Pencarian diri akan Tuhan


Pencarian akan Tuhan telah menjadi obsesi besar meskipun mustahil untuk mencapai tujuan tersebut. Namun, kita masih berharap untuk mencari kesenangan tanpa disertai rasa sakit. Kita tahu ini mustahil. Namun, kita ingin tahu seperti apa keadaan itu. Artinya, pikiran bertindak sebagai kekuatan penghancur untuk mencoba mencapai apa yang tidak dapat dicapai. Manusia telah percaya bahwa ada yang disebut pembebasan yang digambarkan sebagai moksha, pembebasan jiwa, Tuhan, dan sejenisnya, keadaan kebahagiaan abadi, keadaan yang tidak dapat terjadi di alam berdasarkan hukum alam.

Di alam tidak ada yang seperti keabadian. Materi terus-menerus dihancurkan dan dibuat. Bahkan partikel subatomik seperti proton, neutron, dan elektron hanya memiliki waktu paruh. Jadi, tidak ada yang permanen di alam. Segala sesuatu berubah. Materi tidak dapat berada dalam keadaan permanen. Materi harus berubah. Ketika hal ini terjadi pada sistem fisik, sistem kehidupan yang dibangun di atas hukum alam juga beroperasi atas dasar yang sama. Kehidupan tidak dapat terjadi dengan melanggar hukum alam.

Ketika keabadian tidak dapat terjadi di alam, kebahagiaan abadi secara otomatis dikesampingkan. Secara ilmiah, hal itu tidak dapat dipertahankan. Hukum fisika dan kimia adalah hukum alam semesta kita. Universitasnya tidak dapat diragukan. Namun, manusia telah dirasuki oleh keinginan untuk mengalami keadaan kebahagiaan permanen yang dianggap demikian. Janji-janji manusia Tuhan untuk mengajarkan cara mencapai keadaan kebahagiaan permanen yang tidak dapat diwujudkan hanyalah retorika kosong.

Penderitaan besar manusia disebabkan oleh pencarian pencerahan atau moksha—sebuah tujuan yang dipaksakan oleh budaya selama ribuan tahun. Penyiksaan fisik, fisiologis, dan mental yang dialami orang untuk mencapai keadaan ini adalah hal yang menyimpang. Penyiksaan tubuh dengan menahan makanan menyebabkan perubahan metabolisme sedemikian rupa sehingga dapat menyebabkan halusinasi yang disalahartikan sebagai pengalaman spiritual. Keinginan berasal dari pikiran. Tidak ada yang seperti tidak adanya keinginan untuk makhluk hidup. Keinginan untuk moksha inilah yang harus dibebaskan darinya.

Tidak ada perbedaan antara tujuan material dan tujuan spiritual. Tujuan spiritual sama egoisnya dengan tujuan material. Tujuan spiritual bersifat ilusi dan hanya perluasan dari tujuan material. Jika Anda memikirkan Tuhan, Anda melakukannya hanya untuk keamanan Anda. Iman kepada Tuhan adalah sarana untuk mencapai tujuan material. Itu hanyalah delusi.

Perjalanan Kedalam Diri


Banyak orang yang bilang bahwa Perjalanan Spiritual itu adalah hal yg mistis, gaib, sesuatu yang dianggap klenik dll, bagi saya itu tidak! Kenapa? 

Karena itu perjalanan ke dalam dirimu, Itu berbicara tentang tubuhmu sendiri, tentang Energi Kundalini, Tulang Ekor, Tulang Belakang dan Kepala...

Hanya itu, dan itu ilmiah! 

Masa sih kamu dibilang belajar ilmu ghaib...padahal di AlQuran ada ayat : "Kenali dirimu maka kamu akan mengenal Tuhanmu." 

Kalau di Injil disebutkan : "Kerajaan Tuhan ada di dalam dirimu."

Dan saya yakin, di setiap agama dan di banyak kebudayaan mengajarkan bahwa perjalanan spiritual atau "Jalan Keilahian" itu mengacu ke dalam (diri), bukan pencarian ke luar atau dimana-mana.

Berbicara Energi Kundalini, kalau boleh saya ibaratkan kundalini adalah PUPUK, dia akan menumbuhkan bibit-bibit tanaman di dalam diri kita. Ya kalau kamu menanamnya buah yg tumbuh pasti buah juga, kalo kamu menanam duri ya yang tumbuh duri. Artinya apa? Ya itu kan kembali dengan apa yg sudah ada di dalam diri kamu. Kalau sifat bawaan kamu baik, maka kamu akan menjadi orang baik, begitu sebaliknya.

Saya tidak mengatakan kalau kamu melatih Kundalini itu kamu bisa jadi orang baik, tapi saya mau bilang, Kundalini itu adalah Energi, dan Energi itu Netral. Tidak baik dan tidak buruk. Tidak hitam tidak putih, hitam sekaligus putih (melampaui dualitas). Dan bukankah Jalan Spiritual seperti itu? Bukankah Jalan keillahian seperti itu? Apa kamu mau bilang kalau putih lebih baik dari hitam ? Menurut saya tidak juga. Apa kamu mau bilang kalau laki2 lebih hebat dari perempuan, menurut saya tidak juga. Kehidupan kan ya harus hitam sekaligus putih, harus senang sekaligus sedih. Itu ibarat roda, ya perputarannya seputar itu-itu saja. Dan yang dikatakan bahwa orang sudah mencapai "Pencerahan", ya mereka yang sudah "melampaui dualitas" itu tadi.

Sehat itu baik, sakit juga baik. Bahagia itu baik, sedih juga baik. Dipuji itu baik dihina juga baik. Karena bagi saya, semua baik-baik saja.

Samudera Tak Bertepi


Aku bukan air tabah yang mengukir batu
Aku bukan sufi yang khayal dalam rantai zuhud tiada jemu
Aku bukan Nabi dengan kitab dan suhuf yang turun dari lazuardimu
Aku bukan tukang cerita dengan jemari kaki bekas luka mengembara

Dunia berputar ke kanan dan ke kiri
Aku masih saja di sini
Langit berarah ke barat dan ke timur
Aku tetap di sini
Mau cari apa aku di sini?
Di pemberhentian yang tak pasti
Dengan lara yang tidak mau pergi
Dengan amarah yang tiada bertepi
Pada siapa?..... diri sendiri
Dengan impian yang mungkinkah aku gapai
Impian yang mana?
Mengapa.....
Kapan......
Bagaimana....

Bukan disinikah tempat aku?
Mencari pelabuhan yang aku sendiri tidak tahu di mana akhirnya
Memaknai Sejati Diri yang tiada henti
Tiada mimpi tiada navigasi
Tiada mata angin yang menunjukkan jalan
Dalam akal yang kosong tiada keinginan

Sang khalik
Berikan aku sabab
Biar dudukku di tanahmu menjadi manfaat buat makhlukmu jua
Biar tegakku dipertongkat mafhum dan sabda
Biar pergiku tidak hanya tinggal kidung
Melainkan pahala yang aku wariskan
Buat sekujur aku
Yang kaku
Sendiri
Menanti hisabmu








Para pencari Tuhan

Pengetahuan tentang ketuhanan atau spiritualitas kini telah tersebar di mana-mana. la mudah diakses melalui kitab, ceramah, guru, dan tulisan-tulisan yang telah tersebar sedemikian rupa. Namun, pengetahuan yang demikian, meskipun tampak berlimpah, seringkali hanya berhenti di dalam tataran pikiran. la menjadi sekadar informasi, menjadi koleksi konsep dan teori yang ditampung oleh akal. Ia tidak lebih hanya menjadi aksesori atau penghias pikiran. Tapi toh, banyak orang merasa cukup dengan itu, padahal itu baru kulit luar dari spiritualitas atau ilmu ketuhanan.

Ketuhanan tidak bisa dikenali hanya dengan teori atau hafalan. Ketuhanan hanya bisa dikenali melalui ilmu-Nya sendiri, bukan dari ilmu yang disusun oleh konsepsi pikiran manusia. Ilmu ini bukan hasil belajar dari luar diri, tetapi adalah ilmu yang diberikan langsung oleh Tuhan kepada manusia yang sudah bisa bersetia hati (yang bersetia pada hati sanubarinya), manusia yang sudah bisa sumarah (benar-benar mengosongkan diri, tunduk, dan berserah). Ilmu ini tidak bisa dicari dengan ambisi akal dan kecongkakan intelektual, tapi ia turun sebagai anugerah kepada mereka yang dibersihkan dan dipersiapkan untuk menerima-Nya.

Setelah banyaknya pengetahuan yang dikumpulkan dari buku-buku spiritual tentang Tuhan, cobalah kini untuk menyingkirkan atau menggudangkan terlebih dahulu segala pengetahuan itu. Bukan untuk menolak atau menjadi anti intelektual, tetapi untuk tidak bergantung pada cerita atau pengalaman orang lain di dalam buku. Karena selama kita masih berpijak pada konsepsi pikiran dan pengalaman orang lain, kita mustahil bisa masuk ke dalam pengalaman langsung untuk mengenal-Nya. Pengetahuan hanya menjadi jembatan, bukan tujuan. Untuk itu, carilah guru yang telah dianugerahi dengan ilmu yang datang langsung dari sisi-Nya. Guru semacam ini tidak mencari kemuliaan dunia, tidak tampil mencolok di tengah masyarakat, bahkan cenderung memilih tak dikenali atau menjadi anonim. la kerap hadir di antara manusia seperti orang biasa. la tak memakai gelar-gelar kehormatan feodalistik, tidak duduk di mimbar-mimbar yang elitis, tetapi dalam dirinya terang benderang memancar cahaya ilmu ketuhanan. Hanya mereka yang benar-benar mencari, yang siap dan tulus untuk dibimbing, yang akan dipertemukan dengan guru sejati seperti itu.

Oleh karena itu, siapa yang mencari Tuhan dengan konsep, akan terjebak dalam konsep. Siapa yang mengejar Tuhan dengan kata-kata, akan terjerat dalam kata-kata. Tetapi siapa yang menanggalkan segala pengetahuan buatan, dan membiarkan dirinya dikosongkan, maka ilmu Tuhan akan masuk dan memenuhi dirinya dari dalam. Inilah ilmu yang hidup, ilmu yang membuat batin menjadi tajam dan hati menjadi lembut, ilmu yang bukan sekadar diketahui, tetapi dialami, dirasakan, dan dihidupi. Sampai hari ini, ilmu untuk mengenal Tuhan masih terus dicari oleh para pejalan spiritual. Mereka bukan hanya ingin tahu tentang Tuhan, tetapi ingin mengalami Tuhan dalam setiap detak kehidupan. Mereka tidak puas dengan ucapan dan cerita orang, tetapi ada kerinduan batin yang sedemikian kuat untuk bertemu dan mengenal-Nya secara langsung. Dan hanya dengan bimbingan dari guru yang tepat dan yang telah mengalami-Nya, serta kerendahan hati yang dalam dan tulus, seorang pejalan Spiritual bisa dibukakan jalan menuju pengenalan yang sejati menuju kehadiran-Nya yang tak terpisahkan.

Hakikat Perpisahan menurut Tasawuf

Ada luka yang tidak berdarah...tapi rasanya seperti kehilangan separuh jiwa. Ada perpisahan yang tidak terdengar suaranya tapi gema pecahnya sampai ke langit doa.

Hari ini.. kita bicara tentang perceraian. Bukan dari sisi hukum, bukan dari sisi siapa salah siapa benar tapi dari sisi Hakikatnya. Karena dalam Tasawuf yang terlihat bukan hanya peristiwa, yang dicari adalah Rahasia di balik itu semua.

1. Perceraian adalah Takdir Allah - bukan sekedar keputusan manusia. Dalam pandangan tasawuf,  tidak ada satu pun peristiwa yang terlepas dari ilmu Allah. Bukan sekedar tanda tangan di atas kertas. Bukan sekedar ucapan talak. Bukan sekedar gugatan di pengadilan

√ Allah yang menggerakkan sebabnya.

√ Allah yang menetapkan waktunya.

√ Allah yang menentukan siapa yang pergi dan siapa yang tinggal. 

Jika dua hati dipisahkan, itu bukan kecelakaan. Itu bukan kelalaian Tuhan. Itu keputusan-Nya... yang mungkin belum kita pahami hari ini.

2. Perceraian bukan kebencian -tetapi pemisahan yang disucikan. Kita sering melihat perceraian sebagai kegagalan. Padahal bisa jadi adalah penyelamatan. Tidak semua yang dipertahankan itu baik. Tidak semua yang berpisah itu buruk. Ada perpisahan yang Allah izinkan agar hati tidak semakin rusak. Agar dosa tidak semakin dalam. Agar luka tidak berubah menjadi kebencian permanen. Kadang Allah memisahkan dua manusia untuk menyelamatkan iman keduanya.

3. Luka itu nyata tapi jangan salah melihat tangan. Ketika rumah tangga berakhir, yang muncul adalah kecewa....terluka...merasa dikhianati...merasa diperlakukan tidak adil..Dan itu manusiawi. Tapi para sufi berkata "Ketika engkau melihat tangan manusia, engkau akan sakit. Ketika engkau melihat takdir Allah, hatimu akan tenang." Jika yang kau lihat hanya pasanganmu, kau akan menyimpan dendam. Jika yang kau lihat adalah takdir Allah, kau akan belajar menerima. Bukan berarti meniadakan rasa sakit. Tapi mengubah arah pandang.

4. Allah tidak pernah merampas tanpa mengganti. Tasawuf mengajarkan satu keyakinan halus, Allah tidak mengambil sesuatu kecuali Dia ingin mengganti dengan sesuatu yang  lebih sesuai untuk perjalanan ruhmu. Mungkin bukan pasangan baru. Mungkin bukan kebahagiaan instan. Tapi bisa jadi kedewasaan. Ketenangan batin. Kedekatan dengan-Nya. Kadang Allah menghancurkan satu sandaran agar kita belajar bersandar hanya kepada-Nya. 

5. Jangan merasa dirimu dibuang. Yang pergi bukan jatahmu. Yang datang tidak akan salah alamat. Jika dia pergi, Yang hilang dari hidupmu tidak pernah benar-benar milikmu. Yang memang milikmu tidak akan pernah tertukar, itu berarti bukan takdirmu untuk menetap bersamanya sampai akhir. Dan jika suatu hari Allah menghadirkan yang lain, itu bukan kebetulan. Tidak ada hati yang tertukar alamat dalam takdir.

6.  Perceraian bisa menjadi jalan naik derajat. Semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi Allah, semakin dalam ujian yang ia rasakan. Mungkin perceraian bukan hukuman. Mungkin itu proses pemurnian. Emas tidak dimurnikan dengan angin sepoi-sepoi. la dimurnikan dengan api. Dan hati yang ingin dinaikkan derajatnya akan diuji dengan kehilangan.

7. Berdamai bukan berarti lemah. Memaafkan bukan berarti kalah. Menerima bukan berarti menyerah. Dalam tasawuf, yang kuat bukan yang mampu membalas. Yang kuat adalah yang mampu menyerahkan urusan kepada Allah. Biarkan Allah yang mengadili. Biarkan Allah yang menyembuhkan. Biarkan Allah yang mengatur pertemuan berikutnya. Tugas kita hanya satu, menjaga hati agar tidak berubah menjadi gelap. Jika hari ini engkau sedang berada di fase perpisahan....jangan merasa Allah  meninggalkanmu. Bisa jadi justru di situlah Allah sedang menarik mu lebih dekat. Karena kadang...cinta manusia dilepaskan agar cinta kepada Allah tumbuh lebih dalam. 

Ingatlah...

Yang hilang dari hidupmu tidak pernah benar-benar milikmu. Yang memang milikmu tidak akan pernah tertukar.

Aku memilih untuk Mencintai Allah saja karena hanya dengan CintaMu yang tidak pernah habis kepada diriku.

Ya Allah, Zat Yang Maha Mencintai, ikatkan lah hati kami dalam kecintaan kepada-Mu. Jangan biarkan kebencian bersarang di hati kami. Jangan biarkan kedendaman tumbuh dalam jiwa kami.

Ya Allah, tumbuhkan rasa kasih sayang di hati kami, kasih sayang karena Engkau. 

Ya Allah, jadikan kasih sayang di antara kami menjadi jalan agar kami bisa saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Ya Allah, kuatkan dan eratkan lah tali kasih sayang di antara kami sampai ke akhirat kelak. Aamiin

.





Lahir dari doa panjang

Perceraian adalah keputusan sunyi yang sering lahir dari doa panjang. Ia bukan ledakan amarah atau penyerahan putus asa, tetapi buah dari perenungan panjang, dari hati yang sudah menimbang lelah dan luka tanpa henti. Ada percakapan dalam kesunyian yang lembut namun tegas di dalam diri orang yang memilih ini,  kesunyian yang menandai bahwa mereka telah mencoba mencinta, memperbaiki, menahan, dan berharap. Doa panjang itu bukan sekadar ritual, melainkan percakapan batin dengan diri sendiri dan semesta, sebuah pengakuan bahwa kadang melepaskan adalah satu - satunya jalan untuk tetap hidup utuh.

Secara psikologis, keputusan ini lahir dari kejujuran terhadap luka yang tidak bisa disembuhkan, terhadap hubungan yang tidak lagi menumbuhkan, dan terhadap diri sendiri yang mulai merasa asing di dalam pernikahan. 

Secara sosial, perceraian sering dianggap kegagalan, padahal bagi jiwa yang terjebak, ia adalah bentuk keberanian. Doa panjang menjadi saksi, bukan untuk menyalahkan atau menuntut, tetapi untuk memberi ruang agar hati yang lelah bisa bernapas kembali, sambil tetap menghormati perjalanan yang pernah ada.

1. Sunyi yang menjadi guru

Dalam kesendirian memutuskan cerai, seseorang belajar mendengar dirinya sendiri. Sunyi bukan lagi hukuman, tetapi guru yang lembut. Ia menunjukkan batas, rasa sakit, dan harapan yang selama ini terpendam, mengajarkan bahwa keputusan besar kadang lahir bukan dari kegaduhan, tetapi dari keheningan hati.

2. Doa sebagai pengikat harapan dan keberanian

Setiap langkah menuju perceraian sering disertai doa yang panjang, doa untuk hati yang tenang, untuk anak yang terlindungi, dan untuk masa depan yang lebih jujur. Doa ini bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk keberanian spiritual yang menenangkan, mengingatkan bahwa keputusan yang sulit bisa lahir dari ketulusan, bukan amarah.

3. Pengakuan terhadap luka yang lama

Perceraian yang lahir dari doa panjang selalu dimulai dengan pengakuan terhadap luka yang tidak bisa diabaikan. Mengakui bahwa pernikahan telah memberi luka bukan berarti gagal, melainkan sadar bahwa hubungan ini tidak lagi mampu memberi ruang tumbuh yang sehat bagi kedua pihak.

4. Melepaskan tanpa kebencian

Keputusan cerai yang sunyi biasanya tidak dibarengi dengan kebencian, melainkan dengan kesadaran bahwa melepaskan adalah bentuk cinta yang berbeda. Melepaskan diri dari hubungan yang merusak memberi ruang bagi penyembuhan dan kejujuran, baik bagi diri sendiri maupun pasangan.

5. Ketenangan di tengah badai emosi

Meski prosesnya emosional dan melelahkan, doa panjang menimbulkan ketenangan batin. Ia mengingatkan bahwa keputusan ini bukan langkah sembarangan, melainkan hasil refleksi mendalam. Ketika hati sudah menerima, badai emosi tidak hilang, tapi tidak lagi menguasai setiap langkah.

6. Anak sebagai pusat perhatian

Dalam banyak kasus, perceraian lahir dari kesadaran untuk melindungi anak. Sunyi dan doa panjang menjadi sarana menimbang apa yang terbaik. Anak bukan alasan untuk bertahan, tetapi alasan untuk memilih jalan yang lebih sehat dan aman, meski pahit bagi orang tua.

7. Kesadaran bahwa hidup terus berjalan

Keputusan cerai mengajarkan bahwa hidup tidak berhenti pada satu titik kesalahan atau luka. Ia memaksa seseorang menghadapi realitas dengan jujur, menerima bahwa meski hubungan berakhir, kehidupan dan kesempatan untuk bahagia tetap ada.

8. Pembebasan dari ilusi kesempurnaan

Doa panjang membantu melepas ilusi bahwa pernikahan harus sempurna. Kesadaran ini menenangkan, karena membebaskan dari beban yang tidak realistis. Membiarkan diri sendiri dan pasangan tumbuh terpisah kadang lebih sehat daripada mempertahankan hubungan yang menekan jiwa.

9. Perceraian sebagai proses penyembuhan

Perceraian bukan hanya akhir, tetapi awal dari proses penyembuhan. Keputusan sunyi ini memberi ruang bagi hati yang lelah untuk bernapas, bagi pikiran untuk menata kembali prioritas, dan bagi jiwa untuk belajar mempercayai lagi, dengan cara yang baru dan lebih dewasa.

10. Harapan baru yang lahir dari kejujuran

Doa panjang yang menemani keputusan cerai selalu menumbuhkan harapan, bukan sekadar harapan romantis, tetapi harapan yang matang dan realistis. Harapan untuk diri sendiri, untuk ketenangan, dan untuk hubungan di masa depan yang lebih sehat. Ia lahir dari kejujuran pahit, namun memberi arah yang jelas bagi hidup yang masih panjang.

Jika Anda merenung sejenak, apakah selama ini keputusan yang paling sulit dalam hidupmu lahir dari kebisingan dunia, atau dari keheningan batin dan doa panjang yang jarang diketahui orang lain?

Perpisahan

Perceraian dalam hubungan suami-istri sering terasa seperti akhir yang dramatis. Namun dari Perspektif Karma, tidak semua perpisahan memiliki makna yang sama. Ada yang hanya jeda sementara, ada pula yang benar-benar menutup siklus energi hubungan. Memahami perbedaan ini membantu kita melihat perpisahan bukan sekadar kehilangan, tapi juga sebagai Guru batin.

Perpisahan yang Masih Menyimpan Karma

Tidak semua perpisahan benar-benar menyelesaikan energi hubungan. Beberapa kondisi menunjukkan bahwa karma masih terbawa :

1. Konflik berulang yang belum terselesaikan. Masih ada pola yang sama dalam komunikasi, emosi, atau perilaku yang belum dipelajari sepenuhnya.

2. Luka batin yang belum diterimaInner child atau trauma lama masih memengaruhi cara kita bereaksi terhadap pasangan. 

3. Ego yang belum terkendali–Perpisahan terjadi karena pertahanan diri atau harga diri, bukan karena pelajaran batin sudah lengkap.

Dalam situasi ini, hubungan berikutny meski dengan orang lain sering menghadirkan pola yang mirip. Karma belum selesai karena energi emosional dan batin belum sepenuhnya dibersihkan.

Perpisahan yang Menyudahi Karma

Ada perpisahan yang justru mengakhiri siklus karma dan membebaskan energi kedua pihak. Kondisi ini biasanya ditandai dengan :

1. Pertumbuhan diri yang berbeda–Salah satu atau kedua pihak memiliki jalan hidup yang berbeda secara fundamental, misal panggilan spiritual atau tujuan hidup yang tak bisa disatukan.

2. Perpisahan damai dan sadar– Meskipun ada cinta, keduanya mampu menerima situasi tanpa dendam atau penyesalan berlebihan. Pelajaran  hubungan sudah dipahami.

3. Perbedaan tujuan hidup yang tidak bisa disatukan tanpa mengorbankan diri.  Melepaskan diri adalah bentuk penghormatan terhadap diri sendiri maupun pasangan. Energi hubungan berakhir tanpa ikatan emosional atau ego yang tersisa.

Perpisahan dalam kondisi ini bukan tragedi, melainkan tanda kedewasaan spiritual. Jiwa yang terlibat siap memasuki fase hidup berikut pemahaman, kedamaian, dan energi yang lebih ringan.

Catatan: 

Hati-hati dengan perkataan sebab setiap kata adalah doa. Dan setiap doa semakin bertumbuh lalu berbuah kenyataan. Tidak semua perpisahan itu sama. Beberapa membawa karma yang harus diselesaikan di kehidupan berikutnya, sementara yang lain benar-benar menutup siklus energi hubungan. Kesadaran akan dinamika ini membantu kita melihat perpisahan sebagai guru, bukan sekedar kehilangan.





Melangkahlah


Ketika suatu masa kita bertemu yang awalnya sama-sama cocok, saling bercerita, energi pun saling tarik-menarik. Dikemudian hari pada akhir cerita kita menjadi berbeda arah dan saling pergi menjauh. Itu artinya tugas perjalananmu dan aku sudah selesai, sadarilah bahwa kita mempunyai perjalanan masing-masing dan engkau pun sudah tidak menjadi bagian dari hidupku. Sekalipun itu dipaksakan, tidak akan baik untuk pertumbuhan jiwa kita. Oleh karena itu janganlah diam dan melangkahlah karena tak ada perjalanan yang sia-sia

Tiap rintangan perjalanan menyimpan dua kemungkinan : Yang pertama akan bertemu dengan orang-orang baru, yang akan menjadi tugasmu. Yang kedua bertemu dengan jati dirimu sendiri, yang selama ini kau cari. Kadang kita perlu untuk kehilangan supaya bisa kembali dan mengerti apakah arti menemukan yang kau cari.



Penyembuhan Stres Geopatik

Stres Geopatik telah ditemukan terkait sebagai faktor paling umum dengan penyakit dan kondisi psikologis paling serius dan jangka panjang (Olsen & Benis 2017). 

Selama lebih dari 80 tahun, telah ada penelitian dalam profesi medis Jerman, yang mengenali jutaan kasus kanker dan kemudian perlu ditangani sebelum pengobatan apa pun efektif dan tubuh dapat memperbaiki dirinya sendiri (Gordon 2017). 

Rolf Gordon yang merupakan ahli geomancer terkenal di Inggris menggambarkan apa yang telah ditunjukkan oleh dokter dalam puluhan ribu kasus pada pasien yang terkena kanker. Hal ini juga menunjukkan bahwa tumor kanker sering berkembang di mana dua atau lebih garis stres Geopathic bersilangan. 

Gordon mencatat bahwa dari studinya yang ekstensif seseorang tidak mungkin mengembangkan kanker kecuali seseorang telah tidur atau tinggal dalam waktu lama di tempat stres geopatik.

Angka-angka di bawah ini dari Ilmuwan Amerika di Dulwich Health Society cukup mencengangkan pada pandangan pertama. Para ilmuwan ini melakukan penelitian besar terhadap lebih dari 25.000 orang dengan kesehatan yang buruk dan menyimpulkan bahwa kelompok berikut mengalami stres geopatik (GS) *:

100% orang yang terkena Kanker Sekunder

95% orang yang terkena kanker sedang tidur dan / atau bekerja di tempat dengan GS sebelum atau pada saat kanker didiagnosis

95% anak-anak yang hiperaktif, memiliki ketidakmampuan belajar atau sulit dikendalikan (anak-anak sangat sensitif terhadap GS)

95% orang yang terkena AIDS

90% anak yang meninggal karena cot death / SIDS

80% orang tua / pengasuh yang menganiaya anak

80% dari perceraian adalah oleh satu atau kedua pasangan menjadi GS

80% dari pasangan yang tidak dapat memiliki bayi memiliki salah satu atau kedua makhluk GS

80% wanita yang mengalami keguguran

70% dari M.E. (Post Viral Kelelahan) penderita

70% dari semua orang yang alergi makanan / minuman

* Referensi (Olsen & Benis 2017).

Ada banyak gejala dan penyakit yang diakibatkan oleh stres geopatik pada manusia, yang diakibatkan oleh rusaknya fungsi tubuh dan sistem kekebalan tubuh. 

Seperti yang diangkat oleh dowser terkenal Australia Alana Moore (2010), paparan terhadap stres geopatik meliputi: kanker, masalah jantung, rematik, artritis dan radang; gangguan lambung, ginjal, kandung kemih, hati dan kandung empedu; AIDS,trombosis, meningitis, diabetes, leukemia, kemandulan, tuberkulosis, sakit pinggang, ulkus eksterior, gondok, sakit kepala dan migrain, masalah mata / telinga / gigi / adrenal, sinusitis, fibrositis, sindrom stres umum, gangguan saraf / emosional / mental; kelelahan yang konsisten dan ketidaknyamanan fisik. 

Ini dan penyakit lainnya juga terbukti resisten terhadap pengobatan kecuali jika tekanan geopatik dihindari atau dinetralkan (Moore 2017).

Studi paling terkenal tentang ranjang kanker dilakukan oleh Baron Gustav von Pohl di Jerman selatan selama awal tahun 1930-an. Berdasarkan pengamatan dari pihak berwenang di kota Vilsiburg, ia dapat menemukan dengan dowsing, 100% dari semua rumah di mana orang-orang sebelumnya meninggal karena kanker. 

Dia juga dapat menentukan tempat yang tepat dari kanker dengan menemukan bagian mana dari tempat tidur yang terkena radiasi dalam banyak kasus (Moore 2010).

Sejak itu, berbagai proyek penelitian telah dilakukan dengan yang paling luas dilakukan melalui hibah penelitian pada tahun 1970-an di Austria oleh Kathe Bachler. 

Dia menghabiskan 3.000 apartemen di 14 negara dan mewawancarai 11.000 orang. 

Dia menyimpulkan bahwa 95% dari 'masalah' anak yang dia selidiki tidur di tempat tidur atau bekerja di meja sekolah yang ditempatkan di tempat yang berbahaya. 

Dia juga memeriksa sampel dari 500 kasus kanker dengan 100% di antaranya ditemukan tidur di atas radiasi berbahaya dari situs stres geopatik (Olsen & Benis 2017).

Melalui proses dowsing, kami dapat mengidentifikasi dan menemukan setiap Stres Geopatik negatif di rumah dan / atau tempat kerja Anda dan memperbaikinya dengan obat khusus buatan tangan, yang ditentukan pada hari itu untuk memperbaiki stres tertentu. Obatnya terbuat dari kayu (keras), kawat dan tembaga. 

Tembaga adalah bahan konduktif dan dipotong memanjang untuk beresonansi dengan frekuensi tertentu dari tekanan geopatik yang sedang diperbaiki.  Setiap tekanan geopatik memiliki jenis obatnya masing-masing. 

Hasil dari pembersihan stres geopatik bersifat instan, memberikan bantuan cepat bagi mereka yang telah hidup dengan efek stres geopatik selama beberapa waktu.   

Meskipun bisa memakan waktu seminggu atau lebih agar manfaat penuhnya diperhatikan saat bumi melepaskan energi ini, yang akan bergantung pada tingkat keparahan dan jumlah stres geopatik yang sedang dibersihkan. Di sisi lain, Geopathic Stress digambarkan sebagai pseudosains oleh mereka yang skeptis terhadap konsep tersebut. Banyak yang berpendapat bahwa itu tidak memiliki dasar dalam sains yang sah dan bahwa berbagai perangkat modern menyebabkan masalah yang sama. 

Saya membiarkan Anda memutuskan apa yang harus dilakukan tetapi seperti yang mereka katakan di Portugal: "Saya tidak percaya pada penyihir, tetapi mereka ada, mereka ada".

Pesona Wanita Spiritual

Dalam tradisi Tasawuf, pesona seorang wanita tidak dilihat sekedar sebagai daya tarik visual, melainkan sebagai sebuah realitas spiritual yang mendalam.

Para Sufi melihat dunia sebagai cermin yang memantulkan sifat-sifat Tuhan, dan wanita menempati posisi yang sangat istimewa dalam cermin tersebut.

1. Wanita sebagai Mazhar (Tempat Penampakan) Sifat Jamal - feminim 

Tuhan memiliki dua sifat utama: Jalal (Keagungan/ Maha Perkasa) dan Jamal (Keindahan/Maha Lembut). Pesona wanita spiritual terpancar dari dominasi sifat Jamal dalam dirinya. Kelembutan, kasih sayang, dan keindahan yang dimiliki wanita adalah cara Tuhan memperkenalkan sisi "Keibuan" dan "Cinta Kasih"-Nya kepada dunia. 

Ibnu Arabi, dalam Fushush al-Hikam, bahkan menyatakan bahwa kontemplasi yang paling sempurna terhadap Tuhan adalah melalui wanita.Mengapa? Karena dalam diri wanita, seseorang bisa menyaksikan Tuhan dalam aspek fa'il (subjek yang memberi cinta) dan munfa'il (objek yang menerima cinta) sekaligus.

2. Kecantikan Batin (Al-Husn al-Ma'nawi).

Pesona sejati seorang wanita spiritual menurut tasawuf terletak pada Adab dan Ihsan.

- Ketenangan Jiwa (Mutmainnah) Wajah yang memancarkan kedamaian karena hatinya terus menerus berzikir.

- Ketulusan (Ikhlas) Pesona yang muncul bukan dari keinginan untuk dipuji manusia, melainkan dari pancaran cahaya batin yang jujur.

- Kezuhudan yang Anggun: la tidak terikat pada perhiasan dunia, namun kesederhanaannya justru menciptakan aura kemuliaan yang tidak bisa ditiru oleh kosmetik mana pun.

3. Simbol Cinta Ilahi (Mahabbah).

Dalam puisi-puisi sufi, seperti karya Jalaluddin Rumi, wanita sering menjadi simbol bagi "Sang Kekasih" (Tuhan). Rumi pernah berkata : "Wanita adalah cahaya Tuhan, bukan sekadar objek nafsu. la adalah pencipta, bukan sekadar ciptaan." Pesona ini bersifat transformatif. Pertemuan dengan wanita yang memiliki kedalaman spiritual bukan hanya membangkitkan kekaguman, tetapi membawa seseorang lebih dekat kepada Sang Pencipta. Kehadirannya menjadi pengingat akan keindahan ukhrawi.

4. Peran sebagai "Rahman" di Bumi.

Nama Tuhan Ar-Rahman berakar dari kata Rahm yang berarti rahim. Wanita spiritual membawa pesona "rahim" ini ke dalam karakter sosialnya ia melindungi, memelihara, dan mencintai tanpa syarat. Pesona ini adalah bentuk pengabdian (khidmah) yang luhur. 

Jadi, pesona wanita dalam tasawuf adalah Cahaya di atas Cahaya. la bukan tentang apa yang tampak di permukaan, melainkan tentang seberapa jernih cermin hatinya memantulkan cahaya llahi.Ketika seorang wanita menata jiwanya dengan ketakwaan, kecantikannya menjadi abadi sebuah daya tarik yang tidak akan luntur oleh usia karena ia bersumber dari Yang Maha Kekal.


Bukan Kehilangan tapi Pelepasan

Tidak semua yang pergi itu hilang. Sebagian justru selesai. Namun sering kali, saat sesuatu selesai, manusia tidak langsung merasa lega. Yang muncul justru rasa kosong — seolah ada bagian diri yang ikut hilang. Padahal, yang hilang bukan diri kita, melainkan cara lama kita hidup.

Pola lama tidak runtuh dengan ledakan

Pola lama jarang berakhir dengan drama besar. Ia tidak selalu ditandai tangisan atau keputusan besar. Lebih sering, ia memudar perlahan, seperti kabut yang pergi tanpa suara. 

Tandanya halus yaitu hal yang dulu memicu emosi, kini terasa biasa saja. Dorongan untuk membenarkan diri mulai hilang. Pertengkaran lama tidak lagi ingin dimenangkan. Ini bukan tentang mati rasa, tapi tanda bahwa energi lama sudah tidak mendapat makanan lagi.

Tanda Pertama : Anda tidak lagi bereaksi seperti dulu. Anda tidak lagi mudah terpancing untuk membuktikan sesuatu. Tidak lagi tergesa menjelaskan siapa dirimu. Dan tidak lagi butuh pengakuan dari orang yang tidak benar-benar melihatmu. Reaksi yang dulu otomatis, kini menjadi kesadaran : “Aku tidak perlu menanggapi ini lagi.” Disinilah kedewasaan tumbuh — diam-diam, tanpa sorak-sorai.

Tanda Kedua : Kesendirian tidak lagi menakutkan. Dulu, kesepian terasa seperti ancaman. Kini, kesepian justru menjadi ruang bernapas. Bukan karena Anda antisosial, tapi karena Anda mulai bisa hadir untuk diri sendiri. Tidak lagi sibuk mengisi waktu dengan hal yang membuat lupa siapa Anda. Anda mulai betah hanya menjadi — tanpa harus tampil menjelaskan atau membuktikan. Kesendirian yang dulu terasa kosong, kini justru terasa cukup.

Tanda Ketiga : Kehilangan banyak alasan, tapi lebih jujur. Anda mungkin tidak lagi tahu apa yang ingin dikejar. Hal-hal yang dulu jadi motivasi, kini terasa tidak penting. Dan itu membuat sempat bingung — seolah kehilangan arah. Sebenarnya, Anda sedang berhenti hidup dari banyak alasan palsu. Anda sudah tidak lagi menipu diri dengan tujuan yang tidak Anda yakini. Anda sedang belajar berjalan tanpa beban narasi lama. Ini bukan kehilangan makna. Ini ruang baru yang sedang terbentuk.

Mengapa pelepasan terasa aneh dan sunyi

Ego mencintai kesinambungan. Ia ingin semua cerita punya penutup rapi dan penjelasan masuk akal. Sedangkan pelepasan jarang memberi itu. Ia datang diam-diam, memutus sesuatu yang sudah lama usang, dan meninggalkan ruang kosong yang tidak langsung bisa diisi. Tapi justru di ruang kosong itu, Anda mulai benar-benar hidup tanpa topeng.

Meditasi di fase Ini terasa berbeda, karena banyak orang yang sudah lama bermeditasi mengalami hal ini, duduk terasa lebih hening, tapi tidak selalu damai. Pikiran sepi, tapi hati terasa kosong. Tidak ada pengalaman “Spritual”, tapi juga tidak ada gejolak. Itu bukan kemunduran. Ini pertanda bahwa meditasi tidak lagi menjadi upaya memperbaiki diri, melainkan menjadi cara menemani proses menjadi jujur. 

Menutup dengan Kesadaran.

Fase ini tidak selalu nyaman. Terkadang Anda merasa ringan, terkadang hampa. Terkadang yakin, terkadang ragu. Namun perlahan Anda akan sadar: Tidak ada yang benar-benar hilang, hanya memang sudah selesai. Hidup terasa lebih sederhana.

Tidak banyak ambisi, tidak banyak pembuktian. Dan di tengah kesederhanaan itu, ada kedalaman yang baru tumbuh — tanpa perlu nama, tanpa perlu makna besar. Karena pada akhirnya, kedewasaan bathin bukan soal menemukan arah, melainkan kesediaan untuk tidak kembali ke pola lama. 

Salam Ketika Berziarah


Disusun oleh Habib Abdullah bin Husein bin Thahir (Dibaca dalam keadaan berdiri)

Salamullah ya sadah minarrohman yaghsyakum
Ibadallah ji'akum qosodakum tolabnakum
Tu'inuna tughitsuna bihimmatikum wajadwakum
Fahbuna wa'tuna 'atoyakum hadayakum
Fala khoyyabtumu zonni fahasyakum wahasyakum
Sa'idna idz ataynakum wafuzna hina zurnakum
Faqumu wasyfa'u fina ilarrohman mawlakum
'Asa nu'to'asa nuhzo mazaya min mazayakum
'Asanazroh'asa rohmah taghsyana wa taghsyakum
Salamullah hayyakum wa'ainullah tar'akum
Wasollallah mawlana wasallamma atainakum
'Alal mukhtar syafi'na wamun qizuna waiyyakum




Praktek Rahasia Mendapatkan Karomah Para Wali


Walaupun mereka telah pergi ke Rahmatullah. Hakikatnya mereka tidak wafat dalam ajarannya, kebenarannya, dan Rasa sentuhnya. Siapapun yang khusyuk mengetuk pintu dengan kalimatNya, mereka akan datang menaungi tiap-tiap nurani yang shaleh dan menebarkan karomah bagi keagungan hidup. Sepanjang hari, apalagi menjelang Ramadhan, Muharam, makam para kekasih Allah itu tak pernah sepi. Para peziarah larut dalam doa  dan harapan. Banyak orang yang melakukan ritual sesat hanya ingin memiliki khodam/pendamping ghaib di makam tersebut. Berikut amalan rahasia yang mana, karomah sang wali mengalir sejuk/tenang ke dasar hati yang menimbulkan harapan hidup baru,inilah amalannya :

1.Mandi taubat/wudhu/selesai wudhu baca surat Al-fatihah 7x
2.Sholat Taubat 2raka'at
3.Sholat Hajat 2raka'at
4.Sholat Birul Walidaini 2raka'at
5.Sholat Karomatillah 2raka'at

Setiap selesai Sholat dan Salam membaca Amalan :
1. Istigfar 21x
2. Shalawat 21x
3.Zikir Toyibah 21x
4.Allahumma Fi Karomatil Akbar 21x
5. Bismillah Alif Lam Mim nurullah 21x

Kemudian membaca Tawasul/Silsilah, lalu zikir kembali dengan membaca Amalan dari no 1 sd no 5

Istighotsah


Dalam terminologi Jawa, apa yang di tahun belakang menimpa Indonesia dan negara-negara lain di seluruh dunia ini disebut “Pageblug”. “Pageblug” yang berasal dari bahasa Jawa berarti masa di mana banyak wabah penyakit menular. Dahulu kala Pagebluk diatasi dengan “ruwat” atau “ruwatan”.

Ruwatan berasal dari kata “ruwat” (Jawa) atau “ngarawat” (Sunda) yang berarti merawat atau mengumpulkan. Tradisi ruwatan biasanya digelar bertepatan dengan tahun baru Saka (Jawa) atau tanggal 1 Suro, atau tahun baru Islam, 1 Muharam.

Ruwat, menurut kamus, berarti: 1) pulih kembali sebagai keadaan semula (tentang jadi-jadian, orang kena tulah); dan 2) terlepas (bebas) dari nasib buruk yang akan menimpa.

Ruwatan merupakan sarana pembebasan atau penyucian manusia atas dosa dan kesalahannya yang berdampak kesialan di dalam hidupnya. Selain itu, ritual ini juga untuk melestarikan kebudayaan Jawa kuno yang bertujuan mencari kesejahteraan hidup.

Ritual ruwatan sering kali dianggap dekat dengan hal-hal yang berbau mistis, ini terlihat dari sesajen yang terlihat setiap ritual ruwatan digelar. Sesajen ini terdiri dari buah-buahan, sayuran, dan bahkan hewan seperti ayam atau kepala kerbau.

Selain serangkaian upacara, dalam ritual ruwatan para peserta juga menyaksikan bersama pertunjukan wayang kulit yang dimainkan seorang dalang yang memiliki keahlian khusus ruwatan.

Memang sepintas tak ada hubungan langsung antara pageblug dan ruwatan, tapi faktanya masyarakat ketika itu merasa terbebas dari pageblug setelah menggelar ruwatan. Mungkin juga karena sugesti. Hingga kini tradisi ruwatan itu masih terjaga dengan baik, terutama di masyarakat Jawa dan Sunda. Setelah Islam masuk ke Indonesia, tradisi pun kemudian bergeser. Ada semacam ritual penolak bala, tapi bukan dengan ruwatan. Yaitu dalam Islam dikenal “Istighotsah”, yang berarti minta pertolongan. Meminta pertolongan kepada Allah SWT ketika kita dalam keadaan sukar dan sulit, dan hanya Allah yang bisa menolongnya. Dengan kata lain, istighotsah adalah memohon pertolongan kepada Allah untuk terwujudnya sebuah “keajaiban” atau “mukjizat” atau sesuatu yang paling tidak dianggap tidak mudah bisa diwujudkan.

Dalam Istighotsah membaca Shalawat yang  diciptakan oleh Kyai Hasyim Ashari adalah “Li khomsatun uthfi biha harrol waba-il hatimah al musthofa wal murtadlo wabnahuma wa fatimah” sebanyak 1.217 kali

Sang Pecinta



Oh Tuhan, Telah ku temukan Cinta!!!. Betapa menakjubkan, betapa hebat, betapa indahnya…Kuhaturkan puja-puji bagi gairah yang bangkit dan menghiasi alam semesta ini maupun segala yang ada di dalamnya!. (Rumi). 

Rumi lebih dikenal sebagai penyair sufi, sering menjadi sumber inspirasi bagi penyair sufi lainnya. Puisi-puisinya sering diciptakan secara spontan dikala ia menari, memutar-mutar tongkatnya dan kemudian para murid-murid mencatatnya.

Wahai para pencari mukjizat, kalian selalu menginginkan tanda-tanda. Lantas dimanakah tanda-tanda itu?. Engkau tidur menangis dan bangun pun tetap menangis. Engkau mengharap yang tak mungkin tiba. Sampai ia menggelapkan hari-harimu. Engkau berikan segalanya, bahkan pikiranmu. Engkau duduk di muka api, ingin jadi abu. Dan ketika kau jumpai sebilah pedang. Kau lemparkan dirimu ke arahnya. Terjebak ke dalam hal-hal gila tanpa harapan semacam ini…Engkau akan menemukan tanda. (Bagaimana Aku Bisa Tahu?, Rumi). 

Walaupun mereka telah “hanyut” oleh tarian dan nyanyian para Darwis, para penduduk desa dan murid-murid yang terpesona mengelilingi Rumi masih merasa ragu untuk melemparkan dirinya ke dalam keadaan yang sedemikian gila. Biarlah para kekasih gila, hina dan ganas. Mereka yang meributkan hal-hal semacam itu tidak sedang kasmaran. (Memberi Ruang Bagi Cinta, Rumi). 

Tetapi bagi pecinta yang tergila-gila, ia tidak merasa takut. Sekalipun Tuhan Yang Terkasih tidak tampak, jauh dan tidak tersentuh fisik, keadaan mabuk cinta kepada Tuhan membuat ia rela menyerahkan seluruh jiwanya pada bara api yang menyala atau pada sebilah pedang yang terhunus. Lewat malam hadir sebuah lagu lembut mendayu. Pada saat aku tak bisa mendengarnya. Aku akan tiada. (Suara-Suara Malam, Rumi)

Para penari Sema berputar-putar. Rok lebar yang dikenakan para penari berkibar indah, berputar-putar semakin cepat, semakin panjang seirama alunan musik pengiring. Bahwa semua proses kehidupan manusia adalah sebuah perputaran, begitulah makna dari Tarian Sema. Dari ada, lalu tiada. Dari duka, lalu bahagia. Butir-butir debu dalam cahaya. Itu tarian kita juga. Kita tidak menyimak yang ada di dalam untuk mendengar musik. Tak apa …Tarian ini terus berlanjut, dan dalam kebahagiaan sang surya. Tersembunyilah Tuhan Yang mengajarkan kepada kita bagaimana caranya menari. (Tarian, Rumi). 

Di tengah-tengah Tari Sema meluncur dari mulut Rumi bait-bait puisi bagai nyanyian suci memuji Tuhan. Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata, Kusimpan kasih-Mu dalam dada. Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu, Segera saja bagai duri bakarlah aku. Meskipun aku diam tenang bagai ikan,  Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan. Kau yang telah menutup rapat bibirku, Tariklah misaiku ke dekat-Mu. Apakah maksud-Mu? Mana kutahu? Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan ini selalu. Kukunyah lagi mamahan kepedihan mengenangmu, Bagai unta memamah biak makanannya, Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa. Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak bicara, Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata. Aku bagai benih di bawah tanah, Aku menanti tanda musim semi. Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat bernafas wangi, Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat membelai kepala lagi. (Pernyataan Cinta, Rumi)

Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik atau otak semata. Cinta adalah lautan tak bertepi. langit hanyalah serpihan buih belaka. Ketahuilah langit berputar karena gelombang Cinta. Andai tak ada Cinta, Dunia akan membeku. Cinta yang dimaksud adalah cinta Yang Terkasih kepada hambanya. Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab tanpa cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapan-Nya. Burung-burung Kesadaran telah turun dari langit dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari. Mereka merupakan bintang-bintang di langit, agama yang dikirim dari langit ke bumi. Demikian pentingnya "Penyatuan" dengan Allah dan betapa menderitanya  m "Keterpisahan" dengan-Nya. (Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai, Rumi)

Dalam puisinya Rumi juga mengajarkan bahwa hendaklah Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan hidup, tidak ada tujuan lainnya yang menyamai. Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan Lihatlah pepohonan ini!.  Semuanya gembira bagaikan sekumpulan kebahagiaan. Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ? Sang lili berbisik pada kuncup, “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.” Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati. Hingga dia akan sampai pada jawaban “Ya” dalam pertanyaan, "Bukankah Aku ini Rabbmu ?” (Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai, Rumi)

Rumi -- Cinta Sejati


Ungkapan Jalaluddin Rumi ini menggambarkan perbedaan halus antara cinta yang kita beri dan cinta yang kita terima, terutama saat emosi manusia berada pada titik yang berbeda.

Kalimat “Ketika kau senang, kau akan pergi pada orang kau cinta” menunjukkan bahwa kebahagiaan sering mendorong manusia untuk berbagi dengan mereka yang menjadi objek cintanya. Dalam kondisi senang, manusia ingin menunjukkan rasa memiliki, kedekatan, dan kegembiraan. Pergi kepada orang yang kita cintai saat bahagia kerap bersifat ekspresif, kita ingin berbagi cerita, tawa, dan kebanggaan.

Namun Rumi melanjutkan dengan pengamatan yang lebih dalam: “Tapi ketika kau sedih, kau akan pergi pada orang yang mencintaimu.” Saat kesedihan datang, manusia secara naluriah mencari tempat yang aman, bukan sekadar tempat yang menyenangkan. Orang yang mencintai kita tanpa syarat memberi rasa diterima, dipahami, dan tidak dihakimi. Dalam duka, yang dicari bukan pujian, melainkan pelukan batin dan ketulusan.

Ungkapan ini menyingkap bahwa cinta yang memberi dan cinta yang melindungi memiliki fungsi berbeda. Mencintai sering membuat kita ingin hadir saat segalanya baik-baik saja, tetapi dicintai membuat kita berani datang saat kita rapuh dan tidak utuh.

Secara spiritual, Rumi juga mengisyaratkan hubungan manusia dengan Tuhan. Saat bahagia, manusia kerap sibuk dengan apa yang dicintainya di dunia. Namun ketika sedih dan terluka, ia kembali kepada Allah, Zat yang mencintainya tanpa syarat, bahkan ketika manusia sendiri tidak mampu mencintai dirinya.

Secara keseluruhan, ungkapan ini mengajarkan bahwa ukuran cinta sejati tampak jelas dalam kesedihan. Orang yang benar-benar mencintai bukan hanya hadir dalam tawa, tetapi menjadi tempat pulang ketika dunia terasa berat.

Gunung Kawi Malang Jawa Timur

Gunung Kawi merupakan tempat Ziarah Spiritual Wisatawan Lokal hingga Mancanegara.



Gunung yg berada di Malang, Jawa timur ini terdapat dua area Wisata Yaitu

1. Pasarean Gunung Kawi

Lokasi Jl Pesarean Sumbersari Wonosari Kec Wonosari Kabupaten Malang Jawa Timur

~ Makam Eyang Jugo/Kanjeng Kyai Zakaria II (wafat 22 Januari 1871) dan Raden Mas Imam Soedjono (wafat 8 Februari 1876). Mereka adalah tokoh bangsawan yang ikut menentang penjajah dibawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro.

~ Masjid Gunung Kawi

~ Klenteng Gunung Kawi

~ Gedung pertunjukan wayang kulit

2. Keraton Gunung Kawi 

Lokasi Area Gn Pitrang Balesari Kec Ngajum Kabupaten Malang

~ Dibangun pada tahun 861 M berdasarkan tulisan yang tertera pada Prasasti Batu Tulis di puncak Gunung Kawi. Pertapaan ini dibangun oleh Mpu Sendok (penguasa Mataram) pada masa dinasti Syailendra setelah berdirinya Candi Borobudur

~  Tempat para Raja Kediri, Mataram Kuno bertapa dan Moksa 

~ Tempat bertapanya para pendiri Singasari dan Majapahit

~ Sanggar Pamujaan dan tempat Moksa Prabu Kameswara Raja Kediri

~ Makam Ki Tunggul Manik dan Nyi Tunggul Menik

~ Vihara Dewi Kwan Iem

Pesona Alam Gunung Kawi sejuk dan tenang untuk wisata religius dan begitu khusus. Penulis menepis jika Gunung Kawi yang banyak orang tahu bahwa disana tempat mencari Pesugihan, tetapi Gunung Kawi adalah Gunung Sakral yang memiliki energi pantulan besar serta energi Spiritual Tinggi. Banyak Raja Nusantara di masa lalu melakukan Meditasi di Gunung Kawi untuk menggapai Kesejatian.

Pada tahun 2017 penulis di undang para Tokoh Spiritual untuk Acara Ruwatan dan Pagelaran Budaya Wayang Kulit di area parkir wisata Keraton Gunung Kawi yg diselenggarakan Perusahaan Indofood dan Bogasari.





Eyang Bathoro Katong Ponorogo Jawa Timur

Lokasi Plampitan Setono Kec Jenangan Kabupaten Ponorogo Jawa Timur
                                              





Gunung Kemukus

Mitos Pangeran Samudra setidaknya telah mewarnai tanah Jawa selama lebih dari 7 abad. Namun, sejak berakhirnya Perang Jawa, mitos ini telah mendapatkan makna baru yang jauh dari asalnya. Bahkan, hingga kini mitos ini banyak dipercaya oleh para pesugihan sebagai dasar untuk menjalankan ritual pesugihan. Pangeran Samudra merupakan seorang pendakwah yang sangat tekun belajar agama, baik dari Sunan Kalijaga maupun Ki Ageng Gugur. Artinya, sangat kecil kemungkinannya jika di kemudian hari, Pangeran Samudra mengajarkan ritual pesugihan dengan cara berhubungan badan dengan pasangan haramnya sebanyak tujuh kali.

“Mereka harus menjadi orang asing yang belum pernah bertemu sebelumnya. Akan lebih baik jika mereka belum pernah kenal satu sama lain. Mereka melakukan itu pada Jumat Pon dan dilakukan selama 7 kali pertemuan. Jadi ini dilakukan setiap 35 hari, sehingga hubungan yang terjalin selama 1 tahun.”

Ritual pertama yang harus dilakukan di Gunung ini adalah berdoa dan menabur bunga di makam Pangeran Samudra dan Nyai Ontrowulan.

Kemudian para pezirah harus membasuh diri mereka di satu atau dua mata air keramat yang ada di bukit itu.

“Kebanyakan dari mereka yang melakukan ritual ini memiliki bisnis kecil. Mereka berharap ritual ini dapat mendapatkan uang dan menjadikan bisnis lebih baik.”

Mereka pebisnis dan jika kamu menanyakan, mereka akan jawab ritual ini berhasil. Bisnis yang sebelumnya tidak berkembang, sekarang dapat berjalan dengan baik. Ini karena Allah dan tidak ada yang lain selain Allah.

"Saat ini pukul 8 malam dan suasananya berkabut. Saya bertemu dengan seorang pria yang sedang mengaji sementara tangannya memegang tasbih. Pria itu memakai jaket, berkacamata, agak botak dan berkumis."

Setelah selesai mengaji, dia akan mencari seseorang untuk berhubungan seks.

“Anda tahu semua orang Jawa percaya dengan tradisi nenek moyang ini.”

Terletak di tengah pulau Jawa, Gunung Kemukus, atau Gunung Seks, mungkin dianggap kecil dengan ketinggian 824 meter, tetapi jumlah orgasme yang telah mengguncang puncak ini sangat besar. Sejak akhir abad ke-19, para peziarah Muslim Jawa telah berbondong-bondong ke gunung ini untuk berhubungan seks dengan orang asing —hingga 8.000 peziarah pada hari-hari tersibuknya—yang konon membawa berkah. Namun, belakangan, tradisi keagamaan ini menarik perhatian internasional yang kurang baik, sehingga membuat ziarah terhenti. Satu pertanyaan terus muncul: seberapa religiuskah praktik ini?

“Alhamdulillah, setelah sampai di sini, meskipun saya punya beberapa utang, usaha saya lumayan untung,” ujar seorang jamaah haji perempuan dan pemilik usaha kecil dalam film dokumenter SBS News TV Australia tahun 2014 yang berjudul Sex Mountain.

Film dokumenter itu menyebabkan skandal di Indonesia, dan Gunung Kemukus segera ditutup pada tahun 2014. Tetapi Anda tahu apa yang mereka katakan tentang moderasi: terlalu banyak hal baik tidak akan bertahan lama.

Kearifan Seksual Candi Sukuh 

Candi Sukuh di lereng barat Gunung Lawu, Jawa Tengah, merupakan situs eksplorasi grafis tentang seks

Saat memasuki gerbang candi adalah relief pahatan yang menggambarkan penis yang siap menembus vagina.

Para penjaga candi telah mendirikan gerbang kayu untuk mencegah pengunjung tersandung alat kelamin. Larangan melakukan kontak fisik dengan relief dan sesajen bunga segar di sebelahnya menunjukkan bahwa penggambaran seks di sini telah diangkat ke ranah sakral. Meski penuh dengan gambar seks dan alat kelamin, Candi Sukuh bukanlah surga pornografi.

Di Sukuh, seks adalah perpaduan energi laki-laki dan perempuan untuk menciptakan energi kelahiran kembali yang baru. Penggambaran seks di sini tampaknya merupakan penghormatan kepada kekuatan penciptaan dan kesuburan.

Sukuh berdiri sebagai pengingat bahwa tidak semua penggambaran seks adalah bentuk pornografi. Malah, melalui seks, nenek moyang kita menyelaraskan diri dengan kehendak Tuhan.

Kyai Ageng Kasan Besari Ponorogo Jawa Timur

Kyai Ageng Muhammad Hasan Besari

Lokasi Jinontro Tegalsari Kec Jetis 
Kabupaten Ponorogo Jawa Timur












Raden Jafar Shodiq Sunan Kudus Jawa Tengah

~ Sunan Kudus (Raden Jafar Shodiq)
Lokasi Kauman Pejaten Kec Kota Kudus Kab Kudus Jawa Tengah


Ki Ageng Tarub Grobogan Jawa Tengah





Kurang lebih pada tahun 1300 M, ada utusan (mubalig) dari Arab yaitu Syaikh Jumadil Kubro. Beliau mempunyai putri bernama Ny. Thobiroh dan Ny. Thobiroh mempunyai putra Syeh Maulana. Disaat itu Syaikh Maulana mendapat perintah mengembangkan syariat Islam di pulau jawa sangat berat. Hal tersebut dikarenakan orang-orang Jawa banyak yang masih memeluk agama Hindu Budha, dan orang-orang jawa pada saat itu ahli bertapa, hingga orang Jawa banyak yang tebal kulitnya. Maka dari itu Syeh Maulana mulai memasukkan syareat Islam di tengah – tengah masyarakat Jawa, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara bertapa keatas pohon giyanti yang sangat besar, dimana diatas pohon tersebut terdapat tumbuhan simbar. Bertepatan itu di Surabaya terdapat Kerajaan Temas, rajanya bernama Singawarman dan mempunyai putri yang bernama Nona Telangkas. Dikala itu Nona Telangkas sudah dewasa, namun belum ada remaja yang berani meminangnya. Setelah itu Nona Telangkas diperintah oleh ayahnya supaya menjalankan bertapa ngidang yaitu masuk hutan selama 7 tahun, tidak boleh pulang atau mendekat pada manusia dan tidak boleh makan kecuali daun yang ada di hutan tersebut. Sehingga Nona Telangkas mempunyai nama Kidang Telangkas. Pada saat akan selesai bertapa, di tengah hutan tersebut Nona Telangkas melihat ada Telaga yang sangat jernih airnya. Kemudian dia mau mandi di telaga tersebut setelah melepas semua pakaian dia melihat di dalam air terdapat bayangan pria yang sangat tampan. Namun dikala itu Nona Telangkas telah terlanjur melepaskan semua pakaiannya. Akhirnya terpaksa menjeburkan diri di telaga tersebut, sambil mengucapkan dalam ucapan bahasa jawa “mboh gus wong bagus “.    
Setelah selesai mandi maka Nona Telangkas kembali pulang ke Kerajaan Temas (Surabaya) untuk menghadap orang tuanya. Namun Nona Telangkas disaat itu ternyata sudah dalam keadaan hamil maka setelah menghadap ayahnya beliau ditanya “Siapakah suamimu, sehingga engkau pulang dalam keadaan hamil ? “ Ditanya ayahnya berulang-ulang, dia tidak bisa menjawab. Namun di dalam hatinya Nona Telangkas teringat dalam pertapanya dikala akan selesai, dimana dia mandi di dalam telaga yang sangat jernih airnya, dan ternyata di dalam air tersebut terdapat bayangan pria yang sangat tampan. Maka disaat ditanya oleh sang ayah dia tidak bisa menjawab, namun didalam hatinya menjawab seperti diatas.
Maka akhirnya dia kembali masuk hutan untuk mas mencari tersebut. Disaat sampai di tengah hutan Nona Telangkas melahirkan bayi, sampai sekarang tempat tersebut diberi sebutan desa Mbubar. Setelah jabang bayi lahir lalu diajak mencari telaga, yang akhirnya menjumpai telaga yang terdapat bayangan pria yang tampan tersebut. Kemudian si jabang bayi diletakkan ditepi sendang telaga dan ditinggal pulang ke kerajaan Themas. Siapakah sebenarnya orang yang kelihatan bayangannya didalam sendang telaga, ternyata beliau adalah Kanjeng Syeh Maulana Maghribi yang sedang bertapa diatas pohon Giyanti. Dikala si jabang bayi Nona telangkas diletakkan dipinggir sendang telaga, Syeh Maulana berkata “ Nona Telangkas keparingan amanateng Allah kang bakal njunjung drajatmu kok ora kerso “ (dalam Bhs jawa).Yang akhirnya Syeh Maulana turun dari pertapanya dan menimang jabang bayi, kemudian dibuatkan tempat yang sangat indah yaitu Bokor Kencono . Dikala itu Dewi Kasian ditinggal wafat suaminya yang bernama Aryo Penanggungan, belum mempunyai putra, karena sayangnya Dewi Kasian terhadap suaminya, walau sudah wafat setiap saat dia selalu menengok makam suaminya. Maka dikala itu Syeh Maulana Maghribi membawa putranya yang telah dimasukkan bokor kencono dan diletakkan disamping makam Aryo Penanggungan. Di malam itu juga kebetulan Dewi Kasian keluar dari rumah menengok kearah makam suaminya, kelihatan sinar yang menjurat keatas dari arah makam suaminya, apakah sebetulnya sinar yang menjurat dari arah makam suaminya tersebut ? Ternyata setelah didekati adalah sebuah bokor kencono yang sangat indah, dan dibuka bokor tersebut ternyata didalamnya terdapat jabang bayi yang sangat mungil dan lucu sekali. Disaat itu Dewi kasian sangat terperanjat hatinya melihat si jabang bayi tersebut, dengan tidak disadari akhirnya bokor berisi jabang bayi dibawa pulang dengan lari dan mengucapkan : “kangmas Penanggungan wis sedo, kok kerso maringi momongan marang aku “. (dalam Bhs Jawa).Kabar mengenai orang yang telah meninggal tetapi bisa memberikan kepada istri jandanya, telah tersiar sampai ke pelosok negeri. Masyarakat berbondong – bondong ingin menyaksikan kebenaran berita tersebut, Akhirnya Dewi Kasian yang asalnya tidak punya harta benda apa – apa menjadi janda yang kaya raya, dari uluran orang – orang yang datang tersebut. Kemudian jabang bayi diberi nama Joko Tarub karena dikala masih bayi diambil Dewi Kasian dari atas makam Aryo Penanggungan yang makamnya dibuat makam Taruban

Pada usia kanak-kanak Joko tarub atau Sunan Tarub mempunyai kesenangan atau hobi menangkap kupu-kupu di ladang. Setelah masuk di tengah hutan bertemu orang yang sangat tua, dia diberi aji – aji tulup yang namanya tulup Tunjung Lanang. Tulup inilah yang akhirnya menjadi aji-aji sangat luar biasa untuk Kiai Ageng Tarub/ Sunan Tarub. Diwaktu mendapat tulup tersebut dia pulang dengan cepat menyampaikan berita kepada ibunya (Dewi Kasian) dan mengatakan bahwa dia di tengah hutan dijumpai seorang yang sangat tua memberi aji – aji tulup kepadanya. Namun karena sayangnya, Dewi Kasian tidak memperbolehkan putranya masuk hutan, karena khawatir kalau dimakan hewan buas atau dibunuh orang yang tidak senang kepadanya.
Namun karena Joko tarub tidak takut lebih-lebih mempunyai aji – aji tulup tersebut, maka Joko Tarub tetap senang masuk hutan untuk mencari burung. Sampai diatas gunung Joko Tarub mendengar suara burung yang sangat indah bunyinya yaitu burung perkutut. Kemudian didekati dan dilepaskan anak tulup kearah burung tersebut namun gagal. Akhirnya Joko Tarub berfikir dan menganggap bahwa burung ini tidak burung biasa. Kemudian terdengar lagi suara burung dari arah selatan, didekati dan dilepaskan lagi anak tulup kearah burung namun tidak mengenai burung itu dan ternyata anak tulup itu mengenai dahan jati. Tempat yang ditinggalkan burung tadi sekarang dinamai Dukuh Karang Getas. Karena sedihnya Joko tarub maka tempat yang ditinggalkan, sekarang dinamai Dukuh Sedah. Kemudian terdengar lagi suara burung dari arah selatan, didekati dari posisi yang strategis (burung dalam keadaan terpojok), maka anak tulup dilepaskan dan ternyata tidak kena dan burung terbang lagi ke selatan.

Tempat tersebut sekarang menjadi Dukuh Pojok. Burung terbang ke selatan dan hinggap diatas pohon asam oleh Joko Tarub dilepaskan lagi anak tulup kearah burung tetapi terbang lagi ke selatan, tempat yang ditinggalkan tadi menjadi Dukuh Karangasem. Diwaktu mengejar burung keselatan Joko Tarub merenungi burung tersebut, dalam ucapannya mengatakan ini burung atau godaan. Tempat merenungi Joko Tarub sekarang dinamai Desa Godan Joko Tarub mengejar terus burung kearah selatan, tempat melihatnya Joko Tarub sekarang dinamakan Dukuh Jentir. Joko Tarub terus melacak burung kearah tenggara kemudian berjumpa lagi dengan burung yang hinggap di pohon tetapi burung tersebut tidak bersuara. Setelah burung itu terbang lagi ke selatan dan tempat yang ditinggalkan tadi dinamakan Dukuh Pangkringan. Kemudian Joko Tarub melacak kearah selatan, setelah sampai ditempat yang sangat rindang disitulah burung terbunyi lagi.Namun Joko Tarub mendengar suara wanita yang baru berlumban (mandi) di dalam sendang. Disaat itu Joko Tarub lupa burung yang dikejar dia beralih mengintai suara wanita yang mandi di dalam sendang Ternyata para bidadari yang sedang dilihat, akhirnya Joko Tarub mengambil salah satu pakaiannya bidadari yang dengan tutup kemudian dibawa pulang dan disimpan dibawah tumpukan padi (lumbung) ketan hitam. 

Joko Tarub kembali lagi ke Sendang dengan membawa sebagian pakaian ibunya. Setelah sampai didekat sendang ternyata para bidadari sudah terbang kembali ke surga. Tinggal satu yang masih mendekam ditepi sendang dengan merintih dan berkata : “sopo yo sing biso nulung aku, yen wadon dadi sedulur sinoro wedi, yen kakung sanggup dadi bojoku“. Disaat itu Joko Tarub mendekati dibawah pohon sambil mendengarkan ucapan bidadari tersebut dan menolong bidadari dengan melontarkan pakaian ibunya. Setelah bidadari berpakaian diajak pulang kerumah ibunya dan disampaikan kepada ibunya bahwa putri ini adalah putri dari sendang yang baru terlantar dan minta tolong kepada siapun : Jika yang menolong pria akan dijadikan suaminya. Akhirnya Joko tarub menikah dengan bidadari tersebut yang bernama Nawang Wulan. Adapun sendang yang dibuat lomban para bidadari, sekarang dinamakan sendang Coyo.

Kemudian Joko Tarub dengan Nawang Wulan mempunyai tiga putri yaitu : Nawang sasi, Nawang Arum, Nawang Sih. Pada waktu bayinya, Nawang Sih mengalami satu riwayat yang sangat hebat yaitu dikala Nawang Sih masih di ayunan, ibunya mau mencuci pakaian di sungai dan berpesan pada Joko Tarub agar mengayun putrinya dan jangan membuka kekep (penutup masakan). Namun setelah Nawang Wulan pergi ke sungai, Joko Tarub penasaran akan pesan istrinya, maka dibukalah kekep tersebut, setelah melihat didalam kukusan, ternyata yang dimasak istrinya hanya satu untai padi. Joko Tarub mengucapkan (Masya Allah, Alhamdulilah istriku yen masak pari sak uli ngeneki tho, lha iyo parine ora kalong – kalong. Tak lama kemudian istrinya datang lalu membuka masakan tersebut, ternyata masih utuh padi untaian. Kemudian istrinya menegur suaminya bahwa pasti kekep tadi dibuka, sehingga terjadi pertengkaran. Akhirnya Nawang Wulan menyadari sehingga harus dibuatkan peralatan dapur (lesung, alu, tampah) Setelah kejadian itu Nyi Nawang Wulan kalau mau masak harus menumbuk padi dulu, sehingga lambat laun padi yang ada di lumbung makin habis. Setelah sampai padi yang bawah sendiri yaitu padi ketan hitam, ternyata pakaiannya diletakkan disitu dan diambil kemudian menghadap suaminya. Akhirnya terjadi pertengkaran yang hebat, ternyata yang mengambil pakaiannya waktu disendang dulu adalah Joko Tarub sendiri. Kemudian Nyi Nawang Wulang ingin pulang kembali ke surga dan berpesan kepada suaminya : Bila putrinya menangis minta mimik agar diletakkan didepan rumah diatas anjang – anjangTetapi setelah Nawang Wulan sampai di Surga di tolak oleh teman-temannya karena sudah berbau manusia. Kemudian Nyi Nawang Wulan turun lagi ke bumi namun tidak ada maksud kembali kerumah suaminya. Dia ingin bunuh diri naik di gunung Merbabu meloncat ke laut selatan. Setelah sampai di laut selatan Nyi Nawang Wulan perperang dengan Nyi loro Kidul, dan akhirnya Nyi Nawang Wulan mendapat kejayaan, sehingga laut selatan dikuasai oleh Nyi Nawang Wulan. Jadi yang ada dilaut selatan ada tiga putri yaitu : Nyi Nawang Wulan, Nyi Loro Kidul, Nyi Blorong

Setelah Joko Tarub ditinggal Nyi Nawang Wulan dia hidup dengan putrinya Nawang Sih. Disaat itu di Kerajaan Majaphit yang diperintah Prabu Browijoyo kelima ditinggal wafat istrinya, sehingga Prabu Browijoyo sakit dan tidak mau menduduki kursi kerajaan, dan setiap malam kalau tidur ditepi Kerajaan. Suatu malam dia bermimpi bila sakitnya ingin sembuh maka harus mengawini putri Wiring Kuning, kemudian raja terbangun dari tidurnya. Akhirnya para patih diperintah untuk mengumpulkan semua putri – putri. Setelah diteliti dan disesuaikan dengan mimpinya tersebut akhirnya menjumpai putri Wiring Kuning yang ternyata adalah pembantunya sendiri. Akhirnya dikawinilah putri tersebut dan dilarang untuk keluar dari taman kaputren karena malu jika ketahuan orang bahwa raja mengawini pembantunya sendiri. Setelah jabang bayi lahir raja Brawijaya memanggil saudaranya (Juru Mertani) supaya memelihara dan mengasuh bayi tersebut. 

Kemudian bayi tersebut diberi nama Bondan Kejawan (Lembu Peteng).Dimasa kanak-kanak Bondan Kejawan, ayah asuhnya atau Juru Mertani akan membayar pajak kekerajaan disaat itu Bondan Kejawan mendengar bahwa ayahnya akan kekerajaan dan dia ingin ikut tetapi tidak diperbolehkan. Namun dia lari dulu dan sampai di Kerajaan dia langsung masuk dan naik keatas kursi raja. Kemudian membunyikan Bende Kerajaan. Sang raja mendengar bunyi bende kerajaan dan marahlah, anak tersebut ditangkap dan dimasukkan kedalam sel kerajaan. Tidak lama kemudian datanglah Juru Mertani dengan membawa padi untuk membayar pajak. Selesai membayar pajak dia menghadap sang raja dan menanyakan anak kecil yang membunyikan bende kerajaan. Diberitahukan kepada sang raja bahwa anak kecil itu putra sang raja sendiri. Kemudian raja memanggil anak kecil itu dan membawa kaca untuk melihat wajahnya sendiri dengan wajah anak tersebut. Ternyata Beliau yakin dan percaya bahwa anak tersebut putranya sendiri. Kemudian Juru Mertani disuruh sang raja untuk mengantarkan putranya ke Saudaranya yaitu Ki Ageng Tarub dan putranya agar diasuh dan dipeliharanya. Disaat itu Ki Ageng Tarub mengasuh dua anak kecil yaitu Bondan Kejawan dan anaknya sendiri. Setelah masuk remaja Bondan Kejawan diperintah ayah asuhnya agar bertapa ngumboro yaitu disuruh ke sawah selama tujuh tahun dan tidak boleh pulang kalau belum diambil. Setelah sampai waktunya Nawang Sih diperintah ayahnya supaya memasak yang enak, setelah memasak agar mengambil saudaranya Bondan Kejawan yang berada ditengah sawah. Setelah sampai dekat gubug yang ditempati Bondan Kejawan, Disaat itu Bondan Kejawan sedang istirahat diatas gubug.
Nawang Sih memanggil Bondan Kejawan dari bawah gubug. Bondan Kejawan terperanjat atas panggilan Nawang Sih karena tidak tahu akan kedatangannya, sehingga Bondan Kejawan jatuh dari atas gubug dan memegang bahunya Nawang Sih. Sampai dirumah Nawang Sih memberitahukan orang tuanya bahwa tadi bahunya dipegang oleh Bondan Kejawan. Tetapi sang ayah malah memberi tahu Nawang Sih akan dijodohkan dengan Bondan Kejawan, dan akhirnya mereka menikah. Kemudian lahirlah anak yang diberi nama Ki Ageng Getas Pandowo (Ki Abdulloh). Bondan Kejawan meneruskan Bopo Morosepuh dan diberi nama Ki Ageng Tarub II, sedang Ki Ageng Getas Pandowo diberi nama Ki Ageng Tarub III

Tempat pertapaan Bondan Kejawan (Lembu Peteng) sekarang terdapat disebelah tenggara makam Ki Ageng Tarub I, dukuhan sebelahnya dinamakan Desa Barahan. Selanjutnya Ki Ageng Tarub III (Getas Pandowo) mempunyai putri banyak dan yang terkenal adalah Ki Ageng Abdurrohman Susila (Ki Ageng Selo).

Adapun adanya Ki Ageng Tarub adalah merupakan suatu karomah dari Allah yang diberikan kepada Syeh Maulana Maghribi dengan Dewi Telangkas (Nona Telangkas) yang melahirkan Ki Ageng Tarub. Adapun karomah yang diberikan Allah kepada Ki Ageng Tarub I yaitu kawin dengan Bidadari yaitu Nawang Wulan. Adapun cucu Ki Ageng Tarub I adalah Ki Ageng Selo yang mendapat karomah dari Allah yaitu dapat menangkap petir. Dari Beliaulah terlahir raja-raja ditanah jawa. Makam Ki Ageng Tarub terletak di desa Tarub Kecamatan Tawangharjo ± 10 km dari Kabupaten Grobogan.
Ditulis oleh: Taufiq Yusuf - sumber Grobogan.org