Mitos Pangeran Samudra setidaknya telah mewarnai tanah Jawa selama lebih dari 7 abad. Namun, sejak berakhirnya Perang Jawa, mitos ini telah mendapatkan makna baru yang jauh dari asalnya. Bahkan, hingga kini mitos ini banyak dipercaya oleh para pesugihan sebagai dasar untuk menjalankan ritual pesugihan. Pangeran Samudra merupakan seorang pendakwah yang sangat tekun belajar agama, baik dari Sunan Kalijaga maupun Ki Ageng Gugur. Artinya, sangat kecil kemungkinannya jika di kemudian hari, Pangeran Samudra mengajarkan ritual pesugihan dengan cara berhubungan badan dengan pasangan haramnya sebanyak tujuh kali.
“Mereka harus menjadi orang asing yang belum pernah bertemu sebelumnya. Akan lebih baik jika mereka belum pernah kenal satu sama lain. Mereka melakukan itu pada Jumat Pon dan dilakukan selama 7 kali pertemuan. Jadi ini dilakukan setiap 35 hari, sehingga hubungan yang terjalin selama 1 tahun.”
Ritual pertama yang harus dilakukan di Gunung ini adalah berdoa dan menabur bunga di makam Pangeran Samudra dan Nyai Ontrowulan.
Kemudian para pezirah harus membasuh diri mereka di satu atau dua mata air keramat yang ada di bukit itu.
“Kebanyakan dari mereka yang melakukan ritual ini memiliki bisnis kecil. Mereka berharap ritual ini dapat mendapatkan uang dan menjadikan bisnis lebih baik.”
Mereka pebisnis dan jika kamu menanyakan, mereka akan jawab ritual ini berhasil. Bisnis yang sebelumnya tidak berkembang, sekarang dapat berjalan dengan baik. Ini karena Allah dan tidak ada yang lain selain Allah.
"Saat ini pukul 8 malam dan suasananya berkabut. Saya bertemu dengan seorang pria yang sedang mengaji sementara tangannya memegang tasbih. Pria itu memakai jaket, berkacamata, agak botak dan berkumis."
Setelah selesai mengaji, dia akan mencari seseorang untuk berhubungan seks.
“Anda tahu semua orang Jawa percaya dengan tradisi nenek moyang ini.”
Terletak di tengah pulau Jawa, Gunung Kemukus, atau Gunung Seks, mungkin dianggap kecil dengan ketinggian 824 meter, tetapi jumlah orgasme yang telah mengguncang puncak ini sangat besar. Sejak akhir abad ke-19, para peziarah Muslim Jawa telah berbondong-bondong ke gunung ini untuk berhubungan seks dengan orang asing —hingga 8.000 peziarah pada hari-hari tersibuknya—yang konon membawa berkah. Namun, belakangan, tradisi keagamaan ini menarik perhatian internasional yang kurang baik, sehingga membuat ziarah terhenti. Satu pertanyaan terus muncul: seberapa religiuskah praktik ini?
“Alhamdulillah, setelah sampai di sini, meskipun saya punya beberapa utang, usaha saya lumayan untung,” ujar seorang jamaah haji perempuan dan pemilik usaha kecil dalam film dokumenter SBS News TV Australia tahun 2014 yang berjudul Sex Mountain.
Film dokumenter itu menyebabkan skandal di Indonesia, dan Gunung Kemukus segera ditutup pada tahun 2014. Tetapi Anda tahu apa yang mereka katakan tentang moderasi: terlalu banyak hal baik tidak akan bertahan lama.
Kearifan Seksual Candi Sukuh
Candi Sukuh di lereng barat Gunung Lawu, Jawa Tengah, merupakan situs eksplorasi grafis tentang seks
Saat memasuki gerbang candi adalah relief pahatan yang menggambarkan penis yang siap menembus vagina.
Para penjaga candi telah mendirikan gerbang kayu untuk mencegah pengunjung tersandung alat kelamin. Larangan melakukan kontak fisik dengan relief dan sesajen bunga segar di sebelahnya menunjukkan bahwa penggambaran seks di sini telah diangkat ke ranah sakral. Meski penuh dengan gambar seks dan alat kelamin, Candi Sukuh bukanlah surga pornografi.
Di Sukuh, seks adalah perpaduan energi laki-laki dan perempuan untuk menciptakan energi kelahiran kembali yang baru. Penggambaran seks di sini tampaknya merupakan penghormatan kepada kekuatan penciptaan dan kesuburan.
Sukuh berdiri sebagai pengingat bahwa tidak semua penggambaran seks adalah bentuk pornografi. Malah, melalui seks, nenek moyang kita menyelaraskan diri dengan kehendak Tuhan.
