada siapun : Jika yang menolong pria akan dijadikan suaminya.
Akhirnya Joko tarub menikah dengan bidadari tersebut yang bernama Nawang
Wulan. Adapun sendang yang dibuat lomban para bidadari, sekarang
dinamakan sendang Coyo.
Kemudian Joko Tarub dengan Nawang Wulan mempunyai tiga putri yaitu :
Nawang sasi, Nawang Arum, Nawang Sih. Pada waktu bayinya, Nawang Sih
mengalami satu riwayat yang sangat hebat yaitu dikala Nawang Sih masih
di ayunan, ibunya mau mencuci pakaian di sungai dan berpesan pada Joko
Tarub agar mengayun putrinya dan jangan membuka kekep (penutup masakan).
Namun setelah Nawang Wulan pergi ke sungai, Joko Tarub penasaran akan
pesan istrinya, maka dibukalah kekep tersebut, setelah melihat didalam
kukusan, ternyata yang dimasak istrinya hanya satu untai padi. Joko
Tarub mengucapkan (Masya Allah, Alhamdulilah istriku yen masak pari sak
uli ngeneki tho, lha iyo parine ora kalong – kalong. Tak lama kemudian
istrinya datang lalu membuka masakan tersebut, ternyata masih utuh padi
untaian. Kemudian istrinya menegur suaminya bahwa pasti kekep tadi
dibuka, sehingga terjadi pertengkaran. Akhirnya Nawang Wulan menyadari
sehingga harus dibuatkan peralatan dapur (lesung, alu, tampah) Setelah
kejadian itu Nyi Nawang Wulan kalau mau masak harus menumbuk padi dulu,
sehingga lambat laun padi yang ada di lumbung makin habis. Setelah
sampai padi yang bawah sendiri yaitu padi ketan hitam, ternyata
pakaiannya diletakkan disitu dan diambil kemudian menghadap suaminya.
Akhirnya terjadi pertengkaran yang hebat, ternyata yang mengambil
pakaiannya waktu disendang dulu adalah Joko Tarub sendiri. Kemudian Nyi
Nawang Wulang ingin pulang kembali ke surga dan berpesan kepada suaminya
: Bila putrinya menangis minta mimik agar diletakkan didepan rumah
diatas anjang – anjangTetapi setelah Nawang Wulan sampai di Surga di tolak oleh teman-temannya
karena sudah berbau manusia. Kemudian Nyi Nawang Wulan turun lagi ke
bumi namun tidak ada maksud kembali kerumah suaminya. Dia ingin bunuh
diri naik di gunung Merbabu meloncat ke laut selatan. Setelah sampai di
laut selatan Nyi Nawang Wulan perperang dengan Nyi loro Kidul, dan
akhirnya Nyi Nawang Wulan mendapat kejayaan, sehingga laut selatan
dikuasai oleh Nyi Nawang Wulan. Jadi yang ada dilaut selatan ada tiga
putri yaitu : Nyi Nawang Wulan, Nyi Loro Kidul, Nyi Blorong.
Setelah Joko Tarub ditinggal Nyi Nawang Wulan dia hidup dengan putrinya Nawang
Sih. Disaat itu di Kerajaan Majaphit yang diperintah Prabu Browijoyo
kelima ditinggal wafat istrinya, sehingga Prabu Browijoyo sakit dan
tidak mau menduduki kursi kerajaan, dan setiap malam kalau tidur ditepi
Kerajaan. Suatu malam dia bermimpi bila sakitnya ingin sembuh maka harus
mengawini putri Wiring Kuning, kemudian raja terbangun dari tidurnya.
Akhirnya para patih diperintah untuk mengumpulkan semua putri – putri.
Setelah diteliti dan disesuaikan dengan mimpinya tersebut akhirnya
menjumpai putri Wiring Kuning yang ternyata adalah pembantunya sendiri.
Akhirnya dikawinilah putri tersebut dan dilarang untuk keluar dari taman
kaputren karena malu jika ketahuan orang bahwa raja mengawini
pembantunya sendiri. Setelah jabang bayi lahir raja Brawijaya memanggil
saudaranya (Juru Mertani) supaya memelihara dan mengasuh bayi tersebut.
Kemudian bayi tersebut diberi nama Bondan Kejawan (Lembu Peteng).Dimasa kanak-kanak Bondan Kejawan, ayah asuhnya atau Juru Mertani akan
membayar pajak kekerajaan disaat itu Bondan Kejawan mendengar bahwa
ayahnya akan kekerajaan dan dia ingin ikut tetapi tidak diperbolehkan.
Namun dia lari dulu dan sampai di Kerajaan dia langsung masuk dan naik
keatas kursi raja. Kemudian membunyikan Bende Kerajaan. Sang raja
mendengar bunyi bende kerajaan dan marahlah, anak tersebut ditangkap dan
dimasukkan kedalam sel kerajaan. Tidak lama kemudian datanglah Juru
Mertani dengan membawa padi untuk membayar pajak. Selesai membayar pajak
dia menghadap sang raja dan menanyakan anak kecil yang membunyikan
bende kerajaan. Diberitahukan kepada sang raja bahwa anak kecil itu
putra sang raja sendiri. Kemudian raja memanggil anak kecil itu dan
membawa kaca untuk melihat wajahnya sendiri dengan wajah anak tersebut.
Ternyata Beliau yakin dan percaya bahwa anak tersebut putranya sendiri.
Kemudian Juru Mertani disuruh sang raja untuk mengantarkan putranya ke
Saudaranya yaitu Ki Ageng Tarub dan putranya agar diasuh dan
dipeliharanya. Disaat itu Ki Ageng Tarub mengasuh dua anak kecil yaitu
Bondan Kejawan dan anaknya sendiri. Setelah masuk remaja Bondan Kejawan
diperintah ayah asuhnya agar bertapa ngumboro yaitu disuruh ke sawah
selama tujuh tahun dan tidak boleh pulang kalau belum diambil. Setelah
sampai waktunya Nawang Sih diperintah ayahnya supaya memasak yang enak,
setelah memasak agar mengambil saudaranya Bondan Kejawan yang berada
ditengah sawah. Setelah sampai dekat gubug yang ditempati Bondan
Kejawan, Disaat itu Bondan Kejawan sedang istirahat diatas gubug.
Nawang Sih memanggil Bondan Kejawan dari bawah gubug. Bondan Kejawan
terperanjat atas panggilan Nawang Sih karena tidak tahu akan
kedatangannya, sehingga Bondan Kejawan jatuh dari atas gubug dan
memegang bahunya Nawang Sih. Sampai dirumah Nawang Sih memberitahukan
orang tuanya bahwa tadi bahunya dipegang oleh Bondan Kejawan. Tetapi
sang ayah malah memberi tahu Nawang Sih akan dijodohkan dengan Bondan
Kejawan, dan akhirnya mereka menikah. Kemudian lahirlah anak yang diberi
nama Ki Ageng Getas Pandowo (Ki Abdulloh). Bondan Kejawan meneruskan
Bopo Morosepuh dan diberi nama Ki Ageng Tarub II, sedang Ki Ageng Getas
Pandowo diberi nama Ki Ageng Tarub III.
Tempat pertapaan Bondan Kejawan
(Lembu Peteng) sekarang terdapat disebelah tenggara makam Ki Ageng Tarub
I, dukuhan sebelahnya dinamakan Desa Barahan. Selanjutnya Ki Ageng
Tarub III (Getas Pandowo) mempunyai putri banyak dan yang terkenal
adalah Ki Ageng Abdurrohman Susila (Ki Ageng Selo).
Adapun adanya Ki Ageng Tarub adalah merupakan suatu karomah dari
Allah yang diberikan kepada Syeh Maulana Maghribi dengan Dewi Telangkas
(Nona Telangkas) yang melahirkan Ki Ageng Tarub. Adapun karomah yang
diberikan Allah kepada Ki Ageng Tarub I yaitu kawin dengan Bidadari
yaitu Nawang Wulan. Adapun cucu Ki Ageng Tarub I adalah Ki Ageng Selo
yang mendapat karomah dari Allah yaitu dapat menangkap petir. Dari
Beliaulah terlahir raja-raja ditanah jawa. Makam Ki Ageng Tarub terletak
di desa Tarub Kecamatan Tawangharjo ± 10 km dari Kabupaten Grobogan.
Ditulis oleh: Taufiq Yusuf - sumber Grobogan.org
Ditulis oleh: Taufiq Yusuf - sumber Grobogan.org



